Strange Waiter, My Lovely Prince
Chapter 6 "Hah? So, What are you think about me?"
Pairing : Jellal X Erza
Rated: T
Genre: Supernatural, romance, family
Cerita sebelumnya,
"Apa aku akan sanggup menghadapi semua ini, Kaa-san, apa arti dari semua ini?" Gumam Erza meneguk tehnya.
Apa Erza sanggup melawan hari-hari terburuk untuknya, antara kematian dan kehidupan? Kita lihat saja nanti.
A/N: Oalah author come back ke fic satu ini XD , udah lama banget ga update soalnya, author sibuk banget, gomen ya yang nunggu ni fic, karna author lagi menunggu masa bagi rapot, jadi lanjutin fic :D, ok, langsung saja author balas review sekalian :)
Rukami Aiko : Sankyuu, tapi author belum bisa mastiin masukkin karakter baru, ya lihat saja dulu, makasih saran dan reviewnya :)
FM2725 Lovers : Sankyuu, saya usahakan agar cepat update, heheh, keep waiting yaa~ :D makasih udah review.
Done, back to story. ~
No Review, No new chapter XD #Dihajar Reader
Warning: Typo, abal, OOC, alur kecepatan, etc
L
O
A
D
I
N
G
Strange waiter, my lovely prince chapter 6
"Apa-apaan dengan latihan pagi aneh begini" Keluh sang tuan putri, berjalan sambil mengangkat dua tong air besar.
"Ya untuk melatih ketahanan tubuhmu Ojou-sama" Jawab Zeref.
"Ganbatte Ojou" Seru Hibiki.
"Tapi ini berat" Keluh Erza, "Wah-wah, tidak bagus kalau tanpa pemanasan bukan" Celetuk Jellal yang datang ntah darimana.
"Jellal" Panggil Erza, sedangkan yang dipanggil hanya tersenyum lebar, dan yang memanggil 'Dag Dig Dug' sendiri.
"Nah ayo Hime-sama kita pemanasan dulu" Ajak Jellal menurunkan tong air besar itu dan menarik tangan sang putri. "Eh, ma—matte" Ucap yang ditarik sambil wajahnya memerah.
Ia pun menariknya agak jauh dari sana, mereka pun melakukan pemanasan, setelah itu, Jellal pun menyuruhnya scot jump, push up, dan melatih fisiknya.
"Lagi-lagi Jellal memonopolinya" Ucap Hibiki menghela napasnya, "Ya " Jawab Zeref.
"Hum" Zeref bergumam lalu menarik Erza, "Hei Jellal, aku yang sekarang melatihnya, kau ini memonopoli Ojou terus" Sambungnya, sedangkan yang ditarik wajahnya memerah.
"Ah, baiklah, ganbatte Hime" Seru Jellal dengan senyum lebarnya.
Setelah itu, Erza pun dilatih oleh Zeref, "Capek, latihannya berat" Keluh Erza lalu duduk sendirian di kursi taman.
"Minumlah dulu Hime" Layan Jellal menuangkan teh di cangkir dan memberikannya ke Erza.
"Arigatou," Jawabnya dan meneguk habis minuman itu, "Tadi belajar apa Hime?" Tanya Jellal.
"Ketangkasan bermain pedang, dan kelincahan dalam melakukan bela diri" Jawab Erza, "Itu sih Zeref lumayan jago" Balas Jellal.
"Belajar ketangkasan itu, bagaimana kau menanggapi semua pedang yang datang dari musuh, perhatikan geraknya, konsentrasi pada apa yang ada di depanmu, begitu juga dengan bela diri, yang penting kerja kerasmu yang akan membayarnya Hime"Saran Jellal dan tersenyum.
"Dan.. Ganbatte" Sambung Jellal mengusap lembut rambut merah tua itu, tak dapat dipungkiri kalau wajahnya memerah bak tomat.
"A—Arigatou, tapi jangan kau elus kepalaku " Jitak Erza pada kepala pria itu.
"Ittai, hahah, ganbatte nee, Hime, aku akan selalu mendukungmu" Tawa Jellal lalu memegang bahu sang wanita. Sedangkan sang wanita hanya memanglingkan wajahnya.
Latihan pun berlanjut, terdengar suara pedang kembali bertaut, membuat suasana menegang, "Ojou, perhatikan, jangan lengah" Ucap Zeref sedangkan Erza mengangguk pelan, konsentrasi Erza pikirnya.
Ia pun membuka kaki memasang kuda-kuda, "Perhatikan gerak musuh dan bilah pedangnya, di saat lengah , hajar" Gumamnya melihat Zeref.
"Sekarang, " Ucapnya menebaskan bila pedangnya namun ditahan Zeref, dengan gerakan melompat dan menebas dan menangkis, "Atas, bawah, samping, serong, gerakan itu sudah ku hapal Zeref" Seru Erza menebas kuat pedang Zeref dan mementalkan pedang Zeref langsung.
"Hebat Ojou, selamat, kau sanggup melewati latihan dariku" Seru Zeref dan mengambil pedangnya kembali.
"Tentu saja, jangan remehkan aku ya" Bangganya, "Meteor" Seru Jellal melindungi Erza dari belakang, "Apa yang terjadi" Ucap Erza, "Tidak apa-apa" Jellal langsung ambruk di pelukan sang tuan putri bersimbah darah, dengan pedang-pedang menancap "Apa ini" Ucap Erza membelalakan matanya.
"Lindungi tuan putri" Seru Hibiki melihat monster dengan pakaian knight melemparkan banyak pedang ke arah Erza, "Force shield" Seru Hibiki yang beberapa centi lagi siap menghancurkan tubuh Erza. "Card Magic" Seru Sho lalu memasukkan pedang itu dalam kartunya. "Akan kuurus sebelah sini, kalian berdua hentam lah monster itu" Sambungnya pada Zeref dan Natsu.
"Hahaha, Zeref ayo kita bertarung, ace sudah jatuh" Ucap Natsu memukul pelan bahu Zeref.
"Dimension card" Seru Sho langsung datang menghadang monster dan menyedotnya ke dalam, "Kalian terlalu banyak bicara, langsung saja hajar" Marah Sho pada Natsu dan Zeref.
"Haha, ayolah santai sedikit Sho, toh dia sudah masuk dimensi kartumu" Balas Natsu dengan cengirannya, 'Goaarrrrrrr' Suara monster itu yang membuat angin bertiup kencang, seketika dimensi kartu Sho hancur, "Tidak mungkin" Ucap Sho lalu bergidik ke tempat Erza dan mengeluarkan magic cardnya untuk memenjarakan pedang itu. "Natsu, Zeref, ini kesempatan kalian" Seru Sho.
"Yosha.. Karyū no Hōkō " Seru Natsu dan melemparkan nafas deru apinya ke knight itu.
"Aku juga, Nemesis" Seru Zeref membentuk sebuah robot-robot kecil dari puing-puing batu dan menyerang knight itu, namun dengan sekali tebasan dari pedang monster itu, mereka hancur. "Tch, Death orb" Seru Zeref lalu menghentam bagian kaki , tangan dan tubuh knight itu.
"Aku takkan kalah, Karyū no Tekken" Seru Natsu dan meninju knight itu dengan apinya "Lanjut Karyū no Koen," Ucap Natsu menyatukan api di kedua tangannya dan menghentam tubuh knight itu, hingga membuatnya mundur beberapa meter.
"Cepatlah Hibiki, ini terlalu banyak" Keluh Sho, "Sebentar lagi" Ucap Hibiki menganalisis monster yang dihadapi mereka.
"Dapat, letak kelemahannya pada dada dan kepalanya" Seru Hibiki.
"Oke, akan ku hancurkan makhluk jelek ini" Ucap Natsu, di sekitar tubuhnya mengalir listrik, di tangannya terlihat api yang tercampur dengan listrik, "Force dragon" Serunya.
"Zeref" Sebutnya, "Death orb" Seru Zeref yang menggabungkannya dengan api listrik Natsu.
"Unison raid" Ucap Sho dan Hibiki. "Hyaaaaaaaa" Ucap Natsu dan Zeref menghentamnya hingga terpental jauh dan ambruk, tak bergerak sama sekali.
"Yatta" Girang Natsu , Zeref hanya tersenyum, Hibiki yang kehabisan tenaga pun force shieldnya mulai menghilang, begitu juga dengan Sho.
"Sugoii" Ucap Erza berbinar-binar, semua hanya tertawa, tiba-tiba mahkluk itu bangkit kembali, kali ini dia mengamuk, menghentam tubuh Hibiki dan Sho yang sudah letih hingga terhempas ke tembok, Natsu dan Zeref yang masih punya kekuatan masih terus melawannya, namun mereka juga ambruk. Kini hanya tuan putrilah yang ada dalam pandangan monster itu.
"Baiklah, kalau begitu.. aku juga takkan kalah" Seru Erza bersemangat menarik 2 pedangnya.
"Jangan Ojou-sama ughhh" Seru Hibiki memekik, tubunya tak bisa bergerak.
"Ia itu kuat Ojou" Sahut Sho yang juga tlah sampai ambang kekuatannya.
"A.. Aku takkan kalah, karna aku salamander"Seru Natsu bangkit lagi, namun langsung dihentam kembali terpental.
"Natsu" Seru Erza menatap Natsu terkulai lemas begitu pun dengan Zeref. "Hiaaaattt" Erza pun maju dengan 2 bilah pedangnya, sang monster tak tinggal diam, ia melemparkan pedangnya menghentam Erza, ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu namun ditangkis Erza dengan pedangnya.
"Aku takkan kalah dengan benda ini monster jelek" Teriak Erza namun kakinya terkena bilah pedang, darahnya menetes, "Ojou" Seru Hibiki, Sho dan Zeref yang masih sadarkan diri.
"Ini bukan apa-apa, karna kau menyakiti pelayanku" Teriaknya lalu terus maju, "Konsentrasi, lompat dan hentam kepalanya" Gumam Erza melompat dan menusuk kepala monster itu dengan bilah pedangnya, seketika monster itu meliuk-liuk kesakitan, Erza pun turun, tak tinggal diam ia pun mengambil pedang-pedang yang menancap dari monster tadi mengarahkannya ke kepala monster itu dan melemparnya bagaikan tombak. "Rasakan itu" Seru Erza dan melemparkan pedang besar tepat di dadanya. Ia hanya berbalik dan menganggap semua itu sudah selesai, namun "Meteor" Seru Jellal datang dan lagi-lagi terkena sebetan pedang dari monster itu darah segar mengucur keluar, "Jellal" Ucap Erza, Jellal pun menepikan Erza di tempat yang aman.
"Biar aku yang urus" Ucapnya memegang perutnya yang ditusuk, "Tapi.. perutmu" Bantah Erza, "Seorang servant harus melindungi masternya sampai mati, namun bagiku Hime itu bukan master" Balas Jellal tersenyum lalu melawan monster itu sendirian dan membuat Erza tercengang. "Jadi kalau aku bukan master jadi?" Gumam Erza seketika juga wajahnya memerah.
END
Pertarungan masih berlanjut, apa ini akhir untuk Erza, apa benih-benih cinta mulai tumbuh di hati wanita berambut merah tua ini? , dan apa Jellal menyukai masternya? Next chapter, KriSan? RnR please and keep waiting ^^
