Awalnya Sasuke hanya melihat gelap di ruangan kecil yang ditempatinya sebelum pintu di ruangan kecil itu terbuka. Sambil berusaha membiasakan indera penglihatannya karena tiba-tiba menjadi terang, Sasuke melihat seorang bocah cilik di sana. Separuh tubuhnya tersembunyi oleh pintu ruangan dan separuhnya lagi terlihat diantara cahaya yang masuk ke ruangan itu.

Bocah itu meletakan telapak tangannya di pintu dan dengan takut-takut menatap Sasuke. Pipi pucat bocah perempuan itu merona dan raut wajahnya terlihat cemas dan panik. Ah, ditambah dengan raut ketakutan ketika Sasuke menatap bocah itu dengan tajam dan intens.

Lalu takut-takut bocah berusia sekitar enam tahun itu mendekati Sasuke. Entah karena Kimono ungu yang dipakainya atau karena geta-nya yang sepertinya tidak nyaman dipakai, bocah itu mendekati Sasuke dengan langkah kecil-kecil. Butuh beberapa menit untuk bocah itu sampai ke tempat Sasuke yang masih santai di tempatnya, seolah menunggu bocah itu mendekat, dan saat bocah itu hanya beberapa langkah di depan Sasuke, bocah itu tampak salah tingkah.

Sasuke memperhatikan bocah itu seksama.

Kulitnya pucat. Rambutnya pendek di atas leher dan berwarna indigo. Lalu bola matanya yang menatap ke bawah memiliki warna yang aneh. Perak? Putih? Yang jelas saat melihat bola mata itu, Sasuke jadi mengingat warna bulan yang bersinar penuh di langit malam sana.

"E... Eto."

Bocah itu tampak salah tingkah. Mungkin dia sedikit kaget karena ada orang di gubuk kecil yang baru saja didatanginya atau mungkin gubuk ini adalah markas kecilnya? Pipinya begitu merah dan Sasuke melihat bocah itu berusaha – sangat berusaha keras – agar bisa mengarahkan tubuh dan arah pandangnya ke arah Sasuke, meski hal itu mengakibatkan wajah bocah itu memerah.

Ah, sepertinya bocah itu tipikal bocah pemalu.

"Lu-Lukamu..." Sasuke memperhatikan luka di lengan pucatnya dan menyentuh pipinya yang terasa sakit. "... ti-tidak apa-apa?"

Sasuke tak menjawab dan malah memalingkan muka. Bocah itu tampak shock dan mundur selangkah. Sepertinya dia mengerti bahwa Sasuke menolak keberadaannya di ruangan itu. Hening untuk beberapa saat sebelum Sasuke mendengar gadis itu berkata lagi.

"E-Eto... su-sumimasen."

Sasuke kira permintaan maaf itu keluar ketika bocah itu berbalik pergi dan meninggalkannya dalam kegelapan seperti sebelumnya. Namun nyatanya Sasuke salah. Bocah itu kembali mendekatinya lalu meletakan telapak mungilnya di pipi Sasuke yang sepertinya lebam karena pukulan. Dengan tersendat-sendat dan air mata yang sudah mengenang, bocah itu menyenandungkan sebuah kalimat.

"Sakit.. sakit... pergilah." Bocah itu lalu melepaskan pipi Sasuke ketika mengatakan 'pergilah' dan mengarahkan telapak tangannya ke atas. Begitu berulang-ulang sebanyak tiga kali sebelum akhirnya bocah itu mendadak berhenti dengan tatapan nanar dan akhirnya menangis sesenggukan.

Perlahan, Sasuke mengarahkan telapak tangannya di atas kepala bocah itu, lalu menepuknya pelan.

"Kenapa kau menangis?" tanya Sasuke dengan nada pelan dan datar lalu mengusap air mata yang mengalir di kedua pipi bocah itu. Bocah itu masih menangis sesenggukan ketika menjawab.

"Ha-habis… habis… pasti sakit. Dipukul pasti sakit rasanya. Pasti sedih ketika dibilang tidak usah hidup."

Sasuke tertegun. Matanya membulat dan sebulir keringat tampak terlihat.

Dari mana anak ini –

Belum sempat Sasuke berpikir panjang, bocah itu memeluk Sasuke. Membuat mata Sasuke mendadak terasa panas.

"Daijobu... Daijobu," katanya. "A-Aku akan ada di sampingmu. Aku akan ada di sampingmu …

… Sasuke-kun."

Sasuke tak mengerti kenapa saat bocah itu memanggil namanya, dia merasa perasaannya sesak dan akhirnya dia menangis.

.

EMPTY

.

By : Fuyu no Yukishiro

.

Disclaimer:

Naruto (c) Masashi Kishimoto

.

Warning:

OOC, OC, Semi M, Typo, Abal, GJ, Dan masih banyak lagi

.

Chapter 3 : Feel

.

Spesial Thanks :

Nivellia Yumie; lavenixs-chan; Evil ; Jurig Cai; Let me guest; DOT; Hyou Hyouichiffer; Akunrusak; aeni hibiki; ; flowers lavender; Diane Ungu; gece; Rosecchy; sasunata chan; Dewi Natalia; Beauty Melody; Hi Author (guest); Yukari Nora; jenaMaru-chan, Vita; AA Jebug DEPAPEPE Partners;

Karya ini dibuat semata-mata karena kesenangan Pribadi tanpa maksud mengkomersilkannya... :D

.

Happy Reading...

Semoga Fanfic ini gak mengecewakan kalian semua... :D

.

Sasuke keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap dan rambut basah ketika mendapati Hinata masih terbaring di ranjang dengan wajah tepat menghadap Sasuke. Sasuke berjalan pelan mendekati Hinata yang terlelap karena kelelahan.

Sasuke melihat sudut mata Hinata yang berair dan rambut panjangnya yang acak-acakkan. Lalu Sasuke melihat tubuh polos Hinata yang penuh dengan 'bekas' merah. Sasuke tak bereaksi apapun saat melihat Hinata yang seperti itu. Sasuke hanya meletakan handuk kecil yang sedari tadi tergantung di lehernya sebelum melepaskan kaos hitamnya dan memakaikannya kepada Hinata lalu menyelimuti tubuh Hinata, lalu Sasuke memandang wajah Hinata datar.

"Aku... akan membunuhmu!"

Sasuke terdiam saat dia mengingat kalimat Hinata beberapa jam yang lalu. Itu bukan ancaman main-main. Sasuke tahu Hinata serius saat mengatakannya. Ucapan 'benci'nya pun benar-benar keluar dari lubuk hatinya.

Tapi Sasuke juga tahu bahwa Hinata tidak akan benar-benar bisa membunuhnya.

Karena hanya Sasukelah yang dimiliki Hinata saat ini, sejak dua tahun yang lalu. Karena hanya Sasuke-lah yang dapat menemani gadis itu di antara kehampaan-kehampaannya. Di antara kekosongan-kekosongannya.

Dan karena Sasuke-lah...

Senyum Hinata menghilang.

.

.

"Kupikir, tousan tidak peduli padaku."

Pemuda itu tersenyum puas ketika melihat Sasuke mendatanginya sebelum memilih membelakangi Sasuke yang dipanggilnya 'tousan'.

"Aku hanya ingin tahu yang sebenarnya," kalimat Sasuke hanya mendapat tolehan dari samping kanan pemuda beriris mata yang berbeda dan mencolok, emerald dan ruby. "Siapa kau? Aku tahu kau bukan 'bagian' dariku."

Pemuda itu, Fuyumi membalikkan badan dan menatap tak acuh pada Sasuke. Ok, hal itu membuat Sasuke sedikit kesal. Pemuda ini begitu menghormati dan manja pada Hinata yang diakuinya sebagai 'kaasan'-nya dan bersikap begitu menyebalkan kepada 'tousan'nya.

"Aku anak kalian yang datang dari masa depan untuk mengetahui sejarah kelahiran kami." Meski diucapkan dengan nada ringan, jelas sekali bahwa Fuyumi menantang Sasuke dengan melihat matanya yang memicing dan seringainya yang mencemooh.

Untuk sikap seperti ini, Sasuke harus mengakui bahwa jika pemuda ini adalah anaknya, maka Fuyumi mewarisi dengan baik salah satu sikap 'favorite'-nya.

"Aku tidak akan mungkin punya anak."

Fuyumi melipat tangan di dada dan bertanya hal yang membuat Sasuke ingin sekali melempar pemuda itu dari Tokyo Tower.

"Tousan mau bilang kalau tousan ini mandul?"

Sasuke memicingkan kedua matanya, merasa terdinggung dengan kesimpulan pemuda beruban yang ada dihadapannya. Aura di sekeliling Fuyumi dan Sasuke semakin berat, tak ada percakapan hingga beberapa menit ke depan hingga akhirnya Fuyumi yang mengalah untuk bicara, dengan nada yang sedikit tajam.

"Boleh aku bertanya ada apa dengan 'kaasan'?"

Sasuke menatap Fuyumi datar, sedatar ekspresinya sekarang. "Kalau aku jawab, 'tidak boleh'?"

Senyum terukir.

"Aku sudah bertanya dan tousan akan menjawabnya."

Pandangan mata Sasuke kembali menajam.

"Aku serius saat mengatakan aku tak akan mungkin punya anak, terlebih memiliki anak kurang ajar sepertimu. Aku tahu 'siapa' aku sebenarnya."

Fuyumi bergumam sembari meletakan telunjuk di pelipisnya. "Daripada itu, tousan tak menyadari sesosok makhluk yang mengintai kediaman tousan sejak semalam? Kukira tousan menyadarinya, karena tousan 'berbeda'."

Menghela napas. Sasuke berbalik dan melangkah pergi. Sasuke berusaha tak mendengar ucapan Fuyumi meski suara Fuyumi jelas terdengar di telinganya.

"Biasanya 'Kagashi' akan muncul saat musim panen, tapi sepertinya tahun ini 'Kagashi' akan muncul lebih awal."

.

.

"Biasanya 'Kagashi' akan muncul saat musim panen, tapi sepertinya tahun ini 'Kagashi' akan muncul lebih awal."

PLAK!

Sasuke hanya bisa membulatkan kedua mata oniksnya ketika sesuatu memukul kepalanya, membuat dirinya sedikit membungkuk karena pukulan itu berasal dari belakang kepalanya. Sasuke menghela napas sebelum berbalik dan bersiap memukul wajah satu-satunya orang yang berani melakukan ini kepadanya dengan sebuah buku yang digulungnya, namun sayang, pukulan Sasuke tidak benar-benar mengenai orang itu. Orang itu tertawa terbahak-bahak.

"1-0, Teme," katanya sebelum berjalan kemudian duduk di depan bangku ketua OSIS. Sasuke tak menjawab gurauan sang pemuda yang sering sekali memamerkan cengiran khasnya. "Apa yang sedang kau pikirkan sih? Wajahmu menakutkan, Teme," katanya lagi. Sasuke tak mengacuhkan Naruto- pemuda itu dan malah membuka buku yang tadi digulungnya dan membacanya. Naruto mengembungkan pipinya.

"Ne, Teme, kau kenal Hinata-san dari kelas 2-2 itu?"

Deg.

Sasuke, dengan senormal mungkin mengangkat kepalanya dari kertas yang pura-pura sedang dibacanya, menatap Naruto.

"Memang kenapa?"

Naruto tampak menimbang-nimbang sebelum menjawab. "Aku merasa kasihan dengannya."

"Kalau begitu kenapa kau tidak menolongnya?" tanya Sasuke sembari menutup buku itu dan berusaha untuk menatap Naruto. Naruto tampak merasa berat saat mengucapkannya.

"Karena aku tidak ingin ditindas," katanya dengan muram. Pemuda berambut pirang itu mengembungkan pipinya. "Terkadang aku benci sekolah ini. Dari guru bahkan sampai penjaga sekolah juga ikut-ikutan untuk mengerjai orang itu."

Sasuke memilih untuk tidak berkomentar.

"Kau juga bahkan tidak turun tangan, Teme. Padahal kau adalah ketua OSIS."

Menghela napas, Sasuke berdiri dari bangkunya dan menatap ke arah Naruto.

"Aku tak mau ikut campur hal yang merepotkan seperti itu," katanya sebelum pergi meninggalkan Naruto yang memasang tampang cemberut.

.

.

Sasuke melihat cairan merah melekat di ujung sepatunya. Sasuke melihat katana-nya berlumuran darah. Sasuke mencium bau anyir darah yang menyengat kuat.

Dan Sasuke melihat gadis itu menatapnya dengan mata membulat dan tubuh yang gemetar.

Sasuke melihat kilatan kebencian dari kedua mata perak itu.

"Apa... apa yang kau lakukan?"

Sasuke tak menjawab pertanyaan yang mudah itu. Dengan tenang dan pelan, mencabut katana yang menancap erat pada sesosok tubuh tak bernilai baginya, membawa katana itu ke hadapan gadis yang semakin mengkerut di tempat.

"Menurutmu apa?" Sasuke bertanya dengan dingin. Tanpa ada perasaan bersalah atau takut dengan apa yang dilakukannya sekarang.

Karena memang tidak ada yang salah di memang Sasuke melakukan hal yang benar.

Sasuke melihat tangan itu terkepal erat. Gadisnya kini berada dalam jurang keputus asaan. Antara menerima dan tidak. Antara percaya dan tidak percaya.

"Apa yang kau lakukan?" Dia bertanya sembari menatap Sasuke dengan ekspresi mata yang sulit dijelaskan. Menatap Sasuke dengan mata perak yang nyaris berkaca. Gadis itu menyeret lututnya untuk mendekat ke arah Sasuke, mencengkram kerah baju hitam Sasuke. "...Sasuke-kun?"

Sasuke bisa dengan jelas mengartikan arti tatapan itu. Mata yang menyimpan begitu banyak duka dan pengharapan, bola mata yang merefleksikan kegilaan. Kegilaan karena hal yang diberikan yang di atas kepadanya, yang terlalu berat untuk dipikul kedua bahunya yang kecil, yang ringkih, yang tak berdaya.

Sasuke merengkuh tubuh mungil Hinata. Menyamankan tubuh itu ke dalam pelukannya yang bau anyir darah. Sasuke memejamkan kedua mata oniksnya, menyesapi aura Hinata yang disukainya. Merasakan tubuh kecil itu gemetar dipelukannya, merasakan 'hati' Hinata yang 'berbeda' di tubuh kecil itu.

"Kenapa kau takut, hm?"

Tubuh Hinata menegang. Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Tak peduli jika hal itu membuat Hinata mungkin mati karena napas yang nyaris habis. Aura Hinata semakin membuatnya melayang. 'hati' Hinata berteriak kegirangan namun juga jerit kesedihan. Sasuke selalu suka mendengar kedua teriakan itu dari Hinata, selalu, dari sepuluh tahun yang lalu hingga kini.

"Te-tentu saja aku takut." Hinata menjawab setelah jeda begitu lama. Sasuke tertegun. Aura itu menghilang, aura yang disukai Sasuke menghilang begitu saja dari tubuh mungil Hinata. Sasuke melonggarkan pelukannya, dan Hinata mendorong tubuh Sasuke. Tidak kuat, tapi cukup membuat tubuh kecilnya terbebas dari tubuh Sasuke yang besar. Air mata Hinata mengalir semakin deras mengaliri kedua pipinya. Sasuke memiringkan kepalanya, menandakan bahwa dia tidak mengerti dengan keadaan Hinata sekarang. Padahal Sasuke tak pernah merasakan ini. Padahal, Sasuke selalu mengerti apa yang diinginkan Hinata, padahal Sasuke bisa dengan mudah 'mengerti' apa yang diinginkan gadisnya ini.

"Aku hanya mengabulkan apa yang kau inginkan, Hinata."

Sasuke tak mengerti kenapa Hinata menatapnya seperti itu. Kenapa Hinata menatapnya dengan tatapan penolakan yang sangat dibenci Sasuke? Apa salah Sasuke? Sasuke hanya ...

"Aku hanya memenuhi keinginanmu," Sasuke mengatakan kalimat itu lagi. Dengan intonasi yang semakin datar, semakin dingin. Mata oniks Sasuke perlahan berubah bercahaya. Samar-samar menjadi sedikit berwarna merah.

Sasuke melihat mata Hinata membulat horor. Seluruh tubuhnya semakin gemetar, raut wajahnya seperti orang mati sekarang. Hinata menggeleng takut-takut.

"Tidak."

Sasuke mendengar Hinata bergumam.

"Mana mungkin aku menginginkannya?"

Hinata menjatuhkan kepalan tangannya ke lantai yang berwarna merah. Setitik air mata jatuh menyatu dengan warna merah yang memenuhi ruangan itu.

"Hatimu menginginkannya dan aku mengabulkannya."

"Bohong! Bohong!"

"Aku tidak pernah berbohong."

Ya, Sasuke tak pernah bohong. Sasuke 'tahu' apa yang dirasakan Hinata, karena mereka telah menjadi satu. Dari waktu pertama kali mereka bertemu. Dari awal Hinata kecil memeluk tubuhnya dan memanggil namanya. Dari sepuluh tahun yang lalu...

Mereka akan terus bersama, terikat oleh benang bernama kehampaan yang membungkus mereka berdua. Sasuke menggerakan katana-nya dengan gerakan perlahan, lalu katana itu menghilang dan berubah menjadi butiran cahaya sebelum terpecah. Sasuke meletakan lutut kanannya di lantai. Mengangkat dagu Hinata. Memaksa mata perak Hinata menatap matanya yang kembali berwarna hitam pekat.

"Kenapa kau menolakku?" Sasuke mendesis tajam. Dia tidak suka Hinata mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia tidak suka saat Hinata menolak kehadirannya, mengingkari apa yang telah diperbuat olehnya demi Hinata. "Padahal kau yang memintaku untuk melenyapkan mereka."

"Aku tak pernah meminta!"

Hinata berteriak dan Sasuke kembali menatap dingin.

"Kau memohon, Hinata. Kau memohon dengan penuh kebencian. Kau memohon dengan menggadaikan jiwamu pada iblis. Kau memohon sepenuh hatimu agar mereka lenyap." Sasuke berdiri. Berjalan beberapa langkah menjauh dari Hinata.

"Bukankah sia-sia mengingkari semuanya Hinata?"

Dan yang Sasuke ingat adalah tatapan Hinata yang benar-benar ingin membunuhnya.

.

.

Sasuke melihat Hinata ada di ruang tamu, menatapnya datar sebelum menyapanya dengan datar. Sasuke menghela napas dan berjalan mendekati Hinata yang terlihat seperti biasanya, tanpa ekspresi, tanpa jiwa.

Hinata tak bergerak ketika Sasuke meletakkan telapak tangannya di pipi Hinata.

"Bagaimana keadaanmu?"

Sasuke merasa tenggorokannya tercekat saat mengatakan kalimat itu padahal intonasinya masih seperti biasa. Hinata menatapnya sebelum menjawab retoris.

"Menurutmu, bagaimana keadaanku?"

Sasuke tak berkomentar. Memeluk tubuh Hinata yang begitu kurus.

"Aku 'melihat' mimpimu."

Tubuh Hinata mulai menegang.

"Menyeretku ke dalam mimpi yang sama. Apa yang kau inginkan, hm?"

Sasuke merasakan lengan Hinata membalas pelukannya. "Tidak ada," katanya dan Sasuke tahu Hinata bohong.

Mereka terus berpelukan untuk beberapa saat hingga Sasuke mempererat pelukannya.

"... Panggil namaku, Hinata."

Tak ada balasan. Sasuke meletakkan kepalanya di bahu Hinata. Ada sebuah perasaan yang tak menyenangkan saat Sasuke mengatakan itu. Ada perasaan aneh ketika Sasuke mengingat hal itu, ada perasaan yang tak Sasuke mengerti ketika dia mengingat Hinata yang dulu. Hinata yang menemukannya di tempat gelap, yang mengulurkan lengan kecilnya untuk Sasuke gapai...

... Hinata yang selalu memanggil namanya.

Dan ketika Hinata mengabulkan perintah Sasuke, Sasuke merasa air matanya jatuh, entah karena apa, entah dengan alasan apa.

Lalu lagi-lagi sesosok makhluk mengintip mereka sembari menyeringai. Makhluk yang sama, yang mengembangkan sayap hitam itu kini melepas tudung yang menutupinya.

"Yare... yare... Bukankah sudah saatnya aku tampil dihadapan mereka, hm."

Dan sosok itu menghilang.

Jauh dari tempat itu, Akiyama Fuyumi memnadang batu permata yang sewarna dengan mata perak okaasan-nya, tersenyum senang.

"Ternyata begitu."

.

.

To Be continued

Note:

(-_-)"

No comment, ceritanya emang semakin GJ, tapi udah semakin ke puncak konflik yang saya mau. Mohon maaf atas ketidak pastian kapan update fict ini, lalu minta maaf juga semakin gak jelas. Ternyata bikin full Sasuke POV itu susah... Susah banget! #HeadBang

Lalu, terima kasih karena sudah menunggu. Benar-benar berterima kasih. Dan... sekarang waktunya bales pojok repiuw ya... :D

Pojok Bales Repiuw

Yang log-in via PM ya...

Vita : Iya, Fuyumi rasanya cowok *DiGeplaked*, Marganya ganti karena suatu alasan yang belum bisa dipublikasikan. ^v^. Gece : Makasih... Udah update ni, R&R lagi?. Hi Author (guest) : Udah update... R&R?. lavenixs-chan: Wehehe... Kenapa ya? Masih rahasia. *Plaked. Evil : Makasih... ^v^ #Salah woy. Jurig Cai : Yang ngintipin SasuHina itu sepertinya si Kagashi... heheh. Let me guest: Bukan. ^v^. DOT : Sedikit banyak, aku sedikit ngerasain sesuatu pas baca komenmu... Boleh minta fb-nya? . Aeni hibiki : Salam kenal... dan udah update, semoga tidak mengecewakan. Diane Ungu: Sedikit banyak alasan Hinata ingin membunuh Sasuke udah terungkap di sini. Bisa nebak?

Dan... Chapter empat entah kapan bisa saya update, banyak tugas nih... maklum, lagi bikin proposal skripsi. Heheh

Hontoni Gomennasai

Jaa...

Repiuw?

.

.

30 April 2013

Fuyu no Yukishiro