DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Nineteen: The Destruction Of The Family
Kabar mengejutkan terdengar di dalam kediaman keluarga Sakura tentang anak perempuannya ditusuk diakibatkan oleh pembunuh bayaran yang diterima dari keluarga Mori. Hal ini membuat Kuonji tak bisa berbuat apa-apa. Hal ini juga membuat Kuonji tak bisa lagi mengembangkan usaha dan bisnis keluarganya.
Suasana hening, sepi dan tidak ada satu suara pun terdengar di kediaman Sakura yang biasanya terdengar semangat, ceria dan hangat dikarenakan Mikan Sakura, hilang begitu saja.
Jinno, kepala keluarga Imai, terus mengunjungi sahabat kecilnya sekalian menghiburnya. Akhir-akhir ini, Kuonji kebanyakan melamun sekaligus sakit akibat lever yang tak diperkirakan sebelumnya. Jarang-jarang seorang kepala keluarga mendapatkan penyakit tersebut padahal dirinya tak pernah merokok sebelumnya.
Pekerjaan yang dilakukan kepala keluarga tersebut hanyalah merenung, melamun, membayangkan dirinya yang dulu tengah berbahagia dan sekarang dirinya sering sakit-sakitan yang suka batuk-batuk berdarah.
Cepat-cepat Jinno meredakan batuk Kuonji dengan cara menepuk-nepuk punggungnya. Redanya batuk lelaki tua itu terus menimbulkan pernyataan bahwa sang kepala keluarga mungkin akan meninggal dunia akibat terbunuhnya anak perempuannya serta menghilangnya anak laki-lakinya.
"Lebih baik kau istirahat. Kau sangat pucat," kata Jinno memberikan segelas cangkir kecil ke tangan Kuonji.
"Aku… baik-baik… saja…," sahut Kuonji terengah-engah.
"Apa kau tahu, gara-gara memanggil pembunuh bayaran, Mikan harus mengalami ini?"
"Aku nggak menyangka Mikan harus melindungi laki-laki itu ketimbang dirinya sendiri. Aku menyayangkan tindakannya. Kukira dia bakalan membiarkan laki-laki itu dibunuh oleh tangan sang pembunuh bayaran, ternyata harus beginikah caranya?" hela Kuonji sesaat membayangkan anak-anaknya mati di tangan pembunuh itu. "Rei saja mengkhianati aku."
"Dia nggak suka caramu menjodohkan Mikan hanya karena uang, Kuonji," sela Jinno menghela napas.
"Tapi, tetap saja Rei mengkhianati aku. Sekarang, aku nggak tahu dia ada di mana. Mungkin sekarang kembali ke istrinya, Nobara," gumam Kuonji lirih.
Jinno maupun Kuonji menghela napas panjang namun berat. Disayangkan betapa kerasnya kehidupan mereka yang dulu menyebabkan anak-anak mereka harus dikurung dan tak boleh diperkenankan keluar rumah. Kecuali pertemuan antar keluarga dan sahabat.
Jinno berpikir ulang, dan menemukan sebuah pemikiran yang bagus. "Apa kau sudah tahu di mana Kaoru, Kuonji?" tanyanya.
Kuonji menggeleng. "Biarpun aku tahu, dia nggak mungkin memberikan alamat tempat tinggalnya padaku. Dia sangat membenciku, Jinno. Gara-gara aku menikahi orang lain dan juga membuat Yuka meninggal," desahnya di dalam hati.
"Yuka meninggal bukan gara-gara perbuatanmu. Ini sudah takdir Tuhan, Kuonji," ralat Jinno kesal pada pemikiran negatif sahabatnya.
"Jangan memutarbalikkan semuanya, Jinno. Faktanya benar adanya. Dan nggak ada yang salah. Akulah yang membuat Yuka meninggal, dan membuat anakku, Mikan, harus dikukung di kediaman rumah ini." Kuonji menggeleng cepat dan mendesah lagi.
Tidak ada satu pun kalimat-kalimat lagi yang membuat mereka berbicara. Pernyataan Kuonji tadi bikin semuanya jadi runyam. Ini adalah kesalahan semata dari keegoisan kepala keluarga Sakura, Kuonji Sakura.
Sementara di tempat lain, sejak kepergian Natsume yang membawa lari Mikan, menyebabkan kegusaran bagi Kaoru, Nenek Natsume, Aoi dan Rei. Mereka berempat mendapatkan sebuah kabar mengejutkan bahwa Kuonji dan semua keluarga Sakura telah hancur di tangan seorang Kuonji.
Masalah ini terjadi dikarenakan Mikan harus melarikan diri demi penolakan cintanya kepada Reo Mori – yang sekarang didekam di sel tahanan bersama kedua orang tuanya dan Mihara – sahabat sejak kecilnya. Berita ini menyebar dan juga bikin banyak orang jengkel pada sosok Mikan Sakura yang suka sekali memfitnah si Kucing Hitam yang menyebabkan ini semua.
Kekacauan demi kekacauan membuat keempatnya gusar termasuk Aoi. Anak perempuan berusia lima tahun yang tak tahu apa-apa, terkejut bahwa Mikan – orang disayanginya – adalah seorang kakak kandung beda Ibu. Mereka pun berpikir bagaimana caranya bertemu sang kepala keluarga di saat semuanya sedang kacau.
Kaoru menggigit ibu jarinya sambil mondar mandir di halaman rumah sang Ibu. "Bagaimana keadaan Kuonji? Apa dia baik-baik saja?" gumamnya di dalam hati.
Rei yang juga duduk bersimpuh, terdiam beberapa lama. "Kenapa Ayah nggak melakukan apa-apa? Apa ini adalah masa pemerintahan terakhir Ayah? Lalu, bagaimana dengan Mikan jika seandainya Ayah dan keluarga Sakura jatuh di masa Pemerintahan ini?"
Nenek Natsume dan Aoi mendesah berat dan berpikir terus menerus tanpa henti sambil menerawang ke langit biru kemudian menghitam. "Sebentar lagi ada badai datang. Tapi, kenapa perasaanku selalu nggak enak. Ada apa ini?"
Sedangkan Aoi, hanya bisa diam tanpa menjawab apa yang terjadi di dalam benaknya. Pandangan terus berada di langit biru kemudian berubah jadi abu-abu dan menghitam. Suasana mencekam ini membuatnya harus turun tangan. Meskipun usianya tak pantas dikategorikan sebagai anak yang sok tahu untuk menasihati Ibu, Kakaknya dan Neneknya.
"Rei-nii, Ibu, Nenek! Kenapa kita nggak pergi ke tempat Ayah?!" tanya Aoi membuat semua orang terkejut.
"Apa maksudmu, Aoi?"
"Kita ketemu Ayah dan membicarakan hal ini padanya. Jangan sampai keluarga ini hancur hanya karena keegoisan seorang Ayah kepada anak-anaknya. Apakah kalian nggak menyayangi mereka?"
Ketiga saling berpandang-pandangan. Lalu, melihat ke Aoi yang mengharapkan mereka mengikuti kemauannya. Akhirnya mereka menyetujuinya membuat Aoi lega. Semuanya bisa dilakukan dan bisa diperbaiki meskipun keluarga Sakura sebentar lagi hancur hanya karena keegoisan masing-masing anggota keluarga.
Berita tentang sekaratnya Mikan Sakura tersebar di berbagai kota dan desa di Kyoto. Semuanya terkejut dan ikut senang karena wanita yang telah membuat si Kucing Hitam di fitnah oleh macam orang termasuk keluarga kaya akhirnya sekarat. Tapi, semua itu hanya sebentar saja dikarenakan sosok Mikan Sakura telah melindungi kekasih hatinya.
Berita ini juga masuk ke lingkungan kediaman keluarga Sakura. Mereka kaget, terkejut, senang, juga sedih.
Berita pertama, Natsume Hyuuga adalah anak kedua dari istri kedua dan Kuonji. Hal ini menyebabkan rasa penyesalan, frustasi dan merasa bersalah kepada anak itu. Yang telah dibiarkannya pergi tanpa mendidiknya untuk menjalankan pekerjaan di keluarga Sakura dan tetap menyandang nama keluarga sang Ibu, Hyuuga.
Berita kedua, Kaoru, istri kedua Kuonji, beserta anak-anaknya dan Ibu mertuanya akan datang ke tempat mereka dan membuat Kuonji semangat untuk meraih apa yang telah hilang di kemudian hari. Ini telah membuatnya kembali senang juga bahagia.
Berita ketiga, Mikan belum meninggal tapi sekarat. Dia membutuhkan darah dan operasi untuk menyembuhkan tebasan di perutnya akibat tusukan pedang panjang Pembunuh Bayaran yang telah dibunuh oleh Ruka, Hotaru dan Misaki di tempat kejadian perkara. Mayat Pembunuh tersebut telah dibuang jauh-jauh dan tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaannya.
Berita terakhir, keluarga Mori dan para masyarakat di gedung pemerintahan telah ditangkap oleh pihak wajib. Mereka dibawa ke Tokyo untuk diadili dan diberi hukuman mati di depan semua mata orang-orang membenci mereka. Ini benar-benar tak terduga bagi kepala keluarga Sakura dan Imai.
"Tapi, tetap saja keluarga Sakura telah hancur." Kuonji menyela pernyataan itu.
"Itu bisa dimulai lagi dari awal, Kuonji."
"Jika memang bisa dimulai, aku mau keluarga ini ada lagi sekali lagi. Tanpa ada rasa cinta berbeda jenis kelamin. Aku nggak mau mengulangi masa-masa itu lagi."
Jinno tersenyum. "Kenapa kau nggak membuat peraturan tersebut?"
"Setelah Kaoru, Ibu mertua, Aoi dan Rei datang, aku ingin bertemu Natsume dan Mikan di kediaman keluarga Masachika. Aku mau berbicara dengan mereka sebelum aku memulainya lagi." Kuonji membalas senyuman itu sambil meminum obatnya.
Jinno tersenyum bahagia melihat sahabatnya akhirnya mau menyembuhkan dirinya lagi meski saat ini keluarganya mulai terpuruk. Tapi, tidak ada salahnya kembali lagi ke awal dan memulainya lagi dengan cara kebaikan?
TBC
