DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Seventeen: Protection And Murder


Keempat orang berdatangan ke sebuah kedai ditambah warung di desa dekat kota Kyoto, kedai Ando. Suasana tegang di dalamnya membuat orang-orang yang pernah bekerja beberapa tahun melihat ke orang-orang tengah masuk. Mereka terkejut ada tiga orang bangsawan kecuali pemuda berambut pirang menerjang masuk.

"Tsubasa mana?"

"Ada apa, Ruka?" jawab seorang pria berambut hitam bertato bintang di bawah matanya, menghampiri lelaki itu. "Kau mencariku?"

"Di mana Natsume?" tanya Ruka berharap menemukan jawabannya di sini.

"Aku nggak tahu. Memangnya ke mana dia?" Tsubasa berpura-pura tak tahu semuanya padahal dia juga ikut andil dalam aksi penculikan Mikan beberapa hari yang lalu.

Hotaru yang mengenakan kimono dua lapis maju dan menodongkan pedang panjang ke depan Tsubasa. Ujung pedang panjang itu hampir mengenai bola mata biru Tsubasa. Laki-laki itu langsung berkeringat dingin.

"Ke mana Hyuuga sekarang? Katakan!" seru Hotaru setengah berteriak. Suara anggunnya mengalahkan diamnya orang lain menjadi ketegangan.

"A-aku benar-benar nggak tahu di-di mana Natsume," sahut Tsubasa mengangkat kedua tangannya sambil menggeleng.

Misaki juga paling kesal mendekati Tsubasa, menodongkan pisau kecil ke wajah pucat Tsubasa. Lelaki itu juga terkejut bukan main melihat dua wanita mengacungkan benda tajam ke arahnya. Dia pun jadi tegang, gugup dan takut.

"Ke mana pemuda bernama Natsume Hyuuga? Jika kau nggak mengatakannya pada kami, kau akan mati di tangan kami berdua," ucap Misaki berwajah biasa saja melihat lelaki itu ketakutan setengah mati hingga keringatnya bermunculan di pelipis dan dahinya.

Sumire yang berada di belakang Tsubasa, menerjang masuk di antaranya. "Saya tahu di mana Natsume membawa Mikan," ucapnya mengangkat tangan.

Mata biru langit Ruka membelalak bulat-bulat, tak percaya Sumire begitu saja membocorkan keberadaan Natsume kepada lainnya. Betul-betul pengkhianat!

"Di mana?" tanya Hotaru tanpa menurunkan todongan pedang panjangnya ke Tsubasa. Begitu pula sama dengan Misaki. "Katakan!" ucap Hotaru tidak sabar.

"Di-dia ada di bawah gunung. Di sana Natsume membawa Mikan pergi," sahutnya gagap. Sumire telah terlanjur mengatakannya karena kecemburuannya kepada Mikan telah mengambil hati Natsume.

Ruka menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya, tak menyangka Sumire mengatakan hal sebenarnya kepada dua orang wanita tersebut. Tsubasa juga begitu tak mengira Sumire melontarkan jawaban membuat dua orang ini berhasil menurunkan senjata pamungkasnya. Sekarang, tatapan itu tertuju pada Tsubasa. Laki-laki berambut hitam langsung bergidik dibuatnya.

"Tunjukkan jalannya!"

Tsubasa menelan air liur memasuki tenggorokannya, mengangguk mengiyakan. Dia benar-benar minta maaf pada Ruka yang menurunkan kedua bahunya tak berdaya. Tak mampu menguasai semuanya, mereka pun mencari keberadaan Mikan.


Sementara itu, Kuonji terjaga dari tidur panjangnya menatap Ayah Hotaru dan Subaru di sisinya. Memicingkan mata yang berwarna ungu, Ayah Hotaru hanya mengangkat bahu tak tahu apa-apa. Kuonji mengerti bahwa anak perempuannya telah diculik oleh Pencuri terkenal bernama Kucing Hitam.

Tak tanggung-tanggung Kuonji memerintahkan semua pengawalnya untuk berusaha mencari Mikan. Dipanggilnya seorang pemanah luar biasa di keluarga Sakura, Luna Koizumi, merupakan kakak sepupu Mikan dan Rei. Juga dipanggil seorang pembunuh bayaran bernama Si Mata Rubah. Kuonji menyuruh mereka mengikuti tempat Mikan dan Pencuri itu berada dengan menyusul Hotaru dan lainnya.

"Kenapa kau lakukan ini dengan berusaha mengurung Mikan di rumahmu?" tanya Ayah Hotaru sambil menyuap sesuap nasi di cawan di depannya.

Kuonji yang menekan dahinya, tak terlalu menghiraukan kalimat Ayah Hotaru. "Aku nggak mau dia bertemu dengan anak-anakku dan Kaoru. Aku takut mereka bertemu dan jatuh cinta," sahutnya sambil menghilangkan pusing di kepalanya.

"Apa karena lamaran itu?"

"Benar sekali. Dan, aku nggak mau Mikan mendapatkan akibatnya setelah jatuh cinta pada laki-laki itu." Kuonji menghela napas berat. "Aku belum pernah bertemu Kaoru dan Natsume setelah itu. Yang aku tahu, Kaoru telah mengandung anakku. Sekarang, aku nggak tahu mereka ada di mana."

"Katanya, Kaoru ada di desa dekat pinggiran Kyoto. Desa di mana Shiki tinggal. Apa kau belum tahu kabarnya?" tanya Ayah Hotaru terus menyuap nasi ke dalam mulutnya.

Kuonji tercengang, menatap Ayah Hotaru melahap makanannya. "Kau tahu? Kapan kau mengetahuinya?" tanya Kuonji berharap.

"Dari Rei yang memintaku untuk mengatakannya di mana aku pernah melihat Kaoru," jawab Ayah Hotaru melihat Kuonji kaget dan menghempaskan dirinya ke belakang. Sepertinya sahabatnya itu terlihat lega dan bisa mengambil istri keduanya kembali ke pelukannya. "Kau senang, bukan?"

"Tentu saja. Aku bisa bersama dia lagi semenjak Yuka meninggalkan aku. Terima kasih, Jinno." Senyuman di bibir Kuonji terbentuk. Sebuah senyuman lega dan rasa terima kasih.

"Sama-sama, sahabatku."


Di lain tempat, Mikan dan Natsume telah bersiap-siap untuk pergi. Namun, mereka dihalangi oleh beberapa orang-orang entah dari mana munculnya. Di sana ada Hotaru, Misaki, Yoichi, Ruka, Tsubasa, Sumire, dan teman-teman Natsume di kedai Ando. Tak disangka kedatangan mereka mengundang tanda tanya.

"Mikan!"

"Hotaru…," sahut Mikan melihat sahabatnya datang berkunjung ke tempatnya, tapi dihalau Natsume yang mencengkram tangannya. "Natsume? Kenapa?" tanya Mikan polos.

"Mau apa kalian datang ke sini dan kenapa kalian tahu kami di sini?" tanya Natsume menarik Mikan kembali ke sisinya. Hotaru mengeluarkan pedang panjang dari sabuknya, mengacungkannya ke hadapan Natsume.

"Kembalikan Mikan pada kami, Hyuuga."

Ditatap Ruka yang menyesal, Sumire yang ketakutan dan Tsubasa yang memalingkan muka juga penuh penyesalan mendalam. Natsume meringis melihat tiga orang terpercayanya lebih memilih mengatakan sebenarnya pada orang-orang bangsawan ini tentang tempatnya bersembunyi.

"Mau kau apa, Imai?" tanya Natsume tak terpengaruh pada acungan pedang panjang tersebut. Mikan melihat rahang Natsume mengeras, menahan amarah.

"Mauku, aku ingin kau mengembalikan Mikan pada kami!" jawab Hotaru terus mengacungkan pedang panjang kepada Natsume.

"Kita bisa bicara baik-baik, Hotaru. Jangan kau lukai Natsume," pinta Mikan bersembunyi di lengan Natsume berusaha menenangkan sahabat kecilnya. "Kami saling mencintai walau aku… memiliki hubungan darah dengannya."

"Apa maksudmu, Mikan?" tanya Hotaru tak mengerti.

Natsume menyembunyikan Mikan di belakang punggungnya, tak mau ada seorang pun tahu rahasia mereka. Mikan tahu Natsume pasti sedih mendengar berita tentang dirinya dan masa lalunya. Sebuah fakta yang menunjukkan bahwa mereka kakak adik.

"Aku tahu apa maksud kalian," ucap Misaki muncul di sisi Hotaru sambil mengacungkan pisau kecil ke arah Natsume. "Kalian kakak adik, 'kan? Dua saudara beda Ibu satu Ayah." Mata ungu Hotaru melebar. "Aku tahu karena Rei pernah cerita soal dirinya ingin terus mencari Ibu dan dua adiknya yang menghilang entah ke mana. Juga soal ramalan, di mana semuanya hancur dikarenakan percintaan hubungan dua orang kakak adik."

"Hn, kau percaya ramalan?" tanya Natsume menyeringai, bersedekap. "Kami nggak percaya dengan hal itu, bodoh."

"Apa kau bilang?!" geram Misaki karena Natsume mengatai dirinya bodoh.

Sebelum Misaki ingin melawan Natsume karena hinaannya itu, suara bergemuruh terdengar di belakang sana, di dalam hutan. Sebuah kumpulan para prajurit muncul di dalam hutan, mengangkat tinggi-tinggi pedang panjang itu.

Natsume tak menyangka bahwa orang-orang yang diantaranya mempunyai hubungan keluarga dengannya, mengkhianati dirinya. Dilindungi Mikan yang mengenakan kimono 12 lapis. Tak mungkin membawa Mikan pergi dari sana dengan mengenakan kimono tersebut, sangat berbahaya.

"Natsume Hyuuga, kau telah menculik Tuan Putri Mikan. Atas penculikan ini, kau harus dikenai sanksi dan hukuman," ucap Narumi menyeringai. "Kau harus dihukum." Dilirik para pengawalnya, Kaname, Hayate dan Rui. "Tangkap dia!"

Mikan yang melihat maju ke depan untuk menghalangi orang-orang menangkap Natsume, merentangkan kedua tangannya. "Kumohon jangan tangkap dia! Dia nggak bersalah!"

"Saya mohon Anda jangan melindungi dia, Tuan Putri. Dia seorang buronan yang menculik Anda," teriak Rui berusaha menangkap Natsume atas lindungan Mikan.

"Dia nggak salah apa-apa!" teriak Mikan. "Aku yang menyuruhnya datang makanya dia membawaku pergi. Aku nggak mau menikahi Reo! Aku nggak mau karena aku nggak mencintainya! Aku hanya mencintai Natsume!"

Semua orang terperangah mendengarnya, tak menyangka gadis selembut Mikan menyukai seorang Pencuri terkenal seperti Kucing Hitam. Natsume kembali melindungi Mikan dan menatap tajam lainnya.

"Kami saling mencintai. Jika salah satu dari kami kalian tangkap, maka kami berdua harus ditangkap."

"Nggak semudah itu, Hyuuga."

Sosok bayangan muncul dari balik pohon melompat ke arah Natsume. Laki-laki merasakannya. Seorang laki-laki berambut warna kacang mengacungkan ujung pedang ke laki-laki itu. Saat Natsume melindungi Mikan malah Mikan yang melindungi Natsume.

Pemandangan di depannya sungguh ironis. Hotaru bisa melihatnya terutama Ruka dan Misaki juga Tsubasa. Mikan tertusuk pedang panjang dilakukan pembunuh bayaran, Si Mata Rubah, untuk melindungi Natsume. Kimono 12 lapis berkibar.

Natsume yang melihatnya terkejut. Darah Mikan merembes keluar mengikuti arah angin, sesuai slow motion. Tubuh Mikan tertangkap kedua tangan Natsume yang juga terhuyung ke belakang dan jatuh terduduk. Mata merah menyala Natsume senada dengan darah Mikan yang segar bercucuran di kimono panjangnya.

"MIKAAAN!"

-TBC-