DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Sixteen: The Promise Of Life And Death
Suara bergemuruh muncul di dalam hutan. Suara-suara kaki kuda berlarian menuju desa di bawah gunung Fuji. Kuda-kuda itu ditunggangi orang-orang. Diantaranya adalah Shuichi, Rei, Kaoru dan Aoi, anaknya Kaoru yang kedua. Kedua kuda itu memasuki hutan dari desa kecil tadi. Tak menghiraukan tatapan aneh orang-orang waktu melewati jalannya desa tersebut. Debu-debu bertebangan saat kuda-kuda itu berlarian.
Sesampainya di desa di bawah gunung, keempat orang turun. Semua penduduk desa itu berteriak bahwa Kaoru dan Aoi telah tiba. Nenek yang keluar terlebih dahulu dari rumah bersamaan dengan Natsume dan Mikan di belakangnya.
Kaoru berlarian mendekati Ibunya, yang merupakan orang pernah menasihatinya di kala dirinya gundah. Kaoru memeluknya, menangis terisak-isak. "Ibu…"
"Anakku, ada apa denganmu?" Nenek melepaskan pelukannya, menyelusuri jejak-jejak air mata bekas di pipinya. "Kau menangis? Ada apa?"
Sebelum terjawab apa yang ada di pikirannya yang kalut, Rei menghampiri Mikan dan menariknya. "Ayo pulang, Mikan!" perintahnya.
Mikan yang terkejut melihat Rei muncul dan menarik tangannya, mendongak. "Rei Onii-sama, kenapa bisa ada di sini?" tanyanya terkaget-kaget, terus memberontak.
"Lepaskan dia!" teriak Natsume melepaskan tangan Rei dari lengan Mikan, menatapnya tajam. "Jangan sekali-sekali kau menyentuh dia!" hardik Natsume.
Rei terkejut melihat adik beda Ibu, sekarang telah besar walaupun pernah sekali dua kali dirinya bertemu dengan anak ini, tapi belum bisa mempercayai kedua matanya. Matanya merah menyala. Rambutnya hitam berantakan. Tatapan matanya setajam pisau. Tubuhnya tinggi tegap. Sangat mirip dengan Ayahnya waktu muda meski matanya berbeda.
"Kau, Natsume?" tanya Rei mendekati Natsume.
Mikan memeluk Natsume meminta perlindungan, Natsume melindungi Mikan. "Mau apa kau?" tanyanya tajam.
"Adikku…"
"Apa?" Kening Natsume berkerut.
"Kau? Rei?" seorang wanita paruh baya memandangi Rei dari ujung kaki ke ujung kepala, terkejut bukan main. Bisa dirasakan kerinduan amat dalam, melihat cucunya berlari ke arahnya meminta pertolongan dari Ayahnya dan adik laki-lakinya, Natsume. "Apa kau benar-benar Rei?" tanyanya, lagi.
Rei menelan ludah. Dibalikkan kepalanya melihat wanita tersebut, menyentuh pipinya. "Apa kabar, Nenek. Ya, saya Rei. Rei, cucumu yang selalu berada di sekitarmu dan nggak pernah lepas darinya," sahutnya terharu karena Neneknya masih mengingatnya.
"Oh, cucuku…," Nenek Natsume memeluk Rei, merasakan aroma cucunya paling besar. "Kau benar-benar Rei. Anak Yuka dan Kuonji. Anak pertama mereka!"
"Benar, Nek."
Wanita itu melepaskan pelukannya, menengok ke kanan kiri. "Lalu, di mana anaknya Yuka yang katanya sudah berhasil melahirkan anak kedua, adikmu. Katanya dia sangat mirip sama Ibumu, ya? Nenek ingin sekali bertemu dengannya," sahut Nenek begitu gembiranya.
Rei dan Kaoru tersentak kaget mendengar kalimat Neneknya yang sangat berharap bertemu cucu ketiganya. Wanita itu tersenyum lebar melihat Rei, meminta jawaban. Rei malah menatap Mikan sambil bergetar menunjuk ke arah adiknya.
"Dia ada di sini, Nek. Di sana," tunjuk Rei sambil memalingkan muka bersedih.
Wanita yang tersenyum lebar melihat arah tujuan jari telunjuknya, melihat gadis yang bersembunyi di pelukan Natsume. Mikan Sakura. Mata merah kehitaman melebar bulat, lalu kembali melihat Rei.
"Tunggu dulu, Rei. Mana mungkin Mikan adalah—" Nenek Natsume kembali menatap Mikan, menutup mulutnya. Rasanya memang pernah melihat Mikan di mana. Mikan sangat mirip dengan Yuka, istri pertama Kuonji. Itu bisa dilihat bentuk tubuhnya, rambutnya, wajahnya dan mata cokelatnya begitu bersinar. "Ng-nggak mungkin," ujarnya menahan air matanya. "Nggak mungkin!"
"Nenek…,"
"Nenek!" teriak Natsume memeluk Neneknya. Wanita itu kembali tenang, menatap Natsume yang melihatnya penuh kesedihan. "Kumohon Nenek bersabarlah. Apa yang terjadi? Apa yang dikatakan orang ini kepada Nenek?" tanyanya menatap lagi ke Rei, sangat tajam.
Wanita paruh baya tak mempedulikan pertanyaan Natsume, memilih mendekati Mikan. "Kau anak Yuka? Anak Kuonji?" Mikan mengangguk. Nenek Natsume napasnya tercekat, lalu menghembuskan perlahan. "Kau adalah cucuku, Nak. Cucuku yang akhirnya terlahir ke dunia. Anak yang cantik." Ditolehkan kepalanya melihat Natsume, "Nak, ini adalah adikmu. Dia adalah adikmu dari Ayahmu beda Ibu."
"Apa maksud Nenek?" tanya Natsume mengerutkan keningnya.
"Dia adalah adikmu, Natsume," sahut Kaoru menggantikan Ibunya untuk menjawab kebingungan Natsume. "Dia adik dari Ayahmu walau beda Ibu yang merupakan sahabat terbaik Ibu di masa kecil."
"Bo-bohong!" teriak Natsume menggeleng cepat. Berusaha diraihnya Mikan ke pelukannya, tapi tubuh Mikan malah dilindungi oleh Rei. Amarah Natsume memuncak. "Lepaskan Mikan! Berikan Mikan kepadaku!" teriaknya terlihat menjadi-jadi.
Mikan berada di pelukan Rei belum mencerna informasi tentang dirinya. Pernah sekali Ayahnya, Kuonji, bercerita kalau dirinya dan Kakaknya mempunyai Ibu tiri. Ibu tirinya mempunyai anak laki-laki bernama Natsume. Pernah Ibu tirinya tinggal di sini, di rumah mereka, tapi karena masalah, mereka berpindah dan entah ke mana menghilangnya. Ayahnya terus mencari tapi yang ada dirinya tak pernah sekalipun bercerita lagi waktu itu. Yang ada rasa penyesalan dan rasa bersalah.
Sekarang Mikan mengerti, kenapa dirinya tak boleh keluar dari rumah kecuali bersama Kakaknya. Kuonji tak mau ada seorang laki-laki jatuh cinta padanya, karena sebuah ramalan di mana anaknya dengan perempuan lain yang entah ke mana menghilang bertemu dan jatuh cinta dengan Mikan, anak dari wanita yang meninggal dunia meninggalkan dirinya di kala itu.
Air mata Mikan turun deras, melihat Natsume berusaha meraih dirinya. Rasa jijik dirasakan waktu malam itu, mengikuti cinta mereka kemudian bercinta di malam purnama membuat Mikan merasa bersalah dan menyesal. Ditutup mulutnya agar tidak berteriak histeris dan membenamkan wajahnya yang menangis di pelukan kakaknya, Rei.
"Lepaskan aku!" teriak Natsume terus memberontak di kedua tangan yang melilit dirinya.
Berkat perintah Neneknya, orang-orang yang berdiri mematung akhirnya menekan Natsume agar tidak kalap. Kaoru menangis di pelukan Ibunya, tak mampu melihat kedua anak kandung dan anak suaminya bersama, akhirnya berpisah.
Karena kekuatan Natsume jauh lebih kuat dari semua orang, Natsume akhirnya bisa melepaskan diri. Diraih tangan Mikan yang bebas dan menariknya mendekatinya. Dipeluknya kuat-kuat. Mikan ingin memberontak, tapi tak bisa karena Natsume terus mempererat pelukannya.
"Natsume, kembalikan Mikan!" pinta Rei kepada adiknya. "Kembalikan dia! Kalian nggak boleh menikah!"
"Aku bisa menikahinya! Aku sangat mencintai Mikan! Dan kalian nggak boleh menentang kami!" Natsume memperingatkan kepada lainnya untuk segera menjauh, mendekati kuda di sana. "Jangan mendekati kami!" teriaknya.
"Hentikan, Natsume!" pinta Kaoru sangat memohon.
Natsume melihat Ibunya lebih memilih dirinya berpisah dengan Mikan, tak diacuhkannya. Diambil tali kekang kuda tersebut sambil memicingkan mata merahnya kepada orang-orang hampir mendekatinya. Natsume mengangkat tubuh Mikan ke depan pelana, lalu Natsume ada di belakangnya. Dipeluk tubuh Mikan agar tak jatuh di saat mereka pergi. Kuda itu berbalik pergi, meninggalkan orang-orang yang menentang dirinya dan gadisnya.
Angin berhembus di wajah Mikan yang duduk menyamping. Dilirik Natsume yang marah, hanya bisa memeluknya untuk menenangkan seorang – kekasih hatinya – kakaknya agar tidak marah lagi. Natsume memperkuat pelukannya, mencium puncak kepala Mikan.
"Asal kau tahu, Mikan! Biarpun orang-orang menentang hubungan kita karena kita – ck – kakak adik, aku nggak peduli. Apabila kita hidup bersama di dunia ini, esoknya nanti kita pasti mati bersama. Kau paham, Mikan?"
Mikan mendongak, berurai air mata. Disentuh wajah Natsume yang tegang, tapi bisa dilihat Natsume memejamkan matanya. "Aku selalu mencintaimu walau kita kakak adik. Kau adalah belahan jiwaku. Biarkanlah diri kita menanggung dosa. Asalkan kau tetap berada di sisiku. Selamanya."
Tangan kiri Natsume melingkari pinggang Mikan, mencium aroma rambutnya. "Kita pergi ke tempat yang nggak ada satupun orang melihat kita. Kita kembali ke rumah untuk mengambil kimonomu. Baru setelah itu, kita meninggalkan kota ini."
Mikan mengangguk.
Sebentar lagi mereka pasti bersama-sama selamanya. Meski banyaknya orang-orang mencari keberadaan mereka. Betapa pengawal-pengawal memperketat tempat-tempat akan dilalui Natsume. Kebersamaan mereka mungkin berakhir ke depannya, entah kapan.
-TBC-
