Sejak Karen masuk ke dalam kamp pelatihan, hidup Serge tidak tenang. Mereka tidak berbicara satu sama lain. Termasuk ketika Karen lulus dan pulang ke rumah untuk mengunjungi keluarga dan teman. Serge selalu menolak untuk bertemu. Ketika Karen muncul di rumahnya untuk pamit, Serge tidak mau melihatnya.
Gadis itu tahu bahwa Serge tidak pernah setuju dengan cara Scout Legion bertindak. Selama ini Serge selalu mengatakan "bodoh" atau "goblok". Dan menghina strategi mereka sebagai "konyol", atau "taktik bunuh diri dengan heroik", dan kadang "pemborosan".
Ketika Karen sungguh-sungguh masuk ke dalam kamp pelatihan, bagi Serge, sahabatnya itu sudah mati. Ia terus meyakinkan itu pada dirinya sendiri. Karen sudah mati. Lupakan dia. Tapi semakin dia menolak kenyataan, hatinya semakin sakit. Selama ini mencoba mengalihkan pikirannya, fokus pada penempaan senjata, hal yang paling dia sukai. Tapi kecemasan tentang Karen selalu ada.
Dan akhirnya saat Karen memilih mantel hijau dengan logo sayap kemerdekaan di punggung, Serge hanya berdiri di antara kerumunan melepas kepergian Karen ke dunia luar. Tak ada kata yang terucap, kadang ia berharap ia bisa melakukan sesuatu untuk mencegah sahabatnya bunuh diri seperti itu. Maka ia berjanji pada Tuhan; bila Tuhan mengembalikan Karen tanpa celaka, Serge akan membuang rasa takutnya jauh-jauh dan mulai buka mulut untuk menentang segala kebodohan yang dilihatnya. Seperti menantang, Tuhan benar-benar melindungi Karen dan mengembalikan dia tanpa kurang apapun. Kini giliran Serge menepati janjinya.
Pagi itu Serge pergi ke kantor kemiliteran dengan pakaian terbaik yang ia miliki. Biasanya penempa itu berminyak dan dekil, kini dia mandi, mencuci rambutnya hingga berkilap dan menyisirnya berulang kali. Ia terlihat seperti seorang terhormat ketimbang seorang penempa muda dengan pekerjaan kasar.
Satu jam berjalan kaki, akhirnya dia sampai di kantor kemiliteran pusat. Jantungnya berdebar gugup hingga kerongkongannya kering. Beberapa kali ia mencoba melonggarkan kerah pakaiannya yang terasa mencekik leher karena tengkuknya terasa panas oleh keringat dingin. Tangan kirinya yang menggenggam beberapa gulungan kertas terlihat mencengkram erat, memastikan tidak ada satupun yang hilang. Pintu utama kantor militer tampak seperti banteng jantan muda yang harus ia hadapi, dan Serge adalah matador yang belum berpengalaman.
Setelah berulang kali mengatur napas, Serge mengencangkan rahangnya dan berhenti berpikir. Kedua kakinya mulai melangkah menaiki anak-anak tangga mengantar dia masuk ke dalam kantor militer. Di dalam ia berhadapan dengan meja resepsionis, seorang wanita sedang menulis sesuatu. Ketika bayangan punggung Serge menutupi kertas yang sedang ditulisnya, wanita itu berhenti dan menengadah. Ditatapnya Serge dengan malas tanpa berkata-kata.
"Uhh .. aku ingin bertemu Komandan Smith. Erwin Smith." ujar Serge dengan canggung.
"Anda siapa?" akhirnya wanita itu berkata.
"Aku Serge Bronson."
Hening sejenak, sepertinya wanita itu menunggu kelanjutan perkenalan diri dari pemuda itu. Sementara si pemuda tidak tahu bahwa ia harus menjelaskan siapa dirinya dalam satu kalimat.
"Anda ini apa?"
Barulah Serge sadar, "aku seorang penempa."
"Maaf, kami tidak butuh lowongan."
"Bukan, bukan soal itu. Aku ingin berbicara pada Erwin Smith."
"Komandan sedang sakit, ia mengalami kecelakaan kemarin dan tidak bisa ditemui. Bila ada yang ingin dikatakan, tinggalkan pesan saja, nanti aku sampaikan."
Serge terpaku, sebutir keringat mengalir melewati pelipis hingga ke dagu. Wanita itu memberikan kertas padanya agar dia mulai menulis surat. Serge duduk di sebuah meja yang tersedia di lobi dan berusaha menulis sesuatu. Namun lagi-lagi dia merasa konyol. Tanpa menulis apapun, ia kembali lagi ke meja resepsionis tersebut dan mengadu, "dengar, aku sudah berpakaian rapi dan mempersiapkan apa yang ingin kusampaikan pada Komandan Smith. Aku harus bertemu dengannya saat ini juga, apapun yang terjadi."
Wanita itu meletakkan dagunya di atas punggung tangannya yang bertumpu pada siku. "Aku hargai itu. Anda wangi sekali. Tapi Komandan memang tidak bisa ditemui."
"Aku tidak punya waktu soal ini. Coba kau sampaikan padanya, menurutku dia goblok segoblok-gobloknya orang dan tidak pantas jadi komandan." desis Serge tanpa ragu.
Wanita itu sungguh-sungguh menyampaikan itu pada Komandan Smith dan hasilnya, muncullah Kapten Levi yang mengantarkan Serge ke dalam sebuah ruangan. Di sana dia didudukkan pada sebuah kursi dan di gampar dengan keras. "Kau bilang apa? 'Goblok'?"
Dengan wajah yang memar dengan cepat, Serge mencoba meludahkan cairan amis dalam mulutnya. Iler bercampur darah yang menetes dari bibirnya tidak bisa ia usap dan jatuh mengotori kerah bajunya yang putih. "Aku punya alasan. Aku tidak omong kosong."
Kapten Levi menjambak rambut Serge yang tadi pagi masih tersisir rapi itu, "Kau tahu? Para pemuda seusiamu banyak yang mati di luar sana demi kemerdekaanmu di kemudian hari. Mereka yang kau sebut goblok itu mati demi harapan kau bisa hidup bebas suatu saat. Sekarang, anak pintar, bisakah kau jelaskan betapa pengecutnya dirimu?"
"Justru karena aku ingin berhenti jadi pengecut, maka aku datang ke sini. Aku punya sesuatu yang aku yakini bisa memperbaiki semua kekonyolan ini." Setelah merasakan bogeman demi bogeman di wajah dan tubuhnya yang sangat menyakitkan, Serge sudah tidak punya rasa takut lagi. Rasa groginya sejak tadi sudah luntur.
"Baik, bicaralah. Tapi bila kau hanya punya omong kosong, aku pastikan kau tidak bisa bicara lagi." Ancam Levi.
"Dengar ..." Serge mengatakan kata per kata dengan tegas, "aku punya ide."
"Ide? Kita semua juga punya ide."
"Ya, kalian semua punya ide yang sangat bagus untuk menjadikan kematian heroik para pemuda dengan impian manis terlihat sedap bagi pecinta thriller. Itu sebabnya kukatakan kalian goblok." ujar Serge dengan bibir yang mulai membengkak.
Kapten Levi menampar pipinya, lalu kembali menarik rambutnya. Tapi Serge segera berbicara dengan lebih keras, seperti berteriak ke wajah Levi. "Dengarkan aku, cebol! Aku serius! Kau orang Scout Legion memang pergi menghadapi kematian, tapi tahu apa kau soal penderitaan kami yang tertinggal di balik tembok menunggu kalian pulang? Diam tidak melakukan apapun, sementara orang yang kucintai bisa mati konyol di luar sana itu adalah penderitaan yang menyiksa juga! Dan mengetahui bagaimana kalian bertempur, aku punya hak mengatakan bahwa kalian goblok dan hanya punya satu misi; bunuh diri!"
"Oke, sekarang bicaralah, apa idemu itu." Levi melepaskan rambut Serge dan menarik kursi ke hadapannya. Ia duduk menunggu Serge mengutarakan pikirannya yang dibuka dengan, "Aku minta kalian berhenti menjadi nyamuk."
bersambung ...
