DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Eleven: Sudden Engagement
"Kita pulang hari ini, Onii-sama?"
Gadis berambut cokelat panjang menjulur ke tatami duduk bersimpuh dberhadapan dengan kakak tercintanya yang sedang menghembuskan napas lelah akibat kedatangan mendadak kedua orangtuanya, di ruangan tamu hanya bisa dihuni oleh dua orang kakak beradik ini.
"Begitulah. Kuharap kau nggak terlalu kaget pada berita ini, Mikan." Dipandangi gadis manis di depannya yang hanya bisa tersenyum gembira. "Sepertinya kau sangat gembira. Ada apa?" tanya Rei sangat penasaran, mengulum senyumnya.
"Enggak." Mikan menggeleng. "Aku gembira karena Ayah dan Ibu akhirnya pulang juga."
"Syukurlah kalau begitu," hela Rei menghela napas, lega. "Cepatlah siap-siap karena siang nanti kita kembali pulang," pinta Rei memberikan Mikan semangat walau di hatinya merasakan ada keraguan pada kedatangan kedua orangtuanya.
"Baik, Onii-sama!" Mikan mengangguk, beranjak pergi sebelum membungkuk hormat pada saudara tertua.
Rei sangat mencemaskan keadaan Mikan apalagi mendengar berita tak terduga dari beberapa orang bahwa Mikan akan bertunangan dengan salah satu anak dari keluarga Mori. Itu benar-benar sungguh tak terduga.
Mikan keluar saat menutupi pintu geser kayu tersebut, menghembuskan napas kelegaan. Mengangkat bahu untuk menghirup udara bebas, tapi tak memperkirakan apa yang terjadi berikutnya. Itu dikarenakan sifat Mikan terlihat polos, lebih mementingkan kebahagiaan ketimbang kesialan.
"Kau senang bisa pulang?"
Suara datar terdengar dari samping, Mikan sontak menoleh. Terkejut. Melihat pria berambut hitam yang dua hari yang lalu tiba-tiba menawarkan dirinya sebagai penjaga Mikan jika terjadi sesuatu di kemudian hari, sewaktu-waktu.
"Natsume!"
Mikan menerjangkan dirinya ke pelukan pria berambut hitam tersebut, pria itu pun membalasnya, sangat lembut. Tak mempedulikan beberapa pasang mata melihat kejadian peluk-pelukan tersebut, tak lain adalah Hotaru dan Ruka.
Ruka Nogi, menyamar sebagai penjaga selaku wakil Natsume, bertugas menjaga Mikan atas suruhan Hotaru Imai. Siapa orang yang bisa melawan Hotaru Imai yang memegang prinsip demi kebahagiaan sahabatnya, Mikan? Apapun hanya untuk Mikan meski ada api meletup di hatinya dikarenakan melihat acara peluk-pelukkan romantic tersebut.
Mikan melepaskan pelukannya di leher Natsume, menunduk untuk menutupi rona kemerahan di kedua pipinya yang manis. "Ma-maafkan aku, Natsume. Ini bukan tempat yang baik buat kita berdua."
Mengulurkan tangan, menyentuh pipi Mikan menggunakan jari-jarinya yang kokoh, tersenyum simpul. "Nggak apa-apa. Aku malah senang bisa memelukmu seperti ini," goda Natsume membuat Mikan makin memerah saking malunya.
Tak tahan lagi pada pemandangan di depannya di ujung lorong sana, Hotaru keluar dari balik lorong belokkan, menyela apa yang terjadi di kedua mata ungunya.
"Permisi. Kita nggak punya banyak waktu. Bukankah kau tadi diminta kakakmu untuk bersiap-siap, Mikan?" tanya Hotaru berusaha semanis mungkin pada Mikan kecuali pria bermata merah menyala tersebut.
Mikan meringis pada kalimat Hotaru, buru-buru pergi sambil mengatupkan kedua tangannya di depan wajah memasang wajah bersalah. "Aku minta maaf, Hotaru. Aku terlalu senang, makanya jadi lupa."
"Pergilah sana, bodoh!" bentak Hotaru terdengar lembut, tapi ada rasa mengancam.
Mikan sekali lagi meminta maaf, dan berlari pergi untuk bersiap-siap merapikan semuanya. Meninggalkan ketiga orang yang melihat adegan berlari Mikan yang sangat anggun, namun terlihat tergesa-gesa. Natsume yang tak suka diganggu kegiatan untuk menggoda Mikan, menatap tajam pada Hotaru.
"Seharusnya kau nggak usah menyuruh Mikan seperti itu!" geram Natsume menahan amarah agar tak terdengar oleh orang lain.
"Memangnya kau siapa, Hyuuga?!" Hotaru juga menahan amarah, menatap Natsume sangat tajam seperti belati. "Kau memang punya hubungan dengannya, tapi bukan berarti kau bisa memilikinya!" bentak Hotaru memuntahkan apa yang di pikirannya saat ini.
"Jangan seenaknya memerintahku, Imai! Aku sengaja menjadi penjaga demi Mikan bukan demi perintahmu. Aku bisa melindungi dia tanpa dirimu!"
"Oooh… benarkah?" Hotaru menyeringai. "Aku heran bisa-bisanya Mikan menemukan orang yang nggak suka diperintah seperti kau. Kau itu berada di tingkat lebih rendah. Lebih baik kau menyingkir sebelum mendapatkan penyesalan!"
"Apa kau bilang?!" dengus Natsume. "Pantasan saja, orang-orang kaya hanya lebih mementingkan dirinya ketimbang orang lain, lebih mementingkan kekayaan, kekuasan dan harga diri!"
"Berani sekali kau bilang seperti itu, Hyuuga!"
Ruka yang sedari tadi melihat pertengkaran keduanya, buru-buru melerai. Takutnya terjadi apa-apa, menimbulkan kegemparan. Walau Ruka sifatnya sama seperti Mikan, hal itu tetap saja tidak bisa dilakukan sendiri. Untungnya ruangan di samping mereka terbuka, menampilkan seorang pria berambut hitam jabrik, memiringkan kepalanya, bingung.
"Sebaiknya kalian marah-marah di tempat lain. Kalian ini seperti anak-anak saja."
Setelah mengatakan kalimat tersebut, Reo berbalik pergi. Hotaru dan Natsume yang mendengarnya sontak menyeringai sebentar, lalu balik ke tempatnya masing-masing. Sekilas Ruka tidak tahu harus apa, hanya bisa menghela napas berat dan mengikuti langkah Natsume.
Kepergian mendadak dari salah satu desa kota Kyoto menuju kota Kyoto, para rombongan keluarga Sakura akan meninggalkan kediaman keluarga Masachika. Dua buah kereta telah disiapkan, bersama kurir kereta tersebut.
Mikan dan Rei bersama dayang Mikan, Anna, duduk di kereta kuda paling depan. Sedangkan Hotaru, Misaki, Yoichi dan beserta dayang terbaik Hotaru, Nonoko, berada di kereta paling belakang. Diiringi beberapa pengawal dan penjaga yang naik kuda.
Natsume dan Ruka tak ikut bersama rombongan tersebut, memilih naik kuda yang telah disiapkan keluarga Imai. Mereka sengaja mengawasi di bagian yang bisa terlihat meski itu sangat beresiko, jadi mereka hanya bisa mengawasi di bagian belakang.
Iring-iringan itu terus melaju tanpa kenal lelah. Sesampainya di tempat telah ditentukan, Mikan dan orang-orang berada di dalam kereta kuda turun. Mereka terasa menyayangkan betapa enaknya tinggal di desa ketimbang di kota Kyoto, lebih berkuasa pada orang-orang kaya daripada orang-orang miskin.
"Akhirnya kita pulang!"
Mikan tak menjawab. Diliriknya Natsume yang turun dari kuda, dan memberikan tali kekang kuda berbulu hitam ke orang-orang terpercaya di keluarga Imai. Natsume menoleh. Mata mereka bertemu. Pandangan mereka mengisyaratkan betapa akan terjadi sesuatu yang membuat mereka mungkin tidak bisa bersama lagi.
"Mikan, kenapa melamun?"
Mikan terperanjat kaget. Mengerjapkan mata berkali-kali. "Nggak apa-apa, Onii-sama."
Menutupi pandangan Mikan kepada Natsume, Hotaru yang memasang wajah datar berdiri di samping gadis tersebut. "Nggak usah khawatir, bodoh. Apa yang kau takutkan, nggak mungkin terjadi selama kami berada di sini."
"Hotaru…"
"Mikan-chan!"
Suara nyaring terdengar di depan gerbang keluarga Sakura, memperlihatkan seorang pemuda berambut jingga berlari sambil merentangkan kedua tangannya, tersenyum menggoda. Mikan sangat mengenal orang itu. Dialah Reo Mori, sahabat sejak kecilnya dan orang yang pernah bikin dirinya jatuh cinta. Cinta Monyet!
"Reo-san!"
Reo, berlari dan mengangkat tubuh Mikan tinggi-tinggi. Sontak terperangah melihat adegan di depannya, Mikan memeluk leher Reo. Hal ini juga membuat Natsume cemburu, mengepalkan tinjunya erat-erat, rahangnya mengeras. Ruka melihatnya ikut bersedih, karena Reo Mori adalah tunangan Mikan Sakura.
"Reo-san, turunkan aku!"
"Kalau aku nggak mau, bagaimana?" nyengir Reo, terus mempertahankan posisinya.
"To-tolong hentikan. Ce-cepat turunkan aku!" pinta Mikan sembari melirik Natsume yang menahan kemarahannya. "Reo—"
"Cukup, Mori!" gertak seseorang bersuara dingin. "Lepaskan Mikan sebelum aku tebas kau sampai kau nggak bisa menggerakkan kaki dan tanganmu!"
"Duuh… Imai, kejam sekali kau!" Akhirnya Mikan diturunkan ke tanah lembab, terhuyung ke belakang. "Kau bukanlah orang yang cocok untuk berbicara begitu padaku, Imai. Keluargamu berada di bawah keluargaku," Reo menyeringai licik.
Masih memasang wajah dinginnya, tak mempedulikan kalimat tadi. "Buat apa kau datang ke sini? Seharusnya kau di tempatmu, bukan di tempat Mikan!"
Reo mengangkat bahu, tak mengacuhkan. "Aku datang ke sini bersama kedua orangtuaku. Mereka merencanakan pertunanganku dengan Mikan-chan. Benar-benar nggak terkira, aku bisa menikahi Mikan-chan yang paling aku sukai." Reo mengedipkan sebelah mata ke Mikan yang melongo kaget.
"Tu-tunangan?"
"Ya, Sayang. Kau akan jadi tunanganku mulai besok, jadi bersiap-siaplah."
"Nggak mungkin…"
"Tentu saja bisa mungkin, Mikan-chan." Diulurkan tangannya, menyentuh dagu Mikan. "Kau akan menjadi milikku sebentar lagi, Sayang," goda Reo terus hingga Mikan tak sanggup berkata apapun.
Natsume dan Hotaru mengepalkan tangan kuat-kuat, menatap tajam pada sosok lelaki bodoh yang tak tahu malu. Mereka berharap semoga pertunangan mereka batal. Dan, mereka berharap seandainya saja keluarga Mori mendapatkan pembalasan setimpal.
-TBC-
