Gomenne minna-san

#bungkuk

Chibi disibukkan oleh kegiatan kuliah dan skripsi

Arigato buat yang udah ngereview and nungguin kelanjutan fanfic Chibi

Saa, silahkan membaca.


Rated : M

Pair : GaaNaru

Warning : OOC, Yaoi, BL, MXM, Rape

Don't Like Don't Read

Disclaimer : milik Masashi Kishimotoseorang


Chapter 6

Kilas balik chapter lalu

Semakin lama jari itu semakin cepat, Naruto dibuat gelapan dan semakin panas. Orochimaru yang sudah tidak tahan lagi, segera melepas semua pakaian yang ia kenakan dan segera mempersiapkan penisnya di depan lubang Naruto.

Namun, saat akan memasuki lubangnya, terdengar suara pintu di dobrak dengan keras.

BRRRRRRRRRRAAAAAAAAAAAAAAGGGGGGGGGGGGHHHHH!

"NARUTO!" teriak Gaara

"Gaa… Gaara…hiks…tolong Naru…" ucap Naruto sembari menangis ketakutan

"Cih, kau selalu datang disaat yang tidak tepat. Seharusnya kau datang besok saja. Kau meng…"

BUUUAGGH! BRUUUAAAGHH! Belum selesai Orochimaru berbicara, Gaara sudah melayangkan tinju penuh amarah.

"Ungh…" rintih Orochimaru

"Selama ini aku sudah cukup bersabar menghadapimu, Hebi!" berjalan mendekati Orochimaru, "Sekarang saatnya melihatmu musnah untuk selamanya!" bentak Gaara dengan aura membunuh yang kuat

"Heh… hahahahahaha bahkan seekor anjing perliharaan sekarang sudah berani menggigit tuannya? Omoshiroi." Ejeknya

"Urusai!" tepat saat Gaara akan menghajar Orochimaru, datang dua orang pengganggu lain

"Cukup! Tak akan kami biarkan kau menyakiti Tuan Orochimaru lebih dari ini." Ucap Kabuto

"Waktunya mengembalikan apa yang sudah kau berikan padaku, Gaara." Kata Kimimaro

"Cih, seekor ular dan dua ekor tikus. Benar-benar menyusahkan. Tapi…" mengepalkan kedua tangan, "Kali ini akan kupastikan kalian tidak akan bisa melihat atau merasakan matahari lagi."

Pertarungan antara Gaara versus Kabuto dan Kimimaro berlangsung dengan sengit. Baku hantam juga tembakan pistolpun saling bersahutan.

BUUUAAAGHHH! DOOOR! DOOOR!

BRUUUAAAGHH! BUUUG! DOOOR! BAAAGGGHH!

BUUUAGGH! DOOOR! BRUUUAAAGHH! DOOOR! DOOOR! BUUUG! BAAAGGGHH! JDUUAAAAGGGHHH! DOOOR! DOOOR!

"Cih, dasar keras kepala. Kenapa kau tidak menyerah saja?" tanya Kimimaro

"Seharusnya aku yang berkata begitu!"

Tendangan Kimimaro dibalas pukulan telak dari Gaara tepat didagu Kimimaro. Sementara Kabuto menembaki Gaara yang dengan lincahnya dapat menghindarinya. Sementara Gaara bertarung, Naruto yang kelelahan lahir dan batin akhirnya tumbang. Melihat kesempatan yang ada Orochimaru mendekatinya namun pada saat akan menyentuh Naruto, dua buah tembakan segera bersarang di kedua tangan Orochimaru.

DOOOR! DOOOR!

"Aaargghh!"

"Orochimaru-sama! Kuso!" melihat tuannya terluka, Kabuto bergegas mengambil tindakan. Namun itu semua berhasil diantisipasi oleh Kakashi.

BUUUAAAGHHH! DOOOR! DOOOR!

Perkelahian antara Kakashi dan Kabuto diwarnai dengan beberapa tembakan juga sayatan berhasil dimenangkan oleh Kakashi.

"Tidak secepat itu." Kakashi segera mengikat Kabut dan Orochimaru yang sedang terluka.

Lalu Kakashi segera menggendong Naruto dan membawanya ke tempat yang aman, "Bertahanlah Naru, Tou-san akan segera membawamu ke Rumah Sakit."

"Tou…san…" ucap Naruto lirih

"Tenanglah. Tunggu disini, Tou-san akan segera kembali." Sambil membelai rambut Naruto dan menyelimutinya, "Tim 2 sudah kembali?"

"Siap!"

"Kalian jaga tempat ini, jangan sampai ada yang mencelakai puteraku! Yang lain ikut aku!"

"Siap!" Kakashi dan Timnya bergegas kembali ke tempat persembunyian Orochimaru untuk mencari dan menangkap Minato.

"Kalian berpencar! Cari Minato ke seluruh penjuru tempat ini! Jangan kembali sebelum dia tertangkap!"

"Siap!"

Beberapa saat kemudian.

"Kakashi-sama."

"Ya?!" Kakashi menjawab dengan geram

"Kami berhasil menangkap Minato yang mencoba kabur ke Utara."

"Bawa dia kemari!" mengerti maksud Kakashi, mereka langsung membawa Minato ke hadapan Kakashi

"Hey, lama tidak bertemu, Kakashi. kau berhasil menangkapku untuk kedua kalinya. Sekarang apa kau akan membunuhku? Atau kau akan mengampuniku? Yah, yang manapun pilihanmu Naruto tetap tidak akan pernah sem…"

BUUUAGGH! BRUUUAAAGHH! BUUUG! BAAAGGGHH! JDUUAAAAGGGHHH!

"Simpan ucapanmu di pengadilan nanti!" mencengkram baju Minato

"Heh, dasar pengecut."

"Aku tidak akan termakan perkataanmu. Bawa dia dan anggota Orochimaru yang lain. Segera bereskan tempat ini!"

"Siap!" segera tim Kakashi membereskan tempat persembunyian Orochimaru dan meringkus sisa anggota kelompok itu. Sementara Kakashi kembali ke tempat Naruto.

Setelah mengalahkan Kimimaro, Gaara bergegas menuju tempat dimana Naruto diamankan. Sesampainya disana, Gaara melihat Naruto menjadi aneh. Wajahnya memerah seperti orang sedang demam namun badannya dipenuhi oleh keringat.

"Apa yang terjadi pada Naruto?" tanya Gaara pada Kakashi

"Sepertinya dia telah disuntikkan beberapa obat terlarang. Aku akan memanggil ambulans."

"Tidak usah." Cegah Gaara, "Biar aku yang membawanya ke rumah sakit."

"Baiklah, selanjutnya kuserahkan padamu. Tapi kalau sampai terjadi apa-apa dengan Naruto maka kau akan menyesal." Ucap Kakashi dengan pandangan dingin membuat Gaara merinding

"Aku tahu."

Gaara segera membopong Naruto masuk ke dalam mobilnya menuju Rumah Sakit.


"Uggh…"

"Kau sudah sadar, Naru?"

"Gaa…raaaa…" ucapnya tersenggal-senggal

"Tenang Naru, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit."

"Gaa..raaaa…"

"Iya?" menoleh kearah Naruto

"Na…ru…" desah Naruto sambil menahan sesuatu di bawah sana

Gaara yang melihat gejala-gejala aneh ditubuh Naruto akhirnya mengerti. Naruto merasakan seluruh tubuhnya panas. Panas. Dia ingin sesuatu mengisi lubang bawahnya yang terasa panas. Saat sedikit saja bergerak atau bergeser, Naruto sedikit mengerang karena merasa aneh.

"Ngh... Gaara... ahhh..."

Melihat reaksi Naruto, Gaara segera memutar mobil menuju ke tempat kediamannya. Sesampainya di garasi, Gaara segera membopong Naruto ke dalam kamar.

"Gaa…raaa… Badan hhaahh… Na…ru…"

"Tenanglah sebentar lagi Naru akan merasa baikan."

Gaara langsung melucuti pakaian Naruto sementara Naruto merasa dia sudah tidak memiliki banyak kekuatan yang tersisa. Tubuhnya seakan haus, haus akan sentuhan. Gaara mendorong tubuh Naruto yang semulanya dalam posisi duduk menjadi terbaring di atas ranjang.

"Nampaknya obat itu benar-benar membuatmu menderita, Naru." Nafas Naruto mulai tidak beraturan, Gaara menggerakkan lututnya tepat diatas kepunyaan Naruto.

"Nnnnn... aaahhhh!" teriak Naruto bersamaan dengan keluarnya cairan dari penis Naruto

"Cepat sekali kau keluar, Naru." Naruto hanya diam sambil mengatur kembali nafasnya yang tersengal

"Tapi sepertinya itu belum cukup."

"Gaa…raahh...! Ngghhh...! Ahh!" Gaara kembali menggerakkan lututnya.

"Katakan apa yang kau inginkan, Naru?" Naruto terdiam

Obat perangsang yang disuntikkan oleh Orochimaru membuat seluruh tubuh Naruto panas, lemas dan ia merasa haus akan sentuhan. Naruto merasa seluruh isi otaknya blank dan Gaara tidak menyia-nyiakan kesempatan emas yang ada di depan matanya. Walau tidak seharusnya ia melakukan ini disaat Naruto sedang terluka tapi reaksi manis dari sang uke membuat Gaara tidak dapat menahan nafsunya lagi. Perlahan tapi pasti, Gaara mulai mencium seluruh permukaan dada Naruto kemudian naik ke leher Naruto yang jenjang. Ciuman panas dari mulut Gaara mendarat di setiap inci tubuh Naruto. Bekas-bekas ciuman tanda kepemilikan Gaara tertinggal di atas kulit Naruto.

"Nggghhh... Gaara... Huuhh ahhhhh...!" Naruto menjerit nikmat ketika Gaara menjilati, menggigit, dan mengulum dada dan leher Naruto.

"Apakah rasanya sangat nikmat, Naru?" goda Gaara

Naruto yang sudah tidak tahan lagi, merayap naik mencari-cari bibir Gaara. Gaara sempat kaget saat Naruto mencium bibirnya, namun Gaara segera membuka mulutnya sehingga lidah Naruto bebas menari-nari didalamnya. Naruto yang merasa semakin panas malah mengalungkan tangannya di leher Gaara, saliva mereka yang bercampur menjadi satu membasahi bibir Naruto dan Gaara.

"Naru, rupanya kau sudah tidak sabar ya?" tanya Gaara

Namun tidak dijawab oleh Naruto. Dengan wajahnya yang menggoda dan merona, kembali ia dekatkan bibirnya ke arah bibir Gaara.

"Tunggu, Naru. Sekarang giliranku." Gaara mendorong tubuh Naruto hingga jatuh di atas ranjang. Tangan kanan Gaara sibuk dijilati oleh Naruto, sedangkan tangan kirinya sibuk meresapi lekuk demi lekuk tubuh Naruto.

Gaara menarik celana Naruto sehingga kini Naruto tidak ditutupi sehelai benang pun. Gaara menjilati kepunyaan Naruto kemudian mengulumnya, memainkannya dengan lidah. Gaara memaju-mundurkan kepalanya. Naruto mengerang nikmat.

"Ahhnnn... Ga.. Gaaraaa…" wajah Naruto sudah memerah keringat mengucur deras membasahi tubuhnya.

"Gaara, lebih... ahhhh nnggg... uahhh!" Gaara mempercepat blowjob-nya dan mengocok kepunyaan Naruto sekaligus. Alhasil, perbuatannya itu mengakibatkan Naruto ejakulasi untuk yang kedua kalinya. Gaara langsung menelan habis sperma milik Naruto.

Dengan perlahan-lahan Gaara memasukkan jarinya yang berlumuran cairan Naruto. Satu jari cukup untuk membuat Naruto melenguh. Dua jari... tiga jari... Gaara terus melakukan gerakan in-out agar lubang Naruto siap untuk dimasuki oleh benda yang lebih besar.

"Uaaahhh! Aaah! Ahhhh! Ghaaahhh... Rhhaaahhh..." ucapan Naruto terdengar meracau. Gaara menggerakkan jarinya di dalam lubang itu, maju, mundur, maju, mundur, maju, dan seterusnya seperti itu, semakin lama semakin cepat. Nampaknya Gaara telah menemukan sweet-spot Naruto, karena tubuh Naruto mengejang. Dan tubuh Gaara merinding mendengar desahan Naruto yang seksi itu. Desahan Naruto pula yang membuat miliknya 'tegang'.

"Naru maauuu... aakkhhh… aahh... phiiip... uahhhh!" Naruto menegang, mengeluarkan cairan putih yang kental itu untuk ketiga kalinya.

Kali ini, cairan itu membasahi seluruh tubuh bagian bawah Naruto, perutnya, dan wajah Gaara. Gaara membersihkan wajahnya dengan tangan, lalu melanjutkan lagi pekerjaannya dibawah.

"Naru, aku sudah tidak tahan lagi..." Gaara mengangkat Naruto yang sudah terengah dan lemah ke atas tubuhnya dalam posisi duduk. Naruto mengalungkan tangannya ke leher Gaara dan memeluknya erat. Gaara memposisikan kepunyaannya tepat dibawah lubang Naruto dan memasukkan ujungnya pelan.

"Aaahhhh... uahhh! Ghaaarhhaaahhh..." air mata Naruto jatuh membasahi bahu Gaara. Gaara menoleh ke arah Naruto, sedikit ragu untuk memasukannya.

"Apa kau baik-baik saja, Naruto? Jika sakit, aku tidak akan melanjutkannya." Gaara mengangkat tubuh Naruto agar kepunyaannya tidak 'masuk' lubang Naruto.

Namun, Naruto malah memeluk Gaara semakin erat dan menempelkan tubuhnya pada Gaara. Gaara tercengang akan kelakuan Naruto, sepertinya itu karena pengaruh obat perangsang. Naruto mencium pipi, lalu leher Gaara. Gaara mendesah pelan, merasakan panasnya bibir mungil Naruto dan salivanya yang membasahi kulit pucat Gaara.

"Naru mau... Naru mau sekarang... masukkan... Masukkan, Gaara…" kata Naruto terbata.

Gaara malah makin tercengang, namun ia senang karena Naruto tidak menolaknya dan memberikan respon yang tidak terduga. Maka Gaara mengangkat Naruto sekali lagi, dan memposisikan kepunyaanya tepat di lubang Naruto, kali ini Gaara tidak ragu memasukkan ujungnya... sedikit semakin dalam... lalu Gaara melepaskan lengan Naruto dan menanamkan kepunyaannya masuk seluruhnya ke dalam lubang Naruto.

"Uahhhhhhhhhhhh! Aaakkhh!" teriak Naruto

Teriakan dari rasa sakit sekaligus kenikmatan yang didapatkannya. Gaara mendorong Naruto, lalu menggerakkan pinggangnya maju dan mundur, semakin lama semakin cepat.

"Uhh... ahhhh... uahh... ngghhh! Gaaraaahh... aaahhh!" Gaara makin tergoda untuk menggerakkan pinggangnya secepat yang ia bisa ketika mendengar desahan Naruto.

"Ngh!" desah Gaara.

"AAAAAAAAAHHHHHHHH! MMMHH!" teriak Naruto.

Akhirnya mereka mencapai klimaks bersama. Cairan milik Naruto kembali membasahi tubuhnya dan tubuh Gaara, dan milik Gaara mengisi rongga lubang Naruto, ranjang terasa lembap dan penuh dengan cairan milik mereka berdua. Narutopun terjatuh di atas kasur.

"Haahhhh..." Naruto mulai mengatur nafasnya sambil menatap Gaara.

"Ada apa?"

"Disini masih belum cukup…" jawab Naruto sambil menunjuk ke arah lubangnya

"Baiklah, lakukanlah sebanyak yang kau suka." kata Gaara.

Naruto memandangnya sedikit polos. Bingung apa yang harus ia lakukan. Mengerti dengan kebingungan Naruto, Gaarapun menarik Naruto agar duduk kembali diatasnya.

"Naru, sekarang coba kau lakukan apa yang ingin kau lakukan." kata Gaara.

Naruto terdiam namun kemudian mengerti. Ia memijat penis Gaara sebentar agar menegang dan memposisikan dirinya di atas penis Gaara dan menurunkan tubuhnya.

"Uhh... ahhhh..."

"Kau benar-benar jadi suka dengan seks, Naru?" tanya Gaara

Sementara Naruto menikmati bagaimana ia melakukan sendiri penetrasi pada dirinya. Naruto terlihat malu namun mengangguk. Gaara memutar tubuhnya, sehingga ia melakukan penetrasi dari belakang. Naruto terkejut namun ia segera menikmati perlakuan Gaara.

"Kau… Sungguh mempesona, Naru…" kata Gaara.

Ia memaju-mundurkan penisnya sementara Naruto ikut bergerak bersamanya. Wajah Naruto memerah, mata yang setengah terbuka penuh kenikmatan, tubuhnya yang dipenuhi oleh semen, pipinya yang merah, sekujur tubuhnya dihiasi oleh bekas kiss mark dari Gaara.

"Akhh...aahhh...hah..." erang Naruto

"Enhh… ka..kau… tetaphh... sempithh... Naru..." desah Gaara ketika penisnya dijepit oleh rektum Naruto yang terus berkontraksi.

"Ennhhh... le..lebihh… cepatthh, Gaara..." erang Gaara

Ia merasa bahwa Naruto sengaja menggodanya dengan bergerak secara perlahan, padahal dirinya betul-betul sudah tidak tahan lagi. Dia pun segera melingkarkan kedua tangannya di leher Gaara dan mulai menciumnya dengan ganas seakan nafsu dalam dirinya sudah tak dapat dibendung lagi.

"Tentu, Naru." jawab Gaara di sela ciumannya dengan Naruto.

Gaara pun mulai melesakkan kejantanannya dengan tempo yang cepat, sementara satu tangannya menahan pinggang Naruto dan tangannya yang lain mulai memompa kejantanan Naruto yang sudah menegang sempurna lagi.

"Ennhh... Uhh... ahhhh... emmhh... ennhh..." desah Naruto.

Tangannya masih tetap menekan kepala Gaara untuk memperdalam ciuman mereka. Dia benar-benar merasa melayang diterpa kenikmatan di dua titik sensitifnya. Tak lama kemudian Naruto pun melepas ciumannya.

"Ahhhh…Ga…Gaara…Naa...Naaru...hampirhh..." desah Naruto di telinga Gaara.

Gaarapun mempercepat gerakan in-out nya dan terus menghantam sweet-spot Naruto berkali-kali dan juga mempercepat gerakan tangannya.

"Anhh...Naa...ruu..." erang Gaara yang merasa bahwa rektum Naruto semakin menghimpit kejantanannya.

"Akhh...Gaaraahh... emmhh... ennhh..."

"Ennhhh... Naruto..." desah mereka bersamaan saat hasrat mereka keluar membuncah.

Gaara mengeluarkan benihnya di dalam tubuh Naruto, sementara Naruto mengeluarkan cairannya di tangan serta perut Gaara.

"Annhhh...haaahhh...haaahhh..." desah Naruto menikmati masa-masa klimaksnya yang entah ke berapa, begitu juga dengan Gaara yang masih menikmati rektum Naruto yang berdenyut memijat kejantanannya.

"Ennhh...anhhh...," desah Gaara dan Naruto bersamaan ketika Gaara mengeluarkan miliknya dari tubuh Naruto.

"Tidurlah. Besok kita pergi ke rumah sakit pagi-pagi sekali." Tanpa menyahut Gaara, Naruto segera memejamkan matanya dan terbang ke alam mimpi


Keesokan harinya, Gaara membawa Naruto ke rumah sakit untuk menjalani perawatan dan memastikan bahwa keadaan Naruto baik-baik saja.

"Bagaimana hasilnya?"

"Tidak ditemukan adanya gejala kelainan atau apapun tapi dia butuh istirahat total karena efek dari obat yang diberikan Orochimaru masih ada."

"Aku mengerti."

"Jangan lupa untuk menghubungi keluarganya."

"Baik. Terima kasih, Tsunade-sensei." Membungkuk

"Kalau begitu, sisanya kau yang urus."

"Baik."

"Ah, satu lagi." Gaara memandang bingung, Tsunade mendekati dan berbisik, "Kontrol dirimu. Jangan melakukan 'ITU' setidaknya selama seminggu. Karena bisa memperlambat proses penyembuhannya." Spontan wajah Gaara memerah lalu diapun mengangguk

"Yosh, jaa."

Selama 10 hari, Gaara dengan sabar merawat Naruto, namun terjadi penolakan saat Gaara mendekati Naruto. Awalnya, Gaara menganggap itu trauma tapi lama kelamaan hal itu menjadi jelas kalau hanya dia yang dihindari oleh Naruto

"Naru, ada apa?"

"…"

"Hey, kenapa kau diam saja, Naru."

"Pergi."

"Hah?"

"Pergi! Jangan dekati Naru lagi!" teriak Naruto sambil melempar apa yang ada di dekatnya

"Hei, tenanglah."

"Gaak mau! Gaara pergi!"

"Naru." Gaara berusaha menenangkan Naruto

"Lepasin Naru!" ronta Naruto

"NARUTO!" bentakan Gaara membuat Naruto terkesiap dan diam membisu, "Coba kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa tiba-tiba kau menjauhiku, Naru?"

"Kenapa tidak Gaara tanya cewek Gaara saja!" memalingkan wajahnya

"Cewek? Yang mana?"

"Jangan pura-pura! Naru lihat sendiri kalau Gaara hanya kasihan dengan Naru. Gaara hanya menjadikan Naru bahan percobaan. Gaara cuma main-main dengan Naru. Padahal Naru…Naru…" tak kuasa lagi air mata Naruto terbendung

"Sssshhh… jangan menangis. Itu semua salah paham." Ucap Gaara sambil memeluk dan mengelus Naruto

"Awalnya, aku memang cuma menganggapmu sebagai bahan percobaan supaya penelitian yang aku lakukan berhasil. Tetapi setelah bersama denganmu, aku jadi sadar." Menatap wajah Naruto, "Aku mencintaimu, Naru. Maukah kau jadi kekasihku?"

"…"

1 detik…

3 detik…

5 detik…

"Katakan sesuatu. Apa Naru tidak menyayangi Gaara?" segera Naruto menggelangkan kepalanya

"Naru sayang Gaara. Tapi…"

"Tapi?"

"Naru tidak tahu apa itu kekasih?" tanyanya polos

"Ppfffttt… Hahahahahhahahahaha…"

"Kenapa tertawa?!" protes Naruto

Gaara menjawabnya dengan kecupan yang berubah menjadi hisapan lembut dan akhirnya menjadi ciuman yang erotis. Naruto hanya bisa mengerang dan mengerang dengan kegiatan yang dilakukan Gaara. Dengan wajah memerah dan tersengal Naruto merajuk dengan apa yang dilakukan Gaara. Hal itu, membuat Gaara malah bertambah gemas dan merangkul naruto.

"Mulai sekarang tidak boleh ada yang memelukmu, mendekatimu, atau bahkan mengambilmu dariku."

"Eh, tapi Naru masih mau peluk dan dekat Tou-san, Kaa-san." Jawab Naruto sambil cemberut

"Ya, maksudnya selain orang tua dan aku, Naru tidak boleh dekat-dekat dengan yang lain. Khususnya pemuda."

"Kenapa?"

"Mereka bisa memakanmu."

"Eh?!" wajah horror, "Naru gak mau. Naru gak enak. Naru bukan makanan."

"Hahahahaha. Kau memang beda, Naru. Kau selalu bisa membuatku tertawa. Maksudku makan itu seperti ini…"

"Ah...ah…nghh..." Naruto menggigit lengannya sendiri saat Gaara bermain dengan putingnya. Meremas, menjilat, menghisap bahkan sesekali menggigit kecil.

"Kau suka, Naru?" Tanya Gaara sambil melihat ke atas tanpa menghentikan kegiatannya di dada Naruto.

"Nghh...ja…jangan menggodaku! Ah!" desah Naru namun Gaara justru menghisap putingnya dengan kuat.

"Tubuhmu benar-benar sensitive, Naru." Ucap Gaara pelan.

Bibirnya mulai turun menjelajah sampai ke pusar. Tangan besarnya menari di setiap lekuk tubuh Naruto membuatnya semakin melemas dan menggeliat.

"Aah! Gaa...gaara ngapain? Nnh…ah...ah...hentikan..." Naruto semakin panik dan menggeliat tak tenang saat Gaara mengangkat pinggulnya, membuka kedua pahanya lebar-lebar dan menjilat lubangnya.

"Hmm? Mempersiapkanmu," Jawab Gaara santai dan terus melanjutkan aksinya. Menggerakkan lidahnya memutari lubang pink itu lalu memasukkan jari telunjuknya.

"Aaakh!" Pekik Naruto merasakan ada sesuatu yang memasuki tubuhnya.

"Hey, rileks Naru. Kau menjepit tanganku."

"Aakh...nghh…aaghh...haahh..." Yang terjadi selanjutnya justru Naruto membantingkan kepalanya ke kiri dan ke kanan saat Gaara menambahkan dua jari sekaligus.

"Aah…aah…aah...enhh...hahh..." Desah Naruto tak tahan saat tangan terampil Gaara bergerak lebih dalam dan menggeliat di dalam lubangnya.

"Panggil namaku Naru." Pinta Gaara.

"Aah...hentikan...ennhh..." Naruto menutup matanya rapat-rapat dan menggunakan tangannya untuk menyembunyikan wajah.

Gaara beranjak ke atas tanpa menarik keluar jarinya.

"Jangan menyembunyikan wajahmu. Biarkan aku melihatnya." Ujar Gaara menarik tangan Naruto agar dia bisa melihat wajah kekasihnya.

"Anghh...uhmm...di...disitu..." Desahnya nikmat saat tangan Gaara menyentuh sweet-spotnya.

"Benarkah? Kau suka?" Tanya Gaara puas melihat wajah Naruto yang dipenuhi nafsu dan tubuhnya yang menggeliat nikmat.

"Kalau begitu buka matamu, Naru."

Menurut, Narutopun membuka matanya menatap Gaara yang tersenyum tipis penuh kemenangan di atasnya. Tanpa di minta lagi kedua tangan Naruto merangkul leher dan bahu bidang milik Gaara. Menyatukan dua pasang bibir yang haus satu sama lain. Membawanya dalam sebuah ciumam.

"Mmmhh! Aanghh... nghh..." Baru saja akan protes karena Gaara mengeluarkan jarinya, Naruto tersentak saat tangan itu digantikan oleh sesuatu yang besar dan keras milik Gaara. Erangannya pun tertahan karena Gaara membungkam mulut Naruto menggunakan mulutnya.

"AAAAAAHH! Saa…saakit! hentikan!" keluh Naruto melepas paksa ciuman Gaara.

Kedua tangannya mendorong bahu Gaara dan kepalanya melesak jauh kebelakang.

"Rileks Naru..." Gaara mencoba menenangkan Naruto dengan meraih wajahnya dan membiarkan miliknya hanya tertanam separuh saja.

"Sakiit..." Keluh Naruto tanpa membuka matanya.

"Bernafas yang benar dan buka kakimu lebih lebar," Ucap Gaara.

"Ahh...haha...haa..."

"Ya, seperti itu. Sekarang buka matamu Naru. Lihat aku.." Perlahan Naruto membuka matanya yang sudah basah oleh matanya sendiri dan terdiam menatap Gaara.

Dan Gaara yang berada diatasnya mengelus lembut wajah serta rambut Naruto.

"Tenanglah Naru. Ini tak akan sakit." Ucapnya sambil mengecup lembut kening Naruto.

Naruto menutup matanya dan mengumpulkan keyakinannya.

"Buka kakimu lebih lebar. Aku mencintaimu, Naru." Kecupan yang semula berada di kening kini berpindah menuruni leher Naruto dan berhenti diantara perpotongan antara pundak dan leher Naruto.

"Mmmh.." Naruto mendesah dan memberikan akses lebih pada Gaara.

"Aaah! Gaara!" Pekiknya saat Gaara kembali bergerak dan memasukan sepenuhnya miliknya ke dalam tubuh Naruto.

"Ya, seperti itu Naru. Panggil namaku dan peluk aku sesuka hatimu." Bisik Gaara sambil mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur.

Menghujam lubang sempit Naruto yang terasa hangat dan nikmat.

"Aahh…Gaa…ra...Gaara..." Desah Naruto

Kedua tangan yang semula mencengkram sprei berpindah merangkul pundak dan punggung kekar Gaara.

"Mmh…" Desah Gaara yang juga merasakan kenikmatan.

"Gaara…Aggh…" Suara Naruto semakin berat.

Mengerti kalau lawan mainnya akan klimaks, Gaara meraih milik Naruto yang sejak tadi tak disentuhnya. Benda panjang itu sudah berdenyut dan cairan berwarna putih mulai mengalir dari ujungnya.

"Aahh! Aah...ahh…Gaara…Gaara…" Dengan peluh dan tubuh yang bergerak naik turun karena perbuatan Gaara dan tangan besar yang memanjakan miliknya membuat kepala Naruto terasa pusing.

Yang ada sekarang hanya nafsu dan keinginan untuk mendapatkan lebih membuat tubuhnya ikut bergerak agar milik Gaara menghujam lebih dalam.

"Lebihh...nghh...lebih cepat..Gaara…" Pinta Naruto dengan nafas memburu.

"Naru…" Gaara mempercepat sodokannya dan hand jobnya lalu tak berapa lama kemudian tubuh Naruto mengejang.

"AAAHHH! Gaaraaa...!"

Pelukannya pada Gaara semakin erat dengan punggung yang melengkung hebat.

"Hhaah...haah...haah..." Naruto terangah dengan mata sayu dan rambut yang berantakan.

Tergeletak tak berdaya diatas ranjang yang putih. Membiarkan Naruto menikmati klimaksnya beberapa saat kemudian Gaara berkata dengan suara berat.

"Bertahanlah sebentar lagi, Naru." Dan desahan pun kembali terdengar dari mulut Naruto yang kembali dihujam oleh Gaara.

"Aah…aah...nghh…Gaara…hahh…"

"Mmhh…Naru!" Akhirnya Gaara pun mencapai klimaksnya dan hampir terjatuh diatas tubuh Naruto, seandainya saja tangan kirinya tak digunakan sebagai tumpuan.

"Haah…haah...haah…" Naruto terangah dengan penampilan yang sudah berantakan walaupun sejak awal mereka berdua memang sudah tidak memakai apapun.

"Mmmhh..." Kembali kegiatan panas mereka ditutup dengan sebuah ciuman.

"Apa ini?" Tanya Naruto saat sesuatu yang dingin menyentuh lehernya.

"Itu kalung milikmu," Jawab Gaara memakaikan kalung dengan bandul Kristal biru, sebiru bola mata Naruto.

"Kalungnya bagus. Arigato." Naruto memegang bandul kalungnya.

"Ya, ini memang khusus aku pesankan untukmu, Naru." Gaara menarik Naruto kedalam pelukannya dan membiarkannya bermain dengan kalung itu sesaat sebelum jatuh tertidur.


Sebulan kemudian, Gaara menjelaskan keterlibatannya dengan proyek Orochimaru yang melibatkan keluarga Naruto. Mendengar kebenaran yang terungkap, hakim memutuskan untuk melepas jabatan Gaara sebagai Dokter dan dipulangkan kembali ke Sunagakure untuk menjalani masa hukuman selama 6 bulan. Naruto sempat protes karena bagaimanapun Gaara adalah orang yang sangat disayanginya.

"Tenanglah, Naruto."

"Tapi…"

"Aku pasti kembali. Aku janji. Kau percaya padaku kan, Naru?" Narutopun hanya bisa mengangguk sambil meneteskan air mata

"Jangan menangis dan tunggulah aku pulang, Naru." Kata Gaara sambil mengikuti sipir yang membawanya ke ruang penjara.

Dengan bersedih hati, Naruto terpaksa menerima keputusan hakim. Ia akan menunggu dan terus menunggu hingga kapanpun.

Tanpa terasa enam bulan berlalu dengan cepat.

"Sabaku No Gaara."

"Iya."

"Kau bebas sekarang. Jangan biarkan kekasihmu menunggu." Ucap sipir penjara

"Hahaha. Baik, terima kasih." Berjalan keluar penjara, "Waah, sudah lama tidak merasakan sejuknya udara luar."

Tepat di bawah pohon, tampak sesosok orang yang sangat dikenalnya sekaligus tidak. Bagaimanapun sosok yang menggunakan pakaian khusus ibu hamil dan celana panjang dengan rambut sebahu sangat mirip Naruto. Tapi bila dilihat dari manapun sosok itu seperti wanita hamil. Mana mungkin Naruto yang notabennya adalah seorang lelaki bisa hamil. Namun, semua pikiran itu hilang ketika sosok itu memanggil namanya.

"Gaara!" berlari ke arah Gaara dan segera memeluknya

"!"

"Naru rindu Gaara." Sembari meneteskan air mata

"Tunggu!" melepaskan pelukan Naruto, "Tadi kamu bilang apa? Naru? Maaf Nona, Naru yang saya kenal adalah seorang lelaki."

"Hiks… Hiks… Huweeee…"

"Ahhh? Ehh?"

BLETAGH!

"Ittai! Siapa?!" menoleh ke arah orang yang memukulnya

"Beraninya kau membuat anakku menangis!" kata Kakashi gusar

"Kakashi-san? Anak? Dia?"

"Tampaknya penjara sudah membuat otak jeniusmu menjadi tumpul." Menghampiri Naruto dan memeluknya

"Tunggu sebentar, Kakashi-san. Coba jelaskan mengapa Nona ini mengaku sebagai Naruto?"

"Teme! Sudah berani menghamili anakku sekarang kau berpura-pura tidak mau bertanggung jawab!" bersiap akan menghajar Gaara

"Bu..bukan begitu."

"Hentikan. Kalau kau menggunakan kekerasan, Gaara-kun tidak akan mengerti."

"Iruka-san." Sejenak perasaan lega muncul di hati Gaara ketika Iruka datang

"Cih." Berlalu pergi bersama Naruto

"Lebih enak kalau kita bercerita dirumah."

"Baiklah."

Sesampainya dirumah, Iruka mengajak Gaara duduk di ruang tamu bersama dengan Kakashi. Sementara Naruto membuatkan minuman dan makanan kecil untuk mereka.

"Baiklah, darimana sebaiknya aku mulai bercerita."

"Sebaiknya dimulai sewaktu aku dipenjara. Setelah itu, apa yang terjadi?"

"Sebulan setelah kau masuk penjara, Naruto mulai menunjukkan gejala aneh. Dia ditemukan pingsan dikamarnya. Kami khawatir, lalu segera membawanya ke Rumah sakit. Disana kami bertemu dengan temanmu, Matsuri-chan."

"Matsuri?"

"Iya. Dia membantu memeriksa Naruto. Hasil pemeriksaan itu, membuat kami sempat terkejut. Namun, Matsuri-chan menjelaskan bahwa obat yang telah dikembangkan oleh Orochimaru untuk awet muda membawa efek samping."

"Efek samping? Kenapa aku tidak mengetahuinya? Lalu hasil pemeriksaannya?"

"Kalau kau ingin jawabannya sebaiknya kau diam dan dengarkan, bocah!" kata Kakashi sambil mendeathglare Gaara

Melihat kelakuan suaminya, Iruka hanya tersenyum dan melanjutkan kembali ceritanya, "Iya serum yang kau dan Orochimaru kembangkan itu mempunyai efek samping. Jika dipakaikan kepada wanita maka ia akan menjadi pria di bagian dalam tubuhnya begitu pula sebaliknya. Hal ini, baru terungkap setelah Matsuri-chan dan kawan-kawannya melakukan pengujian lebih lanjut pada hewan. Dan itulah yang terjadi pada Naruto."

"…" Gaara hanya bisa menganga mendengar penjelasan dari Iruka, seakan otak jeniusnya berhenti bekerja.

Naruto datang dari dapur dengan membawa nampan berisi minuman dan makanan yang keliatan berat. Kakashi menurungkan niatnya yang hendak berdiri dan membantu anaknya ketika didahului oleh Gaara yang menghampiri Naruto dan memeluknya.

"Gomen, Naru. Gomen karena sudah membuatmu menunggu. Gomen karena sudah membuatmu menderita sendirian. " Tanpa terasa air mata Naruto jatuh mendengar suara orang yang dirindukannya itu

"Um-hum, tidak apa-apa."

Gaara lalu meraih nampan dan meletakkannya diatas meja. Ia bersimpuh didepan Naruto lebih tepatnya di depan perut Naruto yang mulai membuncit itu. Gaara mengelus-elus, mencium dan menempelkan telinganya.

"Aka-chan, ini Tou-san. Maafkan Tou-san yang terlambat menyadari kehadiranmu." melihat tindakan yang dilakukan Gaara, membuat anggota keluarga yang lain tersenyum

"Iruka-san."

"Iya?"

"Umur kehamilan Naruto?"

"Ah, sekarang sudah hampir 6 bulan."

"Sooka, terima kasih sudah menjaga dan merawat Naruto selama aku tidak ada."

"Tidak apa-apa. Lagipula Naruto adalah Puteraku sudah seharusnya aku merawatnya kan? Dan yang seharunya berterima kasih itu adalah aku. Karena Gaara-kun sudah memberikan satu kebahagiaan bagi keluarga ini. Meskipun tampak tidak mau menerima kenyataan tapi Kakashi adalah orang yang paling bahagia saat mengetahui kalau Naruto hamil."

"Ap..apa? Si…Siapa bil… ugh… Baiklah, baiklah. Memangnya kenapa kalau aku senang?"

"Dasar pembohong." Ucap Iruka tersenyum

"Naruto." Menatap Naruto, "Mulai sekarang, aku akan selalu menjaga dan bersama denganmu juga anak kita."

"Umh." Naruto hanya menjawab dengan anggukkan dan senyuman

END


Yatta! Akhirnya selesai juga

Gomenne, sejujurnya Chibi mau memberi adegan bertarung yang seru tapi yang terpikirkan oleh Chibi Cuma adegan Lemonan doank #bletak

Ehehehehe… XD

Chibi sampai memeras otak supaya endingnya bagus

Menurut minna-san bagus tidak?