DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Seven: Hot Kiss
Kereta kuda berhenti di depan gerbang kediaman Masachika. Salah seorang prajurit turun dari kuda, membuka pintu kereta kuda dan membantu dua sosok perempuan cantik turun dari sana. Walau mereka dari Jepang, tapi kereta kuda ini benar-benar sangat membantu karena diberikan oleh orang-orang luar negeri.
Kimono 12 lapis menyelimuti tubuhnya yang manis, rambut hitam pendeknya dan juga warna mata ungunya yang cantik juga dingin, mengamati sekelilingnya dengan biasa saja. Selesai dirinya, seorang perempuan berambut merah muda sebahu turun. Kimono 12 lapisnya juga menyelimuti tubuhnya yang tinggi. Kulitnya putih, terpancar terang bersamaan sinar matahari. Dia juga menurunkan seorang bocah laki-laki berusia 7 tahun, berambut hijau dan bermata perak.
Kedatangan mereka bertiga sangat ditunggu-tunggu keluarga Sakura terutama Mikan, tapi gadis itu tidak berada di kediaman Masachika. Tidak ada yang tahu ke mana pergi Mikan sebenarnya.
Anna, selaku dayang terbaik Mikan, duduk bersimpuh untuk memberi hormat kepada Hotaru, Misaki dan Youichi. Tiga anak bangsawan, merupakan anak menteri paling terkaya di kota Kyoto ini.
"Selamat datang, Hotaru-sama, Misaki-sama, Youichi-sama."
Sambutan meriah itu juga diikuti oleh penduduk rakyat jelata yang datang ke rumah Masachika. Mereka memberi hormat, karena ketiga orang ini adalah anak-anak menteri di Pemerintahan.
"Di mana Mikan?"
Anna tercekat, tak tahu harus ngomong apa lagi. Dia terus-terusan menundukkan kepala ke tanah, tak mau mengangkat kepalanya kepada Hotaru yang bingung.
"Anna?"
"Ma-maaf, Hotaru-sama. Mikan-sama nggak ada di tempat."
Hanya itulah jawaban yang keluar dari mulut Anna. Hotaru kesal, karena anak itu tidak mau menunggunya. Seharusnya Mikan menunggu dirinya. Bukankah Mikan adalah sahabat sejati Mikan. Hotaru mengepalkan sepuluh buku-buku jarinya, merasa sangat tak dipercayai oleh gadis itu agar mau menunggunya datang.
"Kalau begitu, kalian harus cepat cari!" perintah Hotaru, menahan kesabaran.
"Hotaru!" seru Misaki, menyentuh pundaknya. "Jangan terlalu emosi. Mungkin Mikan sedang pergi ke suatu tempat. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu di kota ini? Sekalian menyegarkan pikiran kita," saran Misaki agar Hotaru tidak terlalu mengeluarkan kemarahannya pada dayangnya Mikan dan para dayang kediaman Masachika.
"Baiklah. Hanya sekali ini saja."
Misaki tersenyum. Digandeng tangan mungil Youichi, mengajaknya jalan-jalan berkeliling kota Kyoto dan beberapa desa lainnya sampai menunggu Mikan pulang. Orang-orang yang mengikuti mereka bertiga, tidak lain adalah Nonoko dan dayang lainnya.
Di lain tempat yang tak jauh dari kediaman Masachika, Mikan duduk bersimpuh sambil menunggu bangunnya Kaoru merasa bosan. Dirinya hanya bisa melihat Natsume menanam tanaman yang ada di halaman depan.
Aoi, adik Natsume, duduk bersimpuh di samping Mikan sambil membawakan makanan kecil untuk gadis tersebut tengah bosan. "Silakan makan dulu, Onee-chan."
Mikan terkejut pada betapa lembutnya anak Kaoru, berbeda sekali dengan Natsume yang bicaranya dingin kepadanya, tersenyum lembut. "Terima kasih, Aoi."
Mikan meraih kue yang sederhana, memakannya lahap. Tadi siang, memang dirinya belum makan. Untung saja, Aoi menawarkan. Diliriknya Natsume sedang menanam lagi, Mikan mendekatkan kepalanya untuk berbicara dengan Aoi.
"Ne, Aoi. Kakakmu itu kenapa nggak pernah tersenyum?"
Mata merah menyala Aoi menatap Mikan, tersenyum. "Onii-chan memang seperti itu, Onee-chan. Biasanya tersenyum, biasanya nggak. Tergantung bagaimana mood-nya," jawab Aoi asal.
"Masa?"
"Onee-chan belum percaya? Kenapa Onee-chan saja yang membuat Onii-chan tersenyum?" goda Aoi sengaja.
"Memangnya aku bisa?"
"Tentu saja bisa. Sejak tadi, Onii-chan nggak berhenti menyeringai. Onii-chan terus menatap ke arah Onee-chan, nggak pernah berhenti," goda Aoi lagi.
Wajah Mikan memerah saking malunya, karena Natsume sempat menatapnya terus di saat dirinya merawat Ibunya. Sambil memakan kue, Mikan tak mau bertanya apa-apa lagi. Dirinya sangat capek, entah kenapa.
Aoi terlihat bingung pada Mikan yang terdiam. "Onee-chan baik-baik saja?"
"Iya, aku baik—"
Kalimatnya terputus, karena Natsume menyentuhkan punggung tangannya ke kening Mikan. Mata cokelat Mikan melebar, melihat pria di depannya datang tiba-tiba.
"Kau panas. Lebih baik kau istirahat dulu."
"Tapi…"
"Nggak ada tapi-tapian!" geram Natsume.
Sebelum Mikan protes lagi, Natsume mengangkat tubuh Mikan dengan gaya ala pengantin yang selesai menikah. Natsume membawanya ke dalam kamarnya yang terletak tak jauh dari kamar Ibunya. Diturunkan Mikan ke lantai tatami, menyebarkan futon, lalu mengangkat Mikan di sana.
"Aku baik-baik saja. Kau nggak usa—"
"Aku 'kan bilang istirahat saja. Kalau Ibu sudah bangun, baru aku bilang sama kau!" bentak Natsume terus memarahi Mikan. Gadis itu tak lagi protes karena Natsume menyelimuti tubuhnya memakai selimut. "Apa lebih baik kau lepaskan kimono lapismu itu? Kau bisa sesak napas."
Malu, tentu saja. Mikan menggeleng. "Nggak! Nggak mau! Kau itu mesum!"
Natsume menyeringai. Natsume membelai kepala Mikan, lembut dan menenangkan. "Aku akan di sini sampai kau tertidur."
"Aku mau pulang!" bantah Mikan, berusaha mengangkat tubuhnya dari futon, tapi terhalang kedua tangan Natsume yang menyekapnya dari dua arah berlawanan. "Lepaskan!"
"Dibilang kau tidur saja dulu. Kau itu memang suka sekali membantah, nggak mau menuruti perkataan orang!" geram Natsume tak bisa menahan amarahnya. "Kubilang tidur, ya tidur!"
"Aku bisa merawat diriku sendiri, bodoh!" ronta Mikan terus melepaskan diri dari sengkapan kedua tangan Natsume yang menggenggam erat kedua tangannya di sisi berlawanan.
"Diam, jelek!"
Tanpa Mikan membantah lagi, Natsume menyentuh bibirnya dengan bibirnya. Dikecupnya lama-lama membuat Mikan membelalakkan matanya. Rontaannya menghilang. Yang ada, dia sangat tercengang pada perlakuan Natsume tersebut.
Ditarik kepala Natsume hanya beberapa saat, lalu kembali mencium bibir Mikan. Ciuman itu berbeda dengan ciuman tadi. Ciuman itu terasa berbeda. Dilumat bibir Mikan, mencecapnya hanya untuk bisa merasakan betapa manisnya bibir gadis yang ada di bawahnya. Mikan tak bisa lagi meronta, dia malah menikmati ciuman ini, malah membalasnya.
Natsume menggigit bibir bawah Mikan, menyuruhnya untuk membuka mulut. Mikan membukanya. Lidah Natsume masuk ke dalam mulut Mikan, menjejakki rongga dalam mulut Mikan dan beradu dengan lidah gadis itu. Ciuman ini benar-benar panas. Hal ini bisa dirasakan saat mereka berdua terus mencium tanpa ampun.
Mikan terengah-engah di dalam ciuman panas tersebut. Natsume melepaskan ciumannya, mengelus pipi Mikan begitu lembutnya. Dikecup keningnya, matanya, pipinya, hidungnya lalu bibirnya. Lalu, Natsume kembali menciumnya beberapa kali. Tak bisa membiarkan hal ini menghilang.
Mikan menikmatinya, merasakan ciuman panas itu membuat tubuhnya tiba-tiba panas. Tubuhnya bergelora. Tapi dia takut apabila itu terjadi, apa yang harus dikatakan pada orangtuanya? Juga kakak dan beberapa teman-temannya?
"Uhmm… Natsume."
Natsume melepaskannya, menatap Mikan penuh minat. "Hn?"
"Aku mau tidur."
Tidak ada jawaban.
Mikan menutup matanya, tertidur pulas.
Natsume mengusap pipi Mikan lembut, tersenyum. "Aku sayang padamu, bodoh."
Di lain tempat, Hotaru mendapatkan kabar bahwa Mikan akan ditunangkan oleh keluarga Mouri, keluarga bangsawan. Hotaru meringis karena Mikan akan dijodohkan oleh orang dari keluarga yang sering sekali menyengsarakan rakyatnya.
"Apa benar begitu, Nonoko?"
"Benar, Hotaru-sama. Orangtua Mikan-sama dalam perjalanan pulang ke rumah," sahut Nonoko, gadis berambut hitam panjang takut-takut.
"Sialan!" gumam Hotaru dalam hati.
Dirinya tak menyangka dirinya bisa mendapatkan berita mengerikan ini. Dikepalkan tangannya, dan berharap Mikan segera ditemukan.
-TBC-
Apa-apaan aku ini? /blush/
Aku buat cerita begitu panas di sini. Biarlah, nanggung. Apalagi cerita ini mungkin masih lama habisnya, sekali-sekali membuat mereka menderita. Nggak apa-apa 'kan? /jewer aja dia/ :D
