Arigatou minna-san buat yang udah review…

Gomenne … Chibi gak bisa bales satu-satu…

So let's enjoy this…


Rated : M

Pair : GaaNaru

Warning : OOC, Yaoi, BL, MXM, Rape

Don't Like Don't Read

Disclaimer : milik Masashi Kishimotoseorang


Chapter 3

Tepat dua minggu setelah aksi penangkapan Orochimaru, Kakashipun kembali ke Konoha tak lupa ia membawakan oleh-oleh untuk putra kesayangannya.

"Tadaima."

"…" tak ada sahutan

"Naruto? Iruka? Dimana kalian?" mencari ke seluruh penjuru rumah, "Haah, mereka pasti main di luar. Lebih baik aku mandi dulu."

Sementara itu di taman…

"Kaa-san, Kaa-san liat itu." Naruto menunjuk sebuah toko kecil penjual aksesoris, "Naru, boleh ke sana? Banyak yang berkilau… Naru mau ke sana… Boleh ya, Kaa-san?"

"Iya, sayang. Tapi Kaa-san mau ke supermarket dulu, apa Naru berani ke sana sendiri?"

"Naru berani."

"Benar berani?"

"Iya, Kaa-san."

"Kalau begitu kamu tunggu Kaa-san sampai datang. Jangan pergi dari sana sebelum Kaa-san jemput, mengerti?"

"Iya." Jawab Naruto sambil tersenyum

"Hati-hati menyebrang, Naru."

"Hai', daijoubu." Naruto menjawab sambil berlari ke arah toko di seberang jalan.

"Wahhh…" Naruto takjub dengan barang-barang di toko itu

Toko itu adalah sebuah toko aksesoris. Baru kali itu, Naruto melihat dan memegang barang-barang berkilauan yang nampaknya sangat mahal itu.

"Ada yang bisa saya bantu, Nak?" tanya penjaga toko

"Ah, Ossan. Naru mau kalung ini." Kata Naru mengangkat kalung berbatu biru yang amat indah seperti matanya

"Oh, ini?"

"Iya."

"Kalung ini pasti untuk orang spesialmu?"

"Spesial?"

"Iya. Kamu mau memberikannya untuk siapa, Nak?"

"Hm… Kaa-san dan Tou-san Naru."

"Untuk keluarga ya? Baiklah, paman akan memberikan diskon untuk kalung ini. Apa kau ingin mengambil ketiganya?"

"…"

"Kenapa kau diam?"

"Naru tidak punya uang."

"Hem… Maaf Nak, jika kau tidak memiliki uang, Ossan tidak bisa memberikan kalung ini."

"…" Naruto terdiam dengan wajah sendu

"Biar saya yang membayarnya, Ossan." Penjaga toko dan Naruto menoleh ke arah suara itu.

Dilihatnya pemuda tinggi dengan rambut dan kulit yang putih.

"Benar kau yang akan membayarnya?"

"Iya, saya tidak tega melihat wajah manisnya menjadi mendung seperti itu." Jawab pemuda itu tersenyum ramah pada Naruto

"…" Naruto terheran-heran dan sedikit takut dengan pemuda yang tiba-tiba muncul ini

Setelah selesai membayar, pemuda itu mengajak Naruto untuk duduk di dekat taman. Awalnya Naruto menolak dengan alasan dia masih menunggu Kaa-sannya selesai belanja. Namun, pemuda itu membujuknya untuk menunggu di dekat supermarket tempat Kaa-sannya berbelanja. Akhirnya Naruto menyetujui ajakan itu. Walau Naruto mengatakan setuju tapi dia tetap diam dan menjaga jarak dengan pemuda itu. Naruto masih takut dengan pemuda yang baru dikenalnya saat membeli kalung di toko tadi. Setelah melalui percakapan (walau Naruto hanya bisa mengangguk dan menggeleng), Naruto mengetahui nama pemuda itu adalah Kimimaro. Dia seorang Dokter muda di Rumah Sakit Konoha. Walau pemuda itu bersikap ramah dan sopan kepada Naruto, entah kenapa Naruto merasakan aura yang menakutkan dari Kimimaro.

"Naruto." mendengar suara Kaa-sannya memanggil, Naruto langsung berlari memeluknya. Hal ini membuat Kimimaro heran.

"Ada apa, Naru?" tanya Iruka heran dan Naruto hanya menggeleng

"Perkenalkan saya Kimimaro. Saya bertemu dengannya di toko aksesoris tadi."

"Oh benarkah? Perkenalkan saya Iruka, orang tua Naruto."

"Jadi namanya Naruto?"

"Iya. Maafkan Naruto ya? Dia memang sedikit takut dengan orang yang belum dikenalnya."

"Tidak apa-apa. Oh iya, sebentar lagi saya ada rapat." Merogoh sakunya, "Ini kartu nama saya dan ini aksesoris yang Naruto beli di toko tadi."

"Ah, terima kasih banyak. Berapa harga kalung ini? Biar saya ganti uangnya."

"Tidak usah. Anggap saja hadiah perkenalan dari saya."

"Baiklah, terima kasih. Naruto ucapkan terima kasih padanya."

"Te…terima kasih."

"Sama-sama, Naruto. Kalau begitu saya mohon pamit dulu."

Setelah Kimimaro pergi, Irukapun mengajak Naruto untuk pulang. Sesampainya dirumah, Iruka senang melihat kepulangan Kakashi. Namun, Naruto masih diam. Irukapun menceritakan pertemuannya dengan Kimimaro dan perubahan sikap Naruto sehingga Kakashi bisa memakluminya. Kakashipun berusaha menghibur Naruto dengan memeberikan hadiah yang sudah ia siapkan. Hal itu, memebuat Naruto sedikit senang namun tidak sesenang biasanya. Naruto memutuskan untuk naik ke kamarnya setelah makan malam. Iruka cemas melihat tingkah laku Naruto yang tiba-tiba berubah seperti dulu walau tidak terlalu parah.

"Kakashi, apa menurutmu Naruto akan kembali seperti dulu lagi?"

"Saa… Tapi aku yakin Naruto akan baik-baik saja. Mungkin dia belum terbiasa dengan orang asing yang baik kepadanya."

"Tapi dia tidak apa-apa saat bersama Asuma dan Kurenai?"

"Ya itu karena mereka adalah sahabat kita bukan? Sudahlah jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kita nikmati mala mini. Sudah lama aku tidak menyentuhmu."

"Dasar mesum."

"Tapi kau juga merindukanku, bukan?"

"Kalau kau sudah mengerti, kenapa kau tanya lagi?"

"Kau itu…"

"Mmmm…aaahh…mmmnnn…" Kakashipun mencium Iruka dengan agresif semabri melucuti pakaian Iruka

"Ahhhh…hhhnnnn…" Iruka mendesah ketika dengan nakalnya Kakashi menghisap kedua nipplenya bergantian.

"Tampaknya tubuhmu menjadi sensitive sekali ya?"

"Ja…jangan menggodaku…Haaahh…Baka…"

"Hm… Bukankah kau menyukainya? Apalagi saat aku menyentuhmu disini."

"AAAGGHHH…mmngghh…aaahhhnnnn…nnnnhhhh~" Iruka hanya bisa mengerang saat Kakashi dengan kasar menganiaya titik prostatnya.

Udara dingin dan semilir angina tak mampu memadamkan kobaran rindu yang telah memanaskan kamar itu. Keringatpun bercucuran dari kedua tubuh sejoli yang menumpahkan rindu mereka satu sama lain lewat sentuhan-sentuhan mesra.

"Kau siap?" Iruka hanya mampu menjawab dengan anggukan lemah

"EENNNGGHHH!? Ngghhh…Aaahhhnnnn…"

"Sempit sekali…Ahhhhnnn…" desah Kakashi merasakan bagaimana nikmatnya saat penisnya terhimpit erat di dalam anus Iruka

"Aaannggghhnnn…AAAHH…hhnnnggnn…"

Kakashipun mulai memajumundurkan penisnya. Awalnya dengan tempo lambat, berusaha mencari titik terdalam Iruka yang akan membuatnya terbang dalam kenikmatan.

"AAAAHHHNNN!"

"Ketemu." Batin Kakashi

Ia pun segera berkonsentrasi untuk selalu menyentuh titik itu. Hal ini, membuat tubuh Iruka menggelinjang nikmat hingga iapun tak mampu menahannya lebih lama lagi.

"Ka…kashi… Ak…aku..sudah..angghhnnn…aaahhh…"

"Sebentar lagi…ngggnnnhhh…"

"Aahhnn…emmhhh…"

"Kakashi… AAHHHHGGNNNN…"

"Irukaaa… Uummmmhhhnnn…"

"Haaah…haaahh…" Nafas Iruka tersenggal, sudah lama ia tidak merasakan semen mengalir di dalam tubuhnya

"Kau semakin hebat saja."

"…" Iruka tak sanggup menjawabnya, matanya pun mulai terpejam

Melihat kekasihnya kelelahan, Kakashi menyelimuti tubuh mereka berdua dan memeluk Iruka.

"Oyasumi, Koibito."


Keesokan harinya, mereka mendengar kabar bahagia dari sahabat mereka. Kurenai positif dinyatakan hamil dan mereka memutuskan untuk pindah rumah dekat rumah Kakashi agar dapat bertemu dengan Naruto setiap hari. Hal ini, membuat Kakashi, Iruka dan Naruto senang. Pasalnya, Naruto jadi tidak perlu jauh-jauh datang ke rumah Asuma untuk bermain dan mencicipi kue buatan Kurenai. Naruto juga semakin lengket dan akrab dengan mereka berdua. Saat ini suasana bahagia terus memeluk Naruto dan keluarga kecilnya itu.

"Naru, bibi buatkan kue dan minuman untukmu. Beristirahatlah sebentar."

"Hai' Ba-san."

"Hey, kami sedang asyik-asyiknya bermain. Kenapa kau mengganggu?"

"Naruto bisa mati kelelahan kalau kau terus menerus memaksanya bermain, Baka." Tegur Kurenai

"Kurenai Ba-san, Naru tidak capek kok. Naru senang bermain bola dengan Ji-san. Jadi jangan marahi Ji-san." Dengan wajah memelas

CCRRROOOOOTTT

Tanpa bisa ditahan Kurenai pingsan dengan darah mengucur dari hidungnya setelah melihat ekspresi Naruto yang super duper imut. (Penasaran? Kasih tau gak ya? #bletaaakk)

"Yare…yare…"

Hari itu, jatuh lagi korban kepolosan Naruto. Haripun menjelang sore dan Naruto memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Saat perjalanan pulang, bola yang dibawanya menggelinding ke jalan. Narutopun mengejarnya. Tanpa disadari Naruto ada mobil silver yang melaju dengan kecepatan penuh.

TTTTTIIIIIIIINNNNNNN!

CCCCKKKKIIIIITTTTT

BBBBBRRRRRRAAAAAKKK!

"AAAAAAAAAAAAAA!" naruto kaget dan berteriak sekuat tenaga

Sementara itu, si pengendara mobil keluar.

"Hey, kau tidak apa-apa?" tanya pemuda itu sambil mengulurkan tangan berniat membantu Naruto berdiri

"AAAAGGGGTTTTTT!" Namun bukannya menjawab, Naruto malah berteriak histeris dan ketakutan.

"Hey, kenapa kau berteriak seperti itu? Apa ada yang sakit?"

"Naruto!" pemuda itu segera menoleh ke arah suara itu

"Hey, Naru." Panggil Asuma

"AAAKKKHHH!"

"Naruto, tidak apa. Ini aku Asuma."

"…" mendongakkan kepalanya keatas dan menatap wajah Asuma

Narutopun langsung menangis dan memeluk Asuma dengan erat. Melihat perubahan tingkah Naruto, pemuda itu terheran-heran.

"Maaf, apa dia tidak apa-apa?" Asuma menoleh ke arah pemuda itu

"Kau…! Apa tidak bisa kau mengendarai kendaraanmu dengan hati-hati?!" Asumapun tampak murka atas kelakuan pemuda itu.

Pemuda dengan rambut semerah darah dengan tatao di dahinya itu hanya terdiam. Dia merasa bersalah juga telah mengendarai mobilnya dengan kencang.

"Maaf, tadi saya terburu-buru. Apa perlu saya membawanya ke rumah sakit?"

"TIDAK!" sontak Asuma dan pemuda merah itu terdiam

"Ada apa, Naru?"

"Naru mau pulang, Jii-san. Naru mau pulang…Hiks…Kaa-san…"

"Baiklah, kita pulang Naru." Menggendong Naruto dipunggungnya, "Hey kau! Siapa namamu?"

"Saya Gaara."

"Gaara-kun, sebaiknya kau ikut mengantarkan Naruto pulang dan bertanggung jawab kepada orang tuanya."

Tanpa membantah Gaara mengikuti Asuma pergi ke rumah Naruto. Saat sampai di dalam rumah, Iruka kaget dengan keadaan Naruto. Diapun segera mengajak Naruto naik ke atas dan mengobati luka-lukanya.

"Kenapa kau mengendarai mobil dengan kecepatan seperti itu di daerah ini?"

"Maaf. Saya baru beberapa minggu disini. Karena jalan yang biasa saya lalui terkena macet jadi saya mencari jalan alternative lain. Saya juga terburu-buru karena ada rapat penting yang harus saya hadiri tepat waktu."

"Kalau begitu mengapa kau tidak bergegas pergi?"

"Iruka?! Seharusnya kau memintanya untuk bertanggung jawa bukan malah menyruhnya pergi begitu saja!" protes Asuma

"Sudahlah, Asuma. Naruto juga hanya lecet dan syok. Lagipula bukankah… Siapa namamu?"

"Gaara."

"Lagipula Gaara-kun sudah minta maaf dan dia sedang ada urusan lain?"

"TIdak apa-apa. Ano…"

"Ah, aku Iruka dan dia Asuma."

"Iruka-san terima kasih atas kebaikan Anda. Tapi saya menyadari bahwa yang dikatakan oleh Asuma-san ada benarnya. Saya rasa saya juga harus mempertanggungjawabkan perbuatan saya. Lagipula walau saya pergi sekarangpun saya pasti akan terlambat."

"Begitukah?"

"Iya."

"Ceeh… Jangan di dengarkan, itu hanya ocehannya saja."

"Asuma, ku rasa lebih baik kau pulang saja. Daripada di sini kau memperkeruh suasana."

"Jadi kau mengusirku?"

"Bukan begitu. Aku hanya tak ingin rumahku jadi ajang perang dingin antara kau dengan Gaara-kun."

"Ya… Terserah saja."

Sepulangnya Asuma dari rumah Iruka, suasana hening menyelimuti ruang tamu diaman Iruka dan Gaara berada.

"Ano… Boleh saya bertanya?"

"Ya? Apa yang ingin kau tanyakan?"

"Kenapa Anda baik kepada saya?"

"Emm… Karena aku yakin kau seumuran dengan Naruto."

"Hanya itu?"

"Ya, hanya itu. Apa ada masalah?"

"Ah, tidak."

"Aku hanya ingin Naruto mendapatkan teman sebayanya sehingga ia lekas bebas dari penyakitnya."

"Penyakit?"

"Iya. Naruto itu semasa kecilnya sering dianiaya ayahnya. Akibatnya dia mengalami trauma dan perkembangan jiwanya menjadi sedikit lebih lambat. Dia juga akan takut kepada orang yang belum dikenalnya. Dulupun dia begitu takut padaku."

"Benarkah? Lalu bagaimana bisa sekarang Iruka-san menjadi dekat dengannya?"

"Dekat? Aku bukan hanya dekat, Gaara-kun. Aku adalah ibunya. Jadi dia sudah menganggapku sebagai orang tuanya."

"Begitu rupanya. Pantas saja saat pertama bertemu, Naruto begitu takut untuk ku dekati. Bahkan dia sampai berteriak histeris bagitu aku mau membantunya."

"Maklumi saja. Karena dia tidak bisa berinteraksi dengan orang lain kecuali dengan orang-orang terdekatnya."

"…"

"Tadaima." Terdengar suara dari arah pintu depan

"Okaeri." Iruka bergegas menyambut kedatangan Kakashi

"Ada tamu?"

"Ya."

"Siapa?"

"Sebaiknya kau pergi melihat Naru."

"Ada apa dengan Naruto?"

"Dia mengalami kecelakaan tadi. Dan pemuda yang menabraknya masih di sini."

"Apa?! Kenapa kau tidak menghubungiku? Dimana pemuda itu?!"

"Tenanglah. Lebih baik kau lihat Naruto dulu. Dia terdiam terus dan tak mau berbicara padaku."

"Baiklah."

Ketika melewati ruang tamu, Kakashi melihat sosok pemuda berambut merah itu dengan tatapan menusuk. Dipandang seperti itu, Gaara hanya mampu menunduk sedangkan Iruka hanya menghela nafas panjang.


"Naru…"

"…!" Naruto segera menggigil ketakutan

"Sayang, ini Tou-san." Memeluk Naru dan mengusap kepalanya

Naruto mendongakkan kepalanya dan segera menangis di dada Kakashi

"Ssshhh… Tenanglah. Apa ada yang sakit? Kau terluka?" memeriksa seluruh tubuh Naruto

"…" Naruto menggeleng

"Ceritakan pada Tou-san apa yang telah terjadi."

"…" menatap Kakashi lekat, "Naru, takut Tou-san."

"Iya, Tou-san tahu semua orang pasti takut setelah mengalami musibah sepertimu."

"Apa Kaa-san akan memarahi Naru, Tou-san?"

"Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Waktu Naru pulang. Wajah Kaa-san terlihat sedih dan ingin menangis. Naru takut Kaa-san marah karena Naru sudah membuatnya cemas."

"Naru sayang. Kaa-san itu sedih dan cemas karena dia sayang padamu. Dan dia tak mungkin memarahimu karena hal itu. Kau seharusnya meminta maaf padanya bukan mendiamkannya. Itu justru membuat Kaa-sanmu semakin sedih dan cemas."

"Honto?"

"He'em. Sekarang Naru ikut Tou-san turun dan kita sama-sama minta maaf ke Kaa-san."

"Hai', Tou-san." Jawab Naruto tersenyum riang

Setelah mereka berdua sampai di ruang tamu, semua orang menatap Naruto yang tertunduk dan menggenggam erat lengan Kakashi

"Ayo, Naru. Bukankah ada yang ingin kau katakana pada Kaa-san?"

"Aku?"

"Iya."

"Ada apa, sayang? Apa yang bisa Kaa-san bantu?" mendekati Naruto

"Naru minta maaf."

"Eh? Minta maaf?"

"Iya."

"Untuk apa sayang?"

"Naru minta maaf sudah membuat Kaa-san sedih dan cemas. Naru minta maaf." Naruto mulai terisak

"Naruto. Kaa-san memaafkanmu. Lain kali jangan bermain di jalan sendirian. Minta Asuma-ji-san mengantarmu pulang."

"Baiklah, Kaa-san."

"Ya sudah, sekarang ayo kita makan. Gaara-kun kau juga makan malamlah di sini."

"Ah, tidak usah. Lebih baik saya pamit pulang."

"Begitukah? Sayang sekali."

"Kau bukannya mau melarikan diri dari tanggung jawabkan, Sabaku No Gaara."

"…!" ucapan Kakashi mengagetkan Gaara membuatnya diam di tempatnya berdiri

"Darimana Anda tahu nama lengkap saya?"

"Well, aku adalah seorang detektif kalau kau ingin tahu. Selain itu, aku juga baru-baru ini melakukan pekerjaan di Suna."

"Anda pergi ke Suna?"

"Iya. Aku dalam misi menangkap Orochimaru dan gengnya?"

"Orochimaru?!" sontak wajah Gaara menjadi panik dan pucat

"Kenapa kau begitu pucat, Gaara?"

"Tid…tidak apa-apa… saya hanya takjub karena ternyata Andalah yang telah berhasil menangkap gerombolan itu."

"Hem…" Kakashi memandang Gaara intens

"Ka..kalau begitu saya pamit pulang dulu."

"Hati-hatilah di jalan, Gaara-kun." Kata Iruka

"Baik. Terima kasih."

Setelah keluar dari rumah Naruto dan menutup pintu, sekujur tubuh Gaara langsung berkeringat dingin.

"Ciihh… Kenapa harus dia?! Dasar ular busuk!" dengan mengumpat Gaarapun melajukan mobilnya dengan kencang

Sementara itu di rumah Naruto…

"Iruka."

"Ya?"

"Aku merasa ada yang aneh dengan anak tadi."

"Aneh?"

"Iya. Waktu aku menyebutkan nama Orochimaru, dia terlihat panik dan ketakutan."

"Jelas saja ia panik, bukankah itu penjahat yang sudah berulah di desanya? Wajarkan?"

"Hm… Semoga saja begitu."

"Sudahlah. Jangan berpikir yang aneh-aneh."


Sementara itu dipenjara, Orochimaru bertemu dengan Minato. Mereka merencanakan aksi balas dendam kepada Kakashi.

"Sepertinya kita memiliki musuh yang sama." Ucap Orochimaru

"Yah, sepertinya begitu."

"Bagaimana jika kita bekerja sama menghancurkan mereka?"

"Bekerja sama?"

"Ya. Dari informasi yang aku dapatkan mereka mempunyai anak angkat yang sakit."

"Ohh, lalu?"

"Kau tahu siapa itu?"

"Namanya adalah Naruto."

"…!" tersentak Minato mendengar nama Naruto disebut oleh Orochimaru

"Ku rasa, kau tidak akan menolak tawaranku kan?"

"Nee… Omoshiroi… Sekali tepuk dua lalat kena. Aku tidak akan melewatkan kesempatan ini."

"Hehehehe… Bagus. Sekarang ini, mata-mata dan tangan kananku telah bergerak. Kita tinggal menggu waktu yang tepat untuk beraksi."

"Kau memang orang yang lincik dan pintar, Orochimaru."

"Terima kasih. Hahahahaha…"

Mereka berduapun tertawa dan tidak sabar menunggu waktu untuk segera memetik buah hasil dari rencana jahat mereka.

TBC


Chibi pengen nangis #plaaakkk

Akhirnya chibi selesai ujian dan bisa update chapter ini #gloodak

Maaf chibi terlalu sibuk jadi chapter ini terlambat. #bow

Hmm chibi ngerasa ada yang kurang tapi chibi bingung apa?

Minna-san ada yang tau?