DISCLAIMER: Gakuen Alice punya Higuchi-sensei. Aku hanya memakai karakter-karakternya saja.
Paradise Kiss
Written by Luna Margaretha
Chapter Twenty Three: Goodbye
Kereta kuda yang ditumpangi Mikan dan kakaknya, berlari melewati desa-desa yang telah mengingatkannya akan kenangan terindah tentang seorang pria berambut hitam berantakan. Mata merahnya yang seperti merah darah dan menyala sampai berkilauan. Menghanyutkan hati yang melihatnya.
Pertemuan pertama mereka adalah datangnya Mikan ke perayaan desa. Perayaan untuk mensyukuri keberadaan si Kucing Hitam yang mencuri demi mereka. Waktu itu, Mikan yang tak tahu apa-apa malah mendapatkan akibat dari tindakan si Pencuri tersebut. Mungkin karena kecantikannya hingga dua dan tiga orang menghadangnya dan membawanya ke gang sempit juga sepi.
Mikan menjerit meminta pertolongan dan hasilnya terjadi. Natsume datang menyelamatkan dirinya. Mikan yang polos bertemu pria yang begitu hebatnya mengalahkan mereka dalam sekejap mata. Mikan sampai mengagumi lelaki itu.
Berkat matanya yang cantik, Mikan lupa tentang dirinya pasti berada dalam bahaya lagi. Dengan berada di samping lelaki tersebut. Mikan pun melarikan diri dari sana. Namun, hal itu digagalkan oleh Natsume dengan membawanya pergi dari perayaan tersebut. Menjauhkannya dari festival itu.
Pemandangan yang disajikan Natsume untuknya benar-benar indah dan menawan. Mikan tersenyum dibuat olehnya. Tapi saat itu Mikan kelaparan. Hal itu lagi membuat Natsume mengajaknya ke warung makan bakmi. Berkat itu, Mikan yang dikira kekasih Natsume pun kabur dari sana. Sepertinya Mikan terus membuat Natsume frustasi. Mikan tersenyum membayangkannya.
Setelah itu, tak sengaja Rei mengajaknya lagi makan di tempat itu dikarenakan Mikan kelaparan. Lagi-lagi Mikan bertemu dengan Natsume. Kalau bukan karena bakminya yang enak, Mikan tak mungkin marah pada Natsume. Berkat bakmi itu, Mikan tak sengaja mencium Natsume hingga jatuh terjerembab ke lantai. Dan lagi-lagi Mikan melarikan diri.
Mikan tertawa.
Rei tersenyum melihatnya. "Hm, ada apa adikku tertawa seperti itu?"
"Apa Rei Onii-sama ingat? Waktu Onii-sama membawaku ke warung makan milik keluarga Ando? Waktu itu aku terkejut sekali karena aku nggak sengaja mencium Natsume." Mikan kembali tertawa. "Lalu, aku melarikan diri karena takut. Habisnya itu pertama kali." Mikan memerah.
Rei tersenyum. "Ya. Onii-sama kaget melihatmu kabur makanya aku dan Shiki-san mengikutimu. Kamu pun nggak mau keluar kamar gara-gara itu."
"Aku nggak bisa tidur karena mengingat masa-masa itu, Onii-sama. Aku malu." Mikan menundukkan kepalanya, menutupi merahnya warna mukanya.
"Lalu, apa yang terjadi?"
"Saat Onii-sama pergi bersama Shiki-san pagi-pagi buta, aku pun menyelinap keluar dari kediaman Shiki-san. Nggak sengaja bertemu Kaoru-san, yang katanya adalah Ibu kita dan Natsume." Mikan bersedih. "Tapi berkat Kaoru-san, aku bertemu lagi dengan Natsume." Mikan kembali ceria.
"Apa yang terjadi setelah itu?" tanya Rei sangat penasaran.
"Itu… aku merawat Kaoru-san. Bermain-main dengan Aoi-chan. Dan…" Mikan tak bisa lagi ke titik di mana dirinya berciuman dengan Natsume. Hampir bersetubuh di kala itu karena mengingat kejadian itu sama saja membiarkan Rei mengetahui semuanya dan mengatakan ini pada Ayahnya.
"Dan apa?"
"Dan aku jatuh sakit karena demam," jawab Mikan cepat-cepat.
"Kenapa kau nggak bilang padaku?" tanya Rei lagi, tak kuat melihat adiknya sakit.
"Onii-sama 'kan pergi. Aku nggak tahu Onii-sama di mana, jadinya sementara waktu aku tinggal di rumah Natsume," jawab Mikan polos.
"Dia nggak melakukan apa-apa padamu, 'kan?"
"E-enggak. Benar!" Mikan mengacungkan dua jari telunjuk dan jari tengah sambil tak mau menatap Rei. Lelaki itu tak lagi memberikan pertanyaan soal masalah bikin Mikan tak mau buka mulut.
"Semenjak itu, Natsume datang ke tempat kita untuk menjagamu dari Reo?"
"Iya. Aku nggak tahu Hotaru sengaja mendatangkan Natsume dan Ruka-san ke tempat kita. Hanya untuk melindungiku. Aku nggak pernah tahu."
"Itu karena Hotaru-san menyayangimu, Mikan."
"Mungkin saja."
Rei berdehem. Mengingat kejadian perjodohan di mana katanya Mikan menghilang tanpa kabar. Menghilangnya Mikan sama saja kemunculan si Kucing Hitam. Rei memandangi Mikan yang terlihat kebingungan dipandangi seperti itu oleh kakaknya.
"Aku mau tanya soal orang yang menculikmu. Apa dia Natsume?" Pertanyaan Rei menyakinkan Mikan bahwa itu benar adanya. Lewat penglihatan paling tajam milik Rei, lelaki itu bisa mendunga. "Ternyata begitu. Tenang saja, Onii-sama-mu ini nggak akan bilang ke siapa pun."
"Benarkah?"
"Hn. Itu adalah janji."
Mikan menyeberangi tempat duduk ke tempat Rei, dan memeluknya. "Senang sekali aku mempunyai seorang Onii-sama yang baik. Janji ini adalah janji kakak adik. Iya 'kan?"
"Iya, janji kakak adik." Rei membalas pelukan Mikan.
Sesampainya di pelabuhan, Mikan dan Rei turun dari kereta kuda. Di sana telah ditunggu istri Rei, Nobara Sakura, di depan kapal yang mengiringi mereka ke tanah Inggris. Mikan berlari menghampiri Nobara dan memeluknya.
"Nobara Onee-sama!"
"Mikan-chan!"
Mereka berdua sama-sama memeluk. Melepaskan kerinduan.
Di sana, Kaoru dan Kuonji melihat anak-anak mereka telah tumbuh dewasa. Mereka berdua menghampiri keduanya, sembari memeluk Mikan dari belakang. Mikan menyadari pelukan seorang Ibu yang tak pernah dirasakannya.
"Kaoru-san."
"Panggil aku Ibu, Mikan."
Mikan menangis dan memeluk Kaoru. "Ibuuu!"
Kuonji terharu melihatnya, ikut memeluk istri dan anak perempuannya. Rei yang menatap pemandangan itu ikut terharu sembari merangkul istrinya di sampingnya. Selesai pelukan mendebarkan itu, Mikan menatap Hotaru yang membentangkan kedua lengannya agar Mikan bisa memeluknya. Mikan pun berlari ke tempat Hotaru.
"Hotaru!"
Pelukan itu membuat semua orang menangis. Sebentar lagi Mikan meninggalkan tanah Jepang, tempat kelahirannya. Tempat dibesarkannya di tangan Ayah dan kakaknya. Tempat meraih cinta pertama dari seorang pria tampan—entah dari mana.
Mereka mengeluarkan air mata bersama-sama sambil menatap satu sama lain. Mikan terus menangis terisak-isak karena juga harus meninggalkan sahabat tercintanya. Mikan juga meminta Misaki memeluknya. Wanita yang telah dianggapnya kakak perempuannya, memberikan kebahagiaan terindah selama dirinya lahir di dunia ini.
"Hari ini, aku meninggalkan kalian semua. Orang-orang paling aku rindukan. Maafkan aku apabila ada kesalahan. Aku mungkin nggak pantas bersama kalian," ucap Mikan terisak-isak.
"Bodoh!" Hotaru menjitak Mikan. "Sampai kapan pun kau adalah sahabat terbaikku. Kau selalu ada di hatiku."
"Terima kasih, Hotaru!"
"Kami akan terus menunggumu pulang, Mikan."
"Terima kasih, Misaki Onee-sama." Mikan kembali memeluk Misaki.
Bunyi peluit dari kapal itu memisahkan pelukan Mikan dengan dua orang paling disayanginya. Mikan yang tak bisa memeluk Yoichi dikarenakan anak kecil tak boleh keluar malam-malam, meminta pada mereka untuk memberikan salam.
Rei mengantarkan Mikan dan Nobara masuk ke kapal. Mikan menatap semuanya sambil melambaikan kedua tangan dan terus menghapus air matanya. Sesampainya di kapal, Mikan memandangi pemandangan tanah Jepang. Diingatnya Natsume tengah berbaring lemah di pelukan dua orang lelaki.
"Maafkan aku, Natsume. Maaf. Dan selamat tinggal."
Dan saat itu pula, Natsume pun membuka mata merahnya. Wajah datar bercampur kesedihan terpancar di sana. Dirinya pun kembali tertidur.
"Sampai kapan pun, aku tetap mencintaimu, Mikan…" gumamnya lirih. "Selamat tinggal."
TBC
