DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Three: Introductions Were Forced


"Berani-beraninya kau!"

Lamunan Mikan terhenti sedari tadi menatap kedua pasang mata merah cantik bertemu dengan mata manisnya, seketika itu juga dia menolehkan ke orang-orang yang berniat menariknya, terkejut karena salah satu diantaranya ada yang terluka kena sabetan benda tajam di keningnya hingga berlumuran darah. Orang berwajah kejam tersebut marah-marah sambil memegang keningnya.

"Siapa kau?! Berani-beraninya melakukan ini padaku!" teriak pria bermuka hancur tersebut, Mikan mundur ke belakang, di belakangnya pria berambut hitam berantakan.

Pria itu tersenyum kecil. "Kau nggak perlu tahu siapa aku."

"Apa kau bilang?!"

Sontak saja semua peristiwa itu terjadi, orang jadi korban lemparan benda kecil dari pria di depan Mikan, melayangkan sebuah pukulan menuju wajahnya. Tapi kemudian, pria itu berkelit, menangkap punggung kapalan tinju itu dan memelintir. Orang itu jadi mengerang kesakitan. Akhirnya pria tersebut melemparkannya ke tempat-tempat berupa kayu sampai-sampai orang tersebut kembali mengerang kesakitan di sekujur tubuhnya.

Seorang lagi ikut membantu untuk memukulnya, pria tersebut kembali berkelit dan memukul telak di perut orang itu hingga akhirnya jatuh ke belakang dan menubruk salah seorang temannya yang berbadan kecil.

Semua kejadian di mata cokelat besar Mikan tak bisa menampung apa yang ada di otaknya. Semuanya berubah begitu cepat. Tubuhnya tadi gemetaran berubah hangat saat pria bermata merah cantik itu memeluk tubuhnnya dan berbisik membuat gadis itu tenang.

"Kau nggak apa-apa, 'kan gadis kecil?"

Air mata tadi ditahannya tertumpah juga, membasahi pipinya. Mata cokelat menatap orang-orang kabur berlarian menjauhi pria yang memeluknya di sela-sela pelukan tersebut. Mikan hanya bisa menunduk.

"Aku nggak apa-apa."

"Baguslah." Dilepaskan pelukan tersebut, kehangatan menghilang. "Bagaimana kalau aku antar kau pulang?" tanyanya.

Mikan mengusap air matanya di kelopak cokelatnya, menggeleng pelan. "Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri. Aku sedang menyaksikan perayaan mereka di sini," katanya sambil terus menunduk.

"Kalau mau ngomong, lebih baik kau angkat kepala. Bukan menunduk seperti itu," gertaknya hingga rahangnya mengatup keras, tak suka apabila Mikan menundukkan kepalanya, tak mau melihat pria penyelamat di depannya.

Mengangkat kepala, tersenyum dan setengah membungkukkan punggung. "Aku berterima kasih kau telah menyelamatkanku. Semoga aku bisa membalas jasamu, wahai pemuda."

Pria itu menyeringai. "Aku bisa membawamu ke tempat-tempat menakjubkan, bagaimana?" tanyanya berharap.

Sontak Mikan terperangah, menegakkan tubuhnya dan menatap wajah pria tersebut yang tersenyum menyeringai. Ugh! Mikan paling benci seringai tersebut, yang bikin hatinya entah kenapa terasa dongkol. Gadis itu melangkah mundur.

"Nggak usah. Mungkin lebih baik kita nggak usah pergi ke mana-mana soalnya aku sedang dicari orang." Gadis berambut panjang cokelat tersebut menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, langsung berbalik badan pergi.

Hatinya sungguh aneh saat mendengar hatinya tadi tenang, berubah waspada. Bagaimana tidak, tadi ada empat orang minus satu menyergap dirinya di gang sempit lalu muncul orang yang menyelamatkannya dan meminta jasa pula untuk mengantarnya berkeliling? Itu aneh, bukan? Yang Mikan maksud adalah, jasa dengan membelikan pria itu sesuatu atau memberikan sesuatu yang selalu diberikan kepada rakyat jelata.

Saat Mikan mau mencapai kerumunan orang-orang berpesta ria, sebuah tangan menggamit lengannya. Itu artinya Mikan harus menoleh ke belakang, siapa yang menangkap tangannya di saat dia berlari? Hingga akhirnya tubuhnya tertarik juga.

"Mau ke mana kau?"

Kaget? Tentu saja. Mikan mendongak pria yang lebih tinggi darinya tersebut, benar-benar yang menangkap tangannya dan menariknya jauh dari kerumunan. Firasat Mikan sungguh tak enak. Bayangkan saja, ketemu tiga orang tak dikenal, lalu muncul lagi satu yaitu penyelamatnya. Tentu saja harus waspada, bukan?

"Tu-tunggu… kita bisa jelaskan semuanya. Aku bisa membayarmu atas menyelamatkanku dari mereka. Jadi, lepaskan aku. Aku mohon!" pinta Mikan terus memberontak, namun pria bermata merah indah itu terus menariknya menjauh.

"Diam saja. Aku nggak suka kalau kau banyak bicara!" bentaknya. Mikan langsung bungkam, daripada kena sesuatu yang pasti bikin dia kena sialnya.

Perayaan itu jauh dari tempatnya berdiri. Sekarang dia ada di sebuah tempat berupa danah indah dan jembatan yang menggantung di atasnya. Di sanalah Mikan berada bersama pria di sampingnya. Ketakjuban melihat pemandangan di depannya, Mikan melupakan apa yang terjadi pada dirinya. Dia malah mengagumi hasil karya Tuhan ini.

"Bagusnya!" riangnya menutup mulut menggunakan kelima jarinya, anggun. Melihat ke sampingnya, "kau ingin mengajakku ke sini? Buat apa?"

"Bukan apa-apa," sahutnya datar.

Mikan menggembungkan pipinya, tak suka pada perilaku berubah-ubah pria di sampingnya. Daripada memikirkan itu, Mikan kembali mengagumi pemandangan di depannya tanpa mau beranjak dari sana. Tanpa dilihat gadis tersebut, pria itu tersenyum menatap pola tingkahnya yang aneh, terlihat seperti anak kecil berusia 5 tahun.

Kimono dikenakan gadis itu sungguh tak bisa ditolehkan matanya ke mana pun. Terus tertuju ke gadis itu, gadis cantik juga manis. Meski ada kekhawatiran apabila gadis di sampingnya adalah bangsawan. Namun, ditepisnya pikiran tersebut. Dia harus berlama-lama bersama gadis di sampingnya, sebelum dia pergi dan tak bertemu lagi untuk kedua kalinya.

Perut Mikan berbunyi. Itu membuat gadis itu malu, menutupi rona mukanya dengan kedua telapak tangannya. Pria tersebut terkekeh geli. Rautan kening terbentuk di dahi Mikan, marah pada pria di sampingnya.

"Apa-apaan kau tertawa seperti itu?" bentaknya marah, berkacak pinggang.

Pria itu masih terkekeh geli tanpa berbicara apa pun. Ditariknya Mikan kembali ke desa, membuat gadis itu kembali bingung. Seolah-olah berubah dalam sekejap lagi, Mikan diantarkan ke sebuah warung makan yang tak jauh dari pemandangan tersebut.

Mikan melihat papan reklame di atasnya, memiringkan kepalanya semoga besok kemudian bisa mengingatnya dengan jelas. Tapi berkat tarikan tangannya di lengannya, Mikan tak sempat mengingat jelas apa arti papan nama warung makan dimasukinya ini.

"Tsubasa! Berikan aku satu mangkuk bakmi!" perintahnya saat membawa Mikan ke meja bersegi empat, mempersilakannya duduk. Pria itu duduk di sampingnya.

"Tunggu sebentar!" jawabnya di dalam dapur.

Sang pelayan yang membawa baki heran, kenapa Natsume membawa seorang gadis tak dikenal bisa dilihat pakaiannya bukan orang biasa seperti mereka. Pelayan berambut pirang itu menghampiri Natsume, bertanya sambil mengamati gadis di sampingnya yang tersenyum kikuk.

"Ne, Natsume, kau yang nggak pernah bawa perempuan selain adik dan Ibumu. Kenapa kau bawa gadis di sampingmu itu? Apa dia pacarmu?" bisik Ruka agar gadis di samping Natsume tak mendengarnya.

Tapi, Mikan bisa mendengarnya, membantahnya keras. "Kami nggak pacaran. Enak saja bilang kami pacaran!" gerutunya sambil memalingkan muka penuh amarah.

Tsubasa datang membawa semangkuk bakmi. Tercengang pada apa yang ada di mata birunya. "Cieee… Natsume membawa pacarnya!" godanya senang.

Natsume tak bilang apa pun, tapi Mikan berbeda. Dia sangat marah apalagi saat mereka mengatakan dirinya adalah pacarnya pria di sampingnya, bulu kuduknya meremang. Diamati sekelilingnya, melihat seorang gadis berambut hijau dengan gulungan kecil di bawah rambutnya, melotot marah padanya.

Sontak Mikan berdiri, dan tak menghiraukan semangkuk bakmi di depannya. Tak mau membiarkan Mikan pergi, Natsume menggamit tangannya. "Kau mau ke mana? Kau lapar, bukan? Makan dulu baru pergi!"

"Nggak mau! Aku nggak mau makan! Aku mau pulang!" Ditepis tangan Natsume yang menggamit tangannya hingga terlepas tak membuat Natsume urung melepaskannya. "Lepaskan aku, sialan! Jangan berani-beraninya kau menyentuhku!" teriaknya marah.

"Memangnya aku salah apa sama kau?!" tanya Natsume tak mengerti pada tindakan Mikan.

"Natsume, hentikan! Kau bisa menyakitinya," ucap Ruka menyela pertengkaran(?) agar tak saling menyakiti. Buru-buru Tsubasa juga menghentikannya. "Biarkan dia pergi, Natsume. Kau yang baru kenal dia, kenapa kau jadi over sekali?"

"Oke!" sela Mikan menghentikan semuanya sebelum terjadi perang bertubi-tubi yaitu saling tarik menarik. "Kenalkan aku, Mikan. Kau bisa bertemu denganku lagi saat aku datang ke sini. Biar kau puas! Jadi lepaskan tanganku!"

Tangan Mikan terlepas, Natsume lega mendengarnya. "Kenalkan aku, Natsume. Semoga apa yang kau katakan, nggak mengurungkan niatmu untuk nggak bertemu denganku. Akan kupegang kata-katamu."

Mikan menjulurkan lidahnya marah, berbalik badan pergi. Natsume menyeringai senang, saat pertemuannya dengan gadis itu. Namanya telah didapatkannya. Sekarang atau besok, akan jadi pertemuan keduanya dengannya karena sejak pertemuan pertama, Natsume telah jatuh cinta pada pandangan pertama dengan Mikan.

-TBC-