My Waiter, My Lovely Prince
Chapter 2 "Why with these crazy men?!"
Rated: T
Genre: Supernatural, romance, family
"Ya, cincin peninggalan ibumu, defensiva anulum fati.. ibumu menamainya" Jawab Shiba.
"Defensiva anulum fati?" Gumam Erza.
A/N: Yosh im back :D .. gimana dengan cerita ini?! Kayaknya ga seru banget, seruan yang mystery , hohoh~! Tapi disini juga ada mystery , romance dan supernatural.
Maaf baru bisa update karna saya punya banyak project #lebeh author xD
Yosh daripada berbacot ria mending saya balas review anda semua,, terima kasih yang sudah review :3
Himiki-chan: Baiklah, gomen pendek /.\ but thanks reviewnya :D
Marianne Gloria: bhee.. males login #lempar logout *plak XD nama-nama character apaan? Yang mana? #kepo .. belum, hhohoho... iya kah? Gomen ada typo.. /.\ sip! ArigaTou blo reviewnya.. XD
Rahma scarlet: Yup, ArigaTou atas semangatnya, dan thanks reviewnya :D
Kelar, saatnya lanjutkan :D
Warning: Typo, abal, OOC, alur kecepatan, etc
L
O
A
D
I
N
G
Strange waiter, my lovely prince chapter 2
"Itu berarti.." Ucap Erza memandang sejenak cincin itu.
"Ya.. cincin pelindung nasib.." Jawab sang ayah sedangkan sang anak hanya tertawa terkekeh-kekeh.
"Ibu memberikan nama yang aneh.." Ucapnya dalam sela tawanya.
"Tidak, suatu saat kau akan mengerti, sekarang kamu pakai ya cincin ini.." Balas sang ayah lalu mengalungkan cincin tepat di tangan kanan jari manis Erza.
"BINGO Shiba! Saatnya kami yang akan beraksi, apa parfum putrimu sanggup mengalahkan bencana tiap dalam keturunan symphonia? Huhuh.." Ucap pria pendek berambut orange itu berdiri lalu mencium bau parfum dalam sebuah botol.
"Ah, baiklah Tou-san, aku akan beristirahat sebentar lagi, lalu kembali ke dalam istana" Ucap Erza lalu menutup rapat matanya dan tidur, sedangkan sang ayah pun keluar membiarkan sang anak beristirahat sejenak.
"Tou-san harap kamu bisa melewati semua ini Erza" Gumam sang ayah lalu kembali ke singasananya.
Beberapa jam berlalu, Erza pun sadar dan mengkonfirmasi pada tabib kerajaan ia baik-baik saja, lalu ia pun kembali lagi ke istana.
"Mimpi apa tadi aku" Gumam Erza memegang keningnya.
Flash Back
"Hidupmu sedang dalam ancaman" Ucap pria pendek berjas putih.
"Siapa kau?" Tanya Erza.
"Kau harus bisa mengontrol dirimu, kau harus menerima hidupmu sekarang apa adanya.. atau kau akan lenyap dan tak bisa menolong ayahmu, Shiba Roger" Jawab pria itu, lalu Erza pun terbangun.
Flash back OFF
"Siapa pria tua itu, kenapa ia tahu nama Tou-san" Gumam Erza sendiri membereskan kertas-kertas menumpuk di meja kerjanya.
"Ne.. Ojou-san, aku bawakan teh dan beberapa cemilan kecil untuk anda" Ucap Cordelia.
"Apa Ojou-san ingin dibantu?" Tanya Gergonia.
"Terima kasih, tidak perlu Gergonia, aku sudah baik-baik saja" Jawab Erza tersenyum pada 3 maidnya itu.
"Kalau lelah, istirahatlah Ojou-san" Celetuk Liena, sedangkan Erza hanya mengangguk pelan.
"Kami punya kerjaan lain, kami permisi dulu Ojou-san" Pamit 3 maid itu lalu berlalu dari ruang kerja Erza.
Hanya hela napas Erza terdengar di ruangan itu, "Aku lelah" Ucapnya.
Ia pun segera menyambar cemilan dan teh yang dibuat oleh maid-maidnya itu, lalu meneguk setengah gelas teh.
"Mimpi yang aneh, apa yang akan tertimpa padaku? Perasaan aku baik-baik saja" Gumamnya memakan cemilan kecil seraya memandang keluar jendela.
"Apa aku akan mati?" Sambungnya lagi terdiam.
"Abaikan saja, mana mungkin aku mati, mimpi bodo, daripada sumpek mikirin hal bodo mending aku jalan-jalan melepas kesumpekkan ini" Ketusnya dalam hati, lalu ia pun berjalan-jalan keluar.
"Konnichiwa Ojou-san" Begitulah kata-kata ramah para prajurit dan maid yang dilewati Erza, sedangkan Erza hanya membalasnya dengan senyum anggunnya.
"Lebih baik aku ke perpustakaan" Gumamnya lalu melangkah ke perpustakaan, sesampainya, buku-buku menjulang tinggi hingga ke atas, entah buku pengetahuan, ataupun ketatanegaraan dan cerita-cerita dongeng semuanya lengkap, Erza melangkahkan kakinya ke salah satu rak berjudul ketatanegaraan negara tingkat tinggi, ia mengambil salah satu buku disana dan membacanya.
"Sejarah ya.. hah, sejarah" Gumamnya seperti mendapat ide.
Ia pun segera menaikki tangga ke lantai dua untuk mengambil buku sejarah negara symphonia ini, "Ini dia.." Gumamnya mendapat buku itu dan segera turun, saking terburu-burunya ia tak melihat tangga yang ia turuni, ujung-ujungnya ia terpleset dan terjatuh hingga ke lantai dasar, sejenak ia tak sadarkan diri.
"Bersiaplah, hidupmu dalam kutukan, kau harus bisa menanggalkan kutukan itu sendiri" Ucap pria itu lagi.
"Siapa kau?" Tanya Erza lagi.
"Kau harus bisa menanggalkan kutukan kematian itu" Jawab pria itu lalu terbangun lagi.
"Ah. Itte.." Gerutuknya baru ingin terbangun, ia meringis kesakitan.
"Tangan kiriku sepertinya keseleo.." Keluhnya lalu bangkit pelan-pelan dan membawa buku itu dan menuju ruangan tabib.
"Ojou.. ojou, daijobu kaa?" Tanya 3 maid itu mencari Erza kemana-mana dan menemukannya dengan ratapan wajah meringis.
"Aku baik-baik saja, hanya saja aku tak hati-hati tadi menuruni tangga hingga tangan kiriku keseleo, hahaha, gomen" Jawab Erza memperlihatkan tangan kirinya dengan cengirannya.
"Ojou-san kenapa kau begitu ah.. ya sudah kami antarkan ke ruang tabib ya.." Balas 3 maid itu menuntun Erza ke ruangan tabib.
"Kalian ini bagaimana? Kok bisa meninggalkan ojou sendirian" Amukan sang raja yang membuat ciut 3 maid itu, "Ampun Goshujin-sama.. Maaf kami teledor" Ucap 3 maid itu bersimpuh.
"Sudah lah Tou-san, mereka tidak salah kok, akunya yang teledor" Lerai Erza yang tak mau perkara ini diperpanjang.
"Baiklah, kalau begitu.. kau tak boleh keluar dari kamarmu beberapa hari ini, Erza" Perintah sang ayah.
"Tapi Tou-san.. " Bantah Erza.
"Jangan membantah Erza.. biar Tou-san yang urus kerajaan, kau beristirahatlah, sampai kau lebih baik, aku akan memutuskanmu untuk keluar atau tidak" Balas sang raja lalu berlalu keluar dari ruang tabib itu.
"Goshujin-sama, Erza tidak apa-apa, hanya keseleo pada tangan kirinya saja.." Ucap sang tabib pada sang raja.
"Ya, aku harap kau menjaga Erza selagi aku bekerja.."Pinta sang raja yang langsung dapat dehaman 'Ya' dari sang tabib.
2 hari semenjak kejadian itu, setiap kali Erza tertidur pasti ia bermimpi berbicara dengan pria itu, walaupun sebentar.
"Aku tak dapat kronologis apapun tentang kutukan atau apapun di istana pada buku-buku ini, disini terlalu membosankan" Gumamnya lalu bergerutu sendirian, "Ini membosankan" Teriaknya.
"Ya, ojou-san, mau bagaimana lagi, anda diperintahkan oleh Goshujin-sama untuk tak keluar beberapa hari ini" Ucap Liena.
"Bagaimana kalau aku kabur saja" Cengir Erza dengan pikiran piciknya.
"Heh, itu tak diperbolehkan Ojou-san" Balas Cordelia menghentakkan kakinya.
"Memangnya kenapa? Aku kan sudah sehat, lihat tangan kiriku sudah baikkan" Celetuk Erza memanyunkan bibirnya.
"Tetap saja tidak boleh ojou-san, nantinya kami lagi yang kena marah" Jawab Gergonia membetulkan letak kacamatanya yang kendor.
"Oh ayolah, aku sumpek disini, ku mohon" Mohon Erza namun.. "Tetap saja tidak, kau istirahat saja ojou-san" Tegas mereka lalu meninggalkan Erza sendirian di dalam kamar.
"Ah menyebalkan.." Gerutunya, "Aku harus cari cara agar bisa keluar dari kamar yang sumpek ini" Gumamnya dengan senyum piciknya.
Malamnya, seperti 2 hari yang lalu biasanya setiap hari sang putri ditemenin sama maid-maidnya di kamar pengobatan.
"Pelan-pelan.." Gumam Erza mengambil kunci dari saku baju Cordelia.
"Yatta dapat" Senangnya lalu membuka pintu kamar pelan dan membukanya.
"Yes, aku bebas.. sudah tengah malam, pasti sepi" Ucapnya berjalan mengendap, melihat kekiri dan ke kanan apa ada yang berjaga, dilihatnya tak ada, ia pun bebas berjalan santainya.
"Ternyata kalau tempat tabib istana ini sepi seperti rumah hantu" Gumamnya tersenyum sendiri memandang ke arah istana.
"Aku kangen tumpukkan kertas kerjaku" Gumamnya memandang ke arah ruangan tempat kerjanya.
"Hah.. bagaimana aku menyelinap masuk kesana.." Pikirnya lalu segera melangkahkan kakinya kesana.
"Hahah, aku bergerak leluasa sekali" Ucapnya berjalan seraya melompat kecil di tiap langkahnya, 'Kreet..' Tiba-tiba suara seperti besi tua, Erza memandang kesana kemari takut ada yang melihatnya.
'Kreett..' Suara besi tua itu makin kuat, Erza hanya memandang kesana kemari tak ada yang berbeda, namun ketika ia melihat ke atas, tepat di atasnya, lampu besar kerajaan telah lepas dari sekrupnya, seketika Erza terdiam, tubuhnya kaku susah untuk bergerak.
"..." Erza hanya menatap lampu itu makin dekat, dekat, tiba-tiba ada cahaya kuning datang dari arah kiri mendorong Erza hingga tersungkur dan tak sadarkan diri, sementara cahaya itu menahan lampu itu dengan sekuat tenaga, namun ada beberapa beling kaca mengenai lengannya hingga berdarah.
"Altairis" Ucapnya pelan takut para penghuni terbangun, lalu muncul lubang hitam besar yang langsung melahap habis lampu dengan lebar hampir 1 meter itu dan langsung lunglai terjatuh.
"Ace, kau tak apa-apa?" Tanya seorang pria berambut hitam itu.
"Aku tak apa-apa, aku bisa mengobatinya sendiri, mungkin aku akan terlambat, kalian bawalah tuan putri ke kamarnya, sedangkan maidnya kalian gendong ke kamar masing-masing.. kalian temani tuan putri sampai ia sadar, mengerti?" Perintahnya mengangkat tubuhnya untuk berdiri, walau masih terlihat lemah, ia coba untuk berdiri melihat mereka yang mengkhawatirkannya, ia hanya tertawa "Sudahlah, aku baik-baik saja.." Cengirnya.
"Baiklah kalau begitu, sampai jumpa lagi ace.. aku harap kau cepat menyembuhkannya" Ucap pria berambut merah muda itu.
"Ganbatte ace.." Seru pelan pria berambut kuning kecoklatan itu, yang dapat angukkan dari sang ace.
"Cepat datang atau mereka nanti menganggu tuan putri lagi" Seru pria satu lagi bertato di dagu sebelah kirinya.
"Iya-iya.. aku pergi dulu ya.. soal ini, aku harap jangan kalian beritahu ke tuan putri" Jawabnya lalu menghilang dengan cepat.
"Ayo kita beres-beres, aku lelah, mau istirahat, nee ojou-san .. ayo kita bersenang-senang" Ucap pria berambut kuning kecoklatan itu dengan kilauannya dan menggendong Erza.
"Kau ini malah menggoda" Ucap pria berambut hitam itu.
"Sudahlah, kau sudah melewati masa mudamu kan? Biarkan aku yang mengurusnya selama ace tak ada, kalian gendonglah 3 maid itu ke kamarnya masing-masing" Balas pria tadi lalu mereka pun melakukan apa yang diperintahkan oleh orang yang bernama ace itu.
Keesokkan harinya, Erza yang setengah sadar merasa risih dengan sekitarnya, seperti dihimpit, dari atas kepala hingga ke bawah.
Ia pun terpaksa harus sadar dan mengalihkan pandangannya ke kanan kirinya, ia melihat 2 pria berada tepat di kanan kirinya, ia terhempit.
Lalu ia memandang keatas, seorang pria amburadul berambut merah muda tidur tepat di atas kepalanya, kemudian ia melihat ke bawah, dilihat seorang pria bertato di sekitar dagu kirinya tidur dengan pulas, wajahnya memerah karna semua pria ini tak memakai pakaian, hanya celana boxer yang menyelimuti mereka yang parahnya ia sepeti kotak yang dihempit dan tak bisa keluar.
"KYAAAAAAA,,... KENAPA KALIAN SEMUA ADA DI KAMARKU PRIA BEJAT?!" Serunya kuat di pagi yang cerah itu.
TO BE CONTINUED
Bagaimana? Sepertinya ga seru XD
Siapa ace itu dan pria-pria itu? kenapa para pria ini bisa menyelinap ke kerajaan? Kekuatan apa yang bisa melahap habis lampu besar itu, next chapter 3.
Mohon krisannya karna fic ini masih jauh dari kesempurnaan dan jangan lupa reviewnya ya ;)
Terakhir, Sampai jumpa lain waktu.~~
