"Kapan adik Nalu akan lahil kaa-chan?"
Anak laki-laki berambut kuning itu tampak menatap ibunya yang ada di depannya sambil mengusap perut besar ibunya. Namikaze Naruto adalah anak berusia 2 tahun, merupakan anak dari seorang Yondaime Hokage dan juga Uzumaki Kushina. Saat ini, ibunya tengah mengandung adiknya dan sudah memasuki bulan kesembilan akhirnya.
"Sebentar lagi, dan kau akan menjadi kakak yang baik untuk adikmu bukan?"
"Uhm! Tentu, Nalu akan jadi kakak yang hebat," ibunya tampak tertawa dan mengusap kepala Naruto. Saat ia akan berbicara lagi, seseorang tampak menggendongnya dari belakang dan membawanya diatas bahu. Pria berambut kuning yang mirip dengannya dan mengenakan jubah Hokage itu tersenyum dan menatap mata sapphirenya.
"Apakah jagoanku sudah siap untuk menjadi seorang kakak?"
"Ya! Bahkan Nalu ciap untuk mengambil topi Hokage ini dali tou-chan!" Namikaze Minato hanya tertawa mendengar anak sulungnya yang baru berusia 2 tahun itu tampak selalu mengatakan itu padanya.
"Baiklah, dan tou-chan akan memberikan topi ini saat kau sudah menjadi Hokage nanti," Naruto tersenyum dan mengangguk cepat. Minato tersenyum kearah Kushina yang membalas senyumannya, "maaf karena aku harus meninggalkanmu saat seperti ini. Tenang saja, aku akan kembali secepatnya sebelum bayi kita lahir."
"Tentu saja dattebane! Lagipula kita sudah pernah melakukannya saat aku melahirkan Naruto bukan?"
"Tou-chan mau pelgi?" Naruto yang memegang rambut ayahnya tampak menatap Minato yang tersenyum dan mengangguk dengan tatapan sedikit bersalah, "tetapi bagaimana dengan kaa-chan?"
"Kau tidak berani untuk menjaga kaa-chan selama tou-chan pergi? Bukankah kau ingin menjadi Hokage?"
"U—uh! Nalu macih kecil dan adik juga belum lahil, jadi tidak apa-apa kalau belum kuat!" Kushina dan juga Minato tertawa, tidak pernah tidak terhibur dengan apa yang dikatakan oleh Naruto.
"Tenang saja, tou-chan akan kembali sebelum adikmu lahir. Lagipula kaa-chan juga membutuhkan Tou-chan…"
"Kalau begitu Nalu akan menjaga kaa-chan campai tou-chan kembali!"
.
Hidden Tears
Rated : T
Genre : Family/Angst
Pairing : NaruxFem!Sasu | Fem!NaruxUndecided
Naruto © Masashi Kishimoto
Warning : Cool!Naru, Strong!Naru, OOC!Naru, SemiDark!Naru, Alive!Minato
.
Note :
Usia Naruto lebih tua dari Rookie 12 sebanyak 2 tahun
Cerita ini, Sasuke jadi perempuan (Namanya : Satsuki)
Fem!Naru atau Naruko yang seumur sama Rookie 12.
.
Summary :
Naruto adalah anak dari Uzumaki Kushina dan Namikaze Minato. Tidak ada yang aneh dengan kelahirannya, tidak ada sama sekali penyerangan Kyuubi yang terjadi. Namun, dua tahu kemudian saat ayahnya sedang tidak ada dan adiknya akan lahir, seorang pria bertopeng menculik ibunya, dan mengeluarkan Kyuubi dari dalam tubuhnya. Naruto kecil harus melihat ibunya dan 'kakek'nya tewas di depan matanya sementara Kyuubi dikunci di dalam tubuh adiknya.
.
"Naruto, kau bisa menunggu diluar tempat ini bukan?"
Seorang pria tua yang menyandang gelar Sandaime itu menatap pada anak laki-laki berusia 2 tahun itu. Jadwal kelahiran dari Kushina lebih cepat daripada yang dikira, dan sekarang Minato belum kembali ke desa meninggalkan Naruto yang ketakutan saat melihat ibunya yang kesakitan dan segera memanggil Sandaime.
"Ti—tidak, Nalu halus menjaga kaa-chan!"
"Kalau begitu berdirilah di samping ibumu dan jadilah anak yang baik oke?" Naruto mengangguk mendengar apa yang dikatakan oleh pria yang sudah ia anggap sebagai kakek sendiri itu. Berjalan dan melihat ibunya yang tampak berbaring diatas sebuah tempat tidur yang ada di dalam gua.
"Aku mempelajari segel yang digunakan untuk menahan Kyuubi, jadi aku akan melakukannya menggantikan Minato," Sandaime segera mempersiapkan diri sementara salah satu iryo-nin dan juga Biwako istrinya tampak mengangguk dan mempersiapkan kelahirannya, "kalian segera informasikan hal ini pada Minato!"
"Baik Sandaime-sama!"
"Kaa-chan!" Naruto tampak cemas melihat Kushina yang kesakitan dan memegang tangan ibunya yang tampak berkeringat itu, "kaa-chan tidak akan apa-apa bukan? Tou-chan cudah beljanji akan dating cebelum adik lahil…"
"Tidak apa-apa Naru-chan, kaa-chan tidak akan apa-apa walaupun tou-chan tidak ada. Karena adikmu tidak bisa menunggu," Naruto tampak merasa sedikit sakit saat tangannya diremas oleh Kushina yang sebenarnya mencoba untuk menahan diri.
"Sudah saatnya Kushina, kau bisa melakukan ini saat Naruto lahir, lakukan sekali lagi," Biwako yang berada di depan kaki Kushina mencoba untuk mengecek keadaanya. Melihat Hiruzen yang sudah siap untuk menahan chakra Kyuubi yang mungkin keluar dari tubuh Kushina saat melahirkan, ia mengangguk, "ayo Kushina, kau bisa mendorongnya!"
"Serahkan Jinchuuriki Kyuubi padaku…"
Proses persalinan berjalan sangat lancar dan Kushina melahirkan anak perempuan saat itu. Namun, saat Sandaime yang juga berhasil menahan chakra Kyuubi hingga selesai akan menyegelnya lagi, seorang yang misterius datang membunuh Biwako dan salah satu Iryo-nin yang membantu Kushina, dan menyekap bayi yang baru lahir itu.
"Naruko!"
"Siapa kau?! Bagaimana kau bisa masuk kemari?" Sandaime mencoba untuk mencari cara menyelamatkan Naruko—bayi perempuan yang baru lahir itu dari tangan pria misterius itu. Naruto sendiri yang bingung tampak panik karena adiknya yang baru saja lahir sudah berada di tangan orang jahat.
"Kau tidak perlu tahu, yang kuinginkan dari kalian hanyalah Jinchuuriki Kyuubi itu," orang itu menatap pada Kushina yang tampak masih lemah dan segelnya tampak semakin melemah. Sandaime benar-benar tidak bisa berkonsentrasi penuh melihat istrinya yang tewas, segel Kyuubi yang melemah, dan juga seorang bayi tidak berdosa di tangan pria yang sudah dipastikan memiliki niat yang tidak baik.
Namun sebelum bereaksi, tampak sebuah kunai kayu yang tentu saja tidak akan melukai mengenai pria itu. Sandaime yang menyadari itu menoleh dan menemukan Naruto yang melempari pria itu dengan kunai kayunya.
"Lepaskan Naluko! Kau tidak boleh mengambilnya!"
"Naruto!" Pria itu akan melukai Naruto saat Naruto berlari dan dengan segera menggigit tangannya hingga pegangan pada Naruko terlepas dan hamper saja bayi itu terjatuh sebelum Naruto bergerak menangkap dan melindunginya.
"Kau—" Sandaime yang tampak melihat sebuah bom kertas akan diberikan pada Naruto yang saat itu terjatuh karena melindungi Naruko segera melakukan shunshin dan membawa kedua anak itu sebelum bom meledak.
DHUAR!
"Hh, aku tidak bisa menggunakan shunshin yang cepat seperti Hiraishin milik Minato, tetapi ini sudah cukup untuk membawa Naruto dan Naruko pergi," Sandaime tampak menatap Naruto yang ketakutan namun masih menggendong adiknya dan itu cukup membuat Sandaime tersenyum, "Naruto, kau bisa menjaga adikmu bukan? Aku akan menyelamatkan ibumu…"
"Tidak! Nalu cuda beljanji akan menjaga kaa-chan campai tou-chan datang!"
"Tetapi Naruto…" Sandaime menatap kearah Naruto yang tampak menatapnya seolah mengatakan kalau ia tidak akan meninggalkan yang lainnya, "kau harus menjaga adikmu bukan?"
"Y—ya, tou-chan meminta Nalu untuk menjaga Naluko," Hiruzen tampak tersenyum dan menepuk kepala Naruto, "tetapi—"
"Naruto, ini adalah tugasmu sebagai kakak bukan?" Hiruzen menatap Naruto yang membulatkan matanya dan pada akhirnya mengangguk pelan. Sandaime itu tersenyum dan mengangkat tangannya sebelah dan beberapa ANBU tampak muncul disana. Dan berdiri di belakang Naruto yang masih menggendong Naruko.
"Lindungi mereka berdua, aku akan mencoba untuk menahan Kyuubi…"
"Kau sudah tidak dibutuhkan lagi karena aku sudah mendapatkan Kyuubi. Sekarang, matilah—" Kushina yang masih hidup namun tampak sekarat karena Kyuubi dilepas dari tubuhnya tampak pasrah saat melihat Kyuubi yang akan menginjaknya. Namun, saat itu dengan segera Hiruzen mencoba untuk melakukan Shunshin dan menyelamatkannya.
"H—Hiruzen-sama…"
"Maaf aku tidak bisa secepat Minato, aku akan mencoba untuk menghentikannya…"
"Di—dimana Naruto dan Naruko…"
"Mereka selamat, aku akan membawamu ke tempat mereka," ia mengangkat sebelah tangannya dan beberapa ANBU tampak datang dan menatap kearah Kushina dan juga sang Hokage ketiga itu, "bawa Kushina ke tempat Naruto dan juga Naruko. Aku akan menahan Kyuubi…"
Dan saat ia memastikan ANBU sudah membawa Kushina ke tempat yang aman, ia mendengar suara dentuman dari desa yang menunjukkan kalau Kyuubi muncul dan menghancurkan desa secara tiba-tiba. Membulatkan matanya, pada akhirnya ia menggigit jempolnya.
"Kuchiyose no Jutsu…"
"Tunggu," Kushina yang akan dibawa ke tempat yang aman tampak mencoba untuk menghentikan ANBU yang membawanya saat merasakan sesuatu. Ia menoleh kearah salah satu sisi hutan, dan menemukan sosok Naruto dan juga Naruko yang tampak berdiri dan menatap kearah Kushina.
"Naruto… Naruko…" Kushina tampak terkejut—kedua anaknya tampak bergerak mendekat dan Naruto hanya menatap ibunya dengan tatapan cemas, "kenapa kau ada disini Naruto, ini berbahaya…"
"Kaa-chan tidak apa-apa? Nalu cuda beljanji pada tou-chan akan menjaga kaa-chan…"
"Naruto…" Kushina hanya tersenyum sedih mendengar itu. Namun, saat suara dentuman keras terdengar, ia menoleh untuk menemukan Kyuubi yang tampak sudah tidak memiliki mata sharingan lagi. Sepertinya gelar professor yang tersematkan dalam nama Sandaime bukan hanya sebuah sebutan saja.
Namun kenyataan kalau Kyuubi lepas dari kontrol bukanlah sesuatu yang baik.
"KUSHINA!" Suara Sandaime terdengar saat tapak dari Kyuubi tampak berada sangat dekat, bahkan membunuh semua ANBU yang ada di dekat Kushina dan juga Naruto serta Naruko. Memeluk kedua anaknya dan mencoba untuk melindungi mereka.
"….fuin…"
Sebuah fuin yang tampak digunakan oleh Kushina saat Sandaime berada di dekat mereka melindungi mereka, membuat posisi Kushina dan juga Hiruzen serta Naruto dan Naruko bersama Kyuubi berpindah ke salah satu tempat di luar Konoha.
"Apa yang kau lakukan tadi…?"
"H—Hanya Fuin untuk berpindah tempat, yang dikembangkan oleh Minato untuk keadaan buruk seperti ini…" Kushina tampak terduduk, dan Naruto yang masih ada di dekapan Kushina tampak terkejut saat melihat ibunya yang tampak sangat pucat terbatuk dan mengeluarkan darah yang banyak.
"Kau sudah mengeluarkan banyak chakra Kushina, biar aku yang—"
"Tidak, aku masih bisa menahannya," Kushina menatap kearah Hiruzen dan segera mengeluarkan rantai chakra yang membentuk kekkai dan juga menahan gerakan Kyuubi.
"Kaa-chan!" Naruto mendekati ibunya yang tampak menatap Naruto dan Naruko yang menangis, dan ia hanya tersenyum lemah menatap pada anak bungsunya.
"Maaf Naruto, sepertinya kaa-chan malah membuat adikmu ketakutan…" Kushina tampak mencoba untuk tetap menahan Kyuubi dengan chakra yang menipis, "maaf Hiruzen-sama, aku akan mencoba untuk menyegel Kyuubi dalam tubuh Naruko… Aku tahu hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan desa dan juga Naruto serta Naruko… Kumohon, katakan pada Minato kalau aku meminta maaf karena tidak bisa menemaninya dan anak-anak kami… dan katakanlah, untuk menjaga Naruto dan Naruko…"
"Kau tidak perlu melakukan itu bukan?"
"Tidak apa-apa, tidak ada lagi yang bisa dilakukan—lagipula aku sudah sekarat dan… kemungkinan terburuk ini sudah difikirkan oleh kami berdua," Kushina tertawa, dan Naruto hanya bisa terdiam dengan tubuh gemetar, "aku bersyukur Minato tidak ada disini… dan satu-satunya yang bisa kusesali hanyalah tidak bisa melihat Naruko dan Naruto tumbuh…"
"Kaa-chan…"
"Maaf, karena kaa-chan tidak bisa melihatmu menjadi Hokage Naruto… tetapi kaa-chan yakin kau bisa melakukan itu," Kushina menatap Naruto yang matanya sudah basah oleh air matanya, "banggakan ayahmu dan adikmu…"
…
"Aku bisa saja menyimpan chakra pada tubuh Naruko dengan Hakke Fuin—tetapi chakraku tidak cukup untuk melakukan itu…"
"Aku akan melakukannya Kushina," Kushina menatap pada Hiruzen yang ada di depannya, "simpan chakramu untuk melakukan Hakke-Fuin—" Hiruzen membuat sebuah segel tangan yang tentu saja dimaksudkan untuk memanggil shinigami, "aku akan menggunakan shiki fujin untuk mengunci chakra Kyuubi pada Naruko…"
"Tetapi—desa masih membutuhkan anda Hiruzen-sama!"
"Masih ada Minato Kushina, aku hanyalah orang tua yang sudah cukup lama hidup dan saatnya untuk melakukan sesuatu demi desa," sosok Shinigami tampak muncul di belakang Hiruzen saat itu, dan Kushina tahu semua ini sudah terlambat, "kita harus melakukannya dengan cepat."
…
"Hiruzen-sama…"
"Jiji?" Naruto menatap kearah Hiruzen yang sudah ia anggap kakeknya sendiri.
"Maaf Naruto, lindungi desa menggantikanku oke?" Hiruzen tersenyum dan membuat Naruto membulatkan matanya. Ia tidak ingin—rasanya kakeknya akan pergi meninggalkannya sekarang, namun ia tidak bisa melakukan apapun saat itu dan hanya menatap kedua orang di depannya, "Fuin…"
Dan tampak tangan shinigami menusuk pada tubuh Kyuubi dan juga menembus tubuh Hiruzen. Saat itu ukuran Kyuubi mengecil, dan tampak Hiruzen yang kelelahan dengan yang ia lakukan. Bagaimanapun Shikifujin memerlukan chakra yang besar.
Mengeluarkan sebuah altar di depan mereka, dengan segera meletakkan Naruko yang ia ambil dari Kushina di atas altar itu.
"UHUK! UHUK!"
"Kaa-chan!" Naruto yang melihat itu tampak berlari dan mencoba mendekati Kushina. Saat itu Kyuubi yang rantainya tampak mengendur memanfaatkan kesempatan itu dan mengangkat cakarnya.
"KUSHINA, NARUTO!"
Kushina yang mendengar suara sang Hokage ketiga itu tampak membulatkan matanya dan dengan segera mendorong Naruto ke depan dan membiarkan cakar Kyuubi menembus tubuhnya begitu juga dengan Hiruzen yang mencoba untuk membantunya.
"A—anda tidak perlu melakukan sampai sejauh ini Hiruzen-sama…"
"Kalau sampai Naruko dan Naruto terbunuh bukankah sama saja semua yang kita lakukan ini sia-sia saja?" Kushina tampak menatap Naruto yang saat itu hanya berjarak beberapa centi dari ujung cakar Kyuubi dan hanya menatap mereka dengan tatapan kosong dan membulat, "aku akan memasukkan chakramu pada Naruko. Kita tidak punya banyak waktu Kushina…"
…
"Kaa-chan…"
"Naruko, maaf karena kaa-chan tidak bisa ada di kehidupanmu… tetapi tenang saja, ayahmu dan juga kakakmu akan melindungimu…" Kushina menatap bayi yang ada di atas altar itu dan tersenyum dengan darah yang keluar dari mulutnya, "maaf karena kaa-chan tidak bisa mengajarkanmu… memberikanmu kasih sayang seperti pada kakakmu… dan mengajarkanmu bagaimana menjadi Kunoichi yang hebat… tetaplah makan dengan teratur jangan seperti ayahmu dan kakakmu yang bahkan… kaa-chan tidak bisa menghentikan mereka saat berhadapan dengan ramen… lalu mandilah yang teratur, dan belajarlah dengan rajin… kau juga harus menghormati guru-gurumu…"
Kushina terdiam menatap Naruko dan juga Naruto.
"Kaa-chan benar-benar ingin bersamamu dan juga ayah serta kakakmu. Kaa-chan ingin menghabiskan waktu bersamamu… mencari pemuda yang cocok untukmu seperti kakakmu dan juga ayahmu," Kushina tampak menangis dan menatap kearah Naruto saat itu, "maaf Naruto… kaa-chan malah menghabiskan waktu untuk berbicara dengan adikmu… tetapi—"
"Tidak apa-apa kaa-chan…" Naruto tampak menghapus air matanya namun masih menundukkan kepalanya, "Na—Nalu akan menjaga Naluko dan juga desa… kaa-chan tidak pellu mengatakan apapun…"
…
"Maaf Naruto," Kushina tersenyum sambil mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh wajah Naruto, "kaa-chan menyayangimu… katakan pada ayahmu kalau kaa-chan meminta maaf padanya…"
Naruto hanya mengangguk dan tidak mengatakan apapun.
"Sudah saatnya Kushina…"
"Ya," ia membentuk sebuah fuin pada Naruko di depannya dan tersenyum untuk terakhir kalinya.
"Hakke Fuin…"
"APA KATAMU!?"
Minato yang tampak berada di pertengahan jalan menuju ke Konoha tampak ditemui oleh anggota Ne suruhan dari Danzo. Sepertinya elang pengirim pesan yang diberikan untuk memberitahu Minato tentang kejadian di Konoha tampaknya dibatalkan oleh Danzo.
"Pertemuan dengan Kazekage sangatlah penting dan Danzo-sama tidak akan membiarkan anda untuk meninggalkannya…"
"KUSHINA DAN JUGA NARUTO BERADA DISANA! KAU FIKIR AKU AKAN DIAM SAJA DAN MELAKUKAN PERTEMUAN BODOH ITU!" Minato tampak menatap kedua ANBU Ne di depannya saat ini yang tampak sedikit tersentak karena tatapan Naruto. Kakashi yang menemani gurunya tampak mencoba untuk menenangkannya.
"Sensei, sebaiknya kita melihat keadaan desa sekarang…"
"Che," Minato segera melakukan Hiraishin dan pergi menuju ke Konoha.
Saat Minato datang adalah saat dimana Kyuubi baru saja tersegel dengan pengorbanan dua orang dan juga seorang anak perempuan. Meninggalkan dua orang anak laki-laki dan perempuan—bayi perempuan yang menangis tanpa henti, diatas tanah saat altar yang dikeluarkan tadi menghilang seperti asap.
Naruto melihat kearah adiknya, dan tampak mencoba untuk menghapus darah yang ada di perut Naruko dengan pakaiannya. Tatapannya kosong saat itu, dan ia sama sekali tidak bisa melakukan apapun dan hanya menatap mayat Kushina dan juga Hiruzen di depannya.
Hingga suara langkah yang terdengar mendekat, Naruto hanya diam dan mendekat adiknya saja.
…
"Naruto!"
Minato yang tiba disana segera menghampiri Naruto yang tidak bergerak ataupun melakukan apapun meski adiknya menangis sangat keras. Minato sendiri terdiam saat melihat Kushina dan juga Hiruzen disana, dalam keadaan tak bernyawa dan juga Naruto yang tampak berlumuran darah di tubuhnya.
"Kushina…" Minato tampak menutup matanya erat dan berdecak kesal. Ia segera berjongkok dan melihat Naruto yang masih menundukkan kepalanya dan tampak mendekap erat seorang bayi disana, "Naruto kau tidak apa-apa?"
"…napa…" Naruto bukan tidak mengetahui kalau ayahnya ada disana, tetapi ia masih mencerna apa yang terjadi tadi, "kenapa tou-chan tidak ada dicini? Kaa-chan dan Naluko dan jiji melawan monctel itu, dan—dan Nalu tidak bica melindungi meleka, Nalu ingin tou-chan datang dan menyelamatkan kaa-chan…"
…
"Ka—kalau tou-chan ada dicini, kaa-chan dan jiji tidak akan meninggalkan Nalu bukan? KENAPA TOU-CHAN TIDAK ADA!" Naruto tampak berteriak dan menatap Minato di depannya yang sukses membuat Minato menyerengit karena tatapan yang diberikan padanya adalah sebuah tatapan kosong tanpa ekspresi—ralat, ekspresi benci yang diberikan oleh Naruto, "NALU BENCI TOU-CHAN!"
Kalau saja Minato tidak menangkap Naruko, bayi itu akan benar-benar terjatuh ke tanah saat Naruto berdiri begitu saja dan berlari meninggalkan Minato yang masih berdiri dan tidak mengatakan apapun. Kakashi yang baru tiba tampak terkejut saat Naruto menabraknya dan tampak berlari begitu saja.
"Sensei…" sang ANBU tampak mendekat dan terkejut melihat Kushina serta Hiruzen, serta bayi di pelukan Minato. Dan ia mengerti—karena mendengar teriakan terakhir dari Naruto yang membuat Minato menjadi seperti itu, "haruskah aku mengejarnya sensei?"
"Tidak Kakashi… bagaimanapun ini adalah salahku," Minato tampak mendekap erat Naruko di pelukannya dan mengeratkan giginya, "semuanya… salahku…"
"Keputusanmu untuk tetap berada di Sunagakure dan melanjutkan pertemuan sudah bagus Minato. Karena Sunagakure akan benar-benar berperang dengan Konoha jika kau mementingkan hal pribadimu. Hiruzen masih sangat cukup untuk melindungi desa," salah satu petinggi tampak berbicara saat pertemuan satu hari setelah penyerangan itu. Minato bukan tidak ingin bereaksi namun ia masuk shock dan lelah dengan semua itu.
"Kumohon… jangan mengatakan apapun lagi tentang 'keputusanku' tetap berada di Sunagakure. Karena aku mencoba menahan diri untuk tidak membunuh kalian semua disini," Minato berbicara dengan nada datar, dan menatap semuanya dengan tatapan dinginnya membuat semua orang bergidik merasakannya.
"S—semua warga menunggu berita tentang apa yang terjadi pada Kyuubi. Satu-satunya saksi mata yang kompeten saat itu hanyalah anak sulungmu Namikaze Naruto," Minato tampak mengepalkan tangannya erat, "kami sudah memanggilnya kemari."
Minato menoleh saat mendengar perkataan itu, dan tampak pintu terbuka menunjukkan Naruto yang dikawal oleh dua orang ANBU dikiri dan kanannya.
"KALIAN BERCANDA?! Naruto masih berusia 2 tahun dan ia tidak seharusnya ikut dalam pertemuan ini!" Minato tampak menatap tidak percaya kearah Hotaru dan semua orang disana.
"Naruto-kun yang mengatakan pada kami dan dengan sukarelawan ingin menceritakannya pada kami Minato," Minato tampak tidak percaya mendengar itu, namun ia menatap pada Naruto yang masih menatap lantai dengan tatapan kosongnya, "jadi, kau adalah orang yang melihat kejadian sebenarnya Naruto-kun, apa yang terjadi pada monster rubah yang kau katakan itu?"
…
Minato tahu apa yang terjadi—saat ia melihat Hakke Fuin yang tergambar diperut Naruko.
"Kaa-chan… dan Jiji memacukkan monctel itu," Minato menyerengit, sungguh—ia ingin Naruto tetap diam tentang status adik perempuannya sebagai seorang Jinchuuriki Kyuubi, "meleka mengunci monctel lubah itu—"
.
"—di tubuhku…"
To be Continue
Agak ga kontrasi sama summarynya? Memang kaya gini, ntar lihat aja gimana akhirnya ^^
Oke, beberapa waktu belakangan banyak yang bikin ffic yang jadiin Minato jadi jahat ya :( saya sedih lihatnya, karena itu menurut saya sedikit Bashing!Minato #malahcurcol
Jadi, saya bikin ffic ini saat lagi iseng-isengnya aja, maaf ya kalau sampai tidak mengenakkan ^^
Untuk saat ini kayaknya belum ada yang harus diterangin, jadi silahkan RnR aja :)
