"Ah, halo Fran…" sapa seorang pemuda trap dengan sebuah tudung panjang hingga menutupi indera penglihatannya.

"Ah, Mammon-san…" Fran mengangkat tangan kanannya, memberi gestur menyapa yang baik dan benar.

"Yare yare, kelihatannya kau pucat… ada apa?" tanya trap cantik yang tak lain adalah Mammon itu sambil mendekati pemuda bersurai hijau tersebut.

"Hari pertama OSPEK langsung bertemu senior mengerikan…" jawab Fran sejujur mungkin.

"Hooo— eh, bentar… Fran, puter badan lu sebentar deh…" pinta Mammon tiba-tiba. Dengan polos, pemuda bersurai hijau itu memutar tubuhnya hingga membelakangi pemuda trap tadi.

"Hooo, sudah kuduga…" sumpah, Fran merasa ada hawa tak enak disekujur tubuhnya sekarang.

"Fran, puter badan lu lagi, terus cepet ikut gue ke asrama." Tanpa basa-basi —karena kalau sudah basi nggak akan menarik— Mammon langsung melangkahkan kakinya kearah asrama.

"Eh? Mammon-san?" Fran makin pokerface.

'Pertama senior banci, kedua senior setan, selanjutnya apa lagi nih?' batin pemuda itu frustasi.

.

Sabar ya, Fran. Maklum, soalnya kalo udah masuk fic ini, dijamin bakal apes…

.

.

.

Disclaimer : Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira

An Abnormal Love Story © Profe Fest

Genre : Romance, (a bit) Humor

Pairing : B26

Warning : Sho-ai, Yaoi, Typo(s), AU, OOC, Humor garing, EYd tidak benar!

A/N: Dibuat untuk Dare yang pernah dimainkan Author bersama seorang Author lain yang bernama Eiffel Caramel. Jess, nih fic-nya, map ya kalo garing TwT

Enjoy it~!

.

.

.

Mata Fran membola semi melotot begitu ia sampai di asramanya dan Mammon menunjukkan sebuah kertas yang entah sejak kapan berada di punggungnya. Kertas itu sendiri berisi dengan tanda tangan nggak jelas bin ajaib yang hampir memenuhi tiga per empat bagian dan sebuah pesan kecil dibagian pojok kanan bawah.

'Ini tanda tangan dari gue. Suatu saat lu bakal butuh. Kalo pun nggak butuh simpen aja, soalnya ini tanda tangan dari orang ganteng. Tertanda, pangeran ganteng.'

"KAMPREEEETTTT! PANTES AJA DARITADI ME DILIATIN ORANG-ORANG PAS DI LORONG! KAMPREETTTTT!" emosi Fran pun langsung meledak-ledak.

"Oi, sabar Fran," pemuda trap tadi berusaha menenangkan ultimate uke yang tengah masa PMS tersebut.

"GIMANA MAU SABAR, MAMMON-SAN?! Gara-gara dia—"

"—Nanti kita bales pake kekuatan dari dalam…"

.

Krik

.

Plis, Mon, ini bukan dukun…

.

"'Kekuatan dari dalam'?" ulang Fran bingung.

Sebuah anggukan dari Mammon. "Iya, belum pernah berguru sama Spongebob ya?"

'JADI DARITADI NGEBAHAS SPONGEBOB?!' batin Fran seriosa di tempat.

"Udah lah, mending tidur…" dengan tanpa dosanya, pemuda bertudung itu langsung merebahkan diri dikasurnya. Fran makin pokerface.

"Mammon-san, kau nggak dapat tugas?" tanya Fran masih dengan pokerface-nya.

"Udah gue kerjain… senior gue ngasih tugas cuma sedikit soalnya…" jawab Mammon enteng.

'KOK PILIH KASIH BANGET SIHH?!' background petir menyambar-nyambar terlukis sempurna dibelakang pemuda bersurai hijau itu.

"Udah ya, gue duluan… ngantuk banget gue…" tak sampai 4 detik, si trap ditemukan dalam keadaan telah memasuki dunia mimpi.

'ANJRIIITTTTTT!' maki Fran penuh dendam.

.

—I know what you feel, Fran…

.

.

"Heh, pangeran gadungan." Panggil Fran dengan sebuah perempatan dikepalanya, ia berusaha mati-matian mempertahankan wajah datarnya. Ia baru saja tiba di kelas dan begitu melihat sosok pemuda blonde kemarin yang telah diketahui bernama Belphegor (yang kemarin main asal nyahut diketahui adalah kakak kembarnya dengan nama Rasiel) —waktunya penuntutan dan pembalasan.

"Oh, rakyat jelata rupanya… udah liat tanda tangan spektakuler dari pangeran, ya?" tanya si pemuda blonde itu tanpa dosa.

'Spektakuler rambut lu! Mukanya master lebih spektakuler tau!' maki Fran gondok.

.

Entah ini berupa sindiran atau benar-benar fakta.

.

"Auk lah! Pokoknya gua nggak mau tau, kalau sampe nama gua tercoreng gara-gara tanda tangan nista lu, lu harus tanggung jawab!" ancam Fran dengan wajah datar.

"Plis deh, suka-suka pangeran mau ngapain. Rakyat jelata nggak usah sok nasehatin deh." Kata pemuda berponi kepanjangan itu setajam silet.

'KAMPPREEEEETTTTTTTTT!' Fran kembali seriosa. Namun sayang, belum sempat membalas apapun, pintu kelas mereka kembali dibanting dari luar. Dengan cepat, seluruh murid di kelas itu langsung duduk dengan sikap sempurna, sembari menguatkan iman tidak akan lagi muntah atau kejang-kejang saat melihat senior banci kemarin yang diketahui bernama Lussuria.

Pria bertopi fedora hitam kemarin —Reborn namanya— kembali memasuki ruang kelas itu dengan gagah berani bak mau perang di Surabaya tanggal 10 September. Para calon mahasiswa kembali meneguk ludah, keringat dingin langsung meluncur dari pelipis mereka. Sungguh, atmosfer di kelas itu berubah seperti di Gurun Sahara sekarang, bergerak tanpa tujuan sedikit, kau bisa mati antara karena tersesat atau kepanasan. Langkah Reborn pun terhenti tatkala ia telah mencapai meja dosen.

"Tugas yang gue kasih kemaren udah selesai?" tanya Reborn dengan suara macho, membuat kaum hawa melting sampe tumpeh-tumpeh.

"U- udah, senior…" jawab salah satu peserta OSPEK di ruangan itu nekat.

Reborn menganggukkan kepalanya. "Cuma satu orang doang yang nih ngerjain?"

"U- udah semua kok, senior…" bagai paduan suara, yang lain akhirnya ikut menyahuti.

"Hmm," Reborn kembali menganggukkan kepalanya. "Bagus, bagus, coba sekarang kalian bawa tugas kalian ke de—" tiba-tiba mata Reborn menangkap sesosok makhluk sejenis Yeti —hal ini dikarenakan poninya panjang banget sampe menutupi mata— yang berada diantara calon mahasiswa di ruangan itu.

"Heh, elo, yang rambut pirang terus poninya panjang macem Yeti sama Bigfoot, ke depan sebentar dong." Panggil Reborn dengan sindiran menusuk setajam silet.

"Yang lu maksud siapa? Gue apa tuh sodara gue?" dengan beraninya Bel malah balik bertanya sembari menunjuk kakak kembarnya yang duduk tak terlalu jauh darinya.

"Elo lah! Raja macem gua mana bisa disamain sama Yeti ato Bigfoot gitu. Sori dori mori yee~" sahut Rasiel dengan alay.

"Eh, pangeran macem gue juga mana bisa disamain sama tuh dua makhluk! Nggak banget dehh…" dengan ajaibnya Bel ikut menjadi alay.

"Emang apa bedanya sih?! Lu berdua kan sama-sama rambut pirang terus poni panjang gitu!" kata Reborn bete.

"Nih ya, senior, bedanya gua ini raja, kalo dia itu cuma pangeran. Ushesheshe~ derajatnya dibawah gua…" tawa nista Rasiel bergema di ruangan itu. Fran merinding disko, mau kakak atau adeknya, dua-duanya sama miringnya! Sepertinya ia perlu mencatat nomor RSJ, takut-takut misalnya duo sinting itu berbuat hal gila.

"PREEETTTTTT! LU MAH NGAREP DOANG JADI RAJA! UDAH PASTI GUE YANG PANGERAN INI LAH YANG BAKAL JADI RAJA!" sahut Bel dengan pede segede bagong.

"EH, DENGER YA, GUE EMANG RAJA! LU KALI YANG NGAREP NERUSIN TAHTA GUE!" balas Rasiel tak mau kalah.

"UDAH! DUA-DUANYA CEPET KE DEPAN! LO YANG NGAKU-NGAKU PANGERAN MIRIP YETI, DAN ELO YANG NGAKU-NGAKU RAJA MIRIP SAMA BIGFOOT! CEPETAN!" teriak Reborn nggak selow.

Mau tak mau, akhirnya kedua orang itu maju ke depan, berhadapan dengan senior sadis paling nggak sabaran. Fran berusaha sekuat tenaga agar tak tertawa. Hati iblisnya telah melancarkan caci maki macam 'rasain lo!', 'mampus lo!', 'makan tuh tanda tangan spektakuler!'.

"Kayaknya kemaren gue udah bilang yang cowok rambutnya dipotong deh…" sindir Reborn sambil mengitari dua orang itu.

"Udah dipotong kok!" bela Rasiel nggak terima disindir-sindir.

"Terus kenapa masih panjang gini?" tanya Reborn setajam golok.

"Orang cuma potong sehelai doang." Tandas Bel tanpa dosa.

'BEGOOOO! MAKAN TUH PONI!' inner iblis Fran tertawa puas.

"Ohhh, udah bosen idup rupanya… SEKARANG, CEPET BALIK BADAN KALIAN NGADEP ORANG-ORANG DI KELAS INI TERUS ANGKAT SATU KAKI KALIAN!" teriak Reborn menggelegar.

"Enak aja nyuruh-nyuruh! Emangnya gue flamingo apa, ngakat satu kaki—"

"—TERUS RENTANGIN TANGAN KALIAN! KALO PROTES, GUE SURUH LU BEGITU DI LAPANGAN VOLI, GANTIIN NET-NYA! CEPETAAANNN!" potong Reborn nggak sabaran. Duo kembar itu merinding disko, gile aja jadi pengganti net di lapangan bola voli. Rela nggak rela, akhirnya kedua orang itu melakukan perintah Reborn, bagai orang lagi latihan disuatu iklan ber-merk sedap. Fran sukses tertawa dalam hati dengan OOC-nya.

'AKHIRNYAAAA! MAKAN TUH PANGERAN GADUNGAN!'

.

Puas banget ketawanya mas…

.

.

.

-TeBeCe-

.

.

.

A/N: Halo, halo~! Jumpa lagi dengan saya, Profe Fest, di fic sableng ini~! 8D Maaf ya chapter ini makin pendek plus banyak typo… TwT Btw, chapter ketiga besok chapter terakhir! Ditunggu ya! Semua review udah saya bales pake PM ya, makasih banyak sama yang udah review plus nge-fav sama follow fic ini! /pelukin satu-satu/ /heh

Oh ya, gimana chapter ini? Apa feel humor-nya berasa? Apa makin garing? Ada yang punya saran ngasih ide humor kayak gimana? Saya tunggu sarannya ya!

Jangan lupa review yooo~! Saya nantikan review kalian semuaaa~! Akhir kata, sampai jumpa di chapter depan dan fic saya yang lain~!

.

.

-Salam-

Profe Fest