DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Twenty: Killing Feeling


Saat Mikan ditusuk oleh Pembunuh Bayaran, gadis itu jatuh di pelukan kekasihnya, Natsume Hyuuga. Penusukkan itu terjadi di depan mata mereka sendiri, membuat Natsume tak bisa bergerak diakibatkan dirinya harus melindungi Mikan dari serangan apa pun.

Hotaru, gadis berambut hitam pendek, melayangkan pedang panjangnya begitu sosok Pembunuh Bayaran memijakkan kedua kakinya di tanah. Pembunuh itu sigap menghindar dari pedang panjang penuh kilauan milik Hotaru.

Dibantu oleh Misaki yang penuh kewaspadaan dan hebat dalam pertarungan jarak jauh maupun jarak dekat, gadis berambut merah muda sebahu, melompat ke pembunuh tersebut. Tapi, tetap saja hal itu dikacaukan saat pembunuh tersebut melompat ke samping dari dahan ke dahan.

Hotaru dan Misaki mengangkat kepalanya ke atas, menatap tajam pada sosok laki-laki berambut kuning durian, bermata sipit dan tersenyum menyeringai ke arah mereka. Gara-gara senyuman tersebut, Misaki dan Hotaru mau tak mau harus membunuh laki-laki itu sebelum melakukan kesalahan yang kedua.

"Biar aku membantu kalian!"

Suara serak dan berat disuarakan oleh pria berambut pirang, ikut membantu mereka. Melompat ke dahan untuk melancarkan serangan bantingan – yaitu judo – kepada pembunuh tersebut akhirnya disukseskan saat Ruka membanting tubuh tersebut ke bawah.

"Kena kau!"

Tubuh pembunuh tersebut terbaring terlentang di tanah mengakibatkan rasa sakit di punggungnya. Ada darah yang merembes di kepalanya menyebabkan dirinya tak bisa lagi bangun apalagi bergerak. Pedang panjangnya juga harus dipatahkan oleh Ruka dengan cara menginjaknya.

Perkelahian ini juga mengakibatkan para prajurit tak bisa melakukan apa-apa. Mereka hanya bisa terdiam membisu di tempatnya. Melihat dan memandangi saat Misaki dan Hotaru berjalan ke arah pembunuh tersebut sambil mengacungkan senjata kesayangan mereka. Pembunuh tersebut bergeming melihatnya.

"Siapa yang menyuruhmu?"

Pembunuh itu tak menjawab.

"Siapa yang menyuruhmu melakukan ini?!" tanya Hotaru tak sabar.

Pembunuh tersebut lagi-lagi tak menjawab.

"Jawab! Atau aku akan membunuhmu!"

Hening.

"Katakan!"

"Keluarga Mori menyuruh saya membunuh anak perempuan keluarga Sakura, Mikan Sakura, demi menghancurkan keluarga Sakura. Ini juga disetujui oleh kepala keluarga Sakura, Kuonji Sakura," katanya akhirnya berbicara singkat namun jelas.

Kemarahan di mata merah menyala Natsume bergelora. Ditatap tubuh terlentang pembunuh tersebut penuh syarat dan ambisi yang kuat. Senyuman licik terpampang di bibir Natsume sambil memeluk Mikan yang terengah-engah akibat kehabisan darah dan luka tusukan di perutnya.

"Apa benar, kepala keluarga Sakura yang melakukan ini semua?" tanya Natsume menahan kemarahan.

Hotaru, Misaki dan Ruka menolehkan kepalanya melihat Natsume, menghembuskan napas berat karena ini menyangkut keluarga Sakura.

"Katakan!"

"Kuonji Sakura hanya menyetujui apa yang dilakukan kepala keluarga Mori terhadap Mikan Sakura. Selebihnya beliau hanya setia menunggu. Mungkin ini disebabkan oleh ramalan yang dilakukan oleh Hii-sama," jawabnya jelas.

"Ramalan?" gumam Natsume lirih. "Ramalan apa?"

"Ramalan bahwa Mikan Sakura akan mencintai laki-laki – kekasih hatinya – merupakan saudara beda Ibu. Jika hal itu terjadi, Mikan harus dibunuh untuk membunuh semua cintanya kepada laki-laki itu. Dan hasilnya, itu benar terjadi."

"Saudara? Beda Ibu?" tanya ketiganya tak percaya apa yang didengarnya barusan.

"Apa maksudnya itu, Natsume?" tanya Ruka penasaran.

"Kalian nggak perlu tahu apa maksudnya," jawab Natsume memalingkan muka.

"Aku ingin tahu apa maksudnya, Hyuuga. Ini ada hubungannya dengan Mikan, sahabatku!" geram Hotaru tak suka dengan kalimat Natsume yang menyembunyikan sesuatu.

Natsume tak menjawab.

Hotaru mulai marah pada kelakuan Natsume yang tak mau memberitahukan yang sebenarnya. Saat Hotaru mau menghampiri Natsume, suara Mikan menyadarkannya dan membuat perempuan itu terkejut bukan main terutama pria berambut hitam di pelukannya.

"Kami… adalah saudara… kandung beda Ibu, Hotaru…," lirih Mikan mengatur napasnya yang terengah-engah.

"Kenapa kau mengatakannya, Mikan?!" bentak Natsume tak percaya.

"Biarkan saja. Karena inilah awalnya di mana ramalan itu benar adanya. Mungkin orang itu telah membunuh rasa cintaku kepadamu, Natsume." Mikan berbicara lantang sebelum terengah-engah lagi meski suaranya sangat sendu dan ada rasa sedih di dalamnya.

"Kau nggak boleh bicara seperti itu!"

"Harus… Natsume…"

"Ramalan itu benar adanya di saat seorang Pembunuh membunuh pusat cinta itu – pusat di mana laki-laki itu mencintai perempuan tersebut. Ini berlaku bagi petuah di masa-masa dahulu, di mana mereka mempercayai ramalan milik Hii-sama bahwa nggak ada dua insan saling mencintai di mana mereka adalah saudara kandung beda Ayah maupun Ibu." Pembunuh bermata sipit tersebut kemudian menutup mata. "Silakan bunuh saya. Tugas saya telah selesai."

Ruka yang bertanggung jawab pun menusuk tubuh Pembunuh hingga darahnya keluar. Ini adalah kemungkinan sebentar lagi dimulainya hari yang baru meski perasaan cinta tidak ada lagi di sekeliling mereka.

Natsume terdiam seribu bahasa melihat Mikan menyerah pada semuanya. Seharusnya tadi Natsume membiarkan dirinya dibunuh lelaki itu dan membiarkan laki-laki itu menghapus rasa cintanya terhadap Mikan. Tapi, kenapa harus Mikan?

Kenapa harus dirinya?

Jawaban itu tidak ada satu pun yang terjawab.

Tsubasa sedari tadi diam, mendekati dua orang itu. Mengangkat tubuh Mikan yang lemah. Memandangi Natsume yang terdiam tanpa menolak apa yang dilakukan pemuda bertato kepada Mikan saat ini. Berbalik badan menatap Hotaru.

"Imai-sama, di mana sebaiknya kita membawa Mikan-sama agar bisa diobati lukanya?" tanya Tsubasa.

"Kita ke rumah keluarga Masachika. Hanya beliau yang tahu soal pengobatan ini," sahut Misaki menuntun Tsubasa menuruni bukit sekalian diawasi oleh prajurit-prajurit terhebat milik keluarga Imai dan Harada.

Selebihnya, Ruka membantu Natsume bangkit dan berjalan. Hotaru yang melihat keduanya dan rombongan itu, mengangkat kepalanya ke atas. Langit biru berubah jadi hitam. Sebentar lagi ada badai mencekam.

Ditarik kain kimono bawah Hotaru oleh tangan mungil kecil tersebut. Hotaru menundukkan kepalanya menatap Yoichi. "Ada apa?"

"Nee-sama nanti ketinggalan," sahutnya tengah menghibur.

"Baiklah. Kita ikuti mereka."

Hotaru meraih tangan Yoichi dan membawanya dengan mengikuti mereka dari belakang. Biarkan saja dulu saat-saat ini sebelum memulainya lagi.


Kediaman Masachika, Natsume tak henti-hentinya pergi dari tempatnya duduk sambil memeluk Mikan yang tengah merasakan kesakitan akibat jahitan di perutnya oleh tabib perempuan dibantu oleh perawat perempuan.

Sebenarnya mereka takut Natsume akan melihat tubuh telanjang Mikan, tapi lelaki itu hanya bisa diam saja sambil melihat jahitan-jahitan terus bertambah di perut Mikan seolah-olah tak menanggapi apa yang ada di dalam tubuh telanjang Mikan.

Tabib dan perawatnya tak bicara banyak soal itu, jadi mereka terus merawat Mikan sambil melihat kondisi gadis itu di tangan mereka. Kondisi Mikan tak bisa dibilang parah apalagi sehat. Kondisi Mikan berada di ambang dua dunia, antara hidup dan mati. Namun, itu tak jadi masalah karena gadis ini mencoba bertahan demi kekasihnya tengah memeluknya walaupun sekarat.

Darahnya akhirnya bisa dibersihkan. Penambahan darah juga telah dilakukan dibantu orang-orang yang bersedia menyerahkan darahnya demi gadis baik hati ini.

Operasi ini telah selesai juga. Tabib dan perawat memohon diri dan meninggalkan Mikan dan Natsume di sana. Pakaian Mikan telah diganti dengan yukata tidur. Tentu saja yang memasangnya adalah Natsume sendiri.

Mata cokelat Mikan yang bercahaya namun sarat kesedihan, menatap Natsume. "Ne, Natsume, ijinkanlah aku berada di pelukanmu sebelum aku meninggalkanmu suatu saat nanti. Aku ingin sekali berada di sini." Kepala Mikan dibenamkan di dada bidang Natsume.

"Hn."

"Aku harap kau nggak marah padaku, Natsume."

"Hn."

"Besok, mungkin jadi awal buat kita."

"Hn."

"Aku mencintaimu, Natsume."

"Aku juga mencintaimu, Mikan."

Diraih dagu Mikan dan diciumnya bibir lembut merekah itu. Dilumatnya sampai-sampai ke rongganya. Ciuman itu sangat menenangkan. Benar-benar menenangkan walaupun hal itu mungkin menjadi sebagian rasa kesedihan mereka sebentar lagi berpisah.

Di mala mini juga, Natsume bercinta dengan Mikan. Mereka bercinta sampai puas tanpa ada satu pun rasa sakit. Biarkanlah hal ini terjadi, karena esok adalah hari di mana mereka mengetahui semuanya. Sebuah perpisahan sebagai kekasih hati dengan ciuman surge terindah di malam akhir ini.

TBC