The Hard Love, Me or My Friend?

Disclaimer : Masahi Kisimoto

Pairing : SakuraXSasukeXFemNaruto, dan beberapa Pair lain untuk mendukung cerita ini.

Rate : T, Straight, OCC, Agst untuk pucak ceritanya.

Summary : Apa yang terjadi jika Naruto dan Sakura sahabat sejak kecil bertemu dengan seorang pria yang membuat kedua gadis ini menyukai pria itu. dan siapakah yang dipilih oleh pria itu?

Note : mohon maaf jika lama menunggu cerita ini berlanjut. Author mengalami kecelakaan lalu lintas. Dan Alhamdulillah sekarang sudah sehat. Hehe...mungkin readers ada bosan menunggu fic ini berlanjut? Yaa, mohon maafkan saya. *pundung* YOSH! Silahkan baca yaa...

-ooo-

Chapy minggu lalu

'Senang rasanya punya boneka sepertimu, Uchiha!'

'Senang punya mainan sepertimu, Namikaze!'

-ooo-

Chapy 3

-ooo-

Pagi itu, sekolah elit itu sangat ramai. Banyak kelas yang ramai karena guru-guru terlalu sibuk untuk acara vestifal sekolah. Begitu juga dengan XI IPA 1, kelas itu ramai, hanya saja tidak seramai kelas-kelas lain. Mereka tentunya juga terlalu sibuk mengatur acara vestifal sekolah.

"Semuanya! Aku sudah menyiapkan naskah dialognya! Aku dan Hinata yang membuatnya."kata Tenten yang langsung disambut meriah oleh penghuni kelas itu.

"Kau hebat, Ten-chan!"

"Bagus sekali!"

"Dialog ini, pasti Hinata-chan yang buat!"

Dan masih banyak percakapan tidak penting lainnya. Sai sang ketua kelas entah pergi kemana. Meninggalkan kelas yang sudah gaduh layaknya pasar pelelangan. Bahkan Naruto yang sejak tadi mengunyah permen karetnya itu, hanya menatap bosan ke arah lapangan yang sudah mulai pembangunan panggung.

"Hoooaaaaammm... di wajahmu, ada kotoran!"kata Shikamaru santai. Ia menyentuh pipi Naruto dan mendorong pelan. Sehingga kepala Naruto yang sedang ia sangga menggunakan tangannya menghantam meja.

Daakk

"AISSSS... sakit tau!"Shikamaru pun terkikik geli. Sedangkan Naruto sibuk mengusap-usap kepalanya. Ia pun menatap sekelilingnya dengan pandangan bosan.

"Shika! Aku mau ke kantin. Kau mau ikut?"Naruto berdiri dari kursinya dan melirik Shikamaru yang sudah terlelap kembali. Naruto memutar matanya malas dan beranjak dari kursinya. Sakura melirik Naruto yang beranjak keluar itu juga ikut beranjak.

'Lebih baik aku ikut dengan Naru daripada dekat-dekat dengan Uchiha ini!'batin Sakura yang ternyata jantungnya terus berpacu cepat sejak bel berbunyi sampai sekarang.

'Aku tidak mau mati konyol karena serangan jantung!'batin Sakura lagi yang melirik Sasuke yang sibuk membaca buku Geometri tidak jelas itu.

"Naru! Tunggu aku!"teriak Sakura dan itu membuat Sasuke langsung mengalihkan pandangannya dari buku itu dan menatap Sakura. Naruto yang melihat itu langsung tersenyum setan dan langsung memulai akting-nya yang luar binasa itu.

"Ah! Laparku hilang."kata Naruto santai dan hendak kembali ke kursinya saat melihat jika Shikamaru punggung-nya terlihat bergetar dan terdengar suara kikikan kecil.

"Ada apa Sakura-chan? Kau lapar? Pergi bersama si Teme ini saja! Aku tidak lapar."kata Naruto seraya menjitak kepala Sasuke pelan. Sasuke segera membalikkan badan dan hampir melempar buku yang lumayan tebal itu ke Naruto.

"Wow-wow-wow! Santai dong, santai!"

"A-aku..."Sakura melirik Naruto dan Shikamaru yang pura-pura tidak merasakan tatapan memohon Sakura hanya acuh saja. Naruto menaikkan kakinya di meja dan sedikit mengayunkan bangkunya ke belakang sambil bersiul-siul. Sedangkan Shikamaru semakin menyamankan diri dengan kedua lengannya yang menjadi bantal kepalanya. Mirip seperti anak SD yang sedang menangis sendirian di kelas.

Sasuke yang melihat jika Sakura sedang gelisah sambil menatap Naruto dan Shikamaru bergantian itu mengangkat sebelah alisnya. Ia memiringkan badannya sehingga ia kini berhadapan dengan Sakura yang masih berdiri.

"Kau kenapa, Sakura-chan?"tanya Sasuke dan pertanyaan Sasuke barusan benar-benar membuat Sakura menahan nafasnya. Ia terlalu terkejut saat Sasuke bertanya padanya. Dan karena tidak tahan lagi, akhirnya Naruto dan Shikamaru tertawa lepas sambil memukul-mukul meja dengan keras.

"HAHAHAHA. KAU LIHAT SHIKA? PPFFTT HAHAHAHA"

"HAHAHAHA. SANGAT JELAS HAHAHA"

Brak brak brak

Shikamaru pun memukul-mukul meja juga karena tidak tahan dengan perutnya yang melilit sakit karena terlalu banyak terawa. Lupakan image dirinya yang masa bodoh dan tidak peduli. Entah kenapa jika dekat-dekat dengan Naruto, Shikamaru tidak bisa berhenti tertawa.

"NARUTO. SHIKAMARU."desis Sakura berbahaya ia menatap Naruto dan Shikamaru bergantian dengan tatapan laparnya. Tatapan itu sukses membuat Naruto dan Shikamaru yang tadinya ketawa hingga perutnya sakit, mungkin mereka berdua akan tertawa dengan perut sakit hingga berminggu-minggu.

"Ada yang lucu?"kata Sasuke yang kini juga berdiri dan menatap Naruto tidak kalah tajam dengan Sakura. Ia berpikir jika dua makhluk yang duduk di belakangnya itu tengah menertawakannya. Tatapan Naruto langsung mengeras saat melihat wajah Sasuke yang menantang seperti itu.

"ADA! KENAPA? KAU MERASA?"bentak Naruto sambil menatap Sasuke dengan tajam juga. Kelas pun menjadi hening dan menatap Naruto dan Sasuke yang bertatapan tajam itu. Sasuke menarik kerah baju Naruto dan menatap ke arah mata Naruto secara langsung tanpa penghalang sedikitpun.

Naruto pun juga meremas kerah baju Sasuke dan menatap tajam mata hitam legam itu dengan cermat. Sakura langsung menahan lengan Sasuke agar melepaskan cengkraman itu. Tapi sepertinya Sasuke tidak mau melepaskannya. Shikamaru semakin mengantuk jika melihat adegan perkelahian itu.

"Sa-maksudku, Uchiha-san! Sebaiknya lepaskan cengkramanmu. Biar aku saja yang memberi pelajaran pada monster satu ini!"kata Sakura sambil menatap Naruto sangar. Namun, Naruto tidak memperdulikan itu. Naruto dengan kasar melepaskan cengkramannya dari kerah Sasuke. Dan hendak menghajar wajah angkuh itu. Tapi-

Grap

"Ayolah! Daripada kalian bertengkar tidak jelas disini, lebih baik segera menghafal naskah yang ku buat! Ee maksudku, aku dan Hinata buat!"kata Tenten yang memberikan naskah yang tebalnya lumayan itu. Ia membagikannya kepada ke empat makhluk itu satu-persatu.

"Se-sebanyak ini?"tanya Naruto terkejut. Ia langsung membolak-balikkan lembaran-lembaran itu dengan wajah takjub. Sasuke yang melihat ekspresi wajah Naruto pun langsung memberikan tatapan merendahkan pada Naruto.

"Cih! Lihatlah wajah bodohmu itu. Menjijikkan!"kata Sasuke yang kini melipat kedua tangannya di dada dengan angkuh. Sasuke tidak peduli saat para lelaki yang mengaku Naruto FC yang tengah memberikan tatapan mematikan kepadanya.

Naruto yang sudah jengah di hina oleh mulut Sasuke itu berdiri tiba-tiba. Hingga kursi yang ia duduki itu berdecit keras dan jangan lupakan gebrakan meja itu. Tenten pun menggaruk kepalanya.

"Ne, Uchiha-san. Aku akan benar-benar akan menghukummu jika kau selalu berkata tidak sopan seperti tadi!"tegur Tenten selaku keamanan kelas itu mulai bertindak. Semenjak kedatangan Sasuke di kelasnya, suasana kelas selalu mencekam seperti itu.

Sasuke yang secara tak sengaja melirik sebuah lambang tameng kecil di ujung kerah Tenten itu langsung mengerti akan jabatan Tenten di kelas ini. Tapi, belum sempat Sasuke menghela nafas beratnya, Naruto dengan tiba-tiba melayangkan sebuah tendangan mematikan andalannya.

SREET

Tapi belum sempat tendangan Naruto sampai pada wajah Sasuke, sebuah pistol menempel pada leher Naruto. Gerakan terhenti. Sakura yang terkejut bukan main itu, menutup mulutnya karena terlalu horor memandang dimana Tenten yang menatap tajam Naruto dengan tangannya yang sudah siap menarik pelatuk pistol itu.

Naruto yang gerakannya terhenti itu, masih menatap Sasuke dengan pandangan tatapan kosong miliknya. Kaki Naruto yang sepuluh centi lagi dari wajah Sasuke itu benar-benar terhenti, tanpa sedikitpun gemetar karena pistol itu.

Cklek

"Hentikan ini!"desis Tenten. Naruto dengan perlahan menurunkan kakinya dan mengangkat kedua tangannya. Tapi tatapannya masih kosong ketika Tenten melihat mata Naruto. Tenten melirik Shikamaru dengan tajam.

"Shika! Cepat tahan Na-"

"KOROS!"teriak Naruto tiba-tiba berusaha meraih Sasuke yang ada di hadapannya. Ia menendang meja dan kursi yang menghalanginya. Semua orang langsung panik. Sasuke yang dengan perlahan mundur itu tanpa disadarinya menahan nafasnya. Ia seperti tidak bisa bernafas saat melihat Naruto mengamuk seperti itu.

BRAAK TRAAK

Naruto menghempaskan semua yang ada di depannya termasuk Tenten dan Shikamaru yang sejak tadi menahan tubuh Naruto agar tidak mendekat ke arah Sasuke.

"NARUTO!"teriak Sakura di depan Naruto sambil mencengkram pundak Naruto erat.

"..."

"..."

Kelas benar-benar hening setelah teriakan Sakura yang membuat gerakan Naruto berhenti total. Bahkan suara nafas Naruto pun tidak terdengar.

"Cih! Awas kau, TEME!"desis Naruto sambil berjalan menjauh dari lokasi. Tenten dan Shikamaru menghela nafas lega saat Naruto kembali kesadarannya. Itulah mengapa Tenten harus menengahi dengan segera pertengkaran tadi. Jika tidak, maka seperti yang barusan itulah yang akan terjadi.

"Haahh... kalian ini! BARU AKU TINGGAL BEBERAPA MENIT SUDAH BERKELAHI SEPERTI INI! SEKARANG APA LAGI? HAH?"teriak Sai yang baru saja tiba dari ruang guru langsung menatap anak buahnya satu persatu. Ia berkacak pinggang.

"Uchiha Sasuke! Namikaze Naruto! Jika kalian seperti ini terus, lihat saja nanti. Apa yang akan lakukan untuk memberi pelajaran pada makhluk bebal seperti kalian!"desis Sai geram dan langsung pergi ke tempat duduknya.

Naruto memutar matanya malas dan membereskan meja dan kursi yang ia hamburkan itu. Semua orang langsung kembali ke tempat duduk masing-masing. Tapi suasana masih hening kecuali decitan meja dan kursi yang tengah Naruto susun itu.

Sasuke masih berdiri. Mematung di tempat. Ia menatap Naruto intens. Tatapan kosong yang tadi itu sangat berbahaya. Dan dengan perlahan, sebuah senyuman misterius terpampang di wajah angkuh itu. Sasuke berjalan menuju kursinya yang baru saja Naruto susun itu.

'Mainan baruku sungguh menarik!'batin Sasuke yang kemudian duduk dengan santai dan mulai membaca naskah yang sejak tadi ia pegang. Sakura hanya diam saja. Ia terlalu shock dengan kejadian barusan. Apa yang terjadi jika Naruto tidak sadar dari pikirannya sendiri. Bisa habis nyawanya jika berdiri di depan Naruto saat itu.

"Naru. Kau tidak apa-apa?"tanya Shika dengan wajah serius. Naruto hampir tertawa lepas saat melihat wajah serius Shikamaru.

"Pfft... ehem! Tentu saja. Kau pikir aku sedang sakit apa?"tanya Naruto yang mulai membaca lembaran pertama naskahnya. Shikamaru memutar matanya malas dan menampar Naruto dengan naskah Naruto yang tengah dibaca itu. Sehingga terdengar bunyi plak keras.

"Sakit! Baka!"

"Kau tidak sakit. Tapi otakmu yang sakit!"decak Shikamaru dan mendengus kesal. Naruto tertawa kecil.

"Maaf-maaf! Akan ku belikan Dango untukmu, sebagai gantinya! Oke?"Naruto mengangkat tangannya hendak ber-High Five dengan Shikamaru.

"Chk! Terserah sajalah."

Plaak
Shikamaru pun kembali ke posisi nyamannya untuk tidur setelah ber-High Five dengan Naruto tadi.

"Hmm..."gumam Naruto yang membaca naskah itu.

"~Wahai pangeran! Kau seharusnya menikahi putriku, bukan aku!~ Cih! Menggelikan sekali."kata Naruto yang mencoba mempraktekkan naskah yang menurutnya konyol itu.

"~Tidak! Aku tidak bisa menikah denganmu. Maafkan aku.~"kata Naruto lagi. Tidak sadar jika seluruh penghuni kelas hampir tertawa saat melihat akting Naruto. Bahkan Shikamaru kini menopangkan kepalanya dengan tangan kirinya untuk menyaksikan kekonyolan Naruto.

Sakura yang melihat Naruto seperti itu menutup mulutnya untuk tidak tertawa keras. Ia melirik Sasuke yang masih berkutat dengan naskahnya. Ia mengernyitkan alis saat melihat Sasuke mengangguk-anggukan kepalanya.

"~Tapi aku mencintaimu, Ratu-ku! Aku tidak bisa mencintai putrimu.~"

"..."

"..."

"..."

Hening.

Semua orang cengo saat mendengar Sasuke membaca naskah itu dengan wajah datarnya. Hanya suaranya lah yang terlihat menghayati.

"~Seandainya kau berusaha untuk mencintai putriku, kau pasti bisa melupakan aku. Sekarang pergilah, pangeran!~"Naruto kini berdiri dari kursi sambil menatap tembok di belakangnya.

Sraak

"~Aku tidak mau membagi cintaku, kepada orang lain, Ratu-ku! Kumohon, jangan tinggalkan aku.~"Sasuke pun kini berdiri juga dan seperti tidak merasa jika kelas saat ini hening sambil menatap Sasuke dan Naruto yang saling membelakangi itu.

Naruto yang merasa jika ia berada dalam alam imajinasinya itu segera membaca dialog selanjutnya saat orang dalam imajinasinya membalas dialog-nya. Tidak sadar jika Sasuke yang membalas dialog tersebut.

"~Aku tidak bisa! Putriku adalah segalanya untukku. Aku masih mencintai mendiang Raja. Sekarang, pergilah! Dan temui putriku, Romeo~"

"..."

"..."

"..."

Sasuke mengernyitkan alis.

'Kenapa dialognya berbeda?'batin Sasuke yang ternyata sama seperti Naruto. Ia masuk dalam imajinasinya sendiri dan menganggap yang membalas dialognya adalah seorang gadis dalam pikirannya.

"Kau salah mengatakan dialog, Cinderlela."

'Cinderlela?'Naruto menaikkan sebelah alisnya.

"Aku ini Juliet, Romeo. Bukan Cinderlela!"

"Aku bukan Romeo, Cinderlela. Apa nenek sihir telah memberikan apel beracun padamu?"

"Apel beracun? Kau hendak meracuniku, Romeo? Kenapa kau begitu tega?"

"Aku hendak membawamu ke istana-ku, Cinderlela. Sadarlah! Aku ini pangeranmu!"

"Tidak! Kau bukan Romeo! Kau penyusup! PENJAGA! PENJAGA! ADA PENYUSUP!"

"Jangan berteriak, Cinderlela! Aku bukan penyusup! Aku hendak membawamu ke istana dan menikah denganmu, di istanaku."

"Tidak! Aku tidak mau menikah dengan Teme sepertimu!"

"Teme? Dasar dobe! Aku ini hendak menikahimu. Kenapa kau selalu Out Of Dialog sih?"

"Dobe? Dasar Teme! Sini kau! Biar aku patahkan lehermu, dasar Teme!"

"Cih! Dasar Dobe!"

"..."

"..."

"..."

"..."

"Teme/Dobe?"Sasuke dan Naruto baru sadar jika ada sebutan yang tak asing lagi itu. Sasuke dan Naruto berbalik dengan perlahan. Dan wajah mereka langsung memerah seketika.

"KAU?!"

"KENAPA KAU MENGIKUTI DIALOG-KU?!"

"BERHENTI MENGIKUTIKU DASAR TEME/DOBE?!"

"ARRGG?!"Sasuke dan Naruto pun buang muka dan duduk kembali di tempat duduknya. Semua warga kelas yang melihat akting tidak jelas barusan hanya cengo. Bahkan Sakura pun menganga tidak etis melihat adegan barusan.

"Eee... aku pikir, apel beracun itu ada dalam cerita Snow White. Bukan cinderlela."gumam seorang pria yang memakai sweeter berwarna hijau itu. Ia bernama Rock Lee yang kini tengah cengo bersama teman-temannya. Miris sekali.

"A-aku juga mulai menyadari, jika Romeo menyukai 'Daun Tua'."gumam Kiba pasrah saja.

"A-aku bingung harus malakukan apa..."kata Sai yang malah ikutan canggung saat melihat adegan barusan. Ia pun langsung membaca naskah yang ada di mejanya dan melihat dialog yang barusan di aktingkan oleh Sasuke dan Naruto barusan.

Tenten dan Hinata pelaku pembuatan dialog itu juga terbengong melihat adegan tanpa rekayasa barusan. Seharusnya, dialognya bukan seperti itu.

"Mereka luar biasa!"kata Tenten dan Hinata bersamaan. Naruto mulai bosan menatap Sai yang tengah berjibaku dengan dialognya.

"Sai! Apa yang kau lakukan di ruang guru?"tanya Naruto. Sai mendongakkan kepalanya. Sepertinya ia melupakan sesuatu. Ia pun terlihat berpikir keras sebelum ia menjentikkan jarinya.

"Ehem! Aku baru saja melapor pada ketua, jika kelas kita akan menampilkan drama berseries. Beliau bilang, ia akan mengusahakan kelas kita untuk tampil di aula barat untuk lokasi kita nanti. Sebagai bayarannya, beliau memintaku untuk mengosongkan kursi paling depan untuknya."cerocos Sai yang langsung membuat semua orang terkejut.

"Waah! Berarti Iruka-sensei sangat yakin jika drama kita akan sukses."decak kagum Tenten dan langsung memeluk Hinata bahagia.

"Yosh! Ayo kita adakan rapat sekarang. Asuma-sensei tidak akan masuk jam pelajaran hari ini, beliau hanya berpesan untuk tidak berkeliaran di luar kelas saat jam pelajarannya. Tenten! Bagaimana? kau sudah membagikan beberapa naskah dialog-nya?"tanya Sai yang kini berdiri di depan papan tulis.

"Eumm... masih banyak yang belum. Sakura-chan sebagai putrinya, Naru-chan jadi Ratunya, Sasuke jadi pangerannya, Shikamaru jadi peramalnya, dan kau menjadi pengawal pribadi Ratu. Hanya itu yang cocok dengan makhluk-makhluk di sini."kata Tenten yang mengeluarkan bertumpuk-tumpuk naskah dialog dari bawah mejanya.

Sai menatap anak buahnya satu persatu. Ada Hyuga Neji yang selalu diam. Ada Sabaku Gaara yang suka membaca buku. Mereka belum mendapatkan peran. Padahal wajah mereka cukup tampan jika masuk dalam drama itu.

"Hyuga Neji! Kau menjadi pengawal pribadi sang putri. Apa kau keberatan?"tunjuk Sai pada Neji yang sibuk memainkan Gadget terbarunya. Ia pun mendongak kemudian mengangguk saja. Tidak tau jika Neji sangat senang mendapatkan peran untuk menjadi pengawal pribadi Sakura.

"Ini naskah-mu, Neji."Tenten pun melempar naskah yang sudah menjadi buku tebal itu ke arah Neji. Dan ditangkap dengan mulus oleh Neji. Tak lupa dengan senyuman kecil di bibirnya sebagai tanda terima kasih. Sai kembali melihat wajah-wajah di kelasnya.

"Sabaku Gaara! Kau menjadi pengawal pangeran. Kau keberatan?"

"..."

"..."

"Eee Sabaku-san?"

"..."

"Oii, Sabaku! Kau mendengarku tidak?"

"..."

"GAARA?!"

BRAAAK

"HA'I SENSEI! DURAMETER ADALAH LAPISAN TERLUAR OTAK YANG MELEKAT PADA TULANG TENGKORAK YANG BERSIFAT KERAS! ARACHNOID ADALAH LAPISAN TENGAH YA-"

Grapp

"GAARA?!"

"..."

"..."

"...Asuma-sensei dimana?"

"Astaga! Sejak tadi kau tidur?"tanya Sai tidak percaya. Ia pantas saja ia dipanggil tidak menoleh barang sedikitpun dari buku yang ia pegang. Bahkan wajah Gaara terlihat sayu dan tidak seperti biasanya.

"Maaf. Semalam aku bergadang menghafal semua materi untuk pelajaran Asuma-sensei."kata Gaara acuh dan membuka kembali bukunya yang sempat terlupakan itu.

"Haahh... terserah! Kau menjadi pengawal pangeran, Gaara. Kau keberatan tidak?"tanya Sai lagi. Gaara mendongak sebentar. Menatap wajah Sai yang terlihat lelah itu dan kemudian menganggukkan kepalanya sekali.

"Haahh..."

"Gaara-kun. Ini naskah milikmu."Tenten pun memberikan buku itu pada Gaara. Sai menatap ke seluruh penjuru kelas lagi.

"Ino, Tenten, dan Hinata menjadi dayang-dayang istana!"

"Haaaaa'ii!"kata Tenten semangat. Ino hanya acuh. Ia sibuk mengecat kukunya yang terlalu indah di pandang daripada memandang wajah Sai yang membosankan itu. Sedangkan Hinata hanya mengangguk mengerti.

"Kiba! Kau menjadi adik sang putri. Kau keberatan?"

"Hehe. Kupikir, aku tidak akan mendapatkan peran."gumam Kiba seraya mengangguk semangat.

"Lee! Kau jadi penasehat istana."

"..."

"..."

"APA?!"teriak satu kelas. Mereka semua terlalu shock saat mendengar Rock Lee akan menjadi penasehat istana. Apa jadinya jika istana mempunyai penasehat seperti makhluk hijau itu. Mereka sampai tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi.

"YOSH! KOBARKAN SEMANGAT MASA MUDAAAA!"teriaknya heboh dan mendatangi meja Tenten untuk meminta naskah dialognya. Sai menghela nafas berat.

"Baiklah! Ini hanya pemilihan peran-peran penting saja. Yang lainnya akan aku buatkan struktur pembuatan drama ini."Sai pun mulai berbicara dengan Tenten dan Hinata serius. Semua siswa tampak antusias dengan acara ulang tahun sekolah ini.

Seheboh apakah persiapan kelas Naruto? Segila apakah akting mereka? Tunggu kelanjutannya yaa...

-ooo-

Review?