DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Thirteen: Kidnapping In The full Moon Night


Pesta pertunangan telah diadakan mulai hari ini. Itu sebabnya, banyaknya para dayang-dayang dan pengawal-pengawal berlarian hilir mudik, ke sana kemari dan berlalu lalang demi menjalankan tugas yang sebentar malam akan diadakannya acara perjodohan.

Mungkin bagi mereka ini akan menjadi sebuah perayaan yang sungguh luar biasa. Tapi bagi mereka yang mengira ada pertanda tak baik, ini bukanlah sebuah perayaan luar biasa tapi perayaan jatuhnya keluarga Sakura di depan khalayak umum.

Mikan yang duduk bersimpuh di depan meja, menunggu di kamarnya karena dirinya tak boleh diperbolehkan keluar kamar sebelum waktunya dipanggil. Itu kata Ayahnya. Karena semenjak pembicaraan dengan Kakaknya, Ayahnya semakin over protective kepada Mikan. Tidak ada satupun yang boleh masuk kecuali orang-orang dipercaya oleh kepala keluarga Sakura.

Diamnya ruangan itu membuat tiga orang ditambah wanita berambut merah muda, hanya bisa diam saja di depan ruangan kamar pribadi Mikan. Natsume yang bersandar di dinding kayu, berpikir keras pada rencana malam ini. Ruka, mengetahui gerak gerik aneh keluarga Mori, sengaja memberikan sebuah kewaspadaan pada Natsume dan Hotaru juga Misaki.

Hotaru, diam membeku menatap nanar pintu ruangan Mikan yang tertutup dan dijaga oleh dua pengawal di depannya. Menghembuskan napas berat. Untungnya Ruka berada di sampingnya, menenangkan gadis berambut hitam tersebut.

"Orang itu benar-benar bikin aku muak!" kata Hotaru menatap tajam ke arah seorang Reo Mori yang cengar cengir di depan kedua orangtua Mikan. "Seharusnya kau menghabisi dia, Nogi!"

Ruka mengangkat bahu, pelan. "Buat apa aku menghabisinya, Hotaru-sama. Nanti juga dia akan mendapatkan ganjarannya sendiri. Benar nggak, Natsume?" tatap Ruke ke arah pria berambut hitam berantakan yang melipat kedua tangan di depan dada, berpikir keras.

"Hn."

Hanya itulah jawabannya.

"Mereka!"

"Tenang, Hotaru!" Misaki menepuk pundak Hotaru, berusaha menenangkan. "Dia nggak pantas kau pukuli. Jika memang Mikan mendapatkan sebuah keberuntungan malam ini, di malam bulan purnama."

Bulan purnama!

Kedua bola mata biru langit menatap bola mata merah menyala. Mereka bertatap-tatapan. Ada sebuah seringai terbentuk di sudut bibir mereka. Luapan emosi itu pun seketika meluap dan memunculkan sebuah ide cemerlang yang tak mereka duga.

Kedua gadis itu tak tahu tentang hal ini, lebih memilih memandangi pemandangan tak mengenakkan. Tanpa permisi pula, Misaki dan Hotaru meninggalkan tempat dua lelaki yang sedang terdiam sambil menyunggingkan senyuman biasa, tak kenal biasa.


Festival ini sungguh tak enak dipandang. Banyaknya para tamu undangan membuat semua orang berpikir, ini bukanlah acara perjodohan tapi sebuah acara selamatan karena terbentuknya persahabatan antara keluarga Mori dan keluarga Sakura. Kejadian ini bisa dilihat oleh kepala keluarga Imai yang melotot diam-diam dua orang yang tadinya tak pernah akrab di masa mudanya.

"Subaru, menurutmu ada keganjalan yang aneh melihat mereka berdua akrab seperti itu?" tanya Ayah Subaru juga Hotaru sangat terkenal ramah tamahnya kepada setiap orang yang pernah dijumpainya.

Laki-laki yang memiliki wajah sama dengan Adiknya, menyeringai. "Menurut Ayah, ada sesuatu di balik persahabatan keduanya? Tahu-tahu mereka merencanakan perjodohan ini untuk anak-anak mereka," tanya balik Subaru.

"Bisa saja. Ayah sudah malas kalau berurusan dengan Ayahnya Reo. Bikin Ayah nggak enak melihatnya. Sepertinya dia sedang merencanakan sesuatu."

"Aku juga. Pemikiran saya mirip sama Ayah."

"Ayah!"

"Oh, Hotaru!"

Hotaru menerjang Ayahnya untuk memeluknya. Kepala keluarga Imai pun membalas pelukan anaknya, sangat erat. Tak mungkin dilepaskan begitu saja.

Ayahnya menundukkan kepalanya, melihat anaknya paling manis. "Apa kau baik-baik saja selama kau pergi? Apa Mikan juga baik-baik saja?" tanya Ayahnya, khawatir.

"Nggak sesuai permikiranmu, Ayah."

Dilepaskan pelukan sang anak, mendongak melihat pemandangan di depannya. "Seandainya ada seseorang yang mengacaukan acara ini. Mungkin Ayah bisa mencarikan solusi jitu. Ayah ingin bersenang-senang."

"Hentikan itu!" jerit Hotaru dan Subaru bersamaan, menggeleng.

Ayah keduanya malah tertawa terbahak-bahak.


Sementara itu, Ruka berdiri di samping gudang belakang kediaman Sakura. Berjaga-jaga. Diliriknya banyak orang sudah mulai bertambah, dan penjagaan semakin ketat. Masalah semakin ruwet dan semakin menyenangkan. Sebentar lagi ada pertunjukkan luar biasa.

"Apa kau sudah selesai, Natsume?" tanya Ruka mengetuk-ngetuk pintu gudang.

Sebelum ada jawaban, pintu pun terbuka. Sosok pria bertopeng kucing hitam mengenakan hakama panjang seperti kimono berlapis dimiliki seorang laki-laki di zaman Heian. Tubuh tingginya semapai. Kekar dan bidang. Rambut hitamnya sangat berantakan. Tidak ada yang tahu siapa orang di samping Ruka ini.

"Selesai?"

"Hn."

"Cepatlah, kita nggak punya banyak waktu."

"Hn."

Ruka meminta laki-laki bertopeng mengikutinya. Orang-orang berada di tempat pusat perayaan hingga tempat itu sangatlah sepi. Cahaya bulan purnama menyinari langkah mereka dibantu awan hitam yang menenggelamkan cahaya tersebut.

Namun, di balik pintu gudang ditinggalkan dua orang tersebut, ada sosok makhluk lain – juga bertopeng kucing – keluar dari tempat tersebut. Tapi, dia tak mengikuti langkah pelarian hati-hati Ruka melainkan meloncat ke atas. Ke atap satu ke atap lainnya.


Perayaan ini membuat orang bersenang-senang, menunggu datangnya pusat acara tersebut. Hotaru Imai, mengeluarkan senjata pamungkasnya, pedang panjang miliknya. Subaru meminta Narumi dan Hayate untuk berjaga-jaga apabila ada kejanggalan aneh. Sementara Misaki, mendiamkan Yoichi di genggaman tangannya, berpura-pura menikmati pesta perayaan ini. Lalu, ke mana Rei?

Langkah pelan muncul di depan lorong gelap. Dua penjaga yang mengawasi ruangan Mikan merasakan hawa aneh. Tiba-tiba saja tusukkan belati tertancap di pundak mereka hingga akhirnya pingsan seketika. Sosok itu muncul dari atas, cepat-cepat memasuki ruangan Mikan.

Gadis berambut cokelat panjang yang telah dipermak oleh dayang-dayang suruhan Ayahnya, terlihat sangat cantik. Polesan bedak biasa dan bibirnya yang memerah. Dan kimono dua lapisnya bertambah 4 lapisan membuatnya sangat gerah dan berniat melepaskannya.

Saat dirinya mau keluar, muncullah suara aneh. Mikan terkesiap. "Si-siapa itu?"

Tidak ada suara. Hening.

"Siapa yang ada di luar?"

Mikan bangkit berdiri, merasakan betapa kramnya kedua kakinya akibat bersimpuh terlalu lama. Dia pun melangkah ke pusat arah suara, merasakan detak jantungnya berdetak seperti balapan liar. Mengulurkan tangan, tapi yang ada tangannya ditarik oleh entah siapa namanya, sosok tersebut.

"Kau sia—hmph!"

Mikan belum menyelesaikan kalimatnya malah terguncang memandang sosok bayangan membekap mulutnya dan mengangkat tubuhnya yang mungil. Sosok itu tak terlihat jelas karena gelapnya lorong yang menghampiri ruangan. Cahaya lilin tak mampu memberikan efek penglihatan yang bagus.

Tidak ditunggu-tunggu lagi, sosok itu membawa Mikan pergi dari tempat itu bersamaan muncullah bulan purnama di kegelapan malam.


Di tempat lain, sebuah benda bulat dilempar dari arah langit menabrakkan dirinya ke tanah hingga asap muncul di benturan benda bulat tersebut. Semua orang yang menghirupnya terbatuk-batuk. Lalu, pingsan.

Hotaru merasakan firasat tak enak sedari tadi, menutup hidungnya dengan kimono lengan panjang begitu pun yang lain punya firasat tersebut. Mereka menatap ke atas bangunan tinggi tak lain ada pagar beton yang membatasi jalanan dengan kediaman Sakura.

Mata mereka sontak melebar! Sosok yang berdiri di atas adalah…

Si pencuri, Kucing Hitam!

Sosok itu menjulang tinggi sambil memakai topeng kucing hitam. Tidak ada yang tahu siapa sosok itu. Yang ada sebuah bentuk seringai simpul di balik topengnya. Dia pun menghilang begitu saja diterbangkan angin, mencengangkan orang-orang yang melihatnya.

"Mikan!"

Hanya itu kata terucap di bibir Hotaru saat melihat sosok tersebut di malam bulan Purnama. Hotaru disusul Misaki memasuki lorong gelap. Terkejut melihat dua pengawal terbaring pingsan. Pintu masih tertutup. Saat membukanya, Mikan menghilang ditelan Bumi. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi. Hanya tiga atau empat orang yang mengetahuinya!

-TBC-