•Balasan review•

Yunnah-chan

Yahh kemarin itu kan cuma uji coba onee-chan hehe. Kapan-kapan rey lanjutin.. insaallah tapi yahh XD

Shadow

Rey and yunnah: wahh anda penasaran? Sama saya juga xD (dasar rey&yunnah sama-sama sedikit miring#eh)

Kalo penasaran silahkan baca chapter ke 2, semoga ceritanya memuaskan.

Dci

Bingo, anda benar ^^ .

Audrey naylon

Oke ray sudah lanjun Audrey-sama (eh boleh ak manggil gitu)

Ryukutari

Ah ini sedikit di bantu onee-chan saya. Arigatou ryu-sama (boleh ak manggil gtu?)

Penasaran? Silahkan baca chapter yg ini semoga memuaskan.

RnR please minnaa ^^ gomenn kalo ceritanya jadi gak jelas

Title : one heart one love

Disclaimer : kamichama karin © koge donbo

Rated : T

Genre : romance & drama

Pairing : kazusa, karin, kazune , jin, michi, himeka,

Warning : ABAL, GAJE, TYPO, dLL

Summary : "Hei apa sudah baikan."/Aku sudah mengerjakan tugas nya, jadi untuk apa ak berlama-lama di kelas?" /"Ah.. begitu, salam kenal Hanazono-san," /

"Kau mengusir ku?"/"Sial!"

Karin POV

"Kau Lagi! Kau mau menganggu ku lagi!" Ucap ku melihat orang yeng memberi saputangan itu.

"Ehh bukan itu, aku cuma mau berdamai dengan mu. Ini sapu tangan nya ambil," ucap Jin masih menyodorkan saputanga kearahku. "Untuk apa?" Ucap ku bingung.

Lalu Jin pun tersenyum dan mengelap air mata yang tadi nya masih berlinang di mataku "Ini untuk mengelap air mata seorang gadis yang lagi menangis."

"Ah.. a.. aku tak menangis ini hanya kelilipan debu," ucap ku sambil mengucek (?) mata ku seakan membuat dia percaya kalo aku kelilipan.

Mendengar perkataan ku Jin pun langsung memegang mukaku dan mendekatkan sedikit ke bibir nya "Hufttt," tiup nya kemata ku.

Deg..

Jantung ku berdetak kencang ketika Jin meniup mataku, sebuah kenangan kecil terlintas di benak ku, kenangan disaat Kazune meniup mata ku yang kelilipan kejadian itu sama persis yang terjadi sekarang tempat yang sama, waktu yang sama, dan hari yang sama, seakan waktu berputar kembali.

"Hei apa sudah baikan."

-..-

"Hei.."

-..-

"Hallow" Jin langsung melambaikan tangan nya di depan muka ku.

"Ah iya, gomenn aku sedikit melamum," ucapku sedikit terkejut.

-hening-

"Em.. Cepat sekali kau keluar," tanya ku membuka pembicaraan

"Sensei tidak masuk hari ini, jadi kami di beri hanya tugas." Ucap Jin santai.

"Lalu kenapa kau keluar dan membawa tas mu?" tanyaku lagi

"Aku sudah mengerjakan tugas nya, jadi untuk apa ak berlama-lama di kelas?" Ucap Jin langsung menyenderkan (?) Tubuh nya di dinding gerbang.

"Hmm.. memang nya tugas apa?" Dan sekali lagi aku bertanya.

"Tugas membuat lagu," ucap nya sambil menaruh kedua tangannya di balik tengkuk leher nya.

"Oh membuat lagu," kataku singkat tak mau banyak bicara.

"Lalu kau kenapa cepat sekali keluar." Jin balik bertanya padaku.

"Tadi di kelas ku ada UH matematika, kata sensei siapa yang menjawab benar boleh pulang duluan," ucapku datar.

"Terus kau bisa menjawab nya dengan benar? " kata Jin sedikit terkejut.

"Menurut mu?" Ucap ku sedikit menaikan alis mata ku.

"Wah.. kau hebat sekali, oh ya sebelum nya aku tidak tau nama mu sia""Hanazono Karin itu nama ku." Potong ku seketika.

"Ah.. begitu, salam kenal Hanazono-san," ucap Jin yang tersenyum.

"Ah.. jangan panggil marga ku, aku kurang suka jika marga ku di panggil. Kau cukup memanggilku dengan sebutan Karin saja," ucap ku tersenyum kecil.

"Baik lah Karin-chan," ucap Jin yang lagi-lagi tersenyum pada ku.

"Ohya Karin-chan kenapa kau belum pulang jua." Jin memasang wajah bingung.

"Kau mengusir ku?" Ucap ku sedikit menelengkan kepala ku.

"Ah bukan itu, aku hanya bertanya apa itu tidak boleh?" Tanyanya sedikit bersalah.

"Aku menunggu teman-temanku."

"Oh.. begitu."

Kami berdua pun dilanda kesunyian, hampir 15 menit kami tak berbicara, aku menghidup kan lagi musik yang sempat terjeda tadi sedangkan Jin hanya diam membisu melihat kebawah seperti mau membicarakan sesuatu pada ku. Tiba-tiba sosok seseorang yang memakai jubah hitam menarik perhatian ku, ia terdiri di balik mobil ditepi jalan tepat didepan kami, orang itu melihat sambil membawa kamera ditangan nya. Aku tak memperdulikan nya, aku masih mendengar alunan lagu yang ku hidup kan dan sedikit mengecil kan volume nya.

"Sial!" Erang Jin melihat ke orang yg aku bilang tadi, meskipun aku memakai headset tapi aku masih mendengar suara di sekitar ku. Aku menoleh kearah Jin, terlihat wajah kesal terpampang di wajah nya. "Ada apa dengan anak ini?" Batinku bertanya. Beberapa detik kemudian Jin pun pergi meninggal kan ku tanpa sepatah katapun, "Apa dia marah padaku karena aku terlalu cuek dengan nya? Ahh aku jadi merasa tak enak lebih baik aku bertanya padanya." batin ku berkata-kata.

"Kau mau kemana Jin?" Ucapku basa gebek (?) Eh basa basi maksud nya.

"Bukan urusan mu," ucapnya dingin yang berjalan terlalu jauh dariku.

"Bagus Karin, kau sudah membuat anak orang (?) Marah gara-gara sikap mu." Batinku sambil mengetuk-ngetuk kepala ku.

Sekarang Jin sudah menghilang di hadapanku, dan orang yang berdiri dkat mobil tadi sudah pergi. "Ada apa ini? Kenapa orang itu pergi ketika Jin juga pergi?" Pikir ku, lalu aku matikan musik yang ku bunyikan tadi.

"Karinnn-chan." Suara gemulai memanggil nama ku. Akupun menoleh ke sumber suara yang memanggil namaku. Kutemui 2 sosok gadis manis sedang melambaikan tangan kearah ku. "Himekaa," ucapku menyebutkan salah satu nama dari dua gadis itu dan membalas lambaian tangan nya. Mereka berduapun tersenyum manis dan berlari kecil kearahku.

"Kenapa lama sekali kalian keluar?"

"Dikelas tadi kami dikasih tugas dengan sensei untuk membuat sebuah lagu," ucap Himeka.

"Apa membuat lagu? Kok sama dengan tugas Jin tadi ya? Em mungkin kebetulan." Batin ku berkata-kata lagi.

"Hei Karin, kenapa malah melamun." Kazusa melambaikan tangan nya di depan muka ku.

"Ah tidak apa-apa, yuk ambil sepeda kita di parkiran setelahh itu pulang," kata ku mengalih perhatian mereka sambil menuju ke arah parkiran.

Setelah sampai dirumah kami pun memasukkan speda kegarasi dan masuk kedalam rumah. Kami serempak masuk kekamar dan segera mandi dan mengganti baju.

Aku keluar dari kamar dengan wajah cerah dan segar (yaiyalah kan sudah mandi) . Aku menuju kedapur untuk melakukan tugas piketku yaitu memasak makan malam. Aku sangat bersusah payah memasak makanan, hampir 1 jam an aku berada di dapur. "Karin.. apa perlu aku bantu?" Tanya gadis berambut blonde kepadaku. "Ah tidak, aku bisa kok, kalian tunggu saja di meja makan sebentar lagi akan selesai kok" ucapku tersenyum. Kazusa pun mengangguk iya mendengar perkataan ku.

Sekarang sudah jam 7 masakan ku sudah selasai, saat nya menyajenkan (?) Eh menyajikan makanan ini ke ruang makan. Setelah semua makanan sudah di sajikan waktu nya kami menyantap makanan itu.

"Silahkan di makan," tawarku pada Kazusa & Himeka.

"Eh.. iya," kata Himeka sambil menyendok makan kedalam mulut nya (Awas hati-hati Himeka perasaan gak enak #jleb disumpal Karin pake sayuran)

Suapan pertama meluncur ke mulut Himeka.

1 dtk 2 detik

Normal POV

"Wahh masakan mu enak juga Karin-chan." Puji Himeka pada Karin.

"Ahh terimakasih," kata Karin tersanjung.

Skip time

Setelah makan malam selesai Karin dibantu Himeka dan Kazusa membereskan piring-piring yang kotor di meja makan. Sesudah itu mereka menuju Kamar dan bersantai.

-Ditempat lain-

Di dekat pegunungan ada seorang pemuda berambut blonde terkapar (?) Pingsan di sana, wajah nya yang tampan terpoles oleh benda hitam (seperti bekas arang). Dilihat sekilas ia seperti korban yang selamat dari kebakaran atau bisa jadi dia orang yang selamat dari pesawat terbang yang jatuh tak jauh dari keberadaan nya saat ini. Seorang paruh baya mendekati pemuda itu, ia berniat membawa nya kerumah sakit terdekat. Sampai dirumah sakit ia segera dilarikan ke ruang UGD untuk pertolangan pertama. "Apa anak ini baik-baik saja dokter?" Tanya orang paruh baya itu. "Anak ini sepertinya mengalami sedikit benturan di kepala nya, kemungkinan separuh ingatanya hilang," jawab dokter dengan tenang. "Lantas harus bagaimana?" Ia menanya lagi. "Saya sarankan agar anak ini untuk dirawarat dulu sampai dia sadar," saran dokter. "Oh baik lah," jawab nya.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Continued

••••

Siapakah pemuda itu? Pasti readers tau. Apakah dia akan selamat dari masa kritisnya? Mau tau kelanjutan nya bagaimana? Silahkan baca chapter selanjutnya minna ^^ Review please