Happy New Year!

Arigatou minna-san buat review-nya…

Chibi sampe tidak bisa berkata-kata…

Jadi langsung saja chapter selanjutnya #jduagh


Rated : M

Pair : GaaNaru

Warning : OOC, Yaoi, BL, MXM, Rape

Don't Like Don't Read

Disclaimer : milik Masashi Kishimotoseorang


Chapter 5

"Aku mencintaimu, Naruto." Bisik Gaara ditelinga Naruto

Tanpa bisa dicegah wajah Naruto berubah menjadi merah merona. Gaara kemudian mencium leher dan pundak Naruto. Naruto hanya bisa mengeluarkan erangan. Naruto tidak tahu mengapa ia tidak melawan. Namun yang Naruto tahu, tubuhnya seperti terbakar dan makin sensitif akan sentuhan Gaara. Gaara membuka bajunya perlahan, membuat Naruto merasa badannya semakin panas saat tangan Gaara menyentuh dada dan perutnya.

Gaara mencium dan menghisap kulit di lehernya. Membuat Naruto semakin merasa aneh. Tangannya hanya gemetar, mencoba merangkul Gaara. Naruto tidak tahu kenapa, tapi ia ingin Gaara lebih dekat padanya.

Saat Gaara mencoba menarik dan memijit puting susu Naruto, ia terbelalak dan mengejang, merasakan rasa aneh pada dadanya. Gaara tersenyum padanya, tampak lebih yakin dan kembali menarik dan memilin kedua puting Naruto.

Dalam hati Gaara merasa puas, ia bisa membuat Naruto kini tak mampu menahan suaranya. Badan Naruto mulai berkeringat dan kemerahan. Banyak tanda di sana-sini hasil karyanya yang membuat Gaara merasa puas.

"Kau tidak apa-apa, Naru? Mukamu merah. Hihihi…"

"Ukh…" Naruto hanya bisa membuang muka mendengar lelucon Gaara

Gaara kembali melakukan aktivitasnya. Gaara tersenyum melihat penis Naruto yang sudah kembali setengah berdiri. Gaara membuka kaki Naruto perlahan, wajahnya memerah sendiri memikirkan apa yang akan ia lakukan pada orang yang sudah memikat hatinya itu.

Tiba-tiba Gaara ingat kalau ia harus mempreparasi Naruto. Ia melirik ke sana kemari untuk mencari sesuatu yang akan dijadikan 'pelumas'.

Gaara tersenyum melihat sebotol lotion. Ia mengambilnya kemudian kembali pada Naruto.

"Mau dibuat apa lotion Naru?"

"Ah, ini untuk melumasimu agar lebih enak." Jawab Gaara.

"Melumasi? Apa maksudnya? Gaara mau apain Naru?"

"Etto, um… Naru liat sendiri aja ya?"

Kemudian Gaara menuangkan lotion ke kedua tangannya, lalu tangan kirinya meraih penis Naruto.

"Ah!" Naruto tercekat kemudian mengerang saat Gaara memijat penisnya hingga kembali ereksi, lotion yang licin dan basah membuat pijatannya terasa nikmat. Kemudian Naruto tercekat saat ia merasakan ada sesuatu yang ditusukan padanya, rasanya perih dan sakit. Tapi, pijatan di penisnya membuatnya melupakan rasa sakit itu.

"Aku harus menyiapkanmu dulu, Naruto. karena kau belum pernah melakukannya." kata Naruto menjelaskan.

"Melakukan apa?"

"Seks tentunya, apa lagi?"

"Ap… Akkkhhgg!" belum selesai berbicara, Gaara memasukkan satu jarinya ke dalam anus Naruto.

"Rileks, Naruto. Rileks." kata Gaara

Naruto tidak bisa menjawab, hanya terus mengerang kesakitan. Lubang Naruto ketat sekali. Wajah Gaara memerah, ia melihat bagaimana anus Naruto menjepit dan menyedot masuk jarinya. Untungnya lotion tadi membantu lubang Naruto menjadi lebih licin dan mudah dimasuki.

Saat Gaara memasukkan jari ketiga, badan Naruto menegang. Kelihatan sekali Naruto berusaha menahan sakit. Gaara memasukkan jarinya perlahan, berusaha melonggarkan anus Naruto sedikit demi sedikit.

"Ukh…Ittai…Ittai, Gaara." Ujar Naruto menitikkan air mata dan menahan sakit.

"Rileks Naruto... cobalah menarik napas dalam... lalu hembuskan keluar..." kata Gaara

Naruto mengikuti tuntunan Gaara dan mencoba lebih rileks. Gaara memasukkan jarinya lebih dalam, mencoba mencari sesuatu di dalam anus Naruto. Saat Naruto memekik, bukan karena sakit, Gaara tersenyum lebar.

Ketemu.

Rasanya seperti menang jackpot. Ia menekan-nekan titik prostat Naruto, membuat badan Naruto mengejang tak karuan. Napas Naruto makin tak teratur dan penisnya tegang sempurna.

"Ini titik prostatmu, Naruto. Inilah yang akan membuatmu merasa nikmat dan melupakan rasa sakitmu." kata Gaara

Gaara terus menerus menekan titik prostat Naruto dengan begitu kuat hingga penis Naruto mulai meneteskan precum.

"Ngh...ah..." Naruto tak mampu merespon, kepalanya terasa melayang dan badannya terasa sangat nikmat.

Jari Gaara yang ada di dalam tubuhnya tidak terasa sakit lagi, ketika jari itu kembali bergerak hanya tersisa kenikmatan di sana. Gaara menambah jarinya dan membuka lubang Naruto lebih lebar. Naruto hanya mengerang dan mendesah. Rasanya benar-benar aneh. Ia tidak tahu ada kenikmatan seperti ini. Gaara menarik keluar ketiga jarinya, menatap Naruto dan lubangnya. Naruto mendesah seperti protes. Gaara hanya memerah mendengarnya. Desahan Naruto membuat celananya makin sempit dan ia tak tahan lagi. Gaara kemudian melepas semua pakaiannya.

"Kau siap, Naruto?" tanya Gaara.

"Si…siap?"

"Iya, apa kau sudah siap?"

Naruto menatap Gaara mengangguk yakin. Gaara mengambil lotion dan menuangkan ke penisnya lalu mengusapnya hingga berdiri tegak. Ia menatap Naruto, kemudian memasukkan perlahan penisnya ke dalam lubang anus Naruto. Seperti dugaannya, Naruto mengerang kesakitan. Kaki dan pinggulnya menegang kaku. Meski sudah diberi pelumas, tetap saja lubang Naruto terasa sangat sempit dan menjepit erat milik Gaara. Rasanya juga panas. Gaara berusaha mengendalikan diri, ini pertama kalinya ia seks dengan Naruto jadi dia harus bisa mengendalikan emosinya.

"Rileks, Naruto." kata Gaara

Gaara berusaha menenangkan Naruto dengan memijat lembut paha dan pantatnya. Naruto hanya menggigit bibirnya dan menggerakkan pinggulnya perlahan, memberi tanda agar Gaara melanjutkan memasuki dirinya. Gaara memasukkan penisnya lebih jauh dan mendesah panjang saat akhirnya penisnya berhasil memasuki anus Naruto sepenuhnya.

Lubang anus Naruto menjepit penis Gaara kuat, sedangkan isi anus Naruto lembut dan panas. Gaara melihat Naruto tampaknya sudah lebih terbiasa.

"Aku bergerak ya, Naruto?" Naruto mengangguk pelan.

Gaara menggerakkan dirinya perlahan. Ia berusaha sekuat tenaga menahan erangan bagaimana nikmatnya mempentrasi lubang sempit Naruto. Naruto berusaha menahan tangis, rasanya sangat sakit. Penis Gaara membuka lubang anusnya lebih lebar daripada sebelumnya. Namun, sensasi Gaara yang bergerak di dalam dirinya membuatnya terasa aneh. Gaara merasakan anus Naruto makin terbiasa, ia pun mulai mempercepat tempo penetrasi. Masuk keluar, masuk keluar. Sambil mencari-cari dimana titik kenikmatan Naruto.

"AH! NGH!" Naruto terkejut dan mengerang.

Ketemu!

Gaara mengarahkan penisnya ke titik itu, menumbuknya berkali-kali dengan penisnya. Erangan kesakitan Naruto lama kelamaan mulai berubah menjadi erangan kenikmatan. Penis Naruto menjadi ereksi kembali.

"Nggghhhh…Aaaahhh…Ga…Gaara…A…aku..." Naruto merasa aneh, ia tak bisa berpikir dengan baik.

Gelombang kenikmatan datang berkali-kali, membuat tubuhnya menggeliat dan hilang kontrol. Rasa sakit berubah menjadi rasa nikmat. Sekarang ia bisa merasakan kenikmatan saat Gaara bergerak dan mengisi dirinya. Rasanya penuh, nikmat dan panas.

Gaara pun merasakan demikian, bagaimana anus Naruto mengapit dan meremas penisnya tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Rasanya sangat nikmat. Ia mulai hilang kontrol, mempentrasi Naruto lebih keras dan dalam.

"Ngggghhhh…Aaaahhhnnn…Ga…Gaara…" Naruto hanya mampu mendesah dan meneriakkan nama Gaara sementara Gaara terus menerus memberikan rasa nikmat pada tubuhnya. Penisnya meneteskan precum tak terkendali. Hantaman keras penis Gaara pada titik prostatnya membuatnya melayang.

"Nggghhh...Sial...Aaahhhnnn…"

Gaara merasakan anus Naruto berkontraksi makin kuat, membuat penis Gaara makin sulit mempenetrasi lubang sempit itu. Ia mengerahkan tenaganya, memegang pinggul Naruto dengan kuat dan menghantam penisnya masuk ke dalam tubuh Naruto.

"Aaaaaaaahhhhhhnnnnnnnn...Nggggnnnnhhhhhh…" Naruto berteriak tak kuasa menahan suaranya.

Genggaman Gaara di pinggul dan pahanya pasti akan meninggalkan jejak memar, tapi rasa nikmat datang bagai ombak yang tak memberikannya waktu untuk menarik napas.

Perutnya mulai melilit lagi, penisnya siap untuk mengeluarkan isinya. Ia tak tahan menahan rasa nikmat yang Gaara berikan pada anusnya.

Seperti mengerti keadaan Naruto, Gaara meraih penis Naruto lalu memijatnya sesuai ritme penetrasinya. Naruto mengerang tak terkendali, tak tahan dengan rasa nikmat yang menyerang tubuhnya tanpa ampun.

"AAAGGHHH! GAAARRAA!" Naruto berteriak menyemburkan semenya.

Gaara merasakan anus Naruto menyempit, seperti ingin memerasnya sampai kering. Ia tak tahan lagi. Ia ingin mengeluarkannya diluar namun, anus Naruto menjepitnya kian kencang seakan tak membiarkannya keluar.

"Aaaggghhhh...nggghhhnnn...Naaaaruuutoooo…" erang Gaara menyemburkan benihnya ke dalam tubuh Naruto.

Mereka berdua tergeletak di atas kasur kehabisan napas, sambil menikmati sisa-sisa orgasme yang masih ada. Setelah selesai, Gaara mengeluarkan penisnya dari anus Naruto.

"Maaf Naru. Aku datang di dalam." gumam Gaara. Ia melihat anus Naruto yang meneteskan semen milik Gaara. Semen itu adalah miliknya, ia sudah menandai lubang itu sebagai miliknya.

Naruto hanya menggeleng, "Tidak apa-apa." katanya lirih, masih kehabisan napas.

Akhirnya pergulatan itu selesai dan mereka berdua terlelap menuju alam mimpi.


Setelah kejadian itu, hampir setiap ada kesempatan mereka gunakan untuk berdua. Narutopun sudah terbiasa (kelewat biasa malah #pak) dengan sikap manja Gaara. Tak jarang Gaara memintanya untuk melakukan hubungan seksual yang ditanggapi antusias oleh Naruto. Hingga suatu hari, Gaara tidak datang ke rumah Naruto. Biasanya, Gaara akan selalu muncul disaat dirinya merasa kesepian. Detik menjadi menit, menit berganti jam, tak terasa sudah hampir 3 minggu Gaara tidak datang ke rumahnya.

"Haah, Naru kangen Gaara." Ujarnya sembari berguling-guling di kasur

Hening…

"Argh!" teriaknya frustari sambil mengacak-acak rambut

Dengan rasa penasaran dan khawatir, akhirnya Naruto memutuskan untuk mendatangi rumah sakit tempat Gaara bekerja. Sesampainya disana orang yang dicarinya tidak menampakkan batang hidungnya.

"Kau mencari Gaara, Naruto?"

"Kau?! Jangan dekati Naru!"

"Hahahaha. Kau masih takut padaku? Padahal aku ingin memberi tahu dimana Gaara. Tapi, kelihatannya kau tidak ingin tahu." Melangkah pergi

"Tunggu." Naruto menarik lengan baju Kimimaro, "Kau tahu dimana Gaara?" senyumpun terkembang di wajah Kimimaro

"Tentu saja aku tahu. Karena dia sedang berbulan madu bersama wanita."

"Apa?!"

"Kau tidak percaya? Kalau begitu ikut aku."

Narutopun mengikuti Kimimaro dengan perasaan yang berkecamuk. Setelah sampai di ruang pribadi Gaara, betapa terkejutnya Naruto ketika melihat Gaara sedang berpelukan dengan seorang wanita. Namun, keterkejutan Naruto tidak berhenti sampai disitu. Ketika dia hendak melangkah pergi, terdengar pembIciraan Gaara dengan wanita itu.

"Apa benar Orochimaru sudah lolos dari penjara?"

"Iya. Kemarin aku ke tempatnya."

"Apa?! Kau masih mau menemuinya?"

"Ya, bagaimanapun juga dia adalah partner kerjaku."

DEG

Detak jantung Naruto serasa berhenti saat mendengar kalimat yang diucapkan Gaara.

"Gaara? Dengan Orochimaru? Partner? Uso?" ucap Naruto dalam hati

"Wuuaaah, tapi bukannya misi kalian sudah berakhir saat menjadikan anak keluarga Namikaze sebagai percobaan?"

Naruto terkejut mendengar nama keluarganya disebut.

"Ya."

"Ah, tapi kabarnya itu gagal bukan? Sekarang hasil yang kalian dapat adalah kebalikan dari apa yang direncanakan."

"Ya, maka dari itu aku perlu menelitinya lagi."

"Apa kau menemukannya?"

"Ya, aku sudah menemukannya. Tapi dokter lain yang memeriksanya mengatakan hasil itu terjadi karena trauma yang dialaminya."

"Hoo, lalu?"

"Itu tidak benar, karena penelitian yang kami lakukan 20 tahun yang lalu itu mengubahnya menjadi seperti ini."

"Intinya percobaan gagal itu masih hidup?"

Tidak kuasa mendengar percakapan itu Narutopun berlari pergi disusul kimimaro dibelakangnya.

"Jangan memperlakukannya sebagai benda percobaan."

"Nande? Ah, aku tahu kau suka padanya kan?"

"Berhentilah mengoceh, Matsuri"

"Hai', hai'."

Sementara itu, Kimimaro yang sedang bersama dengan Naruto melancarkan serangan kedua.

"Naruto-kun, tunggu. Kau mau kemana?"

"Bukan urusanmu."

"Ne, aku tahu kau marah dan sedih secara bersamaan karena dikhianati oleh Gaara."

Menoleh ke arah Kimimaro, "Jangan menjelek-jelekkan Gaara!"

"Demo sa, yang aku katakan hanyalah kenyataan. Kenapa kau tidak berusaha menerimanya saja?" Merasa yang dikatakan Kimimaro benar, Naruto hanya bisa menundukkan kepala

"Naruto." Mendekati Naruto dan memeluknya erat, "Keluarkan semua kesedihanmu, setelah itu kita pergi menenangkan diri."

"Menenangkan diri?"

"Um… Iyaa, kita bisa jalan-jalan sampai beban pikiran yang kita pendam terlupakan." Mendengar ajakan Kimimaro, Naruto sedikit waspada dan berpikir

"Bukankah kau ingin melupakan pengkhianatan yang dilakukan Gaara? Bukankah dia jahat sekali sudah menjadikanmu sebagai bahan percobaan? Menghancurkan keluar…"

"Cukup! Cukup! Naru tidak mau mendengarnya lagi." Teriaknya dengan kedua tangan menutup telinga

"Baiklah, mari kita pergi ke tempat yang menyenangkan."

Semakin lama hati Naruto semakin hancur mendengar penuturan Kimimaro. Akhirnya ajakan Kimimaro untuk menghibur diri diterima oleh Naruto, namun yang terjadi Kimimaro membiusnya dan membawanya menuju tempat persembunyian Orochimaru.

Beberapa saat kemudian…

"Ugh…"

"Kau sudah sadar?"

Betapa terkejutnya Naruto ketika dia sadar mendapati ayahnya sedang berdiri dengan sebuah cambuh sedangkan dirinya terikat dikursi.

"O…Otou-san?" tanya Naruto dengan bibir gemetar

"Hoo~ ternyata kau masih ingat padaku, Na-ru-to?"

"A…apa ya…yang a…akan Tou-san la…laku…kan?"

"Menghukummu karena sudah bahagia disaat Tou-san dipenjara."

"Ta…Tapi kan Naru tidak salah apa-apa?"

"Tidak salah apa-apa?!"

CPPPLLLAAASSSS!

Satu cambukan mengarah ke paha Naruto

"Arrrggghhhttt!"

"Kesalahan terbesarmu adalah lahir di dunia ini!"

CPLAAAASS! CPLAAAAASSS!

"Arrrggghh!"

"Ya, bagus. Seperti itu. Teruslah berteriak. Hahahahahahaha…" ujar Minato sembari tertawa


Di rumah, Iruka menunggu kepulangan Naruto. Sebenarnya dia tidak tega membiarkan Naruto keluar sendiri namun, karena Naruto pamit akan bertemu Gaara maka ia sedikit lega. Detik-detik berlalu sangat lambat bagi Iruka. Dilihat lagi jam sudah menunjukkan pukul 8 malam. Seharusnya Naruto dan Gaara sudah pulang dari 1,5 jam yang lalu. Iruka yang mulai khawatir segera menghubungi Kakashi untuk mencari Naruto.

"Ya, Iruka. Ada apa?"

"Kau dimana?"

"Aku? Aku sedang ada di dekat taman Konoha. Kenapa?"

"Naruto belum pulang."

"Hah? Bagaimana bisa? Kenapa kau tidak menemaninya?"

"Karena dia pamit akan ke Rumah sakit untuk bertemu Gaara."

"Baiklah aku akan segera ke tempat Gaara."

"Maafkan aku. Seharusnya aku tidak membiarkannya pergi sendirian. Kalau terjadi apa-apa dengan Naru, maka aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri."

"Tenanglah, Naruto pasti baik-baik saja. Dan untuk berjaga-jaga aku akan mengirimkan anak buahku ke sana. Kamu jangan khawatir aku pasti akan membawanya pulang."

"Iya." Ucapan Iruka menjadi salam penutup dari percakapan mereka

"Kiba." Panggil Kakashi pada anak buahnya

"Iya, pak."

"Kamu berjagalah di rumahku. Bawa beberapa anjing. Sepertinya ular sudah mulai bergerak."

"Baik." Secepat kilat Kiba serta beberapa anjing terlatihnya berangkat menuju rumah Kakashi

"Halo kau dimana?"

"Baiklah, aku akan kesana. Kau tunggulah diluar." Setelah menutup telponnya Kakashi meluncur menuju lokasi yang dia bicaran dengan orang di seberang sana

Beberapa menit kemudian sampailah dia di Rumah Sakit Konoha.

"Kakashi-san." Sapa Gaara

"Dimana Naruto?"

"Apa?"

"Aku tanya dimana Naruto?"

"Maksudnya? Bukankah dia sedang berada di rumah?"

"Kalau dia di rumah aku tidak akan repot-repot datang kemari. Tadi Iruka telepon katanya Naruto belum pulang dan terakhir kali dia pamit akan menuju ke tempatmu."

"Apa?! Tapi aku belum bertemu dengannya sekitar hampir 3 minggu. Jadi aku juga tidak tahu dia dimana?"

"Lalu! Kau harus bertanggung jawab mencarinya!"

"Ahhggg! Kenapa bisa dia datang kemari?" umpat Gaara kesal

BUUUUUAAAGGGHH

Nampaknya kekesalan Gaara sudah memutuskan urat kesabaran Kakashi.

"Ittai! Nande?"

"Kau bilang kenapa?! Setelah selama ini kau terus bersamanya! Lalu kau menghilang?! Kau kira anakku itu mainan yang habis pake buang begitu?! Jernihkan pikiran picikmu!" bentak Kakashi sembari mencengkram baju Gaara.

Hanya bisa terdiam dan merasa bersalah, "Gomen."

"Cih, dengan kau minta maafpun Naruto tidak akan ketemu. Cepat cari dia! Aku akan mencarinya dengan anak buahku."

"Baik." Gaara merogoh saku bajunya, mengambil ponsel.

"Halo, ini Aku."

"Oh, ada apa? Tumben sekali kau menelponku? Kau rindu padaku?"

"Jangan banyak omong. Ada yang ingin ku tanyakan."

"Iya, baiklah. Apa itu?"

"Apa kau melihat Naruto?"

"Naruto?"

"Iya. Kau melihatnya?"

"Ah, putera keluarga Namikaze?"

"Iya, cepatlah."

"Hai', hai'. Kenapa kau tidak sabaran sekali?"

"Hn."

"Tadi aku melihatnya saat pulang dari tempatmu."

"Benarkah? Sekarang dimana dia?"

"Mana ku tahu? Yang ku tahu tadi dia bersama Kimimaro."

"Apa?!"

"Kenapa kau marah-marah? Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya?"

"Ck! Baiklah, terima kasih infonya, Matsuri."

"Iya, kau bisa membayarnya dengan sebuah ciu…"

TUT TUT TUT

"Aish… Dingin sekali." Umpat matsuri

Gaara bergegas mencari Kimimaro. Namun, ia tak menemukannya dipenjuru Rumah Sakit. Akhirnya, ia putuskan untuk mendatangi rumahnya setelah sebelumnya memberitahu Kakashi lokasi keberadaan Kimimaro.

TING TONG TING TONG

"Siapa?"

"Malaikat pencabut nyawamu."

"Wew, ada perlu apa?"

"Katakan dimana kau sembunyikan Naruto!"

"Hoo~, jadi kau mencari Naru-chan? Untuk apa kau mencarinya? Bukankah kau sedang bermesraan dengan wanita sore tadi?"

"Bermesraan?! Jangan sembarangan! Cepat katakan dimana Naruto!"

"Dia patah hati melihatmu berduaan dengan wanita lain. Jadi, ku tawarkan tempat rekreasi yang menarik dan dia menerimanya."

"Jangan berputar-putar, Brengsek! Cepat katakan dimana Naruto!"

"Hahahahaha… mungkin sekarang dia sudah menjadi budak Tuan Orochimaru."

"APPPAAA?!"

BBUUUUAAAAGGHHH! BUUUG! BAAAGGGHH! JDUUAAAAGGGHHH!

"Hentikan! Percuma saja kau menghajarkan habis-habisan jika kita tidak bisa mengetahui lokasi keberadaan Naruto." Cegah Kakashi yang segera menghentikan Gaara setibanya di rumah Kimimaro

"Aku tahu tempatnya."

"Makanya itu, kita harus… APA!? Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi!"

"Aku tidak menyangka Orochimaru yang membawanya."

"Argh! Mendokusai! Ayo kita ke sana sekarang! Tim 1 ikut denganku, sedangkan tim 2 bereskan tempat ini."

"Siap!"

Sementara di tempat persembunyian Orochimaru, setelah menjadi bulan-bulanan Minato, Naruto terkapar lemah dengan badan terikat dikursi.

Melihat naruto yang tak berdaya membuat Orochimaru terangsang. Iapun ingin menikmati jeritan Naruto dibawah kendalinya. Orochimaru mengambil suntikan dan menyuntik Naruto dengan obat perangsang. Naruto yang babak belur dan lemas karena obat perangsang hanya bisa menangis memikirkan apa yang akan dilakukan Orochimaru padanya.

"Ja…Jangan. Naru mohon hentikan. Naru tidak mau."

PLLLLAAAAKKK! CPPPLLLLLAAAAASSSHHHH

"Jika kau bicara maka akan ku cambuk lagi!" bentak Minato

"Mari kita sama-sama menikmatinya Naru-chan."

Orochimaru mulai melepas semua pakaian yang melekat pada tubuh Naruto. Sementara naruto hanya menjerit dalam hati dan berdoa seseorang menolongnya.

Orochimaru mulai memilin-milin nipple naruto. Menghisap dan menggigitnya bergantian membuat Naruto mau tak mau mengerang.

"Ngh...ah...ummhh…"

Bekas luka cambuk dan pukulan di dada Naruto, ia jilat dan hisap hingga Naruto kesakitan menahan perih.

"Arrggtt…it..ittai!"

Setelah puas dengan nipple, ia mulai menggarap kejantanan Naruto. Dalam sekali raup, ia hisap seluruh kejantanan Naruto, membuat badan Naruto melengkung dan menggeliat. Naruto merasakan nikmat dan sakit secara bersamaan, namun ia juga sedih karena ia telah disentuh oleh orang selain Gaara. Mengingat itu membuat Naruto meneteskan air mata. Namun kekhawatirannya lenyap ketika ia merasakan lubang anusnya yang sudah lama tidak disentuh dimasuki oleh jari Orochimaru.

"Ngh…hau…Engh…"

"Meskipun kau mengatakan tidak tapi kau begitu menikmatinya, Naru-chan."

Semakin lama jari itu semakin cepat, Naruto dibuat gelapan dan semakin panas. Orochimaru yang sudah tidak tahan lagi, segera melepas semua pakaian yang ia kenakan dan segera mempersiapkan penisnya di depan lubang Naruto.

Namun, saat akan memasuki lubangnya, terdengar suara pintu di dobrak dengan keras.

BRRRRRRRRRRAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGHHHHH!

TBC


Huuuaaa…tampaknya Chibi terlalu banya memasukkan adengan lemon #jduagh

Hehehehe…

Tetap Chibi tanpa bosan meminta Review…