.

.

.

.

.

Here's Our Way!

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Warning: Adegan yang tidak patut dicontoh untuk anak dan remaja, jangan dihayati berlebihan ya *wink*

Don't Like Don't Read

.

.

.

.

.

Hari pertama ujian akhir semester tiba.

Sesuai titah sang kapten, sebelum bel masuk berbunyi, seluruh anggota Kiseki no Sedai beserta Kuroko terlebih dahulu berkumpul di depan gerbang SMP Teiko. Kali ini tidak ada lagi teriakan maaf dari si model narsis karena terlambat, blackhole lebar dari si pemuda berkulit tan, maupun suara kunyahan nyaring dari titan ungu. Mereka semua terlihat serius untuk segera menghadapi ujian. Tentu saja dengan otak yang sudah mereka persiapkan sebaik mungkin, berusaha bertanggungjawab terhadap pelajaran yang dibebani kepada masing-masing diri.

Akashi yang sedari tadi memainkan gunting tercintanya kemudian mengedarkan pandangan untuk mengabsen anak buahnya. Ia kemudian menyeringai puas ketika mendapati seluruh anak buahnya tidak ada yang terlambat dan terlihat telah siap untuk melaksanakan rencana yang telah mereka susun. Di hadapannya sekarang, tampak Kise yang dengan tekun membaca kartu kosakata bahasa Inggris dan sesekali menggumamkan sebuah kata. Di sebelah Kise, nampak pula Midorima yang sedang mengecek isi tempat pensilnya–yang sengaja ia ganti menjadi lebih besar–, memastikan pensil Dewa Pemalas miliknya tidak tertinggal. Kuroko dan Murasakibara sedang membaca buku catatan masing-masing. Lalu, Aomine? Ia ternyata sedang menatap intens foto-foto gravure dari ponselnya dengan dalih merefresh otak sebelum ujian. Katanya, ia bisa lebih mudah mengingat nama dan wajah pejuang-pejuang Jepang dengan membayangkan mereka dengan tubuh seksi Mai-chan. Terbayangkah? Sepertinya menjijikan.

Akashi melirik jam tangannya. 15 menit lagi bel akan berbunyi. Waktu yang cukup untuk melakukan briefing sebelum terjun ke medan perang.

"Minna, dengarkan aku," ucap Akashi akhirnya yang langsung disambut dengan tatapan tanda tanya anak-anak buahnya, "Kulihat kalian semua sudah siap dengan pelajaran masing-masing. Kalian harus total dalam mengerahkan seluruh kemampuan. Ini akan sangat berbeda dengan basket."

Mendengar kalimat terakhir dari kaptennya, Kuroko lalu menutup buku catatan yang dipegangnya. "Apa maksud Akashi-kun?"

Akashi tersenyum tipis menanggapi pertanyaan dari pemilik misdirection itu. "Dalam basket, aku melatih kalian untuk mengandalkan kemampuan individu. Tentu itu berbeda dengan kemampuan akademik. Hari ini dan seterusnya sampai ujian berakhir, kita akan menonjolkan kerjasama tim," katanya kemudian.

"Aku mengerti maksudmu, nanodayo. Jadi, kita harus berusaha semaksimal mungkin untuk saling menunjang satu sama lain karena ini tidak seperti basket yang kemenangannya sudah dapat dipastikan. Bukan begitu?" Midorima akhirnya membuka suara setelah selesai mengecek tempat pensilnya.

"Tepat sekali. Kalian boleh jadi jenius dalam basket, tapi lain urusannya dengan pelajaran akademik. Aku pun tidak yakin kalian mempersiapkan diri kalian di pelajaran yang bukan menjadi tanggungjawab kalian masing-masing," jelas Akashi dengan tatapan yang mulai bersungguh-sungguh.

Penjelasan Akashi agaknya benar. Hal itu dibuktikan dengan peristiwa saling pandang antar pemuda warna-warni tersebut. Mereka memang hanya mempersiapkan satu pelajaran yang menjadi tanggungjawab saja, tidak terbersit sedikitpun untuk mempelajari pelajaran lain.

"Umm.. Memangnya hari ini giliran pelajaran apa –ssu..?" ucapan kelewat polos dari Kise refleks membuat semua orang yang mendengarnya menepuk jidat.

"Baka! Hari ini matematika! Memangnya kau tidak lihat jadwal?!" seru Aomine yang tahu-tahu sudah tersadar dari imajinasi liarnya tentang pejuang Jepang bertubuh Mai-chan. Akibat ucapan Kise, khayalan Aomine berganti menjadi Kise bertubuh Mai-chan. Ups..

"Eeeehhh~~?! Aku tidak belajar matematika sama sekali –ssu! Bagaimana ini?!" pekik pria cantik itu panik sembari memajukan bibirnya membentuk angka tiga.

'Aaaah tidaaak, hentikan itu Kise! Kau membuatku gila!' umpat Aomine dalam hati. Mati-matian ia berusaha menahan diri agar tidak mimisan. Masih terbayang di benaknya Kise bertubuh Mai-chan, namun kali ini dengan ekspresi yang sama dengan yang ditunjukan Kise sekarang. Sungguh menggoda iman Aomine yang masih straight.

"Hee.. Mine-chin hentai," seakan mengerti apa yang ada di pikiran Aomine, Murasakibara yang daritadi hanya diam mendengarkan akhirnya ikut bersuara. Sekali bersuara, ucapan center andalan Teiko ini memang selalu tepat menusuk jantung.

Namun sejurus kemudian, mereka–minus Akashi–menyadari, tidak satupun dari mereka yang mempelajari matematika, sama halnya dengan Kise. Ragu-ragu, mereka milirik pada sang kapten yang kini hanya geleng-geleng kepala.

"Aku sudah menduga ini sebelumnya. Tenang saja, serahkan padaku. Kalian hanya perlu stand by dengan ponsel masing-masing," kata Akashi untuk menjawab kepanikan.

KRIIIIIING~~

"Ups, bel!" seru Aomine spontan sambil menoleh ke arah kelasnya. "Ayo, kita harus bersiap!"

"Chotto matte!" panggil Akashi, membuat seluruh anak buahnya menghentikan langkah. "Berhati-hatilah."

Kelima pemuda tersebut mengangguk, lalu mulai berhamburan menuju kelas masing-masing.

.

.

.

.

.

30 menit telah berlalu. Dari bangku tempatnya duduk, kedua manik merah milik Akashi mengedarkan pandang pada seluruh isi kelasnya, menganalisa raut wajah teman-teman seperjuangannya. Seluruh siswa tampak serius mengerjakan soal. Di depan kelas, nampak seorang guru pengawas wanita yang tengah duduk sembari memainkan ponselnya. Suasana kelas amat hening, membuat Akashi bosan. Masih ada 60 menit tersisa untuk menyelesaikan 40 soal matematika di hadapannya ini, namun ia sudah menyelesaikannya sejak lima menit yang lalu.

Pada akhirnya, Akashi menghempaskan tubuhnya pada bangku. Ia tidak tertarik untuk memeriksa kembali hasil pekerjaannya. Sekali kedip, sudah pasti sempurna.

TRING TRING

Bunyi yang membuat telinga semua orang di kelas sensitif akhirnya terdengar. Suasana kelas mendadak menegang. Seluruh siswa sibuk berpandangan satu sama lain, mencari-cari siswa malang yang lupa mengubah mode ponselnya tersebut. Guru pengawas yang juga menyadari bunyi tersebut seketika menegakkan tubuhnya.

"Ponsel siapa itu?" ucap sang guru menggelegar. Tidak ada jawaban dari anak-anak asuhnya.

"Aku beri kesempatan satu kali lagi untuk mengaku sebelum kuperiksa satu per satu," guru itu mulai memamerkan senyuman sinisnya.

'Perempuan tua bodoh. Mana ada yang mau mengaku jika hasilnya akan sama saja? Berakhir di ruang BP,' batin Akashi kesal. Kini sebuah perempatan telah menghiasi dahi mulusnya.

Alasan sebenarnya yang membuat Akashi kesal sangat sederhana. Ia tidak suka melihat orang lain bertindak sok absolut–yang notabene hanya pantas disandang olehnya seorang–, sekalipun itu adalah gurunya sendiri. Ia kemudian melirik malas kepada seorang anak laki-laki dengan keringat dingin terbanyak. Anak laki-laki itu, menurut pengamatan emperor eyes milik Akashi, sudah bermain ponsel sejak pertama kali ujian dimulai. Itu artinya, ia baru mendapatkan balasan dari temannya saat ini sehingga tidak menyadari bahwa ia belum mengubah ponselnya ke mode silent.

'Cih, mendokusai,' decih Akashi dalam hati. Ia kemudian mengangkat tangannya, membuat seluruh perhatian kelas tertuju padanya.

"Itu ponselku. Ada masalah, sensei?" kata Akashi dingin sembari mengeluarkan ponsel berwarna merah yang ia taruh di saku celana. Sang guru tampak terkejut dengan pengakuan Akashi. Namun sejurus kemudian, otot wajahnya mengendur, memperlihatkan senyuman tulusnya pada Akashi.

"Ara~~? Jadi itu milik Akashi? Baiklah, tidak ada masalah," katanya kemudian, lalu kembali duduk. Kembali sibuk dengan ponselnya.

'Sugooooi Akashi!' takjub seluruh siswa berbarengan di dalam hati. Akashi hanya menghela napas pelan mendapati kekaguman yang terpancar dari teman-teman sekelasnya. Bahkan, anak laki-laki tersangka utama penyebab huru-hara barusan (?) cepat-cepat berterimakasih sedalam-dalamnya pada Akashi dengan gerakan isyarat–dan ditanggapi dengan decihan.

Dan akibat peristiwa itu, Akashi sekarang tidak perlu lagi menyembunyikan ponselnya di saku celana. Statusnya sebagai murid kesayangan guru memang luar biasa menakjubkan. Penasaran dimana sekarang ia menyimpan ponsel? Cukup di atas meja, di sebelah lembar jawaban. Tanpa mode silent.

.

.

.

.

.

Midorima menatap kosong soal matematika di hadapannya. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin, namun tetap saja tidak bisa mengerjakan dengan baik. Lucky item berupa tempat pensil besar yang ia gunakan sekarang bahkan tidak bisa membantunya berpikir tenang. Ia sekarang sudah sepenuhnya memasrahkan jawaban pada pensil Dewa Pemalas.

DRRT DRRT

Getaran dari dalam tempat pensil seketika menyita perhatian Midorima. Ia lalu melirik sekilas pada guru pengawas yang masih sibuk membaca koran, kemudian secepat kilat ia pindahkan ponselnya dari dalam tempat pensil ke bawah meja.

Satu chat masuk di grup L*ne dari Kise.

Kise : Akashicchiiii, aku sudah mencapai batasku.. Boleh aku minta jawabanmu sekarang?

'Si berisik ini..' umpat Midorima setelah membaca pesan tersebut. Di saat ia sibuk mengumpat, tiba-tiba sederet chat kembali masuk, membuat Midorima kelabakan mempertahankan ponsel pada genggamannya.

Kise : Aku tidak tahan melihat soal iblis ini!

Kise : Akashicchiii, onegai, balaslah dengan cepat.. Mumpung guru pengawasku sedang keluar kelas..

Kise : Huweeeee Akashicchiiiii..!

Kise : Akashicchiiiii…!

Kuroko : Akashi-kun, aku juga sudah mencapai batas.

Kise : Siapapun yang sedang senggang, bantu akuuuuu!

Midorima sudah tidak tahan dengan ponselnya yang terus bergetar akibat ulah sang copycat. Ia hendak mengetik balasan untuk si cengeng satu itu, namun terhenti ketika melihat balasan dari Akashi.

Akashi : DAABD BBDAA ABDBC BBBCA ABBCD ABDBA CADAA BBACB

Mata Midorima membulat. Dengan tergesa ia mencocokkan jawabannya dengan jawaban Akashi. Walaupun tidak semua soal bisa ia kerjakan, tentu seharusnya polanya sama dengan Akashi 'kan?

5 menit berlalu yang dihabiskan Midorima hanya untuk menyocokkan jawaban. Tidak dipedulikannya chat-chat yang masuk setelah kunci jawaban Akashi masuk. Namun, apa yang ia dapatkan? Keringat dingin mulai mengucur dari dahi Midorima. Ia yakin ia tidak salah menghitung maupun salah memasukan rumus. Ia juga yakin, Akashi tidak mungkin salah. Namun.. kenapa bisa jawaban Akashi berbeda jauh dengan jawabannya..?

.

.

.

.

.

Kuroko mengusap-usap tengkuknya. Pemuda expressionless itu baru saja lolos dari inspeksi mendadak yang dilakukan guru pengawasnya akibat ponsel seseorang yang berbunyi di tengah ujian. Di hari pertama ujian, ia sudah mendapatkan guru pengawas yang kolot, yang memegang teguh prinsip kejujuran. Banyak dari teman-teman sekelasnya tertangkap basah masih memegang ponsel meskipun di awal ujian sudah diperingatkan untuk menaruh ponsel di dalam tas. Dan berkat hawa keberadaannya yang tipis, guru pengawas tersebut melewatkan Kuroko dari penggeledahan, membuat Kuroko menjadi satu-satunya orang yang memegang ponsel di kelasnya saat ini.

Kuroko menghela napas lega setelah melihat sang guru kembali duduk di tempat semula. Dengan begini, ia bisa kembali melanjutkan menyalin jawaban Akashi dengan tenang. Namun, sebuah chat dari Midorima membuatnya membelalakan mata.

Midorima : Aku menjawab A untuk nomor satu. Juga D untuk nomor dua. Jawaban kita sangat berbeda.

'Apa Akashi-kun tidak teliti ya?' batin Kuroko. Namun sedetik kemudian Kuroko menepis pikiran tersebut. 'Akashi-kun tidak pernah salah 'kan? Tapi kenapa ini terjadi?'

Dua menit kemudian, Kuroko melihat balasan dari Akashi.

Akashi : Itu tidak mungkin. Periksa lagi jawabanmu.

Kuroko lalu mengalihkan pandangannya ke jam. Waktu yang tersisa tinggal 20 menit lagi. Setidaknya, itu cukup untuk meluruskan masalah ini. Dengan didorong rasa penasarannya, Kuroko mulai menelusuri soal demi soal, mencari-cari salah satu yang sekiranya mampu ia kerjakan.

"Etto.. Kalau tidak salah, soal ini memakai rumus.." gumam Kuroko pelan lalu mulai memasukan angka-angka yang tertera di soal pada rumus. Semenit kemudian, ia selesai menghitung. Ia tersenyum simpul melihat hasil pekerjaannya. Setidaknya, ia bisa mengerjakan beberapa soal tanpa bergantung pada jawaban Akashi. Kuroko bertambah puas ketika jawabannya ia temukan pada option C.

DRRT DRRT

Ah ya, Kuroko hampir melupakan tujuan utamanya mengecek jawaban. Segera ia buka kembali ponselnya dan menemukan beberapa chat.

Midorima : Aku sudah mengeceknya dua kali, dan jawabanku tetap sama.

Aomine : Hey apa maksudnya ini Akashi?! Kau ingin mempermainkan kami?!

Kuroko menelan ludahnya. Berani sekali si mesum ini pada Akashi.

Akashi : Porsi latihanmu kutambah lima kali lipat, Aomine.

..Dan benar saja apa yang dikhawatirkan Kuroko. Mungkin sekarang Aomine sedang head bang ke meja sambil menyesali nasibnya yang buruk.

Ups, Kuroko kembali teringat tujuannya. 'Etto.. Soal nomor 22.. Ah!' ia kembali terkejut ketika melihat jawaban Akashi berbeda dengan jawabannya. Jari-jari tangannya kemudian dengan lihai mengetik.

Kuroko : Jawabanku C untuk nomor 22.

Tidak sampai lima detik, Akashi kemudian kembali mengirim chat.

Akashi : Bawa jawaban yang sudah kalian kerjakan ke toilet sekarang juga.

Kuroko terdiam sejenak. Setelah berhasil mencerna pesan Akashi, tanpa buang waktu ia pun langsung berdiri untuk meminta izin ke toilet.

.

.

.

.

.

"Huweee aku sudah tidak tahan.." ucap Kise parau sembari terus menjambak rambutnya sendiri.

"Jangan berisik! Nanti kita ketahuan!" sembur Aomine gemas melihat sang small forward yang begitu cengeng seperti perempuan.

"Bagaimana ini, Akashi? 10 menit lagi waktu ujian akan berakhir, tapi jawaban kita semua tidak dalam pola yang sama, nanodayo," ucap Midorima, berusaha agar terlihat tenang. Padahal, saat ini dirinya sedang dipenuhi oleh keresahan.

Akashi tampak berpikir keras mencari jawaban. Barusan ia sudah mencocokan kunci jawabannya dengan punya Midorima, Kuroko, dan Murasakibara, namun tidak satupun dari jawaban mereka yang berpola sama. Di satu sisi, ia sangat yakin dengan kunci jawaban miliknya, namun di sisi lain ia pun tidak meragukan kemampuan anak buahnya–pengecualian untuk Aomine dan Kise. Kejadian ini di luar perhitungannya.

"Mungkin *nom nom* aku salah hitung? Aku kan malas mengecek," Murasakibara mencoba menghibur sang kapten yang terlihat agak frustasi itu. Ia menyodorkan sebungkus maiubou pada Akashi. "Aka-chin mau maiubou?"

"Aku tidak butuh," ucap Akashi gusar sambil menepis tangan Murasakibara.

"Mungkinkah jika guru kita membuat soal yang berbeda?" celetuk Aomine asal. Namun efek celetukan itu tidak disangkanya berdampak besar. Akashi tiba-tiba menghadiahinya pelototan yang tidak bisa ia artikan maknanya, entah marah atau apa. Membuatnya tanpa sadar memundurkan tubuhnya.

"Tapi itu masuk akal, nanodayo. Bisa saja para guru membuat soal yang berbeda untuk setiap kelas 'kan?" kata Midorima yang juga sempat terkejut mendengar celetukan Aomine.

"Bisa jadi, Midorima-kun. Tapi, itu berarti kita tidak bisa saling mengandalkan lagi 'kan?" kata Kuroko menambahkan.

Akashi kemudian tampak berpikir lagi. Benar yang dikatakan Kuroko. Kalau sudah begini jadinya, sehebat apapun diri Akashi, ia tidak bisa berkutik lagi. Jika dia menyadari hal ini dari awal, dia bisa saja menyuruh anak-anak buahnya memfoto lembar soal dan mengirimkan padanya agar bisa ia kerjakan. Namun, ini sudah 10 menit lagi menjelang berakhirnya ujian pelajaran pertama. Tidak mungkin lagi baginya untuk mengerjakan begitu banyak soal. Dan ia pun tidak yakin, untuk ke depan, anak-anak buahnya mampu mengikuti metode 'mengerjakan soal milik teman', mengingat mengerjakan soal milik sendiri pun butuh waktu banyak. Hanya seorang Akashi yang bisa melakukannya.

Akashi berpikir semakin keras. Apa sebaiknya menyerahkan seluruh pelajaran padanya? Tidak mungkin! Ia sudah terlanjur memberi perintah pada kelima pemuda di hadapannya sekarang, dan menarik kembali kata-kata yang sudah terucap bukanlah sifat Akashi.

Setelah menimbang keputusan, akhirnya Akashi memberikan titahnya. "Untuk pelajaran lainnya, kita tidak akan menggunakan rencana ini lagi. Korbankan saja matematika. Aku akan membantu kalian belajar. Aku akan menjadi tutor untuk kalian semua."

"Naniiiii?!" kompak Aomine, Kise, dan Midorima. Sedangkan Kuroko dan Murasakibara hanya mematung, shock dengan keputusan kaptennya.

"Ada masalah?" Seringaian mengembang pada wajah Akashi. Entah kapan ia mengambilnya, tiba-tiba saja gunting tercintanya sudah berada di tangannya, membuat kelima pemuda itu bergidik ngeri.

"Iie! Kami akan belajar!"

.

.

.

.

.

Dan pada akhirnya, tidak ada satupun dari mereka yang berhasil lulus di ujian matematika, kecuali Akashi. Mereka harus merasakan pahitnya kehidupan melalui latihan neraka ala Akashi.


Ending yang aneh, nee? ._.a Tadinya mau menistakan Kise aja, tapi pada akhirnya semua malah ikut kena imbasnya di ending. Maafkan saya ;_;

Dan akhir kata, terima kasih udah mampir di fic ini ;)