Bab Sebelumnya
.
.
.
SING...
Suara bising dan cahaya yang berasal dari sebuah gang sempit di dekat sang pemuda pirang membuatnya lupa akan tujuan utamanya, dengan pelan dan penasaran ia mendekati sumber kebisingan.
Matanya membulat sempurna saat melihat sebuah lingkarang cahaya terang tercipta di depannya dan pelahan-lahan memudar menampilkan sosok seseorang, tetapnya seorang gadis dengan rambut pendek sebahu dan sebuah jubah yang kebesaran.
"Ba-bagaimana mungkin dia bisa muncul tiba-tiba?" tanyanya terkejut pada diri sendiri akan kemuculan sosok seorang gadis yang membelakanginya itu.
"Di mana aku...?"
Suara lembut khas anak perempuan terdengar memecahkan keheninga dan sepertinya sang gadis yang tidak jelas indentitasnya itu masih belum menyadari kehadiran Naruto sang pemuda pirang di belakangnya.
Naruto menelan air liurnya, walau masih terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya, pemuda itu memberanikan diri untuk menyapa sang gadis, "A-apa kau tidak apa-apa?" tanyanya basa-basi.
Sang gadis melirik Naruto dengan ekor matanya dan sekilas tampak terkejut hingga membuatnya melopat mudur kebelakang dengan kuda-kuda siap menyerang.
"Siapa kau?!" tanya sang gadis tegas.
"Ah, aku—" perkataan sang pemuda pirang terhenti dan wajahnya memerah padam menyaksihkan gadis di depannya memasang kuda-kuda tanpa pakaian, hanya sebuah jubah kebesaran yang menutupi tubuhnya.
Sang gadis menaikan sebelah alisnya saat melihat pemuda pirang di depannya membatu dengan wajah memerah padam, untuk sesaat ia tidak merasakan chakra apa pun dari sang pemuda sehingga membuatnya mengendurkan pertahanan.
"Kau manusia!" tujuknya pada sang pemuda pirang yang masih terdiam di tempat, "jelaskan padaku di mana aku sekarang, ini perintah!" lanjutnya.
Naruto yang baru sadar dari keterkejutannya langsung menundukan kepala ke bawah, tak sanggup melihat gadis di depannya yang tak peduli akan penampilanya yang bisa dikatakan vulgar.
"Pasti ada yang salah dengan otak gadis ini," batinya. Tak mungkin ada seorang gadis yang berkeliaran di malam hari hanya menggunakan jubah kebesaran. Ia pasti korban perampokkan atau penculikan. Ya pasti.
"Nona, lebih baik anda pergi ke kantor polisi dan melaporkan perampokkan ini," saran Naruto yang hanya ditanggapi gumaman tak mengerti gadis di depannya.
"Kantor polisi?" tanya gadis itu balik dari raut wajahnya nampak jelas ia tidak mengerti maksud pemuda pirang itu.
Tunggu, jangan katakan gadis di depannya ini juga mengalami amnesia akibat perampokkan yang dialaminya.
"Ya, kantor polisi," jawab Naruto membenarkan pertanyaan sang gadis.
Gadis itu menggeram marah, "Jangan bercanda! Kau pikir kau siapa ma... nu... sia..." perlahan kesadaran sang gadis menghilang dan ia terjatuh karena tak kuat menahan berat tubuhnya sendiri. "Sial, aku terlalu banyak menggunakan chakra untuk sihir dimensi..." batinnya sebelum benar-benar pingsan tak sadarkan diri.
"Nona!" pekik Naruto panik saat melihat gadis di depannya terjatuh. Kalau saja ia tak cepat menahan tubuh sang gadis, mungkin sekarang tubuh kecil gadis itu akan membentur aspal di bawahnya.
"Nona, sadarlah!" ujarnya panik, "apa yang harus ku lakukan?!" lanjutnya frustasi sambil memeluk tubuh telanjang sang gadis aneh yang tak sadarkan diri.
Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi, terkadang dari pertemuan kecil berubah menjadi sesuatu yang besar. Karena tak ada yang namanya kebetulah di dunia ini, semuanya sudah digariskan dalam takdi. Ya, sama seperti dua takdir berbeda yang sekarang saling terhubung ini...
.
.
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Maou-sama? Akuma-chan! © Kimeka ReiKyu
Rated: T
Gender: Fantasy, Romance, Comedy
Waring: AU, OOC, MissTypo, EYD berantakan etc.
Don't Like? Don't Read!
.
.
.
Bab 2: Sang Raja Iblis, Satan!
.
.
.
.
.
.
Suara kicauan burung-burung menyambut pagi terdengar dengan merdunya, menjadi melodi tersendiri bagi sebagian makhluk yang masih terlelap dalam tidur. Hal yang sama terjadi pada seorang gadis dengan helai merah muda yang masih terlelap nyaman diatas tempat tidur, membiarkan bias mentari pagi menyinari wajah cantiknya yang damai dan tenang.
"Nge~" suara lengungan manja keluar dari bibir ranum berwarna merah muda alami sang gadis.
Kedua kelopak mata yang tertutup kini sudah terbuka setengahnya menampilkan sepasang manik emerald. Sang gadis mendudukkan diri di atas kasur, dengan kesadaran yang masih setengah, ia menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri memperhatikan isi ruangan yang dipenuhi oleh benda-benda aneh. Tunggu dulu! Benda-benda aneh apa itu?
Dengan panik sang gadis berdiri dan memasang kuda-kuda, "Di mana ini?" gumamnya tanpa menurunkan kewaspadaan.
Tak ada jawaban, tak ada suara bahkan tak ada hawa keberadaan makhluk hidup lain membuat sang gadis kebingungan sendiri. Dihembuskan nafasnya lega dan kembali memperhatikan isi ruangan tersebut.
"Apa yang terjadi padaku?" batinnya dan perlahan berjalan menuju sebuah lemari dengan cermin besar di depannya.
Saat tiba di depan cermin ia berhenti dan memperhatikan bayangannya yang terpantul di permukaan cermin. Dengan malas ia memperhatikan sosok gadis bertubuh munyil dengan helai merah muda sebahu dan sepasang manik emerald yang bergerak sesuai bagian yang dilihatnya. Tu-tunggu sebentar! Sepertinya ada yang salah dengan penglihatannya. Dengan kedua bola mata yang terbelalak kaget ia memperhatikan bayangannya sendiri di cermin. Dan merasa belum puas, ia melihat dan memeriksa kedua telapak tangannya yang mengecil, rambutnya yang memendek dan tubuhnya yang juga ikut menyusut.
"APA-APAAN INI?!" teriaknya panik saat menyadari perubahan bentuk tubuhnya.
Seingatnya tubuhnya taklah sekecil ini, jauh lebih tinggi, berbentuk dan berisi? Bukannya tubuh kecil dan munyil seperti ini.
Selain itu kenapa rambutnya memendek dan kedua bola matanya yang berwarna merah darah kini berubah menjadi hijau? Dan kemana perginya ekor dan tanduk kecil di kepalanya?
Pasti ada penjelasan untuk semua ini!
Sang gadis merah muda menghembuskan nafasnya mencoba mengurangi kepanikan yang sedang melandanya. Setidaknya hal itu bisa membuatnya merasa jauh lebih baik dan sekarang ia bisa mulai berpikir dengan jernih.
Kalau diingat-ingat kembali, seharusnya ia sedang bersembunyi untuk mengisi kekuatan chakranya yang hampir terkuras habis saat menghindari sihir aneh milik gadis malaikat berambut pirang itu. Baik satu pertanyaan terjawab kenapa ia berada di sini.
Selanjutnya kenapa tubuhnya berubah? Kemungkinannya hanyalah, tubuh iblis miliknya menyesuaikan diri dengan keadaan di sekitarnya sekarang. Selain itu chakranya hampir sepenuhnya habis jadi tak heran tubuhnya berubah untuk menahan sisa chakra yang masih ada. Hanya saja kenapa harus tubuh gadis manusia yang terlihat lemah seperti ini?
Terakhir, dimana ia sekarang? Dan sejak kapan pakaian keagungannya berubah menjadi pakaian tipis yang menutupi sepertiga tubuhnya.
Cklek
Suara pintu yang terbuka memasuki indra pendengaran sang gadis, dengan cepat ia keluar dari ruangan yang mirip kamar itu untuk mencari sumber suara. Ia menuruni beberapa anak tangga yang sudah sedikit reot di makan usia, di tolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri tapi tak menemukan siapa pun di sana.
"Ramen instan adalah yang terbaik setelah bekerja!"
Suara nyaring dari arah kirinya terdengar menandakan ada makhluk hidup di sana, tanpa menunggu waktu lebih lama sang gadis langsung menuju ke sumber suara.
Diruangan itu duduk seorang pemuda pirang dengan tangan kanannya sedang menyuapkan mie ramen menggunakan sumpit dan sepertinya pemuda itu tak menyadari sama sekali kehadiran sang gadis yang menatapnya tajam.
"Hoi, manusia pirang!" panggilnya keras membuat pemuda yang sedang menikmati sarapan paginya terbatuk-batuk karena tersedak oleh mie yang dimakannya, "apa yang telah kau lakukan padaku?" lanjutnya.
Pemuda pirang yang bernama Naruto mengusap sudut bibirnya, "Aku tidak melakukan apa pun padamu, aku hanya membawamu yang pingsan ke rumahku," jelasnya.
Sang gadis menatap Naruto tak percaya, "Kalau kau tidak melakukan sesuatu pada tubuhku, ke mana semua pakaian yang kupakai?" tanyanya sedikit membentak.
Naruto kesal mendengar pertanyaan gadis di depannya yang seakan mengatakan ia telah berbuat sesuatu pada tubuh gadis itu.
"Aku hanya memakaikan mu pakaian, tidak lebih dan tidak kurang," jawabnya. "selain itu dari awal kita bertemu kau sudah tidak menggunakan pakaian selain jubah kotor yang kebesaran itu," lanjutnya dengan rona merah tipis di kedua pipi mengingat kejadian semalam yang cukup membuatnya berhenti bernafas sesaat.
Sang gadis terdiam di tempat mencerna perkataan Naruto. Apa mungkin pakaian keagungannya juga ikut menghilang karena tubuhnya yang berubah. Uh, ini sangat memalukan karena ada manusia yang sudah melihat tubuh—manusianya—yang tak tertutup sehelai benang pun.
Melihat gadis di depannya sudah berhenti marah-marah tidak jelas kini giliran Naruto yang ingin bertanya, "Kau..." panggilnya menarik perhatian gadis merah muda di depannya. "sebenarnya siapa kau?" lanjutnya penasaran.
Mendengar pertanyaan pemuda pirang di depannya membuat seringaian terbentuk di wajah cantik gadis merah muda itu, "Aku adalah penguasa dunia bawah dan pemilik sihir terkuat, raja dari semua raja iblis, sang raja iblis yang agung, Satan," ujarnya percaya diri.
Pemuda berambut pirang itu hanya bisa melongok mendengar pernyataan gadis di depannya. Pasti ada yang salah dengan kepalanya atau mungkin kepalanya terbentur sesuatu yang keras sebelumnya pikir Naruto.
"Kau raja iblis... Satan...?" tanyanya memastikan yang dijawab anggukkan mantap gadis manis di depannya.
"Huft~, HA HA HA HA..." pecah sudah tawa Naruto. Ini sungguh lucu melihat ekspresi serius gadis manis itu saat mengatakan hal yang sangat tidak masuk akal.
Pelipis gadis itu berkedut kesal, "Apanya yang lucu?!" tanyanya sedikit berteriak.
Naruto memegangi perutnya yang terasa sakit dan menghapus sedikit air mata yang menetes dari sudut matanya karena terlalu keras tertawa.
"Maaf." ujarnya berusaha menahan tawa, "Apa sebelumnya kepalamu terbentur sesuatu yang keras?" lanjutnya.
Wajah gadis dengan helai merah muda itu memerah menahan malu juga amarah, "Te-tentu saja tidak, aku ini raja iblis—"
Kriukkk
Kedua makhluk beda gender itu saling bertatapan mendengar aungan perut kelaparan yang minta diisi.
"Kau...?" tanya Naruto meminta persetujuan gadis di depannya akan pemikirannya.
Kedua pipi gadis itu semakin memerah dan kali ini benar-benar karena malu, "Ma-maaf saja aku belum makan apa pun sejak kemarin, selain itu tubuh manusia ini lemah dan membutuhkan sesuatu untuk dimakan," jawabnya dengan wajah di palingkan kesamping.
Naruto tersenyum, gadis di depannya ini sangat manis jika sedang malu seperti itu. Ia berdiri dari posisi duduknya dan berjalan menuju lemari penyimpanan makanan di belakangnya.
"Duduklah! Akan ku siapkan ramen instan untuk mu," perintah Naruto sambil mempersiapkan ramen instan siap seduh.
Walau dengan wajah sebal gadis itu menuruti perintah dari pemuda di depannya. Ia duduk sambil memperhatikan Naruto menuangkan air panas, dan sesekali memperhatikan ruangan di sekitarnya.
"Makanlah..." Naruto meletakkan ramen instan di depan gadis itu yang hanya memandanginya saja.
Sang gadis merah muda memperhatikan uap panas yang keluar dari dalam cup ramen dan alis merah mudanya saling bertautan, "Ini racun jenia apa?" tanyanya polos.
Naruto nyaris terjatuh mendengar pertanyaan polos yang keluar begitu saja dari bibir tipis gadis manis itu. Baru kali ini ada yang berani mengatakan makanan yang setara makanan dewa itu sebagai racun.
"Itu bukan racun, tapi mie ramen instan," jelasnya dengan penuh penekanan.
Gadis itu menatap tak percaya, "Aku tak mau memakan makanan aneh itu!"
"Aku tak punya makanan lain. Jika ingin makan silakan, jika tidak mau juga tidak apa-apa."
Gadis itu memajukan bibirnya tidak suka dengan perkataan pemuda itu, "Menyebalkan," gerutunya.
Dengan kesal ia memutar bola matanya mencari objek yang bisa menghilangkan rasa lapar yang sedang melandanya saat ini. Sampai kedua manik emerald-nya menemukan sebuah kantung plastik di sudut meja.
Dengan perasaan ingin tahu yang besar, gadis itu memeriksa isi kantung plastik dan mengangkat isinya keluar.
"Benda apa ini?" tanyanya bingung memandangi kaleng berwarna hijau dengan gambar buah didepannya.
Naruto melirik gadis merah muda yang masih memandang bingung kantung plastik yang dibawa Iruka kemarin disela-sela kegiatan makannya, "Makanan kaleng, mungkin."
Mendengar kata makanan membuat gadis itu tersenyum. Di bolak-balik kaleng itu mencari cara membukanya tapi tak ada lubang atau sebagainya, "Apa makanan ini di segel?" batinya.
Dengan konsentrasi yang tinggi ia mencoba membuka makanan kaleng itu dengan menggunakan chakra-nya yang masih tersisa, tapi sekuat apa pun ia mencoba masih tak berhasil juga.
"Segel sihir ini kuat sekali," gumamnya.
Naruto menghelakan nafasnya dan mendekati gadis itu setelah mengambil alat pembuka kaleng, "Kemarikan kaleng itu!" perintahnya yang dituruti begitu saja oleh sang gadis.
Dengan mudahnya Naruto membuka makanan kaleng membuat manik emerald milik sang gadis membulat terkejut dan menyerahkannya kembali pada gadis itu.
Dengan tangan bergetar gadis merah muda menerimanya, "Kau... penyihir setingkat apa, bisa membuka segel sekuat ini?"
Naruto hanya mendengus. Gadis ini mungkin saja sudah gila pikirnya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan dan cepat habiskan makanan mu..."
"Aku tak makan karena perintahmu..." ujar gadis itu pelan tapi masih bisa di dengar Naruto.
Hup...
Naruto menaikan sebelah alisnya saat melihat ekspresi gadis itu, yang lagi, berubah dengan cepatnya.
"I-ini..." ujarnya terbata-bata dengan mata yang berbinar-binar, "jangan-jangan makanan dewa?" lanjutnya.
Ah, sudah berapa kali Naruto nyaris dibuat pusing dengan kelakuan gadis merah muda yang ditolongnya ini. Setelah ini ia akan menghubungi polisi dan menyerahkan gadis aneh ini pada mereka.
Tok tok tok
Suara pintu yang diketuk menarik perhatian kedua makhluk di dalam rumah, Naruto berjalan ke depan untuk membukakan pintu.
"Kau membolos lagi, Naruto!?" tanya Iruka langsung saat pintu terbuka.
Naruto mendengus tidak suka, "Berisik!"
"Kau harusnya mengerti, seberapa penting sekolah untuk masa depanmu kelak—"
"Masa depanku sama sekali bukan urusanmu," potong Naruto membuat Iruka semakin mengeram marah.
"Sifatmu itu sama sekali tidak mirip—"
"Kalian berisik sekali, dasar manusia!" suara gadis merah muda menghentikan perdebatan Naruto dan Iruka.
"Kau siapa?" tanya Iruka saat melihat gadis tak dikenalnya berdiri angkuh dengan sekaleng makanan yang dibawanya kemarin.
Tatapan mata Iruka memperhatikan sang gadis dari atas sampai bawah dan selanjutnya beralih pada Naruto, "Kau membawa seorang gadis ke rumah?" tanyanya penuh selidik.
Naruto terdiam, tidak mengerti akan maksud perkataan Iruka dan kembali memperhatikan gadis merah muda dihadapannya.
Dengan santainya sang gadis berjalan pelan, ia berdiri di sebelah Naruto dan menyerahkan makanan kalengnya pada pemuda pirang itu.
Tentu saja Naruto tidak terima akan perlakuan gadis itu yang seenaknya saja, "Hoi! Apa yang—"
Perkataan Naruto terhenti saat dirasanya aura aneh dan menyesakkan memenuhi atmosfir ruangan depan kediamannya dan sesaat ia seperti melihat bayangan aneh dari tubuh gadis merah muda yang kini menatap tajam Iruka.
Kedua pupil mata Iruka melebar dan perlahan-lahan mengecil kembali. Wajah terkejutnya berubah menjadi wajah tenang seperti orang yang mengantuk.
"Em... apa yang—" gumamnya tidak jelas, "ah, kau sudah datang ternyata," lanjutnya senang saat melihat gadis merah muda di depannya.
"Begitulah, aku baru saja datang," jawab gadis itu dengan senyuman manis.
"Baiklah kalau begitu, jika ada sesuatu yang kau perlukan hubungi saja aku!"ujar Iruka sambil tersenyum ramah.
"Ha'i."
"Aku pulang dulu kalau begitu," ujar Iruka lembut masih dengan senyuman ramahnya.
Selanjutnya ia menghilangkan senyumannya dan kembali menatap Naruto yang balik menatapnya antara tak mengerti dan bingung.
"Dan kau, Naruto. jangan membolos lagi hari ini!" lanjutnya.
Setelah mengatakan hal itu pada Naruto, Iruka membalik badan dan pergi meninggalkan kediaman anak baktisnya itu.
Sepeninggalnya Iruka, gadis merah muda yang mengaku sebagai raja iblis kembali mengambil makanan kalengnya dari Naruto dan pergi menuju dapur.
Naruto tersentak saat gadis itu mengambil makanan kaleng dari tangannya.
Dengan langkah cepat ia mengajar sang gadis, "Apa yang telah kaulakukan?" tanyanya dengan nada suara naik satu oktaf. "Kau menghipnotis Iruka-sensei?!"lanjut Naruto tanpa menurunkan nada suaranya.
Sang gadis kembali duduk di kursinya, "Hipnotis? Apa itu?"tanyanya balik tak mengerti.
"Hal yang baru saja kau lakukan. Tidak mungkin Iruka-sensei bisa bersikap seolah-olah mengenalmu," jawab Naruto dan ikut mendudukkan diri di depan gadis itu.
"Owh , yang tadi. Maksudmu genjutsu?"
"Genjutsu?" gumam Naruto tak mengerti. Apa ini salah satu aliran hipnotis jenis baru?
Sang gadis menganggukkan kepalanya, "Ya, genjutsu. Salah satu sihir ilusi dan pengendali pikiran."
Naruto semakin mengerutkan alisnya benar-benar tak mengerti dengan gadis ini. Pertama, gadis di depannya mengaku sebagai iblis dan buruknya ia raja iblis. Kedua, gadis ini bisa menggunakan hipnotis atau genjutsu apalah namanya itu pada Iruka.
Satu yang dapat disimpulkan bahwa gadis ini tidak normal, bahkan dengan kemampuan otaknya yang di bawah rata-rata ia masih bisa menentukan mana hal yang nyata dan mana hal yang mustahil. Jangan-jangan gadis ini adalah salah satu komplotan pencuri yang menggunakan gadis cantik yang pura-pura gila sebagai umpannya.
"Terserahlah!" teriak Naruto frustasi dan berjalan pergi meninggalkan sang gadis, "aku harus pergi ke sekolah," lanjutnya.
Tapi sebelum benar-benar meninggalkan dapur Naruto membalik badan, "Saat aku pergi sekolah kau jangan pergi kemana-mana! Setelah aku pulang, aku akan mengantarmu ke kantor polisi."
Setelahnya Naruto pergi ke lantai dua, mengganti pakaiannya dengan seragam sekolah. Tak begitu lama ia kembali turun dan bergegas menuju pintu keluar.
Blam
Suara pintu yang ditutup menandakan sang pemuda telah pergi membuat sang gadis menjulurkan lidahnya.
"Chi, kau pikir kau siapa manusia? Memerintah raja iblis sepertiku," cibirnya mengejek.
Gadis manis itu bediri dari posisi duduknya dan berjalan menuju ke pintu keluar.
Cahaya mentari pagi menyambut kemunculan sang raja iblis dalam bentuk manusia. Membuat ia harus menyipitkan kedua matanya untuk disesuaikan dengan cahaya mentari yang begitu terang. Tinggal di dunia yang gelap membuatnya tak terbiasa dengan cahaya yang terlalu terang, tapi itu hanya untuk sesaat karena setelahnya sang raja iblis sudah dapat menyesuaikan diri dengan cahaya mentari.
"Saatnya mencari tahu dunia apa ini dan cara mengumpulkan semua chakraku kembali?" ujarnya bersemangat.
Ditutup rapat pintu berwarna coklat di belakangnya, dan mulai pergi meninggalkan kediaman sang pemuda berambut pirang.
.
.
.
.
.
.
.
"Dengan lostion white queen skin ini, impian memiliki kulit seputih susu bukan lagi halangan. Segera beli dan buktikan!"
Suara bising seorang gadis dari dalam layar televisi besar yang terpasang di salah satu bangunan terdengar nyaring dan memekikkan telinga.
"Chi, apa manusia itu tak bosan mengatakan hal yang sama berulang-ulang?" gumam seorang gadis dengan rambut merah muda sebahu.
Ia benar-benar tak mengerti dengan dunia yang baru didatanginya ini. Sepanjang perjalanan ia sering melihat layar besar menampilkan gambar yang sama dengan yang berada dihadapannya sekarang, hanya saja orang yang berada di dalamnya berbeda-beda. Seingatnya ia sudah melihat layar dengan dua orang wanita, seorang pria dan sebuah keluarga yang anehnya sama-sama mengatakan hal yang sama berulang-ulang.
Bukan hanya itu keanehan yang ditemuinya. Disepanjang jalan ia juga sering melihat benda yang terbuat dari baja melintas di depannya dengan cepat, walaupun tak secepat ia saat menggunakan sihir gravitasi atau jendral iblis Luchifer yang terkenal sebagai iblis tercepat di dunia bawah. Tapi tetap saja benda itu sangat aneh karena terdapat manusia di dalamnya.
Hal yang paling membuatnya penasaran adalah benda-benda yang dilihatnya digerakkan pakai kekuatan apa? Ia sudah memeriksa kalau saja terdapat chakra seperti di dunianya pada benda-benda itu bahkan semua benda bergerak yang ditemuinya tapi tak ada kekuatan apa pun di dalamnya. Jangankan benda-benda itu, para manusia yang ditemuinya saja tak menampakkan aura kekuatan sedikitpun.
"Dunia apa ini? Dan bagaimana cara untuk mengembalikan chakraku," tanyanya pada diri sendiri.
Kriuukkk
"Uh~" desahnya saat merasa perutnya bergerumu minta diisi kembali. Andai saja ia dalam wujud iblis maka ia tak perlu makan sebanyak manusia dan merasakan perasaan aneh kelaparan.
Gadis merah muda tersebut kembali melanjutkan perjalannya yang sudah sangat jauh. Bahkan matahari yang tadi baru ingin menampakkan diri saat ia meninggalkan kediaman pemuda berambut pirang, kini sudah semakin naik keatas. Ia bahkan tak tahu sudah berapa lama ia berjalan yang jelas itu cukup lama untuk membuat kedua kakinya terasa sakit.
"Lihat, gadis itu cantik sekali!" ujar seorang pemuda yang sebelumnya berpapasan sang gadis merah muda pada teman disebelahnya.
Teman sang pemuda menolehkan kepala melihat gadis yang ditunjuk temannya, "Ya, dia cantik sekali tapi lihat penampilannya! Sepertinya gadis itu gila," bisiknya.
Gadis merah muda yang dibicarakan menolehkan kepalanya kepada dua pemuda yang masih menatapnya itu, membuat kedua pemuda itu terkejut dan berlalu pergi.
Sang gadis menghelakan nafasnya. Ini sudah yang kesekian kalinya para manusia yang melihat penampilan sang gadis membicarakannya.
Memang penampilannya tak seperti biasa hanya saja tak perlu para manusia itu menatapnya aneh, kan?
"Hai nona cantik, apa kau tersesat?" tanya seorang pemuda yang kini berdiri dihadapannya.
Sang gadis tak hanya diam memperhatikan pemuda itu dan dua pemuda lain yang terus memandanginya.
Tak mendapat jawaban, pemuda yang berada ditengah melirik teman di sebelahnya, seperti meminta bantuan pada temannya satu itu yang memiliki tubuh sedikit tambun.
"Jika kau tersesat, kami bisa membantumu nona," ujar pemuda tambun itu.
Mendengar kata membantu membuat gadis manis itu antusias. Mungkin saja para manusia ini bisa menjelaskan dunia apa ini dan bagaimana cara mendapatkan kekuatan agar dapat menggerakkan benda-benda yang dilihatnya tadi.
"Apakah kalian bisa membantuku?" tanyanya.
Ketiga pemuda itu tersenyum dan menganggukkan kepala mereka, "Ya, membantu apapun," jawab pemuda dengan rambut ikal yang dari tadi hanya diam.
"Dunia apa ini sebenarnya? Dan bagaimana cara menggerakkan benda-benda itu?" tunjuknya pada layar televisi besar dan mobil yang melintas di depannya.
"Lalu bagaimana cara mengumpulkan kekuatan di dunia ini?" sambungnya cepat.
Ketiga pemuda itu terdiam mendengar pertanyaan gadis manis di depan mereka, gadis di hadapan mereka ini benar-benar sudah gila batin mereka.
Untuk sesaat mereka terdiam dan saling bertukar pandangan. Sampaipemuda berambut ikal membisikkan sesuatu pada kedua temannya.
Mereka menganggukkan kepala bersamaan dan kembali menatap gadis merah muda yang sudah sangat antusias menunggu jawaban mereka.
"Jika kau ingin tahu jawabannya, kau harus ikut kami kesuatu tempat, bagaimana?" tanya pemuda yang berada di tengah.
Sang gadis terdiam, menimbang-nimbang ajakan ketiga pemuda manusia dihadapannya. Apa ia ikut saja? Bagaimanapun ia harus segera mengumpulkan chakra dan kembali ke dunianya untuk mengalahkan malaikat sialan yang sudah membuatnya terjebak di dunia aneh ini.
"Baiklah, aku akan ikut dengan kalian," jawabnya mantap.
Ketiga pemuda itu menyeringai dan langsung mengarahkan sang gadis untuk mengikuti mereka.
"Kita akan bersenang-senang setelah ini," bisik pemuda berambut ikal kepada teman-temannya.
.
.
.
.
.
Konoha Senior High School, salah satu sekolah ternama di kota Konoha kini begitu tenang dan damai. Hanya sesekali suara para guru yang terdengar memantul dikoridor sekolah saat mereka sedang menjelaskan materi ajaran mereka.
Hal yang sama juga terjadi disalah satu ruang kelas dengan sebuah papan kecil bertuliskan 'XII-A' tergantung di dekat pintu masuk kelas. Di dalamnya terlihat seorang wanita dewasa dengan rambut hitam pendek sedang menuliskan sesuatu di papan tulis.
Tett teet tett!
Suara bel yang bergema dari speker sekolah menandakan jam istirahat bagi para siswanya. Tentu saja suara bel tersebut telah menyelamatkan para siswa tersebut dari rasa kantuk dan bosan mendengarkan penjelasan guru mereka.
Sang guru wanita menghentikan aktifitas menulisnya dan bergegas membereskan beberapa buku yang tergeletak di atas meja.
"Cukup sekian pelajaran kita hari ini, sensei harap kalian membaca ulang materi yang sensei sampaikan!" ingatnya pada para siswa yang mulai sibuk dengan urusan setelahnya Shizune-sensei—begitu para siswa memanggilnya—pergi dari ruang kelas.
Suara bising para siswa mulai terdengar nyaring saat guru IPA tersebut pergi.
"Aku cukup terkejut Naruto saat kau masuk tadi, kupikir kau akan membolos lagi hari ini," ujar Kiba tiba-tiba sambil membalik kursinya menghadap pemuda pirang di belakangnya yang dari tadi menatap keluar jendela, memperhatikan bunga sakura yang mulai berguguran.
Tak mendapat respon, pemuda pencinta hewan terutama anjing itu kembali berkata, "Apa Iruka-sensei yang memaksamu sekolah?"
Kali ini Naruto memalingkan wajahnya menghadap teman sekelasnya itu. Bisa dikatakan pemuda itu cukup banyak tahu tentangnya yang entah dari mana ia mendapatkan informasi bahwa Iruka salah satu guru di sekolah mereka adalah walinya dan juga tentang hubungan mereka yang cukup buruk.
"Kalau kau tak menjawab, aku anggap jawabannya sebagai 'iya'," lanjut Kiba sambil tersenyum lebar.
Mau tak mau Naruto ikut tersenyum lebar melihat pemuda di depannya, salah satu orang yang berani mengajaknya bicara.
"A-anu... Naruto-kun..." suara lembut milik seorang gadis terdengar gugup memanggil sang pemuda pirang, membuat kedua pemuda tersebut menatapnya.
"A-apakah keadaan Naruto-kun sudah lebih baik?" tanya sang gadis dengan wajah yang sudah memerah padam.
Naruto mengangkat sebelah alis pirangnya. Ia tak mengerti dengan pertanyaan gadis cantik berambut hitam keungu-unguan panjang dan bermata mutiara itu.
Menyadari pemuda tampan dihadapannya kebingungan membuat gadis cantik itu menjadi salah tingkah, "Be-begini, kemarin Kiba-kun memintaku membuatkan surat izin sakit untuk Naruto-kun," jelasnya sambil menatap pemuda berambut coklat meminta pembenaran.
"Ah, ya kemarin itu," ujar Kiba mengerti maksud sang gadis.
"Yang kemarin?" tanya Naruto semakin bingung.
Kiba menganggukkan kepalanya, "Kemarin, saat kau memintaku untuk membuatkan surat izin kau sakit, aku meminta bantuan Hinata untuk membuatnya. Jangan katakan kau sudah lupa!?"
Naruto diam sejenak mengingat-ingat. Ah, benar juga. Kemarin ia tak masuk sekolah dan lebih memilih tidur di atap sekolah dan meminta Kiba untuk membuatkan ia surat izin sakit untuknya.
"Ya, aku ingat. Terima kasih Hinata, aku sudah merasa lebih baik," ujar Naruto pada gadis teman sekelasnya itu.
Hinata adalah salah satu gadis yang cukup berani untuk mengajaknya bicara walaupun itu jarang sekali, selain itu Hinata juga teman satu SMP Naruto dan selama ini Hinata adalah orang yang selalu dimintai tolong kedua pemuda itu untuk membuatkan mereka surat izin tidak masuk sekolah.
Hinata mengangguk malu dengan wajah yang semakin memerah.
"Hinata, temani aku ke kantin membeli roti," dari belakang ketiganya muncul seorang siswi dengan rambut pirang diikat ekor kuda.
"Ino-san kau tak membawa bekal hari ini?" tanya Hinata pada gadis bernama Yamanaka Ino.
Ino tersenyum, "Aku sedang diet hari ini, jadi aku hanya akan memakan roti untuk makan siangku," jawab gadis bermata babyblue tersebut.
"Kau ingin membuat tubuhmu menjadi tulang, tak makan seperti itu?" cibir Naruto pada gadis berambut pirang cantik itu yang diikuti anggukkan kepala oleh Kiba.
Ino menatap kesal pemuda yang sudah dua tahun ini selalu satu kelas dengannya, "Laki-laki tak akan mengerti dengan cara hidup kami para gadis," kilah ino, "kami para gadis memiliki porsi makan lebih sedikit dari kalian para laki-laki," lanjutnya.
Naruto terdiam. Porsi makan sedikit, ya? Entah kenapa ia jadi teringat dengan gadis merah muda yang sekarang berada di rumahnya. Seingatnya saat ia pergi meninggalkan gadis itu di dapur, ia melihat tiga makanan kaleng yang sudah kosong di dekat sang gadis. Sepertinya pemikiran gadis pirang di hadapannya ini salah.
"Ya, terserah kau saja. Cepatlah pergi!" usir Kiba.
"Tak kau katakan pun, aku akan segera pergi," ujar Ino tidak terima.
Di dekat pintu telah menunggu dua orang siswa berambut hitam diikat ke atas seperti nanas dan seorang siswa bertubuh besar.
Sebelum menghilang di balik pintu, Ino membalik badan dan menjulurkan lidahnya ke arah Kiba.
"Chi, dasar gadis gila!" umpat Kiba dan balik menjulurkan lidahnya.
Mendengar perkataan Kiba membuat Naruto tersenyum mengejak. Kiba belum saja bertemu dengan gadis aneh di rumahnya. Ngomong-ngomong apa yang sedang gadis itu lakukan sekarang? Semoga saja gadis itu tak melakukan sesuatu yang aneh.
.
.
.
.
.
Grak!
Klantang!
Sebuah kotak sampah terjatuh, membuat setengah isi di dalamnya berhamburan keluar. Di dekat sampah itu ada seekor kucing hitam yang sedang menggeram marah kepada seorang gadis berambut merah muda sebahu.
Mendengar suara geraman kucing hitam itu, sang gadis merah muda mendekatinya dan berjongkok tetapi saat ia ingin menyentuh kucing itu, kucing itu terlihat ketakutan dan pergi menjauh.
"Ahrgg~" suara erangan menahan sakit terdengar dari belakang sang gadis.
Sang gadis menghela nafas berat sebelum berdiri dari posisi berjongkoknya dan membalik badan untuk melihat sumber suara erangan.
Tak begitu jauh dari sang gadis terlihat dua orang pemuda, satu berambut ikal dan satu lagi bertubuh tambun terkapar tak sadarkan diri. Keadaan mereka cukup memprihatinkan dengan beberapa luka gores yang terus mengeluarkan darah. Tapi yang menjadi sumber suara erangan bukan kedua pemuda yang tak sadarkan diri tersebut melainkan seorang pemuda yang juga menderita luka yang sama dengan kedua pemuda sebelumnya.
Pemuda tersebut terus mengerang kesakitan sambil memegangi bahunya yang memar membiru.
"A-am-ampuni... aku... ihs..." ujarnya lirih dengan kesadaran yang tinggal setengahnya.
Sang gadis hanya diam dan menatap dingin pemuda itu, "Akan aku ulangi satu kali lagi, jika kau tak juga menjawab, aku tak akan segan-segan melukai manusia hina sepertimu!" ancamnya.
Pemuda itu tak mengatakan apa pun, ia hanya terus meringis dan sesekali mengerang menahan sakit di sekujur tubuhnya.
"Dunia apa ini sebenarnya? Dan bagaimana semua benda-benda itu bergerak?" tanya sang gadis kemudian dengan suara dingin.
"Ekh... A-aku tak mengerti maksud mu... ji-jika... dunia yang kau maksud... ikh... hosh... adalah kota Konoha... dan benda-benda itu digerakkan oleh mesin..." jawab pemuda itu tersendat-sendat.
"Bagaiman cara mengumpulkan chakra di dunia Konoha ini?" tanya gadis itu kemudian.
Pemuda itu menarik nafas dalam sebelum berkata, "A-aku tak tahu... cara mengumpulkan chakra yang kau maksud..."
Tak puas, gadis itu tak puas akan jawaban dari pemuda di hadapannya. Tapi percuma saja bertanya lagi, ini sudah yang ketiga kalinya dan jawaban pemuda itu tetap sama.
Satu kesimpulan dari informasi yang diberikan pemuda itu. Dunia yang didatanginya ini bernama Konoha dan benda-benda itu digerakkan bukan dengan chakra melainkan mesin.
Sudah tak ada yang dapat dilakukannya di tempat sempit ini, maka sang gadis memutuskan untuk pergi dan meninggalkan ketiga pemuda yang terluka karena bermaksud menipu raja iblis sepertinya. Para pemuda manusia tersebut masih beruntung karena sang gadis kehilangan hampir seluruh chakranya, kalau saja tidak, mungkin saja luka yang mereka derita tak seringan sekarang.
"Si-siapa... kau sebenarnya...?" tanya pemuda itu dengan suara yang begitu kecil, nyaris seperti bisikkan yang masih terdengar cukup jelas untuk iblis setingkatnya.
Sang gadis tak membalik badannya, hanya memutar sedikit kepalanya untuk melirik pemuda itu, "Aku raja iblis... Satan," jawabnya dengan seringaian menghiasi wajah manisnya.
Pemuda itu terbelalak terkejut akan jawaban sang gadis, dan setelah sang gadis lenyap dari hadapannya maka saat itu juga kesadaran sang pemuda hilang sepenuhnya.
.
.
.
.
.
Kriuuukk
Suara aungan kelaparan menggema di dalam perut gadis dengan rambut merah muda. Untuk menahan lapar yang sedang menderanya, ia terus-terusan mengusap perut rampingnya.
"Lapar~" desahnya tak tahan. Uh, ia benar-benar ingin memakan makanan tadi pagi saat masih dikediaman pemuda pirang yang menolongnya itu. Tapi ia sama sekali tak tahu sekarang berada di mana dan bagaimana cara kembali ke tempat itu. Semua yang dilewatinya nampak sama bagi sang gadis.
Ia benar-benar lapar, sangat lapar. Selain itu tadi saat melawan ketiga pemuda manusia yang memiliki tubuh cukup besar ia terpaksa harus menggunakan sedikit chakra untuk menambah daya serangnya, padahal sisa chakranya sudah hampir habis.
Di saat seperti ini bayangan sang pemuda pirang terus melintas di dalam otaknya. Ia ingin bertemu dengan pemuda pirang itu, ia ingin makan makanan tadi pagi...
Tes
"Eh?!" sang gadis terkejut saat merasakan sesuatu yang hangat mengalir di pipinya.
Dipegangnya cairan hangat itu, "Hujan?" gumamnya tak mengerti. Tapi ini aneh langit tak nampak mendung malah sebaliknya cuaca hari ini cerah.
Cairan hangat itu terus mengalir di kedua sisi pipi sang gadis, ia tak dapat menghentikannya walau sudah dihapus cairan itu akan keluar lagi dari kedua matanya.
Ada apa dengan tubuh manusia ini? Apa sebelumnya ia terluka saat melawan para pemuda manusia itu? Tapi hal itu tak mungkin karena seingatnya jangankan melukai menyentuhnya saja para pemuda manusia itu tak bisa.
Kalau begitu cairan apa ini?
"Aku... tak mengerti... hiks..."
.
.
.
.
.
.
"Naruto..."
Suara seseorang yang berteriak memanggil nama pemuda pirang berhasil menghentikan langkah kakinya menuju gerbang sekolah.
"Ada apa, Kiba?" tanyanya saat pemuda itu sudah cukup dekat untuk mendengar pertanyaannya.
"Kita pergi ke game center bagaimana? Sudah lama kita tak ke sana 'kan," tawar Kiba.
"Maaf, kau pergi sendiri saja Kiba. Aku ada urusan penting yang harus aku selesaikan," jawab Naruto sedikit menyesal.
Kiba cukup kecewa dengan jawaban Naruto. Tapi mau bagaimana lagi jika pemuda itu memang punya urusan penting yang harus diselesaikan.
"Tidak apa-apa. Lain kali saja kalau begitu," ujar Kiba sambil tertawa hambar.
"Ya, lain kali. Aku duluan Kiba," Naruto berjalan pergi meninggalkan pemuda Inuzuka tersebut sambil melambaikan tangan tanpa membalik badan.
"Urusan penting? Mencurigakan..." dari belakang Kiba muncul Ino, Shikamaru, Chouji, dan Hinata.
"Paling urusan penting dengan para preman atau brandalan," ujar Shikamaru memberikan argumennya.
"Itu tidak mungkin," kata Kiba cepat sambil menggelengkan kepalanya dan kembali berkata."Naruto sudah berjanji padaku untuk mengajakku jika ada hubungannya dengan preman atau brandalan."
"Na-naruto-kun tak akan mengingkari janjinya," suara kecil Hinata menarik perhatian teman-temannya, "ki-kita semua tahu itu," lanjutnya.
Semua orang terdian tapi dalam hati mereka membenarkan perkataan gadis Hyuga tersebut. Walau Naruto sering terlibat keributan, ia bukanlah tipe orang yang akan mengingkari kata-katanya sendiri apa lagi menariknya.
"Kau benar Hinata," ujar Ino membenarkan perkataan Hinata, "tapi urusan penting apa yang melebihi tantangan preman?" lanjutnya.
.
.
.
.
.
Cklek
Pintu coklat kediaman Namikaze terbuka menampilkan sosok pemuda pirang pemilik kediaman tersebut.
Ia melepas sepatunya dan berjalan masuk menuju dapur mencari sosok seorang gadis dengan rambut merah muda.
"Gadis merah muda?" panggilnya saat tak menemukan sosok yang dicari.
Seingatnya terakhir kali ia melihatnya gadis itu masih duduk manis di meja makannya, menikmati entah kaleng keberapa sarapan paginya.
Kalau tidak sedang di dapur maka di mana kira-kira gadis itu? Apa mungkin ia sudah kenyang dan memutuskan untuk mandi, pikir sang pemuda pirang.
Naruto berjalan menuju kamar mandi tamu yang berada di sisi lain dapur tapi saat diperiksa sang gadis tak juga ada di sana.
Perasaan khawatir mulai memenuhi hati Naruto saat ia juga tak menemukan sang gadis di kamarnya atau pun kamar mandi yang berada di dalam kamarnya. Pasalnya gadis yang tak sengaja ditolongnya itu sedikit aneh dan mungkin juga gila. Selain itu ia sudah berjanji akan mengantarkan sang gadis ke kantor polisi, dan ia akan melakukannya.
"Sial!Jangan-jangan gadis itu keluar sendirian," gumamnya.
Dengan cepat Naruto berlari menuju pintu keluar dan membantingnya keras. Sekarang ia harus segera menemukan gadis itu sebelum sesuatu yang buruk menimpanya.
.
.
.
~~Maou-sama? Akuma-chan!~~
.
.
Drap drap drap
Langkah kaki Naruto yang berjalan tergesa-gesa nyaris seperti berlari cukup menarik perhatian sebagian orang-orang yang sedang berjalan-jalan.
Walaupun banyak diantara orang yang memperhatikan Naruto menatap aneh padanya, ia sama sekali tak peduli karena di dalam otaknya hanya dipenuhi oleh sosok dengan rambut merah muda.
Ke mana gadis itu pergi? padahal dari semua yang dikatakannya ia seperti orang yang tak tahu apa pun tentang dunia ini. Dan itu sangat mengkhawatirkan, bagaimana jika ketidaktahuannya dimanfaatkan oleh seseorang yang berniat jahat. Ah, membayangkannya saja sudah membuat cemas apalagi jika hal itu benar-benar terjadi.
Sebenarnya ada cara yang lebih mudah untuk menemukan gadis itu, misalnya saja dengan berteriak memanggil namanya bukan hanya berlarian mencari seorang gadis yang memiliki rambut merah muda. Tapi Naruto tak bisa melakukannya lebih tepatnya tak akan melakukannya. Bagaimana mungkin ia akan meneriaki nama gadis itu 'Raja Iblis Satan' di sepanjang jalan yang dilaluinya. Ia tak tahu nama gadis itu kecuali raja iblis Satan dan ia masih cukup waras untuk tidak melakukannya.
"Gadis tadi cantik sekali, mungkin saja ia aktris yang sedang menyamar."
"Kurasa tidak. Jika ia aktris yang sedang menyamar penampilannya terlalu mencolok terutama rambut merah mudanya."
"Kau benar, tapi ia tetap gadis yang cantik."
Suara dua orang pemuda yang menggunakan seragam sekolah kota sebelah menarik perhatian Naruto terutama kata 'merah muda'. Cukup dengan kata-kata itu ia yakin gadis yang dimaksud adalah gadis yang sama dengan yang dicarinya.
Dengan cepat Naruto menghampiri kedua pemuda itu, berdiri didepan mereka dengan aura kuat yang mengintimidasi.
"Gadis yang kalian bicarakan, di mana kalian melihatnya?" tanyanya dengan penuh penekanan ditiap kata membuat kedua pemuda itu berbidik ngeri.
.
.
.
.
.
"Hosh... Hosh..." deru napas pemuda pirang mengiringi larinya yang semakin cepat saat ia semakin mendekati tempat yang ditujunya.
"Ka-kami melihat gadis itu sedang duduk sendiri di taman kota,"
"Dan kelihatannya gadis itu..."
Kata-kata pemuda yang ditanyainya tadi terus berputar-putar di dalam otaknya. Ia harus segera menemukan gadis itu.
Naruto melewati sebuah palang bertuliskan 'Taman Kota' dan untuk sesaat ia berhenti berlari, menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari sosok gadis dengan rambut merah muda.
Sampai ia melihat gadis yang dicarinya sedang duduk disalah satu bangku taman seorang diri dengan kepala tertunduk ke bawah.
Naruto menghelakan nafas lega karena telah berhasil menemukan gadis yang dicarinya. Dengan pelan didekatinya gadis itu, dan saat sudah berada tepat dihadapan sang gadis, ia bermaksud untuk menepuk bahu gadis itu...
"Hiks... Hiks..."
"Dan kelihatannya gadis itu... menangis..."
Perkataan kedua pemuda tadi kembali teringat membuat pergerak Naruto terhenti. Baiklah, sekarang ia bingung. Setelah berhasil menemukan gadis yang dicarinya ia merasa lega tapi ia tak tahu apa yang harus dilakukan pada seorang gadis yang sedang menangis.
Cukup lama ia bertahan dalam posisi diam dan sepertinya gadis itu pun tak menyadari keberadaannya, tapi ia tak bisa diam seperti ini terus. Langit sudah mulai berganti warna dan suhu udara sudah semakin turun, jika terus membiarkan gadis itu di tempat seperti ini dengan menggunakan pakaian yang tipis seperti itu maka ia pasti akan jatuh sakit.
"Hoi, kau tak apa?" tanya Naruto kemudian.
Gadis dengan rambut sewarna bunga sakura itu mendongakkan kepalanya cepat saat mendengar suara yang dikenalnya.
Naruto terteguk diam saat melihat aliran air mata di kedua pipi sang gadis. Dan jujur saat melihat air mata itu ia sedikit menyesal, andai saja ia datang lebih cepat.
Bruk
Kedua manik blue sappir Naruto membulat sempurna karena dengan tiba-tiba gadis itu menubruknya hingga terduduk di tanah dan memeluknya erat.
"Huaaaa... Dasar manusia bodoh! Kau pergi kemana tadi?"
Sang pemuda pirang cukup kesal mendengar perkataan gadis yang memeluknya yang seakan mengatakan ia lah yang meninggalkan sang gadis. Salah siapa coba yang sudah pergi dari rumah tanpa sepengetahuannya?
"A-aku..." nada suara sang gadis melemah dan terdengar lirih.
Kembali, Naruto menghelakan nafasnya. Kekesalannya hilang sudah. Gadis yang unik. Setiap kali bertemu ekspresi yang diperlihatkannya selalu berbeda-beda, dan itu cukup menarik.
Dielus pelan pucuk kepala sang gadis membuat tangisannya terhenti, "Maaf, aku tak akan meninggalkanmu lama lagi..." ujarnya pelan, "jadi, berhentilah menangis." lanjutnya sambil tersenyum lebar.
Kedua pipi sang gadis memerah dan dengan cepat ditolehkannya kesamping, "Siapa yang menangis?" bentaknya sambil melepaskan peluknya.
Senyuman lebar Naruto luntur. Gadis yang tak jujur dengan perasaannya, "Kalau kau tak menangis, lalu itu apa?" tanyanya sambil menunjuk jejak air mata yang mengalir di pipi sang gadis.
"Ini air hujan yang jatuh entah dari mana," jawab sang gadis polos.
Rasanya Naruto ingin membenturkan kepalanya kedinding saja kalau begini. Gadis ini sebenarnya bodoh, polos atau benar-benar tak tahu apa-apa?
"Ya, terserah kau saja lah..."
Wush
Angin bertiup kencang menerbangkan kelopak bunga sakura yang mulai berguguran. Kedua makhluk beda gender itu terdiam di tempat, terpesona akan kecantikan bunga musim semi itu.
"Apa ini?" gumam sang gadis.
"Kelopak bunga sakura," jawab Naruto dan meraih satu kelopak bunga yang mendarat di atas kepala sang gadis.
"Sakura..." ulang gadis itu.
Kriuukkk
Kedua pipi sang gadis memerah padam mendengar suara perutnya yang menggema cukup keras sehingga bisa membuat pemuda pirang di hadapannya tertawa.
"Ayo, kita pulang," ajak Naruto dan mulai berdiri dari posisi duduknya.
Pemuda pirang itu menepuk belakang celana hitam yang dikenakannya dan mengulurkan tangannya untuk membantu sang gadis berdiri.
"Kenapa pulang? Bukannya kau akan mengantarku ke kantor poli... si?" tanyanya setelah mengingat perkataan pemuda itu.
"Aku akan tetap mengantarmu ke kantor polisi, tapi tidak sekarang. Pertama kita harus menghentikan suara perutmu itu..." ejeknya sambil menyeringai jahil.
Sang gadis mengembungkan kedua pipinya sebal, "Menyebalkan," cibirnya dan meraih uluran tangan Naruto.
"Ah, namamu?" tanya Naruto tiba-tiba membuat kedua alis merah muda sang gadis bertautan tak mengerti, "kau tahu, setiap orang punya nama dan seharusnya kau juga punya," jelasnya.
"Manusia makhluk yang merepotkan. Aku tak punya nama tapi manusia di dunia ku lebih sering memanggilku raja iblis terkutuk, iblis neraka, raja kematian, makhluk terkutuk, dan masih banyak lagi tapi aku lebih suka raja iblis Satan," jawab sang gadis panjang lebar.
"Kau tak bisa menggunakan nama-nama itu di sini," tolak Naruto cepat. "biar kuberi kau nama. Bagaimana jika, Sakura?" lanjutnya.
"Kupikir nama itu cocok untukmu, tapi jika kau tidak suka ganti saja dengan nama yang lain," ujar Naruto setelah tak mendapat respon dari gadis merah muda.
"Aku suka nama itu, Sakura. Kedengarannya bagus,"
"Baiklah, ayo pulang, Sakura." ajak Naruto dan mulai berjalan meninggalkan taman.
Dibelakang Naruto, Sakura berlari kecil mengejarnya, "Manusia pirang, namamu siapa?"
"Bisakah kau tak memanggilku dengan nama itu! Naruto, namaku Namikaze Naruto," ujar Naruto malas.
"Naruto, terima kasih..." ucap Sakura pelan.
"Hah, kau mengatakan sesuatu Sakura?" tanya Naruto yang samar-samar mendengar ucapan Sakura.
"Tidak." jawab Sakura cepat dan berlari ke depan mendahului Naruto. "Naruto cepat! Aku sudah lapar," teriaknya cukup keras.
"Dasar tidak sabaran," ucapnya dan sedikit mempercepat langkahnya mengejar gadis di depannya.
Takdir antara pemuda pirang dan raja iblis yang tersesat mulai terbentuk, apa yang akan terjadi selanjutnya? Kita lihat saja.
TBC
Author Note:
Apa-apa ini?!
Sudah satu tahun lebih aku (hampir) sama sekali tidak membuka akun ini dan melanjutkan semua fict-fict ku!
Ghyaaaaaa maafkan aku... (T_T)/
Semua kemampuan menulisku hilang termakan waktu jadi bingung bagaimana menulis dengan baik agar maksud penulis tersampaikan ke pembaca, jadi mohon maaf jika bab kedua ini terasa aneh dan membingungkan karena aku sendiri ikut bingung waktu menulisnya hahaha...
Dan bagi yang masih setia menunggu Clover's Cafe mohon maaf aku masih belum bisa menyelesaikan chapter terbarunya dan bagaimana melanjutkannya lagi. Ide untuk fict itu hilang begitu juga plot awalnya. Tapi aku tak punya niat untuk Dicsconeted fict satu itu walau akan memakan waktu sangat lama aku pasti akan tetap melanjutkannya dan berusaha mengumpulkan plot awal ceritanya lagi.
Aku benar-benar minta maaf karena kecerobohanku satu itu (_ _")
Akhir kata, aku ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada semua reader yang telah menyempatkan diri untuk membaca bab 2 ini dan terima kasih juga karena masih dengan setia menunggu kelanjuta fict-fict ku yang lain.
Palembang, 24 Maret 2014
Kimeka ReiKyu
