DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.


Paradise Kiss

Written by Luna Margaretha


Chapter Twenty Two: Sacrifice


Saat Mikan membuka kedua bola mata cokelatnya, kesedihan kembali terpancar di dalam dirinya. Kemarin malam dia dan Natsume tengah bergumul di dalam percintaan yang menghanyutkan, tak terpisahkan. Cinta mereka terasa membara dan menghancurkan kesedihan yang ada menimpa dirinya dan kekasih hatinya.

Hari ini, semenjak dua pilihan sang Ibu dan Ayah, Mikan menghembuskan napas kelegaan sekaligus kebahagiaan yang terpancar di sinar mata cokelatnya yang cantik. Dia bangun dari tidurnya merasakan pelukan di pinggangnya yang tak lain adalah Natsume Hyuuga, kekasih hatinya maupun kakak beda Ibu.

Kedua mata Natsume terpejam. Menampakkan mimik polos di bentuk wajahnya yang tampan. Mikan mengulurkan tangan untuk menyentuh pipinya seperti warna tembaga. Namun, sebuah tangan kekar menggenggamnya erat, menghentikan sentuhan itu.

"Na-Natsume…?"

"Apa yang kau inginkan sampai-sampai kau sengaja melakukannya, Mikan?" tanya Natsume sekilas membuka kedua mata merah menyalanya kepada Mikan. Gadis itu pun bersemu merah karena malu.

"Aku hanya mau menyentuhmu?" Mikan menundukkan kepalanya.

"Hn. Benarkah?"

"I-iya."

Mikan bangkit berdiri, tak tahan bersama Natsume yang sering menggodanya. Kimono tidurnya dikenakan membuat Mikan merasakan panas di seluruh wajahnya. Mengingat pengalaman panas tadi malam.

"Anoo… apa kau mau ikut denganku untuk jalan-jalan?" tanya Mikan sesaat menatap Natsume lekat-lekat.

"Memangnya mau ke mana?" Natsume membalas tatapan itu, ingin tahu.

"Ke mana saja. Yang penting aku bisa bersamamu."

"Boleh saja."

"Kalau begitu, aku mandi dulu. Mau berendam di bak mandi yang disediakan Anna tadi." Mikan beranjak dari tempatnya, tapi dihalangi Natsume. Karena pria itu mengangkat tubuh Mikan. Mikan terkejut. "Eh? A-apa yang kau lakukan?"

"Aku ingin mandi bersamamu," goda Natsume sangat puas.

Lagi-lagi Mikan berwajah merah merona. Dilingkarkan kedua lengannya ke leher Natsume, menyandarkan kepalanya di bahu kekar pria tersebut. Mereka pun pergi ke sudut ruangan kamar tidur, di sana ada Anna dan beberapa dayang ingin membantu Mikan mandi. Tapi pergi karena Natsume yang bersedia membantu Mikan mandi. Bersamanya!


Beberapa jam kemudian, Mikan keluar dengan muka segar dan berseri-seri. Kimono 12 lapis penuh warna warni menghiasi lekuk tubuhnya yang mungil dan langsing. Diikuti oleh Natsume yang mengenakan hakama penuh motif warna senada dengan Mikan.

Gadis berambut cokelat panjang melihat Hotaru mengobrol dengan kakaknya dan Ruka, berseru. "Hotaru! Senangnya bisa melihatmu!"

Mikan menghampiri Hotaru, berlari. Saat Mikan hampir mendekatinya, Hotaru melayangkan pedang panjang ke muka gadis itu. Natsume segera sigap melindunginya, tapi dihalau oleh Ruka.

"Apa yang kau lakukan, Ruka?" tanya Natsume geram.

"Hentikan itu, Natsume! Lihatlah dulu," sela Ruka bersabar pada sifat marah Natsume yang tak jelas.

"Ho-Hotaru…," kata Mikan gugup melihat ujung pedang berkilau tertuju ke wajahnya. Hotaru hanya tersenyum sumringah. "Ja-jangan menakutiku, Hotaru." Mikan cemberut karena digoda oleh Hotaru.

"Aku nggak suka pada wajahmu yang seenaknya menyapaku. Di mana senyumanmu, Mikan?" Hotaru memasukkan kembali pedang panjang itu ke sabuknya.

Mikan memberikan senyuman khasnya kepada Hotaru. Gadis berambut hitam pendek tersenyum kecil, melebarkan kedua tangan untuk Mikan. "Kemarilah, bodoh."

"Hotaruuu!"

Mikan memeluk Hotaru sekuat tenaga. Ruka menghela napas lega. Sedangkan Natsume, terdiam saja tapi tetap menatap Hotaru penuh kecemburuan yang amat dalam. Hotaru bisa menduga tentang tatapan membunuh tersebut.

Gadis itu mendongak menatap wajah datar Hotaru. "Apa kau mau ikut bersamaku, Hotaru?"

"Bersamamu? Dengan Hyuuga juga?" Hotaru melihat Natsume menyeringai. Hotaru meringis. "Enggak. Aku nggak mau. Kalau ada dia, aku nggak mau ikut. Apalagi aku sibuk sekali hari ini jadi aku nggak bisa menemanimu."

"Yaaah…," ucap Mikan cemberut. "Baiklah. Aku akan pergi dengan Natsume." Mikan berbalik badan menuju ke tempat Natsume, merangkul lengannya. "Sekarang, kita berdua yang pergi, Natsume."

Natsume tersenyum kemenangan mendengarnya. Diraih tangan Mikan dan membawanya pergi. Mereka pun meninggalkan kediaman keluarga Masachika. Kepergian mereka disambut kesedihan dan perasaan bersalah di setiap-setiap orang yang merasakannya.


Di desa dekat kota Kyoto, Mikan dan Natsume pergi ke tempat-tempat bagus dan enak. Mereka sering ke pusat perbelanjaan termurah sekalian makan siang paling enak di sana. Natsume tak segan-segan menemani Mikan. Tak sedikit pun keresahan ditimbulkan pada gaya bahasa tubuh Natsume. Dia sangat menginginkan ini terjadi.

Masalah mereka tentang hari-hari kemarin, terlupakan begitu saja. Tidak ada seorang pun yang mengingatnya. Mikan juga tak pernah mengingat soal itu. Semua masalah itu tidak ada lagi di antara mereka. Semua telah terhapus.

Mikan menarik Natsume menuju tempat kedai penjualan perhiasan kecil. Mikan melihat gelang warna merah tersambung dengan bentuk buah stroberi. Mikan tersenyum bahagia melihatnya.

"Natsume, aku suka dengan gelang kecil itu," tunjuk Mikan ke letak gelang itu berada. "Bentuknya buah stroberi kesukaanku. Warnanya sama sepertimu, Natsume. Merah menyala dan berkilauan."

"Kau suka?"

"Iya!" sahut Mikan gembira.

"Kubelikan untukmu." Natsume mengeluarkan uang di dompet kecilnya dan menyerahkan koin kecil yang banyak kepada sang pemilik toko perhiasan tersebut.

Diserahkan gelang sepasang itu ke Mikan. "Ini untukmu. Aku harap ini bisa menjalin kebersamaan kita tentang janji-janji kita sepakati bersama."

Mikan melihat gelang itu terpasang di lengannya. Air matanya hampir tumpah menatap gelang itu melingkari lengannya sebelah kiri. Juga mengingat janji-janji mereka terdahulu. Perasaan cinta terhadap Natsume kembali menguap.

Mikan mengulurkan kedua tangannya, melingkari leher Natsume dan menariknya ke wajahnya. Bibir mereka bertemu. Semua pasang mata melihatnya, terlongo kaget.

Karena merasakan perasaan besar terhadap gadis mungilnya, Natsume mempererat pelukannya dan melumat habis bibir Mikan yang merekah merah. Mikan membuka hatinya, mempersilakan Natsume mencicipi bibirnya. Tontonan ini membuat kagum orang lain. Mereka tahu cinta mereka begitu besar. Tapi sangat tahu, mereka tak bisa bersama-sama.

Mikan melepaskan ciuman panas itu, "Na-Natsume…"

"Aku sangat mencintaimu, Mikan. Aku harap jangan sekali-sekali kau meninggalkan aku." Kembali Natsume mencium bibir Mikan.

Ciuman tersebut membuat Mikan tak mampu melepaskan cintanya kepada Natsume. Pengorbanan dengan membiarkan Natsume hidup dan bahagia. Dia rela melakukan apa saja asalkan Natsume bahagia dan melupakan kisah cinta mereka berdua.

Ciuman manis ini benar-benar membuat keduanya tak bisa lagi menghentikan gelora panas di dalam tubuh keduanya. Natsume membawa Mikan pergi ke suatu tempat. Di sana mereka akan memberikan cinta mereka satu sama lain. Walaupun tak jadi menikah. Tidak apa-apa mereka bersatu dalam pernikahan. Tapi bersatu di dalam hubungan spesial dengan atas nama kakak beradik.


Di sebuah tempat romantis, Mikan bergelumut di bawah pelukan Natsume yang panas. Mereka berciuman sambil merasakan hasrat masing-masing. Saat mereka telah menyelesaikan percintaan mereka, Natsume meraih tubuh Mikan yang mengenakan kimononya lagi, memeluknya.

"Aku sangat mencintaimu, Mikan."

Mikan tak bisa menjawab, karena malam ini penentuannya.

Sekilas Mikan beranjak dari sana, Natsume mengikutinya. Baru beberapa detik, ada sosok orang memukul bagian belakang kepala Natsume. Sosok itu adalah Ruka Nogi.

"Ruka-san?"

"Pergilah, Mikan-sama. Biarkan saya dan Tsubasa yang mengatasi Natsume." Ruka tersenyum.

Air muka Mikan pucat. "Ta-tapi…"

"Pergilah, Mikan-sama. Rei-sama telah menunggu Anda di sana," tunjuk Tsubasa ke arah kereta kuda di mana Rei berdiri di sana.

Mikan terdiam. Dibungkukkan tubuhnya untuk melihat Natsume terakhir kali, diusapkan pipinya sewarna dengan tubuhnya yang tegap. "Aku mengorbankan diriku untukmu, Natsume. Kumohon berbahagialah dengan orang yang kau cintai. Kita nggak pantas bersama, karena aku hanyalah adikmu. Maafkan aku."

Mikan tertunduk, menutupi dirinya yang menangis. Lalu, beranjak pergi. Mikan menoleh ke belakang sambil berucap hanya dirinya yang bisa mendengarnya.

"Aku mencintaimu, Natsume. Selamanya."

Mikan pun pergi bersama Rei menuju pelabuhan Tokyo. Di sana telah ditunggu orang-orang terdekat Mikan dan Rei, mengantarkan kepergiannya ke Inggris. Tempat yang tak satu pun orang mengetahuinya kecuali Ruka dan Tsubasa.

TBC