DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Twelve: Selfish
Tubuh Mikan terguncang mendengar kabar tak enak dipandang juga tak enak untuk disantap. Tubuhnya langsung lunglai, bertabrakkan dengan tubuh Rei sehingga kakak satu-satunya menangkap tubuhnya yang lemas di pelukannya. Rei mengguncang bahu Mikan segera menyadarkannya, tapi tak kunjung didengar.
Akhirnya Rei membawa Mikan masuk ke dalam dibantu oleh Misaki dan Anna di sampingnya. Reo yang melihat keadaan Mikan hanya bisa bersiul ria. Acuh tak acuh. Hal ini membuat Hotaru makin kesal pada otak jerapah di depannya. Sangat egois!
"Nogi!"
Pria berambut pirang berlari ke hadapan Hotaru, setengah membungkuk memberi hormat. "Ya, Imai-sama!"
"Masuklah, jagalah Mikan. Jangan sampai ada seorang pun muncul di kamar sahabatku!" perintah Hotaru tanpa menatap Ruka yang tengah membungkuk. "Kalian semua! Masuklah! Tinggalkan aku sendirian berdua dengan putra satu-satunya keluarga Mori!"
"Baik, Hotaru-sama!"
Semua rombongan dari dayang, pengawal, kurir dan penjaga berlarian masuk. Kereta-kereta kuda diparkir di sebelah kediaman keluarga Sakura. Ruka, masuk ke kediaman Sakura menyusul orang-orang yang membawa Mikan. Tinggalkan Hotaru dan Reo di tempat, ditambah Natsume di dalamnya.
Reo bertepuk tangan. "Hebat, hebat! Aku nggak sangka kau bisa memerintah mereka seperti itu. Padahal kau hanyalah babu di bawah kendali Ayahku. Seharusnya kau tunduk di bawah kakiku."
"Jangan terlalu berharap, Mori!"
"Hahaha! Jangan terlalu berharap, katamu? Memangnya kau siapa?" Reo meninggikan suaranya walau hari sudah menjelang malam. "Kau hanyalah orang biasa, dulunya. Kau bisa menjadi seperti ini akibat dari kebesaran hati Ayahku. Harusnya kau tahu itu!" Reo mempertegas apa yang telah terjadi beberapa tahun kemarin.
"Kau—"
BUAAGH!
Pukulan telak entah dari mana mengejutkan Hotaru. Pukulan tersebut bukan dari seorang lelaki memiliki mata merah melainkan seorang lelaki memiliki mata biru langit. Tonjokkan di bibir Reo Mori membuat pria tersebut terjatuh terlentang hingga bibirnya robek. Hotaru yang menyadari kejadian di depannya, terperanjat kaget.
"Kau? Apa yang kau lakukan, Nogi?!"
Ruka mengelus-elus punggung tinjunya, mengangkat bahu. "Aku nggak suka dengan orang yang egois, lebih mementingkan apa yang dimiliknya. Itu saja."
"Lalu, ke mana Hyuuga?!" Hotaru mencari-cari sosok Natsume, tapi tidak ada satupun yang berada di sana. Seketika lenyap begitu saja. "Bagaimana bisa dia—"
"Dia menggantikanku, Hotaru-sama." Ruka terus mengangkat bahu, menendang pelan tubuh lunglai Reo Mori. "Aku nggak nyangka ada orang sebegitu egoisnya, hanya untuk menghina orang lain. Mentang-mentang dia nggak pernah miskin, apa."
"Kau—"
Ruka mengulurkan tangannya, meraih lengan Hotaru. Tersenyum. "Mendingan kita pergi saja. Biarkan si Tuan bodoh ini dibangunkan orang-orang pinggir jalan. Akan aku temani kau pergi dan mengistirahatkan bebanmu itu. Bagaimana?" kedip Ruka kepada Hotaru.
Warna sepasang mata ungu Hotaru terbelalak kaget, memalingkan muka. Menyembunyikan rona kemerahan saking malunya dari pria berambut pirang yang sekarang telah menariknya pergi meninggalkan gerbang depan kediaman Sakura. Meninggalkan tubuh lelaki berambut jingga kemerahan tengah pingsan terlentang di tanah lembab.
Langkah-langkah kaki mengiringi malam terindah di hari ini. Dua orang berbeda strata sosial berhenti di depan sebuah jembatan yang entah apa namanya, dekat dengan kediaman Sakura.
Hotaru terengah-engah karena harus berlari sedemikian cepat agar mengikuti kecepatan berlari Ruka yang terbilang santai. Lelaki di sampingnya malah berdiam diri tanpa ada satupun keluarnya helaian napas berat akibat berlari.
"Pasti aku akan dimarahi Misaki Onee-sama."
"Buat apa takut? Bukannya kau itu nggak pernah takut apapun?" Hotaru memicingkan mata, tajam. Ruka mengangkat kedua tangan, menyerah. "Ma-maafkan saya, Hotaru-sama. Aku nggak berniat—"
"Sudahlah," potong Hotaru cepat. "Sudah lama sekali aku nggak berlari seperti ini. Nggak seharusnya aku ikut pada permainan si sialan itu. Bikin aku muak dan ingin aku tebas kepalanya," geram Hotaru.
"Baguslah kalau begitu," senyum Ruka terlihat senang. Tapi, Hotaru malah terlihat bingung.
"Apa maksudmu?"
"Lebih baik menebasnya saja daripada membuat laki-laki itu berada di dunia ini. Anak seegois itu harus dikasih pelajaran," kata Ruka masih senyam senyum.
Hotaru tak mampu berkata apa-apa lagi. Dia terdiam dan membeku. Tak pernah sekalipun ada orang sebegitu beraninya mengajaknya bicara – secara tak sopan – kepadanya dan membawanya kabur dari orang yang begitu dibencinya.
"Aku capek."
"Istirahatlah, Hotaru-sama. Saya selalu ada di sini bersama Anda."
Kening Hotaru kembali berkerut, tersenyum geli mendengarnya. Tadi bersifat tak sopan, sekarang sudah mulai bersikap sopan. Sifat laki-laki di sampingnya benar-benar mirip sahabatnya walau ada perbedaan. Mikan itu seorang perempuan! Sedangkan Ruka seorang laki-laki, tampan lagi!
Hal ini membuat Hotaru kembali memerah. Jantungnya berdetak sangat kencang, tak mampu lagi meredakan kegugupannya bila bersama laki-laki di sampingnya ini, menikmati malam yang indah di jembatan manis mengarah ke sungai.
Di ruangan pribadi milik seorang gadis yang tertidur pulas akibat pingsan di depan gerbang sejak mendengar pernyataan Reo Mori soal tunangan. Penyebab tersebut membuat Rei dan Misaki segera bertemu dengan kedua orangtua keluarga Mori, mempertanyakan pernyataan tersebut. Anna yang menemani Mikan tadi, pamit keluar untuk mengambil sekedar obat untuk memulihkan kondisi Mikan. Jadi, hanya tinggal Natsume yang di samping Mikan.
Digenggam tangan Mikan yang lemas, memejamkan mata merahnya. "Bangunlah, Mikan. Jangan biarkan keadaan ini mempersulit dirimu sendiri."
"Natsume…"
Bola mata cokelat Mikan terbuka, dirinya pun terjaga. Natsume yang melihatnya mencondongkan tubuhnya untuk menatap Mikan, nanar. "Aku ada di sini, Mikan," sahut Natsume mencium punggung tangan gadisnya.
"Aku nggak mau bertunangan dengan dia…"
"Aku tahu."
Pelupuk mata Mikan mengeluarkan air bening, menatap Natsume. "Apa yang harus aku lakukan?"
"Seandainya saja bisa, aku mau membawamu pergi dari sini."
Mikan bangun, menggenggam tangan Natsume. "Ja-jangan, Natsume!" Mikan menggeleng. "Jangan lakukan itu! Kau pasti akan terkena akibatnya apabila kau menuruti kehendakmu. Kau bisa terluka. Aku nggak mau itu terjadi."
"Aku bersedia melakukan apapun demi menyelamatkan dirimu dari tangan orang-orang itu," kata Natsume tak menghiraukan pernyataan Mikan tadi.
"Tapi—"
"Nggak ada tapi-tapian, Mikan." Natsume mencium kedua mata Mikan, membersihkan sisa-sisa air mata terbentuk di sana. "Aku pasti akan mengeluarkanmu dari sini. Setelah itu, kita menikah."
Kata "menikah" benar-benar seperti sebuah tanda keajaiban di telinga Mikan. Direntangkan kedua tangan, memeluk leher Natsume, membiarkan dirinya tertidur berbaring bersama Natsume. Di ruangan remang-remang digantikan cahaya lilin akhirnya dimatikan oleh Natsume, sekali ditiup.
Anna, mendengar kata tersebut – memerah malu – berdiam diri di tempatnya sambil memegang nampan berisi obat. Sepertinya bukan waktunya masuk ke dalam dan mengacaukan aroma romantic di dalam kamar Mikan. Mereka pun kembali ke tempatnya, lagi.
Di tempat lain, dua orang yang berhadapan dengan kedua orangtua Reo dan orangtua Mikan dan Rei, duduk bersimpuh sambil mendengarkan jawaban.
"'Kan kami sudah bilang, Rei. Kita ingin mempercepat proses pertunangan itu besok. Ayah harap kau mau mendengarkan semuanya. Ini demi kelangsungan hidup kita, ke depannya."
"Ayah sangatlah egois!" Rahang Rei mengeras. "Buat apa kekayaan seperti ini, jikalau Ayah dan Ibu nggak pernah memperhatikan kebahagiaan anak-anaknya. Malah lebih mementingkan apa yang telah didapatkan!" Rei menggeleng pelan.
"Seharusnya Paman mementingkan kebahagiaan Mikan. Kasihan dia. Mikan nggak mungkin mencintai orang lain yang bukan kekasih hatinya," ucap Misaki juga menyela pembicaraan.
"Berani-beraninya kalian berbicara lancang kepadaku!" gebrakan meja hingga meja kecil terdapat berbagai makanan, terbanting ke depan sampai-sampai makanannya tumpah di lantai tatami. "Kalian nggak berhak berbicara begitu kepadaku! Kalian bukan siapa-siapa! Dan kau Misaki, kau hanyalah orang yang memiliki hubungan erat dengan Mikan. Nggak usah ikut campur!" bentak kepala keluarga Sakura.
Misaki dan Rei tercengang mendengarnya. Dilihat kedua orangtua Reo menyeringai, tersenyum geli dan hanya bisa menyeruput tehnya telah mendingin.
Akhirnya puncak kemarahan Rei telah habis. Dia pun bangkit berdiri, menatap tajam pada Ayahnya yang telah mendidik dirinya hingga saat ini. "Baiklah kalau Ayah bilang seperti itu! Makan saja uang Ayah! Saya dan Mikan nggak akan memakan apapun dari uang Ayah! Jika seandainya Ayah menyesal, jangan pernah mencari kami!"
Rei balik badan meninggalkan ruangan mengerikan tersebut diikuti Misaki. Kedua keluarga itu hanya bisa menyeringai. Entah kenapa bisa terlihat kondisi dan gelagat kedua orangtua Mikan dan Rei seperti – habis terhipnotis – mendapatkan uang cukup besar. Apa ini berakibat sesuatu yang membuat dua keluarga ini mungkin hancur ke depannya?
Tidak ada yang tahu, bukan?
-TBC-
