CHAPTER 5
Tidak seperti biasanya, siang ini Leo mengantar Hakyeon ke rumahnya terlebih dahulu sebelum mengantar Sungjae, tentu saja karena ia ingin berbicara empat mata dengan Sungjae (enam mata ditambah dua mata author) mengenai kehamilan Sungjae. Hakyeon dan Sungjae sudah mengetahuinya karena tadi Hakyeon merebut paksa surat keterangan dokter itu dari tangan Leo, tapi untunglah Hakyeon sama sekali tidak curiga padanya.
Leo membalikkan tubuhnya menghadap ke Sungjae yang duduk di belakangnya. "Pindahlah," perintah Leo itu segera dituruti oleh Sungjae yang segera pindah ke samping Leo yang duduk di balik kemudi.
"Tentang kehamilanmu itu," Leo membuka pembicaraan.
Sungjae memandang Leo penuh harap, berharap namja yang telah menghamilinya itu mau bertanggung jawab.
"Gugurkanlah, aku akan membantumu, dan setelah itu lebih baik kita tidak usah saling kenal lagi," ucap Leo, membuat hati Sungjae perih, seperti teriris rasanya.
"Tapi, aku tidak bisa, hyung… Aku menyayanginya, karena ia anakmu, anak dari namja yang kucintai," ucap Sungjae lirih sambil mengusap air matanya yang telah mengalir membasahi pipi mulusnya.
Leo tak menghiraukan ucapan Sungjae, ia langsung menjalankan mobilnya menjauhi rumah Hakyeon, membawanya menuju sebuah rumah besar yang terletak di pinggiran kota. "Masuklah!" Leo menunjuk ke arah rumah itu.
Melihat pandangan Leo yang begitu mengerikan – baginya – Sungjae langsung turun dari mobil dan memasuki rumah itu dengan langkah gontai, sudah bisa ia tebak rumah itu adalah tempat praktek dokter aborsi.
Skip time…
"Sudah?" tanya Leo saat Sungjae kembali. Yang ditanya hanya mengangguk kecil, matanya masih merah karena menangis, hatinya sungguh terluka karena sikap Leo padanya yang menurutnya tidak manusiawi.
"Aku hanya diberi ini," ucap Sungjae sambil menunjukkan sebuah plastik berisi beberapa butir pil pada namja di sampingnya.
Leo meliriknya seklias kemudian padangannya kembali tertuju pada jalanan di depannya, ia tidak terlalu peduli pada Sungjae.
.
.
.
Sungjae pasti sudah menegak obat itu kalau saja Min eomma tidak berteriak memanggil namanya, "SUNGJAE!" Namja cantik yang berstatus sebagai eomma kandungnya tersebut kini telah berdiri di ambang pintu dengan membawa selembar kertas di tangannya. Sungjae yang sedang duduk di atas tempat tidurnya dengan membelakangi pintu tersebut langsung berbalik. "Eomma, ada apa?" tanya Sungjae dengan masih menggenggam sebuah pil di tangannya.
"Kau positif hamil? Bagaimana bisa, Sungjae? Siapa yang menghamilimu?" tanya Min eomma sambil mendekati tempat tidur anak semata wayangnya. Perlahan air mata mengalir dari kedua mata cantiknya itu.
"Mian, eomma," hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sungjae.
"Obat apa ini?" Min eomma segera menyambar sebuah plastik berisi pil yang berada di atas tempat tidur, ia juga membuka kepalan tangan Sungjae dan mengambil sebuah pil yang berada di dalamnya. "Untuk apa pil ini? Kau mau menggugurkannya? Kau mau membunuh aegyamu sendiri?" Min eomma terlihat sangat marah.
Sungjae hanya bisa menunduk, ia merasa sangat bersalah pada eommanya.
Min eomma berdiri dan melemparkan semua pil itu keluar melalui jendela kamar Sungjae. "Katakan pada eomma siapa yang melakukannya, Jae!"
Sungjae menggeleng, ia tidak mau eommanya tau bahwa ia mengandung anak Leo karena ia tidak mau eommanya semakin sedih mengetahui Leo tidak mau bertanggung jawab.
"Ada apa ini?" tanya Kwang appa yang tiba-tiba muncul.
"Yeobo, Sungjae hamil," jawab Min eomma sambil terus menangis, ia memeluk tubuh sang suami yang tidak lebih tinggi darinya.
"Mwo? Hamil? Bagaimana bisa? Dia kan namja."
Min eomma melonggarkan pelukannya, ia memandang suaminya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Jelas bisa, akupun namja tapi Sungjae bisa lahir dari rahimku kan?"
Kwang appa tersenyum lebar. "Oh iya, aku lupa, mianhae… Jadi bagaimana? Siapa yang menghamili Sungjae?" kini wajahnya kembali serius.
Kwang appa dan Min eomma tidak pernah tau kalau selama ini Sungjae memiliki hubungan khusus dengan Leo karena Leo hanya datang ke rumah mereka saat hanya ada Sungjae sendirian di rumah. Setau mereka Sungjae tidak pernah memiliki namjachingu.
"Sungjae, jawab appa!"
"Jawablah, Sungjae, kami akan membantumu," bujuk Min eomma.
Sungjae mengusap air matanya kasar. Ia terus menunduk, tidak berani menatap kedua orangtuanya. "Leo hyung, appa, eomma, mianhae…"
.
.
.
~Sungjae pov~
Entah bagaimana appa dan eomma bisa menemukan alamat rumah Leo yang akupun tidak tau, dan kini appa dan eomma sedang mengunjungi rumahnya. Entah apa yang akan mereka bicarakan dan bagaimana hasil akhirnya, aku hanya bisa berharap Leo mau mengaku dan bertanggung jawab. Tapi, bagaimana dengan Hakyeon?
.
.
.
~Author pov~
Tok… Tok… Tok…
Kwang appa mengetuk pintu rumah keluarga Jung.
Pintu terbuka, kepala seorang namja yang terlihat mirip dengan YuKwon Block-B menyembul di balik daun pintu.
"Ehm, maaf, apa benar ini rumah Jung Taekwoon atau Leo?" tanya Kwang appa.
Namja yang ternyata eomma Leo itu membuka lebar pintu rumahnya. "Ya, benar, saya Jung Ilhoon, eommanya Leo. Ada apa ya?"
"Bisakah kita berbicara di dalam?"
"Tentu, silakan masuk."
Namja tersebut kembali dari dapur sambil membawa sebuah nampan berisi tiga gelas teh hangat, dua untuk tamunya, satu untuk dirinya sendiri. Ia kemudian duduk di sofa yang berhadapan dengan kedua tamunya tersebut.
"Apa yang membawa kalian kesini?" tanyanya ketus.
"Ehm, begini, kami mau memberitahu kalian tentang ini," jawab Min eomma sambil meletakkan sebuah amplop di meja. Jung Ilhoon segera mengambil dan membukanya. Ia mengernyitkan dahinya membaca isi dari surat keterangan tersebut. "Yook Sungjae? Siapa itu? Apa hubungannya dengan kami?"
"Tentu saja ada hubungannya. Yook Sungjae adalah anak kami, dan ia sedang mengandung, karena Leo," ucap Kwang appa.
"Mwo? Leo menghamili anak kalian?" tanya seorang namja tampan yang entah sejak kapan berada di ambang pintu. "Maaf, perkenalkan saya Jung Hyunsik, appanya Leo," ucap namja itu, kemudian duduk di samping istrinya.
"Ne, Leo, anak kalian telah menghamili Yook Sungjae, anak kami. Usia kandungannya sudah menginjak dua bulan, jadi kami harap Leo dapat segera menikahi Sungjae," ucap Kwang appa tegas.
Ilhoon dan Hyunsik berpadangan beberapa saat hingga akhirnya Hyunsik menjawab, "ne, lebih baik kita berbicara langsung kepada Leo." Ia bangkit dan masuk ke dalam rumah, beberapa saat kemudian ia kembali dengan menggandeng seorang namja tampan yang terlihat sangat terpaksa berjalan mengikuti appanya.
"Leo, kami harap kau mau bertanggung jawab kepada Sungjae," ucap Min eomma penuh harap.
"Ne, tapi Hakyeon…" ucapan Leo langsung diputus oleh eommanya, "putuskan saja Hakyeon kemudian menikahlah dengan Sungjae."
"Tapi eomma…"
"Tidak ada tapi! Pokoknya kamu harus putuskan Hakyeon dan menikah dengan Sungjae. Kalau kamu tidak mau, eomma yang akan bicara pada Hakyeon," ancam Ilhoon.
Leo hanya menunduk putus asa, hubungannya dengan Hakyeon kembali terancam.
TBC
