"Kau sudah bangun, Tsunayoshi..?", tanya Hibari.

Tsuna bergidik takut. Keringat dingin mulai berkucuran.

"Duduklah, ada yang ingin aku bicarakan padamu."

Tsuna tidak menjawab, tapi ia menuruti Hibari dan duduk menghadapnya. Tiba-tiba Kusakabe datang lagi dan membawakan segelas teh hijau hangat untuk Tsuna, meletakkannya di meja yang ada di depan Tsuna.

"Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku membawamu kemari.", ucap Hibari melanjutkan pembicaraannya.

Jadi semua ini dia yang merencanakan..?, Tsuna menajamkan telinganya.

"Aku ingin membicarakan tentang malam pertama kita."

Tsuna mendengarkan Hibari dalam diam. Tsuna sangat tidak bergairah membalas setiap perkataan Hibari.

"Aku minta maaf karna aku telah melakukan hal yang tidak senonoh padamu malam itu. Semua itu karena…"

Rasanya Tsuna tidak ingin dengar lanjutannya.

"Hanya untuk melampiaskan kekesalanku saja…"

"Ti-tidak apa… Jadi… kau hanya ingin membicarakan itu…? Apa aku boleh pulang sekarang…?", ucap Tsuna dengan nada gelisah.

Sekarang malah Hibari yang terdiam.

"Kalau begitu… aku pulang dulu.. terima kasih atas undangan minum tehnya.", Tsuna beranjak dari posisi duduknya dan berjalan menuju pintu, hendak keluar dari ruangan itu.

Tiba-tiba Hibari menarik tangan Tsuna, menariknya dan mendekapnya dengan harapan tubuh mungil itu tidak rapuh. Tsuna membelalakan matanya, Tsuna terkejut apa yang sebenarnya terjadi kepada orang yang sedang memeluknya ini. Padahal diakan sudah punya pacar.

"Hi-Hibari-san…?"

Hibari tidak mengatakan apapun. Malah ia mempererat dekapannya, membuat Tsuna sulit bergerak.

Cukup lama Hibari mendekap Tsuna, di menit berikutnya ia berbicara,

"Aku sangat-sangat minta maaf atas perlakuanku yang membuatmu sakit. Sakit fisik maupun hati. Sebenarnya, semenjak aku melihatmu, melihatmu menggunakan kekuatanmu. Aku sadar, kau tidak lemah. Kau adalah orang yang kuat. Kau adalah orang yang memiliki hati yang kuat. Sejak saat itu, untuk pertama kalinya aku merasa… Aku jatuh cinta padamu, Tsunayoshi…", god sejak kapan Hibari berani membicarakan isi kepala sekaligus isi hatinya?

Tsuna tak bisa menahan air matanya yang sedikit demi sedikit mentes dari sudut matanya. Perlahan Tsuna membalas dekapan Hibari.

"Aku…sangat menyukaimu… Hibari-san…", akhirnya tangisan Tsuna pecah.

Hibari sedikit terkejut dan melepas dekapannya, menatap Tsuna yang sedang menangis.

"Hiks…"

"Tsunayoshi, kenapa kau menangis?"

Tsuna tak bisa berhenti menangis. Hibari bingung juga bagaimana cara menghadapi seseorang yang sedang menangis. Dengan sangat tiba-tiba Hibari mencium pipi Tsuna yang sudah dibasahi air mata.

"Jangan menangis.. pipimu yang manis ini menjadi asin karna air matamu…", ucap Hibari.

Seketika Tsuna langsung berhenti menangis dan wajahnya memblushing. "E-eh..?"

"Sudah tidak apa kan…?", tanya Hibari.

"I-iya..aku tidak apa-apa…", Tsuna menjadi gugup setengah mati.

"Sebagai permintaan maaf…", Hibari menarik tangan Tsuna dan meletakkannya di pipinya sendiri, "Apa kau ingin aku menemani tidurmu…?"

Blushingnya Tsuna semakin menjadi, "I-iya… jika kau tidak keberatan…", kenapa Tsuna dengan mudah menerimanya. Helo Tsunayoshi, Hibari sudah punya Dino lho.

"Tanganmu hangat… aku ingin kau mendekapku seperti malam itu."

Tsuna ingat, kalau di akhir adegan yang aneh itu, ia tertidur sambil memeluk Hibari. Dan Tsuna sangat mengerti apa permintaan Hibari saat ini.

"Apa kau…mau?", tanya Hibari lagi.

"Um.. tentu saja…", lagi-lagi dengan mudahnya Tsuna menyerahkan diri kepada Hibari.

Bagi Tsuna, ini adalah kesempatannya. Kesempatannya mengambil hati Hibari. Memang terdengar agak jahat, namun kesempatan memiliki peluang kecil untuk terjadi dua kali.

Hibari menggenggam tangan Tsuna dengan erat dan membawanya ke kamarnya yang hangat. Sampai di kamar, perlahan Hibari mengajak Tsuna untuk berbaring di futon bersamanya. Setelah berbaring, Hibari memeluk pinggang Tsuna yang ramping dan membenamkan wajahnya di dada Tsuna. Tsuna mendekap Hibari persis seperti malam itu.

Keinginan Hibari tidak hanya ingin tidur di dalam dekapan Tsuna, salah satu tangannya meraih dasi Tsuna dan melepasnya. Membuka kancing kemeja Tsuna satu persatu. Sadar akan perbuatan Hibari, Tsuna sedikit tersentak.

"Tenanglah…", ucap Hibari di sela-sela kegiatannya.

Tsuna hanya diam dan memejamkan matanya.

Hibari melanjutkan kegiatannya. Setelah semua kancing terlepas, Hibari mulai menjilat leher Tsuna dan terus turun hingga ke dadanya. Membuat Tsuna merasakan sensasi aneh yang merasuki tubuhnya untuk kedua kalinya. Rasa nikmat tiba-tiba menyambar saat Hibari memainkan dua nipple Tsuna yang sudah mengeras.

"Ahn…", eranganpun terlepas dari mulut mungil Tsuna.

Hibari sangat menikmati erangannya, seakan ia sedang mendengarkan lagu Namimorichuu yang sangat ia sukai. Puas memainkan dua benda menarik yang ada di dada Tsuna, Hibari tiba-tiba terduduk dan menurunkan sendiri resleting celananya dan mengeluarkan sesuatu yang ada di balik celana itu. Lalu Hibari member isyarat kepada Tsuna untuk melakukan blowjob kepada miliknya yang nyaris menegang. Tsuna menurutinya begitu saja, perlahan ia mengelus milik lawan mainnya itu. Memasukkan ujungnya ke mulutnya sendiri dan menjilatinya dengan gaya slow motion, membuat Hibari merasakan sensasi tersendiri. Tsuna mulai memasukan seluruhnya ke mulutnya dan mengemutnya. Akhirnya erangan terdengar dari mulut Hibari. Setelah Hibari merasa akan ada sesuatu yang keluar dari miliknya, ia mendorong kepala Tsuna maju mundur, sampai ia mengeluarkannya di dalam mulut Tsuna. Tsuna sedikit tersedak. Tapi kali ini, ia menelan sperma Hibari tanpa suruhannya.

"Masukkan..", perintah Hibari.

Tsuna langsung terkejut. Ia antara mengerti dan tidak ingin melakukan suruhan Hibari.

"Masukkan, Tsunayoshi. Aku tidak akan memaksa untuk masuk.", perintah Hibari lagi.

Seakan Tsuna tak ingin mengusik nada bicara Hibari yang tenang saat menyebut namanya, Tsuna langsung menurutinya. Ia membuka celananya dan perlahan ia memasukkan milik Hibari ke lubang belakangnya. Saat itu juga Hibari merasa nikmat yang tak kalah dari sebelumnya. Malah inilah yang paling nikmat. Perlahan Tsuna menggerakkannya keluar masuk. Meskipun perih, tapi jika benda itu sudah menghantam sweet spotnya perih itu tak terasa lagi. Melihat milik Tsuna yang menganggur, tangan Hibari yang bebas langsung menggenggamnya dan memijitnya perlahan. Tsuna jadi merasakan nikmat dua kali lipat. Sudah sampai di puncak kenikmatan mereka klimaks secara bersamaan.

Tsuna ambruk ke dalam pelukan Hibari. Hibari mendekapnya dan tertidur bersama dalam posisi seperti itu.

.

.

.

Matahari masuk melalui sela-sela tirai. Merasa terganggu dengan cahaya yang menyusup masuk, Tsuna membuka matanya. Ia melihat jam dan sudah pukul 7 pagi. Rasa sakit masih ia rasakan di lubang belakangnya, tapi ia merasa sakitnya tidak sesakit saat ia pertama kali melakukannya dengan Hibari. Ia masih saja terdiam dalam posisinya yang terbaring di atas futon. Sampai ia melihat seperangkat baju seragam sekolahnya terlipat rapi di sampingnya, Tsuna langsung terkejut dan ia baru sadar kalau hari ini hari selasa dan ia harus pergi sekolah.

Tsuna baru ingat apa yang terjadi kemarin dan apa yang terjadi semalam. Tiba-tiba Kusakabe menggeser pintu kamar dan mengejutkan Tsuna.

"Tsuna-san, waktunya berangkat ke sekolah. Kyo-san sudah berangkat daritadi. Air panas sudah disiapkan dan sarapan juga sudah siap.", ucap Kusakabe.

"I-iya… terima kasih, Kusakabe-san.", balas Tsuna.

Kusakabe langsung meninggalkan Tsuna. Baik sekali ya dia…, gumam Tsuna. Tsuna langsung beranjak dari posisi sebelumnya menuju kamar mandi. Tsuna juga baru sadar kenapa ia masih memakai pakaiannya, padahal semalam ia ingat betul ia menanggalkan semua pakaiannya bersama Hibari.

Setelah mandi, ia menuju ruang makan dan menyantap sarapan yang sudah disediakan Kusakabe. Setelah itu, ia langsung menuju sekolah tanpa pamit. Kenapa tidak pamit? Tentu saja, orang yang menghuni rumah itu sudah tak ada di rumah, termasuk Kusakabe. Dan kau tau? Rumah itu Tsuna tinggalkan dalam keadaan 'tidak terkunci', Tsuna berpikir siapa juga yang berani merampok rumah seorang Hibari Kyoya yang tidak memiliki banyak furniture di dalamnya.

.

.

.

Sampai di kelas,

"Jyuudaime! Apa anda baik-baik saja?", tanya Gokudera dengan nada khwatir.

"A-aku tidak apa-apa, Gokudera-kun. Memangnya ada apa?", Tsuna balik bertanya.

"Sudah beberapa kali kau tidak pulang ke rumah, Tsuna. Kau membuat khawatir ibumu.", ucap Yamamoto.

Tsuna baru ingat kalau kemarin ia tidak pulang ke rumah lagi dan ia membuat ibunya cemas.

"Jyuudaime, apa anda yakin anda tidak memiliki masalah?", tanya Gokudera.

"Ti-tidak ada kok… aku baik-baik saja.", ucap Tsuna dengan nada yang tak pasti.

Tak lama kemudian, bel masuk berbunyi. Mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Sebenarnya Gokudera sudah mulai curiga antara hubungan bossnya dengan Hibari. Yamamoto yang sudah mengetahui semuanya hanya bisa menunggu keputusan dari Tsuna sendiri. Keputusan apa? Keputusan apa yang akan dilakukan Tsuna ke depannya.

Sudah cukup lama Tsuna duduk diam sambil mendengarkan pelajaran yang disampaikan gurunya. Mulai membuat kepalanya panas dan butuh waktu istirahat. Sampai akirnya bel istirahat menyelamatkannya. Tidak seperti biasanya, Tsuna, Gokudera dan Yamamoto makan di kantin sekolah. Karena Tsuna tidak membawa bekal dari rumah, kalau dua sahabatnya ini memang tidak pernah bawa bekal.

Setelah jam makan siang usai, dilanjutkan lagi dengan kegiatan belajar sampai akhir.

.

.

.

Dalam perjalanan pulang,

"Sudah lama kita tidak pulang sama-sama seperti ini.", ucap Yamamoto.

"Iya, aku juga rindu dengan saat-saat ini.", balas Tsuna.

"Pokoknya Jyuudaime harus pulang bersama kami lagi!", ucap Gokudera.

"Iya-iya…", Tsuna tersenyum kecil.

Selama perjalanan Tsuna bingung, kenapa Gokudera dan Yamamoto masih mengikutinya. Malah mengikutinya sampai ke rumah Tsuna.

"He-hei, kalian tidak pulang?", tanya Tsuna.

"Kami ingin berkunjung ke rumah anda dulu.", ucap Gokudera.

Yamamoto hanya mengangguk dan tersenyum girang seperti biasa.

Tsuna sempat sweatdrop, namun akhirnya ia mengijinkan dua sahabatnya ini masuk ke rumahnya.

Sampai di dalam, Tsuna langsung disambut oleh ibunya tercinta.

"Tsu-kun… kau kemana saja? Ibu sangat cemas.", tanya Nana.

"Maaf ibu, semalam aku menginap di rumah teman karna tugas.", ups Tsuna bohong lagi.

"Baiklah kalau begitu tidak apa. Ah, ada Gokudera-kun dan Yamamoto, silahkan masuk. Akan ibu antarkan camilan ke kamarmu ya.", Nana langsung pergi menuju dapur.

Tsuna dan dua sahabatnya langsung menuju kamarnya. Tsuna tidak bisa berpikir apa reaksi Reborn saat dia baru menampakkan wajahnya. Benar saja, baru Tsuna membuka pintu, ia langsung mendapati satu jitakan dari home tutornya.

"ADUH! REBORN!", Tsuna ngomel lagi.

"Jangan mengeluh. Kemana saja kau baru pulang. Dasar boss yang tidak bertanggung jawab pada keluarganya."

"Sebenarnya aku ini boss keluarga mafia atau kepala keluarga rumah tangga sih?!"

"Sama saja!", Reborn menendang pantat Tsuna.

"Itu sama sekali tidak sama!"

Gokudera dan Yamamoto hanya bersweatdrop ria melihat kelakuan Tsuna dengan home tutornya.

Setelah kejadian hebaoh tadi, Tsuna langsung mempersilahkan dua sahabatnya itu duduk. Lalu mereka bertiga duduk dalam diam, sampai akhirnya Gokudera memecahkan keheninangan.

"Baiklah, Jyuudaime sebenarnya apa yang terjadi kemarin?", sejak kapan Gokudera jadi terdengar kesal kepada bossnya?

"Ke-kemarin.. itu..", Tsuna ragu menjawabnya.

"Ceritakan saja, Tsuna…", ucap Yamamoto.

"Jadi… kemarin aku diculik… oleh Hibari-san..-"

"Si BRENGSEK itu lagi! Apa sih maunya?!", Gokudera langsung terserang darah tinggi.

"Te-tenang dulu Gokudera-kun.. aku belum selesai. Kemarin aku disuruh menginap di rumahnya. Dan aku…"

"Kau melakukan'nya' lagi, Tsuna?", tanya Yamamoto.

Tsuna hanya mengangguk pelan.

Gokudera semakin kesal karna ia merasa tidak mengerti apa-apa, "Anda melakukan apa, Jyuudaime?!"

"Maaf, Gokudera-kun… sebenarnya masih ada yang kusembunyikan darimu.."

Akhirnya Tsuna mengulang lagi ceritanya. Ia memulai ceritanya lagi dari ia mendapat hukuman, lalu ia melalui malam pertama dengan Hibari sampai keesokan harinya ia dihajar oleh Hibari. Dan berakhir pada kejadian Tsuna diculik oleh Kusakabe atas suruhan Hibari, dan Hibari meminta Tsuna untuk melakukan'nya' lagi.

Gokudera terdiam. Antara terkejut dan tak percaya. Dan dari situ, Gokuderan menyadari bahwa bossnya sangat menyayangi Hibari. Sehingga bossnya tidak bisa menolak permintaan Hibari. Yamamoto hanya terdiam. Tsuna menjadi sedih lagi.

"Ma-maafkan saya, Jyuudaime! Saya terlalu memaksa anda untuk menceritakannya.", melihat Tsuna sedih Gokudera jadi tak enak hati.

"Tidak apa… Gokudera-kun. Aku jadi merasa lega setelah menceritakannya."

Sore menjelang malam, Gokudera dan Yamamoto harus segera pulang karna besok mereka masih harus sekolah. Dan Tsuna kembali beristirahat dengan damainya sambil menunggu jam makan malam.

.

.

.

Sudah berminggu-minggu Tsuna mendapat permintaan Hibari untuk memuaskan hasratnya. Jadi sudah berkali-kali juga Tsuna melakukan hubungan intim dengan Hibari. Awalnya Hibari memang tidak memaksa dan Tsuna menerimanya dengan senang hati. Tapi lama-kelamaan Hibari jadi memaksa dan Tsuna melakukannya dengan terpaksa. Tsuna sebenarnya ingin lari dari Hibari karna ia tidak berhasil mendapat Hibari. Hibari tak pernah sedikitpun bilang kalau ia menyukai Tsuna. Terkadang di sela-sela kegiatan mereka yang memabukkan, terdengar Hibari membisikkan nama Dino.

"Aaah! Hi-Hibari….saahhnn..", erang Tsuna di sela-sela kegiatannya bersama Hibari.

"Sedikit lagi…a-aahhh..", Hibari klimaks di dalam Tsuna dan Tsuna klimaks di tangan Hibari.

Kejadian itu terus terjadi setiap hari. Dan terjadi di ruangan Hibari. Kegiatan ini membuat Tsuna sering sekali pulang malam. Tsuna sangat sekali ingin menghindar, tapi mengapa kakinya refleks membeku jika sudah berhadapan dengan Hibari. Dan selalu berakhir dengan hubungan intim bersama Hibari. Tsuna benar-benar sudah muak.

.

.

.

Pada suatu hari, hujan deras melanda Namimori. Saat itu Tsuna sedang ada di sekolah. Ia terjebak hujan dan tak bisa pulang. Sambil menunggu hujan reda, Tsuna hanya terduduk di kelasnya yang lumayan ramai karna teman-temannya yang lain tidak bisa pulang juga karna hujan deras. Tsuna hanya melihat keluar jendela, melihat hujan yang tak kunjung reda.

Semakin lama Tsuna terdiam, Tsuna semakin bosan. Dari tadi ia sudah menguap beberapa kali, ia cukup mengantuk karna udara dingin yang menyambar. Tsuna mengambil buku yang ada di kolong mejanya hendak memasukkannya ke tas. Di atas buku itu ada scarik kertas yang terlipat. Tsuna penasaran, mengambil kertas itu dan membuka lipatannya. Terdapat pesan di kertas itu. Isinya, "Datanglah ke ruang resepsi sepulang sekolah.", tak ada nama pengirim. Tanpa nama pengirimpun, Tsuna juga sudah tau siapa yang menuliskan pesan itu, tentu saja Hibari Kyoya yang berkandang di ruang resepsi. Tsuna hanya meremas kertas itu dan membuangnya.

Mulai sekarang, Tsuna bertekad untuk menghindari Hibari dan tak terjebak lagi. Lalu Tsuna memutuskan untuk membaca buku diperpustakaan, mungkin jika ia ke perpustakaan kualitas otaknya bisa seperti orang pintar.

Sampai di perpustakaan, Tsuna menuju rak buku yang tentunya dipenuhi oleh buku. Tsuna melihati judul-judul buku itu dan tak ada yang Tsuna mengerti. Mungkin ceritanya terlalu berat untuknya atau jangan-jangan buku itu adalah buku ensiklopedia. Aduh Tsuna benar-benar tidak mengerti. Sampai suara aneh yang cukup berisik mengalihkan perhatiannya. Perhatiannya beralih kepada jendela yang terbuka. Tsuna menuju ke jendela tersebut, berniat untuk menutupnya. Sebelum ia menutup jendelanya, tiba-tiba ada seseorang yang memeluk Tsuna dari belakang dan Tsuna sangat terkejut.

"Tsunayoshi…", orang yang memanggilnya mebenamkan kepalanya di pundak Tsuna.

"Hi…Hibari-san…?", Hibari semakin memeluknya erat.

"Kenapa kau tidak datang ke ruanganku…?"

"A-aku…"

"Udaranya dinginkan…"

Tsuna membalikkan badannya dan memeluk Hibari yang tubuhnya lebih tinggi darinya itu.

"Tsunayoshi…", Hibari mengangkat kepalanya dan hendak mencium bibir Tsuna.

Tsuna langsung mendorong Hibari untuk menjauh.

"Kenapa, Tsunayoshi?"

"Ja-jangan…"

"Kenapa? Kau aneh belakangan ini."

"A-apa kau tidak memikirkan perasaan Dino-san?"

Hibari langsung terdiam. Dan Author akan menceritakan kenapa Hibari meminta Tsuna untuk melakukan hubungan intim dengan Tsuna selama ini. Padahal ia bisa memintanya kepada Dino kan? Tapi Dino sekarang berada di tempat asalnya, Italia untuk waktu yang cukup lama. Dan Hibari tidak akan tahan ditinggal selama itu. Dan selama itu pula, Tsuna gagal mengambil hati Hibari. Hibari tetap memilih Dino. Tapi sepertinya, Hibari juga memiliki perasaan khusus kepada Tsuna namun ia tidak ingin mengakuinya.

"Seharusnya kita tidak melakukan ini…", ucap Tsuna dengan nada ingin menangis.

"Tapi.. kau tidak memikirkanku bagaimana perasaanku ditinggal selama itu."

"Lalu menjadikanku sebagai pelarian…begitu?"

"Tidak. Aku melakukannya dengan tulus, Tsunayoshi."

"Tulus…? Kau bahkan menyebut nama Dino-san saat kita berhubungan intim."

Hibari tersentak, "Tapi kau tidak tau isi hatiku, kan?"

"Aku tidak perlu mengetahuinya, aku sudah tau isi hatimu. Isi hatimu hanya ada Dino-san."

"Kau tidak tau, Tsunayoshi!", Hibari memegang kedua bahu Tsuna dan mendorongnya mendekati jendela yang terbuka itu.

"A-aku mohon hentikan kebohonganmu, Hibari-san…"

"Aku tidak bohong!"

"Aku menyukaimu… Hibari-san…"

Hibari hanya menundukkan kepala sambil meremas bahu Tsuna pelan.

"Tapi aku tidak akan pernah bisa melebihi Dino-san…"

Hibari geram mendengar Tsuna menyebut nama Dino terus. "Sialan..!"

Hibari menonjok Tsuna. Alhasil Tsuna terdorong keluar jendela dan ia jatuh dari lantai 3. Tsuna terjatuh dengan posisi kepala mendarat duluan. Hibari mulai Shock, setelah melihat warna merah yang menghiasi kepala Tsuna dari kejauhan dan Tsuna tidak bergerak sedikitpun.

Hibari hanya melihatinya dari atas, sampai akhirnya Kusakabe menghampiri Tsuna. Lalu Kusakabe memandangi bossnya itu dengan tatapan shock juga.

"Kyo-san… Tsuna-san!"

Darah mengalir dengan derasnya dari kepala Tsuna, tak kalah deras dengan hujan yang sedang melanda Namimori hari itu.

.

.

.

To be continued


Akhirnya!

Kalian tidak akan tau bagaimana reaksiku setelah menyelesaikan chapter 4 ini secepat mungkin!

Baru kali ini saya updatenya cepet ya? apa biasa aja? haha yasudahlah simpan saja jawabannya.

Semoga akan memuaskan rasa penasaran kalian semua, karna saya sendiri juga penasaran gimana kelanjutannya

Selamata membaca...!

Yang baru baca boleh kali minta review meskipun cuman satu huruf

Yang ngefollow mari baca sambil nangis dan histeris *lebay*

Yang belom baca... *abaikan*

Intinya terimakasih banyak bagi yang sudah membacanya. Arigatou Gozaimasu! *bows*

Sampai ketemu di chapter berikutnya..! Jaa~