Mengerikan...
Apa... yang terjadi?
Hinata tak dapat mempercayai apa yang dilihatnya. Gadis itu hanya bisa terduduk dengan mata membulat. Dilemparkannya tatapan matanya ke depan, ke sosok lelaki yang dikenalnya sejak Hinata masih berusia lima tahun. Kepada sosok yang kini menatapnya dengan dingin. Kepada laki-laki yang bermandikan darah 'mereka'.
Ini ... bohong kan?
"Apa... apa yang kau lakukan?" Hinata mati-matian bertanya. Tenggorokannya tercekat, rasa takut menjalar hingga membuat tubuhnya gemetar. Di depannya, laki-laki itu bergeming, menatap Hinata dengan iris hitam yang begitu kelam, lalu perlahan mencabut katana yang ada di sampingnya. Mencabut katana yang sedari tadi menancap tepat di dada salah satu dari mereka, membuat darah sedikit mengenai sepatu hitam laki-laki itu.
Hinata bergerak mundur ketika laki-laki itu berjalan medekati Hinata, tubuhnya semakin mengkerut karena tekanan tak langsung yang diberikan oleh laki-laki serba hitam itu. Hinata menatap sesosok tubuh paruh baya yang sudah teronggok dengan mata tertutup dan tubuh penuh darah, lalu Hinata melihat sesosok tubuh lain yang sudah tak bernyawa.
Merah ... merah di mana-mana ...
Hinata merasa perutnya bergejolak hebat.
"Menurutmu apa?" pertanyaan itu membuat perhatian Hinata teralih. Iris hitamnya menatap Hinata tanpa sirat bersalah, intonasinya pun begitu, tak ada rasa bersalah sama sekali. Hinata geram, yang bertanya di sini adalah Hinata, lalu kenapa laki-laki ini malah balik bertanya? Kenapa ... laki-laki ini ...
Tanpa sadar Hinata mengepalkan tangannya kuat-kuat, membiarkan telapak tangannya terluka oleh kuku-kuku panjangnya. Hinata gelisah, marah, takut dan tak percaya.
Kenapa? Kenapa dia dengan tega melakukan ini kepada Hinata? Tak tahukah dia siapa orang yang telah dihabisinya? Tak tahukah dia?
"Apa yang kau lakukan?" Kali ini Hinata menekankan kalimatnya, menatap laki-laki bernama Sasuke dengan marah dan terluka, pandangannya yang memburam membuat Hinata tahu bahwa Hinata nyaris ingin menangis karena perasaannya yang benar-benar buruk hari ini. Sasuke tidak menjawab, menatap Hinata tanpa ekspresi apapun membuat Gadis itu menyeret lututnya untuk mendekat ke arah Sasuke, mencengkram kerah baju hitam Sasuke. "...Sasuke-kun?"
Mereka saling menatap. Mata perak yang terluka dan sepasang iris hitam yang tak memiliki emosi apapun di sana. Hinata menahan napas, ingin memaki namun lidahnya tak kuasa. Tubuhnya yang gemetar membuat apa yang ingin diucapkannya menghilang entah kemana.
Padahal tadi Hinata masih merasakan suasana yang biasa saja. Padahal tadi pagi Hinata masih bisa tertawa dengan adiknya, masih dapat melihat raut dingin ayahnya, masih dapat melihat ketegasan wajah kakaknya. Masih dapat melihat raut tanpa ekspresi dengan aura lembut milik Sasuke.
Tapi kenapa malam ini semua berubah jadi mengerikan?
Bau anyir, merah di mana-mana, tubuh keluarganya yang sudah tak bernyawa.
Hinata tak mengerti kenapa ini bisa terjadi.
GREP!
Hinata mengerjap ketika Sasuke memeluk tubuhnya begitu erat. Membuat Hinata menjijit dengan napas nyaris habis karena Sasuke terlalu kuat memeluknya.
"Kenapa kau takut, hm?"
"Te-tentu saja aku takut," cicit Hinata. Membuat pelukan yang diterimanya melonggar. Hinata tak mengerti apa yang Sasuke pikirkan sekarang, padahal biasanya, Hinata bisa dengan mudah tahu apa yang dipikirkan oleh Sasuke. Biasanya, Hinata bisa dengan mudah mengerti dari setiap gerak-gerik yang diperlihatkan oleh Sasuke.
Tapi ... Kenapa sekarang Hinata sama sekali tidak mengerti?
"Aku hanya mengabulkan apa yang kau inginkan, Hinata."
Kalimat Sasuke yang lain membuat Hinata makin tak mengerti.
Mengabulkan apa yang dia inginkan? Apa maksudnya?
"Aku hanya memenuhi keinginanmu," Sasuke mengatakan kalimat itu lagi. Dengan intonasi yang semakin datar, semakin dingin. Mata oniks Sasuke perlahan berubah bercahaya. Samar-samar menjadi sedikit berwarna merah, dan Hinata takut karena tatapan Sasuke yang membuat Hinata semakin tidak mengerti.
"Tidak."Mati-matian Hinata berusaha agar suaranya keluar, mati-matian Hinata berusaha untuk tidak kehilangan kesadaran karena kehilangan. "Mana mungkin aku menginginkannya?"
Hinata menjatuhkan kepalan tangannya ke lantai yang berwarna merah. Setitik air mata jatuh menyatu dengan warna merah yang memenuhi ruangan itu dan Sasuke menatapnya dengan pandangan aneh.
"Hatimu menginginkannya dan aku mengabulkannya."
"Bohong! Bohong!"
Kapan? Kapan Hinata meminta Sasuke untuk membunuh keluarganya? Kapan Hinata meminta Sasuke untuk melakukan hal ini? Kapan?
"Aku tidak pernah berbohong."
Ya, Sasuke tak pernah bohong, Hinata tahu itu. Tapi ... tapi... jika Sasuke tak pernah berbohong kepadanya... kapan? Kapan Hinata meminta Sasuke untuk membunuh keluarga –
Dan mata Hinata membulat ketika sekeping ingatan muncul di kepalanya. Samar, cepat, namun menjadi bukti bahwa Sasuke tak berbohong kepadanya.
Ia benar.
Meski sekilas, meski hanya bercokol sekejap, perasaan itu pernah menghampirinya.
Perasaan agar semua keluarganya lebih baik menghilang saja dari dunia ini. Perasaan melihat darah keluarganya sendiri.
Perasaan itu memang pernah muncul, meski hanya sekilas, meski hanya sebuah khayalan ...
Dan Sasuke langsung mengabulkan keinginan itu.
"Kenapa kau menolakku?" Ada luka di kedua mata Sasuke yang kembali berwarna hitam pekat. Hinata mulai mengerti perasaan Sasuke yang tersampai kepadanya, Hinata kembali mengerti perasaan tersakiti yang ada di hati Sasuke. "Padahal kau yang memintaku untuk melenyapkan mereka."
Memang. Memang Hinata pernah menginginkan agar keluarganya lenyap saja. Memang Hinata pernah merasa muak dan menginginkan semua keluarganya mati dengan mengenaskan. Memang Hinata pernah menginginkannya.
Tapi ...
Tapi...
Tapi Hinata ...
"Aku tak pernah meminta!"
Ya. Hinata memang menginginkannya, tapi Hinata tak pernah meminta Sasuke untuk mewujudkan keinginannya! Tidak pernah meminta -
"Kau memohon, Hinata. Kau memohon dengan penuh kebencian. Kau memohon dengan menggadaikan jiwamu pada iblis. Kau memohon sepenuh hatimu agar mereka lenyap."
Hinata tak bisa mengatakan apapun lagi. Tidak. Tidak. Tidak.
Hinata tidak pernah memohon, Hinata hanya menginginkannya dan keinginan itupun hanya sekilas. Hinata tidak pernah membenci keluarganya. Hinata tidak pernah –
"Bukankah sia-sia mengingkari semuanya, Hinata?"
Kalimat terakhir yang Sasuke katakan membuat Hinata tak bisa lagi berpikir apapun kecuali kemarahan yang memuncak.
.
EMPTY
by: Fuyu no Yukishiro
.
Disclaimer:
Naruto (c) Masashi Kishimoto
.
.
Happy Reading... :D
.
Pagi itu koridor sekolah ramai oleh bisik-bisik dan pekikan tertahan para siswi.
Sesosok pria, dengan model rambut yang melawan hukum gravitasi, sebelah mata yang ditutupi seperti bajak laut dan mulut yang ditutupi masker hitam, berjalan santai di tengah koridor siswa. Tak peduli meski di sisi kanan dan kirinya orang-orang ramai berbisik tentangnya. Dari balik buku orange yang tengah dibacanya dengan khusyuk, lelaki itu menyeringai, meski tak begitu jelas terlihat karena masker yang menutupinya.
Ah... betapa manusia dari kaum bernama perempuan itu sangat berisik sekali. Rasanya menyebalkan dan memuakkan. Rasanya lelaki itu ingin menjahit mulut mereka saja agar tidak memecahkan konsentrasinya dalam membaca buku favoritenya. Ingin sekali laki-laki itu ...
Laki-laki itu lantas menggeleng pelan, masih tetap berjalan santai, berusaha agar semua pikirannya tak menjalar kemana-mana. Bagaimanapun juga, ada sesosok laki-laki yang sedapat mungkin tidak ditemuinya untuk beberapa menit ke depan, lagipula, meski berisik, laki-laki itu cukup menikmati banyaknya perhatian yang tercurah kepadanya.
Khukhukhu
Laki-laki itu tertawa dalam hati ketika sesuatu mengganggu perasaannya. Menutup buku, laki-laki itu berhenti berjalan dan memasang lengkungan senyum hingga kedua irisnya sempurna tertutup oleh kedua kelopak matanya, laki-laki itu menyapa kehadiran orang yang mengganggu perasaannya.
"Ohayou," sapanya ketika jaraknya dengan seseorang yang mengganggu perasaannya itu hanya berjarak kurang dari satu meter. Laki-laki itu berhenti memasang senyum ketika tak ada balasan atas salamnya, menyebalkan memang, tapi dia sudah cukup mengenal dengan baik siapa laki-laki yang ada di depannya, jadi laki-laki bersurai perak itu tak begitu ambil pusing dengan sikapnya yang seenaknya, pun tak mempermasalahkan ketika aura hitam oenuh permusuhan mulai mengalir keluar, menyerang dirinya. "Tak perlu memasang wajah seperti itu, kau menakutkan," ujar si lelaki berambut perak santai.
"Apa yang kau lakukan di sini?" pertanyaan dari orang yang ada di hadapannya membuat si lelaki perak menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Yare ... yare ... sepertinya, dia telah membuat laki-laki ini marah karena kehadirannya yang tanpa pemberitahuan.
Tapi, bagaimanapun juga, ini tugasnya, kan?
Memasang wajah serius, meninggalkan seluruh sikap tubuh yang mencerminkan santai, pria itu menatap sang lelaki bersurai kontras dengannya tajam.
"Aku datang untuk mengadilimu, maou-sama," jeda sejenak sebelum sebuah senyum meremehkan terlihat. "Atau harus kupanggil, Uchiha Sasuke?"
Uchiha Sasuke bergeming di tempat.
.
.
Dari mana awal kekosongan ini?
.
.
"Apa yang kaasan lihat?"
Hinata tak menanggapi pertanyaan yang berasal dari belakang tubuhnya. Hinatapun tak mengalihkan pandangannya ketika langkah kaki dari seorang Akiyama Fuyumi mendekatinya. Gadis itu tetap dalam posisinya, menekuk kedua lengan dan menyandarkan dagu di pertemuan lipatan lengan itu. Hinata tetap pada posisinya, memandang ke depan dengan tatapan kosong.
"Aku tak mengerti." Barulah ketika Fuyumi berada di sampingnya, memandang Hinata dengan tatapan berbianr-binar, Hinata buka suara. Well, mata berbeda warna yang menatapnya seolah dia adalah barang berharga cukup mengganggunya.
Karena Hinata tak terbiasa, tak lagi terbiasa ditatap dengan pandangan seperti itu.
"Tak mengerti apa?" Fuyumi bertanya. Sebenarnya, pemuda itu ingin menunggu. Menunggu kaasannya bercerita sendiri, tapi sepertinya itu mustahil. Kaasan-nya di zaman ini bukanlah perempuan yang blak-blakkan.
"Aku... tak mengerti, entah sejak kapan, aku berada di ruang hampa," Hinata menegakkan tubuhnya, menyentuh dadanya dengan ekspresi datar yang terkesan muram. "Sejak kapan aku tak bisa merasakan apa-apa. Semuanya terkesan datar, semuanya terasa putih dan hitam."
Hinata menoleh ke arah Fuyumi, membuat Fuyumi tersedot pada sinar mata Hinata yang gelap, membuatnya tak bisa bergerak.
"Kalau kau memang anakku dari masa depan," Hinata untuk pertama kalinya berinisiatif menyentuh Fuyumi, menggenggam punggung tangannya dan Fuyumi bersumpah merasakan aliran aneh yang membuatnya serasa ditelanjangi. Fuyumi merasa semua pikiran dan hatinya ditelanjangi oleh aliran seperti aliran listrik dan itu membuat Fuyumi dengan gerak refleks melepaskan genggaman Hinata.
Dan untuk pertama kalinya Fuyumi melihatnya.
Melihat Hinata tersenyum. Senyum dingin yang mengerikan.
"Kau lengah ya, Fuyumi-kun. Aku tahu rahasiamu."
Sial.
.
.
"Panggil saja aku Hatake Kakashi. Setidaknya, nama itu lebih aman untukku jika kau memanggilku."
Pria bermasker itu tersenyum. Sebelah tangannya yang memegang buku aneh berwarna orange yang menyakitkan ditutup dan dengan gaya sok keren di masukkan ke saku celana di belakangnya. Pria itu memasang senyum santai dan segala bahasa tubuhnya yang terkesan biasa.
Tapi Sasuke tak bisa bersikap santai dan bersahabat ketika melihat pria berambut silver itu datang. Kepala Sasuke berdenyut nyeri. Baru beberapa hari yang lalu dia didatangi oleh pemuda seumurnya yang juga memiliki rambut silver, dan sekarang, dia didatangi lagi oleh orang berambut silver yang lebih mengganggu dari seorang Akiyama Fuyumi.
"Ma... maa... Jangan pasang wajah menakutkan seperti itu, Mao..." panggilannya terhenti sebelum sang Hatake meralat panggilannya karena aura Sasuke yang seperti akan menyerangnya. "...Sasuke-kun?"
Sasuke menatapnya tajam. Atap sekolah memang tidak terlalu luas tapi cukup untuk melakukan pertarungan, atau minimal cukup untuk membiarkan Sasuke melampiaskan kekesalannya karena kehadiran pria yang tak diharapkan untuk datang.
Dari balik masker sang pria tersenyum.
"Jangan menatapku seperti itu," katanya. "Bukannya aku mau cepat-cepat menunjukkan wajahku kepadamu, seandainya saja tidak ada yang berani melanggar larangan 'waktu' yang kujaga demi bertemu kalian."
Sepertinya Sasuke tahu siapa yang dimaksud Kakashi.
"Berarti aku tak ada hubungannya denganmu, kan?" tanya Sasuke dingin yang ditanggapi oleh tawa renyah sang Hatake.
"Tentu saja ..." Dan tawa Kakashi mereda. Pria itu menatap dingin Sasuke, aura yang dikeluarkannya berbeda dari beberapa detik yang lalu dan ketika merasakan hal itu, Sasuke langsung memasang kuda-kuda.
"Tentu saja ada, Maou-sama," mata Kakashi yang beriris hitam mendadak berubah menjadi kemerahan. "Anda sudah banyak melanggar 'aturan' yang sudah kita sepakati."
Sulur-sulur listrik muncul di tangan kanan pria itu. "Anda seharusnya bersiap-siap akan hari ini, bukan?"
.
.
Baik Hinata maupun Fuyumi langsung menoleh ke arah yang sama ketika mkeduanya merasakan aura yang tak biasa. Masih di tempat yang sama dengan mereka berdua, masih di atap sekolah.
Hinata melirik ke arah Fuyumi dan gadis itu dapat melihat raut tegang dan gugup.
"Tidak mungkin."
Hinata mendengar Fuyumi bergumam. Lalu gadis itu teringat akan 'penglihatan'nya dan memasang tampang datar. Apalagi yang bisa dilakukannya selain itu?
DEG!
Hinata tercekat. Apa? Perasaan apa ini? Kenapa mendadak hatinya dialiri berbagai perasaan aneh yang membuatnya sesak.
"Okaasan!"
Hinata jatuh terduduk, tatapannya kosong namun Fuyumi bisa melihat raut ketakutan di wajah kaasannya. Bukan berarti Fuyumi tak merasakannya, karena Fuyumi juga merasakannya. Perasaan ini... perasaan ini perasaan yang sama yang dialaminya ketika saat itu. Saat dimana pemuda itu mengerti apa itu keputus asaan, ketika dia mengerti siapa dirinya dan arti eksistensi dirinya. Ketika dia menyadari bahwa kehadirannya...
Kelebatan masa lalu terbayang di kedua matanya yang berbeda warna, membuat lutut pemuda itu membentur lantai seperti Hinata. Fuyumi frustasi, perasaan sesak yang keluar, perasaan aneh yang membuatnya kesulitan bahkan untuk bernapas.
Aura gelap yang mengerikan.
Sementara di tempatnya, Hinata menggigil. Dia pernah... pernah merasakan perasaan ini. Dulu, beberapa tahun yang lalu. Kesalahan yang dibuatnya, kenyataan yang dilupakannya, kenangan bersama Sasuke yang dulu ...
Mata Hinata terbuka lebar. Sekelebat ketakutan terbayang di sana. Hinata tidak tahu apa yang terjadi, tapi Hinata mengerti ada seseorang, entah siapa, berhasrat untuk memisahkannya. Memisahkan dirinya dari Sasuke. Memisahkan ...
Tidak. Tidak. Tidak.
Tidak boleh!
Dengan perasaan aneh yang menyelimuti tubuhnya, Hinata berdiri lalu berlari ke tempat di mana Sasuke berada.
.
.
To Be Continued
.
Next Chapter:
"Kenyataan yang Tersembunyi"
.
Author Notes:
Ketika di chapter dua, saya benar-benar memutuskan fict ini sebagai Fict supranatural dengan alur dan cerita yang banyak celah untuk dipertanyakan para readers, saya benar-benar tak menyangka perkembangan ceritanya sampai semelebar ini.
Intinya, Sasuke di sini bukanlah 'manusia', tapi beberapa tahun lalu, ketika pertama kalinya Hinata bertemu dengan Sasuke, saya membuat Sasuke adalah 'manusia'.
Nah Lho? Pusing kan? Maou-sama berarti raja Iblis. Jadi, apakah Sasuke adalah iblis? Jika Sasuke Iblis, lalu siapa Hinata? Apa yang dimaksud Hinata, 'mengetahui yang sebenarnya' tentang Fuyumi?
Nantikan chapter limanya. Mulai chapter depan, fict ini benar-benar tidak akan sesuai dengan judulnya, Dan saya gak tahu harus minta maaf atau bilang, memang ini rencana saya... Hanya saja saya berharap semoga readers semua tak bosan menunggu kelanjutan chapter dari Fanfict ini. :D
.
Arigatou
Jaa ne...
.
28012014
Fuyu no Yukishiro
