"Niisan yakin?"
Gadis itu bertanya khawatir. Ditutupnya buku tebal bersampul biru yang sedari tadi terbuka di atas pangkuannya. Bukannya menjawab pemuda itu hanya mendekati si gadis,duduk di sebelah gadis itu lalu memeluknya, membawa kepala gadis itu hingga bersandar pada dadanya.
"Sangat yakin," kata pemuda itu sembari menelusupkan jemarinya di helaian rambut sang gadis. Gadis itu terdiam. Emerald-nya kembali kosong.
"Haruskah seperti ini? Haruskah niisan pergi?"
"Hanya ini satu-satunya cara agar aku dapat melindungimu."
Gadis itu menutup kedua matanya. Setitik air merambat keluar hingga meluncur ke pipinya yang begitu pucat.
"Gomen... Gomennasai, niisan."
Dan pemuda itu hanya memeluk sang gadis semakin erat.
.
.
EMPTY
.
By : Fuyu no Yukishiro
.
Disclaimer:
Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
Warning:
OOC, OC, Semi M, Typo, Abal, GJ, Dan masih banyak lagi
.
Karya ini dibuat semata-mata karena kesenangan Pribadi tanpa maksud mengkomersilkannya... :D
.
#1 : The 'Empty' Feel
Happy Reading...
Semoga Fanfic ini gak mengecewakan kalian semua... :D
.
Hinata membuka matanya. Namun baru beberapa detik kelopak Hinata terbuka, Hinata harus menutupnya lagi karena merasakan sensasi sakit di kepalanya.
Perlahan Hinata terbangun. Seluruh badannya terasa lemah, tapi Hinata tidak peduli. Sejak kapan dia peduli dengan dirinya? Sejak kapan dia peduli dengan tubuhnya? Tubuhnya yang kosong.
Hinata melirik jam weker. Masih pukul tiga lalu Hinata menoleh ke samping dan sedikit terkejut ketika melihat 'dia' ada di sana.
Dia, Uchiha Sasuke sedang tertidur dengan posisi miring dan wajah menatap ke arahnya.
Hinata beku.
Menatap lamat-lamat wajah 'dia' yang terlelap. Tak ada perasaan berdebar ketika ujung jemarinya menelusuri pipi 'dia' lalu menenggelamkan jemarinya di rambut ravennya yang baru Hinata tahu terasa lembut.
Hinata melakukannya beberapa waktu sebelum Hinata mengingat mimpinya. Hinata tertegun. Perlahan gadis itu melepaskan jemarinya di rambut 'dia', lalu Hinata beranjak dari ranjangnya. Hinata berjalan terseok memasuki kamar mandi. Dan menutup pintunya.
Hinata melihat tubuhnya. Dia kini memakai kaus hitam yang kebesaran. Kaus hitam yang sering digunakan 'dia', kaus hitam kesukaan 'dia'. Hinata diam. Gadis itu memangku lengan kirinya dengan lengan kanannya, lalu lengan kanannya menyingkap kain yang menutupi pergelangan kirinya.
Hinata tak berekspresi ketika melihat bekas biru di sana. Ini ulah 'dia' semalam. 'Dia' bertanya tentang anak baru bernama Fuyumi. 'Dia' bertanya kepada Hinata kenapa Hinata mau-mau saja di peluk oleh pemuda esentrik yang mengaku anak mereka.
Hinata hanya menjawab 'tidak tahu' dan 'dia' lagsung menarik Hinata dan membanting Hinata di atas ranjang lalu seperti yang sudah-sudah, Hinata tidak menolak ketika 'dia' menyentuhnya. Ketika 'dia' lagi-lagi memakai tubuh kosong Hinata untuk memuaskan hasratnya. Hinata tak menolak, juga tak menyesal.
Toh Hinata sudah biasa menjadi 'teman tidur' bagi 'dia' yang memberikan kehangatan kepada Hinata lewat 'kehampaan' yang dibawanya.
Hinata menghela napas, lalu perlahan memutar kran shower. Lagi-lagi membiarkan tubuhnya basah. Membiarkan kaus hitam itu semakin menempel dengan tubuhnya.
Hinata mendongak. Susah payah melihat air yang berjatuhan menimpa tubuhnya. Hinata tersenyum miris. Wajahnya tetap datar, tapi hatinya bertanya.
Tuhan... Bolehkah aku mati?
.
.
Hinata keluar dari kamar mandi satu jam kemudian. Keluar begitu saja tanpa memakai handuk untuk mengeringkan tubuhnya. Saat keluar, tubuh mungilnya menggigil, namun wajahnya tetap datar. Mata peraknya menatap ke depan. Menatap 'dia' yang setengah berbaring di ranjang 'mereka'. Menatap ke arah Hinata dengan tatapan yang kelam.
Tak perlu kata untuk mengetahui arti tatapan itu. Hinata melangkah di lantai yang dingin. Lantainya terasa menusuk telapak kakinya, tapi Hinata tak memikirkannya.
Perlahan Hinata berjalan mendekati 'dia' yang tetap menatap Hinata tanpa kedip. Hinata berhenti melangkah ketika tubuhnya nyaris berimpit dengan pinggir ranjang.
Tak ada kata yang terucap di antara mereka. Mereka hanya saling menatap.
Saling melempar tatapan datar.
Lalu, Dia menyeret tubuhnya sendiri hingga tubuhnya ada di pinggir ranjang sebelum memeluk pinggang Hinata erat. Dan meletakan kepalanya di dada Hinata.
Hinata tak merespon.
"Panggil... namaku."
Hinata diam, masih menatap ke depan ketika kalimat itu terucap dari bibir'nya'. Hinata menunduk, menatap kepalanya sebelum menelusupkan jemarinya yang dingin ke sela-sela rambut ravennya.
"Kenapa? Untuk apa?"
Tak ada intonasi penasaran di kosa kata itu. Hinata memainkan jemarinya di rambut dia yang acak-acakkan sembari menunggu jawabannya.
Namun 'dia' tak juga buka suara. Hanya semakin mengeratkan pelukannya sebelum menarik tubuh basah Hinata hingga menyentuh tempat tidur lalu 'dia' berada di atas Hinata.
Lagi, kedua mata tanpa ekspresi itu saling menatap. Lalu jemari 'dia' bermain di pipi Hinata, sebelum mengelus bibir mungil Hinata dan menggenggam dagu Hinata lalu mengarahkan jempolnya hingga memisahkan bibir bawah Hinata dengan bibir atasnya.
Hinata tidak mendesah, ataupun memberi respon yang berarti. Hanya menatap 'dia' dengan pasif. Seolah Hinata hanyalah robot yang tak memiliki perasaan. Yang hanya bergerak ketika diperintah masternya.
Dan master Hinata adalah 'dia'.
"Panggil namaku, Hinata!"
Lalu 'dia' membenamkan kepalanya di perpotongan leher Hinata lalu menjilat kulit putih Hinata.
Hinata sedikit mendesah, namun bibirnya tak memanggil nama 'dia'.
Sudah lama sekali Hinata tak memanggil namanya, lalu kenapa sekarang dia harus memanggil namanya?
"Mulai sekarang, panggil namaku, untuk seterusnya."
Punggung Hinata terangkat hingga Hinata dan 'dia' saling berpelukan dalam posisi terduduk. 'Dia' memeluk Hinata dengan sangat kuat, seolah tak ingin kehilangan Hinata. Seolah Hinata adalah miliknya.
Hinata menyerah.
Lengannya bertautan di belakang punggung 'dia'. Matanya tertutup dan Hinata berusaha menyamankan pipinya di bahu 'dia'.
"Sasuke..."
Ada air mata yang keluar membasahi pundak Hinata.
.
.
"Yo, okaasan."
Hyuuga Hinata menatap pemuda itu sembari tersenyum. Sebelah tangannya mengangkat sebuah bungkusan yang sepertinya berisi bento. Hinata tak merespon baik akan kehadiran pemuda itu. Gadis itu malah menunduk dan melanjutkan membaca.
Pemuda itu, Akiyama Fuyumi menghela napas sebelum berjalan kemudian duduk di samping 'kaasan'nya.
"Aku tahu sih kehadiranku tidak begitu diharapkan, tapi sikap kaasan dan tousan yang seolah aku tidak ada membuat sebal tahu!"
Hinata tak mengubris. Malah membalik halaman buku dan mata peraknya bergerak membaca buku yang dipangkunya. Fuyumi menghela napas – lagi. Dia tidak menyangka bahwa akan sesulit ini berkomunikasi dengan makhluk di masa lalu yang berhubungan erat dengannya.
BRUK!
Hinata merasa tubuhnya sedikit oleng ke kiri ketika bahu kanannya terasa berat. Menoleh ke kanan, Hinata mendapati kepala Fuyumi menyandar di bahunya. Hinata menutup bukunya dan meletakannya di samping kirinya.
"Bahuku sakit."
Fuyumi langsung bangun dengan panik. Pemuda itu menatap wajah Hinata dengan cemas. Hinata mengedipkan mata sekali, kaget. Raut pemuda itu terlalu khawatir, entah apa alasannya. Hinata menghela napas, lalu mengulurkan lengan kanannya meraih belakang kepala Fuyumi dan mendorongnya hingga kepala Fuyumi berada di pangkuannya.
Fuyumi mengedipkan mata. Sinar cemas dari sepasang mata berbeda warna itu berubah menjadi sinar kebahagiaan. Fuyumi menyamankan kepalanya di pangkuan okaasan-nya.
"Aku sering melihat tousan tidur di pangkuan kaasan seperti ini. Aku selalu bertanya bagaimana rasanya, dan ah, ternyata seperti ini ya... hangat."
Hinata tak menjawab. Seharusnya ini sesuatu yang mustahil. Hinata tak mengerti kenapa dia bisa melakukan hal ini. Biasanya Hinata selalu terganggu dengan kehadiran orang-orang kecuali Sasuke. Sasuke adalah satu-satunya sosok yang bisa diterima Hinata.
Untuk satu alasan.
"Kaasan percaya padaku? Pada ceritaku?"
Hening cukup lama.
"Sama sekali tidak."
"Kenapa?"
"Karena...," Hinata menggantung kalimatnya. Ada rasa aneh yang mengusik dirinya. Kenapa? Padahal biasanya Hinata tidak merasakan apapun. Hinata tak pernah merasakan apapun sebelumnya kecuali sebuah kekosongan yang meluluhkan semua perasaan yang harusnya Hinata rasakan. Hinata menutup kedua matanya, menenangkan diri. "...Ini mustahil."
"Aku dan dia – maksudku Sasuke – tak mungkin mempunyai masa depan."
Karena Hinata tahu apa masa depan yang menanti mereka, sementara pernikahan dan anak sama sekali tidak ada dalam masa depan yang diketahui olehnya.
"Kalaupun memang benar begitu, kalau memang benar kau adalah anak kami, kenapa kalian kemari? Untuk apa?"
"Masa depan ada karena masa lalu. Masa depan bergantung pada masa lalunya." Fuyumi bangkit lalu tersenyum. "Masa depan kami kacau, rusak. Aku harus melindunginya tanpa membuatnya menangis dan satu-satunya cara melindunginya adalah bertemu dengan kalian."
"Kami?"
Fuyumi berdiri, tersenyum misterius. "Kaasan pernah melihatnya kan? Karena kami adalah masa depan kalian."
.
.
Hinata berjalan mendekati ruangan OSIS. Gadis itu terdiam ketika melihat Sasuke yang sedang sibuk dengan kertas-kertas menumpuk di meja ketuanya. Hinata menatap lamat Sasuke sambil bertanya-tanya dalam hati.
Apa Sasuke merasakan kehadirannya?
BRAK!
Hinata mengalihkan panndangannya ke arah pintu. Seorang pemuda berambut pirang masuk mendekati Sasuke dengan wajah kusam lalu duduk sembari menempelkan pipinya di atas meja yang sama dengan tumpukan kertas Sasuke.
"Ada apa dobe?"
Hinata merasa pandangannya semakin kosong dan hatinya kembali bergumam.
Sasuke tidak pernah menanyakan keadaannya. Apakah dia baik-baik saja atau apakah Hinata sedang merasa gundah.
Tidak pernah sekalipun Sasuke bertanya kepadanya.
"Aku galau teme," kata si pemuda berambut pirang. Hinata tahu siapa dia. Uzumaki Naruto, kekasih dari Haruno Sakura yang sering mengerjainya itu.
"Hn." Sasuke tampak tak peduli. Sibuk membolak-balik kertas sebelum meletakan kertas di atas meja dan menandatanganinya. Naruto tampak cemberut.
"Kau tidak bertanya kenapa aku galau?"
"Tidak penting untuk aku tahu kan?"
BLETAK!
BRAK!
"APA YANG KAU LAKUKAN DOBE!"
Naruto menyeringai. Memberikan Sasuke satu pukulan di kepala membuat pemuda itu berteriak adalah salah satu yang dapat membuatnya senang. Well, mengingat bahwa Sasuke adalah orang yang sangat sulit memperlihatkan perasaannya.
"Memukulmu selalu membuatku lega."
Sasuke tampak menghela napas pasrah sebelum kembali menyibukan dirinya dengan kertas menumpuk. Naruto tertawa lalu mengambil beberapa kertas yang ada di meja Sasuke lalu membantunya sembari melemparkan lelucon yang tidak lucu yang hanya ditanggapi 'hn' oleh Sasuke.
Di luar, Hinata menatap pemandangan itu dengan mata yang semakin kosong. Gadis itu kemudian meletakkan telapak tangan kanannya ke dada.
Perasaan kosong apa ini?
.
.
Hinata dan Sasuke sama.
Sama-sama tak mengenal kasih sayang. Sama-sama tak tahu bagaimana rasanya dicintai. Sama-sama tak tahu apapun mengenai sesuatu bernama 'hati'.
Tapi Hinata juga tahu dia dan Sasuke berbeda.
Rumit. Ya, Hinata tahu.
Hubungan mereka rumit sejak Hinata dan Sasuke setuju untuk tinggal dalam satu rumah dan saling mengenal.
Tak ada perasaan di antara mereka, Hinata tahu itu. Tapi kenapa dia merasa begitu terluka ketika melihat sikap Sasuke yang begitu ramah kepada orang lain selain kepada dirinya?
Hinata menutup kedua matanya ketika mata peraknya lelah menatap langit-langit kamar.
Seharunya Hinata tak perlu merasa kesal kan? Seharusnya Hinata tak perlu merasakan hal yang aneh kepada Sasuke.
Soalnya... Soalnya...
"Namaku Fuyumi. Margaku sekarang Akiyama, tapi dulu margaku... Uchiha."
Hinata membuka matanya sebelum tubuhnya mengubah posisi menjadi menyamping. Kenapa dia malah mengingat pertemuan awalnya dengan pemuda bersurai perak yang memiliki sepasang manik yang berbeda?
"Aku adalah anak dari Hyuuga Hinata dan Uchiha Sasuke yang datang dari masa mendatang, salam kenal."
Hinata tersenyum sinis. Kata 'tidak mungkin' muncul di benaknya. Tentu saja kan?
Meski dia dan Sasuke bersama, tapi bukan berarti Hinata dan Sasuke bisa menikah dan memiliki anak.
Tidak.
Hinata tahu masa depan mereka, dan sudah jelas 'pernikahan' dan 'anak' tidak ada dalam masa depan mereka karena Hinata...
Karena Hinata...
Hinata menutup kedua matanya dan memaksa otaknya untuk berhenti berpikir atau dia bisa menjadi gila.
.
.
Hinata berada di dalam sebuah tempat yang gelap. Kemanapun kakinya melangkah hanya ada kegelapan yang menemaninya.
Bukannya takut Hinata malah merasa ini adalah hal yang biasa.
Hinata tahu ini mimpi, mimpinya yang selalu muncul setiap saat matanya tertutup dan otaknya beristirahat.
Selalu ini yang dilihat oleh Hinata, oleh alam bawah sadarnya yang kelam.
Hinata duduk melipat lutut, kemudian meletakan pipi di antara lututnya dan memeluk lutut. Baru saja Hinata akan menutup mata sebuah cahaya menyilaukan yang berbentuk persegi berukuran besar hadir di antara mimpi gelapnya.
Hinata mengerjap karena merasa silau kemudian berdiri dan berjalan mundur.
Lalu, cahaya itu menampilkan sebuah gambaran layaknya proyektor yang sedang menampilkan sebuah film layar lebar.
Hinata tercekat dan semakin mundur ke belakang.
Apa itu?
Hinata melihat dirinya. Ya, dirinya yang tampak lebih tua beberapa tahun dari sekarang, bersama sesosok dia, Sasuke yang sedang membaca koran dan Hinata yang sedang memberi selai ke roti tawar yang ada di tangan kanannya kemudian meletakkan roti tawar itu ke piring dan menyimpannya di hadapan Sasuke lalu mengambil roti tawar yang lain kemudian menyendokkan selai dan menyapukannya di sana.
Konyol!
Apa ini?
Tayangan masa depan? Tidak mungkin!
"Kaasan!"
Hinata melihat sesosok bocah berlari menghampirinya kemudian memeluknya dan Hinata menerima pelukannya itu dengan wajah gembira.
Hinata muak dengan pemandangan itu.
"Sudah sikat gigi?"
Bocah cilik berusia lima tahun itu mengangguk riang lalu menoleh ke arah pria yang ada di samping mereka.
"Ohayou tousan. Baca apa?"
Bocah itu mendekati Sasuke yang dipanggilnya 'tousan' sebelum menaiki tubuh 'tousan'nya dan duduk di pangkuannya. Hinata yang ada di layar tertawa.
"Jangan ganggu tousan, sayang."
Hinata tak percaya bahwa dia akan mengatakan hal selembut itu. Si bocah cemberut dan Sasuke diluar dugaannya mengacak rambut bocah itu.
"Aku tidak merasa terganggu, Hinata."
Hinata yang ada di layar menggeleng maklum sementara Hinata yang menatap layar dadakan dalam dunia bawah sadarnya menggeleng-geleng tak percaya. Matanya membulat besar dan sebuah ketidak percayaan hadir di rautnya. Kedua lengannya terbenam erat di kepalanya, mencengkram helaian indigonya.
Tidak. Tidak. Tidak.
Hal seperti di layar itu tidak mungkin kan? Itu...
"Oh ya sayang, mana adikmu?" tanya Hinata yang di layar dengan senyum lembut khas seorang ibu yang baik sedunia. Si bocah menatap kaasannya sembari tersenyum.
"Dia masih tidur, aku sudah membangunkannya tapi dia tidak mau bangun juga. Kaasan tahu sendiri dia hanya akan bangun kalau kaasan yang membangunkannya," katanya lucu sebelum kembali menatap koran yang di baca tousan-nya. Hinata di dalam layar menggeleng-geleng sebelum pamit untuk membangunkan anaknya yang lain.
"Tousan."
"Hn?"
"Tousan kenapa menikah dengan kaasan."
Sasuke yang sedang membaca koran berhenti kemudian melipat korannya. Balik menatap bocah yang duduk di pangkuannya, yang agak sedikit terganggu karena koran yang juga ikut dilihatnya dilipat.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Entah. Aku hanya merasa aku harus menanyakannya," jawaban yang puitis untuk bocah berusia lima tahun. Sasuke tak menjawab dan memeluk anaknya.
"Mungkin karena tousan dan kaasan memiliki kesamaan. Dan karena tousan harus bertanggung jawab karena sering melukai kaasan."
Hinata menutup telinganya rapat. Tidak mungkin! Tidak mungkin Sasuke akan mengatakan itu. Tidak mungkin. Hinata tahu siapa Sasuke. Hinata tahu Sasuke tak akan mungkin mengatakan hal konyol seperti itu. Sejak kapan Sasuke memikirkan tentang dirinya yang tersakiti? Hah! Konyol!
"Tousan menyukai kaasan?"
"Lebih dari itu."
Bocah itu tertawa senang. "Rahasiakan pembicaraan ini kepada kaasan-mu."
Bocah itu mengangguk dengan mengisyaratkan mulut yang dikunci lalu tertawa.
Dan tayangan berhenti. Layar itu hanya menampilkan warna putih terang. Meninggalkan Hinata yang masih terpaku di tempat dengan raut yang mengerikan.
"Bohong!"
Itu tidak mungkin. Tayangan apa itu? Masa depannya dengan Sasuke? Tidak! Tidak ada masa depan yang seperti itu. Tidak ada.
Hinata menutup wajahnya sebelum jatuh dengan membenturkan lututnya ke lantai. Matanya masih membulat tak percaya, lalu gadis itu tertawa.
Tawa putus asa yang mengerikan.
"Itu tidak mungkin," Hinata bergumam sambil menggeleng-gelengkan kepala. "Tidak mungkin. Tidak mungkin. Soalnya... Soalnya Sasuke adalah..."
"Sasuke adalah..."
Air mata merebak.
"Soalnya..." Air mata mengalir di pipinya. "Soalnya aku adalah..."
"Aku adalah..."
"Aku..."
"Aku..."
Hinata kembali mencengkram kepalanya kuat.
"ARGH!"
.
.
Hinata tersengal-sengal. Keringatnya keluar deras. Mimpi. Ini mimpi terburuknya. Mana mungkin Hinata dan Sasuke...
"Ini pertama kalinya aku melihatmu tidur dan bangun dengan gelisah."
"!"
Sasuke ada di kursi beberapa puluh senti dari ranjang tempat Hinata berada. Hinata tersentak dan merapatkan tubuhnya ke dinding. Ada perasaan takut yang mendadak memenuhi tubuhnya yang kosong.
Mata mereka bertemu.
Perak yang ketakutan dan Oniks yang datar mengerikan.
Sasuke bangun dari kursi dan melangkah mendekati Hinata.
Satu langkah. Hinata semakin merapatkan tubuhnya ke dinding.
Dua langkah. Hinata mencengkeram dinding hingga dia bisa merasakan kukunya meninggalkan bekas di dinding tersebut.
Tiga langkah dan Hinata berteriak histeris.
"JANGAN MENDEKAT! JAUH-JAUH DARIKU!"
Sasuke berhenti kemudian menyeringai.
"Sudah lama sekali sejak kau menolakku, Hyuu –"
BUK!
Sebuah bantal nyaris mengenai wajah sang Uchiha jika saja Sasuke tidak memiliki gerak refleks yang baik.
"JANGAN PANGGIL AKU DENGAN MARGA ITU!"
Tubuh Hinata gemetaran, ketakutan. Otaknya kacau. Dia tidak mengerti. Kenapa hanya karena mimpi seperti itu dapat merusakkan semua dinding pertahanannya? Menarik paksa 'jiwa' yang sudah lama dibuangnya masuk kembali ke tubuhnya yang kecil.
"Fuh... Aku sudah lama tidak melihatmu seperti ini."
Lalu dengan gerak cepat Sasuke mendekati Hinata dan menarik Hinata mendekatinya lalu mencium bibirnya.
Beda dengan biasanya, Kali ini Hinata menolak. Hinata berusaha melepaskan dirinya dari Sasuke. Memukul-mukul Sasuke, mendorongnya sekuat yang dia mampu.
Namun nihil.
Air mata mengalir ketika ciuman itu terlepas dan Hinata terhimpit antara dinding dan Sasuke. Sasuke yang melihatnya mendekatkan wajah mereka lalu menjilat air mata Hinata yang membuat Hinata semakin terisak.
"Aku... Aku membencimu."
Hinata mengepalkan kedua telapak tangannya ketika Sasuke mencium keningnya.
"Aku juga."
Hinata menutup kedua matanya. Air matanya tidak berhenti mengalir.
"Aku pasti... membunuhmu."
"Hn." Sasuke membelai kepala Hinata sebelum membaringkan tubuh mereka berdua dan mendekap tubuh Hinata erat. "Aku tunggu."
.
.
Di luar sana, sesosok makhluk bersayap tertawa melihat sepasang manusia yang terjalin benang merah yang kusut. Sosok itu tmenyeringai senang.
"Ketemu."
Lalu sosok itu menghilang sesaat kegelapan yang menyapa.
.
To Be Continued
Author Notes:
Horray!
Makin GJ ceritanya... saya menulisnya dengan semangat membara. Tahu-tahu jadinya seperti ini. Seru? Kuharap iya.
Dan sepertinya ini fanfict Rating T++, gak sampai M kan? #KedipKedip.
Genrenya: Romance, Supranatural, Fantasi(?).
Wowowowo
Boleh minta komentarnya?
Chapter tiga giliran Sasuke yang dieksplorasi kan? Hehehe
Dan sunnguh maaf karena belum sempet balesin repiuw yang non-login. Yang login bakalan saya bales via PM ya... :)
Ok, Repiuw?
.
.
Repiuw?
