Arigatou untuk Readers yang setia mengikuti Fanfic gaje ini ^^v *Tebar kiss

*Readers langsung tepar o.O

.

.

"Jangan khawatir, Hinata. Aku tidak akan menyukai Naruto.."

DEG

'Sa-sakura? Kau pasti—bercanda bukan?'

Naruto tercengang sesaat.

Ah selama ini dugaan Naruto benar.

Sakura menyukai Sasuke.

Mendengar pernyataan Sakura kepada Hinata, cukup membuat hatinya tersayat. Sudah cukup.

Sebelum pergi, Sakura sempat tersenyum untuknya. Dengan ditemani semilir angin—Sakura telah menghilang dari hadapannya.

Bagaikan bunga Sakura yang telah hilang terbawa angin. Dan mendarat entah dimana.

Rasanya kedua kaki tak sanggup kembali untuk menyeimbangkan tubuh. Kini lututpun telah menyentuh tanah hampa dan menatap kepergian Sang Pujaan Hati.

'Sebenarnya..Kau akan mendarat kepada siapa, Sakura?'

.

.

Fire and Water

Naruto Masashi Kishimoto-Sensei

Naruto Namikaze

Sakura Haruno

Sasuke Uchiha

Hinata Hyuuga

Rate : T

Genre : Friendship/Romance/Hurt/Comfort/Terselip Genre lainnya

Warning : OOC, typo(s), Garing & sederet kesalahan lainnya

.

.

Moshi-moshi! Balik lagi bersama Nata imut! *Dilempar sendal*

Um, maaf Publish sangat lama karena Kuota habis dan kesibukan di Duta u,uv Sekali lagi, Nata minta maaf! *Bungkuk-bungkuk*

.

.

Yosh! Happy Reading!

XxX

Aku Tidak Akan Menyukai Naruto..

Sakura terbangun dan segera menyentuh kepalanya yang sedari malam begitu nyeri. Sesaat ia mencerna kejadian kemarin sore.

'Apakah—Naruto marah padaku?' Otak jenius milik Sakura kini tidak dapat berpikir jernih kembali. Sakura tidak mengerti sendiri. Mengapa kemarin ia mengucapkan perkataan yang–mungkin dapat menyinggung perasaan Naruto?

Se'ganggu-ganggunya Naruto kepadanya. Sakura menjadi menyesal karena terlanjur mengucapkan 'sangat pedas' kepada Hinata tentang Naruto.

Well, Sakura memang selalu melontarkan kata-kata 'super pedas' kepada Naruto, dan ajaibnya, pemuda Namikaze tersebut tetap mengganggu Sakura. Toh, namanya juga Naruto mengagumi—ehem, menyukai Sakura.

Tapi…kemarin begitu berbeda.

Sebelum Sakura benar-benar meninggalkan Naruto dan Hinata, Sakura menyempatkan diri untuk melirik ke arah pemuda yang terpaku disamping Hinata. Diam dan Gelap.

Apakah itu semua hanya perasaan Sakura?

Gadis itu langsung menggelengkan kepala dengan cepat untuk menepis pemikiran yang sedari malam telah mengganggunya dan…terbebani.

Setelah menyelesaikan acara mandi hanya 10 menit, Sakura duduk dan bersandar pada sisi jendela kamarnya sambil memasang satu-persatu kancing seragam.

Hening.

Semilir angin di pagi hari perlahan menghapus semua beban pada dirinya. Sakura memejamkan mata sejenak dan terbuka kembali.

DEG

Tampak seorang pemuda dengan surai blonde'nya yang damai diterpa angin, kini terhenti. Refleks dari bawah, blue sapphire telah bertemu emerald.

'Naruto!' Jerit Sakura dalam hati dan langsung membalikkan diri dari tatapan Naruto dibawah.

'Jangan melihat kesini!'

Hening.

Tidak ada teriakan yang mampu memekakan telinga.

Tunggu. Apakah Naruto yang dilihat Sakura, adalah Naruto—Asli?

Stop Sakura! Apakah otak kejeniusanmu telah menghilang dan digantikan oleh otak kengawuran? Kemana pemikiran jernihmu, heh?

Tidak ingin ambil pusing. Sakura langsung merapikan diri dan menyambar tas miliknya. Sebelumnya, Sakura tidak mengecek lebih dahulu. Apakah Naruto masih berdiri disana atau tidak.

"Ohayou Sasori-Nii!" Sembari menuruni anak tangga dari kamarnya, sang gadis pinky langsung menyambar roti tawar tanpa selai Strawberry kesukaannya. Tidak lupa menyapa sang Kakak Kedua Tersayang.

Ternyata tingkah sang Adik, menyebabkan terhentinya sarapan sang Kakak.

Sejenak pemuda Babyface tersebut melirik Sakura dan segera meraih pergelangan Otoutou'nya—sebelum benar-benar meninggalkan meja makan. "Ada apa, hm?"

Hening.

Akhirnya Sakura memilih menggigit sisi rotinya, ketika mendapati tatapan tenang nan menusuk dari Sasori.

Haaa jika dibandingkan dengan tatapan menusuk dari sang Kakak. Lebih baik, Sakura memilih menyerahkan diri untuk ditusuk oleh berjuta-juta pedang tajam!

Demi dicium Manda, Sakura tidak kuat melihat tatapan itu!

Tampan-Tampan Menusuk Hati. Itulah sebutan untuk Sasori—Si Kakak Kedua.

"Kenapa terburu-buru?"

Sakura tersadar dan langsung menggelengkan kepala. Membuat rasa penasaran Sasori memuncak dengan kedua mata telah menyipit. Tatapannya itu lho! *Author ngacir* *Diseret balik Readers*

Good Job, Sakura Haruno!

Semakin membuat Sasori penasaran, semakin Sakura sukar membuat alasan untuk Nii-san Tersayang.

Jika ke'penasaran'nya Sasori rendah, keselamatan Sakura masih didapat. Jika memuncak?

Sakura menelan paksa rotinya dengan sebelah pergelangannya masih digenggam oleh Sasori.

"Err, um…yeah i-itu…"

"Hm?"

'Seandainya kau bukan Kakakku, sudah aku tendang dari tadi ke Planet Mars!' Umpatnya sambil terus mencari alasan yang sangat tepat. "Um, a-ano—"

"Sudahlah, Sasori. Jangan terlalu memaksakan Adik Kecilmu itu.."

Refleks Sasori dan Sakura menoleh ke pemuda yang kini menarik kursi makan. Ah ternyata Sang Kakak Tertua muncul.

Dewi Keeruntungan masih berpihak kepada Sakura.

"Tch!" Sasori langsung membuang paksa pergelangan tangan Adiknya dan melanjutkan memakan roti tawar selai Blueberry.

"Arigatou Pein-chan! Aku Berangkat!" Seru sang gadis dan langsung meninggalkan wajah Pein yang kini berubah menjadi masam. Sementara Sasori hanya terkikik setelah mendengar embel-embel chan dibelakang nama Nii-san'nya.

"DASAR ADIK DURHAKA!"

"Sudahlah, Nii-san. Lagipula, Suffix Chan juga cocok untuk—GLEK" Sasori menelan paksa makanan ketika mendapati aura tidak enak tepat dibelakangnya.

"Kau…"

Selamat bersenang-senang, Sasori!

XxX

"Uuh! Semua ini gara-gara Sasori!" Sakura terus berlari dan sesekali menerobos orang-orang yang sedang berlalu lalang disana. Tidak memperdulikan tatapan heran maupun tidak enak dari siapapun.

Pikiran Sakura melayang sejak kemarin—sampai sekarang.

Mengingat tadi gadis itu menunggu taxi dan telah terbuang 15 menit. Padahal 15 menit adalah waktu selama perjalanannya menuju sekolah. Kenapa terbuang sia-sia?

Masa bodoh.

Sakura memilih berlari bagaikan dikejar berpuluhan Polisi daripada menjadi patung didepan rumah.

Kali ini, Dewi Keberuntungan tidak berpihak kepadanya.

BRUK!

Tuh kan! Apa kata Author bilang barusan?!

Otomatis sang gadis langsung terjatuh ke belakang dengan mendaratkan cukup keras pantat lebih dulu ke tanah.

"Ukh.."

"Sakura-chan! Maaf!"

Suara ini…suara yang telah familiar masuk ke dalam telinga Sakura.

Refleks Sakura menengadahkan wajah dan mendapati wajah dengan kumis kucing pada pipi pemuda tersebut.

"Sakura-chan, tidak apa-apa?" Setelah membantu sang gadis berdiri kemudian membersihkan pasir-pasir kecil pada seragam dan rok gadis itu.

Aku Tidak Akan Menyukai Naruto..

"TIDAK!"

DEG

Naruto tersentak sesaat lalu menatap kedua mata Sakura yang kini meneteskan air mata.

"Sa-sakura-chan?"

Perlahan kedua bahu bergetar dan menundukkan kepala. "Tolong…"

"Sakura.."

"Tolong jangan terlalu baik padaku, Naruto!" Hendak melangkahkan kaki agar menjauh dari sang pemuda, namun pergelangannya lebih cepat didapat.

"SAKURA!"

GREB

Sakura terbelalak ketika seluruh tubuhnya telah terkunci oleh kedua lengan kuat milik Naruto.

"Kau—masih memikirkan kejadian kemarin ya?"

DEG

Walau bibir tak terucap sepatah katapun, tapi hati kecil Sakura telah berkata 'ya'.

"Jangan memaksakan dirimu, Sakura.." Kini sebuah pelukan telah melonggar pada tubuh Sakura. "Kita bisa menjadi Sahabat, kan?"

Oh Kami-sama, ini terlalu cepat untuk Sakura.

Entah karena apa, perasaan Sakura telah berubah menjadi—kecewa?

Kenapa harus ada rasa kekecewaan pada dirinya?

Padahal, Sakura tidak—menyukai Naruto bukan?

Untuk kali pertama, Sakura tidak suka pernyataan yang terdengar sedikit pahit dari Naruto. Namun untuk memastikan perasaan Sakura yang sebenarnya kepada pemuda ini..

Sakura langsung mengiyakan apa yang diinginkan Naruto.

"Yosh! Sekarang kita menjadi Sahabat!" Seru Naruto dan langsung merangkul bahu Sakura dengan senang hati.

'Kenapa kau sangat senang, Naruto?'

XxX

"Uuh, lihat mereka berdua, Shikamaru! So sweet~"

"Tch. Pemandangan merepotkan."

Ino langsung menyikut kesal perut Shikamaru. "Huuu! Bilang saja jika kau iri pada mereka, kan?"

"Ck, mendokusei!" Akhirnya Shikamaru memilih bungkam dan menatap malas kedua insan tengah berpelukan dibawah pohon Sakura.

Sebenarnya Shikamaru sendiri sempat bertanya pada dirinya sendiri.

Kapan ia bisa seperti itu bersama—gadis disampingnya? Well, tahu kan, siapa gadis yang ingin sekali Shikamaru peluk?

Namun, itu semua hanya ilusi belaka.

Gadis disukainya telah menyukai lelaki lain. Ehem, kata gadis itu sih, ia sedang menyukai seorang lelaki yang nyaris setiap hari hobinya melukis.

Jika dibandingkan dengan hobi lelaki itu, Shikamaru memilih tidur satu bulan penuh.

Ah bodohnya dia. Yang selalu mengharapkan gadis itu menyukai dirinya yang Pemalas.

PUK

"Hei, Shikamaru!" Seru gadis itu sambil menepuk pelan pipi Shikamaru, refleks pemuda itu sedikit tersentak kemudian mengedarkan pandangan kikuk ke Ino.

"Hm? A-apa?"

Ino menghela sejenak. "Kita sudah sampai didepan gerbang sekolahmu.."

"Ah?" Kini pandangan Shikamaru mengarah pada kedua gedung kokoh yang begitu megah berpisah dan saling berhadapan. Ah Ino benar, itu Konoha Senior High School—sekolahnya.

"Cepat masuklah! Aku tidak ingin kau terlambat masuk! Sepulang sekolah nanti, kita bertemu disini ya!"

Tunggu, sepertinya ada yang mengganjal pada diri Shikamaru.

"Tapi, bukankah—"

CUP~

"Sampai nanti, Nanas!" Ino berseru dengan lambaian tangan ke Shikamaru dan menghilang pada belokan.

Shikamaru membeku. Kemudian menyentuh sebelah pipinya—bekas ciuman dari sahabat perempuannya.

Inilah alasan Shikamaru menyukai gadis itu sejak Sekolah Menengah Pertama.

Sebuah senyuman tipis pun hadir diwajah tampannya.

'Sepertinya…aku akan bermimpi indah hari ini..'

XxX

KRING KRING

"Baik, sampai disini pelajaran Sejarah hari ini. Selamat pagi.." Ucap Kakashi-sensei sembari membuka buku saku pada sebelah tangannya dan berlalu keluar kelas.

"PAGI, SENSEI!"

"Oi Shikamaru! Dari tadi tidur mulu! Bangun napa!?"

"Hmmm… Jangan ganggu mimpi indah-ku, Kiba! Mendokusei!"

"Teme~ Ke kantin nyok!"

"Tidak."

"Huh! Dasar Pantat Ayam!"

"Ck, Shut up, Dobe!"

"Hinata! Tolong hapuskan papan tulisnya! Karena sekarang giliranku membuang sampah.."

"Ah? Ba-baik, Tenten-chan."

Kemudian Hinata beranjak dan hendak mengambil penghapus papan pada kotak kecil, namun tidak ada.

'Lho? Kemana penghapusnya?' Pikirnya bertanya kemudian mendekati lemari kelas pada sudut ruangan.

Tampak kedua laki-laki yang sedang kejar-kejaran untuk merebutkan sesuatu.

"Hei! Itu milikku!"

"Enak saja! Ini milikku, bodoh!"

BRUK

Tiba-tiba salah seorang diantara kedua laki-laki tersebut menyenggol punggung Hinata, sehingga sang gadis oleng dan menabrak lemari didepannya—dan terjatuh ke lantai.

Justru tabrakan barusan mengakibatkan ketidakseimbangan lemari, terlebih lagi…Hinata tidak mengetahui hal itu.

"Ah! L-lemarinya akan menimpa Hinata!"

"Hinata-chan! Cepat menyingkir dari situ!"

Nihil. Kini Hinata merasakan sebelah kakinya tidak dapat digerakkan.

Perlahan lemari tersebut menghuyung ke depan, tepat mengarah Hinata.

"AWAS!"

"Teme! Kau mau kemana?!"

Sudah terlambat. Hinata tidak dapat menggerakan kaki kanannya dan—lemari didepannya akan menimpanya. Mungkin ia akan mati.

"KKYYYAAA!" Jeritnya ketika lemari tersebut beberapa detik akan membunuhnya.

BRUAGH!

~TBC~

Akhirnya saya kembali membawa Chapter 4!

(Readers : Kemana aja lu?!)

Ah maaf-maaf! Oh iya, Nata tambah sedikit nih. Disini Sakura mempunyai dua kakak kandung, tau kan siapa? Um, kalau Sasori jadi Nii-san'nya Sakura, masih cocok. Tapi kalau dia…*Ngelirik Pein* *DiRinnegan*

Oke! Ceritanya makin ngawur ya? Atau apa?

Baik! Jangan lupa Review'nya! XD *Ngacir*