DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Eight: Uncontrollable Anger
Beberapa langkah kaki dari tiga orang bangsawan benar-benar banyak orang terutama penduduk desa memandangi mereka penuh kekaguman. Dikarenakan kimono mereka berjuntai sampai ke tanah. Diiringi beberapa dayang-dayang kepercayaan mereka. Meski berbeda dengan Mikan yang mempunyai rambut panjang menjulur ke bawah, mereka berbeda. Mereka berdua kecuali anak kecil berusia 7 tahun, memiliki rambut pendek hanya sebatas bahu.
Sesampainya sebuah warung makan yang berjarak beberapa kilometre dari rumah Masachika, ketiga orang bangsawan sengaja masuk ke sana untuk meredam kemarahan setelah menerima berita dari dayangnya soal perjodohan tersebut.
Pintu geser terbuka, suara berisik tadi terdengar tiba-tiba jadi hening tak terkendali. Hotaru, Misaki dan Youichi masuk ke dalam diikuti para dayang-dayang. Daripada duduk di bangku, mereka duduk beralaskan bantal duduk.
"Selamat datang."
Dua kata diucapkan seorang pria berambut pirang datang menghampiri mereka. Tak disangka-sangka tiga orang bangsawan datang ke tempat mereka hanya untuk mencicipi khas bakmi milik keluarga Andou.
"Mau pesan apa?"
"Berikan makanan terbaikmu di sini," ucap Misaki halus nan lembut.
Mendengar suara lembut tersebut, sontak laki-laki berambut hitam dan bertato melongokan kepalanya ke luar. Saking terkejutnya melihat gadis berambut merah muda tersenyum pada Ruka.
"Di sini ada bakmi disajikan dengan Kepiting, sayuran dan macam-macam," sahut Ruka enteng, sopan santun dalam menghadapi tiga orang memiliki tata krama luar biasa di keluarganya.
"Berikan aku bakmi dengan kepiting terbaikmu," kata Hotaru tajam.
Ruka mengerutkan dahi, menganggukkan kepala sangat mengerti. Ditatap beberapa orang di sana, "ada yang lain?"
"Hmm…," pikir Misaki menyentuhkan dagunya menggunakan jari lentiknya. "Bakmi terbaik untuk kami berlima. Bisa?"
"Iya! Akan kami siapkan, Nona-Nona," hormat Ruka membungkuk, lalu berlalu pergi ke belakang di mana Tsubasa menunggu dengan antusias. "Pesan bakmi disajikan dengan kepiting. Dan bakmi spesial untuk lima orang. Berarti totalnya enam. Dimohon cepat, karena gadis bangsawan berambut hitam nggak suka menunggu," katanya pada Tsubasa yang masih melamun.
"Woi!"
Berkat tepukan pelan di bahu Tsubasa, laki-laki ini langsung terperanjat kaget dan menolehkan kepalanya menatap Kacamata dengan tatapan tajam.
"Apa?"
"Katanya disuruh cepat. Kau mau mendapat ganjaran dari keluarga Imai, karena lamban?" gusar Kacamata memutar matanya, tak mengerti pada sifat Tsubasa suka melamunkan seorang gadis.
"Imai?!"
Kacamata kaget mendengar ucapan Ruka. Setelah mengucapkan kata-kata itu, Ruka mengibaskan tangannya tak bermaksud apa-apa. Dirinya kembali ke luar untuk melayani tamu yang datang mendadak. Kacamata dan Tsubasa hanya bisa terperangah melihat tingkah Ruka yang aneh.
Ruka terus menikmati layanan pada tamunya, tak mau menolehkan kepalanya melihat gadis berambut hitam pendek sebahu tersebut. Pikirannya mengarah pada Natsume yang pernah menjarah harta berharga milik keluarga Imai demi penduduk desa ini. Tak menyangka gadis keturunan keluarga Imai yang terkenal di kota Kyoto, ternyata ada di tempat ini. Di warung makan Andou!
Memikirkan soal kejadian tadi, Hotaru memasang wajah datar. Misaki kebingungan pada Hotaru terus kepikiran masalah tadi. Bisa berakibat fatal jika Mikan bersanding di pernikahan dengan laki-laki bodoh seperti Reo Mori. Bisa terjadi gencatan senjata pada tiga keluarga terkenal di Kyoto.
"Lagi memikirkan apa, Hotaru?"
"Aku nggak memikirkan apa-apa." Hotaru menyeduh teh ke dalam cangkir kecil, dan meminumnya dengan anggun. "Aku hanya memikirkan Mikan ada di mana. Itu saja."
"Tapi, kau pucat."
"Nggak apa-apa, Misaki Onee-sama. Aku baik-baik saja. Yang aku khawatirkan adalah Mikan," sahutnya cemas.
"Onee-sama pasti baik-baik saja," ucap Youichi tenang.
Hotaru tersenyum pada kepolosan dan ketenangan suara Youichi untuk menenangkan suasana tak enak ini. Diusap-usap rambut hijau Youichi, Hotaru menyunggingkan senyuman kecil.
"Kau memang hebat, Yo-chan."
Tiba-tiba pintu geser terbuka, menampilkan sosok mungil berambut hitam sebahu dan mata merah menyala. Ruka yang sedari tadi berdiri di depan meja tamu, terkejut melihat Aoi muncul di balik sana. Ruka menghampirinya, sangat berdekatan dengan meja yang didudukki Hotaru, membungkukkan badannya setengah agar sejajar dengan gadis kecil di depannya.
"Ada apa, Aoi?"
"Onii-chan, Aoi datang mau beli 4 bungkus bakmi," sahutnya riang.
"Empat?" tanya Ruka bingung, memiringkan kepalanya. Di pikirannya, tak mungkin di rumah Natsume ada tamu selain dirinya dan Tsubasa maupun Kacamata dan Sumire. "Di rumah Aoi, ada siapa? Kenapa bisa empat? Biasanya 'kan tiga."
"Ibu membawa seorang kakak cantik sekali. Dia merawat Ibu begitu baik. Sekarang Ibu sudah baikan, dan bisa bergerak sebebas-bebasnya," jawab Aoi sangat riang begitu mendapat keajaiban.
"Kakak cantik? Siapa?"
"Namanya Mikan Onee-chan!"
Tubuh Hotaru, Misaki dan Youichi kaku. Tak disangkanya nama itu disebutkan juga. Dilirik wajah Aoi yang tersenyum riang, pikiran Hotaru berkecamuk dan mempertanyakan, kenapa Mikan bisa berada di tempat orang asing? Dan kenapa pula, Mikan merawat salah satu penduduk desa tak lain adalah Ibunya anak kecil ini?
"Mikan?" tanya Ruka bingung. Merasakan pernah kenal dengan nama tersebut. "Sepertinya aku kenal dengan nama itu. Lalu, di mana Mikan sekarang, Aoi?" tanyanya sangat penasaran.
"Mikan Onee-chan lagi bersama Natsume Onii-chan, tidur bareng!" jawab Aoi lantang.
Suara dentingan jatuh di lantai tatami. Semua orang tertuju pada meja Hotaru yang tak sengaja menumpahi cangkir kecilnya ke atas lantai. Airnya merembes ke kimono berlampisnya, juga ke meja. Matanya tajam dan dingin. Semua orang bisa merasakan itu tanpa melirik matanya, auranya mencekam.
"Anda nggak apa-apa?" tanya Ruka khawatir.
Hotaru tak menjawab.
Bingung pada tingkah gadis di depannya, Ruka kembali ke Aoi. "Kenapa mereka bisa tidur bareng?"
"Nggak tahu. Tiba-tiba saja Onii-chan membawa Onee-chan masuk ke kamar tanpa bilang pada Aoi. Katanya, Onee-chan lagi sakit panas," jawab Aoi terdengar ketakutan saat merasakan aura dingin di dalam warung makan tersebut.
Cekalan di bawah kimono panjang Hotaru terlihat kusut. Matanya sudah sedingin es. Tak pernah dibayangkan ada orang nyelosor masuk ke dalam lingkungan Mikan, dan membawanya ke kamarnya. Sungguh hebat!
"Nih, Aoi. Empat bungkus bakmi telah tersedia. Nggak usah dibayar, karena Natsume yang akan membayarnya," goda Tsubasa menyerahkan empat bungkus bakmi ke Aoi. Gadis kecil itu menerimanya dengan senang hati, tersenyum lebar.
Saat Aoi mau pamit pulang, Hotaru bangkit berdiri. "Tunggu, gadis kecil!" geramnya tak tahan menahan amarah.
Langkah Aoi terhenti, menatap gadis berambut hitam berbalik badan. Aoi ketakutan dan bersembunyi di belakang punggung Ruka, karena mata ungu Hotaru sangat dingin seakan-akan menutupi kemarahannya.
"Di mana rumahmu?" tanya Hotaru menatap Aoi penuh ketajaman.
"Be-beberapa kilometer da-dari sini," ucapnya terbata-bata karena takut.
"Bisa antar kami?"
"Bi-bisa."
Ruka cemas pada Aoi, menatap tajam pada Hotaru. "Anda nggak boleh melakukan hal itu pada Aoi. Dia nggak bersalah. Biar saya saja yang mengantar Anda." Dilirik Tsubasa sekilas, meminta izin. "Tsubasa, aku pergi dulu mengantar mereka ke rumah Natsume. Nanti aku balik. Oke!"
Tanpa menunggu persetujuan Tsubasa, Ruka mengantar Hotaru, Misaki dan Youichi juga dua dayang lainnya menuju rumah Natsume dibantu Aoi di sampingnya. Gadis kecil bermata merah menyala ketakutan, tak bisa mendekati Hotaru yang diliputi amarah yang bergelora.
Saat tiba di rumah Natsume, yang katanya benar-benar beberapa kilometer dari warung Tsubasa, ternyata tepat. Suasana sepi ini sangat diragukan oleh Hotaru yang masuk ke dalam tanpa permisi. Dilirik Aoi yang mengacungkan jari telunjuknya mengarah pada kamar di samping gudang.
Bergegas Hotaru berjalan ke sana, diikuti Ruka dan Aoi. Dibuka pintu geser tersebut, kedua pasang mata terbelalak kaget melihat dua orang pasangan saling memeluk. Natsume menindih Mikan yang berada di bawahnya, membuka beberapa helai kimono berlapis menampilkan kulitnya yang putih bersih.
Kemarahan Hotaru memuncak.
"Mikan! Apa yang kalian lakukan di sini?!"
-TBC-
