DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Four: Meeting for The Second Time


Gadis pemilik rambut cokelat panjang itu cemberut kesal hingga menabrak seseorang di depannya, sampai-sampai Mikan mengerang kesal pada orang tersebut tak lain adalah Anna, dayang pribadinya yang tengah mencarinya.

"Mikan-sama!"

"Anna-chan!"

Mikan memeluk Anna, pemilik itu pun juga membalas pelukannya. Dikira Mikan menghilang begitu saja di tengah perayaan, tapi dia tak mampu bertanya lebih dikarenakan tubuh gadis dipeluknya terasa sangat gemetaran. Entah apa yang terjadi pada Nona-nya waktu dia ditinggalkan begitu saja.

"Anda baik-baik saja?" tanyanya sambil mengusap-usap punggung gemetaran tersebut. Mikan menggeleng, tak mau menjelaskan apa yang terjadi menimpa dirinya.

"Aku baik-baik saja. Kita lebih baik pulang," sahutnya melepaskan pelukan yang dia berikan untuk meredam kekesalannya dengan cara meninggalkan Anna.

"Maaf, Mikan-sama. Rei-sama nggak bisa pulang dulu katanya kita disuruh menginap di rumah Shiki-san. Katanya Rei-sama, kita harus menginap beberapa hari dulu di sini selama Tuan dan Nyonya berada di luar kota. Saya telah membawa pakaian Anda, jadi Anda nggak perlu khawatir," jelasnya membuat Mikan shock mental. Itu berarti pertemuan keduanya dengan pria bernama Natsume itu akan terjadi lagi. Itu tidak mungkin!

"Ta-tapi… bukannya Rei Onii-sama bilang, kita hanya datang ke perayaan ini?" tanya Mikan sangat ketakutan, semoga dibayanginya tidak akan terjadi.

"Maaf, Mikan-sama. Itu mendadak sekali dengan perubahan rencana kita." Anna membungkukkan badan, meminta maaf. Mikan terhuyung, dan berlari pergi meninggalkan Anna untuk bertemu dengan kakak tersayangnya.

"Aku mau ketemu Onii-sama!"


Di samping itu, Natsume dikerumuni banyak orang untuk meminta penjelasan soal gadis yang dibawa oleh pria berambut hitam berantakan tersebut. Pria itu hanya tenang menanggapi, hanya saja dia sangat kesal pada pencegahan yang diberikan gadis berambut hijau yang terus menerus memintanya untuk berhenti.

"Natsume-kun! Kenapa kau seenaknya saja membawa gadis itu ke sini? Apa kau nggak memahami perasaanku?" rengeknya, pemilik nama Sumire Shoda.

"Berisik! Dan itu bukan urusanmu, bodoh!" sahut Natsume datar dan dingin.

"Natsume, apa kau nggak waspada siapa gadis itu sebenarnya? Dilihat kimono dikenakannya, sepertinya dia bukan orang biasa." Ruka berpikir keras soal kimono yang menyelimuti tubuh gadis mungil tadi, bercorak indah dan tak mungkin dia berasal dari sini.

"Aku nggak peduli, Ruka!"

"Tapi, kau nggak seharusnya bikin dia marah, Natsume," ucap Tsubasa khawatir. "Dia sangat marah padamu, karena kau terus menghalanginya pergi. Apa kau nggak kasihan? Kau hampir menyakitinya."

"Bukan urusanmu, Tsubasa!"

Sebenarnya Natsume tak berniat menyakiti Mikan apalagi membuatnya marah. Lagipula keinginan Natsume sangat sah-sah banget, dikarenakan baru pertama kalinya dirinya jatuh cinta padahal banyaknya gadis-gadis mengerumuninya termasuk gadis bangsawan. Meski memang Mikan adalah seorang bangsawan, pemikiran Natsume soal itu, urusannya belakangan. Yang dia mau, membuat gadis itu jatuh cinta terhadapnya meskipun harus membuatnya marah ataupun trauma.

"Kalian lebih baik bekerja. Apa kalian nggak menyadari, orang-orang antri di belakang sana?" tunjuk Natsume mengacungkan ibu jari ke belakang dapur. Sontak mereka terperanjat kaget dan cepat-cepat menangani tamu-tamu yang datang dua kali lipat dari biasanya.

Ruka hanya bisa mendesah pada ulah tindakan sahabat kecilnya. Sedangkan Sumire hanya menggigit kain lap, menangisi pola perilaku Natsume yang akhirnya telah mendapatkan pujaan hatinya.

Pria bermata merah indah ini kembali menunaikan aktivitasnya tanpa mempedulikan godaan dan celutukan dari para teman-temannya termasuk sahabatnya yang sudah lama mengenalnya. Yang diinginkan Natsume, semoga sore ini berubah jadi malam dan besok adalah pertemuan keduanya dengan Mikan. Dia sangat menantikan hal itu.


Selagi Natsume menangani tamu-tamu yang didatangi Mikan tadi. Gadis disebut nama Mikan, berjalan menuju rumah mungil tapi bertata nuansa kemewahan di dalamnya. Semua rakyat jelata sering ke sini untuk mengeluhkan apa yang mereka timpa. Mikan sungguh terharu pada tindakan Shiki, selaku sahabat terbaik kakaknya.

Mikan masuk ke dalam berjalan penuh keanggunan dan tata cara masuk ke dalam tanpa membunyikan suara derap langkah sedikit pun di atas lantai berupa kayu tatami, mendekati kakaknya lagi berbicara panjang lebar tentang kondisi malang dari salah satu penduduk desa ini, yang meminta bantuan pada keluarga Masachika.

"Onii-sama?"

Semua mata menolehkan tatapannya kepada seorang gadis berbicara halus, kagum pada penampilan gadis itu sangat begitu anggunnya dan masuk sambil menghormati para penduduk yang suka mengeluhkan setiap peristiwa yang menimpanya pada Shiki.

"Mikan? Ada apa?" tanya Rei tersenyum.

"Aku ingin bicara."

"Jangan dulu. Aku dan Shiki sedang berbicara dengan mereka. Kau sabar dulu," tahan Rei mengangkat tangannya pada Mikan yang duduk bersimpuh di sampingnya untuk jangan banyak bicara.

"Baiklah. Akan aku bantu."

"Terima kasih, Masachika-sama!" tunduk mereka bersamaan, berterima kasih pada Shiki yang memberikan bantuan berupa makanan dan pakaian walaupun mereka telah mendapatkan jatah keuangan dari pencuri bertopeng.

Mereka berulang-ulang mengucapkan kata terima kasih, Mikan dan Rei sangat kagum pada sifat Shiki yang suka menolong sesame meski mereka berbeda srata social.

Selesai melakukan bantuan, Rei kembali menatap Mikan. "Apa kau marah, karena Onii-sama memintamu menginap di rumah Shiki untuk beberapa hari?"

"Hu-um." Mikan mengangguk cepat.

"Mikan, boleh saja kita pulang. Tapi, tuntutan dari penduduk desa menyuruhku untuk membantu mereka. Desa ini hampir mau diambil oleh Pemerintah. Mereka nggak bisa lagi membiarkan para penduduk desa hidup seperti mereka lagi, Pemerintahan mau menghancurkan mereka. Kita nggak bisa membiarkan itu terjadi," jawab Rei berwajah sedih dan suram.

Hening.

"Jika kau mau pulang, aku akan membiarkanmu tanpa diriku di sampingmu." Rei mengusap kepala Mikan yang tertunduk malu. "Aku tahu, kau sama sepertiku. Ingin membantu sesama. Dan aku senang dengan hal itu, Mikan."

"Aku mau bantu," ucap Mikan lirih.

"He?"

"Aku akan tinggal di sini sampai Ayah dan Ibu pulang," ucap Mikan tegas. Rei dan Shiki menghembuskan napas panjang.

Baru beberapa detik kemudian, suara perut dari Mikan berbunyi. Shiki dan Rei menahan tawanya membuat wajah Mikan memerah merona mirip kepiting yang baru dikeluarkan dalam panic panas. Rei mengacak-acak rambut Mikan, masih tertawa.

"Ya ampun, Mikan. Bilang kalau kau lagi lapar." Dihentikan tawanya karena itu telah membuat Mikan cemberut. "Karena nggak ada makanan di rumah Shiki dikarenakan dayang-dayangnya lagi pergi merayakan perayaan, kita makan di luar. Dan ada sebuah tempat yang menyajikan makanan enak, dan semoga kau menyukainya."

Mikan mengangguk cepat.

Mereka pun berangkat dari sana tanpa Anna karena dayang Mikan itu sedang menulis surat untuk sahabat terbaik Mikan, Hotaru Imai. Bahwa Mikan sedang tidak ada di rumah besarnya dan tinggal di rumah Shiki. Baru setelah itu, Anna menyuruh pengawal keluarga Sakura untuk mengirimnya ke kediaman Imai secepat mungkin.


Langkah kaki mereka sangatlah anggun. Malam telah terpasang di langit-langit, menggantikan yang sore senja. Mereka tiba di tempat paling familiar di ingatan Mikan, tapi dia tak tahu apa itu. Sejenak saja dirinya berhenti bergerak, tapi tarikan kuat dari kakaknya melepaskannya kembali ke dunia nyata.

"Permisi."

"Selamat datang."

Kembali Mikan terkejut saat bertemu dua pasang mata merah yang juga terkejut melihatnya. Mereka saling diam-diam, lalu kembali bergerak. Natsume mendekatinya untuk memberikan menu sedangkan Mikan hanya bisa duduk diam seolah-olah tak pernah terjadi.

"Mau pesan apa?" ucapnya datar.

"Kami pesan tiga mangkuk bakmi. Dimohon cepat, karena adikku sudah sangat lapar," sahut Rei terkekeh geli melihat adiknya merona malu.

"Akan kami siapkan secepatnya, Tuan." Natsume berbalik pergi ke belakang. "Pesan tiga mangkuk bakmi untuk meja di ujung."

Kepala Tsubasa dikeluarkan dari sela-sela dapur, terkejut pada sosok orang dikenalnya tadi siang. "Hei, bukannya itu gadis tadi siang? Kenapa dia datang lagi ke sini?"

"Diam kau, Tsubasa! Bikin saja bakmi itu!" bentak Natsume, marah.

"Nggak usah marah-marah begitu, Natsume." Tsubasa menggeleng-gelengkan kepalanya, heran pada tingkah laku Natsume yang cepat sekali marah.

Saat makanan itu lagi dibuat, Mikan semakin gelisah jika seandainya kakaknya dan Shiki tahu apa yang terjadi pada dirinya lewat pria itu. Namun, perasaan gelisahnya tak kunjung berhenti dikarenakan ada orang yang mengawasi, yang tak salah lagi adalah gadis berambut hijau.

Tiga bakmi selesai dimasak, ditaruh ke mangkuk besar di atas nampan. "Sudah selesai. Ruka, kau bawa ini!" perintahnya. Tapi, Natsume gencar mengambil nampan itu. "Kenapa harus kau, Natsume?" tanya Tsubasa, terkejut.

Tak dihiraukannya, Natsume segera mengantarkan tiga mangkuk bakmi itu ke meja gadis tersebut. Gadis yang diinginkannya. Yang sekarang gemetaran karena takut.

Diletakkan tiga mangkuk berisi bakmi di atas meja. Mereka tersenyum, lalu makan. Tatapan mata merah Natsume melihat Mikan tidak menyentuh sama sekali mangkuk di depannya, menghembuskan napas berat. Diambil tangan Mikan tanpa malu-malu, dibisikkan sesuatu di telinganya.

"Nggak baik seorang gadis kecil sepertimu tidak makan bakmi ini. Bukannya kau lagi lapar?" ucapnya datar. Sontak Mikan terperangah.

Bisikan itu membuatnya hilang kata-kata sehingga menyadarkan Shiki dan Rei yang lagi makan, terhenti. Mereka menatap dua orang saling berpandangan intens membuat dua orang laki-laki ini menduga ada sesuatu di balik ini semua, tapi itu tak mereka sangka. Laki-laki di depan mereka ini jatuh cinta pada adik perempuannya.

-TBC-