DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Six: Meeting, again


Pagi telah tiba, cahaya matahari bersinar menghiasi taman kediaman Masachika. Banyak orang berlalu lalang, terutama dayang dan para pengawal terbangun untuk menjalankan tugasnya masing-masing. Di kala itu pula, seorang laki-laki berambut kuning mengatur jalannya tugas masing-masing para pelayan dan pengawalnya.

Sebuah ruangan remang-remang berkat lampu lilin di sekitar futon, sebuah tempat tidur milik seorang gadis berambut cokelat panjang dikepang setengah, terbangun saat merasakan suara kokok ayam di luar. Mata cokelatnya dikucek-kucek, dan menguap. Rasa kantuknya tak kunjung hilang akibat dirinya susah tidur waktu malam tadi.

Direntangkan kedua tangannya ke atas, menguap lebar-lebar. Kimono putih yang menghiasi tubuhnya, menyibakkan selimut yang menyelimutinya, menatap ke luar di mana semua orang pada ribut. Suasana ini sangat berbeda di rumahnya.

Anna tiba-tiba masuk membawakan sebuah baskom besar berisi air diikuti oleh para dayang-dayang keluarga Masachika. Mereka masuk setelah membungkukkan setengah badannya untuk meminta izin pada Mikan. Gadis itu mengiyakan. Mereka pun masuk, lalu memberikan baskom berisi air kepada gadis tersebut, mencuci kakinya, mengusap wajahnya dengan air dan masih banyak lagi. Mikan juga menggosok gigi seadanya.

Selesai menyelesaikan semuanya, Mikan mengenakan kimono 12 lapis. Rasanya memang gerah, tapi inilah adat yang harus dilakukannya demi menjaga baik nama kebangsawanannya. Rambutnya yang tadi dikepang, dibiarkan terurai panjang sampai ke lantai tatami.

"Mikan-sama, Hotaru-sama akan datang ke sini berbarengan dengan Misaki-sama dan Youichi-sama," ucap gadis berambut merah muda keriting, membungkukkan badan. Mikan duduk bersimpuh, mendengarkan. "Mereka akan tiba beberapa jam lagi. Dimohon Anda sarapan dulu."

"Onii-sama mana?"

"Rei-sama dan Shiki-sama sedang berburu. Mereka berdua nanti balik setelah makan siang selesai," sahut Anna lembut.

Mikan hanya bisa ber-oooh ria. Sehari saja dia tak begitu senang di tempat ini, biasanya sangat senang. Itu dikarenakan Mikan bertemu dengan pria tersebut, Natsume, orang yang telah membuat hidupnya hancur berkali-kali. Bikin dirinya malu. Dan… Natsume telah merebut ciuman pertamanya.

Disentuh bibirnya yang hangat, teringat betapa dekatnya mata cokelat dan mata merah menyala Natsume. Dirinya jadi memerah total, menyentuh pipinya yang panas memakai kedua tangannya. Mikan merasa ingin sekali bertemu Natsume, walau hanya sekali saja. Ditepis ingatan itu, ini bukan Mikan sebenarnya. Tapi, orang lain!


Di tempat lain, pria berambut hitam berantakan terjaga dari tidurnya sedang membantu Ibu dan adiknya memasak. Ayahnya meninggal dunia akibat perang, jadi mereka bertigalah yang tinggal di tempat ini, tempat tinggal sederhana tapi bisa menampung tiga orang. Memang sangat kecil, beda dengan rumah mungil dimiliki Ruka dan keluarganya maupun Tsubasa. Natsume, orang yang tak suka memiliki rumah mewah. Yang penting bersama adik dan Ibunya, adalah yang terpenting.

"Onii-chan, ini mau ditaruh di mana?"

Suara kecil adik Natsume, Aoi, membuat pria itu menyeringai. Dibantu adiknya mengangkat barang-barang yang tak terlalu berat. "Biarkan Onii-chan yang mengangkatnya. Aoi bantu Ibu saja," Natsume menyuruh Aoi membantu Ibunya yang kepayahan dalam memasak.

Berkat Aoi dan Natsume, Kaoru bisa terbantu meski kesehatannya sangat memburuk. Saat Natsume mau mengajaknya ke tabib, tapi tabib tak mau membiarkan anak-anak jelata masuk ke dalam klinik mereka. Natsume geram pada mereka, dan berniat akan menghancurkan mereka satu per satu. Untung saja Kaoru menghentikannya sebelum Natsume memporak-porakdakan semuanya.

"Ibu… baik-baik saja?" tanya Natsume khawatir.

Meski Natsume bersifat dingin, angkuh, sombong dan acuh tak acuh. Tapi, dia sayang sekali sama Ibu dan adiknya. Tak mau berniat punya kekasih walau banyak mengincarnya.

"Ibu baik-baik saja," sahut Kaoru tersenyum. "Ibu mau pergi dulu sebentar. Kau jaga adikmu, ya. Tenang saja, Ibu pasti balik lagi ke sini dalam keadaan sehat." Dielus lengan kekar Natsume, tersenyum lemah.

Natsume hanya bisa mengalah saja, tak mau memberontak. Takut Ibunya akan kecewa padanya. Dilihat Ibunya pergi dalam keadaan sempoyongan, Natsume berbalik badan kembali membantu Aoi.


Sementara itu, Mikan yang tak mau berlama-lama menunggu kakaknya dan sepupunya pulang. Lebih baik dirinya pergi jalan-jalan biarpun pakaiannya berupa kimono 12 lapis. Soalnya sangat nanggung, dan dia paling tidak suka berdiam diri tanpa melakukan apa pun.

"Aku mau pergi saja!" geramnya marah, lalu berlalu pergi.

Beda sekali dengan rumahnya, di rumah Masachika, Mikan tak perlu mengendap-endap. Di sini memang banyak sekali orang-orang keluar masuk hanya untuk berkonsultasi dan meminta bantuan pada Shiki. Mau tak mau, Mikan kagum pada usaha Shiki yang suka membantu orang lain.

Baru seperempat jalan dia keluar, dia malah bertabrakan dengan seorang wanita setengah baya. Tubuh wanita itu limbung, Mikan menyadarinya. Ditangkap tubuh wanita itu agar tidak jatuh ke tanah keras di bawahnya.

"Anda nggak apa-apa?" tanya Mikan mengkhawatirkannya, merasakan tubuh wanita itu lemas tak berdaya. "Anda pucat sekali. Saya bisa mengobati Anda."

Dengan napas terengah-engah, wanita berambut hitam dan mata merah yang sangat dikenal Mikan, tersenyum lemah dan menggeleng. "Saya nggak apa-apa, Nona manis. Saya mau pulang saja. Anak-anak saya sedang menunggu di rumah."

"Bolehkah saya mengantar Anda pulang?" tawar Mikan takut wanita ini tiba-tiba ambruk di jalan. "Saya bisa mengobati Anda. Saya pernah mempelajari teknik pengobatan sejak kecil, jadi mungkin mampu menyembuhkan penyakit Anda."

"Terima kasih," sahut wanita itu lemah.

"Biar saya bantu."

Mikan mengangkat tubuh lemah wanita tersebut, membawanya pulang yang tak jauh dari kediaman Masachika. Rumah mungil nan kumuh, juga halaman penuh barang berserakan. Tapi bisa dilhat, tempat ini sering sekali dirawat sampai tuntas. Baru kali ini, Mikan menyukai tempat ini meski itu terlihat kumuh di luarnya.

"Ini rumah Anda?"

"Iya… Nona."

"Saya mohon jangan panggil Nona. Panggil saja Mikan," ucap Mikan tersenyum sedih melihat betapa pucatnya wajah wanita di rangkulannya.

"Iya, Mikan."

Mikan masuk ke dalam. Sebenarnya gadis itu memang sangat susah memasuki rumah mungil ini, dan berakibat mengotori kimono 12 lapisnya. Tapi, Mikan tak peduli. Yang dipikirkannya hanyalah wanita dirangkulannya. Baru saja masuk, suara teriakan khawatir sangat serak terdengar di ujung sana.

"Ibu!"

"Ibuu!"

Mikan terkejut melihat anak perempuan kecil sama persis dengan umur Youichi, memeluk wanita yang dipanggil dengan nama Ibu. Mikan juga mendongak melihat seorang pria berambut hitam berantakan juga khawatir pada Ibunya. Gadis yang merangkul wanita tersebut memiringkan kepalanya, rasanya pernah mengingat di mana.

"Aku 'kan sudah bilang, Ibu harus banyak istirahat!" bentak pria mata merah menyala, melirik sekilas orang di sampingnya sedang merangkul sang Ibu. Dia sangat terkejut. Mikan juga sama.

"Kau!" seru mereka bersamaan.

"Kalian kenal?" tanya wanita tersebut, dipanggil Kaoru.

"Ibu! Kenapa ada perempuan jelek ini di sini? Bantu Ibu, pula!" Ditarik tubuh lemas lunglai Ibunya dari rangkulan Mikan membuat gadis itu terperangah kaget. "Kau nggak usah membantu Ibuku. Kau bukan apa-apa di sini!"

"Hei, aku datang ke sini hanya untuk membantu Ibumu!" geram Mikan karena dibentak seperti ini.

"Lebih baik kau pulang!" usir Natsume sengaja melakukan itu. "Bukannya kau lebih suka melarikan diri dariku!"

"I-itu..." gagap Mikan, tak bisa berkata apa-apa.

"Natsume! Jangan marah-marah sama Mikan! Dia ingin menolong Ibu. Itu saja!" Kaoru amarahnya memuncak, tak suka melihat anaknya menyalahkan Mikan. Ditatap Mikan yang tertunduk malu. "Nak Mikan, katanya kau mau menyembuhkan Bibi. Benar 'kan?"

Mikan mengangguk, tersenyum.

"Kalau begitu, kenapa nggak sekarang saja?" tanya Kaoru. "Bantu Ibu masuk ke rumah, Natsume. Lalu, antar Mikan ke tempat obat-obatan."

Dibantu tubuh Kaoru untuk masuk ke dalam rumah. Mikan hanya bisa menunggu di luar. Setelah itu, Natsume mengantarkan Mikan ke tempat obat-obatan di mana dulu Ayah mereka merupakan seorang tabib tersohor di kotanya. Mikan memilih-milih daun obat yang ada, sedangkan Natsume berdiri bersandar di balik pintu sambil bersedekap.

Selesai memilih-milih, Mikan kembali diantarkan ke dalam rumah keluarga Hyuuga. Rumah mereka memang sangat kecil, namun sangat rapi. Mikan kagum pada penghuni ini, masih tetap merawat rumah mereka meskipun itu sudah sangat tua.

"Bibi, berbaringlah."

Kaoru merebahkan tubuhnya di atas kasur futon. Aoi menyediakan air minum dan beberapa sayuran di minta oleh Mikan. Mikan memberikan sayuran campuran obat yang telah dipilihnya tadi. Dibantu Aoi, Mikan meminta Kaoru meminum obatnya. Karena telah disediakan, Mikan meminta Aoi maupun Natsume untuk selalu memberikan obat telah dipilihnya. Dua minggu baru ada hasilnya.

"Apa aku bisa mempercayaimu?" tanya Natsume mengangkat alis.

"Jika aku salah, kau bisa melakukan sesuatu padaku," sungut Mikan tak suka ada orang yang tidak mempercayai kemampuannya dalam mengobati pasien.

Berkat obat yang ditawarkan Mikan, Kaoru tertidur pulas. Sepertinya obatnya sangat mujarab, tubuh lemas Kaoru menghilang begitu saja. Mikan pamit pulang.

"Aku pulang dulu. Nanti datang lagi."

Dicengkram tangan Mikan untuk menghentikannya pergi. "Tunggu sampai Ibu bangun baru kau pulang. Aku takut kalau kau mau melarikan diri jika Ibu kenapa-kenapa."

Sesungguhnya Mikan berniat membantahnya, tapi karena keegoisan pria di depannya. Dia hanya bisa pasrah saja. Jika Ibunya sudah bangun dan lebih sehat, Mikan bisa bernapas lega. Dia takut terjadi apa-apa dengan dirinya lagi, sejak kejadian ciuman pertama yang tak sengaja tadi malam.

"Baiklah."

-TBC-