Summary : Apa yang akan kalian lakukan jika kalian terlahir kembali menjadi salah satu chara favorite kalian? Pastinya adalah keajaiban besar bukan? Tapi tetap saja, itu juga adalah sebuah malapetaka karena itu artinya semua beban berada dipundakmu.

Warning : Typo, OOC, Abal dan Gaje. AU in someway...

Disclaimer : Kurobas bukan punya saya *cry*.

Pairing : None.

Don't Like...well thou can press the back bottom.
For the one who read~ I hope you guys enjoy this!

.

The Phantom Player

Chapter 4
Seirin 08 : 40 di Atap Gedung
Taruhan

.

.

.

.

"Kau benar-benar berbakat dalam basket, Tetsuya." K. Yukio

Lagi-lagi, aku lupa meminjam sisir Shintarou untuk beberapa hari lagi hingga aku bisa membeli sisir baru. Aku berjalan kearah Seirin sembari memasang wajah madesu-datar terbaikku. Bagaimana tidak, jika kalian seorang laki-laki, hal yang paling kalian hindari pastilah berdandan seperti wanita-kan? Ya itulah yang terjadi padaku saat ini, karena tidak menemukan sisir dan tak mungkin muncul dengan rambut berantakkan itu aku memakai kep untuk menahan rambutku agar tidak berhamburan.

Selain itu kuharap mereka semua tidak menyadarinya.

Aku meberjalan kearah kelas untuk merah tasku sebelum berjalan kearah atap. Aku menatap kearah tempat duduk Kagami yang telah kosong dan hanya menyisakan tas-nya saja. Sepertinya dia sudah pergi deluan. Dengan begitu aku berjalan keluar kelas dan menuju keatap.

"Kagami-kun." Sapaku sembari mendekat kearahnya, aku langsung menutup telingaku untuk menghindari tuli mendadak.

"Kenapa kau selalu melakukan hal itu?!"

"Kau masih tidak terbiasa?" Aku melihat Kagami menghela nafasnya sebelum berjalan kearah atap. Aku menatap kebelakang dan melihat Furihata, dan...dua orang lagi yang tak kukenali, atau mungkin bisa kubilang bahwa aku lupa dengan namanya. Dengan begitu kami berlima naik keatas, dan berhadapan dengan Riko yang nampak tersenyum.

"Fufufu. Aku sudah menunggu kalian semua."

"Apakah kau bodoh?" Guman Kagami.

"Apakah ini duel?" Tanya salah satu dari trio freshman tersebut yang lagi tidak kuketahui siapa namanya. Jujur, terkadang aku takut menyalah artikan siapa mereka.

"Benar juga, aku lupa, tapi bicara hari senin." Aku menutup telingaku "Bukankah ini 5 menit sebelum dimulainya upacara pagi?!" Kagami mengeluarkan formulirnya "Ini. Cepatlah dan ambil."

"Sebelum itu, ada yang ingin kukatakan kepada kalian semua."

"Huh?" Here we go.

"Tahun lalu, waktu kapten memohon kepadaku untuk menjadi pelatihnya, aku membuat perjanjian dengan mereka. Aku berjanji untuk fokus hanya pada mendorong tim menuju kejuaraan nasional! Jika kalian berpikir kalian belum siap dengan itu, kalian bebas untuk memilih klub yang lain!" Aku melebarkan mataku, aku sama sekali tidak mengerti yang dimaksud dengannya, tapi itu adalah perkataan yang keren, setidaknya menurutku.

"Hah? Tentu saja aku-"

"Aku tau bahwa kalian semua kuat. Tapi, kalian harus mempunyai sesuatu yang sangat penting, itulah yang ingin aku lihat. Walaupun kau berlatih dengan keras dari yang lainnya, hanya dengan mengatakan perkataan seperti 'suatu hari nanti' dan 'mungkin' tidak akan cukup. Aku harus tau tujuan ambisius kalian, serta semangat kalian untuk mencapai mereka. Itulah yang kuinginkan dari kalian."

Riko terlihat menjulurkan tangannya, menunjuk kearah murid-murid yang berada dibawah.

"Teriakkan nomor, nama dan kelas kalian dari sini. Serta tujuan kalian kepada seluruh sekolah!" Riko terlihat tersenyum sembari menyipitkan matanya "Bagaimanapun juga, jika kau gagal untuk melakukannya, maka kau harus kembali kesini dalam keadaan telanjang dan menyatakan cintamu kepada gadis yang kau sukai."

Buset...kau serius Riko?

"Ehhh?!"

"Hah?"

"Tahun kedua juga melakukan hal yang sama kau tau."

"Apa?" Aku menatap kearah Furihata-karena aku sedikit mengenali warna rambutnya- yang nampak kebingungan "Tidak ada seorangpun yang mengatakan hal ini kepadaku."

"Ya, aku pernah mendengar tentang hal ini saat mereka mengajakku."

"Tapi aku tidak percaya bahwa mereka akan pergi sejauh ini." Riko nampak tersenyum.

"Seperti yang kukatakan sebelumnya, aku mencari sesuatu yang konkret dan cukup ambisi. Itu harus lebih bagus dari 'bermain pertandingan pertama saya' atau 'akan kulakukan yang terbaik', mengerti?"

"Ya, ini sangat mudah." Aku menengok kearah Kagami yang nampak menyerigai "Ini bahkan bukanlah sebuah test." Kagami nampak berjalan menuju kearah pagar sebelum melompat diatas, membuat Riko dan trio freshman tersebut terkejut. Kagami terlihat menarik nafasnya sebelum berteriak dengan lantang "Kelas 1-B, Nomor 5, Kagami Taiga! Aku akan mengalahkan Generation of Miracles dan menjadi nomor satu di Jepang!"

Kau benar-benar bersemangat Kagami. Dengan begitu Kagami turun dari bawah sebelum aku masuk kedalam untuk mengambil sebuah Megaphone yang berada didekat tangga, ya tidak mungkin aku berteriak kencang seperti itu bukan? Dengan begitu aku kembali berjalan kearah atap dan membuka pintu untuk melihat bahwa memasuki giliran terakhir. Aku tidak mengetahui nama salah satu nama dari trio freshman yang belum kukenal. Setidaknya aku hanya bisa menebak bahwa yang berambut bundar diantara ketiganya adalah Kawahara dan satunya Fukudi? Fudaku? Fukuda? Fukuku? Kufufu? Entalah.

Aku berjalan kearah sebelah Riko.

"Selanjutnya."

"Maaf, tapi aku tidak bisa berteriak jadi, aku akan menggunakan ini." Riko terlihat sweetdrop saat melihatku mengeluarkan megaphone.

"Dari mana kau mendapatkannya?" Dengan begitu aku berjalan kearah penahan besi tersebut dan menyalakan megaphone sebelum mengambil nafas dan mengatakan kelasku. Sebelum diganggu oleh sebuah pintu yang dibanting.

"Klub basket lagi?!" Terlihat seorang guru masuk kedalam.

"Sial, kita hampir selesai." Ucap Riko nampak tidak merasa menyesal sama sekali.

Haah, ini jadi membosankan karena mendengarkan ocehan guru ini.

X-x-x-x==x-x-x-X

Aku berjalan kearah Maji Burger untuk membeli Vanilla Milkshake seperti biasa. Belum beberapa langkah aku dapat melihat seseorang yang membuatku menghentikan langkah. Bukannya dia seharusnya berada di Kanagawa? Tapi kenapa bisa berada disini?

"Yukio-kun?" Aku dapat melihat Yukio terkejut sebelum menghela nafasnya.

"Lain kali muncullah dengan normal Tetsuya." Ucap Yukio sembari tersenyum kesal dan menghela nafasnya.

"Apa yang kau lakukan disini, Yukio-kun?" Tanyaku sembari menuju kedepannya.

"Ah, itu. Entah kenapa setiap kali aku kesal selalu berakhir jauh dari tempat tujuanku." Ucap Yukio dan kami berduapun masuk kedalam Maji Burger, setelah selesai memesan kamipun duduk dimeja favorite-ku.

"Jadi bagaimana dengan Kaijo?" Aku menyedot vanilla milkshake-ku sembari memperhatikan Yukio yang nampak memakan burgernya.

"Keadaan disana baik-baik saja. Selain itu aku heran kenapa kau tidak bergabung dengan Kaijo saja dan memilih Seirin? Apakah ini karena ada salah satu dari Generasi Keajaiban disana?" Aku menundukkan kepalaku sebelum menggeleng pelan.

"Ya mungkin itu salah satunya. Aku tertarik dengan Seirin karena mereka adalah sekolah yang kulihat pertama diturnamen yang tidak takut kepada kami." Yukio menatapku dengan ekpresi aneh sebelum menghela nafasnya.

"Walaupun sudah 10 tahun mengenalmu, kau tetap membuatku terkejut." Aku tersenyum tipis dan terlihat Yukio menjulurkan tiga burger kepadaku "Kau tidak akan tumbuh jika hanya meminum itu, makan ini. Dan aku ingin kau menghabiskannya."

"Aku tidak akan sanggup." Ucapku sembari sweetdrop sedangkan Yukio hanya menatap kearahku, merasa bahwa cepat atau lambat aku akan kalah dalam kontes pemaksaan-orang-yang-keras-kepala ini akupun mengambil ketiga burger itu dan memulai makan.

"Jadi Tetsuya, bagaimana keadaan Bibi Retsu dan Paman Taruya?" Aku menatap kearahnya sebelum menelan bagian burger yang kugigit.

"Kaa-san baik-baik saja, dia bahkan terlihat bersenang-senang di Singapure. Tou-san, dia pergi ke Korea untuk membuka bisnis disana." Ya itu benar, Retsu sekarang tengah berada di Singapure dan saat ini pasti tengah bersenang-senang di Disney-Land, terkadang aku bingung sendiri jika dia adalah ibuku atau tidak. Dan Taruya sedang pergi ke Korea untuk membuka bisnis disana, walaupun aku yakin pasti Taruya mempunyai tujuan selain bisnis saja. Dengan begitu aku melanjutkan memakan burger-ku.

"Begitu ya." Yukio terlihat mengeluarkan sebuah kaset dari tasnya dan menaruh dimeja depanku "Kau suka dengan film bergenre horror-kan. Aku membelikan The Ring untukmu, dan soal pembunuhan kurasa aku hanya mempunyai SAW 1-4 saja. Akan kuberikan saat kau sudah selesai menghabiskan burgermu."

Sial, berani sekali kau memakai cara licik Yukio! Aku mentap kearah kaset tersebut sebelum kearah burger yang masih tersisakan dua dan menatap kembali kearah Yukio yang tersenyum.

"10 menit lagi aku akan kembali ke Kanagawa loh." Dengan begitu aku menghela nafas sebelum dengan sekuat tenaga menghabisi ketiga burger itu, ya untuk pertama dan kedua sih tidak masalah, tapi untuk yang ketiga...aku merasa bahwa harus memuntahkannya. Tunggulah Yukio, rasakan pembalasanku nantinya.

Setelah akhirnya perjuangan antara hidup dan mati dalam kurung waktu 10 menit, ah 10 menit lewat 5 detik, pada akhirnya burger yang tersebut habis dengan menyisakan bungkusannya saja. Yukio nampak tertawa pelan sebelum memberikanku kaset-kaset itu.

"Kau memang tak berubah Tetsuya." Yukio berdiri "Dipertemuan kita selanjutnya, kita akan menjadi musuh ya?" Aku mengangguk dan terlihat Yukio berjalan keluar "Sampaikan salamku kepada Bibi Retsu dan Paman Taruya!" Dengan begitu Yukio keluar dari sana.

Aku menghela nafas sebelum meminum vanilla shake-ku.

Kalau dipikir-pikir aku tidak menyangka Yukio masih memiliki kebiasaan seperti itu. Aku tersenyum. Tapi itulah yang mempertemukan kami berdua. Itu benar, aku bertemu dengan Yukio karena kebiasaannya yang jika kesal akan selalu berakhir ditempat yang jauh dari rumahnya. Mungkin karena intuisinya yang mengatakan bahwa dia harus kabur dari rumah? Terakhir kali aku bilang secara langsung didepannya kalau tak salah dia malah menjewer telingaku. Aku menatap kearah luar jendela sebelum menutup mataku. Kira-kira bagaimana keadaan mereka semua ya, walaupun aku tau tapi semuanya masih samar.

Aku membuka mataku dan melihat Kagami yang nampak membawa satu ranjang burger dan duduk didepanku. Setidaknya aku bisa menganggu Kagami.

"Aku tidak percaya bahwa mereka marah segila itu hanya karena aku berteriak terlalu keras." Aku berhenti meminum milkshake ku.

"Aku bahkan tidak menyelesaikannya dan malah kenak masalah juga." Kagami nampak melirik kearah jendela sebelum melirik kearahku dan kejadian yang lalu terulang kembali, dengan Kagami yang menelan langsung gigitan burger yang berada dimulutnya.

"Kau lagi?" Tanya Kagami terlihat sweetdrop sebelum berguman "Mungkin aku harus pindah ketempat lain." Setidaknya berbicaralah lebih pelan atau dalam hati, tapi yang paling bagus pastikan jika tidak ada orang yang dibicarakan Bakagami. Itu adalah penyinggungan tersakit yang pernah kudengar.

"Kita tidak diperbolehkan di atap lagi. Apa yang akan ku lakukan jika aku tidak bisa bergabung dengan tim basket?" Aku dapat melihat Kagami tersenyum.

"Itu takkan terjadi."

"Kita lihat saja nanti." Kagami terlihat menghela nafas, sebelum menaruh kedua tangannya dimeja dan menatap kearahku.

"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak pergi ke sekolah besar seperti lima orang lainnya?" Ya, itu adalah pertanyaan normal dan sudah 3 kali kudengar akhir pekan ini "Dikenal sebagai Phantom Sixth Man." Aku hanya menatapnya sebelum menyirup milkshakeku "Apakah ada beberapa alasan kau bermain basket?" Apakah aku harus menceritakannya? Maksudku, ya itu juga bukanlah rahasia. Aku menatap kearahnya sebelum berhenti minum.

"Sekolah menengah tim basketku memiliki satu perinsip inti." Aku memberikan jeda "Menang adalah segalanya." Lanjutku "Ahli-ahli kerja sama tim, kami perlu untuk saling dorong-mendorong bakat individu dari Generasi Keajaiban untuk menang. Tak ada yang bisa mengalahkan kami, tapi kami bukanlah tim. Lima dari mereka diakui, tapi aku merasa kami tidak memiliki sesuatu yang penting."

"Jadi apa?" Kagami terlihat maju sedikit "Apakah kau akan mengalahkan Genarasi Keajaiban dengan caramu sendiri?"

"Itulah yang aku pikirkan." Ucapku singkat, padat dan jelas, yang justru membuat Kagami nampak sedikit terkejut.

"Serius?" Tanya Kagami dan aku menatap lurus kematanya.

"Kata-katamu dan juga pelatih benar-benar memukulku." Secara batin "Sekarang alasan terbesarku untuk bermain adalah, mencoba menjadikan-mu serta kita, tim basket Seirin yang terbaik di Jepang." Kagami terlihat memandangku.

"Kita tidak akan mencoba." Kagami bangkit dan aku mengangkat kepalaku untuk menatapnya, dia terdiam sementar sembari memandangku "Kita akan menjadi yang terbaik." Aku tersenyum tipis.

X-x-x-x==x-x-x-X

Aku membuka pintu rumahku sebelum menutupnya kembali dan berjalan kearah kalender dan melingkari tanggal ini dengan lingkaran merah dan memberikan tanda v disebuah lingkaran yang disampingnya terdapat sebuah kalimat. Membuat Bakagami mengatakan hal yang keren, telah selesai.

X-x-x-x==x-x-x-X

Setelah pagi yang tidak menyenangkan dan juga menyenangkan, bagian tidak menyenangkan dimana aku masih belum menemukan sisirku, dan Yukio bahkan tidak mengetahuinya, atau mungkin dia tau tapi hanya pura-pura tidak tau, dan yang menyenangkan karena aku dapat melihat beberapa ekpresi kaget dari wajah-wajah murid Seirin saat aku meninggalkan pesan dilapangan. Dan saat ini aku tengah berada diklub basket bersama dengan yang lainnya untuk menganti pakaian kami.

"Eh, bukankah ini keluar saat Kuroko ada diTeiko."

"Ah, semua pemain yang ditampilkan...Kuroko." Jeda "Tidak mempunyai artikel?"

"Meskipun kau anggota keenam, bukankah ada seseorang yang mewawancarain mu?" Aku menatap kearah Koganei dan Hyuuga serta Izuki.

"Mereka datang, tapi aku sangat tidak suka dengan reporter itu karena terlalu memaksa, jadinya...bisa dibilang bahwa yang lainnya melakukan sesuatu padanya." Ucapku dan terlihat Hyuuga, Izuki serta Koganei memasang ekpresi wajah simpati, yang kurasa untuk reporter tersebut, ya aku tidak bisa menyalahkan mereka, akupun merasa kasihan pada reporter itu saat melihatnya nampak ketakutan setelah selesai berbicara dengan para GoM "Dan juga, aku bukan apa-apa seperti yang lima lainnya. Mereka keajaiban sejati."

Terlihat Fukuda-setelah aku menanyakan ulang namanya- masuk kedalam dan berhenti didepan kami semua.

"Pelatih kembali!" Ucapnya "Kita akan memainkan permainan praktek." Umumnya.

"Aku ingin tahu dengan siapa kita bermain?"

"Siapa yang tau, dia melompat-lompat untuk beberapa alasan." Hyuuga nampak terkejut.

"Dia melompat-lompat?!" Dengan begitu suasana diruang basket menjadi hening "Bersiaplah semuanya. Jika dia melompat-lompat, maka bisa kupastikan lawan kita berikutnya akan nyata tangguhnya."

X-x-x-x==x-x-x-X

Kami melakukan mini game melawan senior. Furihata terlihat memegang bola sebelum mengoper kearahku dan langsung kuoperkan kearah Kagami yang nampak berhadapan dengan Izuki. Aku mengerakkan bola mataku untuk menatap sosok laki-laki berambut kuning yang nampak menatap kearah Kagami sebelum tersenyum sesaat setelah aku mendengarkan suara bola beradu dengan ring. Apa yang Ryouta lakukan disini?

"Nice shoot." Aku menatap kearah Kagami yang nampak melangkah.

"Dia menakjubkan, seperti berbelok cepat dengan kecepatan penuh. Dia bukan manusia biasa."

"Dia mungkin bisa mengalahkan Generasi Keajaiban."

"Dia mungkin benar-benar bisa untuk mengalahkan mereka dengan itu."

"Mungkin dia sudah lebih baik dari mereka." Aku sedikit tersentak mendengarkan percakapan mereka semua.

(-Dengan levelmu yang sekarang kamu tidak dapat bertahan dari seorangpun dari mereka.")

"Itulah yang kukatakan kepadanya. Tapi.." Aku menatap kearah Kagami, dia akan langsung kalah begitu melakukan one on one sekarang. Terlebih lagi, Ryouta berada disini dan pasti akan meng-copy gerakkannya.

"Baiklah, berkumpul semua orang!"

"Baik!" Semua nampak berkumpul didepan Riko.

"Kita akan melakukan permainan praktek melawan Kaijou Kouko." Terlihat Hyuuga terkejut.

"Sebuah permainan praktek dengan Kaijou Kouko."

"Benar. Mereka tidak akan mengecewakan kita. Kita akan menempatkan banyak tahun pertama di pertandingan."

"Mengecewakan kita? Mereka jauh lebih baik daripada kita." Ucap Koganei.

"Apakah mereka benar-benar baik?"

"Mereka kuat ditingkat nasional. Mereka bermain di Inter-High setiap tahun." Jelas Hyuuga.

"Dan tahun ini, Kaijou mendapatkan tangan mereka pada salah satu Generasi Keajaiban, Kise Ryouta."

"Apa? Dia? Generasi Keajaiban?" Ah, ini gawat. Jadi ini mengapa Ryouta berada disini.

"Rupanya, Kise berkerja sebagai model." Ucap Hyuuga memberitahukan kepada kami semua.

"Benarkah? Menakjubkan." Ucap Izuki.

"Tampan dan jago basket? Itu brutal." Ucap Koganei.

"Bodoh." Guman Riko dan menatap kearah antrian murid-murid cewek yang berada dilapangan basket. Riko nampak terkejut "Apa yang terjadi? Apa yang semuanya lakukan disini?" Seperti biasa, hanya Ryouta yang bisa melakukan hal ini.

"Eh, aku tidak bermaksud untuk ini terjadi." Ryouta nampak menandatangi satu-persatu kertas yang diserahkan oleh murid-murid cewek yang berada disekelilingnya. Ryouta nampak menatap kearahku, aku menundukkan kepalaku pelan.

"Senang bertemu denganmu lagi."

"Senang bertemu denganmu." Balasnya sembari mengangguk.

"Kise Ryouta." Ucap Hyuuga.

"Maaf, tapi umm, bisakah kau menunggu 5 menit lagi?" Kurasa itu tidak akan selesai dalam waktu singkat. Tak sampai 10 menit serta lewatnya 5 menit, lapangan menjadi kosong.

"A-apa yang kau lakukan disini?" Tanya Hyuuga.

"Ketika aku mendengar lawan kami berikutnya adalah Seirin, aku teringkat Kurokocchi pergi kesini. Jadi aku berpikir akan datang dan menyapanya." Ucapnya sembari tersenyum dan berjalan kedepanku "Kami adalah teman terbaik selama disekolah."

"Tidak, masih ada yang lainnya." Sejujurnya, membully Ryouta sangatlah menyenangkan. Tapi sedikit perihatian juga sih, lagi pula salahnya sendiri karena terlalu berisik.

"Jahat sekali! Kau terlalu jujur Kurokocchi!" Ryouta nampak menghapus air matanya yang mengalir.

"Kise Ryouta." Furihata terlihat membaca majalah tersebut "Meskipun ia mulai basket ditahun kedua sekolah menengah, dianugrahkan fisik yang baik dan kemampuan bermain, menjadikannya pemain Regular Teiko dalam sekejap. Sementara ia memiliki pengalaman yang kurang dari empat lainnya, dia adalah pemain serba bisa yang berkembang dengan cepat."

"Sejak tahun kedua?" Ryouta terlihat mengaruk kepalanya yang tak gatal.

"Artikel kecil yang cukup dibesar-besarkan. Aku senang bisa disebut bagian dari Generasi Keajaiban, tapi aku yang terburuk dari bunch. Mereka membully-ku dan Kurokocchi untuk itu sepanjang waktu." Ucap Ryouta masih tetap tersenyum.

"Sayang sekali Kise-kun, itu tidak pernah terjadi kepadaku."

"Apa? Itu hanya aku?" Tanya Ryouta sekali lagi dengan liangan air mata palsunya. Tiba-tiba saja terlihat sebuah bola basket terbang kearah Ryouta, yang tentunya langsung ditangkis oleh Ryouta "Itte, apa-apaan itu? Selain itu, kau hampir mengenai Kurokocchi." Ya itu benar Bakagami, jika bola tadi mengenaiku, kau akan ku-bully.

"Maaf sudah merusak reuni kalian, tapi kau tidak datang kemari hanya untuk memberi salam, kan? Bagaimana kalau kau menjadi lawanku untuk sementara, Ikemen-kun." Aku melebarkan mataku sedikit. Bakagami, kau terbakar dengan mudah. Aku harus mencatat bahwa Kagami belum bisa menahan emosinya dengan baik.

"Kagami!"

"Kagami-kun!" Kagami terlihat berjalan kearah Kise.

"Eeh...tapi meskipun kau bilang begitu, ini sangat mendadak." Ryouta nampak melirik kearah atas sebelum melirik kearahnya "Baiklah, sebagai ucapan terima kasih karena telah menunjukkanku sesuatu yang bagus."

"Ya ampun." Kagami dan Ryouta nampak menuju kelapangan dan berhadapan satu sama lain.

"Ini buruk." Riko terlihat menatap bingung, Ryouta terlihat mendribble bola sebelum berlari melewati Kagami "Jika dia telah menyaksikan sebuah permainan, dia bisa meniruya dengan cepat." Ryouta nampak meniru gerakkan Kagami selanjutnya dan terlihat melakukan dunk. Kagami tepat berada dibelakangnya.

"Wooh, Kagami juga hebat!"

"Reaksinya cepat!" Aku melebarkan mataku. Kekuatan Ryouta meningkat, aku tau ini tapi, tidak pernah kusangka akan seperti ini.

"Ini...generasi keajaiban. Kuroko, bukankah temanmu benar-benar luar biasa."

Ya, itu benar, Ryouta berkembang pesat, aku bahkan... "Aku tidak kenal orang itu."

"Huh?"

"Jujur, aku juga sempat berpikir naif sebelumnya. Tapi, meskipun aku sudah tidak bertemu dengannya selama beberapa bulan, dia.." Kemampuan mereka semua, telah berkembang sangat jauh.

"Hmm, tapi kau tau." Ryouta nampak menggaruk kepalanya "Membiarkan kesempatan seperti itu hilang, aku tidak bisa begitu saja kembali setelah memberi salam." Ryouta berjalan kearahku "Berikan aku Kurokocchi." Aku mengangkat kepalaku agar sejajar dengan dirinya "Datanglah kesekolah kami, ayo bermain basket bersama lagi."

"APA?!"

"Aku serius, aku sangat menghormatimu, Kurokocchi! Kau hanya membuang kemampuanmu ditempat ini! Jadi, bagaimana?" Kau seharusnya sudah tau itu Ryouta, jawabku.

"Aku merasa tersanjung kau memikirknku sampai sejauh ini. Tapi dengan hormat, aku menolak tawaran itu." Ucapku membungkuk, lagi terlihat tatapan terkejut terpasang didalam sana.

"Kurokocchi...itu terlihat seperti bukan kau! Bukankah kemenangan adalah segalanya bagimu? Kenapa kau tidak pergi ke sekolah yang lebih kuat!?" Aku tidak ingin mendengar hal itu...kemenangan bukanlah segalanya jika kau bermain bukan sebagai tim, Ryouta.

"Pemikiranku berubah sejak saat itu. Yang lebih penting, aku telah membuat janji dengan Kagami-kun. Janji untuk mengalahkan Generasi Keajaiban. Dan kau tau bahwa aku bukanlah orang yang suka mengikari janji, Kise-kun." Ryouta menatap kearahku dengan ekpresi tidak percaya.

"Ini benar-benar bukan dirimu Kurokocchi. Mengatakan lelucon seperti itu." Dan saat itulah aku mendengarkan suara tawa Kagami yang nampak menggema dilapangan dan menatap kearah kami bawah sebelum kearah Ryouta.

"Sial, apa-apaan ini. Jangan ambil bagianku Kuroko." Kagami nampak berdiri disampingku.

"Aku benci mengakuinnya, tapi kenyataan kalau aku tidak terlalu bagus dalam melucu memang tidak berubah. Aku serius." Ryouta menatap kearah kami berdua, lebih tepatnya aku dengan tatapan tidak percaya.

"Jadi begitu..." Ryouta nampak mengangguk pelan sebelum menghela nafasnya "Kalau begitu, sampai berjumpa besok dipertandingan."

X-x-x-x==x-x-x-X

Aku membuka pintu rumahku dan mendekat kearah telpon rumah.

[Anda mempunyai 2 pesan suara.] aku menekan angkah 5.

[Monday, 14:30. "Te-kun! Bagaimana keadaanmu diJepang? Kau makan dengan teratur bukan? Mou, mama sangat kangen dengan bidadari mama! Dan ini sangat tidak menyenangkan kalau Te-kun tidak ikut kau tau. Kau sangat mirip dengan papamu, tidak memperhatikan perasaan mama yang kesepian disini. Tapi tetap saja, mama akan tetap menyayangi kalian berdua! Mama akan pulang beberapa bulan lagi! Jadi sampai saat itu tetaplah bertahan ya, Te-kun!" clik.]

[Pesan pertama selesai, beralih kepesan kedua. Monday, 15:55. "Tetsuya.] Aku melebarkan mataku, ternyata Ryouta langsung mengabari dia ya. [Apa yang kau pikirkan bergabung dengan sekolah tanpa nama seperti itu. Ya aku sudah mendengar dari Shintarou sebelumnya, dan sekarang aku mendengarkan dari Ryouta bahwa kau membuat janji dengan salah satu orang yang mengatakan akan mengalahkan kita semua. Hubungi aku setelah kau mendengarkan pesan ini. Itu adalah perintah." Clik. Pesan selesai.] Aku mengehal nafas.

[Tekan 5 untuk meyimpan pesan dan tekan 2 untuk menghapus pesan] aku menekan tombol 2 [pesan telah dihapus] dengan begitu aku menelponnya.

["Siapa?"] Sekarang kau bertanya aku siapa?

"Ini aku Akashi-kun."

["Ah, akhirnya kau menelponku, aku sempat mengira bahwa kau akan membangkang Tetsuya."]

"Jadi, apa yang ingin Akashi-kun bicarakan?"

["Pindahlah ke Rakuzan."] Aku melebarkan mataku ["Aku tetap pada pedirianku bahwa kau akan lebih cocok berada diRakuzan, Tetsuya."]

"Kau sudah mengetahui jawabku Akashi-kun, aku tetap berpegang pada pilihanku."

["Hmm, kau memang keras kepala-"] Aku bukan satu-satunya kau tau, Seijuuro ["-Kalau begitu mari kita buat taruhan. Kau akan pindah keRakuzan jika Seirin tidak bisa mengikuti Winter Cup dan kalah saat melakukan penyeleksian di Inter-High. Tapi jika kalian berhasil maka aku akan menghargai pilihanmu dan mengakui bahwa Seirin bukanlah tim yang lemah. Jadi pendapatmu?"]

"Baiklah aku terima." Apa yang kulakukan, membuat taruhan dengan Seijuuro sama saja dengan melompat kedalam mulut singa.

["Baiklah, semoga kau beruntung, karena kau memerlukan itu Tetsuya."]

Aku terdiam sembari menutup telpon tersebut dan menghela nafasku dan mendekat kearah sofa sebelum duduk terlentang disana sembari menatap kearah atap rumahku. Kita sebaiknya tidak kalah, Seirin.

X-x-x-x==x-x-x-X

Omake

NGUUIIINNGGG

"Kelas 1-B, Nomor 5, Kagami Taiga!" Kagami terlihat berteriak.

NGGUIINNGG

"Aku akan mengalahkan Generation of Miracles." Lanjutnya kembali.

SYYUUUUTTT

"Dan menjadi nomor satu di Je-! Kheee!" Dan terlihat Kagami terjatuh kebelakang sembari memegang tenggorokkannya.

"Kagami!/Kagami-kun!" Semuanya berteriak histeris, sementara Kagami berusaha berjuang melawan sesuatu yang masuk kedalam mulutnya. Mereka terlalu terkejut dan panik hingga tidak memperhatikan sebuah tulisan kecil yang berada disamping pagar. Tulisan nan polos dan tak berdosa yang mereka hiraukan.

[WARNING : Dilarang berteriak dan membuka mulut lebar-lebar ketika berbicara ataupun menguap saat pagi hari di area atap.]

X-x-x-x==x-x-x-X

Silver : Yosha! Entah kenapa Silver jadi merasa bahwa harus melanjutkan fic ini dulu sebelum kehilangan ketertarikan [semoga saja tidak ya] Awalnya Silver berpikir Aku!Kuroko x Partner!GOM, tapi karena akhirnya kesambet ide Silver ganti jadi Aku!Kuroko x GOM dengan Overprotective!PartnerGOM. *fufufu* Dan main pairing disini tentu saja OTP Silver. MuraKuro, AkaKuro. Tapi kalau mau Silver bisa tambahkan pairing lainnya juga. Ya itu saja dulu, karena waktu pelajaran TIK telah habis dan ngak mungkin bisa berlama-lama di lab jadinya segini dulu ya!

See You in Next Chapter!