CHAPTER 2

~Hakyeon pov~

Setelah semalam berkonsultasi dengan Ken eomma dan Ravi appa aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Leo. Sangat berat rasanya karena kami juga masih saling mencintai, tapi apa daya kalau eomma Leo tidak menyetujui hubungan kami, tidak ada pilihan lain sepertinya.

Aku sedang duduk di kursi batu di bawah pohon Mangga, menunggu Leo yang katanya akan datang beberapa menit lagi.

MyungYeol couple lewat di depanku, couple yang jadian di hari yang sama denganku dan Leo, mereka masih saja bersama dan terlihat sangat harmonis walaupun beberapa saat lalu Myungsoo sempat mengkhianati Sungyeol dengan seorang yeoja, namun Myungsoo kini telah kembali pada Sungyeol.

Tiba-tiba seorang namja duduk di sampingku begitu saja tanpa mengeluarkan suara. Leo. Ia terlihat sangat tampan hari ini, ani, tidak hanya hari ini, setiap hari ia selalu tampan.

Hening.

Aku bingung bagaimana memulai pembicaraan yang sebenarnya tidak kuinginkan ini. Leo juga diam.

"Leo," panggilku.

Ia menoleh dan memandangku dengan sebuah tatapan yang sulit untuk diartikan.

"Mian, Leo… Sepertinya eommamu benar-benar tidak menyukaiku, lebih baik hubungan kita cukup sampai disini," ucapku dengan suara bergetar.

Leo tidak bereaksi sama sekali. Ia tetap diam dan memandangiku seperti itu. Aku seharusnya tidak kaget karena ia memang selalu seperti itu.

"Mianhae…" Aku bangkit berdiri dan segera melangkah meninggalkannya yang masih membatu. Walaupun terus berjalan dan tidak memandang ke belakang namun aku sangat ingin Leo menahanku. Tapi itu tidak terjadi. Ia melepaskanku.

.

.

.

Aku malas pulang, sangat malas, maka dari itu aku berputar-putar di kampus. Hari ini sudah hari keempat aku resmi menyandang status single setelah putus dengan Leo, jadi tidak ada salahnya aku mencari gebetan baru. Aku memandang ke sekeliling, siapa tau ada namja atau – mungkin – yeoja yang bisa kujadikan gebetan baru, tapi yang aku dapati hanya beberapa couple yang sedang berlovey-dovey. MyungYeol couple, WooGyu couple, YaDong couple, KaiSoo couple, YunJae couple, YooSu couple, SuLay couple, ChenMin couple, BaekYeol couple, HunHan couple, TaoRis couple, BangHim couple, DaeJae couple, JongLo couple, dan puluhan lusin couple lainnya membuatku ingin pindah ke bulan sekarang juga.

Kuputuskan untuk duduk saja bersama Ryeowook hyung yang sedang duduk sendirian menikmati kentang gorengnya di bangku taman.

"Ryeowook hyung," sapaku sambil mendudukkan diri di sampingnya.

"Hakyeon, lama tak berjumpa," jawabnya sambil tersenyum. Ia pasti senang aku temani karena ia juga sering sendirian belakangan ini karena namjachingunya – Yesung hyung – sedang menjalani wajib militer.

Dari sini aku bisa melihat seorang namja yang sangat kurindukan empat hari belakangan ini sedang berdiri di depan jendela kaca perpustakaan, ia terlihat sangat serius. Beberapa detik kemudian kulihat ia berjalan memasuki pintu utama perpustakaan. Ingin sekali aku menyusulnya saat ini, namun aku segera mengurungkan niat 'buruk' itu. Lebih baik aku berbicang-bincang dengan Ryeowook hyung daripada memperhatikan namja itu.

.

.

.

~Author pov~

Seorang namja tampan bernama Leo memasuki ruang perpustakaan dengan tenang, ia mengambil tempat duduk di ujung kiri belakang ruangan dengan sebuah buku tebal di hadapannya, namun jelas sekali kalau ia tidak sedang membaca saat ini karena bukunya masih saja tertutup, ia sedang memperhatikan seseorang yang tengah duduk di tengah ruangan sambil menulis sesuatu.

"Yook Sungjae," panggil seseorang di samping namja yang ternyata bernama Yook Sungjae tersebut.

Sungjae mendongak. "Ne?"

"Aku pulang dulu, ne, annyeong," pamitnya kemudian meraih tasnya dan pergi begitu saja.

~Leo pov~

Sekarang hanya ada aku, Sungjae, dan seorang penjaga perpustakaan yang sedang sibuk menatap buku yang berada di samping pintu utama.

Aku terus memperhatikan Sungjae yang sepertinya sedang sibuk dengan tugasnya. Ia terlihat mirip dengan Hakyeon. Apanya yang mirip? Aku sendiri tidak tau apa yang membuatnya mirip dengan Hakyeon, dan ini bukan karena aku merindukan Hakyeon, sejak pertama kali aku melihatnya setengah tahun yang lalu aku sudah merasa kalau ia mirip dengan Hakyeon. Bukan hanya wajahnya, namun tubuhnya, gerak tubuhnya, rambutnya, semuanya mirip. Tinggi badan mereka juga sama. Sebenarnya diam-diam aku telah memperhatikannya sejak beberapa bulan yang lalu, sebagai cadangan kalau sewaktu-waktu aku dan Hakyeon berpisah. Bukannya mengharapkannya, namun berjaga-jaga karena nyatanya setelah satu tahun lebih eomma tetap tidak merestui hubungan kami tanpa alasan yang jelas.

.

.

.

Aku terus mengikuti Sungjae, setelah dari perpustakaan ia menuju ke kafetaria hanya untuk membeli segelas es teh – es teh yang sama dengan yang sering diminum Hakyeon – kemudian ke toilet dan sekarang sepertinya ia dalam perjalanan pulang. Aku terus membututi di belakangnya, untung saja ia tidak menyadarinya.

Langkahku terhenti ketika Sungjae berbelok memasuki sebuah rumah, ya itu pasti rumahnya dan aku tidak mungkin mengikuti masuk ke dalam rumahnya. Lebih baik aku pulang saja.

.

.

.

Dua minggu kemudian…

Aku berhasil mendapatkan nomor hp Sungjae setelah sebelumnya mengajaknya berkenalan lewat jejaring sosial, kebetulan aku menemukan akunnya. Seminggu belakangan ini aku dan Sungjae selalu chatting tiap malam, tidak hanya malam hari kadang siang atau sore hari juga. Namun saat bertemu dengannya aku masih belum sanggup berbicara, bahkan menatapnya pun aku belum berani. Aku memang seorang namja yang pemalu. Berbeda dengan Hakyeon yang selalu mendekati dan memulai pembicaraan terlebih dahulu, Sungjae tidak berusaha mendekatiku terlebih dahulu saat kami secara kebetulan bertemu, ia hanya memandangku, tersenyum, dan pergi. Walaupun begitu sejauh ini aku merasa nyaman bersama Sungjae walaupun hanya melalui udara saja.

Tapi bukan berarti aku melupakan Hakyeon begitu saja, dia cinta pertamaku dan tidak akan mudah bagiku untuk melupakannya. Kami masih sering bertemu – secara tidak sengaja tentunya – dan dia hanya memandangku sekilas, ia mulai menjauhiku.

Smartphone di dalam saku celanaku bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk. Dari Sungjae, aku segera menerimanya.

"Yeoboseyo..."

"Yeoboseyo, hyung. Ini Sungjae."

"Ne…"

"Hyung, kau ada acara malam ini?"

"Ani…"

"Kalau begitu, nanti malam hyung temani aku ya, appa dan eomma akan pergi ke luar kota dan aku takut di rumah sendirian."

"…."

"Aku anggap hyung setuju, aku tunggu nanti malam di rumahku ya… Annyeong…"

"Annyeong…"

Mwo? Kerumah Sungjae? Menemaninya? Bukankah selama ini kami belum pernah berbicara dengan bertatap muka?

.

.

.

Aku sudah berada di depan rumah Sungjae, dan aku sudah mengirim pesan padanya, memberi tau bahwa aku sudah menunggu di depan pintu. Malam ini aku mengenakan kaos lengan panjang berwarna dasar putih dengan garis-garis biru, celana jeans warna biru tua, dan sepatu kets berwarna biru navy. Entah penampilanku bagus atau tidak dimatanya, tapi aku sudah mencoba semua pakaian yang ada di lemari, dan kurasa ini yang terbaik.

"Leo hyung," panggil Sungjae yang entah sejak kapan sudah berdiri di ambang pintu. "Ayo masuk, diluar dingin."

Aku menurutinya, kulepas sepatuku di belakang pintu dan mengikutinya masuk, rumahnya sangat rapi.

"Duduklah hyung," ia mempersilahkanku duduk di sofanya yang sangat nyaman.

Hampir sepuluh menit kami duduk berdampingan namun tidak ada yang memulai pembicaraan, sangat sepi. Berbeda dengan saat bersama Hakyeon yang cerewet, ia selalu memulai pembicaraan terlebih dahulu, bahkan saat aku tidak menjawab ia akan terus berbicara meramaikan suasana. Tapi Sungjae bukanlah Hakyeon. Walaupun fisik dan segala sesuatu yang ada pada mereka sama, namun sifat mereka berbeda.

Tenggorokanku mulai terasa kering, aku haus dan Sungjae sama sekali tidak menawarkan minuman padaku, sangat berbeda dengan Hakyeon yang…. Stop! Berhenti membandingkan Hakyeon dengan Sungjae, walaupun mereka mirip tapi mereka dua manusia yang berbeda. Hakyeon adalah Hakyeon, Sungjae adalah Sungjae, Sungjae tidak akan pernah bisa menjadi Hakyeon.

"Hyung…," akhirnya setelah sekian lama Sungjae memulai pembicaraan.

Aku menatapnya, menunggu ia berbicara lagi.

"Ehm…, namja yang hyung bilang mirip denganku, Cha Hakyeon itu, aku merasa tidak mirip dengannya," ucapnya ragu.

Aku mengangguk kecil. Ya, Hakyeon juga merasa dirinya tidak mirip dengan Sungjae. Tapi aku merasa mereka berdua sangat mirip, tidak hanya wajah dan tubuhnya, namun selera mereka juga sama, mereka memiliki botol minum dengan model dan warna yang sama persis, memakai sepatu yang sama, dan menyukai buku yang sama.

"Apa hyung masih menyukai Cha Hakyeon?" tanya Sungjae sambil memalingkan wajahnya, ia berbicara tanpa menatapku, sangat berbeda dengan Hakyeon yang selalu menatapku saat berbicara.

Sebenarnya aku masih menyukainya, tidak hanya menyukai tapi juga mencintainya, maka aku kembali mengangguk kecil padanya.

Sungjae bisa melihat anggukanku dari bayangan kami di kaca jendela.

"Kau sendiri?" tanyaku dengan suara pelan, ya aku tidak bisa atau mungkin tidak terbiasa berbicara dengan suara lantang.

"Aku? Maksudnya?"

"Apa ada orang yang kau sukai?"

Kini Sungjae memalingkan wajahnya menghadap ke arahku, ia mengangguk pasti. "Aku menyukaimu, hyung."

Ah! Aku salah, tidak seharusnya aku menanyakan hal itu padanya, kalau sudah seperti ini mana tega aku menolaknya.

"Maukah hyung menjadi namjachinguku? Hyung merasa aku dan Hakyeon hyung mirip kan? Kenapa tidak berusaha menyukaiku saja?"

Aku benar-benar tidak bisa menolaknya sekarang. Ya tidak ada salahnya sih mencoba berpacaran dengan Sungjae, lagipula aku dan Hakyeon sepertinya sudah tidak ada harapan lagi.

Aku mengangguk, membuat Sungjae tersenyum lebar kemudian memelukku dengan erat.

TBC