DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Two: Thanksgiving Festival
Pagi hari yang dingin di musim di bulan Januari, meski tahun baru telah lewat di kota ini. Tapi begitulah kediaman di tempat keluarga Sakura, lebih suka menjalani aktivitas di kala sang Tuan dan Nyonya sedang berada di luar kota demi mendapatkan uang. Meski pemerintah lebih suka membantu orang bangsawan ketimbang rakyat jelata, namanya mereka ingin dihormati.
Di kala itu pula, semua bangsawan tak pernah takut pada orang yang melawan mereka karena Pemerintah membantu mereka kapan pun dan di mana pun. Semuanya serba ada. Hal itu menyebabkan banyaknya rakyat miskin tak pernah mendapatkan hak-hak yang sama dengan bangsawan. Tapi sejak kemunculan sang Pencuri, Black Cat, semua rakyat miskin tidak seperti dulu lagi. Mereka sebanding dengan bangsawan walau masih berada di daftar pertengahan social.
Langkah-langkah kaki berpijak seorang dayang mengantarkan berita ini kepada anak majikannya benar-benar mendapat sungguhkan dari pengawal-pengawal yang sedang bekerja di sana. Apalagi dayang cantik berambut merah muda keriting, memakai kimono berlapis-lapis berjalan dengan anggunnya.
"Mau ke mana kau, Anna?"
Langkahnya terhenti, menolehkan kepalanya melihat pengawal mengenakan seragam besi tua, setengah membungkuk. "Maaf, Tuan. Saya harus pergi ke tempat Mikan-sama," ucapnya tak terlalu terburu-buru.
Pria berambut hitam berantakan itu, juga memiliki mata hitam, hanya bisa tersenyum saja. "Pergilah. Bilang sama adikku, aku memintanya datang menemuiku di tempat kerjaku," pintanya setelah berbalik badan.
Anna kembali setengah membungkuk pada pria telah pergi, kembali melanjutkan perjalanan. Kakinya melewati lorong panjang berliku-liku, menginjak lantai berkayu, tapi keras. Melewati taman indah, dan pohon Sakura yang cantik. Sesampainya di depan pintu kayu yang dorong samping, Anna menghembuskan napas dan membungkuk memberi hormat pada pemilik kamar di depannya agar diijinkan masuk.
"Mikan-sama, saya Anna. Ijinkan saya masuk. Ada yang ingin saya sampaikan pada Anda."
Bayangan yang terlihat di pintu memperlihatkan sosok anggun, berambut panjang. "Masuklah, Anna."
Selesai meminta ijin dalam keadaan membungkuk, Anna mendorong pintu kayu itu ke samping dan menutupinya kembali. Di dalam ruangan, sosok pemilik kamar ini terhalangi oleh tirai kain berlapis. Di sanalah Anna kembali membungkukkan badan dengan hormatnya.
"Ada apa, Anna?"
"Ini soal tadi malam. Hotaru-sama kemalingan Pencuri lagi," sahutnya berusaha setenang mungkin.
Suara pecah gelas terdengar, Anna terus menundukkan kepala agar tak terlihat sedang ketakutan bahwa sang anak majikan lagi marah dan tersentak kaget mendengar penjelasannya. "Di mana? Kapan itu terjadi?" tanyanya lagi.
"Tadi malam di saat bulan Purnama menampakkan dirinya," jawab Anna tenang.
Tirai terbuka menampakkan gadis cantik berambut cokelat panjang mengenakan pakaian kimono berlapis-lapis sesuai corak dia sukai. Gadis itu membungkukkan badan untuk melihat Anna menundukkan kepalanya dan membenamkannya di lantai tatami.
"Anna, lihat aku! Angkat kepalamu!"
Gadis itu mengangkat kepalanya perlahan-lahan, menatap mata cokelat gadis itu. "Hamba memang bersalah karena tidak memberitahukan hal ini pada Anda tadi malam. Padahal saya tahu, Anda ingin sekali mendapatkan Pencuri itu. So-soalnya saya baru saja dapat kabar itu tadi pagi dari Nonoko," ucapnya pasrah pada pengingkaran janjinya.
Gadis bernama Mikan Sakura duduk bersimpuh, penuh keanggunan menatap Anna yang terus tertunduk malu. "Nggak apa-apa, Anna. Informasimu sudah cukup bagiku," kata Mikan, tersenyum hangat.
"Anda nggak marah?"
"Buat apa aku marah, kalau nanti ujung-ujung aku nggak mendapatkan informasi. Yang penting, kita pergi ke sana." Mikan menyeringai, mencondongkan dirinya ke depan. "Yang penting jangan kasih tahu Rei Onii-sama dan Paman Shiki. Mereka pasti nggak akan mengabulkan permintaanku karena di sana sangat bahaya."
"Ba-baik, Mikan-sama."
Mikan tersenyum.
"Anoo… Mikan-sama, Rei-sama menyuruh Anda datang ke ruangannya." Anna membungkukkan badan setelah menyampaikan permintaan pria berambut hitam tadi.
"Pasti itu lagi," gerutunya sambil mengerucutkan bibirnya ke depan, bangkit berdiri. "Kita ke sana, lalu kita akan pergi ke tempat mereka. Setelah itu, kita ketemu dengan Hotaru."
"Baik, Mikan-sama!"
Gadis berambut cokelat panjang yang menyesuaikan dengan kimono panjangnya sampai ke batas lantai kayu, berjalan menuju tempat dimaksudkan Anna, dayang pribadinya. Dalam keadaan langkah anggun, dihormati dengan sangat terpesona pada anak majikannya, semua penghuni keluarga bangsawan Sakura sangat mengagumi dan tertarik pada Mikan Sakura karena kebaikan hatinya dan senyuman. Itulah di pikiran mereka saat ini.
Semua mata tertuju padanya, membuat langkahnya terhenti. Menatap mereka balik, yang ada mereka memalingkan muka. Mikan hanya bisa memiringkan kepala, dan mengerutkan dahi melanjutkan perjalanan, mendesah berat.
Sesampainya di sana, Mikan duduk dan membungkuk. "Onii-sama, aku datang menemuimu karena aku mendapatkan pesan darimu."
"Masuklah."
Mikan menghembuskan napas dalam-dalam, menatap pada Anna. "Kau tunggu di sini saja. Biarkan aku masuk dulu."
"Baik."
Anna mundur karena dayang kakak Mikan Sakura mendorong pintu kayu geser itu ke samping. Mereka membungkuk hormat pada Mikan. Saat Mikan masuk, mereka menutupinya kembali.
Setelah Mikan masuk, rasa kagumnya terhadap kakaknya naik ke permukaan. Cepat-cepat Mikan menghampirinya dan memeluknya. "Onii-sama! Kapan Onii-sama pulang?! Di mana Nobara Onee-sama? Bukannya Onii-sama bareng sama Onee-sama?!" tanyanya tak sabaran.
"Sabarlah, Mikan." Dilepaskan rangkulan kedua tangan Mikan di lehernya, menatap lembut ke adiknya. "Dia baik-baik saja, tapi belum bisa pulang dulu dikarenakan di sini sangat berbahaya. Aku memintamu datang karena aku mau mengajakmu ke pesta rakyat."
"Pesta rakyat?!" Mikan tersentak kaget, tak menyangka kakaknya akan mengajaknya pergi ke pesta yang seharusnya tadi dia mau pergi bareng Anna. "Benarkah? Asyiiik! Aku suka sama Festival maupun pesta!" serunya gembira.
"Makanya, cepatlah kau berpakaian kimono biasa. Aku akan menunggumu di depan," kata Rei tersenyum bahagia melihatnya adiknya juga bahagia.
"Iya, Onii-sama. Aku pasti cepat berpakaian!" ujarnya sambil mengedipkan mata.
Pintu geser terbuka, Mikan berlari disusul Anna yang mengejarnya. Tak menjelang selama beberapa detik, Mikan datang memakai kimono santai, lengan panjang dengan warna dan corak sesuai dengan kepribadiannya. Bukan lagi kimono 12 lapisan. Sedangkan kakaknya, memakai kariginu, pakaian santai buat laki-laki bangsawan jika ingin pergi ke luar.
Mereka naik kereta kuda keluarga Sakura. Tentu saja mereka sangat senang bisa melihat pesta mingguan, yaitu pesta rakyat dari para jelata. Sesungguhnya mereka lebih senang bisa berkomunikasi diam-diam dengan para penduduk ketimbang bersama pemerintah, yang dulunya orangtua mereka sangat menyukainya.
Di sinilah mereka berdua, dibantu penjaga masing-masing. Mereka diturunkan ke depan perkampungan kumuh namun sederhana – berkat pencuri, Black Cat – mengagumi betapa bahagianya kehidupan para rakyat jelata.
"Hebaaat!" seru Mikan meloncat-loncat gembira, tercengang pada tarian rakyat di pesta syukuran ini. "Aku mau ke sana! Aku mau lihat-lihat! Boleh, ya Onii-sama?" pintanya memandangi Rei dengan pandangan berbinar-binar layaknya kucing.
"Silakan, tapi kita akan pulang sebelum sore. Mengerti?" peringatan Rei pada adik tersayang.
Mikan menganggukkan kepala cepat-cepat, ditarik lengan Anna dan mengajaknya masuk kerumunan. Rei memasuki tempat yang telah dijanjikan, dijaga oleh pengawal terbaiknya.
Gadis berambut cokelat itu menepuk tangan melihat keragaman tarian belum pernah dilihatnya. Tanpa sadar, dia berjalan sendiri meninggalkan Anna yang lebih mengagumi tarian tersebut dan tak sengaja ikut menari. Tapi, hal ini menyebabkan Mikan Sakura dalam bahaya. Toh, dirinya akhirnya terjebak di gang sepi bersama tiga – empat orang berwajah sangar.
"Gadis yang cantik. Haloo, Nona manis…," disentuh dagu Mikan, tapi dia menepisnya dengan cara memundurkan kakinya. Tapi, mereka malah meraih lengannya. "Kemarilah. Jangan takut bersama kami, Nona."
"Lepaskan aku!" pintanya berusaha melepaskan diri, tapi mereka sangat kuat.
"Jangan mengganggu dia!"
Sebuah bayangan berupa batu melayang ke arah kepala orang yang menggenggam tangan Mikan. Sontak tubuh Mikan limbung ke belakang, karena tadi dirinya terus meronta-ronta akhirnya menabrak dada kuat di belakang. Itulah membuat Mikan mendongak, menatap sebuah mata merah cantik bertemu mata cokelat yang manis. Inilah awal di mana mereka bertemu di pesta rakyat atau pesta syukuran.
-TBC-
