Summary : Apa yang akan kalian lakukan jika kalian terlahir kembali menjadi salah satu chara favorite kalian? Pastinya adalah keajaiban besar bukan? Tapi tetap saja, itu juga adalah sebuah malapetaka karena itu artinya semua beban berada dipundakmu.

Warning : Typo, OOC maybe, Abal dan Gaje. AU in someway...

Disclaimer : Kurobas bukan punya saya *cry*.

Pairing : None but slight Brotherly!Midorima. Jika kalian ingin pairing buat Aku!Kuroko tinggal bilang ke Silver :3

Don't Like...well thou can press the back bottom.
For the one who read~ I hope you guys enjoy this!

.

The Phantom Player

Chapter 2

15 Year's Later
Seirin High School

.

.

.

.

"Aku memberikanmu Lucky Item bukan berarti aku peduli padamu Nanodayo." M. Shintarou.

Aku membuka mataku perlahan begitu mendengar suara deringan alaram. Aku mengerakkan tangan untuk mematikan alaram tersebut sebelum berbaring untuk beberapa menit dan bangkit untuk mandi pagi, atau bisa kubilang subuh karena sekarang masih jam 5. Tapi itu tidak masalah, rutinitas yang telah sehari-hari kulakukan.

Saat sampai dikamar mandi, aku melirik kearah cermin. Seperti hari-hari sebelumnya, sekuat apapun aku berjuang agar rambut tidurku tidak berantakan seperti ini tidak akan terjadi sama sekali, semuanya tetap sia-sia. Satu-satunya agar tidak berantakan adalah aku harus menjepitnya menggunakan penjepit yang justru membuat lebih feminim. Setiaknya, kehidupanku seperti wanita sungguh membantu.

Setelah selesai, aku memakai gakuren dan berjalan menuju kedapur untuk memasak makanan sehari-hari. Karena ini diJepang kebanyakkan setiap pagi makanan yang siap hanyalah ramen dan juga jika beruntung aku bisa memakan steak.

Aku mengambil tasku dan berjalan untuk pergi ke Seirin Kouko. Ya, inilah disaat yang telah kutunggu-tunggu. Untuk memasuki Seirin, untuk menjadi tim nomor satu di Jepang dan yang terpenting, untuk mengembalikan Generation of Miracles agar mencintai basket kembali seperti disaat tahun pertama sekolah Teiko. Terutama Ahomine. Selain itu juga, aku merasa bahwa aku dan juga Kuroko Tetsuya tidak jauh berbeda. Kami sama-sama kurang mengeluarkan ekspresi dan tidak sering disadari keberadaannya oleh orang lain, bahkan sebelum aku menjadi dirinya disini.

Aku mengeluarkan buku saku yang berada didalam tas. Buku saku tersebut berisi tentang resep-resep makanan yang akan kubuat nantinya. Retsu meninggalkannya untukku, karena dia melihat bakat tersembunyi katanya. Intuisi seorang ibu bahwa aku akan menjadi koki dan ibu rumah tangga yang hebat. Aku tidak tau apakah itu pujian atau hinaan, karena aku mendengar perkataan ibu disana.

Tak terasa ternyata aku telah sampai di Seirin. Walaupun begitu aku masih tetap melangkah berjalan kedalam dan fokus kearah buku resep masakku. Aku telah membuat taruhan dengan Retsu bahwa disaat dia pulang nanti, yang artinya mungkin beberapa tahun lagi, aku bisa memasak makanan selain telur dan nasi. Dan aku tidak akan menjadi 'ibu rumah tangga'!

"Apakah kamu tertarik dengan Rugby?!"

"Apakah kalian pernah bermain Shogi?!"

"Jika kalian adalah orang Jepang bergabunglah dengan Baseball!"

"Berenang rasanya sangat menyenangkan!"

Aku tidak tau ternyata seribut ini untuk ukuran sekolah yang baru saja terbentuk. Hmm, andai saja jika aku tidak ikut Basket kira-kira aku akan masuk kedalam club apa ya? Mungkinkah aku akan masuk ke klub Shogi? Tapi untuk suatu alasan kuat, aku tau bahwa aku akan kalah jika berhadapan dengan Seijuuro.

"Basket! Bergabunglah dengan klub basket!" Saat merasakan sesuatu seperti dijulurkan kearahku, aku masih tetap menghindar, karena sangat yakin bahwa itu bukanlah untukku. Maksudku ayolah! Aku adalah orang yang transparan dimata orang-orang, wajar saja jika itu memang bukan untukku.

"Ah kau suka dengan buku? Bagaimana dengan klub literatur?" Aku menundukkan kepalaku dan kembali berjalan.

"Bukan, ini adalah sebuah manga, jadi.."

"Manga juga termaksud buku. Kau juga pasti suka baca novel bukan?"

Hee? Aku tidak tau kalau membuat kue bolu sangat sesusah ini. Aku mengerutkan keningku, samar tentu saja. Saat aku menjauhkan pandanganku dari buku akan berhadapan dengan papan pendaftaran. Tentu saja dari sekian banyaknya olahraga yang kupilih haruslah basket.

Untuk pikiran kedua, basket memang yang bisa kulakukan, dikehidupan lampau maupun sekarang.

Dan setelah menemukan lokasinya yang menurutku sangat jauh dari tempatku berada, akupun duduk disana dan menatap kearah dua orang yang nampak masih berbicara. Aida Riko dan Hyuuga Junpei.

"Ano-"

"Kita bahkan belum mendapatkan sepuluh."

"-aku ingin mendaftar-"

"Kita baru saja mulai."

"-permisi-"

"Kita adalah sekolah baru."

"..."

"-dan jika kita memenangkan Inter-High dan Winter Cup-."

"Aku akan langsung menulis ya." Sejujurnya, menjadi orang yang tak terlihat sangatlah tidak menyenangkan. Ya, beberapa kali tidak didengarkan oleh orang lain dan juga fakta bahwa hawa keberadaan yang kumiliki sangat tipis, membuat situasi-ku terkadang tidak menyenangkan. Setelah selesai akupun pergi menjauh dari sana. Karena aku tau jika tidak lama lagi seekor harimau akan muncul disini.

Dan disaat aku bilang harimau, kalian pastinya sudah tau siapa bukan. Benar, Kagami Taiga, player yang kekuatannya diatas rata-rata anak SMA tetapi masih belum melewati Generation of Miracles.

Dan oh, sampai dimana tadi aku? Ah ya, aku membaca bagian disaat ingin membuat kue bolu cokelat untuk persiapan jika Retsu akan pulang kerumah. Tapi kira-kira, kapan ya pertemuan diruang basket akan dilakukan. Aku ingin pergi keluar sebentar untuk membeli Vanillia Milkshake. Saat aku baru saja akan pergi keluar lonceng sekolahan berbunyi.

Ahh. Disaat aku benar-benar mengiginkan Vanilla Milkshake. Akupun berjalan masuk menuju kesekolahan, mencari kelasku, kalau tidak salah aku sekelas dengan Kagami. Aku tersenyum tipis sebelum perlahan menggelengkan kepalaku dan melangkah masuk kekelas 1-B.

Aku harus bersabar. Saat sampai di gedung basket nanti, semua akan dimulai.

X-x-x-x==x-x-x-X

Akhirnya! Selesai juga. sekarang waktunya mencari gedung klub basket. Aku berjalan menuju kearah pintu dan menatap punggung seseorang dengan rambut merah, Kagami Taiga. Intuisiku mengatakan untuk mengikutinya, jadi tentu saja aku sebagai orang yang percaya kepada intuisiku mengikuti Kagami. Setidaknya aku tidak perlu bertanya tentang klub basket kepada orang lain. Dan tak lama kamipun sampai diklub basket dengan beberapa murid-murid baru yang berdiri untuk mendaftarkan diri.

"Baiklah, kelihatannya semua sudah ada disini." Hyuuga nampak menatap kearah kami, atau bisa aku bilang kami minus aku, karena hawa keberadaan yang tipis dan juga aku sengaja mengalihkan perhatianku keorang lain "Silahkan berbaris disebelah sini." Dengan begitu akupun ikut masuk kedalam barisan.

"Kalian salah, bodoh!" Aku mengintip sedikit kearah ujung untuk melihat Hyuuga yang memukul kepala kedua orang yang berada dibagian ujung, aku menghela nafas dan kembali fokus ke Riko yang mendekati kearah kami.

"Namaku adalah Aida Riko. Pelatih klub basket putra, senang bertemu kalian semua." Aku menutup kedua telingaku. Tiga, dua, satu.

"EEEEEEHHHH!" Sementara seruan terdengar, aku hanya menghela nafas.

"Bukan dia pelatihnya?!" Salah satu murid baru nampak menunjuk kearah orang yang sepertinya sudah memasuki usia lanjut. Lihat, dia saja sampai bergetar seperti itu.

"Beliau adalah penasihat kami, Takeda-sensei." Sejujurnya, aku tidak bisa menyangka bagaimana bisa dia bergemetar hingga seperti menjadi banyak "Kalau begitu pertama-tama, lepaskan baju kalian." Dan lagi aku menutup telingaku untuk menghindari teriakkan yang lebih nyaring dari sebelumnya. Setelahnya kami semua membuka baju.

Sejujurnya, ini adalah pertama kalinya aku buka baju didepan banyak orang. Tapi tidak akan ada seorangpun yang mengetahuiku, jadi begitulah. Aku menatap kearah Riko yang nampak mengomentari tentang statik para murid baru yang dianggapnya belum cukup agar masuk ke tim basket. Setelah hampir satu-persatu selesai absen aku dapat melihat Riko menatap kearah Kagami dengan wajahnya yang terlihat kaget.

"Pelatih, sampai berapa lama kau akan melamun?" Mendengar suara Hyuuga, Riko nampak tersadar dari lamunannya.

"Ah, maaf. Anu.." Jika aku tidak tau alur cerita ini, mungkin aku akan berpikir bahwa dia mempunyai rasa suka terhadap Bakagami.

"Kau sudah melihat semuanya bukan? Kagami adalah yang terakhir." Hei, hei, itu sangat tidak baik Hyuuga. Apa aku ini? Angin? Dengan begitu aku memakai kembali bajuku.

"Ah, benarkah?" Riko nampak menatap kearah papannya "Apakah Kuroko Tetsuya ada?" Kurasa aku akan menikati ini, rasakan pembalasanku karena telah menghiraukanku tadi, aku maju kedepan tepat didepan Riko "Sepertinya dia tidak ada disini." Aku ada didepanmu Riko "Kalau begitu, mari kita mulai latihannya!"

"Mmm permisi, aku adalah Kuroko." Aku dapat melihat ekspresi Riko yang nampak mulai memucat, dengan sigap aku meletakkan tangan ditelingaku kembali saat mendengarkan suara teriakkan Riko. Hei jangan salahkan aku, suara teriakkan mereka lebih nyaring dari yang kubayangkan.

"Se-sejak kapan kau ada disitu?!" Oke itu pertanyaan bodoh.

"Dari awal aku sudah berada disini." Lagi wajah mereka terlihat sedikit kaget, ya kecuali Riko yang aku yakin sekarang ini tengah mengumpulkan informasi tentang hawa keberadaanku.

"Tu-tunggu kau Kuroko?!" Bukankah tadi aku sudah bilang? Aku mengangguk "Kau hampir tidak kelihatan!"

"Eh? Kalau begitu artinya orang ini dari Generasi of Miracles!" Para senpai nampak mendekat semua kearahku.

"Dia tidak mungkin orang yang biasa saja.." Tentu saja, aku adalah Phantom Sixth Man! Aku bukanlah orang yang biasa-biasa saja.

"Tentu saja tidak. Benarkan, Kuroko-kun?" Tanya Hyuuga nampak tersenyum. Dan aku tidak pernah mengetahui apa maksud dari perkataan itu dulunya, atau tepatnya, aku tidak mengerti sama sekali.

"Aku pernah ikut main dipertandingan, walaupun.." Dia bagian terakhir aku berguman pelan.

"Benarkan, seperti yang...eh?" Oke, kita mulai lagi.

"Eh...eh?" Aku menaruh kembali kedua tanganku ditelingaku saat teriakkan kembali terdengar lagi. Mereka jelas mempunyai energi yang banyak.

"Ka-kalau begitu, lepaskan bajumu." Aku menatap kearah Riko sembelum mengangguk dan melepaskan bajuku. Padahal belum lama aku memakainya. Aku menatap kearah ekspresi Riko yang nampak terkejut sebelum menyerigai tipis.

X-x-x-x==x-x-x-X

Ah, badanku remuk semua. Jujur saja, jika memainkan basket tanpa memakai kekuatan normalku rasanya sungguh 2x lipat membosankan, aku lebih memilih untuk menghabiskan seharian dikamar jika tau seperti ini. Aku mengarah kedalam Maji Burger dan memesan pesananku seperti biasa. Vanilla Milkshake.

"Permisi...aku ingin memesan Vanilla Milkshake." Ucapku mencoba menarik perhatian kasir yang sepertinya masih tidak memperhatikan "Permisi." Ucapku kembali kali ini dengan suara yang lebih nyaring dan orang tersebut menatap kearahku dengan kaget.

"Se-sejak kapan?!" Hei, hei, itu sangat tidak baik. Apakah disini tidak ada slogan kalau pembeli itu adalah raja?

"Aku dari tadi berada disini." Jeda sebentar "Aku ingin satu Vanilla Milkshake."

"A-ah, baiklah. Maafkan aku karena baru menyadari bahwa kau ada disana." Ucapnya dan menyerahkan Milkshake kearahku. Dan aku berbalik untuk duduk dikursi favorite-ku. Yang berada ditengah dan bersebelahan dengan kaca.

Ah, setelah berlatih mati-matian dan akhirnya bisa meminum Milkshake membuatku seperti merasa berada disurga. Berlebihan memang, tapi walaupun begitu, tidak ada latihan yang lebih menakutkan dari latihannya Seijuuro. Setelah selesai aku berjalan keluar dari dengan tujuan kerumahku yang nyaman dan aman.

Itulah tujuan awalku sebelum melihat Kagami yang nampak bermain basket sendirian. Hmm, mungkin aku harus menyapanya. Aku masuk kedalam lapangan basket itu dan berdiri didepan ring. Mungkin ini akan butuh beberapa waktu sebelum dia menyadariku. Oh dia menyadariku. Aku menangkan bola basket yang nampak terhempas karena terkenak sisi dari lingkaran ring.

"Hallo." Ucapku sembari menatap kearahnya yang nampak terkejut untuk sebentar, ya sementara.

"Sejak kapan kau ada disini?" Tanya Kagami dan terlihat menghela nafasnya "Jangan pikirkan itu. Selain itu juga ada yang ingin kupastikan kepadamu. Kau, apa yang sebenarnya kau sembunyikan?"

Mari lihat, uhh...selain kekuatanku yang sengaja ku kunci, tidak ada.

"Aku tinggal di Amerika sampai kelas 2 SMP." The story telling begin. Dalam hati aku menghela nafas pasrah "Aku sungguh terkejut ketika aku kembali ke Jepang. Tingkatan disini terlalu rendah." Kau belum bertemu dengan Daiki, Kagami "Apa yang aku cari adalah bukan bermain basket untuk senang-senang. Aku ingin bermain dipertandingan yang dapat membuat darahku meluap-." Itu gampang kau tinggal mendidihkan darahmu dengan api "-dengan kekuatan penuh."

Oh, ternyata meluap yang seperti itu.

"Tapi aku mendengar hal yang bagus sebelumnya." Kagami nampak tersenyum "Kelihatannya ada orang-orang kuat yang disebut Generation of Miracles ditahun yang sama. Kau termaksud didalam tim itu, benar?" Tidak, aku dari tim Crownless King "Aku bisa menebak tingginya kekuatan lawan juga. ini seperti orang yang kuat mempunyai bau khas mengenai mereka."

Oh, begitu. Tunggu...jadi aku berbau seperti apa Bakagami?

"...tapi kau aneh. Meskipun kamu seharusnya tercium penuh kelemahan. Tapi aku tidak bisa mencium bau apapun darimu. Kekuatanmu tidak tercium." Hei, itu sangat tidak sopan. Aku yakin sekali tadi aku memakai parfum Vanilla "Aku ingin melihatnya sendiri. Kau, dari Generation of Miracles, orang macam apa kalian ini?"

Aku hanya terdiam sembari mentap kearahnya dan perlahan membuka gakurenku.

"Suatu kebetulan." Yang sebenarnya tidaklah kebetulan "Aku berpikir ingin bermain melawanmu sebaik mungkin. One on One." Aku mengibaskan jaket gakurenku kesamping hanya menyisahkan kemeja putih yang kupakai. Anda saja aku bawa kamera, aku yakin pasti aku tadi terlihat sangat keren.

Aku dapat melihat Kagami menyerigai dan dengan begitu akhirnya semuanya dimulai. Aku tau bahwa seharusnya aku tidak terlalu terkejut karena telah mengetahui kekuatan Kagami, tapi aku tidak bisa bilang bahwa pertandingan ini juga membosankan, ya walaupun memang membosankan karena aku tidak bisa mengeluarkan kekuatanku.

Pfft..melihat ekspresi Bakagami kesal sungguh menyenangkan. Pertandingan masih berlanjut dengan Kagami yang berkali-kali men-dunk, dribble, dan shoot, tapi yang harus kuakui, aku benar-benar tertarik dengan dunk-nya. Aku melihat ekspresi Kagami yang mengatakan bahwa dirinya seperti akan bosan karena mati.

"Kagami-kun, jangan mati dulu. Kita belum selesaikan?" Aku mengejar bola tersebut, walaupun aku tau bahwa Kagami sedikit tersentak begitu aku mengatakan kalimat itu.

"Bagaimana kau...selain itu, jangan bercanda denganku! Apa kau mendengar apa yang kukatakan?! Kau terlalu menaksir terlalu tinggi bila kau pikir bisa menang melawan diriku seperti itu." Ya dan jika itu terjadi, maka kau sungguh lemah. "Mengigat bahwa kau telah meninggalkan kesan yang keren saat kau menantangku!" Sudah kuduga itu sangat keren!

"Tentu saja tidak." Pfft..sepertinya ini akan sangat menyenangkan. "Bukankah sangat jelas bahwa Kagami-kun yang terkuat? Aku sudah tau itu dari awal."

"Apa kau ingin berkelahi! Apa tujuanmmu?" Aku dapat melihat ekspresinya yang nampak menjadi kesal.

"Aku ingin melihat kekuatan Kagami-kun secara langsung. Terutama dunk-mu."

"Haa?!" Kagami terlihat menghela nafasnya dan berjalan menjauh.

"Emm." Aku terlihat menujulurkan bola basket ditanganku.

"Baiklah sudah cukup." Dia berjalan menuju kearah kursi dan memungut barangnya "Aku tidak tertrik dengan lelaki yang lemah. Aku akan memberimu satu saran terakhir." Kagami nampak menoleh kearahku "Akan lebih baik bila kau berhenti bermain basket." Aku menatapnya, hanya menatapnya.

(-Kurokocchi, itu hanyalah basket, mengapa kau begitu bersikeras?")

"Tidak peduli akan indahnya hal yang kau katakan mengenai usaha-."

(-Aku bahkan tidak tau bagaimana caranya menerima pass-mu lagi.")

"-tidak dapat disangkal bahwa kenyataannya kau membutuhkan bakat didalam masyarakat kita-."

(-Aku tidak menyuka basket, aku bermain karena aku punya bakat.")

"Kamu tidak punya bakat didalam basket."

(-Menang adalah segalanya Tetsuya.")

Sudah cukup, aku tidak ingin mengigat memori itu lagi. Selain itu juga, Kagami bodoh karena mengambil kesimpulan seperti itu. Memangnya siapa dia mengatakan hal itu kepadaku. Aku melemparkan bola basket dengan sedikit kekuatan, yang tepat sasaran mengenai kepalanya. Sekalian saja kau kenak amnesia Bakagami.

"Apa yang kau lakukan?!"

"Aku harus berkata tidak untuk hal tersebut." Aku berjalan kearah barang-barangku dan terlihat Kagami menatap kearahku "Untuk memulainya, aku mencintai basket." Aku membungkuk untuk mengambil bola basket yang berada dibawah kakiku "Terlebih lagi..ini hanyalah mengenai cara sudut pandang. Aku tidak peduli mengenai siapa yang kuat dan lemah."

(-Walaupun begitu, aku akan membuktikan padamu suatu hari nanti, nanodayo.")

"Apa yang kau-."

"Aku berbeda dengan dirimu." Dengan cepat aku memotong perkataannya dan nampak menatap kearah bayanganku "Aku adalah bayangan."

X-x-x-x==x-x-x-X

Hari berikutnya hampir sama dengan hari sebelumnya, hanya saja dengan cuacah hujan dan tambahan bahwa kita akan melakukan mini game, 5 vs 5 dengan para senior.

"Apakah kau ingat ketika mereka memberitahu kita ketika akan bergabung di club? Tahun lalu mereka, dengan hanya para murid baru berhasil sampai liga fina!"

"Yang benar saja?!"

"Ini benar-benar tidak wajar!"

Jadi benar. Mereka memang tidak mengetahui apapun tentang liga kejuaraan itu ya. Masa benar sih mereka mau bergabung dengan klub basket sedangkan tidak mengetahui apapun. Tapi jika dipikir-pikir, dulupun aku seperti itu.

"Ini bukan waktunya untuk ketakutan. Tentu saja ini lebih baik jika kita melawan musuh lebih kuat ketimbang lemah."

"Ayo lakukan!"

Bunyi peluit terdengar dan nampak bola dilemparkan keatas. Tidak terlalu tinggi, ya wajar saja, lompatanya masih normal. Kagami dengan mudahnya mengambil ahli bola dan melakukan dunk. Dengan begitu nampak semua terbakar semangat dan aku hanya menghela nafas diam-diam. Beberapa menit kami sudah memimpin dengan dunk yang dilakukan oleh Kagami.

Aku menangkap bola yang di-pass kearahku sebelum menge-pass kearah pemain lain, akan tetapi kembali di steal.

"Steal dari dia lagi." Hei, itu bukan salahku, aku sengaja melakukannya "Fokus!" Aku dapat melihat Kagami yang kembali merebut bola dan melakukan dunk.

"Sangat tinggi!"

"Mereka sama sekali tidak dapat menghentikan Kagami!" Disinilah akhirnya. Kini Kagami telah dihadang oleh tiga orang, Hyuuga, Izuki dan Kogane.

"Tiga orang!" Kagami terlihat berusaha untuk keluar dari sana, tapi apapun yang dia lakukan dia tidak bisa pergi kemanapun. Ya tentu saja, untuk keluar dari sana diperlukan sebuah keajaiban. Dengan begitu Kagami terlihat melempar bola keluar. Walaupun Kagami tidak memegang bola tersebut mereka masih mengadankannya.

"Bahkan disaat Kagami tidak memegang bola mereka tetap mengandakan penjagaannya!"

"Mereka tidak akan membiarkan Kagami memegang bola!"

Pada akhirnya mereka tidak bisa melakukan apapun tanpa Kagami. Aku melirik kearah papan, 15 : 31 dengan para senior yang memimpin. Kurasa aku akan menikmati moment ini.

"Mereka hebat."

"Tidak mungkin kita akan menang."

"Aku sudah selesi."

Tiga orang tersebut nampak sudah kewalahan. Kagami mendekat kearah salah satu dari trio freshmen tersebut.

"Cukup? Apa yang kau bicarakan?!" And let's the revange begin. Aku mendekat kearah Kagami dan menendang lutut belakangnya dengan lututku, hingga dia berpose dengan aneh.

"Tolong tenanglah." Perempatan terlihat muncul dikepala Kagami.

"Kau, sialan." Pada akhirnya pertengkaran dimulai. Kagami nampak mencoba untuk menghajarku, dan terlihat sangat kesal karena aku terus menghindari pukulannya dengan mudah. Setelah peluit kembali berbunyi aku menatap kearah Riko sebelum kembali fokus.

Tidak ada pilihan lain...

Aku melemaskan telapak tanganku "Bisakah kau mengoper bola-nya kepadaku." Ucapku kepada orang yang memegang bola. Permainan kembali dimulai dan terlihat semua-nya telah di mark. Aku menatap kearah orang tersebut yang melemparkan bolanya kearahku dan dengan sigap langsung mengoper kearah lain.

"Eh?" Ucap orang itu bingung sebelum mencetak skor.

"Apa yang...bagaimana pass itu lewat?" Pertandingan kembali dimulai dan kali ini...err, Kawahara kalau tidak salah namanya, mengoper bola kearahku dan kembali ku-pass kearah Fukuda? Aku benar-benar tidak tau tentang trio freshman ini. Dan dia masih terlihat bodoh.

"Shoot." Ucap Kagami dan Fukuda menembakkan bola yang dengan mudahnya masuk.

"Mereka membuat pass dan shoot sebelum kita menyadarinya!" Ucap Izuki nampak berbalik. Aku tetap melakukan operan kearah trio freshman sebelum menge-pass kearah Kagami. Kagami terlihat terkejut sedikit sebelum melakukan dunk.

Kini terlihat Koganei mengoper bola kearah Mitobe yang langsung dengan mudah diblock oleh Fukuda, merasakan bahwa bola tersebut menuju kearahku aku mengambil bola itu dan mendribble kearah ring.

"Sial!" Ucap Hyuuga, dari langkah kaki aku tau bahwa mereka pasti mengikutiku.

"Ayo Kuroko!" Aku berlari kearah ring dan melompat sebelum membuat shoot yang tentu saja masuk dengan cara berputar-putar di ring tersebut membuat jantung beberapa pemain berdebar-debar sepertinya. Awalnya kukir masuk tapi ternyata keluar lagi dan kali ini Kagami yang nampak menangkap bola itu.

"Karena itulah aku benci dengan yang lemah." Ucapnya dan mendunk "Kau harus mencetak angkah, sialan." Aku menyerigai kecil. Aku akan membalaskan dendamku, tunggu saja Bakagami.

X-x-x-x==x-x-x-X

[Ring ding-dong~.

Ring ding-dong~.

Ring ding-dong~.]

Aku mengeluarkan ponselku dan menemukan sebuah pesan disana, akupun tersenyum kecil begitu membacanya.

[From : M. Shintarou
Subject : Congratulation

Kau pasti masuk lulus klub basket bukan? Aku meng-sms ini karena aku yakin kau memerlukan beberapa kalimat selamat. Dan bukan berarti aku peduli padamu –nodayo.]

Aku tersenyum tipis, dasar Tsundere.

[To : M. Shintarou
Subject : re-Congratulation

Arigatou, Shin-kun. Ak benar-benar membutuhkan beberapa kalimat itu. Jadi apakah minggu ini kau bebas mungkin? Aku ingin kau kembali menemaniku melakukan part-time job ku.]

Tak lama setelah aku menekan send, sms balasan muncul.

[From : M. Shintarou
Subject : re-Congratulation

Baiklah... tapi itu bukan berarti aku perduli padamu –nodayo.]

"Shintarou memang benar-benar Tsundere." Ucapku menghela nafas sebelum berjalan kearah Maji Burger untuk membeli Vanilla Milkshake dan seperti biasa, penjual tersebut tidak menyadari keberadaanku hingga aku harus menepuk lengannya kembali. Dan kejadian kemarin terulang lagi.

Sejujur, saat menerima pesan dari Shintarou membuatku cukup kaget sekaligus senang. Aku masih ingat pertama kali bagaimana bertemu dengannya. Walaupun kami berdua tidak akrab didalam lapangan tapi kami akrab diluar. Terkadang Shintarou menemaniku untuk melakukan part-time job sebagai salah satu pegawai daycare. Selain itu juga, mungkin yang membuat kami berdua lebih dekat adalah Oha-Asa, jika dihari libur aku paling memerlukan keberuntungan, dan mengigat bahwa Shintarou selalu mempunyai keberuntungan karena itu aku dan dia terkadang mencari lucky-item bersama, selain itu dari semua Generation of Miracles, hanya Shintarou -dan juga Murasakibara- yang sering pergi ke rumahku, karena saat itu kami ada tugas bersama dan melakukan dirumahku, dengan itu hubungan-ku dan Shintarou jadi mendekat.

Jika bisa dibilang, hubunganku dan Shintarou hampir seperti adik-kakak.

Aku melihat Kagami yang nampak membawa makanan dengan burger segunung dan duduk didepanku. Dia tidak menyadari untuk pertama dan aku hanya meyerigai. Revange time! Kagami menoleh kearahku setelah aku membuat suara dengan menyirup vanilla shake-ku -mereka tidak mempunyai yang rasa milkshake untuk hari ini-. Dia terlihat terkejut dan sepertinya akan tersedak.

"Hello." Sekalian aja kau koma karena tersedak Bakagami. Kagami dengan cepat menelan makanan itu.

"Darimana kau datang?!" Tanya Kagami terlihat kesal.

"Aku datang lewat pintu depan." Kagami terlihat memandang kesal kearahku.

"Bukan itu maksudku bodoh!" Ucap Kagami.

"Aku duduk disini deluan." Jawabku "Dan aku suka vanilla milkshake disini." Lanjutku.

"Pergilah dari meja ini." Aku dapat merasakan perematan muncul dikepalaku.

"Tidak." Kau tidak akan bisa menakutiku dengan wajah itu, percayalah, Retsu lebih mengerikan saat marah. Bahkan lebih mengerikan dari Seijuuro.

"Kalau orang lain melihat, mereka akan menganggap kita teman." Kagami terlihat berbisik, segitu malu-nya kah dirinya?

"Itu akan sangat menakutkan." Aku dapat melihat perempatan diwajah Kagami "Seperti yang kukatakan akulah yang pertama duduk disini. Lagi pula ini adalah tempat kumpul biasa-ku." Ucapku meminum kembali Vanilla Shake-ku. Kagami hanya menghela nafas sebelum melemparkan sebuah burger.

"Aku tidak tertarik kepada yang lemah." Ucapnya dan aku membuka burger tersebut sebelum memakannya "Tapi, kau layak mendapatkan satu potongan dari itu."

"Terima kasih." Ucapku dan mengigit burger tersebut, kami makan dalam diam sebelum pergi keluar.

"Jadi...seberapa kuat Generasi Keajaiban itu." Aku memandang kearahnya "Kalau aku melawan mereka sekarang, apa yang akan terjadi?"

"Sekejap mata, kau akan terbunuh." Ucapku dengan penuh keyakinan.

"Bisakah kau mengatakan itu dengan caya yang lain." Aku dapat melihat sebuah perempatan muncul dipipi Kagami kembali.

"Terlebih lagi, kelima keajaiban telah bergabung dengan SMA veteran yang berbeda-beda. Tidak salah lagi jika satu dari mereka akan berada dipuncak." Lanjutku, tak lama aku mendengarkan Kagami tertawa.

"Bagus, aku terbakar!" Ucap Kagami dengan senang "Aku akan mengalahkan semua orang ini dan menjadi nomor satu di Jepang!" Aku menatap kearahnya. Dia benar-benar naif.

"Aku rasa itu tidak mungkin." Ucapku dengan penuh keyakinan.

"HEI!" Kagami terlihat makin kesal.

"Aku tidak tau potensi kemampuan dirimu. Tapi dengan levelmu yang sekarang kamu tidak dapat bertahan dari seorangpun dari mereka." Ucapku dan kami berdua berhenti didepan lampu mereka "Ini tidak mungkin bila kau melakukannya sendirian. Aku juga sudah memutuskan." Aku melanjutkan jalan saat melihat lampu hijau untuk penjalan kaki dan melompat saat beberapa meter dari sisi jalan lainnya "Akulah yang akan menyangga sang aktor utama, sang bayangan. Tetapi sang bayangan akan menjadi lebih gelap jika cahayanya menjadi lebih kuat dan itu akan membuat warna putih dari sang cahaya yang bersinar. Sebagai bayangan dari aktor utama, aku akan menjadikan dirimu, sang cahaya, menjadi nomor satu di Jepang." Aku yakin pasti perkataanku sangat keren!

"Ha! Lihat siapa yang berbicara." Kagami nampak melanjutkan jalannya "Lakukan saja apa yang kau inginkan." Aku tersenyum tipis.

"Aku akan melakukan yang terbaik."

.

.

.

.

Ahh, why must skip to 15 years later...are the author is don't know what to write in the past? Btw, this is the step that I choose of my own. [Silver : what da?|Aku : serius nih, seharusnya jangan di-skip kek tahunnya|Silver : siapa author-nya?|Aku : Kamu|Silver : Nah, suka-suka Silver dong XP|Aku : *sweetdrop*]

X-x-x-x=x-x-x-X

Omake :

"Terlebih lagi kelima keajaiban telah bergabung di SMA veteran yang berbeda-beda. Tidak salah lagi jika satu dari mereka akan berada dipuncak."

"Hahahaha! Bagus, aku terbakar!"

BYUURRR

"Kenapa kau menyiramku?!"

"Kau bilang bahwa kau terbakar. Aku harus memadamkannya, kau tidak akan bisa melawan mereka jika kau mati Bakagami."

"MAKSUDKU BUKAN TERBAKAR SEPERTI ITU! DAN APAKAH KAU BARU SAJA MEMANGGILKU BAKAGAMI!? KAU INGIN MATI YA!"

X-x-x-x=x-x-x-X

To Be Continued

X-x-x-x==x-x-x-X

Silver : Yosha! Bagaimana dengan pendapat kalian dari chapter 2 ini? Gaje? Yaiyalah, namanya juga Silver! Disini sengaja Silver membuat skip years, soalnya masih belum selesai ngebaca kurobas ver komik *cry* karena modem habis pulsa dan laptop masih belum selesai, jadinya saya kurang niat menulis terutama di komputer [ini aja minjam laptopnya teman disekolah] Dan saya mengambil plot-nya dari Manga serta Anime, jadi sedikit tidak mengerti ya karena merasa alurnya berbeda? Awalnya mau dijadikan AU, ya tapi memang akan ada beberapa bagian yang AU sih. Awalnya mau dimasuki masa lalunya Aku!Kuroko dari kecil hingga ke Seirin, tapi karena saya lagi ngak punya ide dan laptop masih dibaiki tidak jadi deh.

Ah, dan untuk 'Aku', ya itu memang reader-tachi. Sorry ya jika gaje begini *cry*.

Semoga suka dengan chapter ini.
karena gaje begini saya memutuskan mem-publish 2 chapter...

See you in Next Chapter!