DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Five: First Kiss
"Kau kenal dengan adikku?"
Perkataan Rei memutuskan pandangan itu ke Mikan, Natsume menyeringai sambil menggeleng. "Bukan, Tuan. Kami nggak pernah saling mengenal. Tapi, saya pernah mengenal tipe kriteria gadis ini yang sering malas makan padahal dirinya lagi kelaparan." Natsume membungkukkan badannya dan berbalik pergi, meninggalkan Mikan yang tercengang.
"Lihat itu, Mikan. Dia saja melihatmu nggak makan, padahal kau kelaparan, bukan?" tanya Shiki memerintah Mikan untuk memakan makananya. Mikan hanya bisa menuruti perintah Shiki.
Beda dengan Rei yang menyadari tindakan pria berambut hitam yang memandangi Mikan begitu intensnya. Serasa dunia ini adalah dunia milik mereka berdua. Tapi itu hanya dugaan Rei saja, bukan yang sebenarnya terjadi. Takutnya itu hanya sebuah dugaan yang mempersulitkan adiknya.
Mikan menyuap mie ke mulutnya. Tenggorokan dan lambungnya mencerna setiap jengkal daging mie tersebut. Rasanya sangat enak dan pas di lidah. Mikan tak berhenti menyuap mie bakmi buatan tangan pemilik warung makan ini, Andou.
"Enaaak!" seru Mikan membuat orang-orang sekelilingnya menatap ke arahnya, terkejut. Langsung menundukkan kepala, malu-malu. "Maafkan saya karena berisik."
Natsume terkekeh geli pada perbuatan Mikan, buru-buru memalingkan mukanya untuk segera mungkin tertawa terbahak-bahak bersama Ruka, sahabat kecilnya. Tsubasa dan temannya, sang Kacamata juga terkekeh geli pada tindakan Mikan yang berteriak, baru pertama kali makan buatan tangan seorang Andou bukan dari tangan para dayang-dayangnya.
"Bolehkah aku minta tambah lagi?" tanya Mikan pada kakaknya, mengangkat mangkuk kosong di atas kedua tangannya.
"Kau menyukainya?"
"Iya! Baru kurasakan makanan ini sangat enak sekali!" Mikan memandangi mangkuk kosong tersebut, terasa nikmat di lidah dan enak juga di lambungnya. Terasa terhipnotis pada bakmi yang telah habis dimakannya tadi.
"Ya sudah. Sana minta sama pelayannya." Rei menyuruh Mikan, adiknya, untuk datang ke tempat orang dimaksudkannya. Sengaja, itulah pemikiran Rei. Untuk mempertemukan Mikan kembali pada pria tersebut. "Asal jangan sekali-sekali kau memesan sake. Aku nggak suka karena kau nggak boleh meminumnya. Mengerti?" saran Rei pada Mikan.
Gadis kecil itu mengangguk dan beranjak pergi ke belakang dapur.
Sementara itu, pesan gulungan dari Anna, dayang Mikan, telah sampai di kediaman keluarga Imai. Nonoko sebagai dayang Hotaru, mengantarkan pesan itu kepada yang bersangkutan. Hotaru Imai sedang memetik kecapi untuk menenangkan adik sepupunya yang tengah tertidur di pangkuan Misaki Harada, wanita berambut merah jambu, yang tengah mengelus rambut anak laki-laki berambut abu-abu.
"Hotaru-sama, ada kiriman pesan untuk Anda dari Anna."
Sebelum Nonoko masuk, terlebih dahulu membungkukkan badan lalu menyerahkan sebuah surat gulungan kepada Hotaru yang berhenti memetik kecapi. Dia membuka gulungan tersebut, takjub. Mata ungunya terbelalak kaget. Misaki bingung melihatnya.
"Ada apa, Hotaru?"
"Mikan disuruh menginap di rumah Shiki-san, Misaki Onee-sama," jawab Hotaru datar namun sebenarnya dia sangat terkejut. "Aku harus ke sana karena banyak orang mengincar Mikan yang sangat cantik itu untuk dijadikan istri." Hotaru bangkit berdiri.
"Tapi, ini sudah malam, Hotaru-san. Kenapa nggak besok saja kau pergi ke sana, pagi-pagi?" tanya Misaki sambil menggendong Youchi ke dalam pelukannya.
"Aku nggak bisa, Misaki Onee-sama. Mikan membutuhkan aku sekarang apalagi kemarin malam ada Pencuri masuk ke rumah ini padahal sekian banyak pengawal, Pencuri itu berhasil kabur." Ekspresi Hotaru sangat dingin, itu bisa dibuktikan lewat wajahnya yang datar. Karena barang berharganya telah habis dikuras oleh Pencuri Bertopeng tersebut.
"Baiklah, kalau itu maumu. Sebaiknya kau membawa adik sepupumu kembali ke kamarnya. Dia masih ingin mendengar suara kecapimu," pinta Misaki menyerahkan Youchi ke tangan Nonoko dan membawanya ke kamar. Hotaru menyerah dalam hal ini.
"Baiklah, Misaki Onee-sama."
Kembali ke tempat Mikan, datang ke dapur untuk membuatkan kembali bakmi super enak ini. Diulurkan kepalanya mencari-cari orang dikenalnya, malah bertemu seorang pria tampan berambut hitam dan ada tato bintang di bawah mata kirinya.
"Ada apa, Nona manis?"
"Anooo… aku mau dibikinkan bakmi lagi," sahut Mikan merah padam, gugup. Kagum pada polesan makhluk berbeda jenis kelamin dengannya di depannya. "Bisakah?"
"Tentu saja untuk Nona man— adauw!" ringis Tsubasa memegang kepalanya barusan dijitak pria bernama Natsume. "Apa yang kau lakukan, Natsume? Kau memukul kepalaku di depan gadis manis di depan, ha?"
"Diam kau, bodoh!" geram Natsume, tak suka ada orang yang membuat gadis paling diingikannya ini berbalik menyukainya. "Biarkan aku yang membuatkanmu bakmi. Kau duduk di sini saja."
"Humm… iya."
Mikan pasrah duduk di ruang tunggu, istilahnya dekat dapur. Mikan mengamati lekuk dapur yang sederhana ini, berbeda sekali dengan dapurnya yang ada di istananya. Semuanya sangat sederhana. Namun, seperti kesederhanaannya tempat ini betul-betul menyajikan sebuah makanan enak yang pas di lidah dan sangat disukainya.
"Anoo… boleh aku tanya?" tanya Mikan berusaha terlihat kuat menghadapi pria yang sedang memasak dibantu Tsubasa.
"Hn."
"Sudah berapa lama kau bekerja di sini? Dan sejak kapan, bakmi ini sangat enak sekali?"
"Sudah lama dan kau nggak perlu tahu tentang hal itu. Nanti saja setelah aku mengenalmu lebih jauh, "gumam Natsume membuat Mikan terperangah heran.
Karena jengkel pada jawabannya, Mikan bangkit berdiri, meletakkan mangkuk kosong di kursi sampingnya. "Nggak apa-apa kalau kau nggak mau bilang. Nggak usah kau buatkan bakmi untukku. Aku mau pulang saja," katanya sambil balik badan.
Tak suka melihat gadis itu pergi seenaknya, Natsume meninggalkan masakan baru dimasaknya diganti oleh Tsubasa. Diraih tangan Mikan tersebut, tapi karena tarikan itu sangat kuat. Mau tak mau, tubuh Mikan tertarik juga. Tubuh keduanya jatuh bersamaan, mengguncangkan dapur hingga Tsubasa harus melindungi peralatannya agar tidak jatuh.
Namun tak lama kemudian, Tsubasa terkejut dan melebarkan mata ungunya pada pandangan di bawahnya. Mereka berdua lagi… berciuman! Itu tak disangka-sangka. Ciuman tak disengaja karena mereka jatuh saling menubruk tubuh masing-masing.
Mikan dan Natsume juga sama-sama terkejut. Mereka masih terdiam di sana, saling menyentuhkan bibir masing-masing. Pemandangan ini membuat terkejutnya Ruka dan shock-nya Sumire dan terperangahnya si Kacamata. Tsubasa juga tak mampu berkata-kata, masih menganga melihat pemandangan tersebut.
Mikan bangkit secepat mungkin sambil menutup bibirnya, hampir menangis. "A-apa yang ka-kau lakukan padaku?"
"Seharusnya aku yang bilang. Kau enak saja lari, padahal aku sedang membuatkanmu makanan." Tapi, Natsume memegang bibirnya yang hangat disentuh gadis disukainya pada pandangan pertama, tersenyum dalam hati. "Sepertinya kau baru pertama kali ciuman?"
"Diam kau!"
"Na-Natsume…"
Pria berambut hitam mendongak ke atas, melihat Ruka masih memasang wajah terkejutnya. "Lebih baik kalian menenangkan tamu-tamu di luar. Mereka mungkin menyadari ada sesuatu aneh di sini."
Berkat perintah Natsume, Ruka dan Kacamata berangkat untuk memberitahukan pada tamu-tamu warung mereka bahwa tidak ada terjadi apa-apa. Sedangkan Sumire harus ditenangkan oleh Tsubasa, membawanya ke belakang. Dan Natsume masih menatap Mikan yang menahan air matanya karena dilecehkan begitu saja sejak tadi siang.
"Ka-kau betul-betul mesum!" ucap Mikan kasar sambil menutup mulutnya yang tadi dicium tak sengaja oleh Natsume dan disekanya kuat-kuat.
Natsume mengangkat bahu. "Itu konsekuensinya karena kau suka sekali melarikan diri dariku"
Gemetaran? Iya. Marah? Apalagi. Terkejut? Tentu saja. Kaget? Jangan ditanya. Mikan berusaha bangkit dari keterpurukan, membalikkan tubuhnya meninggalkan dapur dan warung tersebut. Hal ini dikejutkan oleh Rei dan Shiki tengah asyik berbicara, langsung mengejar Mikan. Membiarkan pembayaran ditaruh di meja, Ruka mengambilnya setelah itu.
"Sialan!"
Ruka melirik Natsume yang frustasi atas usahanya membuat gadis itu lari lagi darinya. Dia pun meninggalkan warung tersebut, dan pulang ke rumahnya. Di sana ada adik perempuannya sedang sakit dan Ibunya yang tengah mencari nafkah juga, menunggunya pulang. Untuk saat ini, sepertinya Natsume dan Mikan butuh penyegaran agar keesokkan harinya, mereka bisa bertemu lagi untuk bersiap-siap.
-TBC-
