"Hahahaha, makan tuh tanda tangan," ledek Fran begitu Reborn telah keluar dari kelas dan Bel diperbolehkan duduk kembali di tempat duduknya.

"Berisik, rakyat jelata. Nggak usah sok deh," balas Bel dengan perempatan di kepalanya.

"Tapi me nggak mau. Hahahaha," tawa sang pemuda berambut hijau tersebut dengan tampang songong.

'Kampreetttt!' batin sang pemuda blonde kesal.

"Sialan lu, dasar kodok jelata," ejek sang pangeran —gadungan— masih dengan perempatan di kepalanya.

"Eh, sori, me ini manusia," balas pemuda bersurai hijau itu setajam silet.

"Dan gue pangeran. Jadi, diem deh, dasar kodok jelata," balas Bel setajam beling.

"Pangeran? Pangeran Yeti maksudnya? Hahahahaha," tawa pemuda bersurai hijau itu kembali menggema.

'SIALAAAAAAANNNNNNN!' kali ini inner Bel yang seriosa di tempat.

.

.

.

Disclaimer : Katekyo Hitman Reborn © Amano Akira

An Abnormal Love Story © Profe Fest

Genre : Romance, (a bit) Humor

Pairing : B26

Warning : Sho-ai, Yaoi, Typo(s), AU, OOC, Humor garing, EYD tidak benar!

A/N: Dibuat untuk Dare yang pernah dimainkan Author bersama seorang Author lain yang bernama Eiffel Caramel. Jess, nih fic-nya, map ya kalo garing TwT

Enjoy it~!

.

.

.

Pertengkaran Bel dan Fran selalu tak dapat dihentikan—kecuali dua-duanya ditegur seorang senior sadis bernama Reborn. Selama masa OSPEK, mereka sangat dikenal oleh siswa lain, hal ini juga dikarenakan pertengkaran mereka yang tiada habisnya. Bel juga cukup sering bersama dengan dua temannya —yang sama-sama abnormal—, yakni pecinta daging yang anti sampah bernama Xanxus dan seorang pemuda lain bernama Squalo yang selalu ditawari ikut kedalam iklan merk shampo yang terkenal dengan 'lagi keramas'-nya. Contohnya seperti pagi ini.

"VOOOOIIIIIII! UDAH GUE BILANG GUE BUKAN CEWEK YANG BISA LU TAWARIN JADI MODEL IKLAN SHAMPO MACEM ITUUUUU!" teriakan Squalo menggema diseluruh inci kampus.

"HIIIII! Ma- maaf mbak!" para kru yang baru saja nawarin sang pemuda berambut perak panjang itu langsung ciut dan kabur.

"VOOOOOOIIIIII! UDAH GUE BILANG GUE BUKAN CEWEEEEKKKKK!"

"Ushishishi~, sudahlah Squalo, lagipula kalau dipikir-pikir lu pantes juga jadi bintang iklan tuh shampo," kata Bel sembari melebarkan seringaiannya.

"BAJING LU!" semprot Squalo sambil mendaratkan pantatnya ke kursi. Xanxus yang ada disana hanya diem sok cool sambil menegak jus anggurnya—soalnya wine nggak ada dan dilarang keras dijual di universitas.

"Oh ya, ngomong-ngomong udah ngerjain tugas terakhir dari senior?" tanya Bel.

"Buat tugas terakhir, semua kelas tugasnya sama kan?" Squalo yang nggak konsisten malah balik nanya.

"Hn." Xanxus hanya mengangguk, nggak niat jawab banget.

"Suruh ngumpulin jenis jambu minimal tiga jenis, kan?" tanya Bel lagi.

.

Krik

.

Sumpah, itu tugas paling nggak bermutu yang pernah ada

.

"Iyee, gue udah selesai," jawab Squalo setengah nggak rela ngejawab.

"Ngumpulin jambu apa aja lu?" tanya Bel lagi tanpa bosen.

"Kepo." Jawab pemuda berambut panjang itu singkat, padat, dan jelas.

"BAJING!" Bel balas menyemprot, nggak terima dikatain kepo. Iyalah, mau dibawa kemana gelar pangeran—yang dibuat—nya itu setelah dikatain kepo?

"Sampah, nggak usah bawa-bawa bajing deh disini," sindir Xanxus setajam silet.

"Sampah, sampah, GUE PANGERAN WOI!" ralat Bel makin nggak terima.

"Eh, ngomong-ngomong gue heran," Squalo ngelus dagu, mau keliatan keren sebenernya. Sang anti sampah dan pangeran gadungan pun mengalihkan pandangan kearah —calon— bintang iklan shampo tersebut dengan tanda tanya dikepala—bingung maksudnya.

"Kayaknya jurusan sini bukan termasuk jurusan yang ada tetek bengeknya sama tumbuhan deh," lanjut Squalo sok tau.

"Yaterus?" tanya Xanxus rada bete, soalnya Bel nggak mau ngejawab.

"Terus kenapa kita disuruh ngumpulin jambu buat tugas terakhir OSPEK?"

.

Krik

.

Bel cengo, Xanxus kicep, Squalo pasang tampang bego. Entahlah. Hanya Spongebob yang tahu.

.

.

.

Fran merasa seperempat jam yang lalu adalah surga dunia baginya, namun semua berubah ketika seorang pemuda berambut blonde yang kemarin dijuluki Yeti Kampus memasuki ruang kelas. Fran menekuk wajahnya, sumpah dia bete level membara sekarang. Mana tuh Yeti duduk tak jauh darinya—hanya berjarak tiga orang. Sumpah, mending dia ketemu senior sadis yang pake topi fedora itu daripada—

—BRAAAKKKKK!

Pucuk dicinta, senior pun tiba! Ucapan terima kasih tak henti-hentinya keluar dari lubuk hati Fran. Pokoknya, ai lop yu full deh, begitu kata inner sang pemuda berambut hijau tersebut.

"Nah, minna~, kalian udah ngumpulin jambu, kan?" sebuah pertanyaan yang amat sangat you don't say banget keluar dari mulut Lussuria. Iyalah, emang mereka udah nggak sayang nyawa sampe nggak ngerjain tugas itu?! Apalagi ada Reborn, beuh! Selesai sudah!

"Udah, seniooorrr," jawab para peserta OSPEK serempak bagai paduan suara. Sejenak, bau jigong tercium oleh indera penciuman Reborn, namun keburu ditutupi dengan bau busuk jambu yang dibawa oleh para calon mahasiswa tersebut.

"Yaudah, salah satu ada yang maju ke depan. Presentasiin jambu yang dibawa, cepetan!" suruh Reborn seenak jiwa. Satu kelas langsung lirik sana lirik sini, ogah maju ke depan dan berhadapan dengan duo senior sinting itu.

"CEPETAN NGAPA! PADA NGGAK PUNYA KAKI BUAT JALAN KE DEPAN APA, HAH?!" bentak Reborn nggak sabaran.

Entah nekat atau memang udah bosen idup, Fran dengan berani melangkahkan kaki ke depan. Para peserta OSPEK yang lain langsung kasak-kusuk, siap ngegosip keberanian sang pemuda sekaligus kepo-kepo siapa namanya—bagi yang kudet nggak tau nama pemuda yang selalu berwajah datar disaat apapun itu—bahkan ada kemungkinan wajahnya akan selalu datar meskipun ada gempa skala 8 ritcher sekaligus tsunami dengan tinggi 20 meter.

Fran pun sampai dihadapan dua senior gendeng tersebut. Tanpa malu-malu, ditaruhnya semua jambu yang dibawanya, hasil hunting di kebon orang bersama Mammon. Nggak pake izin sama yang punya pula!

"Nih ya, Reborn-senpai, Luss-senpai," panggilan itu nyaris membuat Lussuria terbang, beruntung Reborn menginjak kakinya dengan keras.

"Nih, yang ini jambu air, disebelahnya jambu mede, yang itu jambu klutuk, terus jambu monyet—"

"—EH, EH, BENTAR!" tiba-tiba Lussuria memotong penjelasan Fran nggak selow. "Apa-apaan tuh tadi lu lirik-lirik gua pas bilang bagian 'monyet'-nya, hah?!"

"Yaelah, itu sih lu aja yang ngerasa, banci," sindir Reborn penuh fakta.

"BAJING! BUKANNYA BANTUIN GUE, LU MALAH BANTUIN DIA!" sang banci mulai ngamuk, membuat penghuni kelas itu segera memasang siaga 1 untuk berjaga-jaga.

"Itu kan fakta," tandas sang senior bertopi fedora itu singkat.

"NJIR! SIALAN LU! UDAH NYEBELIN, SIALAN, HOMO LAGI!" semprot Lussuria nggak terima.

"Eh, eh, gue nggak terima soal homo nih. Ya suka-suka gue dong mau homo ato straight! Daripada lu, she male!" balas Reborn.

"Yang homo biasanya suka pisang, kaleee. Pisang kan makanannya monyet, satu spesies kali sama lu! Berarti lu lebih parah daripada she male!" sang banci nggak mau kalah.

"Wahh, udah bosen idup lu rupanya… SEKARANG, CEPET PUSH UP LIMA RATUS KALI—"

"Dafuq, banyak amat,"

"—DIATAS GENTENG! CEPETAAAANNN!"

"BEGO! GUE BISA MATI!"

"YAELAH, PEDULI BAGONG LU MATI! NANTI GUE SIAPIN DEH UPACARA PEMAKAMANNYA!"

"BANGKE! GUE MASIH MAU IDUP!"

"TADI LU NANTANGIN GUE, ARTINYA LU UDAH BOSEN IDUP! CEPET PUSH UP!"

"YAELAH, JANGAN DIATAS GENTENG NGAPA, KELES!"

"GUE PENGENNYA DIATAS GENTENG! CEPETAAANNNN!"

"YAUDAH SIH, ELU AJA SANA YANG PUSH UP!"

"WAH, MAKIN BAJING LU RUPANYA! SEKARANG PUSH UP LU DITAMBAH JADI SERIBU! CEPETAAANNNN!"

"GRATIS COWOK CAKEP KAGAK?!"

"LU KIRA INI BONUS KAYAK PEMBELIAN PRODUK DI MALL APA?! CEPETAAAANNNN!"

"Reborn," sebuah suara penyelamat datang dari pintu kelas. Seluruh peserta OSPEK di ruangan itu langsung menghembuskan napas lega. Pasalnya, sedari tadi, khusus di ruangan mereka, telah terjadi hujan lokal paling dahsyat, bahkan disertai dengan angin topan. Padahal tadi berita ramalan cuaca bilang hari ini bakal cerah. Sepertinya mereka malpraktik, makanya nggak akurat.

"Napa Fon? Lu lupa etika mau masuk ruangan harus ketuk pintu dulu?" sindir pemuda bertopi fedora itu setajam peniti.

"Bukan gitu," bela sang tersangka pembuka pintu yang diketahui adalah seorang pemuda berpakaian ala Cina (namun tak menjamin dia keturunan Cina asli apa kagak) dengan rambut dikepang. "Gua mau bilang udah waktunya penutupan OSPEK. Lu ditunggu Luche."

"Egile, udah selese? Yaudah. Heh, cepet kumpulin tugas lo semua diatas meja! Nanti tugasnya dibawain tuh banci!" suruh Reborn dengan songongnya.

"HEEEEE?! KOK GUE SIH?!" protes Lussuria nggak terima. Jambu itu berat men! Terus tugasnya aja minimal bawa tiga jenis jambu, kalo pada bawa lima jenis gimana?! Terus, kan jumlah murid disini banyak bo! Lu kaliin aja lima kali jumlah murid yang ada, BERAAAATTTTTT!

"Lu mau bawain tuh jambu-jambu ato mau push up diatas genteng?" Reborn balik nanya, tak lupa dengan memelototi satu-satunya makhluk yang ber-gender she male tersebut.

Lussuria kicep, dilema harus memilih yang mana. Akhirnya, diputuskannya untuk membawa jambu-jambu maha berat itu. Soalnya, dia baru keinget ada genteng yang harus dibenerin, nanti dia malah disuruh push up sekaligus benerin genteng lagi! OGAH BANGET DEH! Mana nggak dikasih upah pula!

"Yaudah deh, gue bawain tuh jambu," kata Lussuria sedikit nggak rela.

"Bagus," dengus Reborn hepi, soalnya dia nggak bakal bawa apa-apa. "Dan elo, duduk sana!" tanya Reborn sambil mengalihkan pandangan kearah Fran yang masih diem plus nggak gerak sedikitpun kayak patung pancoran. Nggak ngejawab, Fran langsung balik ke tempat duduknya.

"Yaudah, OSPEK tahun ini selesai. Cepet balik ke asrama ato kosan lu, kalo gue liat ada yang keluyuran, gue suruh nembak nih banci nanti," ancam Reborn. Seluruh calon mahasiswa meneguk ludahnya. Plis deh, mending nembak harimau ketimbang nembak senior banci itu!

"Pengumuman lain ada di mading yang dipasang di lorong. Liat disana aja. Sekian." Reborn dan Lussuria pun segera meninggalkan kelas tersebut. Fon sendiri udah ngeloyor pergi, ninggalin temen sintingnya. Semua peserta OSPEK menghela napas lega, dibereskannya barang-barang mereka kedalam tas dan bersiap menuju surga mereka bernama rumah. Fran sendiri juga merapikan barangnya, namun ketika membereskan bukunya, selembar kertas meluncur jatuh. Bingung, diambilnya kertas itu.

'Kayaknya bukan kertas tagihan utang dari Mammon-san deh.' Batin Fran sembari membolak-balik benda itu. Dibukanya kertas tersebut tanpa ragu. Sebuah tulisan ala ceker ayam pun tercetak jelas disana, membuat Fran yakin minus di matanya pasti udah nambah sekarang.

'Abis OSPEK, jangan pulang dulu. Tunggu di aula. Kalo lu nggak dateng, gue tabrak lu pake tronton. Tertanda, pangeran ganteng. PS: Kalo gue kelamaan, telepon aja ke xxxxxxxxxxxx.'

Fran sweatdrop bacanya. Mantep bener ancemannya, sebelas dua belas seremnya lah sama anceman dari Reborn. Tapi, narsisnya itu lho! Udah ada pangeran, pake nyebut ganteng pula! Padahal kenyataannya lebih mirip sama makhluk macem Yeti, Bigfoot, plus anjing Chow-chow!

"Udah, mending pulang ke asrama aja! Lu capek kan?" iblis disebelah kiri pemuda itu berbisik.

"Iya, mending pulang. Terus tiduran." Sambung malaikat setuju dengan ucapan si iblis.

"….Baiklah. Me putuskan untuk nunggu di aula!" putus Fran setelah beberapa menit merenung. Dilangkahkan kakinya ke aula, membuat iblis dan malaikat cengo. Apa mungkin memutuskan berdasarkan suara terbanyak udah terlalu mainstream makanya uke berambut hijau itu memutuskan untuk ke aula?

Singkat cerita, Fran udah nyampe di aula, bahkan udah nungguin sekitar tiga puluh menitan. Namun sosok yang ditunggunya malah nggak dateng-dateng. Fran makin bete, apa mungkin ini hanyalah jebakan atau cuma PHP doang?

Untung hari itu ia membawa ponsel, dengan cepat dikeluarkannya telepon genggam itu dan kertas tadi. Ditekannya beberapa nomor dan menekan tombol panggil. Didekatkannya benda elektronik itu ke telinganya, nada 'tut, tut, tut' yang terdengar berkali-kali malah membuat Fran makin bete bagaikan cewek PMS yang lagi nunggu makanannya. Diketuknya lantai aula sembari menunggu jawaban panggilannya, mencoba mengurangi kadar betenya yang melunjak itu.

.

.

.

"Bajing! Dia nelpon nih!" kata Bel panik tingkat wahid sembari nunjukin ponselnya pada teman-teman—abnormal—nya.

"Yaelah, angkat aja, keles," jawab Squalo cuek.

"Bego! Kalo gue angkat nanti ketahuan gue ada dideket aula!" semprot Bel nggak terima. Pasalnya dia lagi gugup plus panik, pokoknya sebelas dua belas lah sama nahan buang air kecil!

"Terus lu maunya gimana?" tanya Rasiel yang entah kenapa ada disana.

Bel mikir sebentar. Tiba-tiba sebuah lampu neon melayang diatas kepalanya. "Gue tau! Sini lu, Sil!" tanpa aba-aba, Bel menarik saudara kembarnya sedikit menjauh dari Xanxus, Squalo, dan Mammon (lah, ini penggemar Spongebob kenapa disini pula?!).

"Heh! Jangan seret-seret! Gua raja plis!" bentak Rasiel nggak terima.

"Biasa aja, keles! Pokoknya bantuin gue buat boongin nih kodok! Pake metode waktu boongin si Orgelt pas SMP dulu!" tanpa banyak cincong, Bel mengangkat panggilan itu.

"Napa lu nelpon, kodok?" tanya Bel tanpa beban. Xanxus dan Squalo langsung facepalm sebenernya, pemuda blonde itu niat nanya apa niat ngeledekin?

"BEGO! Me udah nungguin dari setengah jam yang lalu nih! Lu dimana sih?!" suara Fran terdengar amat

"Pangeran? Pangeran masih dijalan nih," jawab Bel tanpa dosa. Bersamaan dengan itu, pemuda berponi panjang itu menyenggol lengan saudara kembarnya. Rasiel sudah tahu apa yang harus dilakukannya, didekatkannya mulutnya pada ponsel Bel dan—

"Bruuummm, brruuummm, bruuuummm…," pemuda yang selalu mengaku sebagai raja itu membuat suara mobil yang amat sangat tidak elitnya.

.

Sumpah, malu-maluin banget

.

"…..."

"Nah, udah ya. Tunggu aja kedatangan pangeran, nggak usah bacot." Dengan santainya Bel memutus panggilan tersebut. Hembusan napas lega ikut keluar dari bibirnya setelah menutup panggilan itu.

"Woi, Bel, lu ngapain tadi pake acara 'brum, brum, brum'-an?" tanya Mammon penasaran.

"Buat ngecohin. Dulu gue sama Sil sering begitu buat ngibulin si Orgelt biar bisa ngabur abis pulang sekolah. Tuh botak percaya aja lagi, ushishishi~," tawa nista Bel pun menggema dan diikuti dengan tawa Rasiel. Xanxus dan yang lain cengo berjamaah, sebenernya yang bego duo kembar itu yang punya ide nggak mutu atau si botak Orgelt yang percaya aja?

.

.

.

Fran memandangi ponselnya, panggilannya diputus sepihak oleh orang yang ditunggunya. Digigitnya bibir bawahnya, mencoba meredakan emosinya. Jujur, Fran sakit hati.

'Bangsat tuh Yeti. Awas aja, pokoknya me mau minta ganti pulsa!' batin Fran dengan semangat membara.

.

Oalaaahhh, gara-gara pulsa toh

.

Tap…. Tap…. Tap….

Suara langkah kaki terdengar mendekat. Fran mengalihkan pandangannya dan menemukan Bel tengah berjalan dengan gaya yang amat songong, tangan dimasukin ke saku jaket.

"Lama." Dengus Fran tajam, namun masih dengan wajah datar.

"Ya maap," jawab Bel tanpa dosa. Fran nyaris ngamuk, namun tiba-tiba Bel batuk-batuk nggak jelas, mirip kayak iklan obat batuk yang hujan-hujanan dan terkenal dengan 'pilih dia apa aku?'-nya.

"Napa lu?" tanya Fran rada prihatin. Bukannya apa, masalahnya kalo pemuda blonde itu tiba-tiba bengek plus pingsan, nggak bakal ada orang yang bantuin dia buat ngebawa Yeti kampus tersebut ke tempat pengobatan, minimal UKS lah. Yang ada cuma orang yang masih ada di lorong, itu pun kalo mereka mau bantuin, kalo kagak?

"Ituuu….," Bel menggaruk belakang kepalanya. Sumpah demi kinclongnya kepala botak milik Orgelt, jantungnya udah nggak karuan sekarang.

"Ng…. Fran…," panggil Bel malu-malu kucing, membuat Fran langsung poker face liatnya.

Belum juga dijawab, Bel langsung memotong lagi. "Lu tau nggak, lu tuh mirip banget sama jambu yang gue ambil buat tugas tadi."

.

Krik

.

'Dafuq, masa gombalan buat me nggak elit amat. Dimana-mana tuh orang pas ngegombal disamain sama emas lah, permata lah, lah masa me disamain sama jambu yang harganya sepuluh ribu sekilo?!' batin Fran nggak terima.

Lagi-lagi, tanpa dijawab sang pemuda blonde langsung meneruskan. "Soalnya lu berdua tuh sama-sama susah gue dapetin!"

Teriakan 'ciiiieeeeee' yang entah darimana langsung menggema di aula. Fran merinding, sejak kapan orang-orang yang berada di lorong mengintip ke aula dan menjadikan ia beserta sang Yeti Kampus sebagai pusat perhatian? Para fujo(dan)shi pun tak mau kalah dengan mengeluarkan ponsel mereka dan langsung membuka social media berlambang burung berwarna biru. Hastag #YetiKampusNembakUkeJambu pun segera menyebar pesat, bahkan para senior yang diam-diam menyembunyikan jati diri mereka sebagai pecinta homo pun langsung tau dan mendukung pair baru ini.

"Maksudnya apa?" tanya Fran datar, ogah banget kalo sampe masang tampang kegeeran.

Badan Bel makin gatel mendengar pertanyaan Fran. Pengen rasanya Bel nyebur ke kali buat membersihkan raganya sekaligus menenangkan jiwanya yang udah nyaris mendekati edan.

"L- lu mau nggak—" semua menahan napas, adegan yang ditunggu-tunggu semenjak tadi akan dimulai, "—jadi pacar gue?"

"AAAAAAAAAZZZZZEEEEEEEEEEKKKKKKKKKKK! AKHIRNYA GUE PUNYA OTP HOMO BARUUUU!" jerit beberapa fujoshi yang ada disana dengan nggak selow-nya.

"TERIMA! TERIMA! TERIMA!" koor yang lain sembari menepukkan kedua tangannya, memberi backsound yang bikin dramatis.

Fran kicep, bingung. "Kok bisa tiba-tiba nembak?"

"Ya pokoknya gitulah!" jawab Bel cepat sambil mengalihkan pandangannya.

"Kok bisa suka?" tanya Fran lagi, nggak mau ngalah.

"Mungkin sejak lu ngatain gue orgil terus gue nempelin tanda tangan itu di punggung lu, gue jadi suka sama lu…," jawab Bel malu-malu najis.

Lagi-lagi semua orang yang tengah menonton acara gratisan itu meneriakkan satu kata, 'ciieeee'. Para fujoshi langsung lompat-lompat gembira, bahagia mendengar pernyataan cinta homo tersebut.

"…..Serius nih? Lu lagi nggak main ToD, kan?" tanya Fran mastiin lagi.

"Udahlah Fran," Mammon yang ikut menonton adegan itu buka suara. "Terima aja! Jujur sama perasaan lu! Sekalipun lu bilang kesel banget sama dia, lu ada rasa kan sama dia?" tanya Mammon sok tau tingkat dukun.

"Sok tau banget sih, Mammon-san," gerutu Fran datar.

"Ini tuh pake baca pikiran! Gue pelajarin dari kekuatan dari dalamnya Spongebob!" balas Mammon.

Itu si Mammon nggak malu apa ya menyebut dirinya fans Spongebob?

Fran facepalm, malu punya temen macem Mammon yang dengan bangganya mamerin dia pecinta Spongebob. Fran balik lagi ngeliatin Bel yang masuk garuk-garuk punggung, entah itu gara-gara gugup apa belom mandi tiga hari, ato mungkin dia panuan.

"Heh, pangeran gadungan, itu beneran kan?" tanya Fran masih ngeyel, nggak percaya itu beneran.

"Nggak percaya nih? Gue udah susah-susah juga ngomongnya!" gerutu Bel kesel.

"Ya kali lu boong," balas Fran nggak mau kalah.

"Yaudah sih, jawaban lu apa?" tanya Bel gemes. Sumpah dia malu banget.

"Tadi udah denger kan dari Mammon-san?" tanya Fran cuek.

"Yang mana? Gue nanya elo, bukan tuh tukang palak!"

"YANG SOAL ADA RASA ITU! LU TUH NGGAK PEKA BANGET SIH!"

.

Krik

.

"YEEEEEEEEIIIII! YETI KAMPUS JADIAN SAMA UKE JAMBU!" sorak para penonton penuh sukacita. Bel poker face, nggak nyangka diterima dengan tangan terbuka.

"Jadi gue diterima nih?" tanya pemuda blonde itu mastiin.

"Iya, keles. Oh, ato lu pengen nggak me terima—"

"—Eh! Eh! Jangan lah! Makasih ya udah mau nerima gue…," kata Bel melankolis penuh kenistaan.

"Gimana kalo lu bilang makasih udah gue biarin idup sampe detik ini?" tanya sebuah suara.

Semua orang disana menelan ludah. Pelan-pelan ditolehkannya kepala mereka ke belakang, mendapati Reborn tengah menimang-nimang pistol hijau kesayangannya. Bingung mau ngapain, jadilah seluruh manusia yang kepergok belum pulang itu nyengir nggak berdosa, ngarep moga-moga Reborn kagak marah.

Sayangnya, perempatan di kepala Reborn makin banyak.

"Sekarang—" Reborn menarik napas. "—CEPET LU SEMUA BUBAR! GUE ITUNG SAMPE LIMA, KALO BELUM KELUAR, GUE PANGGILIN PANTI ASUHAN BUAT NGANGKUT LU SEMUA! SATU—"

—Alarm tanda bahaya berbunyi! Semua mahkluk berjenis Homo Sapiens yang ada di sana langsung mengambil langkah seribu menuju gerbang keluar.

.

.

.

Yak, itulah kisah ajaib bin edan yang pernah terjadi saat OSPEK. Tentunya cerita ini hanyalah khayalan belaka, jadi jangan diambil hati, apalagi diambil paru-paru, oke?

Nah, waktunya kita mengucapkan salam penutup. Tapi, karena saya selaku narrator tak bisa memberikan salam perpisahan yang mengiris hati, jadi mari kita tutup saja cerita masa OSPEK ini dengan…. SAMPAI JUMPA LAGI—Eh, bentar, bukannya ini udah complete, ya?

.

End!

.

.

A/N : HALOOOOOOOOO~! Ketemu lagi dengan Author paling sableng bin edan se-FFn, Profe Fest! Makasih banyak sama yang udah nungguin kelanjutan fic ini sampe chap terakhir, termasuk para reviewer, favoriter(?), follower, dan para silent reader sekalian! Author berterima kasih sebanyak buah jambu yang dibawa Lussuria pada kalian! Sekali lagi makasih banyak!

Mengenai fic diatas, itu kenapa si Fran dipanggil Uke Jambu? Karena ia adalah uke dan waktu itu jadi penyelamat dengan mempresentasikan jambu didepan kelas~. Terus kenapa Rasiel bisa ngebantuin Bel? Anggap aja si Bel curhat sama sodara edannya dan akhirnya mutusin buat ngebantuin pangeran —gadungan— itu.

Buat Raicho S, makasih review-nya! Makasih udah bilang fic ini koplak, berarti saya nggak gagal-gagal amat buat humor-nya xD Ini udah update chap terakhir, boleh minta review-mu lagi?

Oh ya, maaf ya kalo disini jadi garing abis plus makin nggak jelas diksi dan alurnya. Dan maaf juga kalau banyak typo, diri ini membuat chap ini dengan sistem SKS (Sistem Kebut Sejam). Ada yang mau kasih saran? Masukan? Kritik? Kesan dan pesan dalam membaca fic ini? Jangan ragu untuk memenuhi kotak review saya atau silakan kirim PM, saya akan sangat senang menerimanya~~~~! Sampai jumpa di karya saya yang lain (yang tentunya tak kalah absurd dari yang ini)!

.

-Salam unyu(?)-

Profe Fest