CHAPTER 6

Eomma Leo, Ilhoon, benar-benar mendatangi rumah Hakyeon untuk memintanya putus hubungan dengan anaknya dan mengatakan bahwa Sungjae telah mengandung anak Leo.

"Bagaimana bisa, ahjussi? Bukankah Sungjae saudara jauh Leo?"

Ilhoon menggeleng sambil tersenyum melecehkan namja cantik di hadapannya. "Kau telah dibohongi oleh mereka! Sekarang kau sadar, Leo pun membohongimu dan berselingkuh dengan Sungjae di belakangmu, itu tandanya di tidak mencintaimu, jadi sekarang relakanlah Leo menikah dengan Sungjae. Aku yakin Leo akan lebih bahagia bersama Sungjae," ucap Ilhoon sebelum membalikkan tubuhnya dan pergi. Meninggalkan Hakyeon yang masih terdiam di ambang pintu rumahnya.

.

.

.

"Kami sudah memutuskan pernikahan kalian akan dilaksanakan dua minggu lagi," ucap Kwang appa pada calon menantunya yang sedang membuatkan Sungjae susu khusus bumil. (Walaupun Sungjae bukan bumil tapi berhubung belum ada susu khusus untuk namja hamil jadi Sungjae minum susu bumil)

Leo tidak menanggapinya, pandangannya hanya tertuju pada segelas susu di hadapannya. Ia mengambil gelas itu dan memberikannya pada Sungjae yang sedang terbaring di tempat tidurnya.

"Aku tidak mau menikah denganmu," ucap Leo setelah Sungjae menghabiskan susunya.

"Leo hyung, tapi…."

"Setelah anak itu lahir berikan padaku dan Hakyeon, dan kau bisa hidup bebas setelah itu."

Sungjae menggeleng. "Tapi aku menyayangi uri aegya, aku mau merawatnya sebagai eommanya."

"Kau tetap bisa bertemu dengannya."

"Tapi…." Belum sempat Sungjae melanjutkan kata-katanya Leo sudah pergi, menghilang dibalik pintu yang ditutup dengan keras olehnya.

.

.

.

Tok…. Tok…. Tok….

Suara ketukan pada pintu rumahnya memaksa Hakyeon yang masih saja menangis di dalam kamar untuk keluar, membukakan pintu untuk tamunya.

"Leo…." Hakyeon tampak kaget melihat Leo berada di depan pintu.

Namja tampan tersebut langsung masuk ke dalam rumah, melewati sang tuan rumah yang masih saja terbengong sambil memegangi gagang pintu.

"Menikahlah denganku," ucap Leo singkat.

Hakyeon segera mendudukkan tubuhnya di samping Leo. "Tadi eommamu kesini, ia meminta kita untuk berpisah dan merelakanmu menikah dengan Sungjae."

Leo menggeleng. "Aku tidak mau menikah dengan Sungjae. Aku hanya mau menikah dengan Cha Hakyeon," tegas Leo.

"Lalu bagaimana dengan Sungjae?"

"Kita rawat anak Sungjae seperti anak kita sendiri, kau setuju?"

Hakyeon mengangguk. Baginya merawat anak Sungjae lebih baik daripada melepaskan Leo untuk menikah dengan Sungjae.

"Tapi apa orang tuamu akan setuju?" terlihat keraguan di wajah Hakyeon.

"Kita lihat saja."

.

.

.

Hari pernikahan Leo dan Sungjae pun tiba. Kini mereka sudah berada di altar gereja.

"Jung Taekwoon-ssi, bersediakah anda mengambil Sungjae sebagai istri anda yang sah, menyayangi dan melindunginya dalam segala situasi, saat sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kalian?"

Leo segera menggeleng mendengar pertanyaan dari sang pendeta di hadapan mereka. "Saya tidak bersedia," ucapnya lantang, menimbulkan kegaduhan diantara para tamu. Hyunsik, Ilhoon, Eunkwang, dan Minhyuk selaku orang tua kedua mempelai pun hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan mendengar jawaban Leo yang diluar dugaan tersebut.

"Apa ada yang salah?" tanya pendeta yang juga kebingungan dengan jawaban sang mempelai pria.

"Ya! Mempelai perempuannya salah! Dialah mempelai perempuannya," jawab Leo sambil menunjuk Hakyeon yang berada di ujung ruangan. Ia kemudian menghampiri namjachingunya itu dan menyeretnya menuju ke altar. Sungjae hanya bisa melihatnya dengan bingung. Mimpi buruknya menjadi kenyataan.

"Nikahkanlah saya dengan Hakyeon!"

"Leo! Apa-apaan ini? Dan kau, Hakyeon, apa yang kau lakukan disini?" Ilhoon yang terlihat paling marah diantara semua orang yang berada di dalam gedung gereja tersebut.

"Aku mau menikah dengan Hakyeon, eomma," jawab Leo lembut.

"Tidak bisa, kau harus menikah dengan Sungjae!"

"Ani, ahjussi, biarkan Leo hyung menikah dengan Hakyeon hyung. Mereka saling mencintai, Leo hyung tidak mencintaiku, jadi dia pasti lebih bahagia jika bersama Hakyeon hyung," ucap Sungjae mengalah, ia berjalan mundur menjauhi altar menuju ke kursi jemaat.

Ilhoon akhirnya luluh juga melihat kegigihan Leo mempertahankan cintanya kepada Hakyeon, apalagi kedua matanya menatap sang eomma dengan penuh harapan. "Sudahlah, nikahkan mereka," ucap Ilhoon akhirnya, ia juga kembali ke kursinya semula.

"Baiklah, bisa kita mulai sekarang?"

Kedua mempelai mengangguk.

"Jung Taekwoon-ssi, bersediakah anda mengambil…."

"Cha Hakyeon," ucap Leo, ia lupa belum memberitahukan nama mempelai perempuan yang baru pada sang pendeta yang akan menikahkan mereka.

"Jung Taekwoon-ssi, bersediakah anda mengambil Cha Hakyeon-ssi sebagai istri anda yang sah, menyayangi dan melindunginya dalam segala situasi, saat sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kalian?"

"Saya bersedia," jawab Leo mantap.

"Cha Hakyeon-ssi, bersediakah anda menerima Jung Taekwoon-ssi sebagai suami anda yang sah, menyayangi dan menghormatinya dalam segala situasi, saat sehat maupun sakit, kaya maupun miskin, sampai maut memisahkan kalian?"

"Saya bersedia," jawab Hakyeon, air mata kebahagiaan menetes membasahi kedua pipinya.

"Mempelai pria dipersilahkan mencium mempelai wanita…"

Leo tersenyum ke arah Hakyeon yang kini telah sah menjadi istrinya.

CHU

Ia mengecup singkat bibir main Hakyeon.

.

.

.

"Sungjae," panggil Min eomma yang prihatin dengan keadaan anaknya yang gagal menikah.

"Nan gwenchana eomma," ucap Sungjae sebelum eommanya sempat menanyakan keadaannya. "Aku yakin ini yang terbaik. Aku juga sudah memutuskan untuk memberikan anakku kepada Leo dan Hakyeon setelah ia lahir nanti."

Min eomma memeluk anak sematawayangnya dengan erat. "Ne, Sungjae. Kau harus kuat, eomma yakin suatu saat nanti kau pasti menemukan namja atau yeoja yang tepat untukmu."

"Ne, eomma, kamsahamnida…"

END