Terima kasih untuk Ucul Uchil, Boom Boom, Hinatauchiha69, Kensuchan, Uzumaki Satoshi, Guest (Ada 3 Guest yang review o.O), Luluk Minam Cullen, Mi Nubi ^o^/

Maaf telat ngucapinnya ^^v

.

.

'Kenapa? KENAPA?!'

BUK

Pemuda itu langsung meninju dinding ketika sudah berada diluar kelas.

Tidak memperdulikan sakitnya pada kepalan tangan ketika meninju dinding cukup keras dan…menyakitkan.

Rasanya ingin sekali marah, namun kepada siapa?

Tanpa sepengetahuan Naruto, seseorang dari balik dinding telah mengawasinya.

"Naruto-kun…"

.

.

Fire and Water

Naruto Masashi Kishimoto-Sensei

Naruto Namikaze

Sakura Haruno

Sasuke Uchiha

Hinata Hyuuga

Rate : T

Genre : Friendship/Romance/Hurt/Comfort/Terselip Genre lainnya

Warning : OOC, typo(s), Garing & sederet kesalahan lainnya

.

.

Yosh! Happy reading!

XxX

Tap Tap Tap

Tak lama suara derap langkah pun terdengar jelas oleh kesunyian taman dan suasana sore yang menyejukkan hati. Tidak lupa, disuguhkan sebuah tebaran kecil bunga-bunga Sakura dengan semilir angin yang menyentramkan jiwa.

"Sakura…"

Refleks sang gadis menoleh ke samping dan tersenyum mendapati sang pujaan hati telah datang menemuinya. Perlahan sang pemuda mendekati Sakura dan berhenti tepat didepannya.

Hening.

"Aku tahu, kau akan datang, Sasuke…"

Sasuke tidak merespon. Entah setan apa yang telah merasuki tubuh Sakura, tiba-tiba perasaan gadis itu menjadi ragu.

"Sasuke…Aku menyukaimu.."

Tidak ada reaksi dari sang Uchiha Bungsu. Hanya memberi tatapan datar kepada sang gadis.

"Melebihi itu—Aku mencintaimu, Sasuke… Sangat mencintaimu," Sakura menatap tanah sejenak dan berusaha untuk mengontrol detak jantungnya yang kini begitu cepat.

Hening.

Sebelumnya, Sakura telah memantapkan hati untuk menyatakan perasaan yang sebenarnya kepada pemuda yang di'idam'kannya sejak kali pertama masuk Konoha Senior High School. Dan, ia harus siap menerima jawaban dari lubuk hati sang pemuda saat ini.

Kemudian Sakura memejamkan mata dengan debaran jantung yang tak kunjung normal.

Harus siap, harus siap, harus siap untuk menghadapi jawabannya!

"Maaf. Aku mencintai seorang gadis dan gadis itu—bukan kau."

DEG

Ketika seorang gadis mendengar sebuah pernyataan yang begitu menyakitkan nan menusuk langsung keluar dari mulut orang yang sangat ia cintai, pasti ingin rasanya menangis maupun teriak kesetanan diatas jurang. Apalagi sampai bunuh diri. Tidak termasuk Sakura.

Perlahan wajah gadis itu dihiasi senyuman dan segera menunjukkannya kepada Sasuke.

Hum dari pandangan Sasuke, tidak ada penyesalan maupun kesedihan didalam senyuman tersebut.

Tegar menerima pernyataan menusuk darinya.

"Terima kasih atas jawabannya, Sasuke-kun!"

Kemudian Sasuke melangkah pergi tanpa sepatah kata pun untuk gadis yang baru ia tolak. Apakah tidak ada rasa bersalah kau terhadap gadis itu?

"Jadilah sahabatku, Sasuke…"

Sasuke berhenti dan melirik ke belakang. "Aku bersedia."

Senyuman lebar mengembang manis diwajah Sakura, sepertinya jiwanya kembali ceria. Baginya, cukup menjadikan pemuda yang ia cintai sebagai Sahabatnya. Walau telah ditolak, Sakura tidak akan bertindak bodoh dan nekat untuk mendapatkan pemuda itu.

Cukup sebagai Sahabat, Sakura sudah sangat senang.

Namun…

Siapa gadis yang telah mencuri hati Sang Tuan Muda Uchiha tersebut?

XxX

"Naruto-kun!"

Tidak merespon.

"Naruto-kun!"

Tidak merespon—lagi.

"Naru—" BRUK

Mendengar debuman samar tersebut, refleks Naruto menoleh ke belakang.

"Hinata!" Pemuda itu langsung berlari mendekati sang gadis dan segera membantunya berdiri."Kenapa kau ada disini, Hinata? Nanti kau—"

"A-aku cemas…" Hinata bergumam pelan dengan kepala menunduk. Membuat pemuda didekatnya tercengang sejenak.

"Maksud—"

"Kenapa Naruto-kun tak segera pulang?"

Naruto terhenyak sesaat dan ketika Hinata mendongak, kedua maniknya bertemu dengan kedua mata bulan tersebut. Segera, Naruto mengembang senyumannya seperti biasa.

"Kenapa? Memangnya…kau mau ikut denganku?"

Blush

"Ah? E-etto, a-aku—"

Tuh kan gugupnya kumat!

"Hahaha… Apa salahnya kita berjalan bersama, untuk menikmati indahnya sore hari?"

Deg Deg Deg

Oh ayolah Hinata! Ini sebuah kesempatan untukmu bukan?

Ingat! Kesempatan tidak boleh dibuang sia-sia.

Glek

"Um.. E-etto…" Kini sang gadis Hyuuga tengah memainkan kedua jemarinya satu sama lain. Suatu kebiasaan jika Hinata sedang gugup. "A-ayo.. Naruto-kun.."

'Argh! Seandainya kau adalah Sakura, Hinata-chan..' Frustasi Naruto dalam hati dan langsung menggenggam tangan sang gadis didekatnya. "Tapi—apakah aman?"

"Ja-jangan terlalu lama m-membawaku, Na-naruto-kun."

Senyuman—yang sukar dibaca oleh Hinata, kini hadir diwajah tampan yang disukai gadis itu.

"Aku tak akan membawamu pergi lebih lama, Hinata.."

XxX

"Terima kasih.."

"Datang lagi ya, Forehead!"

Refleks Sakura menoleh ke samping kemudian tersenyum lembut. "Iya, aku akan datang kembali dengan membeli bunga yang berbeda, Pig!" Sakura berseru riang dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda tepat pada ambang pintu.

Ino melipat kedua tangan disamping setelah mendapati 'sahabat kecil'nya menghilang.

"Huh, dasar. Akan ku tunggu, Forehead.."

Sebenarnya, pertemuan antara Dua-Gadis-Penggosip tersebut begitu jarang. Hum terbilang 'begitu', tidak juga. Mengingat keduanya telah menjalin persahabatan sejak Taman Kanak-Kanak dan harus berpisah ketika menginjak Sekolah Menengah Atas.

Meskipun begitu, tetap saja sikap keduanya tidak pernah berubah.

Author : Huhuhu.. Jadi ingat sahabat Nata disekolah *Curhat*

Readers : *Ngasih tisu bekas*

"Wah! Ternyata Sakura sudah pulang ya?"

Ino menoleh dan mendapati sang ayah sedang kerepotan membawa dua keranjang besar, pastinya isinya bunga yang baru saja dipetik dari Kebun Yamanaka.

"Aha! Sepertinya ada yang harus dibantu nih!" Serunya hendak mengambil alih salah satu keranjang dari lengan Inoichi, dan refleks dapat dihindarkan.

"Jangan dulu. Ada telepon untukmu, ketika kau sedang melayani Sakura.." Ucap Inoichi santai kemudian berlalu menuju ruang tengah. Seketika mengundang kernyitan dari sang gadis.

"DARI SIAPA, AYAH?!"

"TEMANMU, SI RAMBUT NANAS!"

Astaga! Si Rambut Nanas? Bukankah itu…

Seketika Ino melangkah tergopoh-gopoh dan berhenti tepat didepan telepon diatas meja kecil. Langsung menempelkan gagang telepon pada telinga.

'Ah! Masa iya sih? Dia menelponku tadi?'

Hendak menekan satu nomor saja, rasanya begitu ragu-ragu.

'Pasti ayah sedang bergurau.'

Ingin menelpon 'dia', Ino urungkan dulu. Perlahan meletakkan kembali gagang telepon lalu menyembunyikan blue eyes'nya didalam kelopak sejenak.

'Bodoh! Kenapa kau seperti ini sih, Ino?! Bukankah dia—tidak perduli padamu?'

Ino menarik nafas dalam-dalam dan urat-urat didahinya mulai berkedut.

"AYAH! GURAUAN AYAH TIDAK—"

KRING KRING

"Ah!" Gadis itu terpekik dan secara spontan, Ino mengangkat telepon tersebut.

"Moshi-moshi…"

"Bisa bicara dengan—Ino Yamanaka?"

Aha! Ternyata Inoichi tidak bergurau dan ini semua…nyata.

Seketika wajah Ino merona padam dan tersenyum geli mendengar pertanyaan barusan.

Seseorang disana sedang ingin berbicara dengannya?

Hey! Bodohnya jika tidak bisa membedakan antara suara laki-laki dan perempuan.

Bodoh? Tentu saja! Toh, perempuan didalam Keluarga Inoichi Yamanaka—hanya Ino. Setelah kepergian Sang Ibunda, perempuan satu-satunya didalam Keluarga ini…hanya Ino Yamanaka sendiri.

Hahaha, rasanya gadis ini ingin tertawa sepuas-puasnya.

"Iya, aku ada disini, Shikamaru Nara.."

XxX

Semilir angin yang selalu membawa ketenangan didalam hati, membantu gadis bernama Sakura Haruno cepat melupakan Peristiwa Pahit didalam kehidupannya.

Ditolak Sasuke Uchiha.

Sakura berdiri diatas hamparan luas disertai hijau menyegarkan jiwa disana. Sebuket bunga Lily telah tergenggam manis pada kedua tangannya dan menaruhnya dibelakang punggung.

Ah, rasanya Sakura ingin berteriak sepuas mungkin.

Menarik nafas dalam-dalam dan mencoba membuang rasa pedih didalam lubuk hati paling dalam.

"AKU TIDAK AKAN BENCI PADAMU!"

"Sakura-chan…"

DEG

Spontan Sakura menoleh ke belakang. "Naruto?!" Kemudian Emerald miliknya mendapati seorang gadis tepat disamping sang pemuda. "Hinata-chan? Ka-kalian—"

"S-sakura-chan? Kok sen-sendirian?"

Mendapati pertanyaan tersebut, refleks Sakura segera memalingkan wajah dari pandangan Naruto dan Hinata. Dan langsung menghapus cairan bening pada sebelah pipinya. "Ah, aku hanya ingin berjalan-jalan sendiri." Lirihnya menatap Naruto dan Hinata secara bergantian dengan senyuman.

"Sakura…"

"Oh iya! Kalian berdua juga! Darimana saja, hm?" Sakura mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Sa-sakura…"

"Ah~ Aku paham sekarang!" Mengedipkan sebelah mata. "Pasti sedang—"

"SAKURA! KAU BOHONG!"

DEG

Bagaikan kilatan yang sangat menyakitkan—sehingga Sakura hanya terpaku ditempat.

"PASTI TELAH TERJADI SESUATU BUKAN?!"

Sakura terhenyak sejenak dan menatap lekat Naruto, namun seolah yang sang gadis dapatkan hanya bayangan Sasuke pada diri Naruto. Ini aneh sekali.

"JAWAB SAKURA!"

GREB

Naruto langsung mencengkram kedua bahu Sakura sehingga kedua manik keduanya telah bertemu. "Ku mohon…"

Air matapun tak dapat terbendung kembali dan mengalir dengan mulus pada kedua pipinya.

Sakura menyerah.

Sejujurnya ia ingin seseorang untuk tempat sandaran. Dan…kini Sakura dapatkan orang itu.

Namun apa daya, ada seorang gadis yang sedari tadi telah berdiri terpaku memandang dirinya dan Naruto. Tatapan sendu.

Sekilas, Sakura dapat melihat sebuah cairan bening telah mengalir mulus pada sebelah pipi Hinata. Apakah gadis itu sedang..menangis?

Refleks Sakura melepas diri dari cengkraman sang pemuda dan mengambil kembali sebuket bunga Lily. "Tidak ada yang perlu kau cemaskan, Naruto.."

"A-apa?! Sa-sakura…"

Kemudian Sakura menoleh dan memberikan sebuket bunga cantik kepada Hinata. "Jangan khawatir, Hinata. Aku tidak akan menyukai Naruto.."

DEG

'Sa-sakura? Kau pasti—bercanda bukan?'

Naruto tercengang sesaat.

Ah selama ini dugaan Naruto benar.

Sakura menyukai Sasuke.

Mendengar pernyataan Sakura kepada Hinata, cukup membuat hatinya tersayat. Sudah cukup.

Sebelum pergi, Sakura sempat tersenyum untuknya. Dengan ditemani semilir angin—Sakura telah menghilang dari hadapannya.

Bagaikan bunga Sakura yang telah hilang terbawa angin. Dan mendarat entah dimana.

Rasanya kedua kaki tak sanggup kembali untuk menyeimbangkan tubuh. Kini lututpun telah menyentuh tanah hampa dan menatap kepergian Sang Pujaan Hati.

'Sebenarnya..Kau akan mendarat kepada siapa, Sakura?'

~TBC~

Akhirnya selesai juga chap 3! *Cium lepi*

Maaf jika chap 3 ceritanya makin gaje TT_TT Karena otak sedang setengah error*?*, jadi ceritanya cukup berantakan deh.. Gomen! *Bungkuk-bungkuk*

Oh iya, Nata sengaja menaruh adegan 'sedikit' ShikaIno, mau dimunculkan lagi tidak? Soalnya adegan ShikaIno terlanjur menggantung XD

Oke! Jika cerita ini kurang panjang, kurang puas, kurang apapun.. Silakan bilang! ^o^/

.

.

Ups! Review'nya ya! XD *Ditendang Readers*