DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Fouthteen: Wanted


"Cepat cari!"

Perintah dari seorang komandan prajurit, Narumi Anju, kepada pengawal-pengawalnya untuk mencari keberadaan Mikan Sakura yang menghilang ditelan Bumi. Tidak ada yang tahu nasib gadis itu. Ini membuat gundah Hotaru yang duduk melunglai di kamar Mikan sambil duduk bersimpuh.

Hilangnya Mikan! Hilangnya juga Rei, Kakak tercinta Mikan! Tidak ada yang tahu di mana Kakak beradik ini sebenarnya berada. Banyak orang bilang, kemarin Rei masih terlihat di ruangannya sehabis berbicara dengan orangtuanya. Namun setelah itu, mereka tak pernah mengetahuinya lagi.

Hayate, selaku pengawal terbaik keluarga Imai terus mencari di luar kediaman keluarga Sakura dibantu pengawal terkuat keluarga Mori, Rui Amane. Dan pengawal terbaik keluarga Sakura, Kaname Sonoo.

Ketiga pengawal ini bersahabat baik. Dulunya mereka adalah trio sahabat sekaligus sahabat terbaik Tsubasa Ando dan pelayan di warung bakmi terkenal di desanya. Tapi, dikarenakan mereka mengejar cita-cita sekalian membalas dendam kepada keluarga kaya yang telah menyebabkan orangtua mereka meninggal.

Keramaian ini benar-benar menimbulkan tanda tanya. Mereka semalaman terus mencari hingga sekarang menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tidak ada satupun tanda-tanda orang yang pernah masuk tak meminta izin atau tak memenuhi undangan ke kediaman Sakura.

Lalu, di mana kedua orangtua Sakura berada? Juga Reo Mori dan orangtuanya?

Berkat si kucing hitam, kelima orang tersebut yang seharusnya – dilenyapkan – ada tengah berada di tempat perawatan akibat terlalu lama menghirup asap tidur beberapa jam lalu. Ayah Hotaru dan Subaru menjaga mereka, terkikik geli sehingga orang ini malah makin tak karuan mencoret-coret wajah mereka dengan kuas.

Dan di mana Ruka?

Pria berambut pirang terus menemani Hotaru kapan pun dan di mana pun. Entah apa yang membawanya ke samping gadis tersebut. Yang penting perasaannya kepada gadis di dalam kamar Mikan sangat hangat, dan ingin sekali ditemaninya gadis dingin tersebut.

Dalam kamar Mikan, Hotaru menundukkan kepala, setengah merasa bersalah. Tak mampu menjaga sahabat kecilnya yang entah hilang ke mana. Air mata pun jatuh di kimono berlapisnya, menangisi kepergian sahabatnya.

"Mikan, kau di mana?"


Malam purnama terindah di tempat lain, mengiringi loncatan sosok yang mengangkat tubuh seorang gadis di dekapannya ke atap yang satu dan ke atap lainnya. Sosok tersebut terus berlarian tanpa henti, melarikan gadis yang dipelukannya.

Sekarang Mikan melihatnya. Sosok bertopeng Kucing Hitam yang sering dibicarakan banyak orang termasuk Hotaru, benar-benar sungguh ada dan sangat nyata. Tapi rasa pelukannya sangat mirip dengan seseorang dikenalnya. Seseorang yang paling dirindukannya.

"Natsume…"

Satu kata itu merendahkan laju kecepatan lompatan pelarian sosok bertopeng tersebut. Dia menolehkan kepalanya ke gadis yang melongo di balik kedua bola mata manisnya. Juga uluran tangan untuk menyentuh topeng tersebut, membuat sosok itu malah menyunggingkan senyuman yang bikin hatinya lega karena gadisnya telah mengetahuinya.

Kecepatan tersebut kembali muncul. Mendaratkan dirinya ke sebuah pondokkan di atas gunung, di mana tidak ada seorang pun mengetahui tempat ini.

Mikan diturunkan, lalu berbalik ke arah sosok itu. "Kau siapa? Kau, Natsume?"

Sosok seseorang itu mengangkat kedua tangannya, melepaskan topeng Kucing Hitam. Rambut berantakan berkilau akibat cahaya bulan purnama. Sebuah mata merah menyala siap menusuk siapa saja yang melihatnya. Akhirnya Mikan terperangah, dan tersenyum takjub.

"Natsume!" teriak Mikan sembari memeluk lelaki paling dicintainya tersebut. Natsume pun membalasnya. "Natsume! Aku merindukanmu!"

"Aku juga." Dibenamkan wajahnya di rambut panjang Mikan. "Kau sudah aman, Mikan. Nggak ada seorang pun yang bisa menemukan kita di sini."

"Di sini?"

Mikan melepaskan rangkulan di tubuh Natsume, mengamati sekitarnya. Kebingungan harus mengatakan apa, Mikan malah mendongak. "Ini di mana, Natsume?"

"Ini tempat di mana aku sering bersembunyi." Didorong kepala Mikan untuk mendekatkan wajahnya ke gadisnya, mengecup bibirnya yang merah akibat polesan sederhana. "Tempat tinggal sebagai sepasang suami istri."

"Eh?"

Natsume tersenyum. "Kau yang akan menjadi istri untukku. Kuharap kau mau menerimanya, Mikan."

Air mata Mikan mengalir begitu cepat, kembali dipeluk Natsume. "Tentu saja aku mau, Natsume!"

Dibawa sinar cahaya bulan purnama, mereka berciuman. Berciuman sangat lama. Tidak ada yang mengganggu. Ditambah pelukan mengerat dan malam pertama sebelum pernikahan itu terjadi.


Keesokkan harinya, pengumuman tentang pencarian seorang gadis bangsawan, Mikan Sakura, diumumkan di tengah-tengah kota dan juga penjuru desa yang dilalui berbagai pengawal-pengawal tiga keluarga.

Semua orang tercengang melihat kertas berupa lukisan berwajah seorang gadis manis, putri dari keluarga Sakura. Dan juga, sebuah lukisan di mana lukisan seorang pencuri, si Kucing Hitam, tertempel di dinding. Mereka pun mulai berbisik-bisik.

"Bukankah itu si Pencuri yang menolong kita?"

"Astaga! Jangan bilang Kucing Hitam menculik putri keluarga Sakura?! Bisa gawat!"

"Mana mungkin Kucing Hitam menculik putri keluarga Sakura? Mereka 'kan nggak saling kenal."

"Atau jangan-jangan ini fitnahan dari keluarga Sakura yang ingin memprovokator Kucing Hitam?"

"Pasti benar!"

Para penduduk kota dan desa sepakat bahwa orang-orang yang melakukan perbuatan ini adalah orang-orang kaya. Yang seenaknya menghakimi orang miskin – bisa dicurigai kalau Kucing Hitam sama miskinnya dengan mereka – meminta pertanggungjawaban. Orang-orang itu protes keras atas provokator ini kepada Kucing Hitam, yang tak mungkin membawa lari gadis bangsawan padahal mereka belum saling kenal.


Hal ini menyebabkan Ayah Mikan dan Rei terkena frustasi mendadak. Entah kenapa, kepala keluarga Sakura tiba-tiba jadi stress. Ibu Mikan dan Rei jadi pendiam. Sedangkan yang mengamuk adalah kedua orangtua Reo Mori. Termasuk Reo Mori, juga.

Mereka bertiga tak suka ditunggu yang tidak-tidak. Mereka juga protes keras pada Pemerintah Jepang untuk menghukum orang-orang yang tak setuju pada pendapat mereka. Padahal keluarga Mori adalah keluarga terkaya dan tersohor pernah ada di kota Kyoto.

Karena tak mau kalah, penduduk kota Kyoto yang berjibun melemparkan banyak batu ke kediaman keluarga Mori. Alhasil, rumah yang dulunya megah berubah jadi hancur lebur akibat lemparan batu.

Daripada tunggu berlama-lama melihat keluarga Mori hancur seketika, Hotaru meminta yang lain ikut bersamanya. Mencari Mikan! Juga Natsume! Termasuk Rei!

Betapa buronnya, Si Kucing Hitam itu tergantung bagaimana hasilnya keadaan Mikan. Jika Mikan baik-baik saja, Kucing Hitam akan dilepaskan dan Mikan dikembalikan ke keluarganya. Namun, ada sebuah rahasia tentang keluarga Mikan. Entah apa itu. Hanya itu diketahui oleh orang-orang yang mengetahui masa lalu.

Rei yang berdiri di papan pengumuman, menghela napas panjang. Lelaki ini tiba di desa tempat Masachika tinggal, mencari tahu di mana tempat tinggal Ibu tirinya dan adik-adiknya yang menghilang semenjak masa pemberontakkan pada waktu itu. Rei berharap waktunya bisa tepat dan jawabannya tetap ada demi kelangsungan kebahagiaan keduanya.

-TBC-


Aku sudah lama nggak update. Well, aku lagi kuliah berat demi kedua adik-adikku. Dimohon maklumi. Tenang, fanfic ini selesai sampai chapter 24 (termasuk prolog). Semoga akhir bulan ini bisa kelar. ^_^


-Luna-