Summary : Apa yang akan kalian lakukan jika kalian terlahir kembali menjadi salah satu chara favorite kalian? Pastinya adalah keajaiban besar bukan? Tapi tetap saja, itu juga adalah sebuah malapetaka karena itu artinya semua beban berada dipundakmu.
Warning : Typo, OOC, Abal dan Gaje. AU in someway...
Disclaimer : Kurobas bukan punya saya *cry*.
Pairing : For now Brotherly!Midorima dan Takao [jika memang ada], slight AkaKuro, KagaKuro, NijiKuro, MayuKuro [kalian akan tau nantinya..], silahkan vote diprofil Silver untuk pairing tetap! [sebenarnya Silver kepikiran jika partner-partner GoM punya sisi tertarik dengan Aku!Kuroko, dan pada akhirnya GoM jadi punya brother-complex kepada Aku!Kuroko, hanya usul..soalnya disini para partner mereka itu...ra-ha-sia *wink*]
Note : Jadi apakah kalian mau tetap Aku!Kuroko POV atau berpaling ke Normal POV? kalau Silver sih lebih enak ke Aku!Kuroko dari pada Normal POV... Just tell me your wish, and I shall kill you- I mean..make it come true [jikalau bisa..(dan ya itu bukan typo..karena aku memang menggabungi kedua kalimat itu)] ( (o)^.^)
Don't Like...well thou can press the back bottom.
For the one who read~ I hope you guys enjoy this!
.
The Phantom Player
Chapter 3
Part-Time Job
Snow Kuro
.
.
.
.
"Oh, kau adalah orang yang menolong Azura-baa-san, terima kasih." H. Makoto
Aku berjalan menuju kekelas 2-C untuk mengambil fomulir resmi tim basket. Hmm, disaat-saat begini kira-kira Kantoku sedang apa ya. Aku membuka pintu kelas tersebut dan mendekat kearah meja Riko yang nampak masih menaruh perhatiannya ke susu kotak yang dibelinya.
"Permisi, aku ingin menerima fomulir resmi anggota klub basket." Riko nampak terkejut sembari menyemburkan minumannya dan menatap kearahku.
"Se-sejak kapan?" Ahahaha, aku tidak pernah bosan melihat ekpresi itu dari wajah orang-orang! Huff. Andai saja Seijuuro seperti mereka.
"Aku berada disini dari tadi."
"Lain kali muncullah secara normal. Ini formulirnya." Riko nampak menghela nafasnya sembari menyerahkan formulir tersebut, aku berbalik dan melangkah pergi "Ah! Formulir itu hanya akan kuterima hari Senin nanti jam 8 : 40 diatap." Aku mengangguk.
"Terima kasih telah memberitahukan kepadaku." Dengan begitu aku keluar dari sana dan berjalan menuju kearah perpustakaan untuk mengembalikan novel What Making Me Loving You. Sejujurnya aku sangat tidak tertarik dengan novel seperti ini, hanya karena plot ceritanya seru aku jadi tertarik. Andai saja kisah cintaku seperti itu. Tapi jika Momoi yang menjadi Sera maka aku harus berpikir 2 kali untuk membaca novel ini.
Bukan berarti aku membencinya, hanya saja Sera dan Momoi berbeda keperibadian. Aku menghela nafas sebelum menaruh buku kembali ditempatnya. Apa yang kupikirkan, mengambungkan dunia nyata dan fiksi. Tapi jika dipikir lagi, ini juga-kan dunia fiksi.
Setelah selesai aku berjalan keluar dari perpustakaan dan melihat Kagami yang nampak berhenti didepan Mading Seirin. Aku mendekat kearahnya.
"Mereka memang tidak berbohong tentang masuk keliga final. Benar-benar menakjubkan." Ucap Kagami sembari tersenyum, aku berhenti disampingnya.
"Ya, mereka memang hebat." Aku menutup telingaku, bahkan dengan begini masih saja terdengar suara Kagami.
"Bisa tidak kau muncul secara normal! Berhenti muncul entah dari mana!" Seru Kagami dan aku meletakkan jari telunjukku dibibirku, mengisyaratkannya untuk diam sembari menunjuk kearah papan yang bertuliskan perpustakaan. Tak lama aku merasakan sebuah tangan yang besar dan kekar meremas kepalaku dengan kuat "Kau ingin berkelahi hah?! Kau pasti ingin berkelahi kan, jawab aku!?"
"Tidak. Selain itu tolong lepaskan aku." Kagami melepaskan kepalaku sembari menghela nafas kesal. Aku memegang kepalaku yang nampak nyut-nyutan karena remasan tersebut "Sakit." Gumanku dan menatap kearahnya. Kagami nampak terdiam sembari menatap kearahku, tenggelam kedalam pikirannya. Aku melirik kearah jendela dan melihat seseorang dengan rambut hijau dan memakai kacamata nampak menatapku dari bawah. Kembali aku melihat kearah Kagami yang masih tenggelam dipikirannya sebelum melangkah pergi kebawah.
Lagi pula, Bakagami terlalu lama. Aku berjalan kearah gerbang dan bertemu dengan Shintarou yang nampak memeluk seekor kelinci. Jadi lucky-item hari ini adalah kelinci ya.
"Shin-kun, ada perlu apa?" Shintarou nampak memandangku sembari membenarkan posisi kacamatanya.
"Aku hanya penasaran, mengapa kau memilih Seirin." Bahkan dengan wajah tenangnya aku dapat mendengar sedikit nada kesal "Tapi, aku yakin sekali tidak akan bisa mengubah jalan pikiranmu yang keras kepala."
"Terima kasih atas perhatiannya. Selain itu, kelinci yang lucu." Ucapku sembari menoel kelinci itu.
"Ah, dia adalah lucky-itemmu." Shintarou berdehem pelan "Aku membawakan untukmu, dan itu bukan berarti aku peduli, nodayo." Aku tersenyum tipis sembari mengangguk, jadi kelinci itu lucky-itemku, dan mengambil kelinci itu.
"Terima kasih Shin-kun, jadi siapa namanya?" Tanyaku sembari mendalamkan pelukkan dikelinci tersebut. OMG! Ini adalah kelinci terlucu yang pernah ada.
"Aku belum menamakannya." Aku memandang bingung kearah Shintarou sebelum menatap kearah kelinci langkah dengan mata hijau-nya yang indah.
"Karena dia mempunyai matamu bagaimana jika dinamakan dengan bagian terakhir dari namamu, Taruo." Usulku dan Shintarou nampak berpikir.
"Itu nama panggilan yang aneh nanodayo, bagaimana jika Usagi?" Usagi artinya Kelinci-kan, sekarang siapa yang punya masalah dalam memberikan nama? Aku mengangguk.
"Itu nama yang lucu, Shin-kun." Ucapku sembari menoel telinga keli-Usagi "Mulai sekarang aku akan memanggilmu Usa-chan." Aku mendengar Shitarou menghela nafas senang sebelum merasakan sebuah tangan nampak mengelus rambutku.
"Besok aku akan menjemputmu dirumah. Dan aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu Tetsuya." Aku dalam melihat ekpresinya menjadi serius sembari memperbaiki kacamatanya "Kenapa kau menghilang disaat pertandingan final kita di kelas 3? Jawab aku dengan jujur. Apakah ini ada hubungannya dengan kita semua, terutama dia." Kami terdiam untuk beberapa detik sebelum aku menghela nafas.
"Aku akan berbohong jika aku bilang tidak ada sangkut pautnya dengan kalian semua. Terutama dia." Ucapku sembari mengeratkan sedikit gengamanku kepada Usagi sebelum melemahkannya "Aku, pergi karena cara yang kita lakukan tidak bisa dibilang tim. Kita bermain dengan tujuan menghancurkan para pemain lain, aku tidak ingin bermain basket yang seperti itu, apalagi setelah yang kalian lakukan Shige-kun."
"..." Aku menghela nafas.
"Kau tau Shin-kun, saat itu aku benar-benar membenci basket. Suara desitan sepatu, suara pantulan bola, suara desingan net disaat bola masuk, betapa dinginnya bola basket saat aku menyentuhnya. Aku yakin kau pasti tidak tau bagaimana menyakitkannya begitu membenci sesuatu yang sangat kau sukai. Itu sakit Shin-kun. Tapi yang lebih sakit adalah, bahwa aku tidak dibutuhkan oleh kalian semua, terutama olehnya." Aku merasakan sesuatu yang basah mengalir di pipiku, sebelum jatuh kebulu-bulu Usagi yang lembut. Aku menangis, ini pertama kalinya aku menangis didepan Shintarou. Tapi...apa arti dari tangisan ini?
"Jadi begitu...mungkin itu memang benar, aku tidak mengerti perasaanmu." Aku mendengar langkah Shintarou mendekat dan merasakan sebuah tangan nampak mengusap air mata itu "Yang bisa kukatakan adalah...aku bersenang karena kau sangat tegar Tetsuya. Aku pasti tidak akan memaafkan diriku sendiri." Aku merasakan Shintarou menyandarkan kepalaku di dadanya "Jika seseorang yang sudah kuanggap sebagai otouto, membenci sesuatu yang dicintainya, karena diriku."
"Shin..tarou-nii-san." Ucapku sembari menangis dalam diam. Kami tetap begitu untuk beberapa saat, menikmati suasana sunyi dan angin yang nampak menerpa. Pada akhirnya aku melepaskan pelukkan tersebut "Maaf tentang bajumu, Shin-kun. Dan terlebih lagi, kau masih ada jam pelajaran disekolah bukan?"
"Ah, jangan pedulikan itu. Selain itu kuharap kau mendingan." Ucap Shintarou dan aku tersenyum sembari mengangguk "Ta-tapi itu bukan berarti aku mengkhawatirkanmu, nodayo." Kau memelukku dan menenangkanku dan masih bilang bahwa kau tidak mengkhawatirkanku, dasar Tsuntsun-Shin-nodayo, Aku tersenyum sembari menatap kearah Shintarou yang nampak menjauh dari sana. Dengan begitu aku menghela nafas dan menatpa kearah Usagi.
Apa yang harus kulakukan dengan Usagi?
Dengan begitu aku beranjak kearah sekolah.
Mungkin aku akan membuat rumah untuknya setelah pulang sekolah dan bermain dengannya dirumah nanti. Itu terdengar seperti rencana yang bagus.
Aku memandang kearah belakang sekali lagi.
Ngomong-ngomong, Shintarou sudah bertemu dengan Kazunari tidak ya.
X-x-x-x==x-x-x-X
Aku membuka mataku menjalani rutinitas pagiku, menghajar alaram agar terdiam, bangun, membersihkan tempat tidurku, pergi kekamar mandi, mandi, gosok gigi, memakai gakurenku, sarapan seadanya, dan berangkat kesekolah. Tapi hari ini sedikit berbeda karena sesuatu yang penting telah terjadi kepadaku. Aku kehilangan benda berhargaku. Padahal aku sudah mencarinya disegala tempat dan sudut yang kupastikan bahwa benda tersebut muat. Saat tidak menemukannya aku menghela nafas sebelum kearah Ipod-ku untuk mendengarkan ramalan Oha-Asa. Karena aku benar-benar membutuhkan hal itu. Aku memakai headset-ku dan mendengarkan perkataannya.
"Cancer berada diperingkat pertama hari ini..." Ah, Shintarou sangat beruntung "Aquarius berada diperingkat terakhir." Aku melebarkan mataku "Hari ini akan terjadi sesuatu yang tak terduga. Lucky item-mu hari ini adalah sebuah pulpen dengan warna biru langit. Semoga mempunyai hari yang menyenangkan."
Pulpen dengan warna biru langit ya, untunglah tidak seperti Shintarou yang lucky-item nya adalah boneka barbie dengan baju berwarna pink. Tapi jika dipikir-pikir, Shintarou akan tetap membawa lucky-item nya walaupun yang paling aneh dan memalukan. Untung aja Oha-Asa tidak pernah meramalkan lucky-item sesekali berkeliaran dengan tubuh bagian atas telanjang dan memakai boxer berwarna pink.
Sepertinya aku butuh dokter pisikologi untuk mengecek kejiwaanku. Aku menghela nafas sebelum menatap kearah cermin dimana rambutku masih bermutasi untuk berhamburan.
*Ping-Pong.*
*Ping-Pong.*
*Ping-Pong.*
Ah, itu pasti Shintarou, dia datang lebih cepat dari yang kuharapkan. Aku segera mendekat kearah sana dan membuka pintu melihat Shintarou yang nampak memasang ekspresi kesal.
"Apakah ada masalah, Shin-kun?" Tanyaku masih dengan ekspresi datar dan memandang kearah orang yang sedikit pendek dari Shintarou tapi masih tinggi dia dari pada aku, nampak tersenyum kearahku sebelum nampak terdiam.
Kazunari...apa yang dia lakukan disini?
"Kazunari-kun, senang bertemu denganmu disini, selain itu ada perlu apa disini?" Tanyaku bingung.
"Tet-chan, sudah lama tidak bertemu denganmu. Aku kesini karena penasaran dengan temannya Shin-chan. Tapi aku tidak bahwa yang dimaksud dengannya adalah kau." Kazunari terlihat tersenyum dan Shintarou nampak berdehem.
"Sepertinya kalian mengenal satu sama lain." Kami berdua melirik kearah Shintarou "Bisakah kau menjelaskannya, Takao?"
"Ah, itu. Aku sudah kenal Tet-chan sekitar 2 tahun yang lalu." Ah aku mengigatnya dengan jelas. Kenapa aku dan Kazunari bisa bertemu dan menjadi sahabat seperti ini. Itu sungguh hari-hari yang kelam.
"Ah, tidak baik jika kalian berdiri diluar, mari masuk." Aku membuka lebar pintu dan terlihat keduanya masuk kedalam.
"Maaf telah mengganggu." Ucap Kazunari dengan suara ceriahnya sementara Shintarou hanya berguman kecil.
"Jadi, Retsu-san dan Teruya-san belum datang ya." Aku mengangguk "Selain itu, apa-apaan dengan rambut itu nodayo. Kenapa kau belum merapikannya. Dan karena aku tau bahwa kau jarang ke supermarket maka aku membelikanmu bahan-bahan makanan." Aku menatap kearahnya yang nampak memperbaiki kacamatanya "Bu-bukan maksudnya aku mengkhawatirkanmu nanodayo." Dengan begitu Shintarou pergi dari sana menuju kearah dapur.
"Shin-kun/Shin-chan benar-benar Tsundere." Aku menatap kearah Kazunari yang kembali menatap kearahku.
"Kazunari-kun, bagaimana menurutmu tentang Shin-kun?" Tanyaku dan Kazunari nampak menatap kearah dapur sebelum kembali kearahku.
"Shin-chan, bisa dibilang unik." Ucap Kazunari nampak tersenyum "Dan juga Tsundere." Aku tersenyum tipis saat mendengarnya mengatakan hal tersebut "Tapi jujur, aku tidak pernah menyangka bahwa salah satu dari Generasi Keajaiban akan satu sekolah denganku."
"Semua bisa terjadi. Dunia begitu kecil Kazunari-kun." Ucapku sembari mengendurkan bahuku.
"Yah, tapi Shin-chan tidak buruk juga. Walaupun aku tidak ingin mengakuinya tapi, dari generasi keajaiban yang paling kutakuti adalah maniak bermata dua warna tersebut." Aku dapat melihat Kazunari memasang wajah horror. Ya aku tidak bisa menyalahkannya, karena itu memang kenyataannya. Seijuuro memang menakutkan-tapi Retsu masih lebih menakutkan-.
Dia sudah membuat semua orang kehilangan semangat untuk bermain basket. Aku tidak bisa menyalahkan Seijuuro, karena dulu juga, aku tanpa menyadarinya, sama seperti dirinya.
(-Kalau Kuroko ada disini, itu artinya tidak ada kesempatan untukku menjadi regular di Teiko, akan lebih baik jika aku menyerah saja.")
(-Kemenangan ini, hanya kau seorang Kuroko.")
(-Kami tidak mungkin bisa menandingi jenius sepertimu.")
(-Aku tidak ingin bermain basket lagi.")
"Tet-chan?" Aku terkejut sembari menatap kearahnya "Kau melamunkan sesuatu? Itu benar-benar tidak sepertimu dirimu Tet-chan, kaukan biasanya, ah bukan menurutku tidak pernah melamun." Aku dapat merasakan perempatan muncul dikepalaku.
"Aku akan membuatkan kalian teh." Dengan begitu aku berjalan menuju kearah Shintarou yang nampak berada didapur "Kau bisa duduk Shin-kun. Kau adalah tamu, jadi aku akan membuatkanmu teh." Shintarou terlihat menatap kearahku sebelum kearah atas dan mengambil kotak teh yang diluar batas jangkauanku.
"Kau seharusnya bilang dari awal nanodayo." Aku tersenyum sembari menatap punggung Shintarou yang nampak menjauh dari dapur.
Aku akan membalasmu Shintarou, begitu juga denganmu Kazunari. Aku mengambil gelas dan mengambil garam sebelum menuangkan kedalam gelas itu dan memasukkan teh lalu mengaduknya. Setelahnya aku kembali keruang tamu dan menaruh teh-teh dari garam tersebut disana. Aku tersenyum samar saat melihat mereka meminum teh itu. Rasakan pembalasanku.
Tak lama kemudian keduanya memuncratkan teh tersebut.
"Tetsuya, aku sudah menuliskan label ditempat garam dan gula, jadi seharusnya kau tidak kebingungan lagi." Ucap Shintarou dengan perempatan sementara itu Kazunari hanya nampak menatap dengan pandangan aneh ke tehnya.
"Maaf..." Ucapku dan mengambil teh tersebut "Aku akan membuat lagi." Ucapku dan bangkit sembari berjalan kearah dapur "Bagus."
"Bagus?!" Tanya Kazunari terkejut sementara itu Shintarou nampak memijit jidatnya "Shin-chan, apa yang dia maksud!?"
"Sepertinya kita membuatnya kesal." Oh kalian menyadarinya, bagus deh. Aku menyiapkan teh dan kembali kearah meja dengan teh baru. Keduanya nampak ragu menatap kearah teh itu.
"Aku sudah mengantinya dengan gula. Atau kalian mau garam?" Tanyaku sembari meraih teh itu tapi langsung dicegat oleh tangan-tangan mereka.
"Ti-tidak perlu. Te-terima kasih atas tehnya." Ucap Kazunari dan dengan ragu meminum teh tersebut.
"Terima kasih." Aku tersenyum setelah Shintarou mengatakan hal itu.
"Ngomong-ngomong itu bukannya kelinci yang dibeli oleh Shin-chan kemarin pagi?" Kazunari menunjuk kearah kelinci yang nampak dari tadi tidak dihiraukan, yang saat ini tengah bermain didalam kandangnya dengan sebuah bola ping-pong.
"Ah, Shin-kun memberikannya karena katanya itu adalah lucky-item milikku." Kazunari nampak menatap kearah kami berdua dengan pandangan aneh.
"Kalian berdua tidak kearah 'itu' bukan?" Aku yakin pasti ada semburan memerah tipis diwajahku saat mengetahui kata itu, sepertinya Shintarou juga mengerti.
"Takao, apakah kau bosan hidup?" Aku melihat Shintarou mengeluarkan sebuah paku yang kuyakin pasti di ambilnya dari bawah meja. Kazunari terlihat memucat.
"A-aku hanya berca-canda Shin-chan. Habisnya kalian sangat dekat. Tapi aku yakin sekali, hubungan kalian pasti hanya sebatas adik-kakak saja kan?" Tanya Kazunari dan aku menghela nafas.
"Kau seharusnya tidak bercanda sejauh itu Kazunari-kun." Ucapku dan Kazunari tertawa sembari mengangguk.
"Maafkan aku Tet-chan." Ucap Kazunari.
"Kalau begitu, mari kita berangkat. Ngomong-ngomong Shin-kun, kau membawa sisir?" Shintarou menatap kearahku dengan pandangan yang mengatakan -yah-ampun-. Sementara itu Kazunari hanya menatap bingung.
"Kau menghilangkan sisirmu lagi?" Aku hanya mengangguk sembari memegang rambutku, dan terlihat sebuah sisir dilemparkan kearahku "Cepatlah, jika terlambat kau akan dimarahi bukan?" Aku tersenyum tipis.
"Terima kasih."
X-x-x-x==x-x-x-X
"Jadi disini ya tempatnya." Ucap Kazunari menatap kearah Hare Daycare yang berada didepan kami, setelah berdiri beberapa menit didepan kamipun memasuki daycare tersebut dan mendekat kearah kasir.
"Maaf karena kami terlambat, Azura-baa-san." Seorang perempuan lansia nampak tersenyum kearah kami, matanya sudah nampak menyipit, menandakan bahwa dia sudah mulai termakan usia untuk melihat dengan jelas, tapi walaupun begitu Azura mempunyai kemampuan unik, dia masih bisa melakukan aktivitas seperti biasa bahkan dengan kondisi tubuh yang makin lama makin dimakan usia.
"Tak apa, aku sempat berpikir kalau kalian tidak akan datang." Ucap Azura sembari tersenyum dan menatap kearah Kazunari "Siapakah pemuda tampan ini?" Kazunari hanya dapat tersenyum.
"Namaku adalah Takao Kazunari. Aku teman Tet-chan dan teman sekelasnya Shin-chan." Ucap Kazunari.
"Oh, suatu kebetulan. Kau mendapatkan teman yang unik Shintarou, Tetsuya." Kami bertiga terdiam mendengarkan kalimat itu. Jika Azura mengatakan bahwa Kazunari unik maka tidak salah lagi bahwa Kazunari adalah orang yang unik. Azura selalu menjaga perkataannya, jadi apa yang dimaksud dengannya?
Mungkin, Kazunari akan membuat ke-Tsundere-an Shintaraou menghilang? Atau yang dimaksud dengan unik adalah Kazunari dan Shintarou akan menjadi teman dekat sehingga hampir seperti hubunganku dengan Shintarou? Atau mungkin lebih dalam...omgomgomg! YAOI!
"Tentu saja. Aku bahkan terkejut saat mengetahui Shin-kun membuat teman sangat cepat." Ucapku sembari tersenyum tipis, tapi aku yakin ada semburan pink transparan diwajahku.
"Apa maksudmu Tetsuya." Aku mendengar suara Shintarou yang nampak sedikit kesal. Azura nampak tersenyum dan tertawa pelan.
"Kalian memang tidak berubah, andai saja Makoto juga seperti itu." Aku menatap kearah lantai. Berbicara soal Makoto membuatku kurang senang, terutama dengan Makoto yang sekarang.
"Saya yakin Makoto-kun masih tetap seperti dulu, Azura-baa-san." Ucapku tersenyum tipis.
"Kau benar. Kalau begitu masuklah, masuk. Anak-anak sudah pada merindukan kalian." Kami mengikuti Azura masuk kedalam. Sudah lama aku tidak mengajak Shintarou ketempat ini, kira-kira sudah hampir 2 tahun berlalu jika aku tidak salah. Dan dulu Makoto masih ada disini dan belum seburuk sekarang. Dan aku yakin sekali jika Kazunari pasti bingung dengan Makoto yang kami bicarakan, atau mungkin tidak.
"Tetsu-tachi!/Kuro-senpai!/Kuro-sensei!"
"Mido-sensei/Shin-tachi!/Mido-senpai!"
Teriakkan langsung bergema dan dengan sigap aku serta Shintarou langsung diterjang oleh sekerumbulan anak-anak yang sudah lama tidak kutemui. Walaupun ada beberapa wajah baru yang terlihat disana.
"Nee, nee. Kuro-senpai, kenapa baru sekarang datangnya?"
"Kami sangat kangen dengan Kuro-senpai dan Mido-senpai."
"Mido-sensei lucky-item untuk Cancer hari ini boneka barbie dengan gaun pink bukan?"
"Tetsu-tachi, lakukan sulap! Sulap!"
Aku hanya tersenyum melihat mereka semua yang masih nampak aktif seperti terakhir kali aku bertemu dengan mereka.
"Shin-tachi, siapa dia?" Aku menatap kearah Shintarou dan Kazunari yang nampak akrab dibagian ujung sebelum tersenyum pelan. Aku tidak perlu khawatir dengan bagian sana. Aku menatap kearah anak-anak yang berada didepanku. Mereka semua mulai bermain seperti biasa, hingga saat jam menunjukkan pukul 11 : 50 yang artinya jam tidur siang untuk mereka semua.
"Kuro-sensei, bisakah kau membacakanku sebuah dogeng?" Aku tersenyum tipis sembari mengangguk dan mengambil buku dogeng tersebut. Snow white ya..sudah lama aku tidak membaca buku ini.
"Baiklah." Ucapku dan terlihat anak-anak tersebut menatap dengan senyum pepsodent mereka, maaf lupakan promosi tersebut. Aku tersenyum. Sekarang bagaimana kita memulainya ah...mungkin itu bisa juga. "Dahulu kala disebuah istana tinggallah seorang ratu dengan nama Momoi-" Maaf Satsuki-chan "-dia adalah ratu yang baik hati-" Setidaknya aku tidak menjadikanmu ratu yang jahat "-tinggal bersama seorang Raja yang dermawan bernama Sakurai."
"Kerajaan tersebut sangat sepi tanpa suara tangisan dan juga tawa anak-anak, dan suatu hari disaat musim salju, Ratu Momoi membuat permohonan agar mempunyai anak dengan kulit seputih salju dan rambut serta mata sebiru langit. Tak lama Ratu Momoi mengandung seorang anak membuat Raja Sakurai bahagia. Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan kandungan Ratu Momoi makin membesar, hingga akhirnya hari tersebut tiba dimana sang pangeran-."
"Tunggu bukankah seharusnya putri?" Aku tersenyum kearah mereka semua.
"Kita akan memakai dengan pangeran, karena yang lahir laki-laki." Dengan begitu aku mendapatkan anggukkan dari mereka"Raja nampak senang sekaligus sedih saat mengetahui bahwa putra pertamanya telah lahir, akan tetapi Ratu Momoi wafat saat melahirkan putranya. Dengan hari yang kelam dan malam yang bersalju tersebut, Raja Sakurai menamakannya Snow Kuro-."
"Snow Kuro." Guman beberapa anak nampak menjadi tertarik. Syukur deh mereka tidak mengetahuinya.
"Ya benar, Snow Kuro yang berarti salju hitam." Ucapku tersenyum "Raja Sakurai merasa tidak bisa merawat Pangeran Snow Kuro sendirianpun meminang Ratu Riko untuk melengkapi keluarganya, walaupun begitu terkadang dia sering rindu dengan Ratu Momoi. Selang beberapa tahun Raja Sakurai pun wafat, membuat sedih semua orang yang berada diistana. Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun berlalu, pada akhirnya Snow Kuro tumbuh menjadi dewasa."
"Dia menjadi seorang Pangeran dengan paras cantik, rambut dan matanya yang sebiru langit, kulitnya yang seputih salju dan juga kebaikan hatinya serta ekspresinya yang hanya menunjukkan wajah datarnya saja, serta sebuah fakta bahwa dia adalah pangeran terpendek disana. Ratu Riko merasa dikalahkan oleh kecantikan Pangeran Snow Kuro-pun berjalan dengan marah kearah kamarnya dan berdiri didepan cermin ajaibnya dan berkata 'wahai cermin ajaib, siapakah yang paling cantik di negri ini.' Dengan begitu cermin tersebut menjawab 'Snow Kuro-lah orangnya.'-" Sejujurnya, aku tidak yakin dengan kalimat itu "-Ratu Riko nampak marah kemudian mengirim seseorang untuk membunuh Snow Kuro didalam hutan. Pembunuh tersebut adalah Hyuuga, laki-laki dengan kepribadian ganda-nya dimana dia adalah orang yang baik dan orang yang tidak baik."
"Hyuuga membawa Snow Kuro kehutan dengan tujuan bahwa Ratu Riko menyuruhnya untuk menemani Snow Kuro mengambil lumut di ladang-maksudku-memetik apel. Dengan begitu Hyuuga dapat dengan mudah membunuh Snow Kuro, tapi hatinyapun luluh karena kebaikan Snow Kuro kepada seekor elang yang sekarat dan menyuruh Snow Kuro untuk pergi menjauh dari istana, tinggal ditengah hutan dan mengatakan bahwa Ratu Riko memerintahkannya untuk membunuhnya."
"Tanpa pikir panjang. Snow Kuro mengangguk dan berlari kearah hutan. 7 hari 7 malam dia berkelana dalam hutan. Hingga pada akhirnya dia menemukan sebuah gubuk mewah yang terbuat dari kayu jati, kaca yang sangat bersih dan juga dekorasi yang unik. Merasa bahwa dia sudah cukup kelelahan Snow Kuro-pun masuk kedalam sana. Semuanya berbeda dengan pandangan didepan rumah karena didalam sangat terlihat berdebu dan kotor. Snow Kuro mencoba memanggil sang pemilik rumah, dan sepertinya tidak ada orang didalam, diapun masuk kedalam dan menumpang istirahat sebentar. Merasa bahwa tidak bisa tidur dalam kondisi seperti ini Snow Kuro-pun membersihkan rumah tersebut."
"Setelah selesai membersihkan dan tanpa sengaja menemukan sebuah Vanilla Shake kesukaannya yang berada disana, diapun beristirahat disebuah ranjang yang berwarna merah dengan bantal warna emas. Tanpa diketahui oleh Snow Kuro, masuk 7 kurcaci berukuran manusia yang memiliki warna rambut unik. Merah, kuning, hijau, biru, ungu, oren dan hitam, saat ketujuhnya masuk kedalam, mereka nampak terkejut saat melihat gubung mereka telah menjadi bersih dan rapi, kemudian terdengar suara halus dari atas, yang berwarna merah dengan gagah berani dan memegang sebuah gunting menuju keatas dan pada akhirnya mereka menemukan Snow Kuro yang masih tertidur. Merekapun mencoba membangunkan Snow Kuro yang nampak langsung bangun saat merasakan sesuatu menyentuh pundaknya."
"Merasa bahwa kapan saja para pemilik rumah bisa salah paham Snow Kuro menjelaskan semuanya bahwa dia hanya numpang lewat dan juga komentarnya dengan betapa kotornya gubuk ini dan pada akhirnya dia membersihkannya. Merekapun setuju bawha Snow Kuro bisa tinggal sebentar disana dan memulai perkenalan. Nama mereka sesuai dengan warna rambut mereka, kecuali untuk yang berambut hitam dengan nama Niji. Hari demi hari, dan bulan demi bulan berlalu. Semua yang berada disana menjadi dekat dengan Snow Kuro yang nampak betah tinggal bersama ketujuh orang tersebut."
"Sementara itu di istana nampak Ratu Riko berada didepan cermin ajaib dan menanyakan pertanyaan yang sama, siapakah orang tercantik di negri ini, tentu saja cermin ajaib tersebut menjawab hal yang sama bahwa Snow Kuro adalah orang tercantik. Merasa bahwa rencana awalnya gagal, Ratu Riko pergi ke selatan untuk bertemu dengan seorang penyihir yang bernama Shoichi. Penyihir Shoichi tersebut memberikannya sebuah apel dan menyuruhnya untuk memberikan itu kepada Snow Kuro, karena hanya dengan satu gigitan dapat mengakibatkan seseorang tewas."
"Dengan begitu Ratu Riko berjalan kearah hutan dan menemukan gubuk yang ditinggali oleh Snow Kuro. Diapun mendandani dirinya menjadi seorang nenek-nenek dan berjalan kearah gubuk itu. Snow Kuro tengah membersihkan gubuk tersebut ditinggalkan sendirian oleh ketujuhnya yang tengah berkerja. Aka sempat berpesan agar tidak membuka pintu kepada siapapun sebelum pergi dari sana. Tapi tiba-tiba saja sebuah bunyi ketukkan terdengar. Snow Kuro mengintip dari jendela dan melihat seorang nenek-nenek dengan keranjang apel. Setelah berdebat dengan inner devil dan inner angel-nya akhirnya Snow Kuro membukakan pintu tersebut. Mereka berdua berbicara untuk beberapa saat sebelum pada akhirnya Snow Kuro menerima tawaran apel tersebut, dikarenakan dia belum makan apa-apa selama 2 hari."
"Setelahnya, Ratu Riko menandang dengan penuh antusias saat melihat Snow Kuro memakan apel tersebut. Satu gigitan dan Snow Kuro-pun terjatuh kebawah. Ratu Riko tertawa dengan senangnya sebelum pergi dari sana, menjauh dari gubuk tua tersebut. Sore hari ketujuh kurcaci itu pulang kerumah dan shok begitu melihat Snow Kuro yang tergeletak tak berdaya ditanah. Dengan begitu mereka depressi hingga hanya memandang tubuh Snow Kuro yang dimasukkan kedalam sebuah peti mati dan diletakkan diteriknya matahari. Hari pun berganti hari dan minggu berganti minggu, satu persatu mereka masuk menjenguk Snow Kuro yang masih tertidur didalam peti mati tersebut, masih dengan keadaan kulitnya yang nampak seputih salju walaupun telah lama berada dibawah teriknya sinar matahari."
"Pada akhirnya, lewatlah seseorang dari kerajaan nan jauh, pageran dengan nama yang unik yang sama dengan nama kerajaannya, Pangeran Taiga. Tak sengaja Pangeran Taiga melewati peti mati tersebut dan melihat bunga dengan 7 warna unik yang dipasang disisi peti. Penasaran diapun mendekat kesana dan melihat Snow Kuro yang tertidur, diapun jadi jatuh hati dan memandang kesegala arah, sebelum mencoba untuk membangunkan Snow Kuro, segala cara dia lakukan mulai dari mengoyangkan pundak, berteriak, mencubit pipi bahkan mengelitiki Snow Kuro, tapi apa daya hal tersebut tetap tidak bisa membuat Snow Kuro terbangun."
"Akhirnya sebuah cara nampak berada dikepalanya, cara terakhir yang dia harap mampu untuk membangunkan Snow Kuro. Pangeran Taiga mencondongkan badannya dan mendekatkan bibirnya kearah Snow Kuro, dengan perlahan bibirnya mulai mendekat, dan mendekat, hingga hanya tinggal beberapa centi...sebelum pada akhirnya sebuah gunting nampak tiba-tiba terbang kearahnya, menggores pipinya. Pangeran Taiga menghadap kebelakang hanya untuk melihat Aka yang menatap marah kearahnya. Akhirnya pertandingan basket one on one pun dimu-."
"Tunggu Kuro-senpai! Kenapa harus basket?"
"Iya! Bukankah kalau Pangeran Taiga pasti menang?"
"Kalau begitu kita ganti renang." Ucapku sembari tersenyum mendapatkan anggukkan dari yang lainnya "Pada akhirnya, Aka dan Pangeran Taiga melakukan tanding renang one on one dilautan yang berada disebrang bukit, siapa yang pertama kali berenang menjauh dan melihat bahwa pulai sangat kecil dan kembali kesini adalah pemenangnya. Pangeran Taiga, demi rasa cinta-nya kepada Snow Kuro menerima tantangan tersebut. Dan akhirnya mereka melakukan pertandingan itu, 3 hari 3 malam mereka berenang dilautan bebas dengan Niji sebagai wasit-nya. Niji nampak berjalan kearah peti Snow Kuro nampak duduk disampingnya untuk melamun tentang nasib kedua orang yang masih berenang. Karena merasa bosan dan kelaparan diapun berjalan menjauh dari sana, tapi tanpa disadarinya tiba-tiba saja dia menginjak sebuah kulit pisang yang entah muncul dari mana dan terjatuh tepat kedalam peti mati Snow Kuro yang ditindisnya."
"Hal itu menyebabkan apel yang menyangkut ditenggorokkan Snow Kuro terkeluar dan Snow Kuro sepenuhnya sadar. Snow Kuro melebarkan matanya saat melihat Niji yang nampak berada diatasnya dengan posisi berpandangan dan peti mati yang tertutup. Merasa bahwa keperawanannya dalam bahaya, Snow Kuro melemaskan otot-otot telapak tangannya dan menghajar Niji tepat diperut, membuat Niji terbang keangkasa dan tenggelam di lautan. Tiba-tiba saja seorang Pangeran dengan wajah datar yang sama dengan Snow Kuro nampak berdiri dengan gagah dikudanya, dia menatap kearah Snow Kuro sebelum melompat kebawah dan memegang tangan Snow Kuro lalu melamarnya, setelah memperkenalkan bahwa dirinya adalah Pangeran Chiro-ro dari negri RO."
"Merasa bahwa tidak ada pilihan lain, Snow Kuro menerimanya, dan pada akhirnya Pangeran Chiro-ro dan Snow Kuro hidup bahagia selamanya." Aku menatap kearah anak-anak yang nampak telah tertidur nyenyak sebelum mengangguk-angguk pelan kepada diriku sendiri, aku memang ahli membuat dongeng ternyata.
"Tetsuya...itu adalah cerita paling menyeramkan yang pernah kudengar." Aku menatap kearah Shintarou yang nampak menatap aneh kearahku sementara itu Kazunari nampak menghitung anak-anak untuk memastikan tidak ada yang hilang "Kuharap mereka tidak mengigat cerita ini."
X-x-x-x==x-x-x-X
Aku menghela nafas sembari berbaring dikasurku dan menatap kearah jam yang berada didinding. 20:14, sudah segitu ya. Aku menghela nafas kembali dan memutarkan tubuhku lalu mencoret dikalender dengan lingkaran hijau. Sejujurnya, aku tidak bisa lagi untuk bergerak karena Kazunari yang memintaku dan Shintarou untuk singgah sebentar ditaman bermain. Dengan begitu aku berjalan kearah kasur dan merebahkan tubuhku sembari menutup mata, mencoba untuk tidur dengan nyenyak.
Besok adalah permulaan dari segalanya ya.
X-x-x-x==x-x-x-X
Omake :
"Dogeng yang Kuro-senpai ceritakan sangat menyenangkan!"
Terlihat semua anak disana mengangguk-angguk.
"Ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan Aka dan Pangeran Taiga ya?"
"Aku juga penasaran dengan Ratu Riko!"
"Entahlah, tapi aku jatuh cinta dengan Pangeran Chiro-ro!"
"Aku benci Ratu Riko!"
"Walaupun waktunya sedikit kurasa aku menyukai Penyihir Shoichi."
"Sayang sih Raja Sakurai dan Ratu Momoi sudah wafat!"
"Aku ingin mempunyai pasangan yang memperjuangkanku seperti Pangeran Taiga besar nanti."
"Tapi para kurcaci lainnya juga lucu loh!"
"Andai saja mereka nyata!"
"Tapi kau tau...Kuro-senpai hampir mirip dengan Snow Kuro." Satu-satunya murid yang mempunyai otak ternormal disana hanya dapat berguman kecil kepada dirinya sendiri karena dia dihiraukan oleh yang lainnya.
Dan dengan begitu 5 orang berambut pelangi, 1 orang yang berambut merah dengan nama hewan, 1 orang berambut oren yang digantinya menjadi hitam, 2 cewek yang tak pintar memasak, 1 cowok berambut hitam yang keberadaannya masih misterius dan 3 cowok yang belum bisa ditampilkan dalam waktu dekat di fanfic ini, serta si empu-nya pembuat dongeng tersebut-pun, bersin secara bersamaan.
X-x-x-x==x-x-x-X
Omake #2 :
"Jadi Tet-chan, apa yang terjadi dengan Aka dan Pangeran Taiga serta Ratu Riko?"
"..."
www"Katakan padaku Tet-chan!"
"Kau yakin Kazunari-kun?"
"Tentu saja! Aku sangat-sangat-sangat penasaran!"
"..."
"Ayolah Tet-chan!"
"Baiklah. Aka dan Pangeran Taiga akhirnya sampai kedaratan dan menemukan Snow Kuro tidak ada disana lagi, merekapun mengintrogasi Niji yang mengatakan bahwa Snow Kuro telah dilamar oleh Pangeran Chiro-ro dari negri RO. Dan dengan begitu hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, ada kabar bahwa Snow Kuro menikah dengan 2 orang Pangeran dan seorang kurcaci maniak gunting. Ratu Riko dinobatkan sebagai wanita tercantik dan ter-rata pada akhirnya menikah dengan pemburu yang dibayarnya dulu, Hyuuga. Dan keenam kurcaci lainnya menjadi pelayan Snow Kuro diistana gabungan antara 3 negri. Serta penyihir itu menjadi terkenal dan paling banyak didatangi oleh orang-orang untuk meminta bantuan. Tamat."
"..."
"Kazunari-kun?"
"Itu adalah cerita yang paling menakutkan Tet-chan! Jangan ceritakan lagi!"
"Perasaan aku sudah menambahkan happy-ending, kok malah seram."
Dengan begitu orang-orang sebelumnya kembali bersin lagi.
X-x-x-x==x-x-x-X
Silver : Wew...ini adalah chapter terpanjang yang pernah Silver tulis! Jadi bagaimana dengan Omake-nya? Gaje ya...mwahahaha, sebenarnya saya ini pendukung NijiAka/NijiHai tapi karena lambat laun saya jadi menyukai NijiKuro [padahal tuh pairing perasaan hanya sedikit aja yang minati..] Yosh! Silver harap kalian suka dengan chapter ini. Dan Takao serta Kuroko bertemu akan dijelaskan nantinya, begitu juga dengan Hanamiya, dan kalian pasti sudah tau dong siapa character misterius berambut oren itu[ :3 ]kalau belum silahkan baca komik-nya atau nunggu sampai orang itu muncul di chapter depan yang pasti akan lama menunggunya. Yosh kalau begitu tanpa basa basi lagi tolong di Review oke!
See You in Next Chapter!
