DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Nine: Fall In Love
Siang hari berganti hampir tibanya sore hari, tapi tak dirasakan bagi seorang gadis berambut cokelat panjang terbangun dari tidurnya. Kepalanya terasa sakit mencekam, menusuk di pikirannya yang terus saja memikirkan kejadian beberapa jam lalu.
Dirinya terduduk diam di sana, mengamati lekat-lekat ruangan sederhana dan tua diakibatkan kutu busuk melahap kayu di sana. Lantai tatami masih terlihat rapi walaupun ada beberapa yang robek. Tapi, ciumannya bisa dirasakannya saat menghirup ruangan ini. Bau mint yang enak juga bau stroberi, buah kesukaannya.
"Kau sudah bangun?"
Suara tersebut membuat Mikan terlonjak kaget, menatap pemilik suara baritone tersebut. Dia duduk bersandar di dinding sambil mengangkat lututnya setengah berdiri, sedangkan kakinya dibiarkan terlentang di bawah lututnya, menatap intens Mikan.
"Aku di mana?" tanya Mikan sambil mengusap kepalanya yang sakit.
"Kau di rumahku, kamarku," jawabnya serak.
"Kenapa bisa?" tanya Mikan lagi.
"Kau panas tadi, makanya aku membawamu ke kamarku untuk beristirahat."
"Kenapa kau nggak membawaku pulang saja?" tanya Mikan tak suka dengan jawaban Natsume yang suka memaksakan kehendak orang lain.
"Aku nggak tahu rumahmu di mana," Natsume mengangkat bahu, menyeringai.
Mikan mendesis, lalu beranjak bangun. Namun, dirinya terhalang oleh cengkraman Natsume di bahunya, menyuruhnya kembali berbaring. Mikan menepis tangannya di bahunya, tak suka caranya suka memaksa orang lain.
"Lepaskan aku!"
"Kau masih belum sembuh, bodoh!" geramnya. Rahangnya mengatup, benci saat Mikan suka menepis tangannya di tubuhnya.
"Aku sudah sehat. Aku mau pulang saja!" teriak Mikan mendorong tubuh Natsume agar tak mendekati tubuhnya. Cepat-cepat Mikan bangun. Baru beberapa detik berselang, Natsume menangkap pergelangan tangan Mikan dan menahannya di sisi kepalanya, kiri dan kanan. "Apa-apaan ini?" tanya Mikan kaget.
"Kau nggak bisa ke mana-mana di saat kau lagi sakit, bodoh. Apa kau nggak suka aku mengkhawatirkanmu, hm?!" geram Natsume menahan kemelut ketidaksukaannya pada Mikan, seenaknya membantah terus.
"Kau bukan apa-apaku! Bukan Ayahku! Bukan Ibuku! Apalagi Kakak-Kakakku!" ronta Mikan terus memberontak sampai tenaganya terkuras habis.
"Diamlah, gadis kecil! Aku nggak suka kau selalu meronta seperti ini!"
"Lepaskan aku! Aku mau pu—mmmh!"
Kalimat Mikan terputus karena bibir Natsume menyentuh bibir Mikan. Ciuman sangat ganas dan sensual. Mikan terperangah pada tindakan Natsume yang begitu hebat tanpa berpikir panjang. Ciuman terus dilakukan tanpa henti, membuat Mikan hampir kehilangan oksigen setelah Natsume melepaskan ciuman tersebut. Mikan terengah-engah, namun dirinya tak sanggup berkata-kata lagi sesaat dirinya mendengar kalimat dari mulut Natsume.
"Aku jatuh cinta padamu, bodoh! Dan ini benar-benar menyiksaku seandainya kau akan pergi lagi dari sisiku! Apa kau nggak bisa memahami perasaanku!" geram Natsume menutup wajahnya menggunakan satu tangan, melepaskan lengan Mikan tadi ditahannya. "Kau bisa pergi, kalau kau mau! Aku nggak akan menahanmu lagi!"
Kembali lagi ke Mikan yang merasakan dirinya tersayat-sayat. Hatinya teriris-iris seperti potongan sayur-sayuran. Tak menyangka bahwa Natsume akan membiarkannya pergi begitu saja. Tak lagi mencegahnya.
"Pergi, bodoh! Sebelum aku menahanmu lagi!" bentak Natsume siap-siap berjauhan dari Mikan, namun gadis kecil itu memeluk tubuhnya sebelum pergi jauh.
"Maaf, aku nggak tahu," ucapnya sembari membenamkan wajahnya di dada Natsume.
Sejenak semuanya terdiam.
Mikan tak mau mendongak ke atas melihat wajah Natsume yang bingung atas tingkahnya. Mikan juga belum tahu soal perasaannya sendiri tentang Natsume. Semua pernyataan suka kepadanya, belum bisa mencerna otaknya yang agak lamban.
Diamnya mereka berdua membuat suasana tadi tegang berubah tenang. Dibalas pelukan Mikan dengan menggunakan kedua tangannya, mengencangkannya kuat-kuat. Sejenak Mikan merasakan betapa enaknya di peluk oleh pria yang bukan Ayah maupun saudara laki-laki, terasa menenangkan dan hangat.
"Jangan pergi lagi dariku, bodoh!" bisik Natsume menyuarakan apa yang ada di isi hatinya. "Aku benci melihatmu pergi dariku, padahal aku ingin sekali berbicara denganmu," ungkapnya tanpa pernah berhenti.
Akhirnya Mikan mengangkat kepalanya, menatap Natsume yang juga menatapnya penuh intens dan posesif. Menyunggingkan sebuah senyuman lebar, Mikan mengangkat tubuhnya untuk mencium pipi kiri Natsume. Pria bermata merah menyala tercenung, kemudian semuanya sangat tak terasa begitu cepatnya.
Natsume menundukkan kepalanya, melumat bibir Mikan dengan ganas dan kelembutan. Mikan membalasnya. Semuanya serba cepat sehingga Mikan tak bisa melakukan apa-apa selain pasrah dan memberikan semuanya pada Natsume.
Tangan bebas Natsume menarik paksa kimono Mikan hingga terbebas dari tubuhnya, satu per satu. Hal ini menyebabkan Mikan ingin meronta, tapi kemudian dirinya kembali pasrah karena Natsume terus menerus membuka helaian lapisan kimono Mikan sambil mencium tanpa berhenti.
Mikan terengah-engah di dalam ciuman tersebut. Natsume melepaskannya, memberikan Mikan kebebasan untuk bernapas. Disentuh pipi lembut Mikan, Natsume akhirnya tersenyum lembut walau itu hanyalah sekilas. Mikan merasakan dirinya memerah mirip tomat masak.
"Kau cantik."
Wajah Mikan memerah padam. Secepat lagi, Natsume mencium Mikan dan melumatnya. Mulut Mikan terbuka karena mengerang, Natsume mendapatkan kebebasan untuk menjelajah rongga mulut Mikan dan bersatu dengan lidah gadis kecil di bawahnya sambil melepaskan kembali kimono lapisnya.
Suara pintu geser terbuka, sosok bayangan menjulang tinggi mengenakan kimono 12 lapis berwarna ungu maron. Mata ungunya yang cantik terperangah melihat apa yang ada di matanya, berteriak. Di belakangnya, seorang pria menggandeng adik Natsume juga terkejut dan memalingkan muka saking merahnya peristiwa di depannya. Di luar, Misaki dan Youichi belum tahu apa yang terjadi, hanya bisa menunggu.
"Mikan! Apa yang kau lakukan?!" teriak gadis itu lantang, menyebabkan kedua orang menghentikan aktivitasnya. Terkejut melihat siapa yang datang.
"Siapa kau?!" tanya Natsume sangat marah karena ada orang yang mengganggunya.
Mata cokelat Mikan setara dengan rambutnya terperangah melihat sahabatnya berdiri di sana, menatapnya tajam. "Ho-Hotaru…"
Natsume menatap Mikan, mengerutkan kening. "Kau mengenalnya?"
Mikan mengangguk.
Tanpa permisi, pemilik nama Hotaru berjalan mendekati Mikan. Melihat tubuh Mikan yang berantakan karena kimono lapisnya terlepas satu per satu membuat dirinya mengeluarkan amarah besar pada Natsume. Diambil sebuah senjata yang tersimpan di lengan kimononya, mencondongkan senjata tersebut ke depan wajah Natsume.
"Apa yang kau lakukan pada Mikan?"
Natsume yang tak pernah takut pada apa pun, mendengus. "Apa yang kulakukan pada Mikan, itu bukan urusanmu. Memangnya kau siapa? Berani-beraninya masuk ke orang tanpa meminta izin terlebih dahulu."
"Aku nggak perlu penjelasanmu, bodoh. Yang aku minta dari jawabanmu, apa yang kau lakukan pada Mikan sehingga dirinya berantakan seperti itu," Hotaru menunjuk Mikan yang menutupi tubuhnya yang setengah telanjang di bagian dada dengan kimono lapisnya yang berserakan di lantai tatami.
"Dibilang bukan urusanmu!" Natsume berdiri, menatap tajam Hotaru. "Kenapa kau bisa tahu rumahku ada di sini? Siapa kau?" tanyanya geram.
"Aku, Hotaru Imai, anak dari menteri Kesehatan," jawab Hotaru tak kalah dinginnya dan tajamnya mengarah pada Natsume. Dilirik Mikan yang memakai kembali kimono lapisnya walau hanya dua helai. "Mikan, kita pulang! Aku paling malas berada di sini, di rumah kecil ini!"
"Imai?!" gumam Natsume dalam hati sesaat menyadari nama keluarga terdengar familiar tersebut. Ingatannya tertuju pada rumah besar, di mana kemarin dia mencuri barang berharga milik keluarga Imai dan memberikannya pada para penduduk miskin. Sebelum mengkhayal lagi, suara Mikan mengembalikannya ke realita.
"Tunggu, Hotaru! Kau nggak bisa paksa aku seperti ini!" bantah Mikan terus meronta saat Hotaru menarik tangannya.
"Untuk apa kau berada di sini, Mikan?! Nggak level dengan kita, kau tahu itu!" teriak Hotaru tak sabar membawa Mikan pulang ke rumahnya.
"Lepaskan dia!" geram Natsume berusaha melepaskan tangan Hotaru di lengan Mikan. "Aku nggak akan membiarkan kau membawanya pergi dari sisiku!"
Hotaru menegakkan dagunya, "apa hakmu mengatur-ngaturku, hah? Kau bukan siapa-siapanya Mikan, bodoh!"
Tubuh Mikan didekap di pelukan Natsume, erat-erat. "Aku sangat mencintainya dan aku nggak akan membiarkan seorang pun membawanya pergi dariku!" Kemarahannya memuncak.
"Tapi, apa Mikan mencintaimu, ha?" tanya Hotaru bersedekap, menyeringai melihat Natsume menegang.
Detak jantung Natsume bisa didengar di telinga Mikan, cepat sekali. Mikan melepaskan dekapan Natsume, pria itu pasrah jika seandainya Mikan benar-benar tak mencintainya. Namun, itu tak seperti di pikirannya bahwa sekarang ini Mikan melontarkan kalimat-kalimat membuat dirinya kalau itu bukanlah sia-sia.
"Aku mencintainya, Hotaru. Aku mencintai Natsume Hyuuga!" ucapnya lantang dan tegas namun jujur juga tulus.
Akhirnya pengungkapan cinta Mikan terhadap Natsume terjawab sudah. Dua pasangan ini tetap bersama meski sebentar lagi ada rintangan yang menghalangi meski mereka harus mengorbankan semuanya demi cinta mereka. Tapi tetap saja mereka akan bersama selamanya, suatu hari nanti.
-TBC-
