DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Eighteen: Beginning Of The War


Sebelum kematian Mikan di bawah gunung demi menyelamatkan Natsume. Di tempat kota Kyoto, semua masyarakat penduduk setempat termasuk desa-desa yang bersejajar dengan kotanya mulai mempersiapkan demo untuk menghancurkan orang-orang yang bersikukuh melancarkan serangan buat si Pencuri, Kucing Hitam.

Mereka mulai berdatangan di kantor pemerintah yang dijaga ketat oleh banyaknya prajurit-prajurit dari berbagai kalangan atas dan rendah. Mereka tak menyangka bahwa begitu banyaknya orang-orang mulai berkumpul demi menyelamatkan sosok yang telah menyelamatkan mereka dari kemiskinan.

Sang kepala pemerintah, Mihara, melihat anak buahnya tengah berjaga-jaga di depan agar tak seorang pun yang masuk ke dalam gedung. Lelaki ini meringis melihat betapa banyaknya penduduk desa dan kota datang ke tempatnya. Dia memukul meja begitu keras, mengagetkan anak buahnya yang juga menjaga di sekitarnya.

"Dasar! Penduduk sialan! Hanya karena si Kucing Hitam, mereka mulai bertindak seperti ini!"

Prajurit di sampingnya juga wakilnya membungkukkan setengah punggungnya, "maafkan hamba, Tuan. Ini nggak sesuai apa yang diperkirakan. Mereka seperti mencurigai kita telah bekerja sama dengan keluarga Sakura dan Mori."

"Mereka yang kurang ajar!" Mihara menggeram, mengepalkan tinjunya lagi di atas meja. "Mereka harus diberi hukuman setimpal! Jangan biarkan mereka lolos dari sini! Tangkap mereka hidup-hidup!" perintahnya.

Semua orang saling bertatapan dalam diam. Merasakan betapa marahnya sang kepala pemerintah atas tindakan dan perbuatan penduduk kota dan desa demi membela si Kucing Hitam. Tak ada suara apa pun, Mihara kembali berteriak.

"Cepat tangkap mereka! Jika kalian nggak menangkapnya, kalian juga akan diberi hukuman! Hukuman mati!" ancamnya sambil menyeringai.

Para prajurit dan wakilnya langsung terperangah kaget, melaksanakan perintah sang kepala untuk menangkap orang-orang yang terlibat dalam peristiwa ini, yaitu menjaga dan menyelamatkan si Kucing Hitam apapun yang terjadi.


Sementara itu, kediaman keluarga Mori juga bersitegang menatap para pengawalnya tentang berita soal beberapa penduduk berdatangan ke gedung pemerintahan demi melancarkan aksi penyelamatan atas Kucing Hitam. Kepala keluarga dan istrinya tak menyangka rakyat-rakyat Kyoto begitu menyayangi Kucing Hitam yang telah menyelamatkan mereka dari kemiskinan. Mereka pun turun tangan untuk menghancurkan orang-orang yang bertindak di atas perintah Kucing Hitam bukan pemerintahan.

"Jadi, sekarang kepala pemerintah sedang bertarung melawan mereka? Begitu?" tanya kepala keluarga Mori menatap para pengawalnya membungkukkan badan sambil duduk bersimpuh.

"Benar, Tuan Besar."

"Bilang saja pada kepala pemerintahan, kami akan ikut bantu asalkan kami dijaga ketat oleh mereka. Sampaikan salamku untuknya," perintah kepala keluarga Mori kepada prajuritnya.

"Baik, Tuan Besar."

Prajurit itu pun mundur ke belakang dan berbalik pergi.

Kepala keluarga Mori dan istrinya menghela napas panjang dan bersiap-siap ikut melawan penduduk desa dan kota yang seenaknya melakukan aksi seperti itu demi menjaga nama baik Kucing Hitam, sosok yang telah menculik Tuan Putri Mikan Sakura dari acara perjodohan mereka beberapa hari yang lalu.

Sebelum mereka beranjak pergi, Reo masuk dengan tergesa-gesa. Kepala keluarga Mori sekaligus Ayahnya menatap anak satu-satunya, "Ada apa denganmu, Reo? Wajahmu penuh kepanikan," tanyanya.

"Ini soal Mikan, Ayah." Reo memberi hormat pada Ayahnya terlebih dahulu baru memulai percakapan lagi. "Mikan menikah dengan Natsume Hyuuga yang nggak lain adalah si Kucing Hitam."

Kedua orang tua Reo tersentak kaget.

"Apa benar itu, Reo?" tanya Ibu Reo.

"Benar, Ibunda. Mikan memang sengaja diculik oleh Natsume Hyuuga demi membatalkan perjodohanku dengannya. Aku kira hal ini nggak menghambat, tapi ini juga berhubungan dengan keluarga Sakura."

"Apa kau bilang?!"

"Keluarga Sakura memang telah mengetahui kejadiannya akan seperti ini lewat ramalan yang dilakukan Hii-sama. Ramalan itu terbukti benar, dan sekarang Mikan akan menikahi Natsume Hyuuga, sang Kucing Hitam," lanjut Reo.

"Kita harus berbicara pada Kuonji soal ini, suamiku!" kata sang istri kepala keluarga Mori. "Ini nggak boleh dibiarkan terus seperti ini!"

Ayah Reo mengepalkan tangannya menjadi tinju, menatap tajam ke segala arah. "Berani-beraninya Kuonji mengkhianati kita. Dia nggak pantas melakukan ini padahal kita sudah memberikannya bantuan selama ini."

"Bukannya istri Kuonji terkenal matre, suka pada uang?" tanya Reo menduga-duga.

"Semuanya sama saja, Reo! Istri maupun suaminya sama-sama nggak tahu diuntung. Seenaknya melakukan ini pada kita demi mengkhianati kita suatu saat nanti. Kita harus membalasnya," istri kepala keluarga Mori menggeram marah.

"Bagaimana kalau kita bunuh Mikan Sakura?"

Reo terperanjat kaget mendengarnya. Awalnya kaget dan terkejut menanggapinya, tapi akhirnya menyetujui apa yang dikatakan sang Ayahanda. Reo mengangguk, mengiyakan. Senyum orang tua Reo menyunggingkan sebuah senyuman misterius.

"Kita lakukan dengan mengawasi tindak tanduk mereka berdua. Lakukan sekarang, Reo!"

"Baik, Ayahanda!"


Di tempat lain, kediaman keluarga Sakura terlihat lengang. Tidak ada siapa pun orang-orang mengawasi tempat itu. Yang ada hanyalah Narumi Anjo, Misaki, dan Serina Yamada mengawasi sekitar keluarga Sakura juga kepala keluarga Imai yang bertandang ke rumah Sakura.

Sepinya tempat itu benar-benar membuat keluarga ini sangatlah aneh, karena tidak ada suara yang muncul di dalam rumah. Tapi baru beberapa detik kemudian, suara nyaring datang di dalam rumah.

"Dasar pria miskin! Itulah makanya aku nggak suka berada di sini, bersama dua anak-anakmu yang entah ada di mana!" teriak seorang wanita di salah satu ruangan tengah yang tengah bercahaya terang.

"Kumohon dengarkan dulu kata-kata Kuonji, Nohara," bujuk Jinno kepada wanita lagi berteriak marah.

"Buat apa aku mengerti, Jinno! Sejak aku menikah dengannya, kekayaannya masih ada tapi sejak dua anak-anaknya menghilang dan keluarga Mori menarik kekayaannya kembali, semua harta keluarga ini semuanya sudah ludes terbakar. Lebih baik aku pergi daripada aku mati kemiskinan di sini!"

"Jangan begitu, Nohara. Apa kau nggak pernah menyayangi Kuonji?"

"Nggak pernah aku menyayangi Kuonji apalagi mencintainya. Yang aku butuh uang bukan yang lain! Aku nggak mau miskin, kau tahu itu!" teriaknya lagi.

"Tapi, nggak seharusnya kau meninggalkan Kuonji hanya takut miskin. Apa kau nggak tahu, gara-gara menikahimu, Kuonji harus merelakan istri keduanya yang pergi meninggalkannya dan membawa serta anak laki-lakinya dan anak perempuan dikandungnya?!" geram Jinno menahan amarah akibat pernyataan Nohara.

Kuonji yang duduk mematung sambil menerawang jauh, tak mempedulikan perdebatan yang berbeda argument tersebut. Dirinya merasa seperti kehilangan nyawa, karena sebentar lagi ramalan itu akan nyata. Nyata akibat ulahnya sendiri.

Nohara menolehkan pandangannya ke Kuonji, menatapnya lekat-lekat dan tajam. "Mulai sekarang, aku nggak mau berurusan dengan keluarga ini lagi. Dan aku nggak mau bertemu denganmu lagi. Anggap saja kita telah bercerai secara sah. Jangan pernah menghubungiku apalagi memanggilku ke sini." Nohara berbalik badan pergi meninggalkan dua orang yang terdiam membisu.

Jinno menatap kepergian Nohara sampai sosoknya menghilang di pintu geser. Ditolehkan tatapannya ke Kuonji yang tengah melamun sambil menghembuskan napas berat. Jinno juga mengikuti langkah-langkahnya, hanya duduk sambil diam membisu.


Saat Nohara pergi, para prajurit keluarga Mori menghadangnya dari luar gerbang. Nohara terkejut melihat banyaknya orang berpakaian ala prajurit menghalangi langkahnya. Pemikiran Nohara tentang mereka pasti mengajaknya pergi dari tempat ini, Nohara melangkahkan kaki ke mereka. Namun, tak disangka-sangka dirinya kena kesialan. Nohara diperkosa dan dibunuh secara sadis di tempat sepi yang tak ada satu pun orang yang mengetahuinya.

Pemberitaan ini juga tak diketahui oleh keluarga Sakura melainkan diketahui oleh komandan keluarga Imai, Narumi Anju. Pria berambut pirang tersebut menemukan mayat mengambang tanpa mengenakan kain sehelai benang pun di tubuhnya. Berita ini pun disembunyikan dan mayatnya dikuburkan tanpa ada seorang pun yang melayat. Hanya Narumi seorang.


Tengah-tengah peperangan yang dilakukan keluarga Mori dan Pemerintahan membuat rakyat-rakyat Kyoto marah besar. Mereka pun menghakimi keduanya secara gambling dan tak mengurusi pemerintahan. Menyebabkan rakyat sakit dan miskin sampai ke ujung Jepang.

Mereka bersama-sama membantai semua keluarga Mori dan Pemerintah hingga dua orang terpenting di Kyoto harus menahan rasa malu juga harga diri tingginya untuk menghabisi penduduk tersebut. Para penduduk telah dibantu oleh keluarga Masachika dan keluarga Yamanouchi untuk menghancurkan keluarga Mori dan kepala Pemerintah, agar keluar dari tanah Kyoto. Dan cara itu pun berhasil.

Peperangan ini terus berkecamuk dan meletus. Bersamaan hancurnya keluarga Mori dan antek-anteknya. Tidak ada satu pun yang tersisa.

TBC