DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Fifteen: Marriage Forbidden
"Ne, Natsume? Kita mau ke mana?"
Pertanyaan gadis berambut cokelat panjang diikat setengah bersamaan dengan yukata sederhana disiapkan kekasih hatinya untuknya membuat gadis tersebut bertanya-tanya, sejak digandeng dirinya menuju tempat yang tak diketahui.
Tidak ada jawaban di mulut pria dipanggil Natsume itu.
Ditarik-tarik lengan hakama Natsume, menyuruhnya untuk berpaling. "Akan dibawa ke mana aku? Kita sudah mau masuk ke hutan," tanya Mikan sambil menengok ke kanan kirinya yang gelap gulita.
Lagi-lagi tidak ada jawaban.
"Hei!" panggil Mikan setengah berteriak. Diri gadis kecil ini benar-benar menggigil merasakan betapa menakutkannya hutan di bawah gunung tersebut. Matanya terus mencari sosok tegap yang tak mau menatap dirinya. "Natsume!" teriaknya, kemudian.
"Hn." Itulah jawaban dilontarkan pria tersebut tanpa memalingkan muka. Digenggam erat tangan Mikan agar gadis bermata cokelat manis takkan lepas dari pengawasannya. Akhirnya Natsume berkata, "kita akan menuju tempat terindah. Kau pasti suka melihatnya," ucap pria itu menolehkan kepalanya menatap Mikan.
Mata cokelat Mikan membulat lebar, mengerjapkan kaget. Diikutilah langkah Natsume yang panjang, berusaha mengejar langkah-langkah kaki itu. Mikan baru pertama kali masuk hutan, tak tahu menahu tempat yang katanya disebut angker ini.
Sejenak menenangkan dirinya, dan memeluk lengan Natsume. Terlihat Natsume mempererat jemarinya di tangan Mikan, melindunginya.
Tak lama kemudian, mereka telah sampai di tempat yang dikatakan Natsume. Tempat itu sangat indah. Ada bangunan-bangunan kecil disebut rumah kumuh berjejeran. Anak-anak bermain ke sana kemari. Para orang tua sibuk bekerja demi menyelaraskan kehidupan mereka di tempat terpencil tersebut. Keduanya masuk ke sana, melihat-lihat. Lalu, kehadiran mereka telah ditunggu-tunggu oleh para penduduk di sana, menyapa mereka.
"Oh, Tuan Natsume, senang bisa melihat Anda lagi!" ujar seorang pria separuh baya ingin berjabat tangan pada Natsume, lelaki itu membalasnya.
"Akhirnya Anda datang juga!" ucap lagi seorang wanita setengah baya menghampiri keduanya.
Anak-anak kecil melihat sosok lelaki datang tiba-tiba ke desa mereka, berhamburan keluar dan meninggalkan permainan mereka. "Natsume-nii datang, teman-teman!"
Semuanya berhamburan keluar dari rumah mereka. Terkejut mendapati Natsume muncul di tempat mereka, lagi. Tak disangka-sangka kehadiran Natsume membuat lainnya senang bukan kepalang. Natsume membalas salaman mereka sambil memasang wajah biasa-biasa saja.
Genggaman itu terlepas. Mikan hanya bisa melihat betapa banyaknya orang mengagumi sosok seorang Natsume Hyuuga padahal lelaki di sana hanya seorang laki-laki biasa. Mikan mematung, tak sengaja memundurkan langkah-langkah kaki kecilnya. Mikan belum terbiasa berhadapan dengan banyak orang, karena hidupnya selalu terkurung di kediaman keluarga Sakura atau bermain ke rumah Imai maupun Harada.
"Siapa dia, Natsume-nii?" tanya seorang anak kecil melihat Mikan berada di belakang Natsume, menjulurkan kepalanya. "Apa dia orang yang disebut Nii-chan?" tunjuknya.
Mikan terperanjat kaget, berusaha menenangkan detak jantungnya saat banyaknya pasang mata memandangi dirinya. Dia pun menunduk dalam-dalam, tak tahu harus berkata apa. Namun di kala itu, Mikan merasakan hangatnya tangan di kedua pundaknya merangkulnya erat-erat.
"Kenalkan, ini calon istriku," katanya sambil tersenyum.
Mikan mendongak menatap Natsume yang tersenyum ke arahnya. Gadis itu malah menundukkan kepalanya karena memerah malu. Tiba-tiba dirinya merasakan tangan besar tapi kasar, menggenggamnya erat-erat. Mikan kembali mengangkat kepalanya, kaget melihat sosok wanita separuh baya berdiri terhuyung, tersenyum ke arahnya.
"Jadi, kaukah calon istrinya cucuku?" tanya wanita paruh baya itu tersenyum, berkaca-kaca.
Mikan mengangguk.
"Akhirnya!" Diulurkan kedua tangannya menarik Mikan ke pelukannya. Pelukannya terasa hangat di dalam hati Mikan. Mikan membalasnya. Wanita tersebut mengusap punggung gadis di pelukannya. "Kau benar-benar sangat cantik, Nona. Sungguh beruntung sekali Natsume menemukanmu," serunya gembira.
Natsume tersenyum melihat dua orang disayanginya berpelukan.
Wanita itu mendongak, lalu melepaskan pelukannya kepada gadis kecil ini, menatap Natsume. "Kau sudah memberitahu Ibumu dan Aoi?"
"Belum, Nenek." Natsume menggeleng.
"Kau harus memberitahukannya. Jangan sampai dia belum tahu, nanti kasihan Ibumu." Lalu, ditatap Mikan lagi. Dibelai kulit halus di pipinya, "Kau sungguh cantik, Nona. Entah kenapa kau sangat mirip dengan seseorang yang kukenal. Masuklah dulu ke dalam sambil menunggu Kaoru dan Aoi datang. Kau pasti capek berjalan ke sini, Nona," ajaknya masuk ke dalam rumah mungil di ujung sana.
Natsume dan para penduduk mengikutinya.
Dibiarkan Mikan masuk ke dalam, wanita itu menolehkan kepalanya. "Panggil orang untuk memanggil Kaoru dan Aoi datang ke sini. Kita nggak punya waktu banyak. Kita harus menikahkan Mikan dengan Natsume, sekarang juga!" pintanya kepada para penduduk itu.
Mereka mengangguk setuju dan berbalik pergi.
Natsume merasa senang bisa mempertemukan Neneknya dengan Mikan. Sebentar lagi Mikan akan jadi miliknya seutuhnya. Istri tercinta dan jadi kekasih hatinya. Selamanya.
Sementara itu di tempat Rei berada, di depan sebuah rumah mungil namun cantik halamannya. Mematung dan membeku. Sudah lama sekali Rei tak pernah bertemu wanita yang pernah mengisi hari-harinya bersama Ayah mereka dan dirinya juga adiknya yang belum lahir di rahim sang Bunda yang meninggalkan dirinya.
Menjejakkan kakinya ke halaman depan rumah mungil tersebut, Rei mengamati lekuk rumah-rumah tersebut. Tak heran dirinya bisa mendapatkan rumah ini setelah sekian lama mencari. Lebih tepatnya mencari mereka lebih dari 25 tahun. Sekarang usia Rei adalah 30 tahun. Berarti di saat umurnya 5 tahun, wanita itu telah meninggalkannya, Bunda dan Ayahnya. Wanita yang pernah dicintai Ayahnya dan disayangi oleh Bundanya sebelum Ayahnya menikahi lagi perempuan serakah tersebut.
"Siapa?"
Suara familiar di telinga Rei, mengingat kembali kerinduan yang ada. Dibalikkan tubuhnya menatap wanita berambut hitam sebahu, matanya yang berwarna merah. Kulitnya putih pucat. Yukata di dalam tubuhnya terlihat usang. Dan, di kedua tangannya ada banyak sekali tanaman di dalam sekantung karung.
"Ibu…"
Sekantung berisi tanaman terjatuh. Mulutnya tertutup kedua lengannya. Kedua mata merah menyalanya berkaca-kaca. Tubuhnya hampir lemas. Tapi langkah kecilnya mendekati Rei benar-benar terasa berat. Diulurkan sebelah tangannya untuk menyentuh pipi Rei.
"Anakku… anak dari suamiku dan sahabatku…" isak Kaoru terus menelusuri pipi anak suaminya dan sahabatnya, memeluknya erat. "Oh, Rei! Ibu senang bisa melihatmu, Nak!" isaknya lagi.
"Sudah lama sekali kita nggak bertemu, Bu." Dibalas pelukan Kaoru, membenamkan wajahnya di pundak Ibu yang pernah mengisi hari-harinya. "Ibunda meninggal dunia sejak melahirkan Adik saya, Bu. Meninggalkan Ayah dan menikahi perempuan lain yang sekarang menjadi Ibu kami."
Kaoru membelalak lebar, melepaskan pelukannya dan menatap Kaoru lekat-lekat. "Anaknya Yuka? Siapa namanya, Rei?" pintanya sangat berharap mendengar sahabatnya akhirnya memiliki anak.
Rei tersenyum sambil menahan air matanya. "Namanya Mi—"
"Kaoru-san!"
Sebelum Rei mengutarakan semuanya, seorang laki-laki berambut kuning sebahu muncul di pintu gerbang rumah keluarga Hyuuga, berteriak. Mereka menolehkan kepalanya. Laki-laki tersebut terengah-engah di samping keduanya, mengangkat kepalanya tersenyum. Sebelum berkata-kata, dia mengusap keringatnya.
"Ada apa, Shuichi?"
"Nenek memanggil Anda untuk datang ke desa di bawah gunung. Nenek ingin menikahkan Natsume dengan Mikan," sahutnya gembira.
Kaoru senang bukan kepalang melihat anak laki-laki menemukan belahan jiwanya. Di balik kesenangan keduanya, justru Rei membelalakkan matanya. Dia beralih dari Kaoru ke Shuichi.
"Di mana mereka?!" teriaknya gusar.
Kaoru dan Shuichi terkejut, melepaskan tangan yang menekan kedua lengan Shuichi. "Hentikan, Rei! Ada apa denganmu, Nak?!" tanya Kaoru bingung.
Ditatap Kaoru tajam. "Mereka nggak boleh menikah, Bu. Mereka nggak boleh menikah! Mereka itu adalah kakak adik! Mikan adalah adiknya Natsume, Bu!"
Tubuh Kaoru terkejut, terhuyung ke belakang. "A-apa maksudnya, Rei? Ibu nggak mengerti."
Rei melepaskan kedua tangannya di lengan Shuichi menatap Kaoru, intens dan penuh penyesalan. "Saat Ibu pergi meninggalkan rumah membawa anak Ayah, Natsume, dua puluh lima tahun yang lalu. Lima tahun kemudian, Mikan lahir. Tapi, Ibunda meninggal dunia. Meskipun saya bukan anak Ibu Kaoru, tapi saya sangat menyayangi Natsume. Sebelum Ayah menikah lagi enam tahun lalu, Ayah bertemu lagi dengan Ibu, meminta Ibu kembali padanya. Tapi, Ibu nggak mau. Akhirnya Ayah memperkosa Ibu dan melahirkan anak Ibu yang kedua, Aoi.
"Ya, Bu! Mikan adalah adik Natsume walau mereka beda Ibu. Ayah mereka sama, yaitu Kuonji. Kuonji Sakura yang sekarang saya nggak tahu bagaimana kondisinya saat ini." Rei menundukkan kepalanya merasa bersalah.
Kaoru jatuh terduduk, ditangkap tubuhnya sama Shuichi sebelum menabrak tanah. Air matanya keluar setelah bertahun-tahun tak pernah sekalipun keluar. Hatinya telah hancur membiarkan Natsume bersama Mikan.
Rei duduk bersimpuh di depan Kaoru, membungkuk dalam-dalam. "Saya mohon pada Ibu. Tolong hentikan pernikahan mereka. Mereka nggak boleh menikah. Mereka itu kakak adik. Pernikahan mereka terlarang!"
Tidak ada satupun kalimat-kalimat lagi yang terlontar, menghentikan mimpi buruk ini. Sedangkan Mikan dan Natsume di desa bawah gunung, mereka berdua bercakap ria dengan Nenek Natsume, bercerita banyak. Tak tahu menahu soal pemberitaan mencengangkan dari mulut Rei di desa dekat kota Kyoto sana.
Bagaimana hubungan mereka ke depannya?
-TBC-
