DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Ten: Demand Undeniable
"Aku mencintainya, Hotaru. Aku telah jatuh cinta dengannya."
Beberapa kalimat menyadarkan Natsume, hal ini bukanlah sia-sia. Natsume menarik Mikan ke pelukannya, mengucapkan syukur pada Tuhan yang telah mempertemukan gadis kecil di dalam pelukannya kepadanya. Tak disangka-sangka, Mikan adalah takdirnya. Dan berharap, tak akan lagi dilepaskannya gadis ini sampai kapan pun.
"Bodoh."
"Bilang saja, kau menyukainya 'kan?" tawa Mikan terkekeh geli melihat Natsume tadi terdiam, kemudian tersenyum.
Kesepuluh jari Hotaru mengepal erat, wajahnya datar dan entah kenapa tidak ada yang tahu apa makna di balik wajahnya datar nan dingin tersebut. Hotaru menutupi wajahnya menggunakan poninya, masih mengepal erat buku-buku jarinya.
"Mikan, kita harus pulang," kata Hotaru merendahkan suaranya dalam kesunyian. Mikan menatapnya begitu pula Natsume. "Orangtuamu akan pulang besok lusa. Jadi, kau harus ikut aku sebelum mereka datang kembali," pinta Hotaru menahan kesabaran dan amarah.
"Ayah dan Ibu pulang?"
"Hn."
Mikan mendongak menatap Natsume. "Maaf, Natsume. Aku harus pulang sebelum orangtuaku datang. Aku harap kau mengerti ini," harap Mikan cemas.
Dielus-elus rambut Mikan, mencium rambut Mikan yang aromanya seperti bau jeruk. "Nggak apa-apa. Asal kau datang lagi ke sini, aku akan menunggumu."
"Terima kasih."
Mikan melepaskan pelukan Natsume, meraih kimono lapisnya yang berserakan di lantai tatami, memakainya dibantu oleh Natsume. Mereka terkekeh geli saat Natsume bersedia membantunya, membuat Mikan tertawa. Sebelum pergi, Natsume mencium Mikan sekali lagi. Hal ini membuat Hotaru murka dan berbalik badan, pergi.
"Aku tunggu di luar. Kalian kuberi waktu 10 menit untuk berbicara."
Mikan tersenyum lebar. "Terima kasih, Hotaru."
Kepergian Hotaru saat menutup pintu geser, di balik selanya pintu tersebut sebelum ditutup. Mikan dan Natsume berciuman dalam kegembiraan. Hotaru turun, memakai bakiak, menghempaskan tubuhnya di sandaran batu.
"Anda nggak apa-apa?" tanya Ruka yang tiba-tiba nongol membawakan minuman hangat. "Saya tahu kalau Anda lagi marah. Pasti Anda kehabisan energi. Saya membawakan minuman untuk Anda. Saya harap Anda nggak menolaknya."
Hotaru melihat pria tersebut, mengambil minuman tersebut dan meneguknya. Rasa haus yang terasa di dalam tenggorokannya juga bibirnya, teredam berkat air hangat dan segar tersebut. Dikembalikan gelas tersebut, menatap heran pada Ruka.
"Siapa namamu, wahai pemuda pirang?"
"Saya bernama Ruka Nogi. Meski Ibu saya orang asing, tapi Ayah saya adalah penduduk asli Jepang. Jadi, saya anak campuran Jepang dan Prancis," jawab Ruka menjawab semua pertanyaan Hotaru.
"Kau kenal dengan Natsume Hyuuga?"
"Natsume adalah sahabat saya sejak kecil. Natsume sangat mencintai sahabat Anda, Mikan. Makanya dia sering gundah setiap Mikan… eh… maksud saya, Mikan-sama melarikan diri darinya," jawabnya terlihat gugup.
"Maukah kalian membantuku?" tanya Hotaru menatap Ruka.
"Kalian? Maksudnya Natsume dan saya?"
"Hn. Aku ingin kalian menjadi pengawal untuk Mikan. Hanya beberapa bulan saja. Soalnya aku mendapatkan firasat buruk di bulan ini dan bulan depan. Aku harap kalian mau menyetujuinya," jelas Hotaru ke intinya.
"Kalau saya, saya menerimanya. Entahlah kalau Natsume." Ruka ragu-ragu apabila dirinya harus berbicara soal ini kepada Natsume soal permintaan Hotaru kepadanya juga dirinya sendiri.
Pintu geser dibuka menampilkan dua pasangan keluar dari kamar Natsume. Mikan berlari menghampiri Hotaru, memeluknya dalam keceriaan. Ruka menyingkir, didekati oleh Natsume yang terkejut melihat sahabatnya berada di rumahnya.
"Ayo, kita pulang!" ceria Mikan sangat riang.
"Kenapa wajahmu begitu, bodoh?" Hotaru menyentil dahi Mikan, membuat Mikan meringis.
"Hotaru jahaaat!" desis Mikan mengerucutkan bibirnya.
Ditatap mata merah menyala Natsume. Dibalas pula Natsume ke arahnya. Mereka benar-benar dingin, itu yang bisa dirasakan Ruka terhadap dua orang paling membenci ini. Sedangkan Mikan, memegang keningnya sambil cemberut.
"Mikaaan!"
Mikan menoleh siapa orang yang memanggil namanya. Terkejut alias kaget menatap Misaki dan Youichi muncul dari ujung sana bersama Aoi. "Misaki Onee-sama! Yo-chaaan!"
Berlari ke pelukan Misaki dan Yoichi, melepaskan kerinduan luar biasa. Sudah lama mereka tidak bertemu seperti ini biasanya karena kesibukan masing-masing. Mikan menatap dua orang paling berharganya, tersenyum bahagia.
"Sudah lama sekali aku nggak melihat Onee-sama dan Yo-chan di sini!" tawa Mikan terus memeluk Misaki dan Yoichi.
Ditarik kerah kimono Mikan oleh Hotaru, membuat tubuh Mikan tiba-tiba tertarik paksa. "Ayo, pulang! Nanti saja di rumah baru kau memeluk mereka, bodoh!"
"Ne, Hotaru jangan bilang aku bodoh," gerutu Mikan memanyunkan bibirnya. Dipandang Natsume juga Aoi, melambaikan tangan. "Aku pasti balik lagi ke sini."
"Dasar." Natsume terkekeh geli melihat tingkah Mikan aneh bin ajaib.
Aoi membalas lambaian tersebut, tersenyum bahagia. Menatap kakaknya. "Maafkan Aoi, Onii-chan. Aoi nggak sengaja membawa perempuan bangsawan itu ke rumah kita. Aoi juga nggak sengaja mengucapkan nama Onee-chan."
Diusap-usap rambut hitam Aoi yang menundukkan kepalanya. "Bukan salahmu, Aoi."
"Benar, Aoi. Itu bukan salahmu. Kita nggak tahu apa yang terjadi setelah ini, 'kan?" senyum Ruka menenangkan hati Aoi yang kalut. Sekilas melirik Natsume seperti sedang berbahagia. "Apa Mikan-sama menceritakan sesuatu padamu, Natsume?" tanyanya penasaran.
"Dia bilang, dia mencintaiku," jawabnya merasakan sensasi luar biasa di sekujur tubuhnya.
"Hebaat!" tawa Ruka, terdengar senang. "Semoga kau dan Mikan-sama selalu bahagia. Aku selalu mendukungmu, Natsume."
"Terima kasih, Ruka."
Baru saja mereka berbalik badan untuk masuk ke dalam rumah, Hotaru tiba-tiba datang lagi. Mereka kebingungan, apa mau gadis di depan mereka ini tiba-tiba nongol lagi padahal tadi barusan pergi membawa Mikan dan beberapa orang lainnya.
"Aku mau bicara pada kalian!" pintanya tanpa memasang wajah orang memohon-mohon. "Aku ingin kalian membantuku untuk menghindarkan Mikan dari seseorang."
"Apa maksudmu?" tanya Natsume penasaran, saat mendengar Mikan.
"Besok lusa Paman dan Bibi, orangtua Mikan, akan datang dan membawa sebuah berita buruk kepada kami. Mikan akan dijodohkan dengan keluarga Mori. Besok lusa adalah penentuannya," jawab Hotaru sejelas-jelasnya.
"Apa?!"
"Sebelum itu terjadi, aku mau meminta kalian untuk menjadi penjaga Mikan dalam waktu dua-tiga bulan ini sekalian mengatur apa yang terjadi di depannya."
"Kau ingin kami apa?" tanya Natsume menahan amarahnya setelah membayangkan Mikan akan bersanding di sampingnya selain dirinya.
"Bukankah aku menjelaskannya tadi?" geram Hotaru tertahan. "Aku ingin kalian menyamar jadi pengawal Mikan untuk dua-tiga bulan ini. Karena Reo Mori akan datang ke Kyoto untuk melamar Mikan minggu depan, jadi aku harap kalian mau menerima permintaanku."
"Aku setuju!"
Ruka maju, mengangguk pasti. "Aku juga setuju!"
"Dan juga, aku meminta kau membawa serta keluargamu karena aku yang akan menjamin kebutuhan keluarga kalian selama kalian berada bersama Mikan!" kata Hotaru berharap semuanya berjalan sesuai rencana walau di dalam hatinya Mikannya harus berbagi dengan pria bermata merah menyala tersebut di depannya.
"Oke, aku mengerti."
"Saya juga!"
"Bagus. Aku tunggu kalian besok siang, karena kami akan pergi dari sini besok. Cepatlah datang, karena aku paling benci harus menunggu!" Hotaru balik badan meninggalkan tiga orang yang berdiri.
"Kau serius mau melakukannya, Natsume?" barulah Ruka bertanya pada Natsume. "Ibumu dan Aoi bagaimana?"
"Mikan-ku dalam bahaya, Ruka," balas Natsume menyatakan Mikan sebagai miliknya. "Seperti dikatakan perempuan itu, keluarga kita aman-aman saja. Jadi, kita harus mempercayainya. Kita harus bersiap-siap, Ruka."
"Oke, aku setuju. Aku tetap ikut pada pendirianmu, Natsume." Ditepuk bahu Natsume, Ruka tersenyum. Dibalas dengan senyuman Natsume.
"Onii-chan mau pergi?" tanya Aoi, ingin tahu.
Diusap-usap kepala hitam Aoi, tersenyum. "Aoi akan ikut denganku. Aku harap Aoi mau."
"Tentu saja."
Waktunya telah tiba. Di mana sosok pencuri membuktikan siapa dirinya walau bukan di hadapan orang lain, tapi di hadapan kekasih tercintanya. Waktunya telah tiba, semua peperangan ini terjadi karena runtuhnya keluarga Mori di jaman ini.
-TBC-
