Italia, dini hari.
"Halo…?"
"…"
"Apa?! Tsuna kecelakaan?"
"…"
"Aku akan ke Jepang sekarang juga!"
Dino langsung menutup teleponnya dan bergegas memesan tiket untuk ke Jepang hari ini juga.
.
.
.
Setelah satu hari kejadian yang menimpa Tsuna, ia masih belum sadarkan diri. Membuat teman-temannya cemas, terutama ibunya, Nana. Darah yang mengalir pada kejadian kemarin cukup banyak. Membuat Tsuna sempat kekurangan darah. Namun karna naluri seorang ibu, Nana memberikan sebagian darahnya kepada anaknya. Semua teman-temannya tak bisa memberikan jawaban mengapa Tsuna bisa jatuh dari lantai tiga. Karna saksinya hanya satu sekaligus pelakunya yang sekarang tidak ada di sekitar mereka, Hibari.
.
.
.
Sudah memasuki hari ketiga Tsuna masih belum sadarkan diri. Sampai di hari keempat kejadian aneh terjadi lagi pada Tsuna.
"Ohayou, Tsuna!"
Dino membatu di ambang pintu dengan wajah shock. Bagaimana bisa Tsuna tidak ada di ranjangnya padahal kemarin ia belum sadar. Dino langsung pergi dari rumah sakit itu secepat mungkin, ia ingin menginformasikan kepada mantan home tutornya, Reborn.
Ke mana Tsuna…?
.
.
.
Akhirnya ia sampai juga di depan rumah kediaman Sawada. Rumah kan punya pintu, kenapa Dino malah masuk lewat jendela lantai dua? Dan bagaimana cara ia naik ke atas? Ya, tak usah dipikirkan. Ini semua bertujuan agar Dino tidak bertemu dengan ibunya Tsuna, Nana.
Sampai di kamar Tsuna,
"Reborn! Tsuna…"
"Dia diculik…"
Dino terdiam sejenak lalu, "Diculik? Apa maksudmu?"
"Aku yakin dia diculik salah satu guardiannya…"
"Guardiannya? Tapi si..", Dino bermuka pucat.
"Kau sudah tau jawabannya.."
"Tidak mungkin…"
.
.
.
Sudah hari kelima setelah kejadian Tsuna. Pagi hari yang cerah di rumah khas Jepang yang besar, ada seorang laki-laki yang sedang menikmati teh hijau hangatnya sambil menghadap ke halamannya yang luas. Yang sebelumnya kita tau rumah itu adalah milik Hibari Kyoya, dan yang sedang duduk sambil menikmati teh hijau hangat itu tentu saja yang punya rumah. Setiap sehabis meneguk teh yang nikmat itu, ia selalu menghiasi bibirnya dengan senyuman khasnya. Sepertinya ia sedang senang, senang karna habis mendapatkan sesuatu. Sampai telinganya menangkap suara erangan dari sebuah kamar.
Tsuna terbangun dari tidurnya yang cukup panjang. Ia mendapati dirinya berada di sebuah kamar yang ia ingat ini bukan kamarnya. Ia sedikit mengalami kesulitan untuk mengingat sesuatu tapi ia tetap bisa mengingatnya. Akhirnya ia ingat, ia pernah terbangun juga di kamar ini. Dan waktu itu ia tidur bersama seseorang, tapi siapa? Ia agak lupa. Tsuna memegangi kepalanya yang masih merasakan sakit. Ia meraba keningnya, seperti ada yang meliliti kepalanya, itu perban. Tsuna mencoba mengingat apa yang terjadi sehingga perban ini ada di kepalanya. Ternyata tambah sulit untuk mengingatnya. Suara telapak kaki yang berjalan menuju ke kamarnya memecahkan keheningannya dan membuat ia tidak bisa konsentrasi lagi untuk mengingat. Perlahan seseorang menggeser pintu kamar itu. Muncullah sosok yang menggeser pintu tersebut.
"Kau sudah sadar, Tsunayoshi?"
Tsuna hanya menengokkan kepalanya, masih dalam posisi terbaring.
"Aku sangat merindukanmu, Tsunayoshi…", ia mendekati Tsuna.
Tsuna langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Ia masih berusaha mengingat siapa orang ini dan apa perannya dalam hidupnya.
"Kau membuatku cemas, Tsunayoshi..", Ia memeluk Tsuna.
Tsuna langsung membelalakan matanya. Akhirnya ia ingat betul siapa orang ini.
"Hi-Hibari..-san…", Tsuna langsung mendorong Hibari sekuat tenaga.
"Ada apa, Tsunayoshi?"
Tsuna langsung menutupi tubuhnya dengan selimut. "Jangan sentuh aku lagi!"
"Tsunayoshi, maaf aku…"
"Tidak ada maaf lagi! Untuk apa aku memaafkan kesalahanmu yang membuatku hampir mati!"
"Tapi…"
"Jangan pernah bicara lagi! Mulutmu itu tidak ada gunanya!", Tsuna langsung berdiri dan menendang kepala Hibari dengan tenaga seadanya.
Hibari hanya diam sambil menundukkan kepalanya.
"Kau tidak tau kan betapa sakitnya tubuhku ini dan hatiku! Kau tidak mengerti apa-apa! Dasar bodoh!"
HIbari hanya mendengarkan Tsuna dalam diam.
"Hanya tampangmu saja tampan tapi kau tidak punya otak! Tidak punya hati!", Tsuna langsung terduduk lemas dan tangisannya pecah saat itu juga.
"Tsunayoshi, kenapa…?", Hibari mulai ambil suara.
Tsuna masih menangis dan tak menjawab.
Hibari mencoba mendekati Tsuna lagi, ia memeluknya, "Maafkan aku, Tsunayoshi. Sekali lagi ini saja. Jika aku berbuat seperti ini lagi, kau boleh membunuhku.", bisiknya di telinga Tsuna.
Tsuna tak menolak dekapan Hibari, tangisannya malah semakin menjadi. Hibari berusaha menghapus air mata Tsuna yang mengalir begitu derasnya dari sudut matanya. Membelai pipinya dan mengusap kepalanya. Namun tangisan itu tak kunjung berhenti.
Beberapa menit kemudian, Tsuna menghentikan sendiri tangisannya. Sepertinya ia sudah puas menangis di depan Hibari. Dan Hibari hanya melihatinya dengan tatapan agak kesal namun menyesal. Tsuna langsung menjauhkan diri dari Hibari. Ia terus membungkus tubuhnya dengan selimut yang lumayan tebal itu. Seakan Hibari tak bisa melakukan apa-apa, ia sadar bahwa semua ini salah. Dan sejak kapan seorang Hibari Kyoya merasa bersalah?
Saat Hibari mencoba untuk menyentuh Tsuna lagi, Tsuna menepis tangan Hibari dan membuang muka begitu saja. Mengisyaratkan Tsuna benar-benar sudah muak dengan apa yang dilakukan Hibari kepada dirinya. Sepertinya Hibari juga merasakan hal yang sama. Di mana ialah yang menyebabkan masalah ini terjadi. Hibari mengalah, ia memilih untuk membiarkan Tsuna tenang dulu. Ia meninggalkan Tsuna di kamar itu dan kau tau apa yang dia lakukan? Tak lupa ia mengunci pintu kamar Tsuna. Sepertinya Tsuna tidak menyadari bahwa dia sedang dikurung sekarang.
.
.
.
Setiap hari semenjak Tsuna berada di rumah Hibari, kini rumahnya jadi ramai dengan teriakan Tsuna. Tsuna sudah tau bahwa Hibari sedang menguncinya di kamar itu dan tidak memberikan sedikit celah untuk Tsuna kabur. Tsuna selalu mencoba menggedor-gedor pintu sambil berteriak "Aku ingin pulang", sampai tangannya terluka karna tergores. Setiap Hibari masuk untuk menengoknya, Tsuna selalu dalam keadaan tak berdaya. Padahal di situlah celahnya untuk kabur.
Intinya keadaan Tsuna sekarang ia seperti orang depresi yang ditempatkan di ruang isolasi, dan meminta untuk keluar. Entah apa yang membuat Hibari ingin memiliki Tsuna seutuhnya. Dino kan sudah sangat menyayanginya, bahkan mencintainya. Apa semua itu masih kurang? Sehingga Tsuna yang harus merasakan penderitaannya.
.
.
.
Sudah lima hari Tsuna menjadi 'sandera' Hibari di rumahnya. Merasa tak bisa melakukan apa-apa lagi, Tsuna menjadi pasrah. Hibari selalu menyunggingkan senyum kemenangan di hadapan Tsuna. Tsuna semakin bingung dengan kelakuan Hibari yang sudah kelewat gila ini. Tsuna sudah tidak tahan lagi. Ia merasa tubuhnya semakin hari, semakin terasa sakit. Pening di kepalanya pun tak pernah berhenti menyerangnya. Terkadang terlihat semburat berwarna merah dari balik perban Tsuna. Perban yang selalu melekat di kepalanya dan tak pernah menggantinya dengan yang baru, membuat ia gatal dan menggaruknya hingga jahitan di kepalanya lepas. Sepertinya di rumah itu sekarang, sudah tidak ada lagi orang berakal sehat.
Sudah lima hari pula Dino tak bisa melakukan apa-apa. Karna ia tau bahwa yang menculik Tsuna adalah kekasihnya sendiri. Ia tau semuanya. Ia tau rumah Hibari di mana, ia tau Tsuna berada di mana, namun tidakannya tak bisa ia lakukan sepenuh hati. Apakah saat ia menyelamatkan Tsuna ia harus membentak Hibari dan memutuskannya begitu saja. Dino mengira hal itu bisa benar-benar menghilangkan akal sehatnya. Ia selalu berusaha mencari jalan lain, namun memang hanya ada satu jalan saja. Karena rumah Hibari bukanlah pusat perbelanjaan yang bisa dijangkau dari berbagai arah.
.
.
.
Dua hari kemudian, Dino memutuskan untuk menyelamatkan Tsuna. Soal hubungannya dengan Hibari ia jadikan urusan belakangan. Yang penting Tsuna bisa kembali ke rumah dengan selamat. Karena kekhawatiran ibunya saat ini benar-benar sudah diujung puncak gunung Mt. Everest.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ke rumah Hibari dengan sebuah mobil bermerk Lambordgini miliknya, Dino sudah berada di depan pintu gerbang tempat yang dimaksud. Perlahan Ia memasuki kawasan rumah sang Skylark, melewati halamannya yang cukup luas. Kali ini, Dino yang akan turun tangan 'sendirian'.
Sampai di depan pintu masuk, tanpa ragu Dino membuka pintunya dan masuk tanpa permisi. Kelihatannya rumah itu kosong. Tapi, yang namanya Hibari itu akan muncul kapan saja jika hal yang tidak disukainya terjadi, apalagi terjadi di rumahnya.
Dino melewati sebuah lorong setengah gelap, di mana di sisi kanan kirinya terdapat banyak pintu. Entah mengapa Dino yakin sekali Tsuna berada di pintu keenam. Sampai di depan pintu, perlahan ia menggeser pintu tersebut. Ia mendapati seseorang sedang berbaring di atas futon sambil membelakanginya. Dino menghampiri orang tersebut dan mencoba membangunkannya.
"Tsuna…?"
Orang itu langsung menoleh dan menatap Dino dengan bengis, "Kamikorosu…"
"Kyoya!", satu pukulan tonfa mendarat di wajah Dino.
Hibari berdiri dengan tenaga yang sengaja memang sudah ia persiapkan. "Aku tidak akan membiarkanmu mengambil Tsunayoshi…", masih menatap Dino dengan bengis.
"Tidak. Aku akan menyelamatkannya.", Dino langsung berlari keluar dan mencari Tsuna.
"Tsuna…!"
Mendengar suara keras yang memanggilnya, Tsuna terbangun dari tidur singkatnya. Perlahan Tsuna mendudukkan tubuhnya. Ia berusaha mengingat suara siapa yang memanggilnya. Karna ia tau betul itu bukan Hibari.
"Tsuna, kau di mana?!"
Teriakan itu mengudara lagi. Sepertinya Tsuna tau suara siapa di luar sana itu. Tsuna langsung merangkak ke arah pintu dan menggedor-gedor pintu itu sambil menjawab teriakan tersebut.
"Aku di sini! Tolong aku!"
Derapan kaki yang berlari terdengar jelas di telinga Tsuna. Dan suara itu mendekatinya. Bertanda orang yang mungkin akan menyelamatkannya itu sudah menemukannya.
"Tsuna!", Dino berusaha menggeser pintu yang ternyata di kunci itu.
Hibari tak kalah cepat, ia mengejar Dino dan menghajarnya. Tsuna mendengar suara ribut persis di depan kamarnya. Ia merasa panik dan terus menggedor-gedor pintu itu.
"Tolong aku! Aku mohon!"
Dino masih berusaha menahan serangan Hibari. Hibari semakin kesal, emosi tak dapat ia kendalikan. Tanpa sadar, ia mengayunkan tonfanya ke pintu kamar Tsuna hingga pintu tersebut rusak. Setelah sadar ia telah merusak pintunya, Hibari sempat terdiam. Dan Dino berhasil menjatuhkan Hibari dengan satu pukulan di wajahnya. Lalu ia segera menggeser pintu yang sudah di rusak itu dan mendapati Tsuna yang sudah terduduk lemas.
"Tsuna kau tidak apa-apa?"
Tsuna tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia hanya mengaggukkan kepalanya.
"Syukurlah… Apa kau bisa berdiri? Ayo kita cepat keluar dari sini."
Tanpa menunggu waktu lagi, Dino langsung membawa Tsuna keluar dan memasukkannya ke dalam mobilnya. Lalu mobil itu berjalan menuju kediaman Sawada.
Sampai di rumahnya, Tsuna disambut pelukan hangat ibunya. Tsuna masih mengingat betul siapa ibunya dan siapa saja orang-orang yang membuat rumahnya ramai. Tsuna merasa lega bisa kembali lagi ke rumahnya. Merasa tenaganya masih lemah, Tsuna langsung kembali menuju kamarnya yang nyaman. Betapa rindunya ia tidur di kamarnya sendiri. Tunggu, kenapa Dino malah mengikuti Tsuna sampai ke kamar?
Jangan berpikiran aneh dulu. Dino mengikuti Tsuna untuk memastikan ia berhasil membawa Tsuna dengan selamat.
"Kau masih butuh banyak istirahat, Tsuna.", Dino membantu Tsuna duduk di ranjangnya.
"Iya… terima kasih Dino-san telah menolongku.", Tsuna sedikit menyunggingkan senyum.
"Biar aku bantu untuk mengganti perbanmu ya"
Dino mulai membuka perban yang sudah cukup lama melekat di kepala Tsuna tanpa diganti. Ia juga melihat ada beberapa jahitan yang lepas. Ia menjahit kembali luka yang terbuka, lalu memperbaninya dengan perban baru.
Setelah itu Tsuna membaringkan tubuhnya. Terlihat dari wajahnya ia sangat lega. Ia tidak bisa memikirkan bagaimana bila ia tidak diselamatkan oleh Dino.
"Tsuna, aku kembali dulu ya.. beristirahatlah jangan terlalu banyak bergerak."
"Um.. sekali lagi terima kasih.."
Dino hanya membalasnya dengan senyum dan berlalu dari balik pintu. Merasa sudah lelah, ia ingin tidur. Tapi ada satu hal yang mengusiknya, tumben sekali Reborn tidak menyambutnya dengan jitakan ataupun tendangan di bokongnya. Ya baginya itu lebih baik, perlahan Tsuna memejamkan matanya dan pergi ke alam mimpi.
.
.
.
Esok pagi saat bangun tidur, Tsuna dikejutkan oleh kedua sahabatnya yang sudah duduk manis di dalam kamarnya. Tsuna hanya bisa memasanga muka shock dan kaget (apa bedanya?).
"Ohayou, Tsuna! Jyuudaime!", ucap Yamamoto dan Gokudera berbarengan.
"Kalian… apa kalian tidak sekolah?", tanya Tsuna.
"Kami tidak sekolah hari ini untuk menjengukmu, Tsuna.", ucap Yamamoto.
"Kami harus melihat keadaan anda sekarang, Jyuudaime.", ucap Gokudera.
"Terima kasih sudah menjengukku… tapi tidak harus sampai bolos sekolah kan..?"
"Sebenarnya sih sehabis sekolah juga bisa tapi… bolos lebih baik sepertinya", Yamamoto senyum girang.
"Menjenguk anda lebih penting daripada sekolah!", Gokudera lebih antusias.
"Bilang saja kalian tidak ingin sekolah…", ucap Tsuna dengan suara pelan sambil bersweatdrop.
"Bangunlah Tsuna, ibumu sedang masak sarapan dan mengajak kita sarapan."
"Baiklah, kalian duluan saja aku akan menyusul.", Tsuna mulai bangkit dari tempat tidur.
Dua sahabatnya langsung berlalu menuju ruang makan. Tsuna menuju kamar mandi dan pastinya untuk mandi. Ia baru sadar sudah lama ia tak mandi dan ia menyadari bau tubuhnya yang mulai tidak sedap.
Setelah mandi, Tsuna langsung saja menuju ruang makan. Dan seperti biasa, di meja makan ibunya dan beberapa orang menumpang dan dua sahabatnya sudah duduk manis di sana. Tsuna langsung saja duduk di tempat yang masih kosong. "Selamat makan!", ucap mereka sebelum menyantap makanan. Betapa rindunya Tsuna dengan suasana ini. Baru kali ini ia menyayangi orang-orang yang ada di rumahnya dengan sepenuh hati. Dan satu orang yang paling ia rindukan, balita yang mengajarnya dan membuang panggilan Dame-Tsuna-nya, Reborn. Sesekali Tsuna melirik ke home tutornya itu, dan sesekali sang home tutor membalasnya dengan senyuman kecil. Syukurlah… sepertinya Reborn tidak marah.. Gumam Tsuna dalam hati.
Setelah makan, Tsuna dan sua sahabatnya kembali ke kamar Tsuna. Lagi-lagi banyak tugas yang menumpuk selama ia diculik dan dirawat di rumah sakit. Dan baru kali ini, Yamamoto dan Gokudera sangat membantu Tsuna dalam menyelesaikan tugas sekolahnya. Sampai tak terasa hari sudah sore. Tsuna sempat bingung Yamamoto dan Gokudera sama sekali tidak beranjak dari posisi duduknya.
"Gokudera-kun… Yamamoto…?", panggil Tsuna.
"Ya, Jyuudaime?"
"Apa kalian tidak ingin pulang..?"
Yamamoto dan Gokudera saling lihat-lihatan lalu, "Untuk malam ini kami ingin menginap di rumah anda.", jawab Gokudera.
"Apa…?! Menginap…?!"
"Ya. Apa kau keberatan, Tsuna?", tanya Yamamoto.
"Kami menginap untuk menjaga anda, Jyuudaime.", ucap Gokuedera.
"Baiklah aku tidak melarang.. tapi kalian mau tidur di mana?"
"Di mana saja boleh kok, Tsuna.", Yamamoto tersenyum girang.
"Kami tidur di bawah sini juga tak masalah.", ucap Gokudera.
"Hah… Baiklah akan aku siapkan futonnya nanti."
Sore menjelang malam, mereka bergantian mandi. Setelah mandi mereka menyantap makan malam bersama. Tiba-tiba bel rumah Tsuna berbunyi. Mau tak mau Tsuna beranjak dari kursinya dan menuju pintu masuk. Dan betapa terkejutnya ia yang bertamu adalah Haneuma, alias Bucking Bronco, dan itulah sebutan untuk Dino.
"Dino-san..! Kenapa kau ada di sini..?!"
"Yo Tsuna, aku datang untuk menjengukmu."
"Tapi kenapa baru datang malam begini..?"
"Karna pekerjaanku baru selesai semua. Kau sedang apa? Apa kau sedang makan malam?"
Belum sempat Tsuna menjawab, tiba-tiba Nana menghampiri Tsuna dan mengajak Dino untuk makan malam bersama. Tujuan Dino datang ke sini sebenarnya juga ingin numpang makan malam dengan alasan masakan ibunya Tsuna enak.
Tsuna merasa lelah. Setelah makan Tsuna langsung menuju kamarnya sendirian, agar ia bisa menikmati waktunya yang tenang sebentar. Setelah membuka pintu kamarnya, Tsuna terkejut melihat jendela kamarnya terbuka. Tsuna hendak menutupnya, ternyata kejutannya tidak hanya sampai situ. Saat perhatiannya beralih ke ranjangnya, ia terkejut ternyata ada seseorang yang menempati ranjangnya tanpa seizinnya dan orang itu sama sekali tidak Tsuna undang dan tak mungkin orang itu datang ke rumah Tsuna bila tidak ada perlu. Seseorang yang selalu menggunakan gakuran berwarna hitam dengan tanda "Komite Disipliner" di bahu kirinya. Siapa lagi kalau bukan Hibari Kyoya.
"Hi-Hibari-san… kenapa kau ada di sini..?", tanya Tsuna dengan nada takut.
"Tsunayoshi…", Hibari bangkit dari posisinya berbaringnya. "Urusanku denganmu belum selesai…"
"Aku mohon Hibari-san… jangan ganggu aku lagi… Ini sudah cukup…"
"Bagiku belum."
"Jyuudaime…!"
Terdengar teriakan Gokudera dan di menit berikutnya ia membuka pintu kamar Tsuna dengan tiba-tiba. Gokudera tidak sendirian, ia ditemani Yamamoto dan Dino.
"Kalian…!"
"Sudah cukup sampai di situ, Hibari.", ucap Gokudera yang siap dengan dynamitenya.
"Whoa…", Hibari hanya mendengus pelan.
Tsuna semakin bingung. Bagaimana cara ia menghentikan perkelahian sesama guardiannya ini.
.
.
.
To be continued
Akhirnya bisa juga nyelesain chapter ini!
Saya baru saja selesai menjalani ritual UAS yang mematikan jadi baru update sekarang deh
Semoga rasa penasaran kalian bisa terpuaskan dan berikutnya akan penasaran lagi
Arigatou untuk yang sudah membaca, follow, dan fav, arigatou!
Selamat membacaaaaa~
Sampai bertemu di chapter berikutnya
Jaa~
