Qtalita Present

.

.

Wonkyu As Always

.

.

Enjoy it

.

.

Kyuhyun mengusap ujung violinnya pelan, ia sedikit gelisah, pasalnya hari ini Eommanya berjanji untuk datang lagi, namun disisi lain Appanya juga akan datang untuk mengurus yayasan sekolahnya. Ia takut, sangat.

Bagaimana tidak? Appanya belum tahu mengenai pertemuannya dengan sang ibu, sementara ibunya tidak mengetahui perihal appanya yang akan datang ke sekolahnya, apalagi sejak tadi kedua ponsel orang tuanya itu tidak bisa dihubungi.

Kyuhyun menggigit bibir bawahnya khawatir.

Drrrttt..drrrttt..

Ponsel Kyuhyun bergetar, sebuah pesan masuk

From : Siwon

Kyu, aku tunggu di kantin

Kyuhyun mengernyitkan dahinya, Siwon bukannya segera ke aula untuk latihan terakhir, ia malah berada di kantin?

"Ck, dasar anak itu, hanya makan saja" Gerutu Kyuhyun namun tetap melangkah menuju kantin.

Sesampainya di kantin langkah Kyuhyun terhenti sendiri, matanya nyaris meloncat dari tempatnya, disana, dimeja sudut berkursi 4 tengah duduk appa, eomma, serta Siwon yang melambaikan tangannya. Kyuhyun melangkah takut, ia dapat dengan jelas melihat betapa murka pandangan appanya.

"A-annyong" Sapa Kyuhyun pelan, Siwon menyuruh Kyuhyun duduk di sampingnya, berhadapan dengan appa dan eommanya yang masih tampak kaku.

"..."

"..."

Hening, mereka hanya bertatapan satu sama lain, berbeda dengan Siwon yang masih setia dengan senyum berdimplenya.

"Hh, Kyuhyun-ah, kau kaku? Wae? Bukankah mereka orang tuamu?"

Kyuhyun menendang kaki Siwon dari balik meja, situasi seperti ini namja itu malah sempat bercanda.

"Kyuhyun"

Kyuhyun mengangkat wajahnya, suara berat appa Cho menyapu gendang telinganya.

"Masih ingat perjanjian kita?"

"A-appa.."

"Tak ada violin, tak ada biola, tak ada.." Suara appa Cho meninggi namun kembali merendah di akhir kalimat. Kyuhyun meremas ujung kemejanya, ekor matanya melirik sang Eomma yang memandang kosong cangkir kopi dihadapannya.

"Tak ada lagi..eomma" Lanjut sang appa membuat eommanya melempar tatapan tidak percaya.

"Apa?"

Kyuhyun menelan ludah, Siwon refleks menggenggam jemari Kyuhyun yang memucat, mengirim kekuatan tak tampak ke namja disampingnya.

"Apa maksudmu? Kau lupa jika aku adalah orang yang melahirkan Kyuhyun? Kau lupa?" Eomma Cho berdiri, nafasnya bergerak cepat.

"Tentu saja tidak, aku tidak akan lupa siapa kau, dan apa yang kau lakukan, memilih musik dan meninggalkan anakmu" Sang appa pun tidak ingin kalah dengan ikut berdiri dan meletakkan lengannya di pinggang.

"..."

"..."

Brukk

"Mianhe.." Eomma Cho terduduk, suaranya lirih menyiratkan penyesalan teramat dalam.

"Mian meninggalkan kalian.. " Lanjutnya.

Kyuhyun masih setia menunduk tanpa suara, tanpa tangisan meskipun wajahnya telah memerah menahan emosi. Appa Cho membenarkan jasnya hendak pergi anda saja Siwon tidak menahan lengan namja paruh baya itu.

"Tuan Cho, tolong dengarkan Kyuhyun dulu"

Siwon menepuk bahu Kyuhyun, meremasnya pelan.

"Saatnya.." Bisik Siwon lirih, ia berdiri meninggalkan keluarga Cho, memberi ruang gerak pada mereka untuk menyelesaikan situasi yang tidak sempat terselesaikan sebelumnya.

...

Kyuhyun menatap orang tuanya bergantian, ia menarik nafas panjang sebelum menyampaikan perasaannya.

"Appa.. Eomma.."

"..."

"Mianhe.."

"..."

"Sudah lama kita tidak seperti ini, sudah lama aku tidak pernah merasakan suasana ini, gomawo karena kalian masih bisa bertahan ditempat ini"

"..."

"Karena kalian, ya hanya karena kalian aku tidak pernah merasakan sakit yang benar-benar menyakitiku, takut yang benar-benar menakutiku, bahkan aku tidak pernah merasakan bahagia yang benar-benar membahagiakanku"

"..."

"Aku tidak mempercayai diriku sendiri, aku membenci diriku sendiri, karena aku, Cho Kyuhyun, tidak bisa menghentikan tangisan appa ketika malam tiba, karena aku, Cho Kyuhyun, tidak bisa menemukan Eomma ketika appa membutuhkan"

Deg

Kedua orang dewasa di depan Kyuhyun tersentak.

"Aku bodoh, tapi bolehkah aku meminta? Bisakah kalian bersama meski itu hanya palsu dihadapanku?"

"Kyuhyun, anakku.."

"Eomma.. aku mohon"

Kyuhyun meneteskan airmatanya, jemarinya masing-masing menggenggam tangan appa dan eommanya.

"Kyuhyun appa harap kau tidak terlalu berharap.."

"Appa.." Lirih Kyuhyun mematahkan tatapan keras appanya.

Appa Cho menarik pelan jemarinya, ia berdiri dan berlalu tanpa bisa Kyuhyun tahan.

"Mianhe sayang.."

Begitupula eomma Cho, ia berlalu dengan sebelumnya mengecup puncak kepala Kyuhyun.

Kini namja Cho itu sendiri, terdiam di tengah kantin yang masih sepi, ia tidak menyadari sedari tadi Siwon menatapnya dari balik pilar pembatas. Ia menunduk, seakan bisa merasakan apa yang Kyuhyun tengah rasakan kini.

...

Duk duk duk

Kyuhyun memukul-mukul partitur di depannya dengan sebatang stik drum, sesekali nafasnya terdengar tidak teratur.

Siwon duduk disisi lain, memainkan jemarinya di atas tuts piano, berulang-ulang, hanya pada deretan nada do re mi. Pandangannya tidak pernah teralih dari sosok Kyuhyun, bagaimana Kyuhyun memukul partitur dan bagaimana Kyuhyun mengerjap-ngerjapkan matanya menahan tangis.

Siwon berdiri menghampiri Kyuhyun, menepuk bahuk namja itu lembut, Kyuhyun menengadah.

"Hei, kau masih memikirkan masalah tadi?"

Kyuhyun tidak menjawab, ia malah menyerahkan Stik drum kepada Siwon dan partitur yang ia pegang.

"Sebaiknya kita latihan, tomorrow is the day"

Siwon menahan bahu Kyuhyun yang hendak berdiri.

"Percaya padaku, mereka pasti datang"

"..."

"Aku berjanji Cho"

Kyuhyun menatap kesungguhan di mata Siwon, dan entah kekuatan dari mana tubuh Kyuhyun terasa menhempas ke dalam rengkuhan Siwon.

"Aku mempercayaimu Choi"

...

The day

Dada Kyuhyun terasa sesak, ia mengintip kursi-kursi aula yang sudah sesak pengunjung, ini bukan pengunjung biasa, bahkan beberapa tamu luar negeri juga turut hadir dalam pagelaran tahun ini. Kyuhyun menarik nafas, kembali duduk di kursinya, di backstage.

Siwon yang sedari tadi hanya diam sambil mengunyah permen karetnya, mengernyitkan dahi, ia tahu Kyuhyun gugup, iapun sama, hanya saja baru kali ini ia melihat Kyuhyun setegang itu, bahkan saat mereka bertemu Eomma dan Appa Kyuhyun di kantin tempo lalu ia memang terlihat gugup tapi tidak seperti ini.

Siwon memutuskan berdiri, menghampiri partner duetnya.

"Hei, kau gugup Cho?"

Tidak ada jawaban, yang ada hanya helaan nafas dari pipi yang digembungkan.

"Walau kau tidak bertanya tapi, yeah aku juga"

Kyuhyun beralih menatap Siwon, Kyuhyun tersenyum lantas menggeleng.

"Ini beda Choi, di depan sana ada beberapa tamu penting, dan di sana juga ada..appaku, Sebentar lagi Eomma akan hadir,aku..aku..aku takut reaksi mereka hanya..hanya memperburuk"

Suara Kyuhyun terdengar lirih di akhir kalimatnya, Siwon tahu betapa Kyuhyun menginginkan hubungan orang tuanya kembali membaik di momen hari ini, entah ia akan berhasil atau tidak, Siwon sudah berusaha maksimal. Siwon berjongkok di depan Kyuhyun, ia melirik jam di pergelangan tangannya, lalu meraih violin putih dan meletakkannya di pangkuan Kyuhyun.

"If we never try, we'll never know, rite?"

Tatapan mereka bertemu, mata Siwon memancarkan kepastian, sebuah pegangan untuk Kyuhyun. Dan Kyuhyun meyakini itu..

"Siwon? Pipimu?" Kyuhyun menyentuh lebam di pipi kiri Siwon. Siwon menggeleng.

"Gwenchana Kajja"

Mereka berdiri, berpegangan tangan di balik tirai yang sebentar lagi terbuka, Siwon tersenyum pada Kyuhyun seakan mengatakan –semuanya akan baik-baik saja-

This time to show..

Suasana dan Siwon berada di sudut panggung yang berbeda, dengan desain seakan mereka berada di dunia yang berbeda, dibelakang mereka duduk berpuluh orchestra pemandu.

Lampu pertama bersinar di atas Kyuhyun yang berdiri mengenakan setelan maestro berwarna putih, kesan lampu putih menyinari tubuhnya sesuai konsep bahwa dirinya seorang malaikat dengan violin berwarna senada yang bertumpu pada bahunya. Matanya terpejam, dengan sekali tarikan nafas, lengan kanannya terangkat, menggesek violinnya memulai untaian nada. Efek angin kecil membuat setelan maestronya terlihat terbang, sangat indah.

Satu tarikan nada Kyuhyun bawakan, lampu lainnya di sudut sana bersinar, bersamaan dengan tabuhan Drum dengan semangat tinggi, lampu itu bersinar di atas Namja yang mengenakan pakaian semi kasual, dengan jaket berbahan kulit berwarna hitam, lampu berwarna merah yang pekat, sangat kontras dengan pakaian Si namja Choi yang serba hitam, di tambah lagi efek asap yang sesekali menguar dari sisi posisi Siwon berada, semua orang akhirnya tersadar, konsep universitas kali ini berbeda dari sebelumnya, kini mereka membawakan sisi seorang Devil And Angel.

(Now Playing – Explosive by Bond) *sangat dianjurkan untuk mendengarkannya :p *

Mata Siwon tidak pernah lepas dari sosok Kyuhyun yang memejamkan matanya, Kyuhyun terlihat begitu menikmati setiap nada yang ia bawakan, membuat Siwon berfikir jika namja yang awalnya ia anggap musuh itu ternyata adalah namja yang begitu polos, namja yang secara tidak sengaja membuat waktu Siwon terpaku hanya untuk membuntutinya, walau dengan kedok seorang Kim Heechul atau bisa dibilang Cho Heechul dan pada akhirnya ia harus menelan pil pahit. Namun ia tidak merasa penyesalan itu terlalu membelenggunya, karena ia kini sadar, ia menemukan harta karun lainnya, yang jauh lebih berkilau. Cho Kyuhyun.

Siwon tersenyum dalam permainannya, walau lengannya mulai terasa pegal karena tabuhannya yang kini semakin bersemangat, tapi sosok yang berada di sudut sana, dengan kesan seorang malaikat telah membuainya, membuatnya lupa tentang sebuah kata letih, yang ada hanya kepuasan, bahagia, dan…cinta. Choi Siwon sudah mengakuinya, ia sudah menyerah pada hatinya, ia mencintai seorang Cho, bukan Heechul, tapi seorang Cho Kyuhyun.

Sebait sebelum Refrain, music pengiring berhenti, membiarkan Kyuhyun menarik dawai violinnya sendiri, di saat itulah mata caramel itu terbuka, memancarkan sosok seorang malaikat secara sempurna, kilau sinar lampu malah membuat mata berwarna cokelat itu menjadi focus semua penampilan, disaat itu pula caramel seorang Cho Kyuhyun menumbuk kelam hitam mata Siwon.

Deg..

Sebuah senyuman terpatri disana, di bibir plum merah delima, membuat pipi putihnya terangkat.

Siwon membenarkan kata-kata Kyuhyun di awal latihan mereka, Ya, Siwon mengakuinya, ia benar-benar terpesona di semua permainan Kyuhyun, kepiawaiannya membuai semua orang dengan kelembutan, bukan sekedar kelembutan biasa, namun kelembutan yang berawal dari sorot matanya lalu menancap tepat di balik hatimu, tepat di jantung.

Siwon tersenyum, membalas Kyuhyun. Ia semakin bersemangat di bait-bait terakhir, suasana semakin tertelan buaian nada.

Dan sebuah tarikan panjang mengakhiri semuanya.

Kyuhyun dan Siwon saling berpandangan, lalu berjalan beriringan ke panggung depan, membungkuk hormat pertanda sebuah harmoni nada telah selesai mereka persembahkan. Tepuk tangan meriah memanjakan telinganya, Kyuhyun dan Siwon tersenyum haru, penampilan kolaborasi pertama mereka dinyatakan sangat sukses.

Siwon menggenggam jemari Kyuhyun. Menetapkan kalau namja malaikat disampingnya adalah miliknya.

Kini ia harus berfikir, bagaimana membuat Kyuhyun jatuh dalam pelukannya..

TBC

Hohohohohoho ini apa juga mana TBC tiba-tiba, authornya siapa sih? *nunjuk diri sendiri* hahahahahahaha rada sarap!

Hai hai hai balik lagi, setelah lama menghilang dari peredaran akhirnya Qai menemukan jalan lurus, lanjutin ff yang terbengkalai T_T

Biasa yaaa, lagi sibuk banget, kejar deadline, urus ini itu, urus rumah.. HHhhhh

Jadi gimana? Ff nya 1 chapter lagi bakal END nih..

Thanks banget buat yang udah read, review dan masih nunggu ff yang naujubillah lama banget updatenya ini hehehehe, lup u pull

Qai