Arigatou buat yang udah review…
Kalian bikin chibi semangat buat nerusin cerita ini…
Gomenne minna-san…
Chibi udah berusaha buat alur yang begitu cepat tapi apa daya chibi tetep aja dikomen alurnya terlalu cepat…
Semoga chapter ini menjadi chapter dengan alur yang sesuai…
Rated : M
Pair : GaaNaru
Warning : OOC, Yaoi, BL, MXM, Rape
Don't Like Don't Read
Disclaimer : milik Masashi Kishimoto seorang
Chapter 2
"Tadaima."
"Okaeri. Tumben kau pulang cepat, Kakashi?" terdengar sautan dari dalam ruangan yang membuat Naru bersembunyi dibalik badan Kakashi
"Naru takut, Tou-san."
"Jangan takut. Ayo masuk ke dalam."
"Kau bicara dengan siapa, Kakashi?" berjalan menuju pintu depan, "Eh, siapa itu?"
"Dia anak dari Minto dan Kushina."
"Ah, anak lintah darat itu. Lalu kenapa dia kau bawa kemari? Apa tidak ada sanak saudara yang mau merawatnya?" tanya Iruka dengan ketus
"Aku tidak tega dengannya. Dia diperlakukan seperti budak oleh orang tuanya sendiri. Maka dari itu, aku putuskan untuk merawatnya. Apa kau keberatan?"
Irukapun menoleh ke arah Naru yang justru bersembunyi di balik punggung Kakashi, "Kau tahu kan kalau akupun tak mungkin akan tega membiarkan anak tidak bersalah ini besar di tangan lintah darat?"
"Bagus. Tapi ada satu kekurangan anak ini?"
"Apa itu?"
"Walaupun dia sudah kelihatan dewasa, jiwanya masih anak kecil dan dia juga tidak berani berinteraksi dengan orang lain. Baru denganku dia mau sedikit berinteraksi. Jika dia bertemu dengan orang yang baru dikenalnya maka dia akan takut dan berteriak. Kata dokter itu adalah trauma yang dialaminya selama 15 tahun."
"Ya Tuhan." Melirik ke arah Naruto, "Hey, jangan takut. Kemarilah."
"Naru, ini adalah istri Tou-san."
"Istri?"
"Iya, sayang. Aku Iruka. Namamu siapa?"
"Nama Naru Naruto. Mmm… Tou-san?" menarik baju Kakashi
"Iya?"
"Naru lapar." Pernyataan Naruto disambut senyum oleh Iruka dan Kakashi
"Kau beruntung, Naru. Ayo kita masuk. Aku sudah memasakkan makan malam untuk kalian." Ajak Iruka
"Hum… Baunya sedap sekali… Ayo masuk." Kakashi menggandeng Naru masuk ke ruang makan
"…"
"Ada apa, Naru? Jangan takut. Disini adalah rumahmu sekarang. Kau boleh lakukan apapun yang kamu mau."
"…"
"Hey, kau baik-baik saja?"
"Naru menyerah."
"Hah?"
"Naru menyerah, Tou-san."
"Menyerah bagaimana maksudmu?"
"Yang Naru tahu itu, Kaa-san adalah wanita. Tapi setelah bertemu dengan Kaa-san, Naru bingung? Apakah Kaa-san itu wanita atau pria?"
"Hahahahaha… kau ini ada-ada saja. Sudah ayo kita makan dulu. Katanya kau lapar?"
"Emm… Baiklah." Walau dengan rasa penasaran dan kebingungan, Naruto tetap mengikuti Kakashi
Selesai makan, Kakashi mengajak Naruto untuk melihat kamar yang akan di tempatinya. Kamar bernuansa jingga dengan tempat tidur queen size berwarna biru beserta segala perlengkapannya.
"Nah Naru, mulai mala mini kamar dan semua yang berada disini adalah milikmu. Kau boleh menggunakannya sesukamu."
"Apa Naru boleh tidur diatas tempat tidur itu?"
"Tentu saja, Naru. Bukankah Tou-san sudah bilang kalau kau boleh menggunakan semua yang ada disini sesukamu?" Kakashi mengusap kepala Naruto
"Naru tidak akan di pukul lagi?"
"Tidak akan sayang. Selama kamu di sini, tidak akan ada yang memukulimu lagi. Ayo cepat kamu ganti baju dan tidur."
"Naru pakai ini saja."
"Lho kenapa, sayang?"
"Naru tidak boleh memakai pakaian yang aneh-aneh. Naru tidak boleh punya kamar yang besar. Naru tidak boleh tidur di atas tempat tidur. Naru tid…"
"Ssshhhttt. Disini Naru boleh melakukan apa saja." Kakashi memotong perkataan Naruto dengan memeluknya erat
"…"
"Naru percaya pada Tou-san kan?" Naruto mengangguk
"Kalau begitu, sekarang Naru ganti baju. Baju Naru sudah Tou-san siapkan di lemari. Pilih yang manapun Naru suka."
"…" Naruto dalam diam berjalan menuju tempat tidur dan duduk di sana
"Ada apa lagi Naru?"
"…Hiks…" terdengar isakan lirih Naruto
"Hei… Jangan menangis… Sudah ada Tou-san dan Kaa-san sekarang. Naru jangan takut lagi ya?" ujar Kakashi sambil mengelus punggung Naruto
"Apa Naru bermimpi, Tou-san?"
"Hmm?"
"Baru kemarin ini Naru berdoa supaya ada yang mau menolong Naru. Rasanya Naru masih setengah bermimpi kalau Naru sudah tidak akan dipukul lagi."
"Naru sayang. Kamu tidak bermimpi. Coba kamu pegang tangan Tou-san, terasa hangat bukan?" Narutopun langsung memeluk Kakashi
"Arigatou ne, Tou-san."
"Doita, Naru. Sekarang kamu cepat ganti baju lalu tidur."
"Hai', Tou-san."
Setelah semua penghuni di tertidur, termasuk Naruto. Suasana hangat dirumah itu tak kunjung menghilang. Hal inilah yang bisa membuat Naruto segera terlelap dalam tidurnya. Namun, di dalam alam mimpinya…
"Anak kurang ajar! Kau berani sekali mengadu pada inspektur itu?!" bentak Minato sembari memecut Naruto
PLLAAAAKK! CTTTRAAARR!
"AAAGGGGHHHTTT! Ampun, Tou-san. Naru tidak pernah mengadu ke Tou-san Kakashi. Naru diam. Naru anak baik." Jawab Naruto sembari menahan sakit
"Dasar bodoh! Kau anak durhaka! Kenapa kau memakai pakaian bagus?! Mengapa kau berani mengisi perutmu dengan makanan?! Harusnya kau selesaikan semua pekerjaanmu! Kau pikir kau bisa bebas, Naru?! Lihat saja! Tunggu pembalasan yang akan kau terima!"
PLLAAAAKK! CTTTRAAARR! PLLLAAAAKKK! BUUUUUAAAAGGHHH!
"Agghhh! Ampun Tou-san. Maafkan Naru!" Naruto menjerit kesakitan
"Naru! Ada apa?" tanya Kakashi yang segera datang ketika mendengar teriakan Naruto
"Ampun! Hentikan Tou-san, jangan pukul Naru lagi! Tou-san am…"
"Naru!"
"Tidak! Jangan!" memukul secara membabi buta ke arah Kakashi
"Naru, ini Tou-san Kakashi. Tenanglah." Memeluk Naruto yang bercucuran keringat
"Tou-san… Tou..san.. Huuuuaaaa…Hiiiks…Huuuuaaa…"
"Sssshhh tenanglah. Tou-san ada di sini. Tenanglah." Kakashipun terus menemani Naruto hingga ia mulai tenang
Tok…Tok…
"Naru. Kaa-san buatkan kau susu hangat. Minumlah." Kata Iruka
"Ari…ga…tou."
"Kau sudah tidak apa-apa?" tanya Kakashi
"…" Naruto mengangguk
Tiba-tiba telepon Kakashi berbunyi
"Halo dengan Inspektur Kakashi. Baik. Iya. Baiklah. Saya mengerti."
"Dari siapa?" tanya Iruka
"Dari kantor. Aku disuruh menangani Kasus di Suna untuk beberapa hari ke depan."
"Tou-san mau pergi?" tanya Naru dengan mata yang masih meneteskan air mata
"Iya, Naru."
"Tou-san jangan pergi." Memegang tangan Kakashi
"Naru, Tou-san harus pergi."
"Tidak."
"Sayang, Tousan pergi untuk menyelamatkan anak-anak sepertimu dari ancaman penjahat seperti mantan ayahmu dulu."
"…"
"Maafkan Tou-san, Naru."
"Apa nanti Tou-san juga kaan membawa anak-anak seperti ke sini?"
"Hmm… Untuk apa?" menoleh ke arah Iruka yang hanya membalas dengan gelengan
"Naru tidak mau Tou-san punya anak lain selain Naru."
"Kenapa seperti itu, sayang? Apa Naru tidak ingin punya saudara?" kali ini giliran Iruka yang membuka suara penasarannya
"Naru hanya tidak ingin Tou-san dan Kaa-san jadi tidak sayang Naru lagi. Naru tidak mau Tou-san pulang dengan membawa anak lain lagi. Cuma naru yang akan menjadi anak Tou-san dan Kaa-san."
1 detik…
3 detik…
5 detik…
"Wahahahaha…" Kakashi terawa sedangkan Iruka hanya mampu tersenyum lembut, "Kau benar-benar anak yang menarik, Naruto. Walau ada banyak anak di luar sana yang nasibnya sepertimu, Tou-san tidak akan memilih mereka."
"Benarkah itu?"
"Tentu saja, sayang. Sampai kapanpun kau adalah satu-satunya putra kami."
"Yey! Daisuki Tou-san, Kaa-san."
"Wareware wa mata, mo daisuki.1" Mereka mengecup pipi Naruto bergantian
"Besok, kau akan ikut Kaa-san ke pasar."
"Pasar?"
"Iya. Besok setelah mengantar Tou-san berangkat ke Suna, kita akan berbelanja. Kau mau kan menemani Kaa-san, Naru?"
"Baik, Kaa-san."
"Sekarang kau tidurlah lagi. Ini masih tengah malam." Ujar Kakashi
"Tou-san…"
"Ya?"
"Bolehkah Naru tidur bersama Tou-san dan Kaa-san?" tanya Naru dengan mata berbinar
Saling memandang, "Tentu saja. Malam ini kita tidur bersama."
"Yatta." Tersenyum melihat Naruto bahagia
"Oyasumi, Naruto." Kata Iruka sambil mengecup dahi Naruto dan Kakashi menaikkan selimutnya
"Oyasumi Tou-san, Kaa-san."
Keesokan paginya…
"Tou-san berangkat dulu. Kau baik-baiklah di rumah."
"Iya, Tou-san."
"Berhati-hatilah, Kakashi."
"Aku tahu. Aku pasti akan berhati-hati. Kau juga jaga dirimu dan Naruto."
"Iya."
"Ittekimasu."
"Itterasai."
"Itterasai, Tou-san."
"Baiklah, Naru. Sekarang kita pergi."
"Baik, Kaa-san."
Naruto dan Iruka berjalan menuju pasar. Iruka sengaja memilih untuk berjalan kaki karena Iruka berinisiatif untuk melatih Naruto terbiasa dengan keramaian.
"Apa kau masih takut, Naru?"
"Hu_um."
"Biasakan dirimu. Orang-orang di sini tidak akan menyakitimu jika kau rama kepadanya."
"…"
"Oh, Iruka."
"Asuma, tumben kau di pasar?"
"Iya, aku menemani istriku. Kau sendiri, sedang bersama siapa?" melirik kea rah Naruto yang mengintip dari balik punggung Iruka
"Ini adalah korban salah satu lintah darat yang ditangkap Kakashi."
"Oh, jadi kalian merawatnya? Hm…Manis juga." Mendekati Naruto yang semakin gemetaran
"Kaa…Kaa-san…"
"Jangan terlalu dekat, Asuma. Dia ini phobia dengan orang yang belum dikenalnya."
"Eh, tapi kenapa dia memanggilmu Kaa-san?"
"Mulai seminggu yang lalu, dia sudah menjadi bagian dari keluargaku. Dia memanggil Kakashi dengan sebutan Tou-san otomatis aku menjadi Kaa-san."
"Hahahahahaha…" suara tawa Asuma membuat Naruto makin takut dan bersembunyi
"Pelankan suaramu! Dasar berisik." Tegur Kurenai
"Hai, Kurenai. Apa kabar?"
"Iruka. Baik. Siapa anak manis dibelakangmu itu?"
"Dia anak Iruka dana Kakashi."
"Begitukah? Siapa namamu, Manis?"
"Naru, ini adalah teman Kaa-san. Paman brewok disana namanya Asuma sedangkan Bibi ini namanya Kurenai."
"Emm… Nama Naru Naruto. Salam kenal Asuma-ji-san, Kurenai-ba-san." Ucap Naruto malu-malu yang membuat semua orang di sekitarnya gemas
"Kyaaa kawai… Ne ne Naru-chan, muali hari ini mau berteman dengan bibi?"
"Berteman?"
"Iya. Lain kali bibi ajak Naru jalan-jalan, makan, apapun yang Naru inginkan."
"Apapun?" menoleh ke arah Iruka dan disambut Iruka dengan anggukan
"Bibi dan paman ini tidak akan menyakitimu. Jadi bertemanlah dengan mereka."
"Tapi, Kaa-san?"
"Ya?"
"Naru tidak tahu caranya berteman?" dengan ekspresi yang menggemaskan (silahkan reader bayangkan sendiri #plaaak)
"Kyyaaa…Naru…" memeluk Naru, "Naru, hanya perlu tersenyum ketika kita bersama-sama."
"Tersenyum?"
"Iya. Senyum itu menandakan kita bahagia."
"Senyum."
"Baiklah kalau begitu. Mulai sekarang kita berteman." Ajak Asuma semabri mengulurkan tangan
"…" terdiam dalam bingung
"Pegang tanganku, Naru."
"Begini?" menggenggam tangan Asuma
"Iya."
"Oke. Hari ini, sampai di sini dulu. Hari sudah makin gelap. Mari kita pulang, Naru."
"Baiklah, Kaa-san."
"Jaa na Ji-san, Ba-san."
Sementara itu di Suna, Kakashi berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan atasannya yaitu menangkap penjahat paling di buru, Orochimaru. Penjahat kelas kakap yang tak kenal belas kasih itu berhasil dilumpuhkan Kakashi di tempat tinggalnya.
"Jangan bergerak! Tempat ini sudah dikepung!"
"Ada apa ini?"
"Jangan berpura-pura tidak tahu, Orochimaru. Kau ditangkap atas tuduhan penculikan dan penjualan anak."
"Apa? Kalian tidak punya bukti."
"kalau bukti yang kau maksud, aku sudah memilikinya dikantor. Kita akan bicarakan semua itu di pengadilan nanti."
"Omae…" dengan menahan amarah
"Cepat tangkap dia!"
"Baik!"
Setelah itu, Kakashi di panggil menuju rumah Kepala Desa Suna.
"Selamat, Inspektur Kakashi. Kami amat sangat tertolong karena kau telah berhasil menangkap Orochimaru." Ucap Kepala Desa
"Sudah menjadi kewajiban saya sebagai petugas keamanan."
"Mari ikut saya makan bersama penduduk desa yang lain."
"Terima kasih. Tapi saya rasa…"
"Saya tidak menerima penolakan."
Kakashipun mengikuti Kepala Desa memasuki rumahnya. Di sana ia mendapat sambutan hangat oleh penduduk Suna.
"Kita bersulang atas keberhasilan Inspektur Kakashi." Ajak Kepala Desa
"Aye!"
"Kanpai!" teriak Baki
"Kenapa kau murung? Apa makanannya tidak enak?" tanya Kepala Desa
"Ah, tidak bukan begitu. Makanannya enak hanya saja saya memikirkan anak dirumah."
"Oh, kau sudah memiliki anak?"
"Ya, walau bukan anak kandung tapi saya sudah menganggapnya seperti anak saya sendiri."
"Begitu. Apa dia sendirian di sana?"
"Tidak, dia bersama istri saya."
"Lalu, apa yang kau khawatirkan?"
"Karena perilaku keluarganya di masa lalu dia menjadi punya tekanan batin yang mengakibatkan mentalnya menjadi terganggu. Dia adalah anak manis yang terjebak dalam tubuh dewasa. Walau sudah mencapai 20 tahun tapi jalan pikirnya masih seperti anak usia 10 tahun."
"Kasian sekali anakmu. Kenapa tak kau tanyakan saja penyakit itu ke dokter?"
"Masalahnya, Naruto itu takut untuk berinteraksi dengan orang lain. Aku takut bukan menyembuhkan justru hal itu bisa membuat dia ketakutan dan stress."
"Ah, aku dengar anak wali kota itu sedang kuliah kedokteran dan sekarang sedang praktek di salah satu Rumah Sakit di Konoha."
"Benarkah? Di Konoha?"
"Iya, dia itu pemuda tampan dan jenius. Siapa saja yang bertemu dengannya pasti jatuh hati." Ucap Matsuri
"Hahaha begitukah?"
"Haish.. kau itu, Ingat umurmu." Kata Kepala Desa
"Ah, biar saja. Suka-suka aku kan?"
"Tapi memang benar, anak wali kota itu jenius. Siapa tahu saja dia bisa membantumu menyembuhkan putra kesayanganmu itu." Ujar Kepala Desa membenarkan penyataan Matsuri
"Baiklah, akan aku coba bertemu dengannya sepulang dari sini."
"Yosh… Sekarang saatnya kita berpesta. Kanpai!" ajak Matsuri
"Kanpaaii!" sambut seluruh warga desa
Tanpa disadari ada sepasang mata yang terus memperhatikan gerak-gerik Kakashi.
"Halo?"
"Bagaimana?"
"Dia memiliki anak. Di Konoha. Tamapaknya anak itu sedang menderita penyakit."
"Oh, baguslah. Kini kita bisa melancarkan rencana selanjutnya. Kau pergilah selidiki lebih detail lagi tentang keluarga Kakashi itu."
"Baik."
TBC
1) Kami juga menyayangimu
Seleeeeseeeeeeeeeeeeee…
Chibi udah berusaha membuat yang paling panjang tapi tetap aja chibi merasa alur disini masih cepat #plaaakkk
Maafkan chibi…
Tapi chibi tetap minta review dari minna-san #memelas
