Disclaimer : I own nothing.
Unexpected Mate
Chapter 2
Orihime Inoue bertanya, "Grimm-chan?"
Pemuda itu mengernyitkan dahi dan berkata, "Grimmjow." Kini Grimmjow terkejut saat tiba-tiba gadis di depannya tersenyum lebar, pemuda itu melonggarkan genggamannya atas kedua tangan Orihime. Lalu Orihime mengulurkan kedua tangannya yang sekarang bebas dan melingkarkannya mengelilingi leher Grimmjow sambil menghantamkan tubuhnya pada pemuda itu selagi berkata "Aaah, Grimm-chan kaukah ini?" Kemudian dengan sama cepatnya ia memundurkan tubuhnya meski sekarang memegangi masing-masing rahang Grimjow dengan kedua tangannya, "Kau menjadi manusia?"
"Ya, sepertinya begitu." Jawabnya.
"Bukan sepertinya! Kau benar-benar menjadi manusia! Ini Hebaaaat!" Teriak Orihime dengan wajah berbinar-binar.
Melihat ekspresi gadis itu, Grimmjow heran dan mengangkat satu alisnya "Kau tidak terkejut?"
"Aku sangat terkejut! Aku selalu memikirkan bagaimana dirimu terlihat saat kau menjadi manusia, walaupun, ya kukira kau akan memiliki tangan robot, atau capit kepiting, dan ada antena di kepalamu, tapi kau.. terlihat normal."
"Khayalanmu itu, selalu buruk." Ucapnya sambil mengacak kepala Orihime.
"Tapi, bagaimana bisa?"
"Tidak tau, bangun tidur aku sudah begini."
"Kenapa tidak pakai baju?"
"Tidak mungin memakai bajumu."
Kini Orihime yang menyeringai, dengan segera ia menarik paksa tangan Grimmjow dan membawanya masuk ke ruangan. "Kau! Meski sekarang tubuhku sudah menjadi dua kali lipat tubuhmu, kau masih tetap memaksa-maksaku?!" Jengkelnya, meski tetap mengikuti gadis itu.
Orihime membuka lemarinya dan mengeluarkan beberapa baju secara acak. Baju kakaknya, yang selama ini disimpan rapi Orihime. Ia menunjukkan baju-baju itu satu persatu dan memberikannya pada Grimmjow, meski akhirnya kembali dilemparkan pemuda itu dengan protes, "Tidak cocok", "Tidak mungkin kupakai" dan "Jauhkan itu". Orihime memang kesulitan mencari baju yang pas ditubuh Grimmjow, tubuh kekarnya sangat berbeda dengan milik kakaknya, sampai akhirnya Orihime menemukan kaos putih lengan panjang dan Jeans longgar pendek. Grimmjow memakainya karena tidak ada pilihan lain, meski kini ia merobek kedua lengan kaosnya.
Hari sudah berganti malam, Orihime memutuskan untuk menyiapkan makan malam. "Grimm-chan, kurasa kau tidak lagi menginginkan susu dan sereal sebagai makananmu. Kau mau memakan kare dengan saus coklat?"
"Kubilang, Grimmjow! Apapun, aku lapar."
"Siaaaap!" Ucap Orihime bersemangat.
Malam itu untuk pertama kalinya Orihime menyantap makan malamnya ditemani jelmaan kucingnya, dalam hati Orihime merasa sangat senang. Ia selalu berharap untuk dapat melihat sinar bulan bersama dengan seseorang lagi. Meski ia sering melakukannya dengan kucingnya namun kali ini berbeda saat kucing hitam kesayangannya benar-benar menjadi manusia. Namun saat itu ia merasakan Grimmjow sedang menatapnya, dan entah mengapa ada sebersit garis merah muncul dipipinya dan ia bertanya, "Ada apa?"
"Kau tidak mencoba membelaiku? Kau biasanya menggendongku dipangkuanmu dan akan membelai daguku setelah makan."
"Apa?" Memang benar Orihime selalu melakukan itu, tapi saat dia berbentuk kucing. Tapi, memikirkan dirinya melakukan hal yang sama pada pemuda di depannya itu, membuat wajahnya panas. "Mmm kurasa tidak sekarang."
Grimmjow menyipitkan kedua matanya, lalu ia merangkak perlahan mendekati Orihime. Orihime yang menyadarinya dengan cepat bergegas berdiri. "Aku akan membereskan piring-piring ini," setelah itu pergi menghilang ke dapur.
Kini setelah Grimm mengucapkan hal tadi, Orihime menyadari sesuatu. Pikirannya mengulang rekaman kejadian saat Grimmjow menjilati pipinya. Saking takjubnya ia mendapati kucingnya berubah wujud, dan senang karena sekarang ada yang menemaninya dan bisa mengajaknya bicara, Orihime jadi melupakan kejadian itu. Orihime tidak pernah sekalipun mendapati dirinya berada sangat dekat dengan seorang laki-laki apalagi sampai ada yang menjilatnya! Tenang Orihime, Grimm-chan adalah Grimm-chan, dia kucingmu. Namun saat ia kembali menoleh ke arah Grimmjow dan melihatnya sedang duduk menonton televisi, yang berada disana bukanlah seekor kucing seperti biasanya, tapi seorang pemuda! Kenyataan menghempas Orihime, ia kemudian ingat bahwa ia tidak pernah beraduaan dalam satu rumah dengan seorang pemuda, kecuali kakaknya dulu. Dadanya mulai berdegup kencang dan ia merasa sedikit panik.
Saat Orihime kembali ke kamarnya, ia dan Grimmjow bertatapan dan Orihime merasa gugup. Ia menyampaikan pada Grimmjow bahwa dirinya akan tidur, lalu Grimmjow menyeringai dan bergabung dengannya di tempat tidur. Tentu saja Orihime menolaknya dan menyuruhnya pergi tapi Grimmjow dengan cepat memeluknya secara paksa. Dia berbisik di telinga Orihime "Kenapa? Padahal kau yang selalu memelukku setiap malam." Orihime merona malu. Memikirkannya memeluk kucingnya semalaman adalah hal biasa tapi jika ia harus memeluk pemuda bertubuh besar ini sepanjang malam... Orihime menggeleng cepat menepis bayangan itu. "Kasurku tidak cukup untuk kita berdua, kau akan melemparku jatuh, Grimm-chan." Setelahnya Grimmjow mundur dengan enggan dan akhirnya tidur dibawah.
Sudah dua hari ini Orihime tinggal berdua dengan mantan kucingnya tanpa satu orangpun yang tau, bahkan Orihime merahasiakan hal ini dari sahabatnya, Tatsuki. Grimmjow selalu mencoba melakukan kontak fisiknya dengan Orihime, tidur dipangkuannya, bersender di dadanya, mengendus lehernya sampai mencoba tidur dengannya. Grimmjow memang tidak melakukan hal lain diluar itu yang melewati batas, hanya hal-hal yang sering dilakukannya saat dia masih menjadi kucing. Suatu waktu saat Orihime selesai mandi, Grimmjow berkata, "Tidak memakai handukmu lagi? Aku bahkan sudah sering melihatmu telanjang, Onna." Katanya sambil tertawa licik. Orihime hanya bisa diam sambil tertegun mendengarnya, wajahnya merah padam. Orihime tidak tau apakah Grimmjow hanya mencoba menggodanya atau memang itulah sifat Grimmjow. Orihime tau bahwa Grimmjow hanya mengungkit kebiasaannya saat masih menjadi kucing, tapi tetap saja...
Sore itu di hari ketiga, Grimmjow menyandarkan kepalanya nyaman di bahu Orihime, sambil hidungnya mengendus bau tubuh gadis itu lewat lehernya. Grimmjow memang menyukai bau Orihime. Orihime terpaksa membelai lembut rambut pemuda itu, hanya untuk menghindari kekakuan yang dirasakannya. Tapi kemudian kehadiran sesosok makhluk merusak waktu nyaman keduanya. "Meoow."
Orihime tersentak kaget saat melihat seekor kucing meloncat dari jendela. Grimmjow jengkel saat tiba-tiba Orihime menarik bahunya, dan ia semakin jengkel saat melihat seekor kucing hitam muncul dihadapannya. "A-pa maksudnya..?" Orihime yakin itu adalah kucing miliknya, hanya saja tubuhnya lebih kecil dan warna pupilnya kuning. Maka ia menoleh pada Grimmjow dengan wajah penuh tanya. "Grimm-chan?"
Orihime meliriknya, tapi Grimmjow hanya diam memelototi kucing itu. Si kucing berjalan mendekati Orihime dan menyandarkan kepalanya di kaki jenjang sang gadis. Orihime mengelus kepalanya, "D-dia, bukan kau. Tubuhnya kecil dan mmm, Grimm-chan tidak bersikap semanja ini."
"Jangan bercanda, tentu saja bukan!"
"L-lalu siapa? Aku yakin ini tubuhmu, maksudku, saat kau masih jadi kucing."
Tak diduga Grimmjow menendang kucing tersebut. Orihime bangun mendekati si kucing, dia berteriak pada Grimmjow, "Apa yang kau lakukan?!"
"Dia hanya inang. Kupikir mati."
"Apa?" Orihime menggendong kucing yang sedang kesakitan itu dengan tidak percaya, mengelusnya lagi.
"Turunkan dia Onna."
"Tidak! Kau akan menyakitinya!" Orihime bersikeras.
"Cih. Kau tidak pernah memperlakukanku seperti itu lagi." Saat itu Grimmjow menarik paksa lengan Orihime sampai ia menjatuhkan kucing yang ada dipangkuannya. Lalu Grimmjow menabrakkan tubuh gadis itu ke dirinya. Kaget, Orihime hanya bisa menatap manik biru Grimmjow saat Grimmjow berbisik, "Kau selalu berontak saat aku memegangmu, kau berteriak." Seringaian licik bertengger dibibirnya sampai ia menyentuhkan bibir itu menyelusuri tulang rahang Orihime, dan Orihime memang berteriak, seperti yang diharapkannya "Grimm-chan!"
"Ya, seperti sekarang." Grimmjow mengeratkan pelukannya, lalu ia menjilat leher Orihime.
"Hentikaaaan!" Raung Orihime.
"Kau tidak pernah meneriakiku seperti itu sebelumnya." Kini Grimmjow menghisapnya, "kau tidak pernah menolakku" Orihime terus menjerit, saat akhirnya pemuda itu menjilat bibirnya, Orihime semakin berontak dan menjauhkan wajahnya sambil berusaha mendorong Grimmjow sambil berteriak, "Kau tidak sopan!"
Pemuda itu akhirnya merasa jengkel, dia meraih kepala orihime dengan satu tangan besarnya, lalu mencium bibir gadis itu. Mata Orihime melebar saat itu juga, tidak tau harus melakukan apa. Ia kemudian merasakan bibir Grimmjow mencubit bibirnya sehingga membuat Orihime semakin terbelalak dan tangannya yang berada didada Grimmjow meremas kaos pemuda itu. Saat akhirnya ia punya kesempatan menarik bibirnya, Orihime kembali menjerit. "Kubilang Hentikan!" Sambil sekuat tenaga menghempaskan tubuh Grimmjow, yang kali ini berhasil.
Grimmjow masih berniat menggoda gadis itu jika tidak melihat air mata yang kini terbendung di manik abunya. Dia mengurungkan niatnya dan mengambil beberapa langkah mundur.
Orihime menutupi mulutnya dengan punggung tangannya, air mata mulai mengaliri pipinya.
"Kau menangis."
Orihime memandang marah Grimmjow, diam.
"Kau tidak pernah memberi tatapan itu, sebelumnya."
Orihime masih terisak. Grimmjow tidak tahan melihat gadis itu bersedih. Apa dia yang membuatnya seperti ini?
"Kau tidak pernah menolak saat aku menjilatmu. Kau yang selalu memaksa memelukku, sekarang saat aku melakukannya, kau menangis?" heran, Grimmjow memberi pandangan menuduh.
Suara Orihime bergetar, "Tentu saja... Grimm-chan," dia terisak, "dulu kau adalah seekor kucing, tapi sekarang kau bukan kucing!" Orihime menggeleng, "Kau bukan lagi kucingku."
Grimmjow terdiam. Sedikit syok dengan perkataan gadis di depannya.
"Kau manusia sekarang!"
Mendengarnya, manik biru pemuda itu melebar. Pemahaman seolah baru menimpanya, dan kemudian ia menyadari alasan mengapa gadis di depannya itu sekarang seakan selalu menghindarinya. Karena Orihime merasa tidak nyaman dengannya, karena ia sekarang adalah seorang manusia.
Merasa terluka, Grimmjow berkata, "Bukankah, kaulah yang pertama berharap agar bisa bicara denganku?" Menatap lekat mata gadis didepannya, kemudian Grimmjow berbalik dan melangkah menuju pintu, lalu pergi meninggalkan Orihime sendirian di apartemennya.
Bersambung...
Terima kasih atas reviewnya :)
Ikutin lanjutan cerita ini yaaa, dan ditunggu selalu reviewnyaaa...
